Before The End (Part 1 )

Image result for banshee

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Saat itu adalah malam ketujuh sebelum terjadinya peristiwa penting. Sebuah peristiwa yang akan mengubah kerajaan ini. Kerajaan Blezenn.

Suara tangisan dan pekikan terdengar di seluruh area istana. Saat itu belum terlalu malam, aku mengangkat wajahku dari buku yang sedang kubaca dan menatap jam digital kecil yang diletakkan di rak tempel dinding.

Pukul 20.30

Belum terlalu malam akan tetapi pekikan tangisan itu menegakkan bulu roma. Terdengar mengerikan, akan tetapi juga menyayat hati.

Derap langkah berlarian terdengar mendekat dan tiba-tiba saja pintu kamarku terbanti terbuka. Beberapa orang ksatria siaga dengan senjata mereka, memasuki kamar tidurku bagaikan air bah. Beberapa langsung berlari seakan hendak melindungiku, sisanya mengarahkan senjata mereka menuju pintu balkon kamarku.

Dalam situasi normal, bahkan para ksatria yang terpilih untuk melindungiku tidak boleh begitu saja masuk ke dalam kamrku. Hal ini untuk mencegah reputasiku sebagai seorang gadis terhormat menjadi rusak di hadapan publik.

Tapi dengan situasi seperti ini, kurasa peraturan seperti itu sudah tidak diperlukan lagi.

“Yang Mulia Tuan Putri, tolong segera pergi dari sini.”

Aku menatap komandan Heiss, pimpinan ksatria yang ditunjuk untuk melindungiku. Sungguh menyentuh hati betapa sekarang ia berusaha melindungiku. Pandangan Heiss tertuju kepada balkon yang terarah ke taman belakang istana. Dua orang ksatria membuka pintu balkon itu, berlari ke luar dan menodongkan senapan mereka entah kepada siapa.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Suara pekikan itu semakin meninggi dan bisa kulihat para ksatria menjadi pucat. Ada apa sebenarnya?

Dengan tenang aku melangkah keluar menuju balkon. Beberapa ksatria berusaha menahan dan membawaku pergi, akan tetapi semua tangan mereka kutepis dan dengan tenang aku tetap berjalan ke luar.

Dua orang tentara yang sudah lebih dulu berada di luar tampak ragu. Dan baru kusadari alasannya. Seorang wanita berpakaian serba hitam layaknya pada acara pemakaman sedang berdiri di bawah pepohonan. Wajahnya tidak terlihat karena kedua tangannya menutupi ajahnya, kepalanya mengenakan topi hitam bercadar hitam yang selalu digunakan para wanita bangsawan dalam acara pemakaman. Suara pekikan tangisan terdengar dari dirinya.

Ah. Seorang Banshee rupanya. Sang wanita pengabar kematian.

Aku menyandarkan tubuhku untuk melihatnya lebih jelas. Akan tetapi meski lampu di taman cukup terang untuk menerangi segala sudut, hanya di bawah pohon itu saja yang sepertinya tidak bisa tertembus cahaya. Aku tersenyum.

“Nona Banshe.” Aku memanggilnya.

Semua knight terkejut, beberapa bahkan ada yang berusaha menarikku masuk ke dalam. Akan tetapi aku tetap keras kepala.

Banshee itu menghentikan tangisannya dan mengangkat wajahnya. Meski ia telah menurunkan kedua tangannya tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya dibalik cadar hitam itu.

“Apa aku akan mati?” tanyaku dengan tenang.

Akan tetapi wanita Banshee itu tidak menjawabku. Malahan ia memekik semakin kencang. Yah, mungkin itulah jawaban yang kucari.

“Apa yang kalian lakukan! Cepat tarik Tuan Putri kedalam!”

Kali ini aku ikut dengan patuh. Para Knight itu menarikku ke dalam, menutup pintu balkon dan menarik tirai. Meskipun begitu suara pekikan masih terdengar, semakin lama semakin pelan hingga hilang sama sekali. Seorang knight membuka pintu balkon dan memeriksa keluar. Tak lama kemudian ia kembali lagi.

“Lapor komandan. Ba-banshee itu sudah menghilang.”

Knight itu melirik kepadaku saat mengucapkan banshee akan tetapi aku tidak mengindahkannya dan lebih memilih membaca bukuku. Suasana hening untuk sesaat dan Heiss memecahkan keheningan itu.

“Tuan Putri, saya menyarankan agar anda pindah dari kamar ini dan pindah ke kamar lain.”

Aku tertawa kecil, “Heiss, itu percuma saja. Kemanapun aku pergi pasti aku akan mati. Tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu.” Ujarku sambil masih membaca buku.

“Tuan putri, tugas saya adalah untuk melindungi anda-“

Heiss tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena aku sudah memberikan tatapan dingin kepadanya. Malahan mungkin suhu ruangan ini menurun karena selintas aku bisa melihat para knight yang lain gemetar, entah karena tatapan dinginku atau merasa ketakutan.

“Heiss, tentu kamu yang paling paham apa maksud dari melindungi, bukan?”

Heiss menurunkan kepalanya dan tidak mengatakan apapun. Aku tertawa kecil, “Bukankah kalian seharusnya mencemaskan ayahku?” tanyaku dengan getir. “Mungkin saja semua keributan ini mengganggu kegiatannya, kan?”

Heiss masih tidak mengatakan apapun. Mataku menatap jam digital yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku bangkit dari dudukku dan memperbaiki tirai kamarku.

“Aku ingin beristirahat.”

Heiss dengan segera paham maksudku dan memerintahkan para knight keluar dari kamarku. Beberapa dayang istana masuk dan mulai berusaha membereskan kamarku yang sedikit berantakan karena kekacauan para knight tadi.

“Saya akan menempatkan beberapa knight di depan kamar tidur anda.”

Aku tidak mengatakan apapun dan Heiss keluar dengan cepat. Para dayang dengan cepat menyiapkan segala keperluanku dan keluar dari kamar. Tak lupa mereka bergumam bahwa jika aku memerlukan bantuan mereka malam ini, mereka akan menunggu di ruang depan.

Aku mengangguk pelan, tidak terlalu mempedulikan mereka dan langsung masuk ke tempat tidur. Lampu ruangan sudah gelap akan tetapi tirai jendela sengaja kubuka. Cahaya malam dan lampu di taman masuk ke kamarku sehingga tidak terlalu gelap. Aku membaringkan tubuhku, mataku menatap luar jendela sebelum akhirnya berusaha tidur.

Dalam hati aku mengeluh, sepertinya malam ini aku akan kembali bermimpi buruk dan terjaga di tengah malam.

.

.

.

Heiss keluar dari kamar putri Elise, tatapan matanya kosong.

“Empat orang berjaga di sini. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke kamar tuan putri selain pelayannya.”

Para knight berdiri tegap, tanda mereka patuh dan paham dengan perintah yang diberikan.

“Siap!”

Tak lama kemudian para pelayan keluar, pemimpin mereka dayang Leyla menghembuskan napas lelah. Ia memerintahkan dayang lain untuk kembali beristirahat sementara dirinya duduk di kursi di ruangan depan kamar tidur Elise. Seorang pelayan membawakan teh dan beberapa cemilan untuk menemani malamnya.

“Bagaimana keadaan tuan putri, nyonya?” Heiss melangkah mendekati dayang yang sudah tua itu, membiarkan sang dayang menghirup tehnya terlebih dahulu.

“Terlalu tenang. Tidak baik.”

Suasana hening.

“Ini salahku.”

“Ini salah kita.”

Suasana kembali hening. Malam ini terlalu menyakitkan untuk diisi dengan pembicaraan sehingga Heiss dan Leyla hanya terdiam. Tak lama kemudian Heiss mohon pamit sementara Leyla menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa berlengan yang nyaman.

.

.

.

Malam keenam.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Aku mendesah dan lagi-lagi derap langkah lari kembali terdengar. Untunglah untuk mencegah mereka masuk ke kamarku seperti malam lalu, aku dengan sengaja duduk membaca di ruang perpustakaan. Sekaligus mengetes apakah Banshee itu akan tetap mengejarku meskipun aku tidak berada di kamarku.

Dan dugaanku tepat.

Saat ini aku sedang duduk di sebuah meja di depan jendela. Dan Banshee itu berdiri tepat di depan jendela di hadapanku. Para knight sudah berdiri mengelilingiku dan menodongkan senapan mereka. Aku mendesah, kenapa harus menodongkan senjata kepadanya kalau kalian tidak berniat menembaknya?

Aku meletakkan kepalaku di tangan, menatap Banshe yang masih menangis meraung-raung. Suaranya benar-benar sangat kecang dan menegakkan bulu roma. Aku penasaran apakah tangisannya memang terdengar ke seluruh istana ini?

“Tuan Putri, lebih baik kita pergi saja dari sini.” Salah seorang Knight berusaha menutupi ketakutannya. Serius deh, yang akan mati kan aku. Kenapa justru mereka yang ketakutan. Ataukah mereka takut kalau mereka juga akan ketularan mati? Perlahan aku tertawa kecil.

“Tenang saja. Kalian tidak akan ketularan ikut mati.” Aku tersenyum pelan.

“Bukan begitu maksud saya!”

Tapi aku tidak mendengar dan tertawa kecil. Perlahan mataku terasa berat, rasanya ingin tidur. Sejak kapan pekikan Banshee ini bagaikan lullaby bagiku? Baru saja aku akan meletakkan kepalaku di meja tiba-tiba Heiss berlari masuk ke perpustakaan.

“Apa yang kalian lakukan! Kenapa kalian tidak membawa Tuan Putri?”

Ah, teriakan Heiss rasanya mampu menandingi pekikan nona Banshee. Aku langsung bangkit dari kursiku, “Tidak perlu memarahi mereka Heiss. Akulah yang berkeras ingin tetap di sini.” Jelasku.

Jelas Heiss ingin mengatakan sesuatu tapi aku lebih cepat, “Lihat kan, Heiss? Padahal aku sedang di perpustakaan dan Nona Banshee tidak datang ke kamarku.”

Kurasa apa yang kukatakan cukup jelas tanpa perlu penjelasan lain, kan? Kematianku adalah hal yang pasti. Heiss menunjukkan raut wajah kurang suka dan jengkel, sesekali matanya menatap Banshee yang masih meraung-raung dengan penuh perasaan.

“Mari Tuan Putri, saya akan antarkan anda ke kamar.”

Ah, ya. Aku memang sempat ingin tidur tadi. Mungkin kali ini nasihat Heiss bukan hal yang buruk. Heiss mengulurkan tangannya dan aku menggenggamnya. Mataku sudah terasa berat jadi aku memilih untuk mempercayai Heiss untuk menuntunku.

.

.

.

Suara raungan Banshee perlahan mulai tak terdengar. Kini aku sudah di tempat tidur dengan selimut hangat yang tebal. Padahal tadi mataku terasa berat, akan tetapi sekarang malah jadi tidak bisa tidur. Kupandangi kotak kayu yang ada di rak pajang kamarku. Perlahan aku mendesah. Malam ini Heiss kembali meletakkan empat orang penjaga dan seorang dayang di ruangan depan, berjaga di pintu kamarku. Meskipun begitu aku tetap mengalami mimpi buruk dan terbangun di tengah malam dengan keringat membasahi gaun tidurku.

Rasanya malam ini aku akan kembali bermimpi buruk.

.

.

.

Malam Kelima.

Hari ini istana mengalami hal yang biasa, seorang wanita ditemukan tewas membunuh dirinya sendiri dengan menggantung diri di pohon halaman belakang istana. Nyonya Leyla mengatakan padaku bahwa wanita yang bunuh diri itu adalah Countess Ariana, istri dari Duke Hayden dari Western Blezenn.

Aku hanya menatap tidak peduli. Sudah bukan rahasia lagi kalau ayahku itu memang suka bermain wanita. Sebagai seorang raja, ia merasa apapun yang ia inginkan harus dipenuhi. Hingga akhirnya bagaimana ia mempermainkan wanita sama seringnya dengan ia mengganti kaus kaki. Dan karena ia seorang raja, ia dengan semena-mena memiliki wanita yang menarik perhatiannya. Tidak perlu menyebutkan ratu kerajaan ini yang sudah berganti lima kali dan selir yang berjumlah lima puluh orang. Bahkan wanita cantik dari pelacuran dan wanita terhormat bangsawan tidak lepas dari hasrat ayahku.

Tidak aneh jika kerajaan  ini perlahan hancur dari dalam.

Hik…hik…huwaa…huwaaa…..

Aku mendesah dan meletakkan pulpenku. Ruang kerjaku memang luas, tapi tidak mungkin menampung para menteri dan knight yang berbondong datang untuk melindungiku.

“Tidak perlu masuk.” Ujarku kepada para tentara yang sudah menerobos pintu kerjaku. Para menteri yang sedang berada di ruanganku terdiam dan hanya menonton.

Kedatangan para tentara sudah bukan hal yang aneh. Mungkin aku harus membicarakan ini kepada Heiss. Toh, Banshee itu hanya menangis meraung di depan jendelaku dan tidak melakukan hal apapun yang membahayakanku.

Yang jadi masalah adalah kedatangan mendadak para menteri ini. Aku curiga mereka sengaja datang di malam hari ini untuk memastikan gosip Banshee yang menangis meraung di depan kamarku. Meski harus kuakui mereka cukup cerdik untuk membawa laporan pemerintahan kerajaan kepadaku.

Aku tidak pernah belajar pemerintahan dan aku tidak pernah disiapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Aku hanya dibesarkan untuk terlihat cantik dan dinikahkan dengan pria mesum lainnya di kerajaan lain. Tapi siapa sangka ternyata semakin dewasa kecantikanku semakin menonjol hingga semua ini terjadi.

Nyonya Leyla datang dan menuangkan teh untuk diriku, perlahan aku menghirup teh yang masih panas itu. Raungan Banshee membuat kepalaku sakit dan pusing. Perlahan hatiku mengeluh, aku tahu kalau aku akan mati tapi apa perlu Banshee itu meraung setiap malam? Tidak bisakah dia meraung setiap dua hari sekali atau tiga hari sekali? Mendegar raungannya setiap malam mau tak mau membuat kepalaku terasa pusing dan berisik.

Suara derap langkah kembali terdengar dan para knight terlihat gelisah. Ah, tidak diragukan lagi pasti Heiss yang datang.

“Tuan Putri! Apa-“  Kata-kata Heiss terpotong melihat banyaknya menteri yang ada di kamarku.

“Ah, kebetulan Heiss. Tolong suruh para knight mundur dan cukup sisakan empat orang di dalam. Seperti yang kamu lihat ruang kerjaku tidak cukup luas.”

Heiss kelihatan sekali ingin membantah, akan tetapi dengan enggan ia melakukan apa yang kusuruh. Suara pekikan Banshee makin terdengar kencang dan untunglah, para menteri langsung mohon pamit dari ruang kerjaku, dengan sangat tidak sopan meninggalkan setumpuk laporan pemerintahan di meja kerjaku yang seharusnya ayahkulah yang melakukanya.

Sepeninggal para menteri itu, yang kucurigai mereka pergi karena takut atau karena pusing dengan pekakan Banshee, Heiss masuk ke kamarku.

“Tuan Putri-“

“Tidak masalah Heiss. Kau tahu sendiri Banshee hanya menangis meratap tanpa melakukan apapun kepadaku.” Ujarku tanpa mengangkat mataku dari laporan yang kubaca. “Selanjutnya tidak perlu mengirim satu kompi knight ke kamarku setiap nona Banshee ini meraung-raung.”

“Tapi saya tetap akan menempatkan empat penjaga di kamar anda selama dua puluh empat jam sehari.”

Aku mengangguk pelan, membiarkan Heiss melakukan apapun yang ia mau.

Untuk sesaat suasana hening, yah walaupun tidak begitu hening dengan Banshee yang masih meraung-raung di luar sana. Aku mengangkat mataku dan mengisyaratkan Heiss duduk di depanku. Sebuah tawaran yang langsung disambut oleh sang komandan.

“Maafkan saya.” Gumam Heiss.

“Tolong jangan katakan itu.” Gumamku. Tapi aku yakin Heiss pasti bisa mendengarnya meskipun nona Banshee ini memang heboh sekali. “Saat ini aku hanya punya kamu dan Leyla. Aku tidak ingin mendengar ucapan maaf dari kalian.”

Nyonya Leyla juga ada di sini, tapi ia hanya berdiam diri. Ia kembali menuangkan teh ke cangkirku yang kosong dan menuang teh yang baru untuk Heiss. Aku mengisyaratkan Nyonya Leyla untuk duduk di kursi samping Heiss. Heiss mencoba meraih tanganku untuk menggenggamnya, tapi dengan cepat aku langsung menarik tanganku.

“Maaf, untuk saat ini…” tubuhku terasa gemetar, napasku berat dan keringat dingin mulai menetes di dahiku.

Heiss tidak tersinggung tapi merasa semakin bersalah. Meskipun begitu ada raut wajah maklum dan ia tidak mengatakan apapun. Nyonya Leyla meletakkan selimut tipis di pundakku dan mengoleskan minyak aromaterapi di leherku. Untuk sesaat aku merasa tenang.

“Kenapa para menteri itu datang?”

Pikiranku kembali tersadar, “Ah, mungkin mereka cuma penasaran dengan gosip Banshee ini.”

“Lalu laporan ini?” Heiss masih mengejar.

“Laporan kali ini memerlukan persetujuan keluarga kerajaan.” Heiss mengangguk paham. Bisa dikatakan urusan pemerintahan dipegang oleh perdana menteri dan seharusnya sisanya dipegang oleh raja. Akan tetapi dengan kondisi ayahku yang sangat tidak bisa diandalkan seperti ini sepertinya para menteri putus asa dan mendatangiku untuk mengurus masalah kerajaan.

Aku masih membaca beberapa laporan dan teringat sesuatu, “Mengenai Countess Ariana…”

“Mayatnya sudah dikirim kembali ke kediaman Duke Hayden.”

“Lalu bagaimana tanggapan Duke Hayden mendengar semua ini?”

Heiss menggeleng, “Ia menolak istrinya sendiri untuk dimakamkan di pemakaman kediamannya. Ia malah menawarkan perhiasan dan emas supaya raja tidak menghukum keluarga mereka.” Ujar Heiss dengan jijik. Jelas sekali ia memandang rendah perilaku Duke Hayden.

Aku tidak mengatakan apapun. Begitu atasan begitu juga bawahannya. Ternya Duke Hayden adalah tipe yang suka menjilat atasan dan tidak ragu mengorbankan keluarganya sendiri. Dalam hal ini istrinya sendiri untuk dikirim ke ayahku. Aku yakin karena Countess Ariana tidak terima dengan perlakuan suaminya dan juga tidak ingin kehilangan martabatnya makanya ia membunuh dirinya sendiri.

Aku berpikir ngilu, kenapa harus gantung diri? Kenapa tidak pakai racun atau menembak diri dengan pistol?

Ah, tidak tidak. Pikiranku sudah melantur kemana-mana. Pekikan Banshee masih terdengar meskipun sudah tidak terlalu kencang. Aku menarik napasku, apa kabar kerajaan ini? Aku sebentar lagi mati dan ayahku itu tidak bisa diharapkan. Dalam benakku terbayang kotak kayu besar yang kini masih berada di rak pajangan di kamarku.

“Paman Lucas, bagaimana kabarnya sekarang?” Entah dari mana tiba-tiba saja ucapan itu terlontar dari bibirku.

Lucas adalah adik dari ayahku. Sejak muda ia sudah ikut bagian dalam militer dan saat ini ditugaskan di perbatasan perairan. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah lima tahun yang lalu saat umurku 16 tahun.

“Pastinya baik-baik saja. Mereka bilang tidak ada kabar berarti kabar baik, kan?”

Aku menggeleng. Dengan keadaan kerajaan yang seperti ini, ayahku yang tidak bisa diharapkan dan aku yang sudah diratapi oleh Banshee, aku berharap Paman Lucas segera kembali ke istana. Toh meskipun ayahku gemar main wanita di sana-sini ternyata ia tidak pernah punya anak lain selain diriku. Akan lebih baik jika Paman Lucas yang menggantikan ayahku menjadi raja. Sekali lagi bayangan kotak kayu berkelibat di mataku.

Aku menghela napas dan bangkit dari meja kerjaku, “Heiss, bisakah aku minta tolong kepadamu untuk mencari kontak apapun untuk menghubungi pamanku? Nomor handphone telepon bahkan tidak masalah kalau harus pakai merpati pos.” Aku tersenyum.

Heiss tersenyum lemah, “Zaman sekarang mana ada lagi yang pakai merpati pos?”

“Baiklah, kalau begitu Leyla, tiba-tiba besok aku ingin makan bubur daging bebek.”

Leyla tertawa, “Baiklah akan saya siapkan.”

“Tuan Putri terlalu random.”

“Itu karena aku mengantuk.” Aku merenggangkan tubuhku dan tidak menahan kuapanku lagi. Baru kusadari tidak ada lagi pekikan raungan dari Banshee.

“Saya akan menyiapkan keperluan tidur anda.”

“Saya akan menempatkan empat penjaga.”

Aku mengangguk pelan. “Baiklah, selamat malam semuanya.”

Nyonya Leyla dan para pelayan lain membantuku mengganti pakaian menjadi gaun tidur, membereskan tempat tidurku. Tirai kuperintahkan untuk dibuka karena aku ingin tidur ditemani cahaya dari luar. Saat semuanya sudah beres mereka mematikan lampu, membungkuk hormat dan menutup pintu. Aku tersenyum.

Untuk sementara mataku membiasakan diri dengan kegelapan dan menatap sekeliling kamarku. Semua ini akan kutinggalkan sebentar lagi. Perlahan aku melangkah menuju rak pajangan, dimana terdapat kotak kayu berukuran sedang. Perlahan aku membuka tutupnya dan memandang isinya. Semuanya akan baik-baik saja.

.

.

.

to be continued

 

 

Advertisements

IMG_20180908_100725

Judul Terjemahan: Absolute Justice

Judul Asli: Zettai Seigi

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerjemah: Nurul Maulidia

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Kedua, Juli 2018

Dimensi Buku: 268 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-51860-1-1


BLURB BUKU

Seharusnya monster itu sudah mati…

 


REVIEW BUKU

Blurb bukunya singkat… Cuma satu kalimat itu aja. Otomatis saya langsung penasaran kan, gimana sih ceritanya?

Memang mungkin salah saya juga kali ya… pasang harapan cukup tinggi dengan judul buku ini. Otomatis buth sekitar satu bulan untuk saya meneyelesaikan baca buku ini. Itu juga diulang dulu dari awal untuk refresh memory.

Kasus di buku ini lumayan Ok sih, menurut saya genre buku ini masuk misteri dan psikologi. Misteri karena seperti karya Akiyoshi-sensei yang biasa, ada kasus pembunuhan walau di awal kita juga udah dikasih jawabannya siapa yang korban dan siapa yang pelaku. Psikologi karena menurut saya subjek yang dibicarakan di novel ini memang rada sakit jiwa. Oh iya, buku ini diceritakan melalui empat sudut orang yang berbeda yang menceritakan pengalaman mereka dengan korban terbunuh. Karena itulah saya sebagai pembaca juga bisa merasakan apa yang dialami oleh masing-masing POV ini.

Seperti biasa, Akiyoshi-sensei emang paling jago untuk menggiring pembacanya merasakan hal yang sama dengan para karakternya.

Terus kenapa saya bacanya bisa lama banget?

Pertama, mungkin karena saya terlalu terbawa dengan alur POVnya sehingga merasa gak nyaman dengan karakter dan nilai-nilai yang dianut oleh si korban. Akhirnya fatal, saya malah jadi males baca. Itu juga saya paksain baca karena pingin beli buku bacaan baru. Dan dengan prinsip gak boleh beli buku baru kalau buku yang lama belum selesai dibaca, akhirnya saya makasain diri untuk baca. Meskipun harus pause untuk beberapa saat untuk menjaga pikiran saya tetap waras.

Kedua, ekspektasi saya ketinggian. Walaupun untuk karya Akiyoshi-sensei tetap bagi saya yang terbaik adalah The Girl In The Dark dan Holy Mother walaupun untunglah ekspektasi saya gak setinggi ini. Tapi secara gak sadar saya pasang ekspektasi sesuai Scheduled Suicide Day yang merupakan rating kedua. Eh… tak tahunya ternyata buku ini – menurut saya – selevel dengan The Dead Returns dan Silence yang menempati rating paling rendah dalam daftar Akiyoshi Rikako milik saya. Akibatnya bisa ditebak, kecewa datang duluan sehingga bikin malas baca.

Walaupun saya bilang buku ini tidak sesuai ekspektasi saya, tapi untuk pembaca yang memang gak mau mikir dan cuma mau baca saja buku ini layak konsumsi. Tentu saja harus dijaga agar pikiran anda tetap waras karena takutnya kebawa alur cerita. Itulah sebabnya say abaca buku ini rada lama, untuk menjaga kewarasan pikiran saya 😛

Selain itu tema psikologi yang diangkat juga lumayan ok. Judul Absolute Justice memang sesuai dengan isi ceritanya. Membuat saya mengacungi jempol pada Akiyoshi-sensei yang bisa-bisanya kepikiran ide cerita seperti ini. Membuat saya memikirkan kembali apakah selama ini saya sudah berusaha mematuhi nilai-nilai aturan beragama dan bernegara? Atau apakah saya masih tipe orang yang ah cuma sedikit gak bakal dosa?

IMG_20180908_100831

Judul Terjemahan: Credit Roll Of The Fool

Judul Asli: Gusha No End Roll

Penulis: Honobu Yonezawa

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Penerbit Haru

Cetakan: Pertama, April 2018

Dimensi Buku: 260 halaman, 19 cm

ISBN: 978-602-6383-50-1


BLURB BUKU

Oreki Hotaro lagi-lagi terseret oleh rasa ingin tahu Chitanda Eru. Melawan keinginannya, kali ini Hotaro harus menebak penyelesaian scenario naskah film misteri kelas 2-F yang akan ditayangkan saat Festival Kanya nanti.

Seorang siswa terjebak dalam kamar tertutup bangunan terbengkalai, mati setelah tangannya terpotong. Namun, siapa yang membunuh? Bagaimana caranya? Film itu selesai begitu saja tanpa penjelasan. Hotaro-lah yang bertugas untuk menebak siapa dan bagaimana trik pembunuhan itu dilakukan.

Namun, hanya itukah masalahnya? Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar menyelesaikan skenario film?


REVIEW SAYA

Walaupun sudah menonton animenya – dan otomatis sudah tahu jalan ceritanya – saya masih menikmati membaca buku ini. Apalagi dalam cerita kali ini entah kenapa saya merasa Hotaro agak lebih banyak menceritakan pemikirannya dibanding di buku satu (apa ada yang merasa sama dengan saya?)

Kalau di buku satu Hotaro masih terlihat kalem dan hemat energi, di buku kedua ini Hotaro makin vocal menceritakan pemikirannya walau hanya sebatas pemikirannya sendiri dan belum diucapkan kepada karakter buku lainnya. Tetap, sifat hemat energinya masih ada.

Chitanda Eru memang mengerikan 😛

Di buku  kedua ini walaupun yang diminta tolong oleh kelas 2-F untuk memecahkan misteri ini, tetap saja yang akhirnya dilimpahi tanggung jawab adalah Hotaro. Meskipun merasa malas dan dengan alasan hemat energi, namun dengan dorongan semua kawannya di Klub Literatur Klasik dan permintaan khusus dari Irisu Fuyumi kelas 2-F, mau tidak mau Hotaro harus mengorbankan waktunya yang berharga untuk memecahkan misteri.

Di sini saya sangat menikmati dimana Hotaro mulai menarasikan pemikirannya mengenai berbagai macam kemungkinan pemecahan misteri, penilaiannya mengenai karakter seseorang dan komentar Hotaro mengenai pembicaraan atau sikap orang lain.

Kalau di animenya mungkin dialog pikiran Hotaro tidak terlalu jelas, atau mungkin sedikit dark Tapi di dalam buku dialog pikiran Hotaro cukup deskriptif, bahkan bersifat komedi membuat saya bisa membaca berulang kali karena terlalu lucu bahkan menghibur.

Yah, tidak akan berpanjang lebar. Bagi yang sudah membaca buku maupun menonton animenya pasti pahamlah maksud saya. Lagipula misteri yang ada di buku ini tidak terlalu rumit, sehingga bisa dijadikan bacaan ringan untuk santai. Buku ini juga bisa dibaca tanpa edisi Hyouka yang sebelumnya, tapi tentu saja pembaca jadi kehilangan gambaran seperti apakah karakter yang ada di buku kali ini, mengingat karakter literature klasik dijelaskan pada buku pertama.

Overall¸buku ini sangat menarik. Akan saya baca lagi di kala senggang saat tidak ada buku baru yang harus dibaca.

 

ketika Mars menghadap Solar

Image result for vocaloid gumi gumiya

Pemuda di hadapannya memang luar biasa. Ah, tidak. Semua planet yang ada di kerajaannya sangat luar biasa.

Alhamdulillah… Allah SWT menganugerahkan penduduk yang sangat berbakat di kerajaan tata suryanya. Ada Merkurius yang handal dalam bagian pemerintahan dan administrasi. Jupiter yang selalu bekerja keras dan Saturnus yang merupakan seorang dokter jenius. Ah, jangan lupakan putri kesayangan yang sayangnya belum pernah ia lihat, Gaia. Walaupun kerajaan ini masih baru dan belum stabil tapi Alhamdulillah mereka tidak kekurangan bahan pangan. Putrinya yang satu itu memang luar biasa.

Yah, sebenarnya Gaia bukan putrinya yang sebenarnya. Tapi Solar sudah menganggap semua planet, asteroid dan satelit yang ada dalam kerajaannya sebagai putra-putrinya. Dengan begitu ia bisa lebih giat berusaha untuk memimpin kerajaan ini.

Dan sekarang, putra di hadapannya ini bernama Mars. Awalnya Solar sangat bingung, planet di hadapannya ini mempunyai bakat apa? Dia tidak sekekar Jupiter dan tidak secekat Pluto. Bahkan bisa dikatakan dia tidak memiliki sumber daya apapun.

Solar sangat percaya bahwa setiap planet memiliki bakat dan keterampilannya masing-masing. Makanya ia tidak terlalu mempermasalahkan Mars yang kelihatannya biasa-biasa saja. Apalagi setelah melihat pemuda itu seorang pekerja keras.

Karena itulah ia sangat kaget sekaligus bangga, ternyata anaknya yang satu ini memiliki keteguhan yang tidak terkira dan merupakan seorang pejuang yang hebat. Karena itulah Solar memberikan tanggung jawab menjaga keamanan kerajaan tata suryanya kepada Mars.

Dan harapan itu terpenuhi, ternyata Mars memang sangat berbakat – bahkan jenius – di bidang militer.

Ah, rasanya Solar ingin menangis bangga melihat putranya yang satu ini.

Dan sekarang Solar sedang duduk bersantai di kursi taman istananya. Salah satu asteroid menyuguhkan teh yang mengepul panas disertai sepiring cemilan yang sesuai. Ah, wangi teh di hadapannya sangat menarik indera penciumannya.

“Silahkan Mars.” Solar mengeluarkan gesture sopan, menjamu Mars. “Ini adalah daun teh yang dikirimkan Gaia kepadaku. Katanya ini bisa membuat rileks dan menenangkan pikiran. Hahaha…anakku yang satu itu tahu saja aku sedang susah tidur.” Solar tidak canggung kelepasan curhat kepada Mars.

Mendengar Solar menyebutkan nama Gaia, Mars menunjukkan ketertarikannya kepada teh di hadapannya. Ia mengangkat cangkir dan meminum cairan yang ada di dalamnya.

Benar saja, rasanya tubuh Mars menjadi sedikit lebih rileks.

Mereka berdua meletakkan cangkir teh mereka. Solar mengambil satu biskuit dan mengulurkan piring berisi cemilan itu kepada Mars.

“Baiklah, Mars. Sambil mengobrol santai seperti ini aku ingin sekali mengapresiasi kerja kerasmu. Kau memang jenius di bidang militer.” Solar melemparkan senyumnya yang penuh kebanggan. Entah kenapa Mars merasa silau melihat senyum itu.

“Sebagai hadiah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mars mengangkat wajahnya. “Apapun permintaan saya?”

Solar mengangguk, “Asalkan tidak bertentangan dengan syariat agama.”

Ujung jari Mars mengusap bibir cangkir, ia terdiam beberapa lama. Kaisar Solar pun tidak memaksa. Ia lebih ke arah penasaran. Memangnya apa keinginan pemuda ini? Apa sebegitu besar dan berat?

“Saya mohon izin kaisar untuk mengijinkan saya menikahi Gaia.”

Solar langsung menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Semburan yang luar biasa karena cairan itu membasahi rambut, wajah dan seragam yang dipakai oleh Mars. Buru-buru Solar menyerahkan serbet kepada Mars dan mengabil tisu untuk menyeka bibirnya sendiri.

“Bisa tolong diulangi?”

Mars sedang menekankan serbet itu ke wajah dan pakaiannya. Seorang pelayan asteroid menawarkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Mars. Pemuda itu menatap Solar dengan penuh keteguhan.

“Saya meminta anda untuk mengizinkan saya menikah dengan Gaia.”

Rahang bawah Solar langsung jatuh ke bawah, wajahnya terlihat bodoh. Tadi dia memang bilang kalau permintaan apapaun asalkan tidak melanggar syariat akan ia penuhi. Tapi izin menikah?

Solar berusaha keras memasang wibawanya yang baru saja jatuh. Ia batuk satu kali. “Apakah kau pernah bertemu dengan Gaia sebelumnya?”

Mars mengangguk, “Pertama dan terakhir kalinya saya bertemu dengannya adalah 10.000 tahun yang lalu.”

Perlu kalian ingat wahai sobat pembaca, umur planet itu saaaannnggggaaaatttt lama. Jadi kita maklumi saja.

Solar menganga. Sepuluh ribu tahun yang lalu? Ia mengingat dirinya sendiri 10.000 tahun yang lalu sebagai pemuda yang tampan dan dikagumi oleh semua bintang dan galaksi. Tidak…tidak… 10.000 tahun yang lalu bukankah itu berarti Mars dan Gaia masih sangat muda?

“Apa kau yakin?” Solar bertanya sangsi. “Bagaimana kau bisa ingin menikah dengan Gaia?”

“Jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Ah, jawaban yang sangat singkat. Kalau begini Solar tidak bisa kepo lebih dalam lagi.

“Bagaimana kalau misalnya Gaia sudah berubah? Misalnya kau sudah tidak mencintainya lagi? Atau mungkin dia sudah punya kekasih?” di sini Mars mengerutkan keningnya, “atau Gaia ternyata punya bau badan? Atau saat tidur ternyata dia mengorok? Atau ternyata wajahnya berjerawat dimana-mana?”

Hei..hei…ini menjatuhkan reputasi atau gimana sih?

Mars menatap Solar dalam diam. Kaisar itu berkeringat dingin ditatap sedemikian kejam oleh Mars. Ah, sepertinya ia sudah keterlaluan menggoda anak ini.

“Saya meminta izin anda untuk menikahi Gaia.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya seperti ‘jika ada yang mau mendekati Gaia kau tidak bisa lolos dariku.’

Ah, apakah ini penggunaan kekuasaan militer untuk kepentingan pribadi? Haruskah Solar menghukumnya?

Dengan kaku Solar mengangguk, dikalahkan oleh anaknya sendiri. “Jika Gaia bersedia aku tidak keberatan,” yang maksud artinya adalah ‘PDKTmu akan sangat berat kalau hanya mengandalkan pertemuan pertama 10.000 tahun yang lalu’. Mars mengangguk paham dan kembali meminum tehnya yang baru saja diganti.

Hei…hei…apakah itu sorot puas yang Solar lihat di mata pemuda itu? Anak satu ini! Benar-benar!

.

.

.

Saat ini adalah bulan keenam dari waktu dua tahun yang ditetapkan oleh Solar – sebenarnya dengan memaksa – sebagai waktu istirahat Gaia. Akan tetapi gadis itu memang sangat terlalu peduli dengan panennya sehingga mau tidak mau Solar mengizinkan gadis itu untuk kembali ke tanah Gaia dan  memantau perkebunannya setiap sebulan sekali. Tentu saja Mars harus menemaninya, berjaga-jaga untuk menarik kembali Gaia ke ibukota Matahari kalau gadis itu sudah lupa waktu dengan perkebunannya.

Meskipun ibukota lebih panas dibandingkan tanah Gaia, tapi kehadiran gadis itu entah mengapa malah membuat bunga-bunga di ibukota terlihat lebih hijau. Kalau dulu sebelumnya ibukota terlihat cokelat dengan pasir dimana-mana, sekarang banyak pohon kurma, kaktus dan tanaman ekstrim gurun lainnya menjadi penghijau ibukota.

Mungkin inilah bakat tersembunyi Gaia.

“Bagaimana kabar PDKTmu?”

Solar menghirup jus buah dari gelas tingginya, matanya melirik Mars yang sedang duduk menemaninya sambil membaca buku. Meskipun begitu Solar yakin sudut mata anak ini selalu mengawasi Gaia.

“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang anda bicarakan.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya sebagai ‘jangan ganggu urusanku dan enyahlah’. Solar menatap prihatin Gaia yang sedang asyik melihat berbagai macam koleksi kaktus di Istana. “Mereka bilang cowok yang suka marah tidak akan disukai perempuan.”

Mars mengangkat wajahnya dari buku dan menatap Solar dengan tenang. Benar-benar tenang sehingga terasa mengerikan. Tanpa sadar Solar sudah meminta ampun kepada Mars.

Hei…kaisar macam apa ini?

Gaia berlari menuju tempat mereka duduk. “Yang Mulia, aku mencoba menanam bunga ini di istana dan ternyata mereka mekar dengan cantik. Ini untuk anda.” Gaia tersenyum cantik sambil memberikan sekuntuk bunga matahari yang terlihat ceria. Solar menerima pemberian Gaia dengan tersenyum, walaupun punggungnya terasa dingin karena ditatap tajam oleh Mars.

Gaia menoleh kearah Mars dan mengulurkan sekuntum bunga mawar yang tidak berduri. “Ini untuk anda, Mars.”

Tanpa sadar Mars tersenyum saat menerima bunga itu dan menggumamkan terima kasih. Gaia terlihat sangat senang, tersenyum balik dan akhirnya kembali bermain ke taman istana. Solar menatap Mars yang masih terpana dengan bunga itu – bahkan menurutnya, Mars memuja bunga yang diberikan oleh Gaia.

Solar menatap bunga matahari yang diberikan kepadanya dan bunga mawar tanpa duri di tangan Mars. Ia tersenyum misterius. “Lumayan juga PDKTmu.”

Mars seakan tersadar dan memasang wajah normal, “Saya tidak paham maksud anda.”

Solar terkekeh kecil. “Yah, tidak apa-apa.”

Sepertinya Mars tidak tahu. Dan ia juga tidak mau memberitahu. Akan lebih baik baginya menonton saja bagaimana Mars PDKT dengan Gaia.

Yah, padahal jawabannya sudah jelas kan?

Bunga mawar tanpa duri memiliki arti cinta pada pandangan pertama.

#End


A/N: Hanya sebuah cerita sampingan dari cerita ketika Mars bertemu Gaia boleh coba dibaca dan dikasih komen. Dibikin tapi gak cek ricek typo karena udah ngantuk. Jadi bodo amat lah XD dan untuk arti bunga matahari adalah kasih sayang, kesetiaan dan umur panjang. Yah, jadi Gaia ceritanya mengikrarkan kesetiaan kepada Solar sementara dia confession ke Mars. Alhamdulillah gak jadi bertepuk sebelah tangan.

ketika Mars bertemu Gaia

Image result for vocaloid gumi gumiya

Seorang planet berlari, napasnya terengah-engah. Rambut panjangnya yang berwarna biru (dengan sedikit highlight hijau muda dan perak putih) tergerai di belakangnya. Sang pemilik rambut itu bernama Gaia dan ia sedang berlari kencang demi menyelamatkan nyawanya.

Sosok galak yang ada di belakanganya juga berlari kencang mengejarnya, akan tetapi kali ini dengan sumpah serapah dan teriakan yang kita tidak perlu tahu artinya. Sesekali tangannya berusaha menggapai rambut si gadis, tapi untunglah, Gaia sangat sigap meraup rambutnya. Sambil berlari kencang ia mencoba mengepang rambutnya. Tidak perlu rapi tidak mengapa, yang penting rambutnya tidak menjadi sasaran jambakan.

Kaki si planet berlari dengan tangkas, meliuk ke sana kemari, masuk keluar celah tertentu, membelok kanan dan ke kiri, memasuki labirin gudang yang hanya ia yang tahu bagaimana tata letaknya. Perlahan ia bisa mendengar pengejarnya mulai kehilangan arah. Akan tetapi demi hidupnya yang masih sangat muda, ia terus meliuk masuk ke berbagai celah sisi gudang. Di ujung celah ia bisa melihat lapangan luas yang ditanami bunga. Dari lapangan itu ia bisa-

GUBRAK!

Ia terjatuh.

Tidak sakit, tapi ia ingin sekali meringis. Suara erangan terdengar dari bawahnya. Tunggu, suara erangan?

Dan saat itulah ia bisa melihat dirinya jatuh menimpa seseorang. Seorang pemuda yang tampan sebetulnya. Warna rambutnya merah gelap dan warna matanya cokelat keemasan. Tapi si gadis tidak melihat semua itu dan lebih fokus menatap seragam militer yang ada di depan matanya.

Ia bergidik.

Baru saja ia dikejar-kejar oleh Phobos dan sekarang ia tertangkap oleh seorang pemuda militer yang tidak ia ketahui namanya. Apa hari ini takdirnya sedang berkaitan dengan para pria militer?

“Apa kau tidak apa-apa?”

Belum sempat Gaia menjawab tiba-tiba di belakanganya kembali terdengar suara sumpah serapah Phobos. Tanpa babibu gadis itu langsung berlari meninggalkan korban tabrakan yang baru saja terjadi. Si pemuda hanya bisa terdiam bingung. Saat ia masih berusaha memahami situasi tiba-tiba saja Phobos tiba di sana. Ia berhenti dan memberi hormat.

“Salam hormat, Jendral Besar Mars!”

Pemuda bernama Mars itu masih terduduk di tanah, akan tetapi dengan santai ia tetap diam duduk di tanah dan dengan ogah-ogahan membalas salam hormat Phobos.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Mars berdiri dan menepukkan celananya dari debu.

“Saya sedang mengejar Gaia.”

“Gaia?”

“Planet yang bertanggung jawab untuk persediaan pangan kerajaan Tata Surya. Gadis berambut biru kusam dengan hijau dan putih yang aneh lalu-“

“Ah, baiklah cukup.” Mars memotong narasi Phobos yang tidak penting. Dan ia menyadari gadis yang menabraknya tadi adalah Gaia. Tiba-tiba saja sepotong roti kecil menggelinding entah dari mana. Dahi Mars berkerut sementara Phobos terlihat gugup.

“Kenapa kau mengejar gadis itu?”

Kali ini suasana tenang. Mars hanya memasang senyum yang mengintimidasi, menunggu jawaban.

“Ah, eh… gadis itu…. Mencuri roti…,”

Mars berjongkok dan memungut roti yang menggelinding, “Maksudmu roti ini?” Tanya Mars masih dengan senyumnya yang dingin.

Phobos kali ini kikuk. Mati kutu.

Mars masih tersenyum, kali ini dengan sangat dingin yang bahkan bisa menggigilkan tulang. “Kalau tak salah Yang Mulia Kaisar Solar mengatakan, karena Gaia sudah sangat berprestasi beberapa kali memastikan pangan yang cukup bagi kerajaan ia harus diperlakukan dengan sangat istimewa.”

Phobos berkeringat dingin, merasa ajalnya akan datang.

“Untunglah aku datang di saat yang tepat ya.” Mars tersenyum dengan sangat kalem.

.

.

.

Gaia, yang menjadi penyebab Phobos dihukum dengan sangat sangat sangat berat sedang bersembunyi di ladang bunga Lavender. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia sudah tidak kuat lagi berlari tapi sepertinya ia sudah tidak dikejar lagi oleh Phobos maupun korban tabrak larinya itu.

Benar-benar deh, kenapa hari ini ia harus berurusan dengan orang militer. Bahkan sebanyak dua kali?

Kruyuuuk

Gaia memeluk dirinya sendiri. Rasanya lapar sekali. Inilah penyebabnya kenapa ia dikejar-kejar oleh Phobos. Jatah makannya hanya dua kali sehari, setiap pukul 10 pagi dan 4 sore. Padahal ia bekerja sejak pukul 6 pagi hingga 8 malam. Jangankan untuk mandi (Gaia merasa tubuhnya gerah sekali, mungkin lebih baik ia ke sungai terdekat) untuk makan saja ia kesulitan. Phobos hanya memberinya jatah makan dua potong roti, satu keju kecil dan segelas susu.

Bukan maksudnya Gaia serakah sih. Tapi ayolah, Gaia bekerja seharian di ladang memastikan kebutuhan pangan kerajaan Tata Surya tercukupi. Tapi kenapa dirinya yang bertanggung jawab atas pangan justru harus merasa kelaparan?

Gaia berhenti melangkah, akhirnya ia sampai di sungai terdekat. Hari sudah gelap dan biasanya Phobos tidak mau bersusah payah keluar untuk memerintahkan tugas macam-macam kepada Gaia. Karena itu gadis itu sangat yakin malam ini ia bisa sedikit bersantai, atau tepatnya mandi. Ia melepaskan pakaiannya dan kemudian masuk ke dalam sungai, sengaja mencelupkan seluruh tubuhnya agar kulit kepalanya terasa segar. Di telapak tangannya ada lembaran kelopak bunga lavender. Perlahan ia meremas kelopak itu dan mengusapkannya ke kulit kepalanya. Meskipun Gaia hidup serba kekurangan tapi sebagai gadis bukan berarti ia tidak peduli dengan hal-hal manis seperti ini.

Wangi lavender yang berefek aroma terapi ditambah suasana malam yang tenang dan bunyi air mengalir membuat Gaia kehilangan sedikit kesadarannya. Ia mencuci mukanya dan hendak menyelesaikan mandinya saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang tidak asing.

Korban tabrak larinya tadi siang!

Dan ia berdiri bengong di tepi sungai!

Gaia mematut dirinya yang meskipun tubuhnya tersembunyi di bawah gelapnya air, tapi tetap saja…

KYAAA!

.

.

.

“Maafkan saya. Tapi percayalah, saya tidak bermaksud mengintip anda ataupun menakuti anda.”

Mars basah kuyup, memohon maaf sambil membelakangi Gaia yang saat ini terburu-buru memakai bajunya.

“Ah, tidak. Saya justru harus minta maaf karena sudah menyiram anda sampai basah kuyup.” Gaia meminta maaf ogah-ogahan. Iyalah, di sini dia adalah pihak yang dirugikan. Setelah ini dia tidak bisa jadi pengantin lagi, pikir Gaia lebay. Walaupun Mars tidak melihatnya benar-benar telanjang tapi tetap saja. Gaia bergidik mengingatnya.

Mars tersentak dan menoleh, “Ah, tidak. Saya justru-“

“Jangan lihat!” Gaia menahan kepala pemuda itu agar tidak memutar dan melihat dirinya.

Mars tergagap meminta maaf sementara Gaia cepat-cepat menyelesaikan simpul terakhir dari pakaiannya.

“Kau sudah boleh melihat.”

“Ah, baiklah.”

“Jadi, ada apa anda datang malam-malam begini?” Kali ini Gaia mengurus rambutnya yang masih meneteskan air, memelintirnya hingga dirasa airnya cepat turun dari rambutnya dan mengibaskannya dengan lembut.

Mars menatap Gaia dengan tatapan kosong.

“Tuan?” Gaia memasang wajah jengkel. Jengkel karena diganggu mandinya, jengkel karena diintip dan jengkel karena lapar.

“Ah..uh… saya minta maaf karena sudah mengintip.”

Gaia terdiam dengan wajah agak sulit, kan tadi pemuda ini sudah minta maaf jadi kenapa minta maaf lagi?

Mars juga tidak tahu kenapa ia meminta maaf lagi, padahal sepanjang 10 menit terakhir sejak ia tidak sengaja melihat Gaia yang sedang mandi ia sudah menggumamkan maafkan saya berkali-kali. Tapi tadi saat ia melihat Gaia yang sedang mengeringkan rambutnya entah kenapa terasa desir aneh dalam tubuhnya. Rasanya pemandangan di depannya begitu cantik dan privasi dan tanpa sadar ia sudah meminta maaf.

“Anda tidak datang ke sini hanya untuk meminta maaf karena sudah mengintip saya, kan?”

“Ah, tidak. Saya…”

“Bagaimana kalau kita lanjutkan percakapan anda di rumah saya.” Gaia berjalan terlebih dahulu dan Mars hanya bisa mengikuti dalam diam. Aneh, kenapa sekarang rasanya dia jadi gugup begini.

Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah Gaia. Saat pertama kali Mars melihat rumah gadis itu, Mars hanya mampu terdiam. Tidak percaya. Pasalnya, rumah yang disebut Gaia hanyalah sebuah gubuk berdinding dan beratap kayu dengan ukuran yang sangat minimalis.

Phobos, kupikir-pikir aku harus memberi hukuman yang lebih berat lagi untukmu, pikir Mars tersenyum dingin.

“Silahkan duduk.” Gaia mempersilahkan Mars duduk di satu-satunya meja dan kursi yang ada di ruangan itu. Gubuk itu hanya berisi perabotan yang sederhana. Sebuah tempat tidur untuk satu orang, meja dan kursi untuk dua orang serta dapur yang sangat sangat sangat sederhana.

“Mohon maaf, saya tidak punya apapun kecuali air putih.”

“Ah, tidak masalah.”

“Maaf, saya juga tidak bisa menjamu apapun untuk anda.” Gaia membelakangi Mars. Mars hanya menggumam paham.

Phobos, setelah ini kamu benar-benar tamat.

Gaia meletakkan gelas – yang Mars berusaha tidak memperhatikannya karena gelasnya retak – dan duduk di hadapan Mars. “Ada keperluan apa anda ingin bicara dengan saya? Apa anda ingin protes kepada saya yang tidak sengaja menabrak jatuh anda tadi siang?”

Gaia langsung to the point. Lebih baik langsung ke intinya toh pemuda di hadapannya ini sudah menangkap basah dirinya.

Mars meletakkan topi militernya yang tidak sengaja masih ia pakai. “Yah, memang berkaitan dengan yang tadi siang tapi bukan itu masalahnya.”

“Saya minta maaf karena tidak sengaja menabrak anda hingga jatuh.”

Mars tersenyum lembut, “Tidak masalah. Anak buah saya juga sudah menceritakan semuanya.”

Di sini Gaia merasa kaku, apakah dirinya akan ditangkap karena telah mencuri sepotong kecil roti milik Phobos?

“Maafkan perlakuan anak buah saya yang sudah semena-mena kepada anda.”

Huh? Ini diluar perkiraan Gaia. Pemuda ini meminta maaf lagi kepadanya? Dengan perlahan Gaia menatap pemuda di hadapannya.

“Ah, iya. Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya adalah Mars, planet yang bertanggung jawab untuk keamanan dan militer di seluruh kerajaan Tata Surya ini.”

Gaia tersedak ludahnya sendiri. Mars? Pemuda yang kelihatannya tidak beda jauh umurnya dengan dirinya ini adalah Mars? Seorang jenderal militer yang terkenal itu? Yang katanya prestasinya begitu hebat hingga Yang Mulia Kaisar Solar mempercayakan keamanan dan kedamaian kerajaan ini pada Planet Mars?

Pemuda ini?

Mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku.

Gaia benar-benar tidak fokus saat Mars menjelaskan berbagai prestasi yang telah ia capai demi membangkitkan pangan bagi kerajaan Tata Surya. Ia juga tidak mendengarkan saat Mars menyatakan bahwa Kaisar Solar menawarkan hadiah apapun yang ia inginkan untuk prestasinya itu dan lebih tidak konsentrasi lagi saat Mars menanyakan kira-kira apa yang ia inginkan sebagai hadiah.

“Nona Gaia? Apa anda mendengar saya?”

Mars menatap Gaia dengan cermat, wajah gadis itu pucat dan berkeringat dalam jumlah banyak. Apa gadis ini sakit? Pikirnya.

“Nona Gaia?”

“Apa anda akan menghukum saya karena saya mencuri roti tadi siang?”

Di sini Mars bengong. Hah?

“Maaf. Saya terpaksa karena saya benar-benar lapar. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi sebagai gantinya tolong bebaskan saya dan saya pastikan hasil pangan meningkat baik untuk kali ini.”

Hah?

Mars bingung. Kenapa tahu-tahu gadis ini minta maaf. Bahkan mengaku mencuri roti? Tapi tadi dia sudah meminta maaf untuk kelakuan Phobos.

“Tunggu Nona Gaia, anda salah paham.”

Gaia sudah tidak mendengarkan lagi karena tiba-tiba saja semuanya terlihat gelap.

.

.

.

Mars sedang berdiri dengan tangan terlipat, senyumnya dingin bahkan Deimos bisa melihat air di gelas yang ia bawa telah berubah menjadi es. Mars sedang berdiri sambil melipat tangannya, wajahnya tersenyum akan tetapi auranya memancarkan hawa dingin yang mengerikan. Di hadapannya Phobos sedang duduk berlutut dengan kepala yang benar-benar tertunduk, keringat dingin membanjiri tubuhnya.

“Kurang makan, bekerja terlalu berat dan stress hampir depresi. Dokter Saturnus benar-benar dokter yang hebat ya?” Mars berbicara ringan seakan mereka sedang membicarakan cuaca.

Deimos menghela napas, sementara Phobos justru menahan napas. Karena selama ini Deimos hanya mengurus masalah administrasi keamanan pengangkutan pangan ke seluruh kerajaan, makanya ia tidak terlalu tahu keadaan Gaia yang sebenarnya. Bisa dikatakan kehidupan sehari-hari Gaia diatur oleh Phobos.

“Oh, dan hal yang menarik Phobos. Tadi aku berkunjung ke rumahnya Gaia loh. Benar-benar akomodasi yang menarik ya. Hahaha.” Mars tertawa dingin.

Deimos menghela napas. Phobos, kali ini kau benar-benar tamat.

.

.

.

Gaia membuka matanya dan ia menatap langit-langit yang tidak ia kenal. Sekelilingnya adalah bangunan yang dicat putih. Sebuah jendela dibuka, tidak terlalu lebar tetapi memungkinkan udara segar masuk. Dilihat dari kondisi sinar matahari sepertinya hari hampir sore.

“Anda sudah bangun. Syukurlah.”

Gaia memandang Mars yang memasang wajah lega. Suaranya terasa serak. Untunglah Mars menawari segelas air yang langsung ia minum habis.

“Kenapa aku disini?”

“Dokter bilang Nona terlalu kelelahan. Lebih baik beristirahat-“

“Apa aku pingsan? Berapa lama?” Gaia mulai panik. Gawat! Kalau dia pingsan bagaimana nasib tanaman dan kebunnya?

“Tiga hari, tapi-“

Gaia tidak mendengarkan perkataan Mars. Dengan segera ia berlari keluar kamar, berlari menyusuri lorong dan hendak keluar dari gedung yang tampaknya sangat mewah ini. Akan tetapi tubuhnya terasa berat dan lemah, juga begitu lelah. Mars menangkap Gaia agar ia tidak tumbang.

“Dokter bilang anda kelelahan. Lebih baik anda beristirahat.”

“Tapi… kebunku….panenku….tiga hari tanpa aku…” Gaia panik. Benar-benar panik.

“Anda tidak perlu khawatir mengenai hal itu.”

Mars mencoba menenangkan Gaia akan tetapi gadis itu masih belum bisa tenang. Pemuda itu akhirnya menghela napas, mengalah.

“Jika saya menunjukkannya kepada anda, apa anda janji akan beristirahat?”

Gaia langsung mengangguk setuju. Tanpa buang waktu Mars menggendong Gaia layaknya pengantin baru disumpah – yang tentu saja membuat Gaia protes setengah mati. Mars melangkah keluar, mengabaikan mulut menganga Deimos dan pelototan tak percaya Phobos. Keluar dari gedung pemerintahan, sinar matahari menyambut Gaia. Matanya menggelap sesaat karena beberapa hari tidak melihat matahari. Saat matanya mulai menyesuaikan keadaan saat itulah ia melihat kebun dan sawahnya baik-baik saja.

Malahan Gaia bisa merasakan ada banyak kebun yang mencapai panen lebih cepat dibanding seharusnya. Sepertinya istirahatnya justru malah membuat tanamannya tumbuh lebih subur. Dan di tengah-tengah kebun dan sawah terdapat banyak orang yang sedang memanen ataupun merawat tanaman pangan.

“Mereka…?”

“Tanda terima kasih dari Yang Mulia Kaisar Solar untuk anda yang sudah berusaha keras memastikan ketersediaan pangan kerajaan. Karena situasi kerajaan sudah stabil, Kaisar Solar memerintahkan setiap planet harus mengirim perwakilan satelit maupun asteroid untuk membantu anda mengelola pangan kerajaan.”

Gaia menatap pemandangan di hadapannya dengan tertegun. Ia menatap Mars yang masih menggendong dirinya, “Kenapa?”

“Kaisar Solar adalah raja yang bijak. Ia sadar tanpa anda kerajaan kita tak akan mungkin bertahan sampai saat ini. Beliau memohon maaf atas semua kesulitan yang telah anda alami. Karena itulah Yang Mulia memerintahkan saya untuk menyampaikan kabar ini dan mengundang anda untuk beristirahat di ibukota Matahari.”

Mars menurunkan Gaia dari pelukannya. Pemuda itu tersenyum lembut pada Gaia yang kebingungan.

“Bagaimana? Apa anda bersedia pergi ke ibukota?”

“Tapi kalau aku pergi… hasil panen-“

“Tidak masalah.” Mars memotong semua yang ingin diucapkan oleh Gaia. “Yang Mulia kaisar berkeras agar anda beristirahat dan tidak memikirkan hasil panen.”

Gaia terdiam, ia mengalihkan pandangannya menuju semua tanamannya.

“Jadi… bagaimana?” Mars kembali memastikan. Gaia menatap Mars.

.

.

.

“Terima kasih atas undangan anda, Yang Mulia kaisar.”

Seorang pria berumur baya berjalan mendekati Gaia dan Mars yang mendampinginya. Ia berpakaian kemeja sederhana dengan kancing bagian atas terbuka dan lengan kemeja dilipat hingga ke siku. Celananya adalah celana bahan berwarna gelap dipadu dengan sepatu kerja biasa. Sekilas Gaia berpikir pria ini sangat esentrik…karena penampilannya tidak megah sebagaimana yang Gaia pikirkan. Sebaliknya, ada kesan ramah yang mengayomi serta mudah didekati. Gaia merasa ia bisa saja sewaktu-waktu kelepasan curhat tentang semua masalahnya kepada orang ini.

“Justru aku yang harus berterima kasih atas semua kerja kerasmu. Aku juga mohon maaf karena telah membuatmu kesusahan sendirian memikirkan pangan untuk kami semua.” Kaisar Solar meraih kedua tangan Gaia dan memegangnya dengan lembut. Nada suaranya lembut dan penuh penghargaan.

“Ah, tidak. Itu bukan apa-apa.”

“Mungkin. Tapi bagaimanapun aku tetap berterima kasih.”

Gaia bisa merasakan wajahnya memerah. Tidak pernah sebelumnya ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Sekarang kerajaan sudah stabil. Karena itu aku sengaja mengundangmu ke ibukota untuk beristirahat.”

“Terima kasih atas tawaran anda. Saya akan menerim tawaran istirahat anda. Besok pagi saya akan kembali pulang.”

“Kenapa buru-buru sekali?” Kaisar Solar menatap heran.

“Saya khawatir jika terlalu lama target pangan tidak bisa melebih panen yang lalu.”

Kaisar Solar menatap Gaia dengan lama, Gaia jadi kikuk. “Baiklah, kuperintahkan kau beristirahat di istana ini selama 3 bulan.”

“Eh…eh…Yang Mulia, itu terlalu lama. Nanti…”

“Enam bulan.” Kaisar Solar menurunkan titahnya sambil tertawa.

“Eh… tapi Yang Mulia-“ Gaia masih berusaha protes.

Ok Fix! Satu tahun.” Kaisar Solar masih tertawa puas. Ia menatap Gaia dengan penuh sayang. “Putriku, kau sudah cukup berusaha keras selama ini. Karena itu, biarkan aku membalasmu dengan baik. Kau mau mengabulkan permohonanku ini, kan?”

Melihat Kaisar yang  menatapnya dengan penuh harap apalagi sambil memohon, Gaia menjadi luluh. Ia hanya menganggukkan kepala tanda setuju yang disambut gembira oleh Kaisar Solar.

“Baiklah, selama beristiahat di sini akan kupastikan kau menikmati semua hal yang menyenangkan.” Kaisar Solar menatap Mars penuh makna. Pemuda itu mengangguk setuju.

“Baiklah. Mari kita nikmati liburan dua tahun yang kuberikan untuk Gaia!”

“Eh… Yang Mulia! Kenapa jadi nambah lagi?” Gaia protes lagi. Kaisar Solar tertawa puas sementara Mars hanya menghela napas.

#End


IOC Writing Challenge: When Mars meet the Earth

Vow: The Sky That We Look That Day

Dulu kita bersumpah, dibawah langit biru ini. Kau akan terus berada di sisiku, melindungiku dan selalu mendukungku. Dan aku….

Heh, kurasa tidak aneh kalau sekarang kau melangar janjimu.

Karena ternyata, aku pun telah melanggar janjiku.

 

Image result for anime sky

 

Suara tetesan air di lantai batu yang dingin dan kusam. Kakiku yang tidak beralaskan apapun menggigil kedinginan. Hari pasti sudah lewat tengah malan, tapi aku tidak merasa mengantuk sedikitpun. Aku tidak mau tidur.

Ah, malahan mungkin aku tidak akan lagi membutuhkan tidur.

Suara api berderak membakar kayu bakar di sebuah wadah besi yang digantung. Berfungsi untuk memberi cahaya. Tapi tetap saja, sinarnya terasa redup.

Aku menyenderkan punggungku di dinding batu yang sama dinginnya. Tubuhku menggigil. Di penjara batu ini tak ada seorangpun yang mau repot-repot memberiku selimut atau alas kaki. Aku menutup mataku. Meskipun aku rasa aku tidak mau tidur, tapi tak bisa kupingkiri aku ingin sekali menutup mata. Kalau perlu, selamanya.

Entah berapa lama aku menutup mataku, tiba-tiba aku mendengar bunyi langkah yang berat beserta kibasan jubah.

Aku membuka mataku dan mendapati ada tiga orang pemuda berada di depan jeruji besi ruanganku. Yang satu sedang sibuk membuka kunci, yang lain berdiri menatap dalam diam. Saat pintu besi terbuka, hanya satu orang yang masuk, yang lain tetap berada diluar, berjaga.

“Ada perlu apa anda mendatangiku ke sini? Bahkan-“ aku menatap jendela yang ada jauh di atas, “-kupikir ini sudah lewat tengah malam.”

Aku memasang senyum terbaikku. Aku mengenali orang ini. Cladius Van Evellyn. Penerus keluarga ksatria militer Evellyn di kerajaan Lantica. Sekaligus yang seharusnya adalah ksatriaku.

Cladius menatapku dengan dingin. “Hukumanmu sudah ditetapkan. Besok pagi kau akan dipancung di hadapan semua orang di ibukota.”

Hatiku mendingin dan hanya menggumakan oh.

Wajah Cladius mengeras, tampak tidak puas.

“Butuh waktu lama untuk menentukan hukumanmu. Beberapa ada yang ingin kau dibakar di kayu pancang. Beberapa da yang ingin kau dihukum gantung, bahkan dijual ke rumah pelacuran. Tapi akhirnya kami sepakat memilih hukum pancung.”

Aku menatap Cladius. “Oh, pasti berat untuk kalian memutuskannya.”

Cladius tidak mendapatkan ekspresi yang ia harapkan. Ia mengibaskan jubahnya dan keluar dari ruang penjara, berdecak sebal.

“Kenapa…” aku bergumam. Cladius menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya, memandangku. “Kenapa kau mengingkari janji kita saat itu? Di bawah langit biru?”

Sinar mata Cladius berubah, terlihat bersemangat.

Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan Cladius mematahkan semangatku. Dalam situasi seperti ini, ia pasti akan melakukan apapun untuk membuatku bersedih atau patah semangat.

“Kau adalah wanita. Kau pikir kami mau tunduk kepadamu yang seorang wanita hanya karena kau seorang Ratu?”

Cladius mengharapkan aku kaget atau sedih. Tapi diluar dugaan, ternyata alasannya sesuai dengan apa yang kuduga jadi aku tidak merasa kaget sama sekali. Sebaliknya, gumaman oh kembali keluar dari bibirku. Cladius kembali berdecak sebal dan pergi dari sana.

Aku mendesah.

Apa semua itu salahku kalau ayah dan ibuku meninggal saat umurku 12 tahun?

Apa itu salahku juga kalau aku satu-satunya anak  dari ayah dan ibuku?

Apa itu salahku juga aku terlahir sebagai perempuan dan bukan sebagai laki-laki?

Apa semua itu salahku?

Bahkan sebelum aku sempat bersedih atas kehilangan ayah dan ibuku, para dewan kerajaan langsung menyambar stempel kerajaan. Menguasai semua system pemerintahan dan mengatur siasat untuk menyingkirkanku yang meruoakan pewaris sah tahta kerajaan.

Dan alhasil, rakyat membenciku dan menjulukiku ratu yang kejam.

Apa itu juga salahku?

Aku menutup mataku.

Anehnya hatiku terasa tenang dan aku bisa tertidur nyenyak.

.

.

.

“Suatu saat nanti aku berjanji, aku akan menjadi ratu yang bijak dan adil. Aku akan jadi ratu yang bisa dibanggakan oleh rakyatku.”

“Kalau kau jadi ratu, aku juga akan berjanji akan menjadi ksatriamu yang paling hebat. Ksatria yang paling kuat di kerajaan ini.”

 

Saat itu kalau tidak salah langitnya sama seperti saat ini, biru dan tenang. Tidak terlalu banyak awan dan suasananya tenang. Ia sedang duduk di panggung kayu dan di hadapannya terdapat pisau pancung. Tanpa sadar aku menghela napas dan memandang langit biru di atas.

Angin semilir bertiup dan aku tidak terlalu memikirkan bisik-bisik dan cemoohan rakyat yang datang berkumpul untuk menyaksikan hukumanku. Melihat banyaknya rakyat yang datang melihat eksekusinya saat ini, pastinya aku gagal menjadi ratu yang baik bagi mereka semua, pikirku. Seseorang mendorongku untuk mendekati pisau pancung dan merebahkan leherku di lengkungan kayu itu.

Aku kembali menghela napas.

“Jika aku bisa terlahir kembali. Kuharap aku terlahir menjadi orang biasa. Yang bebas hidup demi diriku sendiri dan tidak perlu hidup demi orang lain.”

Aku menutup mataku dan terakhir yang kudengar hanyalah bunyi besi bergesekan dengan kayu.

.

.

.

“Hukuman baru saja dilaksanakan”

Seorang tentara melapor kepada Cladius. Pemuda itu tidak mengatakan apapun dan memberi isyarat agar bawahannya bubar. Semua orang meninggalkan tempat itu kecuali dirinya.

Pemuda itu menatap langit luas yang ada di hadapannya. Ia saat ini berada di sisi lain menara istana. Tepat dibagian yang menghadap hutan dan tidak menghadap lapangan desa tempat berlangsungnya eksekusi.

“Saat itu, langitnya juga sama seperti ini.” gumamnya pelan.

Ia menatap langit untuk beberapa saat dan akhirnya mengibaskan jubahnya, pergi dari tempat itu.

#IOC Writing Challenge Agustus: The Sky That We Look That Day

What IF Universe – KERAMAT

Tetiba teringat film horor yang diputer saat saya masih tinggal di basecamp FIM HORE. Sebuah film horor yang konon katanya berasal dari handycam yang ditemukan dengan adegan penuh horor di dalamnya dan akhirnya dibuat versi filmnya.

Ah, entahlah. Saya tak mau tahu.

Sebuah film horor yang bercerita mengenai salah satu perempuan dibawa ke kerajaan lelembut dan teman-temannya yang tersisa bertualang untuk menyelematkan cewek yang diculik. Mereka berjalan sejak sore hingga malam hingga pagi besok harinya.

Dengan kata lain, mereka begadang.

OK FIX

Sambil mempertaruhkan nyawa.

Betapa berbaktinya mereka kepada nusa bangsa dan negara.

Durasi filmnya cukup lama,mengingat kami yang nonton harus pause untuk sholat maghrib dan Isya. Bahkan sambil makan nasi kami masih nonton film ini. Film horor bertabur banyak setan dan jin yang terkenal di negara tercinta Indonesia ini. Apalagi dengan kasus klenik yang sebagai orang beriman membuat kami semua banyak mengangkat alis mata.

Tapi diantara semua diskusi mengenai film ini, ada satu topik diskusi yang sangat berfaedah dan tak habis untuk dibahas.

Kenapa semua karakter di film ini gak ada yang berhenti buat sholat? Atau sekedar istirahat, makan dan minum? Minimal pipis.

Sebuah diskusi yang cerdas wahai sahabatku.

Dan jawabannya adalah:

  1. Yang cewek lagi pada haid! Dan yang cowok gak ada yang bawa sarung! Itulah sebabnya mereka gak berhenti buat sholat. Lagian yang ceweknya pada pakai baju seksi jadi gak bisa kayak kami-kami yang pakai baju ketutup dengan jilbab lebar langsung aja dipakai sholat.
  2. Mereka gak bawa makanan dan minuman. Tapi mereka bawa duit, sayangnya di kerajaan lelembut gak ada alfa atau indo…atau minimal warteg. Jadinya mereka gak bisa berhenti istirahat. Padahal ada yang bawa handycam tapi orang kaya mah bebas jadinya semuanya sebebas merpati.
  3. Menurut hukum alam, tak ada yang masuk maka tak ada yang keluar. Karena mereka gak makan dan minum otomatis mereka gak pipis dan lain-lain.

 

Sangat Berfaedah

Tapi baru-baru ini saya jadi kepikiran dengan pengalaman ini. Bagaimana kalau setting dunia KERAMAT ini diubah? Yang akhirnya menjadi sebuah cerita fanfic if universe.

Dimana if nya adalah bahwa semua karakter di film ini adalah insan-insan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Baiknya kita mulai saja ceritanya.


What if

Alkisah, ada satu perempuan yang kita sebut saja dengan nama mawar. Nah, mawar masih termasuk dalam anggota silsilah kerajaan mana yang masih ada kaitan dengan ratu penguasa utara (utara ya bukan selatan). Mawar adalah seorang muslimah yang rajin beribadah dan beramal soleh. Ia juga sedang berusaha menghafal Alquran dan Hadist Arbain.

Pada suatu hari mawar dan semua rombongan temannya pergi ke daerah asal leluhur kerajaan si mawar. Nah, kebetulan si ratu utara lagi kangen sama mawar yang notabene adalah cucu cucu cicitnya entah ke berapa. Jadinya ia mengerahkan jin-jinnya untuk membawa cucunya ke kerajaannya.

Which is….tidak bisa.

Nah loh. Kenapa?

Yah, karena mawar rajin sholat, rajin puasa, rajin baca Quran dan rajin mendekatkan diri kepada Allah. Jadinya jin-jinnya gak sanggup nangkep si mawar. Keburu kepanasan.

 

 

Dan cerita ini akhirnya ending dengan akhiran yang gantung. Iyalah, secara Jin mana berani sama orang yang deket sama Allah SWT. Kalau kata anime Inuyasha si mawar punya kekkai maha dahsyat hasil karya Allah SWT untuk melindungi dari jin setan dan sepupu-sepupunya.

Dan karena si mawar gak jadi pergi ke negeri lelembut, teman-temannya juga gak perlu begadang buat jemput si mawar. Dan mereka juga gak perlu bertaruh nyawa. Alhasil kita gak tahu seberapa berbaktinya mereka kepada nusa bangsa dan negara.

Dan akhirnya cerita fanfic ini membawa saya kepada sebuah kesimpulan baru. Mungkin para karakter di film itu sengaja gak sholat supaya bisa dibawa ke kerajaan lelembut kali yee???