ketika Mars menghadap Solar

Image result for vocaloid gumi gumiya

Pemuda di hadapannya memang luar biasa. Ah, tidak. Semua planet yang ada di kerajaannya sangat luar biasa.

Alhamdulillah… Allah SWT menganugerahkan penduduk yang sangat berbakat di kerajaan tata suryanya. Ada Merkurius yang handal dalam bagian pemerintahan dan administrasi. Jupiter yang selalu bekerja keras dan Saturnus yang merupakan seorang dokter jenius. Ah, jangan lupakan putri kesayangan yang sayangnya belum pernah ia lihat, Gaia. Walaupun kerajaan ini masih baru dan belum stabil tapi Alhamdulillah mereka tidak kekurangan bahan pangan. Putrinya yang satu itu memang luar biasa.

Yah, sebenarnya Gaia bukan putrinya yang sebenarnya. Tapi Solar sudah menganggap semua planet, asteroid dan satelit yang ada dalam kerajaannya sebagai putra-putrinya. Dengan begitu ia bisa lebih giat berusaha untuk memimpin kerajaan ini.

Dan sekarang, putra di hadapannya ini bernama Mars. Awalnya Solar sangat bingung, planet di hadapannya ini mempunyai bakat apa? Dia tidak sekekar Jupiter dan tidak secekat Pluto. Bahkan bisa dikatakan dia tidak memiliki sumber daya apapun.

Solar sangat percaya bahwa setiap planet memiliki bakat dan keterampilannya masing-masing. Makanya ia tidak terlalu mempermasalahkan Mars yang kelihatannya biasa-biasa saja. Apalagi setelah melihat pemuda itu seorang pekerja keras.

Karena itulah ia sangat kaget sekaligus bangga, ternyata anaknya yang satu ini memiliki keteguhan yang tidak terkira dan merupakan seorang pejuang yang hebat. Karena itulah Solar memberikan tanggung jawab menjaga keamanan kerajaan tata suryanya kepada Mars.

Dan harapan itu terpenuhi, ternyata Mars memang sangat berbakat – bahkan jenius – di bidang militer.

Ah, rasanya Solar ingin menangis bangga melihat putranya yang satu ini.

Dan sekarang Solar sedang duduk bersantai di kursi taman istananya. Salah satu asteroid menyuguhkan teh yang mengepul panas disertai sepiring cemilan yang sesuai. Ah, wangi teh di hadapannya sangat menarik indera penciumannya.

“Silahkan Mars.” Solar mengeluarkan gesture sopan, menjamu Mars. “Ini adalah daun teh yang dikirimkan Gaia kepadaku. Katanya ini bisa membuat rileks dan menenangkan pikiran. Hahaha…anakku yang satu itu tahu saja aku sedang susah tidur.” Solar tidak canggung kelepasan curhat kepada Mars.

Mendengar Solar menyebutkan nama Gaia, Mars menunjukkan ketertarikannya kepada teh di hadapannya. Ia mengangkat cangkir dan meminum cairan yang ada di dalamnya.

Benar saja, rasanya tubuh Mars menjadi sedikit lebih rileks.

Mereka berdua meletakkan cangkir teh mereka. Solar mengambil satu biskuit dan mengulurkan piring berisi cemilan itu kepada Mars.

“Baiklah, Mars. Sambil mengobrol santai seperti ini aku ingin sekali mengapresiasi kerja kerasmu. Kau memang jenius di bidang militer.” Solar melemparkan senyumnya yang penuh kebanggan. Entah kenapa Mars merasa silau melihat senyum itu.

“Sebagai hadiah, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mars mengangkat wajahnya. “Apapun permintaan saya?”

Solar mengangguk, “Asalkan tidak bertentangan dengan syariat agama.”

Ujung jari Mars mengusap bibir cangkir, ia terdiam beberapa lama. Kaisar Solar pun tidak memaksa. Ia lebih ke arah penasaran. Memangnya apa keinginan pemuda ini? Apa sebegitu besar dan berat?

“Saya mohon izin kaisar untuk mengijinkan saya menikahi Gaia.”

Solar langsung menyemburkan teh yang sedang diminumnya. Semburan yang luar biasa karena cairan itu membasahi rambut, wajah dan seragam yang dipakai oleh Mars. Buru-buru Solar menyerahkan serbet kepada Mars dan mengabil tisu untuk menyeka bibirnya sendiri.

“Bisa tolong diulangi?”

Mars sedang menekankan serbet itu ke wajah dan pakaiannya. Seorang pelayan asteroid menawarkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Mars. Pemuda itu menatap Solar dengan penuh keteguhan.

“Saya meminta anda untuk mengizinkan saya menikah dengan Gaia.”

Rahang bawah Solar langsung jatuh ke bawah, wajahnya terlihat bodoh. Tadi dia memang bilang kalau permintaan apapaun asalkan tidak melanggar syariat akan ia penuhi. Tapi izin menikah?

Solar berusaha keras memasang wibawanya yang baru saja jatuh. Ia batuk satu kali. “Apakah kau pernah bertemu dengan Gaia sebelumnya?”

Mars mengangguk, “Pertama dan terakhir kalinya saya bertemu dengannya adalah 10.000 tahun yang lalu.”

Perlu kalian ingat wahai sobat pembaca, umur planet itu saaaannnggggaaaatttt lama. Jadi kita maklumi saja.

Solar menganga. Sepuluh ribu tahun yang lalu? Ia mengingat dirinya sendiri 10.000 tahun yang lalu sebagai pemuda yang tampan dan dikagumi oleh semua bintang dan galaksi. Tidak…tidak… 10.000 tahun yang lalu bukankah itu berarti Mars dan Gaia masih sangat muda?

“Apa kau yakin?” Solar bertanya sangsi. “Bagaimana kau bisa ingin menikah dengan Gaia?”

“Jatuh cinta pada pandangan pertama.”

Ah, jawaban yang sangat singkat. Kalau begini Solar tidak bisa kepo lebih dalam lagi.

“Bagaimana kalau misalnya Gaia sudah berubah? Misalnya kau sudah tidak mencintainya lagi? Atau mungkin dia sudah punya kekasih?” di sini Mars mengerutkan keningnya, “atau Gaia ternyata punya bau badan? Atau saat tidur ternyata dia mengorok? Atau ternyata wajahnya berjerawat dimana-mana?”

Hei..hei…ini menjatuhkan reputasi atau gimana sih?

Mars menatap Solar dalam diam. Kaisar itu berkeringat dingin ditatap sedemikian kejam oleh Mars. Ah, sepertinya ia sudah keterlaluan menggoda anak ini.

“Saya meminta izin anda untuk menikahi Gaia.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya seperti ‘jika ada yang mau mendekati Gaia kau tidak bisa lolos dariku.’

Ah, apakah ini penggunaan kekuasaan militer untuk kepentingan pribadi? Haruskah Solar menghukumnya?

Dengan kaku Solar mengangguk, dikalahkan oleh anaknya sendiri. “Jika Gaia bersedia aku tidak keberatan,” yang maksud artinya adalah ‘PDKTmu akan sangat berat kalau hanya mengandalkan pertemuan pertama 10.000 tahun yang lalu’. Mars mengangguk paham dan kembali meminum tehnya yang baru saja diganti.

Hei…hei…apakah itu sorot puas yang Solar lihat di mata pemuda itu? Anak satu ini! Benar-benar!

.

.

.

Saat ini adalah bulan keenam dari waktu dua tahun yang ditetapkan oleh Solar – sebenarnya dengan memaksa – sebagai waktu istirahat Gaia. Akan tetapi gadis itu memang sangat terlalu peduli dengan panennya sehingga mau tidak mau Solar mengizinkan gadis itu untuk kembali ke tanah Gaia dan  memantau perkebunannya setiap sebulan sekali. Tentu saja Mars harus menemaninya, berjaga-jaga untuk menarik kembali Gaia ke ibukota Matahari kalau gadis itu sudah lupa waktu dengan perkebunannya.

Meskipun ibukota lebih panas dibandingkan tanah Gaia, tapi kehadiran gadis itu entah mengapa malah membuat bunga-bunga di ibukota terlihat lebih hijau. Kalau dulu sebelumnya ibukota terlihat cokelat dengan pasir dimana-mana, sekarang banyak pohon kurma, kaktus dan tanaman ekstrim gurun lainnya menjadi penghijau ibukota.

Mungkin inilah bakat tersembunyi Gaia.

“Bagaimana kabar PDKTmu?”

Solar menghirup jus buah dari gelas tingginya, matanya melirik Mars yang sedang duduk menemaninya sambil membaca buku. Meskipun begitu Solar yakin sudut mata anak ini selalu mengawasi Gaia.

“Yang Mulia, aku tidak tahu apa yang anda bicarakan.”

Yang entah bagaimana Solar malah mendengarnya sebagai ‘jangan ganggu urusanku dan enyahlah’. Solar menatap prihatin Gaia yang sedang asyik melihat berbagai macam koleksi kaktus di Istana. “Mereka bilang cowok yang suka marah tidak akan disukai perempuan.”

Mars mengangkat wajahnya dari buku dan menatap Solar dengan tenang. Benar-benar tenang sehingga terasa mengerikan. Tanpa sadar Solar sudah meminta ampun kepada Mars.

Hei…kaisar macam apa ini?

Gaia berlari menuju tempat mereka duduk. “Yang Mulia, aku mencoba menanam bunga ini di istana dan ternyata mereka mekar dengan cantik. Ini untuk anda.” Gaia tersenyum cantik sambil memberikan sekuntuk bunga matahari yang terlihat ceria. Solar menerima pemberian Gaia dengan tersenyum, walaupun punggungnya terasa dingin karena ditatap tajam oleh Mars.

Gaia menoleh kearah Mars dan mengulurkan sekuntum bunga mawar yang tidak berduri. “Ini untuk anda, Mars.”

Tanpa sadar Mars tersenyum saat menerima bunga itu dan menggumamkan terima kasih. Gaia terlihat sangat senang, tersenyum balik dan akhirnya kembali bermain ke taman istana. Solar menatap Mars yang masih terpana dengan bunga itu – bahkan menurutnya, Mars memuja bunga yang diberikan oleh Gaia.

Solar menatap bunga matahari yang diberikan kepadanya dan bunga mawar tanpa duri di tangan Mars. Ia tersenyum misterius. “Lumayan juga PDKTmu.”

Mars seakan tersadar dan memasang wajah normal, “Saya tidak paham maksud anda.”

Solar terkekeh kecil. “Yah, tidak apa-apa.”

Sepertinya Mars tidak tahu. Dan ia juga tidak mau memberitahu. Akan lebih baik baginya menonton saja bagaimana Mars PDKT dengan Gaia.

Yah, padahal jawabannya sudah jelas kan?

Bunga mawar tanpa duri memiliki arti cinta pada pandangan pertama.

#End


A/N: Hanya sebuah cerita sampingan dari cerita ketika Mars bertemu Gaia boleh coba dibaca dan dikasih komen. Dibikin tapi gak cek ricek typo karena udah ngantuk. Jadi bodo amat lah XD dan untuk arti bunga matahari adalah kasih sayang, kesetiaan dan umur panjang. Yah, jadi Gaia ceritanya mengikrarkan kesetiaan kepada Solar sementara dia confession ke Mars. Alhamdulillah gak jadi bertepuk sebelah tangan.

Advertisements

ketika Mars bertemu Gaia

Image result for vocaloid gumi gumiya

Seorang planet berlari, napasnya terengah-engah. Rambut panjangnya yang berwarna biru (dengan sedikit highlight hijau muda dan perak putih) tergerai di belakangnya. Sang pemilik rambut itu bernama Gaia dan ia sedang berlari kencang demi menyelamatkan nyawanya.

Sosok galak yang ada di belakanganya juga berlari kencang mengejarnya, akan tetapi kali ini dengan sumpah serapah dan teriakan yang kita tidak perlu tahu artinya. Sesekali tangannya berusaha menggapai rambut si gadis, tapi untunglah, Gaia sangat sigap meraup rambutnya. Sambil berlari kencang ia mencoba mengepang rambutnya. Tidak perlu rapi tidak mengapa, yang penting rambutnya tidak menjadi sasaran jambakan.

Kaki si planet berlari dengan tangkas, meliuk ke sana kemari, masuk keluar celah tertentu, membelok kanan dan ke kiri, memasuki labirin gudang yang hanya ia yang tahu bagaimana tata letaknya. Perlahan ia bisa mendengar pengejarnya mulai kehilangan arah. Akan tetapi demi hidupnya yang masih sangat muda, ia terus meliuk masuk ke berbagai celah sisi gudang. Di ujung celah ia bisa melihat lapangan luas yang ditanami bunga. Dari lapangan itu ia bisa-

GUBRAK!

Ia terjatuh.

Tidak sakit, tapi ia ingin sekali meringis. Suara erangan terdengar dari bawahnya. Tunggu, suara erangan?

Dan saat itulah ia bisa melihat dirinya jatuh menimpa seseorang. Seorang pemuda yang tampan sebetulnya. Warna rambutnya merah gelap dan warna matanya cokelat keemasan. Tapi si gadis tidak melihat semua itu dan lebih fokus menatap seragam militer yang ada di depan matanya.

Ia bergidik.

Baru saja ia dikejar-kejar oleh Phobos dan sekarang ia tertangkap oleh seorang pemuda militer yang tidak ia ketahui namanya. Apa hari ini takdirnya sedang berkaitan dengan para pria militer?

“Apa kau tidak apa-apa?”

Belum sempat Gaia menjawab tiba-tiba di belakanganya kembali terdengar suara sumpah serapah Phobos. Tanpa babibu gadis itu langsung berlari meninggalkan korban tabrakan yang baru saja terjadi. Si pemuda hanya bisa terdiam bingung. Saat ia masih berusaha memahami situasi tiba-tiba saja Phobos tiba di sana. Ia berhenti dan memberi hormat.

“Salam hormat, Jendral Besar Mars!”

Pemuda bernama Mars itu masih terduduk di tanah, akan tetapi dengan santai ia tetap diam duduk di tanah dan dengan ogah-ogahan membalas salam hormat Phobos.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Mars berdiri dan menepukkan celananya dari debu.

“Saya sedang mengejar Gaia.”

“Gaia?”

“Planet yang bertanggung jawab untuk persediaan pangan kerajaan Tata Surya. Gadis berambut biru kusam dengan hijau dan putih yang aneh lalu-“

“Ah, baiklah cukup.” Mars memotong narasi Phobos yang tidak penting. Dan ia menyadari gadis yang menabraknya tadi adalah Gaia. Tiba-tiba saja sepotong roti kecil menggelinding entah dari mana. Dahi Mars berkerut sementara Phobos terlihat gugup.

“Kenapa kau mengejar gadis itu?”

Kali ini suasana tenang. Mars hanya memasang senyum yang mengintimidasi, menunggu jawaban.

“Ah, eh… gadis itu…. Mencuri roti…,”

Mars berjongkok dan memungut roti yang menggelinding, “Maksudmu roti ini?” Tanya Mars masih dengan senyumnya yang dingin.

Phobos kali ini kikuk. Mati kutu.

Mars masih tersenyum, kali ini dengan sangat dingin yang bahkan bisa menggigilkan tulang. “Kalau tak salah Yang Mulia Kaisar Solar mengatakan, karena Gaia sudah sangat berprestasi beberapa kali memastikan pangan yang cukup bagi kerajaan ia harus diperlakukan dengan sangat istimewa.”

Phobos berkeringat dingin, merasa ajalnya akan datang.

“Untunglah aku datang di saat yang tepat ya.” Mars tersenyum dengan sangat kalem.

.

.

.

Gaia, yang menjadi penyebab Phobos dihukum dengan sangat sangat sangat berat sedang bersembunyi di ladang bunga Lavender. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia sudah tidak kuat lagi berlari tapi sepertinya ia sudah tidak dikejar lagi oleh Phobos maupun korban tabrak larinya itu.

Benar-benar deh, kenapa hari ini ia harus berurusan dengan orang militer. Bahkan sebanyak dua kali?

Kruyuuuk

Gaia memeluk dirinya sendiri. Rasanya lapar sekali. Inilah penyebabnya kenapa ia dikejar-kejar oleh Phobos. Jatah makannya hanya dua kali sehari, setiap pukul 10 pagi dan 4 sore. Padahal ia bekerja sejak pukul 6 pagi hingga 8 malam. Jangankan untuk mandi (Gaia merasa tubuhnya gerah sekali, mungkin lebih baik ia ke sungai terdekat) untuk makan saja ia kesulitan. Phobos hanya memberinya jatah makan dua potong roti, satu keju kecil dan segelas susu.

Bukan maksudnya Gaia serakah sih. Tapi ayolah, Gaia bekerja seharian di ladang memastikan kebutuhan pangan kerajaan Tata Surya tercukupi. Tapi kenapa dirinya yang bertanggung jawab atas pangan justru harus merasa kelaparan?

Gaia berhenti melangkah, akhirnya ia sampai di sungai terdekat. Hari sudah gelap dan biasanya Phobos tidak mau bersusah payah keluar untuk memerintahkan tugas macam-macam kepada Gaia. Karena itu gadis itu sangat yakin malam ini ia bisa sedikit bersantai, atau tepatnya mandi. Ia melepaskan pakaiannya dan kemudian masuk ke dalam sungai, sengaja mencelupkan seluruh tubuhnya agar kulit kepalanya terasa segar. Di telapak tangannya ada lembaran kelopak bunga lavender. Perlahan ia meremas kelopak itu dan mengusapkannya ke kulit kepalanya. Meskipun Gaia hidup serba kekurangan tapi sebagai gadis bukan berarti ia tidak peduli dengan hal-hal manis seperti ini.

Wangi lavender yang berefek aroma terapi ditambah suasana malam yang tenang dan bunyi air mengalir membuat Gaia kehilangan sedikit kesadarannya. Ia mencuci mukanya dan hendak menyelesaikan mandinya saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang tidak asing.

Korban tabrak larinya tadi siang!

Dan ia berdiri bengong di tepi sungai!

Gaia mematut dirinya yang meskipun tubuhnya tersembunyi di bawah gelapnya air, tapi tetap saja…

KYAAA!

.

.

.

“Maafkan saya. Tapi percayalah, saya tidak bermaksud mengintip anda ataupun menakuti anda.”

Mars basah kuyup, memohon maaf sambil membelakangi Gaia yang saat ini terburu-buru memakai bajunya.

“Ah, tidak. Saya justru harus minta maaf karena sudah menyiram anda sampai basah kuyup.” Gaia meminta maaf ogah-ogahan. Iyalah, di sini dia adalah pihak yang dirugikan. Setelah ini dia tidak bisa jadi pengantin lagi, pikir Gaia lebay. Walaupun Mars tidak melihatnya benar-benar telanjang tapi tetap saja. Gaia bergidik mengingatnya.

Mars tersentak dan menoleh, “Ah, tidak. Saya justru-“

“Jangan lihat!” Gaia menahan kepala pemuda itu agar tidak memutar dan melihat dirinya.

Mars tergagap meminta maaf sementara Gaia cepat-cepat menyelesaikan simpul terakhir dari pakaiannya.

“Kau sudah boleh melihat.”

“Ah, baiklah.”

“Jadi, ada apa anda datang malam-malam begini?” Kali ini Gaia mengurus rambutnya yang masih meneteskan air, memelintirnya hingga dirasa airnya cepat turun dari rambutnya dan mengibaskannya dengan lembut.

Mars menatap Gaia dengan tatapan kosong.

“Tuan?” Gaia memasang wajah jengkel. Jengkel karena diganggu mandinya, jengkel karena diintip dan jengkel karena lapar.

“Ah..uh… saya minta maaf karena sudah mengintip.”

Gaia terdiam dengan wajah agak sulit, kan tadi pemuda ini sudah minta maaf jadi kenapa minta maaf lagi?

Mars juga tidak tahu kenapa ia meminta maaf lagi, padahal sepanjang 10 menit terakhir sejak ia tidak sengaja melihat Gaia yang sedang mandi ia sudah menggumamkan maafkan saya berkali-kali. Tapi tadi saat ia melihat Gaia yang sedang mengeringkan rambutnya entah kenapa terasa desir aneh dalam tubuhnya. Rasanya pemandangan di depannya begitu cantik dan privasi dan tanpa sadar ia sudah meminta maaf.

“Anda tidak datang ke sini hanya untuk meminta maaf karena sudah mengintip saya, kan?”

“Ah, tidak. Saya…”

“Bagaimana kalau kita lanjutkan percakapan anda di rumah saya.” Gaia berjalan terlebih dahulu dan Mars hanya bisa mengikuti dalam diam. Aneh, kenapa sekarang rasanya dia jadi gugup begini.

Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah Gaia. Saat pertama kali Mars melihat rumah gadis itu, Mars hanya mampu terdiam. Tidak percaya. Pasalnya, rumah yang disebut Gaia hanyalah sebuah gubuk berdinding dan beratap kayu dengan ukuran yang sangat minimalis.

Phobos, kupikir-pikir aku harus memberi hukuman yang lebih berat lagi untukmu, pikir Mars tersenyum dingin.

“Silahkan duduk.” Gaia mempersilahkan Mars duduk di satu-satunya meja dan kursi yang ada di ruangan itu. Gubuk itu hanya berisi perabotan yang sederhana. Sebuah tempat tidur untuk satu orang, meja dan kursi untuk dua orang serta dapur yang sangat sangat sangat sederhana.

“Mohon maaf, saya tidak punya apapun kecuali air putih.”

“Ah, tidak masalah.”

“Maaf, saya juga tidak bisa menjamu apapun untuk anda.” Gaia membelakangi Mars. Mars hanya menggumam paham.

Phobos, setelah ini kamu benar-benar tamat.

Gaia meletakkan gelas – yang Mars berusaha tidak memperhatikannya karena gelasnya retak – dan duduk di hadapan Mars. “Ada keperluan apa anda ingin bicara dengan saya? Apa anda ingin protes kepada saya yang tidak sengaja menabrak jatuh anda tadi siang?”

Gaia langsung to the point. Lebih baik langsung ke intinya toh pemuda di hadapannya ini sudah menangkap basah dirinya.

Mars meletakkan topi militernya yang tidak sengaja masih ia pakai. “Yah, memang berkaitan dengan yang tadi siang tapi bukan itu masalahnya.”

“Saya minta maaf karena tidak sengaja menabrak anda hingga jatuh.”

Mars tersenyum lembut, “Tidak masalah. Anak buah saya juga sudah menceritakan semuanya.”

Di sini Gaia merasa kaku, apakah dirinya akan ditangkap karena telah mencuri sepotong kecil roti milik Phobos?

“Maafkan perlakuan anak buah saya yang sudah semena-mena kepada anda.”

Huh? Ini diluar perkiraan Gaia. Pemuda ini meminta maaf lagi kepadanya? Dengan perlahan Gaia menatap pemuda di hadapannya.

“Ah, iya. Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya adalah Mars, planet yang bertanggung jawab untuk keamanan dan militer di seluruh kerajaan Tata Surya ini.”

Gaia tersedak ludahnya sendiri. Mars? Pemuda yang kelihatannya tidak beda jauh umurnya dengan dirinya ini adalah Mars? Seorang jenderal militer yang terkenal itu? Yang katanya prestasinya begitu hebat hingga Yang Mulia Kaisar Solar mempercayakan keamanan dan kedamaian kerajaan ini pada Planet Mars?

Pemuda ini?

Mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku mati aku.

Gaia benar-benar tidak fokus saat Mars menjelaskan berbagai prestasi yang telah ia capai demi membangkitkan pangan bagi kerajaan Tata Surya. Ia juga tidak mendengarkan saat Mars menyatakan bahwa Kaisar Solar menawarkan hadiah apapun yang ia inginkan untuk prestasinya itu dan lebih tidak konsentrasi lagi saat Mars menanyakan kira-kira apa yang ia inginkan sebagai hadiah.

“Nona Gaia? Apa anda mendengar saya?”

Mars menatap Gaia dengan cermat, wajah gadis itu pucat dan berkeringat dalam jumlah banyak. Apa gadis ini sakit? Pikirnya.

“Nona Gaia?”

“Apa anda akan menghukum saya karena saya mencuri roti tadi siang?”

Di sini Mars bengong. Hah?

“Maaf. Saya terpaksa karena saya benar-benar lapar. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi sebagai gantinya tolong bebaskan saya dan saya pastikan hasil pangan meningkat baik untuk kali ini.”

Hah?

Mars bingung. Kenapa tahu-tahu gadis ini minta maaf. Bahkan mengaku mencuri roti? Tapi tadi dia sudah meminta maaf untuk kelakuan Phobos.

“Tunggu Nona Gaia, anda salah paham.”

Gaia sudah tidak mendengarkan lagi karena tiba-tiba saja semuanya terlihat gelap.

.

.

.

Mars sedang berdiri dengan tangan terlipat, senyumnya dingin bahkan Deimos bisa melihat air di gelas yang ia bawa telah berubah menjadi es. Mars sedang berdiri sambil melipat tangannya, wajahnya tersenyum akan tetapi auranya memancarkan hawa dingin yang mengerikan. Di hadapannya Phobos sedang duduk berlutut dengan kepala yang benar-benar tertunduk, keringat dingin membanjiri tubuhnya.

“Kurang makan, bekerja terlalu berat dan stress hampir depresi. Dokter Saturnus benar-benar dokter yang hebat ya?” Mars berbicara ringan seakan mereka sedang membicarakan cuaca.

Deimos menghela napas, sementara Phobos justru menahan napas. Karena selama ini Deimos hanya mengurus masalah administrasi keamanan pengangkutan pangan ke seluruh kerajaan, makanya ia tidak terlalu tahu keadaan Gaia yang sebenarnya. Bisa dikatakan kehidupan sehari-hari Gaia diatur oleh Phobos.

“Oh, dan hal yang menarik Phobos. Tadi aku berkunjung ke rumahnya Gaia loh. Benar-benar akomodasi yang menarik ya. Hahaha.” Mars tertawa dingin.

Deimos menghela napas. Phobos, kali ini kau benar-benar tamat.

.

.

.

Gaia membuka matanya dan ia menatap langit-langit yang tidak ia kenal. Sekelilingnya adalah bangunan yang dicat putih. Sebuah jendela dibuka, tidak terlalu lebar tetapi memungkinkan udara segar masuk. Dilihat dari kondisi sinar matahari sepertinya hari hampir sore.

“Anda sudah bangun. Syukurlah.”

Gaia memandang Mars yang memasang wajah lega. Suaranya terasa serak. Untunglah Mars menawari segelas air yang langsung ia minum habis.

“Kenapa aku disini?”

“Dokter bilang Nona terlalu kelelahan. Lebih baik beristirahat-“

“Apa aku pingsan? Berapa lama?” Gaia mulai panik. Gawat! Kalau dia pingsan bagaimana nasib tanaman dan kebunnya?

“Tiga hari, tapi-“

Gaia tidak mendengarkan perkataan Mars. Dengan segera ia berlari keluar kamar, berlari menyusuri lorong dan hendak keluar dari gedung yang tampaknya sangat mewah ini. Akan tetapi tubuhnya terasa berat dan lemah, juga begitu lelah. Mars menangkap Gaia agar ia tidak tumbang.

“Dokter bilang anda kelelahan. Lebih baik anda beristirahat.”

“Tapi… kebunku….panenku….tiga hari tanpa aku…” Gaia panik. Benar-benar panik.

“Anda tidak perlu khawatir mengenai hal itu.”

Mars mencoba menenangkan Gaia akan tetapi gadis itu masih belum bisa tenang. Pemuda itu akhirnya menghela napas, mengalah.

“Jika saya menunjukkannya kepada anda, apa anda janji akan beristirahat?”

Gaia langsung mengangguk setuju. Tanpa buang waktu Mars menggendong Gaia layaknya pengantin baru disumpah – yang tentu saja membuat Gaia protes setengah mati. Mars melangkah keluar, mengabaikan mulut menganga Deimos dan pelototan tak percaya Phobos. Keluar dari gedung pemerintahan, sinar matahari menyambut Gaia. Matanya menggelap sesaat karena beberapa hari tidak melihat matahari. Saat matanya mulai menyesuaikan keadaan saat itulah ia melihat kebun dan sawahnya baik-baik saja.

Malahan Gaia bisa merasakan ada banyak kebun yang mencapai panen lebih cepat dibanding seharusnya. Sepertinya istirahatnya justru malah membuat tanamannya tumbuh lebih subur. Dan di tengah-tengah kebun dan sawah terdapat banyak orang yang sedang memanen ataupun merawat tanaman pangan.

“Mereka…?”

“Tanda terima kasih dari Yang Mulia Kaisar Solar untuk anda yang sudah berusaha keras memastikan ketersediaan pangan kerajaan. Karena situasi kerajaan sudah stabil, Kaisar Solar memerintahkan setiap planet harus mengirim perwakilan satelit maupun asteroid untuk membantu anda mengelola pangan kerajaan.”

Gaia menatap pemandangan di hadapannya dengan tertegun. Ia menatap Mars yang masih menggendong dirinya, “Kenapa?”

“Kaisar Solar adalah raja yang bijak. Ia sadar tanpa anda kerajaan kita tak akan mungkin bertahan sampai saat ini. Beliau memohon maaf atas semua kesulitan yang telah anda alami. Karena itulah Yang Mulia memerintahkan saya untuk menyampaikan kabar ini dan mengundang anda untuk beristirahat di ibukota Matahari.”

Mars menurunkan Gaia dari pelukannya. Pemuda itu tersenyum lembut pada Gaia yang kebingungan.

“Bagaimana? Apa anda bersedia pergi ke ibukota?”

“Tapi kalau aku pergi… hasil panen-“

“Tidak masalah.” Mars memotong semua yang ingin diucapkan oleh Gaia. “Yang Mulia kaisar berkeras agar anda beristirahat dan tidak memikirkan hasil panen.”

Gaia terdiam, ia mengalihkan pandangannya menuju semua tanamannya.

“Jadi… bagaimana?” Mars kembali memastikan. Gaia menatap Mars.

.

.

.

“Terima kasih atas undangan anda, Yang Mulia kaisar.”

Seorang pria berumur baya berjalan mendekati Gaia dan Mars yang mendampinginya. Ia berpakaian kemeja sederhana dengan kancing bagian atas terbuka dan lengan kemeja dilipat hingga ke siku. Celananya adalah celana bahan berwarna gelap dipadu dengan sepatu kerja biasa. Sekilas Gaia berpikir pria ini sangat esentrik…karena penampilannya tidak megah sebagaimana yang Gaia pikirkan. Sebaliknya, ada kesan ramah yang mengayomi serta mudah didekati. Gaia merasa ia bisa saja sewaktu-waktu kelepasan curhat tentang semua masalahnya kepada orang ini.

“Justru aku yang harus berterima kasih atas semua kerja kerasmu. Aku juga mohon maaf karena telah membuatmu kesusahan sendirian memikirkan pangan untuk kami semua.” Kaisar Solar meraih kedua tangan Gaia dan memegangnya dengan lembut. Nada suaranya lembut dan penuh penghargaan.

“Ah, tidak. Itu bukan apa-apa.”

“Mungkin. Tapi bagaimanapun aku tetap berterima kasih.”

Gaia bisa merasakan wajahnya memerah. Tidak pernah sebelumnya ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Sekarang kerajaan sudah stabil. Karena itu aku sengaja mengundangmu ke ibukota untuk beristirahat.”

“Terima kasih atas tawaran anda. Saya akan menerim tawaran istirahat anda. Besok pagi saya akan kembali pulang.”

“Kenapa buru-buru sekali?” Kaisar Solar menatap heran.

“Saya khawatir jika terlalu lama target pangan tidak bisa melebih panen yang lalu.”

Kaisar Solar menatap Gaia dengan lama, Gaia jadi kikuk. “Baiklah, kuperintahkan kau beristirahat di istana ini selama 3 bulan.”

“Eh…eh…Yang Mulia, itu terlalu lama. Nanti…”

“Enam bulan.” Kaisar Solar menurunkan titahnya sambil tertawa.

“Eh… tapi Yang Mulia-“ Gaia masih berusaha protes.

Ok Fix! Satu tahun.” Kaisar Solar masih tertawa puas. Ia menatap Gaia dengan penuh sayang. “Putriku, kau sudah cukup berusaha keras selama ini. Karena itu, biarkan aku membalasmu dengan baik. Kau mau mengabulkan permohonanku ini, kan?”

Melihat Kaisar yang  menatapnya dengan penuh harap apalagi sambil memohon, Gaia menjadi luluh. Ia hanya menganggukkan kepala tanda setuju yang disambut gembira oleh Kaisar Solar.

“Baiklah, selama beristiahat di sini akan kupastikan kau menikmati semua hal yang menyenangkan.” Kaisar Solar menatap Mars penuh makna. Pemuda itu mengangguk setuju.

“Baiklah. Mari kita nikmati liburan dua tahun yang kuberikan untuk Gaia!”

“Eh… Yang Mulia! Kenapa jadi nambah lagi?” Gaia protes lagi. Kaisar Solar tertawa puas sementara Mars hanya menghela napas.

#End


IOC Writing Challenge: When Mars meet the Earth

Vow: The Sky That We Look That Day

Dulu kita bersumpah, dibawah langit biru ini. Kau akan terus berada di sisiku, melindungiku dan selalu mendukungku. Dan aku….

Heh, kurasa tidak aneh kalau sekarang kau melangar janjimu.

Karena ternyata, aku pun telah melanggar janjiku.

 

Image result for anime sky

 

Suara tetesan air di lantai batu yang dingin dan kusam. Kakiku yang tidak beralaskan apapun menggigil kedinginan. Hari pasti sudah lewat tengah malan, tapi aku tidak merasa mengantuk sedikitpun. Aku tidak mau tidur.

Ah, malahan mungkin aku tidak akan lagi membutuhkan tidur.

Suara api berderak membakar kayu bakar di sebuah wadah besi yang digantung. Berfungsi untuk memberi cahaya. Tapi tetap saja, sinarnya terasa redup.

Aku menyenderkan punggungku di dinding batu yang sama dinginnya. Tubuhku menggigil. Di penjara batu ini tak ada seorangpun yang mau repot-repot memberiku selimut atau alas kaki. Aku menutup mataku. Meskipun aku rasa aku tidak mau tidur, tapi tak bisa kupingkiri aku ingin sekali menutup mata. Kalau perlu, selamanya.

Entah berapa lama aku menutup mataku, tiba-tiba aku mendengar bunyi langkah yang berat beserta kibasan jubah.

Aku membuka mataku dan mendapati ada tiga orang pemuda berada di depan jeruji besi ruanganku. Yang satu sedang sibuk membuka kunci, yang lain berdiri menatap dalam diam. Saat pintu besi terbuka, hanya satu orang yang masuk, yang lain tetap berada diluar, berjaga.

“Ada perlu apa anda mendatangiku ke sini? Bahkan-“ aku menatap jendela yang ada jauh di atas, “-kupikir ini sudah lewat tengah malam.”

Aku memasang senyum terbaikku. Aku mengenali orang ini. Cladius Van Evellyn. Penerus keluarga ksatria militer Evellyn di kerajaan Lantica. Sekaligus yang seharusnya adalah ksatriaku.

Cladius menatapku dengan dingin. “Hukumanmu sudah ditetapkan. Besok pagi kau akan dipancung di hadapan semua orang di ibukota.”

Hatiku mendingin dan hanya menggumakan oh.

Wajah Cladius mengeras, tampak tidak puas.

“Butuh waktu lama untuk menentukan hukumanmu. Beberapa ada yang ingin kau dibakar di kayu pancang. Beberapa da yang ingin kau dihukum gantung, bahkan dijual ke rumah pelacuran. Tapi akhirnya kami sepakat memilih hukum pancung.”

Aku menatap Cladius. “Oh, pasti berat untuk kalian memutuskannya.”

Cladius tidak mendapatkan ekspresi yang ia harapkan. Ia mengibaskan jubahnya dan keluar dari ruang penjara, berdecak sebal.

“Kenapa…” aku bergumam. Cladius menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya, memandangku. “Kenapa kau mengingkari janji kita saat itu? Di bawah langit biru?”

Sinar mata Cladius berubah, terlihat bersemangat.

Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan Cladius mematahkan semangatku. Dalam situasi seperti ini, ia pasti akan melakukan apapun untuk membuatku bersedih atau patah semangat.

“Kau adalah wanita. Kau pikir kami mau tunduk kepadamu yang seorang wanita hanya karena kau seorang Ratu?”

Cladius mengharapkan aku kaget atau sedih. Tapi diluar dugaan, ternyata alasannya sesuai dengan apa yang kuduga jadi aku tidak merasa kaget sama sekali. Sebaliknya, gumaman oh kembali keluar dari bibirku. Cladius kembali berdecak sebal dan pergi dari sana.

Aku mendesah.

Apa semua itu salahku kalau ayah dan ibuku meninggal saat umurku 12 tahun?

Apa itu salahku juga kalau aku satu-satunya anak  dari ayah dan ibuku?

Apa itu salahku juga aku terlahir sebagai perempuan dan bukan sebagai laki-laki?

Apa semua itu salahku?

Bahkan sebelum aku sempat bersedih atas kehilangan ayah dan ibuku, para dewan kerajaan langsung menyambar stempel kerajaan. Menguasai semua system pemerintahan dan mengatur siasat untuk menyingkirkanku yang meruoakan pewaris sah tahta kerajaan.

Dan alhasil, rakyat membenciku dan menjulukiku ratu yang kejam.

Apa itu juga salahku?

Aku menutup mataku.

Anehnya hatiku terasa tenang dan aku bisa tertidur nyenyak.

.

.

.

“Suatu saat nanti aku berjanji, aku akan menjadi ratu yang bijak dan adil. Aku akan jadi ratu yang bisa dibanggakan oleh rakyatku.”

“Kalau kau jadi ratu, aku juga akan berjanji akan menjadi ksatriamu yang paling hebat. Ksatria yang paling kuat di kerajaan ini.”

 

Saat itu kalau tidak salah langitnya sama seperti saat ini, biru dan tenang. Tidak terlalu banyak awan dan suasananya tenang. Ia sedang duduk di panggung kayu dan di hadapannya terdapat pisau pancung. Tanpa sadar aku menghela napas dan memandang langit biru di atas.

Angin semilir bertiup dan aku tidak terlalu memikirkan bisik-bisik dan cemoohan rakyat yang datang berkumpul untuk menyaksikan hukumanku. Melihat banyaknya rakyat yang datang melihat eksekusinya saat ini, pastinya aku gagal menjadi ratu yang baik bagi mereka semua, pikirku. Seseorang mendorongku untuk mendekati pisau pancung dan merebahkan leherku di lengkungan kayu itu.

Aku kembali menghela napas.

“Jika aku bisa terlahir kembali. Kuharap aku terlahir menjadi orang biasa. Yang bebas hidup demi diriku sendiri dan tidak perlu hidup demi orang lain.”

Aku menutup mataku dan terakhir yang kudengar hanyalah bunyi besi bergesekan dengan kayu.

.

.

.

“Hukuman baru saja dilaksanakan”

Seorang tentara melapor kepada Cladius. Pemuda itu tidak mengatakan apapun dan memberi isyarat agar bawahannya bubar. Semua orang meninggalkan tempat itu kecuali dirinya.

Pemuda itu menatap langit luas yang ada di hadapannya. Ia saat ini berada di sisi lain menara istana. Tepat dibagian yang menghadap hutan dan tidak menghadap lapangan desa tempat berlangsungnya eksekusi.

“Saat itu, langitnya juga sama seperti ini.” gumamnya pelan.

Ia menatap langit untuk beberapa saat dan akhirnya mengibaskan jubahnya, pergi dari tempat itu.

#IOC Writing Challenge Agustus: The Sky That We Look That Day

What IF Universe – KERAMAT

Tetiba teringat film horor yang diputer saat saya masih tinggal di basecamp FIM HORE. Sebuah film horor yang konon katanya berasal dari handycam yang ditemukan dengan adegan penuh horor di dalamnya dan akhirnya dibuat versi filmnya.

Ah, entahlah. Saya tak mau tahu.

Sebuah film horor yang bercerita mengenai salah satu perempuan dibawa ke kerajaan lelembut dan teman-temannya yang tersisa bertualang untuk menyelematkan cewek yang diculik. Mereka berjalan sejak sore hingga malam hingga pagi besok harinya.

Dengan kata lain, mereka begadang.

OK FIX

Sambil mempertaruhkan nyawa.

Betapa berbaktinya mereka kepada nusa bangsa dan negara.

Durasi filmnya cukup lama,mengingat kami yang nonton harus pause untuk sholat maghrib dan Isya. Bahkan sambil makan nasi kami masih nonton film ini. Film horor bertabur banyak setan dan jin yang terkenal di negara tercinta Indonesia ini. Apalagi dengan kasus klenik yang sebagai orang beriman membuat kami semua banyak mengangkat alis mata.

Tapi diantara semua diskusi mengenai film ini, ada satu topik diskusi yang sangat berfaedah dan tak habis untuk dibahas.

Kenapa semua karakter di film ini gak ada yang berhenti buat sholat? Atau sekedar istirahat, makan dan minum? Minimal pipis.

Sebuah diskusi yang cerdas wahai sahabatku.

Dan jawabannya adalah:

  1. Yang cewek lagi pada haid! Dan yang cowok gak ada yang bawa sarung! Itulah sebabnya mereka gak berhenti buat sholat. Lagian yang ceweknya pada pakai baju seksi jadi gak bisa kayak kami-kami yang pakai baju ketutup dengan jilbab lebar langsung aja dipakai sholat.
  2. Mereka gak bawa makanan dan minuman. Tapi mereka bawa duit, sayangnya di kerajaan lelembut gak ada alfa atau indo…atau minimal warteg. Jadinya mereka gak bisa berhenti istirahat. Padahal ada yang bawa handycam tapi orang kaya mah bebas jadinya semuanya sebebas merpati.
  3. Menurut hukum alam, tak ada yang masuk maka tak ada yang keluar. Karena mereka gak makan dan minum otomatis mereka gak pipis dan lain-lain.

 

Sangat Berfaedah

Tapi baru-baru ini saya jadi kepikiran dengan pengalaman ini. Bagaimana kalau setting dunia KERAMAT ini diubah? Yang akhirnya menjadi sebuah cerita fanfic if universe.

Dimana if nya adalah bahwa semua karakter di film ini adalah insan-insan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Baiknya kita mulai saja ceritanya.


What if

Alkisah, ada satu perempuan yang kita sebut saja dengan nama mawar. Nah, mawar masih termasuk dalam anggota silsilah kerajaan mana yang masih ada kaitan dengan ratu penguasa utara (utara ya bukan selatan). Mawar adalah seorang muslimah yang rajin beribadah dan beramal soleh. Ia juga sedang berusaha menghafal Alquran dan Hadist Arbain.

Pada suatu hari mawar dan semua rombongan temannya pergi ke daerah asal leluhur kerajaan si mawar. Nah, kebetulan si ratu utara lagi kangen sama mawar yang notabene adalah cucu cucu cicitnya entah ke berapa. Jadinya ia mengerahkan jin-jinnya untuk membawa cucunya ke kerajaannya.

Which is….tidak bisa.

Nah loh. Kenapa?

Yah, karena mawar rajin sholat, rajin puasa, rajin baca Quran dan rajin mendekatkan diri kepada Allah. Jadinya jin-jinnya gak sanggup nangkep si mawar. Keburu kepanasan.

 

 

Dan cerita ini akhirnya ending dengan akhiran yang gantung. Iyalah, secara Jin mana berani sama orang yang deket sama Allah SWT. Kalau kata anime Inuyasha si mawar punya kekkai maha dahsyat hasil karya Allah SWT untuk melindungi dari jin setan dan sepupu-sepupunya.

Dan karena si mawar gak jadi pergi ke negeri lelembut, teman-temannya juga gak perlu begadang buat jemput si mawar. Dan mereka juga gak perlu bertaruh nyawa. Alhasil kita gak tahu seberapa berbaktinya mereka kepada nusa bangsa dan negara.

Dan akhirnya cerita fanfic ini membawa saya kepada sebuah kesimpulan baru. Mungkin para karakter di film itu sengaja gak sholat supaya bisa dibawa ke kerajaan lelembut kali yee???

 

 

The Lord of The Rings

IMG_20180525_134140

Judul Asli: The Lord of The Rings: The Fellowship of The Ring

Pengarang: J.R.R. Tolkien

Alih Bahasa: Gita Yuliani K

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Ketiga belas, Agustus 2016

Dimensi Buku: 512 halaman; 23 cm

ISBN: 978-602-03-3226-0


Blurb Buku

Di sebuah desa yang tenang di Shire, seorang hobbit muda bernama Frodo Baggins mendapat warisan cincin bertuah yang menyimpan kekuatan dahsyat. Agar cincin utama itu tidak jatuh ke tangan Sauron yang jahat, Frodo mesti mengadakan perjalanan panjang dan penuh bahaya ke gunung api di Mordor, untuk memusnahkan cincin tersebut. Bersama kedelapan sahabatnya, ia berangkat. Dipimpin oleh Gandalf sang penyihir, kesembilan pembawa cincin itu memulai perjalanan. Tapi Sauron dan anak buahnya tidak tinggal diam.


Review Saya

Awal dulu tahu mengenai trilogi ini cuma dari film. Tapi karena waktu itu seri LOTR ini barengan beken dengan seri Harry Potter, jadilah saya lebih suka dengan Harry Potter. Habis dulu waktu nonton filmnya kayaknya berat banget dan gak paham siapa-siapa aja tokoh di LOTR ini. Tapi satu yang saya tahu, Legolas itu ganteng XD

Dan baru tahun inilah saya mulai tertarik untuk memahami LOTR dengan cara membaca bukunya, dan benar dugaan saya. Kalau belum baca bukunya memang agak susah langsung paham ke filmnya. Apalagi LOTR Universe sangat luas dengan banyak kerajaan terbentang dari Shire, Hobbiton ke Gunung Api Mordor. Wajarlah jaman saya kecil dulu yang mana belum baca bukunya bakal pusing mengenai alur ceritanya.

Karena seri ini adalah seri perjalanan maha panjang yang menempuh beratus-ratus mil dengan jarak league demi league makanya di bukunya dilampirkan peta Middle-Earth agar kita bisa memahami betapa jauhnya perjalanan ini.

IMG_20180525_134242
Salah satu peta daerah Middle-Earth LOTR

Dan setelah dewasa ini baru saya juga memahami LOTR ini hampir mirip dengan seri Narnia. Dalam cerita ini ada analogi ataupun terinspirasi dari Bible. Seperti misalnya karakter Galadriel yang terinspirasi dari Bunda Maria. Yah, karena saya bukan pakar teologi jadi lebih baik yang ini saya skip saja.

Buku ini sebenarnya bercerita mengenai awal mula perjalanan Frodo untuk menghancurkan cincin pusaka ini ke gunung api yang ada di Mordor. Di buku ini juga diceritakan awal mula terbentuknya fellowship of the ring.

Nah, kenapa juga Frodo yang notabene cuma seorang hobbit yang diserahin tugas ini?

Itu karena yang paling bijak sekalipun semacam Elf maupun wizard macam Gandalf terlalu takut dengan kekuatan cincin itu. Selain memberikan kekuatan, cincin ini juga menarik hasrat pemakainya kepada kekuatan dan kekuasaan.

Di buku ini selain menceritakan kawanan sembilan yang melakukan petualangan, penjabaran perjalanan Frodo dan kawan-kawan dalam melintasi daratan kerajaan sangat luar biasa. Membuat saya berpikir apakah Bapak Tolkien bikin peta dulu baru ditulis ceritanya?

Kalau mau dibandingkan dengan buku The Hobbit pembahasan buku seri ini lebih serius dibanding buku Hobbit. Karena buku ini sasarannya adalah pembaca dewasa, sedangkan Hobbit memang sasaran untuk anak-anak.

Kalau di buku Hobbit masih diceritakan kelucuan Bilbo Baggins dan kawan-kawan kurcacinya, di buku ini semuanya bersifat serius. Hal ini dikarenakan situasi dunia dalam buku ini penuh dengan bahaya dan peperangan. Kalaupun ada yang bersifat tenang itu juga hanya sedikit, hanya sebagai tempat persinggahan perjalanan mereka.

Seri buku ini diakhiri dengan berpisahnya Frodo dan Sam dengan kawanan pembawa cincin yang lain. Karena Frodo sudah memahami betapa berbahayanya perjalanan mereka dan berbahayanya kekuatan cincin yang dibawa olehnya.

Setting akhir kisah buku ini berada di daerah Air Terjun Rauros. Frodo dan Sam berjalan ke arah timur ke daerah Emyn Muil menuju Mordor. Sementara Aragorn, Legolas dan Gimli berjalan ke arah barat menuju kerajaan Rohan.

Dan belum! Boromir belum mati di buku satu ini. Meskipun Gandalf sudah jatuh di tambang Moria.

The Hobbit

Image result for buku the hobbit

Judul Asli: The Hobbit atau Pergi Dan Kembali

Pengarang: J.R.R. Tolkien

Alih Bahasa: A. Adiwiyoto

Penerbit: Gramedia

Cetakan: Ketiga, Mei 2002

Dimensi Buku: 352 halaman; 23 cm

ISBN: 979 686 767 2


Blurb Buku

Gara-gara Gandalf, Bilbo jadi terlibat petualangan menegangkan. Tiga belas kurcaci mendatangi rumahnya dengan mendadak, karena mengira ia seorang pencuri berpengalaman, seperti kata Gandalf. Terpaksa ia bergabung dalam petualangan mereka: mengadakan perjalanan panjang dan berbahaya untuk mencari Smaug, naga jahat yang telah merampas harta kaum kurcaci di masa lampau.

Dalam perjalanan, rombongannya dihadang pasukan goblin. Saat melarikan diri dari kejaran mereka, Bilbo tersesat ke gua Gollum dan menemukan cincin yang bisa membuatnya tidak kelihatan. Cincin ini sangat membantunya ketika menghadapi Smaug, juga dalam perang besar yang berkobar kemudian, antara kelompok Peri, Manusia, dan Kurcaci melawan pasukan goblin dan Warg.


Komentar Saya

Padahal yang namanya LOTR sama Hobbit dan seri Tolkien yang lain sudah booming samaan dengan jaman Harry Potter, tapi waktu bocah dulu saya masih belum ngerti dan lebih kepincut sama Harry Potter dibandingkan buku ini.

Nah, di tahun inilah – which is umur saya udah 28 tahun – barulah merasa tertarik dan pingin tahu gimana sih sebenarnya cerita buku ini. Berawal dari nonton film The Hobbit – gak usah cerita mengenai LOTR ya, padahal awalnya semua dari situ tapi nanti saya ceritain pas lagi bahas buku LOTR. Suami bawa film-film baru dan diantaranya adalah dua seri dari tiga film Hobbit. Karena penasaran banget bagaimana nasib ending film itu – dan gak tahu juga kapan bisa dapet film Hobbit Battle of Five Armies – akhirnya saya beli aja bukunya.

Yang mana saya juga sudah tahu, Buku itu beda dengan film!

Dan, ternyata beda banget sama filmnya. Gak nyesel juga sih belinya. Saya pribadi lebih asyik baca bukunya sih, lebih masuk akal, walau ini juga genre fantasy. Maksud saya masuk akal adalah karakter yang di buku lebih asyik aja dan kita lebih bisa ngikutin dibanding yang di film yang lebih dramatis dan bertabur action yang menurut saya sebenarnya gak perlu dilebay-lebay kan.

Dalam buku ini karakter Bilbo Baggins dijelaskan juga walaupun dia suka bertualang kadang dia juga suka nyesel dan berandai-andai, andai aja dia gak ikut petulangan ini. Yang menurut saya wajar. Wong biasa selalu hidup santai dan tahu-tahu bertualang sampai susah istirahat dan terlambat makan malam wajar karakter Bilbo Baggins ini suka berandai dia gak ikutan petualangan.

Tapi meski dia suka berandai gak ikut petualangan, Bilbo ini cukup cerdik sehingga sering mengeluarkan para tim petualang dari kesulitan yang tidak diduga. Saya pribadi malahan senang saat bagian Bilbo bermain teka teki dengan Gollum supaya dia tidak dimakan. Lumayan menambah khazanah teka teki.

Dan yang paling bikin saya gregetan adalah kaum kurcaci. Adaaaaaaa aja yang dikeluhin ke mereka mengenai Bilbo. Padahal mah lebih dari sekali Bilbo mengeluarkan mereka semua dari situasi yang tidak menyenangkan tapi emang dasar perhitungan, kadang ada aja yang mereka keluhin mengenai Bilbo dan petualangan yang mereka alamin.

Sampai saya suka gemes, lah yang bikin petualangan kan kalian! Kenapa pada ngeluh dan gak mau susah sih? Kalau gak mau susah mah gak usah bikin petualangan! Dan jangan nyuruh Bilbo mulu untuk tugas yang gak enak!

KESEL!

Overall, ini buku yang bagus sih. Kalau kata saya cocok buat cerita anak-anak. Maksudnya ceritanya gak terlalu berat gitu dan fantasi banget. Wkwkwk kalau fantasi mah kesenangan saya.

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan peta perjalanan Bilbo dkk menuju Gunung Sunyi. Di halaman depan juga ada huruf rune yang saya juga gak tahu bacanya XD jadinya saya bisa lah ngebayangin bagaimana jauhnya perjalanan Bilbo dkk dan membayangkan bahasa yang mereka gunakan, walau saya juga gak paham artinya 😛

Tantangan#10 BunSay: Hari 17

Karena saya adalah guru PAUD, maka di moment challenge ini saya akan menuliskan cerita atau dongeng yang saya ceritakan ke anak-anak di saat sekolah. Cerita atau dongeng ini saya sesuaikan temanya dengan apa yang sedang mereka pelajari. Rentang usia murid-murid saya adalah 3-4 tahun.

Related image

Nabi Ibrahim as memiliki seorang anak, namanya adalah Nabi Ismail as. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan Hajar dan Nabi Ismail di padang pasir yang panas dan tandus. Tidak ada siapapun di sana dan tidak ada air ataupun makanan.

Siti Hajar berkata kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Nabi Ibrahim, apakah engkau meninggalkan kami di sini karena perintah Allah SWT?”

Nabi Ibrahim menjawab iya.

Lalu apa kata Siti Hajar?

“Kalau memang ini perintah Allah SWT kami In Shaa Allah akan bersabar.”

Nabi Ibrahim sebenarnya sangat sedih harus meninggalkan mereka di tempat yang panas dan sepi seperti ini. Tapi karena ini adalah perintah Allah SWT maka Nabi Ibrahim cuma bisa bersabar.

Nah, setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar dan Nabi Ismail kehausan, tapi bekal air minumnya sudah sedikit. Karena Nabi Ismail menangis terus karena kehausan, akhirnya Siti Hajar berusaha mencari air.

Siti Hajar lari-lari kecil dari bukit Safa ke bukit Marwa, tapi tidak menemukan air. Lalu Siti Hajar berlari kecil lagi dari bukit Marwa ke bukit Safa, tapi masih belum ada air. Siti Hajar terus bolak-balik seperti itu hingga tujuh kali. Nah, kalau kita pergi haji atau umroh, kita juga akan melakukan sai: yaitu lari kecil dari Safa ke Marwa seperti Siti Hajar.

Selama Siti Hajar lari-lari keci, Nabi Ismail menangis karena kehausan. Siti Hajar merasa sedih dan langsung memeluk Nabi Ismail supaya tidak menangis lagi. Tapi Nabi Ismail masih kehausan, karena itu Nabi Ismail menghentakkan kakinya.

Subhanallah.

Dari bekas kakinya Nabi Ismail tiba-tiba keluar sebuah mata air yang dinamakan Zamzam. Nah, sejak ada mata air Zamzam daerah tempat tinggal Siti Hajar dan Nabi Ismail tidak tandus lagi. Orang-orang juga banyak yang tinggal di dekat mata air itu.

Kalau kita pergi haji atau umroh In Shaa Allah kita bisa minum air Zamzam yang segar rasanya.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunSayIIP

#GrabYourImagination