Menstimulasi Anak Suka Membaca

Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang,

Materi ke #5

Mari  kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia,   belum pernah mengetahui bahasa mandarin  kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?

Pusing?

Tidak tahu maksudnya?

Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.
🍒 KETRAMPILAN BERBAHASA 
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.
Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills )
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills )
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills )
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills )

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang BISA MENDENGARKAN (Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti BISA BERBICARA dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.
Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang BISA MEMBACA, belum tentu terampil  mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya. Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita  baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?
Padahal  kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk BISA membaca tidak SUKA MEMBACA. Sehingga banyak diantara kita BISA MENULIS huruf ( melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (MENULIS KARYA)
Terbukti  berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal  program membaca  ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’ (bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll. Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan  membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak  mengenal siapakah dirinya, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.
MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA
Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.
Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.
🍒 TAHAP MENDENGARKAN 
a. Sering-seringlah berkomunikasi dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.
b. Buatlah berbagai forum keluarga untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.
c. Setelkan berbagai lagu anak, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.
d. Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.
e. Sering-seringlah mendongeng/membacakan buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak.
🍒 TAHAP BERBICARA
a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan SUARA ANAK
b. Jadilah pendengar yang baik, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.
c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara membuat simulasi kelas, dan dia menjadi guru kecil di depan.
d. Ajaklah anak-anak bersilaturahim sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.
🍒 TAHAP MEMBACA
a. Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak
b. Tempelkan tulisan/kata pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- televisi pada pesawat televisi
c. Buatlah acara membaca bersama yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan
d. Sekali waktu, ajaklah anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku
e. Siapkan alat perekam dan rekamlah suara anak kita yang sedang membaca buku
f. Biasakanlah surat-menyurat dengan anak di rumah. Misalnya, dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah
g. Dorong dan ajak anak kita untuk membaca apapun label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi
h. Berikan buku-buku berilustrasi tanpa teks.  Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.
i. Komik juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat)
j. Ajaklah anak bertemu dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku
k. Dukung hobi anak kita dan sangkut pautkan dengan buku. Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya
l. Budaya baca bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak,  ada mainan anak,  ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.
m. Ajaklah anak untuk memilih bukunya sendiri, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih
n. Contohkan kebiasaan membaca dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten
o. Buatlah pohon literasi keluarga, dengan cara masing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding. Siapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut, kemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut. Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.
🍒 TAHAP MENULIS
a. Siapkan satu bidang tembok di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.
b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk menulis  apapun yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain
c. Siapkan buku diary keluarga, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.
d. Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu anak dari kertas bekas,   ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.
e. Hiraukanlah tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /


Sumber  Bacaan :
Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014
Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017
Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung: Kaifa. 2012
http://www.supernanny.co.uk/Advice/-/Learning-and-Education/-/4-to-13-years/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

Advertisements

Code Name: Devil

Gue lagi tergila-gila sama Assassin Creed series. Jadi maafin yaa.. 😛

Melayang. Melayang. Melayang.

Heh, tak kusangka barang ini bagus juga. Pantas harganya lumayan. Emang benar, harga gak pernah bohong!

Heh! Dan sekarang aku bisa melihat…er, apa itu? Hantu? Pakai baju putih-putih?

Hahaha, lucu juga. Hantunya cantik juga. Kira-kira bisa dibayar berapa?

Dan berikutnya aku melihat kegelapan.

.

.

.

Aku bergelung… entah dimana ini. Badanku rasanya lelah dan tempat yang kutiduri saat ini benar-benar empuk. Tanganku asal memeluk apapun yang ada di sampingku, menghirup wangi yang memabukkan. Entah apa itu rasanya begitu hangat dan harum.

Brak!

“Bangun. Sarapan sudah siap.”

Sebuah suara yang sangat tenang dan cuek. Perlahan aku membuka mataku, rasanya pusing.

“Kamu rupanya,” keluhku kembali menutup mata. Seorang gadis berjilbab memandang kearahku dengan tatapan datar. Adik tiriku, Shafira.  Hmm, dia tidak melihat kearahku tapi kearah di sampingku?

Aku mengangkat kepala dengan malas, apa sih yang dia lihat?

Dan…seorang perempuan tertidur di sampingku. Baiklah, siapa wanita ini? Aku melempar pandangan heran ke Shafira. Kali ini dia melipat kedua tangannya dan bersender di pintu kamarku. “Ini bukan pertama kalinya kamu pulang ke rumah bawa perempuan, jadi jangan pasang wajah heran begitu di depanku.” Ujarnya datar.

“Ayah tadi telepon. Lima belas menit lagi dia akan menelepon lagi. Lebih baik kamu bersiap-siap.”

Aku masih bengong dan memandang wanita yang tertidur lelap disampingku. Baiklah, saatnya mengusir wanita ini.

.

.

.

Aku turun ke ruang makan, pipiku sakit dan perih. Sial! Wanita jalang itu malah menamparku. Memangnya dia siapa? Tahu namanya saja tidak!

Aku menghampiri Shafira yang sedang mengoles mentega di selainya.

“Pipiku sakit ditampar.”

Adik tiriku hanya terdiam, aku mengernyit tidak senang. “Hei! Aku bilang aku ditampar.”

“Lalu? Cowok sepertimu memang pantas untuk ditampar.” Shafira terus mengoleskan mentega di rotinya tanpa menoleh padaku. Aku langsung menghampiri sisi Shafira, menarik tangannya dan mencengkram dagunya, memaksanya untuk melihatku.

“Kau terlalu dingin padaku.” Keluhku kesal, tapi adik tiriku itu hanya kembali menatapku dengan dingin.

“Jangan lupa-“ aku mengelus pipinya dengan lembut, tapi dia malah menatapku semakin dingin. Heh, aku suka itu.”-kau hanyalah anak pungut di sini.”

“Lalu?”

Aku mengangkat alisku, ia menantang. “Kau harus dengar semua perkataanku.” Aku megelus jilbabnya yang hari ini berwarna abu gelap. “Bagaimana kalau kau mulai dari melepas kain lap ini? Dan menghabiskan malam di kamarku?”

Alisnya mengernyit tapi aku tak peduli. Jemariku sibuk menjelajah pipi dan rahangnya dengan lembut. Jemariku mulai akan menyapu bibirnya saat tangan Shafira menahan tanganku dan melemparnya dengan keras.

“Aku tidak harus mendengarkan kata-katamu.” Shafira berjalan menjauh.

“Aku kakakmu,” aku menyeringai.

“Kalau begitu bersikaplah sebagai seorang kakak.”

Aku tertawa terbahak. “Katakan, berapa ayahku membayarmu?”

Dia berhenti tapi masih belum menoleh padaku.

“Aku bisa membayarmu dua kali lipat dari ayahku.”

Shafira menarik napas dan membuangnya, lalu menatapku. “Kau pikir aku tidur dengan ayahmu? Asal kau tahu, ayahmu itu adalah ayah angkatku.”

Aku mengangkat bahu, “Apapun bisa dibeli dengan uang.” Aku menarik keluar plastik kecil dari saku jinsku dan melambaikannya dengan santai. “Plastik kecil ini bahkan cukup untuk membayarmu menemaniku beberapa malam.”

Shafira mengangkat alisnya, ia kembali melangkah menaiki tangga. Aku tertawa terbahak, “Kamarku tidak dikunci kalau kau mau.” Tawaku kembali menggema.

.

.

.

“Jadi bagaimana?”

“Kurang baik, bos! Polisi cepet banget nangkap barang baru kita. Beberapa anak kroco kita udah ditangkap. Posisi kita masih aman tapi kalau begini terus bisa gawat.”

Aku menendang tempat sampah kaleng. Sial! Barang baru begini kenapa bisa cepat tercium polisi? Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi! Tidak salah lagi.

“Diantara kita ada pengkhianat!”

Semua orang menahan napas.

“Lihat aja! Kalau sampai aku tahu-“

Tok Tok Tok

Semua orang memandang arah pintu yang saat ini sedang tertutup, beberapa saling menatap dengan resah. Anak buahku yang paling dekat dengan pintu ruangan kami menatapku dengan ragu. Aku mengangguk sedikit dan ia langsung membuka pintu.

Pintu dibuka sedikit dan ia mengintip, agak lama dan kembali menoleh kearahku. “Bos, adikmu.“

Aku mengangkat alis. Adikku? Maksudnya Shafira?

“Buka pintunya.” Dan pintu langsung dibuka. Menampilkan Shafira dengan jilbab lebar dan pakaian atasan berwarna hitam. Rok yang kali ini ia kenakan adalah rok celana. Aku mengangkat alisku, heran dengan penampilannya kali ini.

“Ada apa? Kalau kau mau menemaniku malam ini-“

“Sayang sekali.” Shafira memotong ucapanku, “Tapi tidak akan ada malam ini.”

Aku mengangkat alisku dan tiba-tiba terdengar suara raungan sirene. Dengan panik aku langsung mengintip keluar jendela. Ada banyak polisi. Dan bukan cuma satu atau dua. Tapi ada sepasukan atau malah lebih polisi huru hara. Aku menoleh dengan marah kearah Shafira.

“Kau! Kau pengkhianatnya!”

Aku belum sempat melakukan apapun dan tiba-tiba saja sepasukan polisi bersenjata lengkap telah muncul dengan rapi di belakang Shafira. Tidak hanya itu, leser bidikan telah membidik satu per satu semua orang yang ada di ruangan ini termasuk aku. Kami benar-benar tertangkap! Tidak ada jalan keluar.

Shafira tersenyum lembut. Aku merasakan darahku mendidih, baru kali ini aku melihat dia tersenyum sejak datang ke rumah kami lima tahun yang lalu, dan dia malah tersenyum di situasi seperti ini!

Gadis itu menyender santai di pintu. Menatapku dengan menantang. “Tangkap mereka semua!”

Semua polisi itu mematuhi perintah gadis itu. Tanpa banyak perlawanan akhirnya kami diringkus dan dibawa keluar.

“Ayahku sudah mengambilmu dari jalanan!” desisku.

“Memang itulah misiku.” Shafira tersenyum mengejek.

“Kalau kita bertemu lagi-“

“Pertemuan kita selanjutnya adalah acara eksekusi kematianmu. Dan kematian ayahmu.”

Polisi yang menahanku langsung membawaku keluar. Aku berteriak meraung-raung, memaki gadis sial itu! Akan tetapi raunganku terpaksa berhenti karena seorang polisi lain memukulku dengan tongkat mereka. Tanpa babibu mereka melemparku ke truk berjeruji.

“Nasibmu sial karena memaki Jenderal. Kami semua disini adalah penggemar Jenderal Shafira.”

Aku membulatkan mataku. Jenderal? Gadis sial itu seorang Jenderal polisi? Aku tertawa lemah.

“Jendralmu itu benar-benar iblis.”

Polisi itu malah tertawa, “Memang itu kode namanya.”

Dan pintu truk pun dibanting tertutup.


A/N: Gak jelas… beneran ini gak jelas banget. Apalah challengenya tema Anak Jalanan kenapa jadi begini? Maunya sih ada pecandu sekaligus bos narkoba gituloh…dia agak brengsek dan ternyata seseorang bisa lebih jahat daripada dia. Er…tapi kayaknya ini aneh ya? Tau ah…bodo amat. Maafkan bahasany agak kasar dan rate M.

Pembuatan Paspor – Daerah Jakarta Timur

Kali ini gue bakal menceritakan pengalaman gue bikin paspor. Catatan awal aja, sebelumnya gue udah pernah punya paspor – sebelum nikah tentunya – dan dibuat di daerah Tangerang. Setelah nikah otomatis semua data gue berubah termasuk KTP gue masuk daerah Jakarta Timur. Jadi gue perpanjang paspor keluaran Tangerang di Jakarta Timur dan mereka mau terima kok. Jadi kalau kamu udah punya paspor tapi beda daerah gak usah khawatir, karena bisa diurus sesuai daerah KTP.

Nah, pertama sebelum ngurus paspor kamu harus daftar dulu lewat applikasi Paspor Online keluaran Mendagri. Di sini kamu harus daftar untuk menentukan tanggal berapa kamu mau ngurus paspor kamu. Pendaftaran untuk satu orang maupun banyak orang tapi dalam satu Kartu Keluarga bisa didaftarkan di aplikasi ini. Selain tanggal kamu juga bisa menentukan jam berapa kamu mau ngurus paspor ini. Atur-atur aja sesuai waktu luang kamu.

Yang jadi catatan adalah jangan sekali-sekali langsung datang ke kantor imigrasi tanpa daftar sebelumnya di applikasi ini! Bisa dipastikan kamu disuruh pulang dan kamu gak bakal dilayanin sama sekali walau berusaha mengeluarkan 1001 alasan. Selain itu kalau udah daftar di jam tertentu jangan sampai telat! Misalnya kamu daftar buat ngurus jam 8 pagi malah datang jam 9 pagi, yang ada kamu malah dimarahin sama petugasnya. Oh iya, untuk applikasi ini walau judulnya untuk daerah Jakarta Timur tapi setelah kamu donlod applikasi ini nanti kamu bakal ditanyain kok kamu tinggal di daerah mana. Jadi applikasi ini one for all area.

Nah, setelah tanggal dan waktu untuk pendaftaran sudah dipilih, kamu tinggal siap-siapin aja berkas yang dibutuhkan untuk mengurus paspor ini. Oh iya, kamu juga bakal dapet kode nomor dan barcode pendaftaran di applikasi. Jadi kalau udah waktunya jangan lupa bawa hape yang ada app paspor itu. Soalnya saat pertama kali kamu mau daftar, petugas pasti menanyakan kode nomor dan barcode pendaftaran yang kamu dapet dari applikasinya.

Selain kode nomor dan barcode, sesekali kamu boleh sambil ngecek applikasi paspor siapa tahu aja ada berita terbaru atau apalah. Kemarin waktu saya daftar sih gak ada info baru apa-apa jadinya aplikasinya sepi aja. Untuk berkas yang diperlukan adalah:

20170911_130648

Formulir biodata untuk pendaftaran Passport

  1. Formulir pendaftaran paspor (bisa didapat saat kamu sudah datang ke kantor imigrasi)
  2. Fotokopi KTP dan aslinya (gue fotokopi bolak-balik di kertas A4, jadi enggak dipotong kecil tapi dibiarin seukuran a4)
  3. Kartu Keluarga dan aslinya
  4. Akte Kelahiran atau Surat Nikah atau Ijazah (bawa juga aslinya)
  5. Paspor yang lama (kalau ada)

Kenapa saya tulis bawa juga yang aslinya? Buat jaga-jaga aja, lebih baik siap-siap dibanding nyesel kan?

Selain itu untuk Ijazah pastikan di Ijazah kamu tertulis nama orang tua. Kemarin sih selain bawa ijazah kuliah gue juga sekalian bawa ijazah SMA. Pas wawancara ijazah SMA gue ditanyain sama petugasnya. Pas gue tanya kenapa harus Ijazah SMA petugasnya bilang sebenernya mereka butuh nama orang tua yang tertera di Ijazah itu buat di cek dan ricek lagi dengan data kita. Jadi kalau di ijazah kuliahnya udah ada nama ortu sih enggak masalah. Tapi kebanyakan ijazah kuliah enggak ada nama ortu makanya mereka suka nanya ijazah lain (entah SMA, SMP atau SD!) yang tertulis nama orang tua.

Setelah kamu melengkapi form biodata kamu bisa langsung antre untuk dicek kelengkapan lembaran berkas kamu. Eh, disini bawa map sendiri ya 😛

Setelah dicek kelengkapan lembar berkas, nanti kamu akan dikasih nomor antrian loket dan diarahkan oleh petugas untuk naik ke lantai dua. Nah, di lantai dua ini berjejer banyak loket. Loket untuk pembuatan baru dan loket untuk memperbarui paspor. Makanya waktu ngurus kemarin gue kepisah jauh banget sama suami. Ada 7 loket dan kayaknya sih loket untuk bikin baru dari loket 1 sampai 5. Untuk memperbarui di loket 6 dan 7. Kemarin suami bikin baru dipanggil di loket 1 sementara gue di loket 7.

Di loket ini si petugas bakal meriksa lagi semua berkas yang kita bawa termasuk minta paspor lama. Kemarin petugas gue juga minta lihat ijzah SMA sih. Selebihnya asalkan berkas kita baik-baik aja gak ada masalah. Palingan cuma ditanya-tanya dikit nama kita dan tempat tanggal lahir. Pertanyaan seputar biodata doang cuma untuk memastikan bahwa emang beneran kita yang ngurus sendiri, bukan calo atau diwakilin. Untuk yang punya passport lama, passport kamu bakal ditahan di tahap ini. Tapi tenang aja nanti passport kamu bakal dibalikin kok saat kamu ambil passport yang baru.

Setelah petugas di berkas beres nanti kita diarahin untuk duduk dan nunggu sebentar sebelum difoto dan diambil sidik jari. Nah, disini buat cewek bolehlah dandan agak cantikan supaya di fotonya keliatan bening 😛

Setelah nunggu sebentar nanti kita bakal dipanggil lagi sama petugasnya. Kali ini buat diambil fotonya buat passport, diambil sidik jarinya dan ditanya keperluan kita untuk bikin passport. Setelah semuanya beres nanti kita akan dikasih slip kertas untuk membayar passport yang kita buat. Pembayaran bisa dilakukan lewat atm atau langsung lewat teller bank. Kalau gue sih langsung ke teller bank BRI yang pas banget ada di belokan gang setelah kantor Imigrasi. Harga pembuatan passpor adalah Rp 350.000/orang, jadi siapkan uang yang dibutuhkan ya.

20170911_093016

Pojok bermain anak-anak. Pas gue datang lagi sepi… iyalah, masih pagi.

Setelah dikasih kertas yang berisi harga pembayaran dan di dalamnya termasuk kode angka dan barcode untuk pengambilan passport, kamu udah boleh pulang. Passport bisa diambil seteah 3 hari kerja. Kemarin pas gue daftar hari Senin, hari Jumatnya langsung bisa gue ambil. Gue ngambil sekalian ngambilin punya suami – karena suami gak bisa izin lagi. Untuk yang masih dalam satu kartu keluarga bisa saling mewakili untuk mengambil passport. Asalkan jangan lupa bawa KTP asli dari orang yang kamu wakilin dan bukti Kartu Keluarga bahwa kamu dan orang yang kamu wakilin itu masih dalam satu kartu. Kalau kamu enggak satu kartu kamu harus punya surat kuasa bermaterai dari orang yang kamu wakilin.

Oh iya, untuk pengambilan passport berkas yang harus dibawa adalah:

  1. Tanda bukti pembayaran passport (slip pembayaran atau slip transfer atau bukti apapun)
  2. Kertas yang diberikan di kantor imigrasi berisi kode nomor dan barcode

Saat kamu kamu ngambil passport kamu bisa scan sendiri barcode pengambilan passport dan berikutnya kamu bisa dapet nomor antrian pengambilan. Nama kamu bakal dipanggil dan kamu bisa ambil passport yang baru. Passport lama kamu yang ditahan juga bakal dibalikin ditahap ini. Setelah itu beres deh…. beres sudah passport kamu. Jangan lupa diperbaharui lagi ya setelah lima tahun 🙂

Status

Kamu bilang kamu Indonesia

Aku bilang kamu belum Indonesia

 

Kamu bilang aku bukan Indonesia

Aku bilang aku dalam proses mencinta Indonesia

 

Karena saat kamu dan dia terluka

Akulah yang selalu menanti bersamamu

 

Tapi saat aku terluka

Hanya dia yang selalu bersamaku

 

Lalu di bagian Indonesia manakah kamu?

Kalau yang kamu maksud Indonesia

Hanyalah secarik kain berharga 25 ribu?


A/N: Puisi bukan…rima juga kagak. Nih tulisan iseng doang gegara ada member WP yang bilang suruh bantuin bikin PR puisi tapi temanya aku Indonesia. Gilee… tugasnya syusyah amat.

Terus maksud dari secarik kain harga 25 ribu itu maksudnya kemarin pas agustusan gue beli bendera dan dijual sama abang-abang harganya segitu. Tanpa bambu tentunya 😛 eh terus jadi inget obrolan faedah ibu-ibu RT gegara agustusan tapi gak semuanya ikutan ngejahit bendera buat gang RT. Ah..drama bangetlah pokoknya.

Aside

Langit Suram dan Bunga Melankolis

Aku cuma bisa menahan napas, saat kau duduk di hadapanku. Jelas uap kopi masih mengepul, tapi kurasakan suasana dingin tak menentu.

Kau bilang, kita sudahi saja semua. Dingin dan meyakinkan. Padahal di depanmu aku baru saja menyodorkan kotak itu, beledu merah dengan cincin emas di dalamnya.

Kau memandang tanpa minat. Dan mendorong kotak itu kembali ke sisiku. Dengan tergesa kau bangkit dan membisikkan jangan pernah hubungi kau lagi.

Dan disitulah mataku membulat. Wajahmu tersenyum sumringah. Pada seseorang yang berdiri di sana. Tanpa malu-malu kau lingkarkan lenganmu pada pria tidak jelas siapa itu. Disitulah aku merutuk diri sendiri, betapa bodoh dan naifnya diriku.

Sekarang aku berjalan di sini, entah dimana aku tak peduli. Menubruk orang kesana kemari, memikirkan semua yang terjadi.

Dan saat kuangkat kepalaku, mataku menatap pemandangan itu. Langit sore yang suram, dengan ladang bunga berwarna melankolis. Dan kemudian aku berteriak. Berteriak dan terus berteriak.

Biarlah semua orang menganggap aku gila. Karena inilah yang namanya patah hati. Sekarang biarkan aku menggila dan meresap semua ini. Agar besok aku bisa kembali pulih.

Angin bertiup lembut, membawa kelopak bunga berwarna melankolis. Biarlah aku tak menangis. Karena langit suram dan bunga melankolis telah menggantikanku untuk menangis.


A/N: err… rasanya aneh ya. Pingin sekali-sekali bikin tulisan pakai “kau” begitu. Atau enggak POV dua tapi masih belum bisa. Perlu belajar lebih banyak lagi. Terus rimanya aneh banget. Ini bukan puisi pastinya. Apa bisa masuk prosa ya? Tau deh… buat challenge IOC Writing #Release Your Stress.

Drama Gamis

Sebenernya gue juga gak tahu harus bersyukur atau apa. Cuma karena gue rada-rada lemot dan gak gaul dan jauh dari kata kekinian, mungkin gue harus bilang alhamdulillah juga.

Di saat orang-orang udah pada heboh sama trend kekinian gue baru ngeh sama trend itu setelah seasonnya berlalu. Iyee… itu dia gue bilang, gue bukan kids jaman now. Apalagi anak 4L4Y punya. Gue slow passion yang bisa dibilang telat setelat telatnya 😛

Contohnya adalah sekarang, di saat orang pada heboh dengan trend baju gamis, gue masih setia sama model two pieces alias atasan plus bawahan. Di saat model gamis udah biasa aja baru gue ngeh kayaknya enak juga pakai gamis, enggak rempong gitu loh nyariin bawahan sama atasan yang sesuai. Tinggal pakai aja tuh gamis selesai. Apalagi sekarang gamis kagak lengkap kalau enggak barengan jilbabnya. Soo simple…

Nah, karena alasan pingin coba pakai gamis, dan mikir-mikir juga apa umur gue yang 27 tahun ini gue pakai gamis aja ya? Soalnya agak bingung juga kalau pakai baju ala ala anak madrasah beginian. Semua orang mikir gue masih single. Apalagi kalau gue naik sepeda ke PAUD buat ngajar ngelewatin tukang ojek. Gilee… gue diprikitiw macem-macem kembang desa, rabut kepang dua sambil naik sepeda. Kan kheki….woi! Gue udah gak available lagi loh!

-OK skip! Nanti gue cerita kenapa gue masih dianggap available. Tapi bukan dicerita ini.

Kebetulan lah pas lagi pingin coba pakai gamis, pengajian RT gue ngadain baju seragam pengajian. Setelah cek en ricek ukuran plus harga akhirnya gue deal dan masukin nama gue ke dalam daftar ibu-ibu yang pingin baju gamis. Siplah..lumayan dapet gamis plus jilbab. Model juga gak terlalu norak kayak mau pergi ke pesta. Simpel-simpel aja malah terkesan sederhana, tapi gak masalah. Lah namanya juga mau pergi ke pengajian doang iya kali gamisnya seheboh gambreng kayak mau pergi ke pesta. Salam kostum, toh?

Eh, ternyata semua itu tidak sesederhana kelihatannya. Ibu-ibu rempong ada yang mengajukan gugatan protes dikarenakan modelnya yang terlalu sederhana. Ealaaaah….gue sampai pasang emot mata muter ngedengar alasan ibu-ibu ini. Mulai dari modelnya yang terlalu sederhana macem yang dijual di pasar-pasar (astaga….nih alasan gue denger sendiri dari salah satu ibu yang menurut gue emang cablak mulutnya) sampai ke ukuran baju yang gak bisa dipesen (dan disini gue mikir kalau pesen banyakan mana ada mesen ukuran… mending elow ke tukang jahit kelesss). Sampai semua protes gugatan itu menelurkan sebuah drama yang gue beri nama Drama Gamis RT 01.

Oh ho… jangan remehkan emak-emak kawan. Drama mereka luar biasa sekali. Perbedaan pendapat terlihat jelas sehingga menimbulkan kubu setuju gamis dan kubu tolak gamis. Kubu setuju gamis terbentuk dikarenakan mereka menurut voting yang dihasilkan plus emang suka sama model gamisnya. Kubu tolak gamis terbentuk karena mereka enggak sreg sama gamisnya. Tapi sekali lagi gue bilang, cuma gamis doang gitu loh… kalau enggak suka ya gak papa. Gak perlulah sampai provokator emak-emak supaya ngeboikot beli gamis. Walau sebenernya gue lebih curiga para provokator ini adalah pihak penjual gamis yang kalah voting dan gak terima mereka gak menang tender 😦

Puncaknya adalah para kalah tender ini bisik kesana kemari, bahkan ke rumah gue buat ngeboikot gamisnya. Gue mah cuma iye-iye aja. Iyelah.. gue didatengin ke rumah buat ngeboikot gamis, gue bisa bilang apa? Cuma karena gue udah kadung suka model, warna, ukuran plus harga gamisnya gue main backstreet aja di belakang. Gak perlulah provokator itu tau kalau gue tetep beli gamisnya 😛

Ternyata bisik-bisik provokator ini ketahuan sama kubu gamis tetep jalan. Mereka akhirnya bikin rapat! Khusus tentang gamis! Di depan rumah gue!

Sebenernya sih di jalan antara rumah Bu RW sama rumah gue, tapi kan tetep itu namanya depan rumah gue kan? Suami yang kebetulan nungguin gue yang lagi pergi sambil bawa kunci rumah terpaksa harus stuck di teras rumah, ngedengerin celotehan ibu-ibu itu yang masih berapi-api dengan misi gamis harus tetep jalan. Dan setelah gue pulang suami ketawa karena katanya dramanya sungguh luar binasah! Dia sampai ngeri dengan the power of emak-emak!

Untuk sekarang sih drama ini masih berlanjut dan belom ketahuan lagi gimana next episodenya…. nanti kalau ada yang baru gue update lagi ya.

Moral cerita: jangan pernah remehkan kekuatan emak-emak! Bisa kualat dan membahayakan keselamatan negara walau awal masalahnya cuma hal sepele!

Ronda Malam

“Huaahmmm,”

Tok Tok Tok Tok

Aku mengetuk kentonganku malas-malasan. Hari ini giliranku ronda malam dan suasana seperti biasa, gelap, tidak ada maling dan nyamuk ganas berkeliaran.

“Huaahhmmm,”

Tadi sih pas aku ningggalin pos ronda sekitar jam 3 pagi. Mungkin sekarang hampir jam setengah 4 pagi, kali ya? Kalau tahu tadi bakal nguap terus-terusan begini harusnya aku minum dulu kopi yang disiapin Mbok Silmi. Lagian aku sok-sok an juga sih nolak minum kopi. Kupikir jalan ngeronda bakal bikin ngantukku berkurang, tahunya hawa dingin malah jadi bikin tambah ngantuk.

“Huaaahh-“

Dor Dor Dor Dor Dor

Aku langsung berhenti menguap. Sumpah itu bukan bunyi kentonganku! Itu bunyi suara tembakan! Iya! Itu suara tembakan! Tapi asalnya-

Dor Dor Dor Dor

Ya ampun! Dari arah rumah Pak Pandjaitan! Ada apakah?

Tanpa babibu aku langsung berlari, kadang terseok juga dengan sarung yang kupakai. Akhirnya aku mengalungkan sarungku dan berlari membawa kentonganku. Sempat berpikir untuk mengetok alat itu tapi penasaran juga. Suara tembakan itu begitu keras kenapa tak ada satupun warga yang keluar rumah?

Aku hampir sampai di tikungan rumah Pak Pandjaitan tapi langsung sembunyi lagi. Ada mobil yang berhenti di depan rumah bapak Panglima. Aku menghela napas lega tapi penasaran, kenapa yang datang bukan tentara yang biasa datang ke rumah Pak Pandjaitan?

Aku bersembunyi di sudut dinding yang gelap, memperhatikan mereka semua. Tentara yang datang kali ini agak galak, mereka berteriak-teriak mencari Pak Pandjaitan. Mereka sepertinya memang bukan tentara yang biasa datang ke rumah ini. Semua orang di daerah sini dan tentara yang datang ke rumah Bapak tidak ada yang sampai teriak-teriak mencari Bapak. Jadi siapa-

Dor Dor Dor Dor Dor

Astaghfirullah! Mereka bawa senapan? Apa-apaan ini?

Aku berusaha mengintip supaya bisa melihat lebih jelas. Ah, ada yang keluar. Tapi itu kan Bapak? Bapak Pandjaitan! Beliau keluar sambil berseragam lengkap. Berarti semua orang yang dari tadi berisik ini benar-benar tentara?

Tapi, loh! Kok Bapak diam saja? Seperti berdoa. Apa Bapak mau dikirim tugas ke tempat yang jauh? Tapi kenapa istri dan anak-anak bapak tidak ada yang mengantar bapak seperti biasanya?

Aku sedang memperhatikan tentara yang lalu lalang di belakang bapak sambil mengokang senapan. Dan tau-tau saja-

DOR!

Astagfirullah! Aku langsung jatuh duduk di tempat. Bapak Pandjaitan ditembak! Tega sekali! Siapa mereka?

“Kamu lihat semuanya, kan?”

DEG! Suara yang dingin dan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Belum sempat aku menoleh-

BUAGH!

-semuanya gelap.

#End#


A/N: Dibuat untuk sekedar melatih menulis, sekaligus momennya pas sama G30S/PKI biarlah jadi pengingat kita semua. Kebetulan diantara semua sejarah yang dipelajarin waktu sekolah saya paling suka belajar tema sejarah yang ini. Kalau ditanya kenapa jawabnya sih miris aja gituloh nyawa manusia kayaknya murah banget demi mendapatkan kekuasaan. Sengaja ambil setting Panglima D.I. Pandjaitan karena ya gitulah..berdoa dulu sebelum diterabas sama PKI kesannya agamis banget, beda banget sama PKI yang notabene namanya komunis.

Karena ini fiksi based on history tolong jangan marahin saya kalau faktanya enggak lengkap :”(  dah apalah saya cuma nulis ini based on wikipedia doang. Sekedar jadi pengingat doang jangan sampai PKI muncul lagi di tanah Indonesia.