Aside

The Fated One To Kill Me

Related image

Nggg~ Nnn~ Ngg~ Nnn~

Aku memandang ke atas. Aula gedung ini memiliki atap yang terbuka, membuat semua orang yang ada di dalamnya bisa memandang ke atas, atau permukaan perairan. Segerombolan paus sedang berenang di kejauhan atas sana. Mereka berenang beriringan. Sesekali cahaya rembulan bergoyang menyelinap menembus sela-sela paus, menghujam dasar laut. Ah, sungguh pemandangan yang indah sekaligus misterius.

Teknologi sudah semakin maju, karena itu manusia bisa menjelajah dan menempati berbagai pelosok dunia. Misalnya, di bawah laut ini. Dengan teknologi rekayasa genetika manusia dan kemajuan teknologi mesin lainnya, kami bisa tinggal di bawah laut tanpa takut tenggelam atau tidak bisa bernapas. Malahan kami bisa bernapas di dasar laut ini sama baiknya dengan mereka yang tinggal di daratan atas.

Aku masih menatap ke atas, memandang sosok paus yang berenang semakin lama semakin menjauh. Nyanyian paus tidak selalu terdengar di dasar laut, bahkan untuk kami sekalipun yang seumur hidup selalu tinggal di bawah air. Paus adalah makhluk yang pemalu, karena itu mendengarkan nyanyian paus sama seperti mendapatkan keberuntungan.

Aku memandang sekeliling, semua orang masih membicarakan nyanyian paus tadi. Tapi sedetik kemudian musik dansa mulai dimainkan dan mereka kembali berdansa. Aku memandang ke satu sudut yang sepi, seorang pemuda sedang berdiri sambil memandangku. Ah, akhirnya ketemu juga. Aku tersenyum padanya.

Sepertinya ia menyadari kalau aku memergokinya yang sedang memandangku, makanya ia langsung membuang muka. Aku tertawa kecil dan terus menatapnya. Ia sama persis dengan pemuda yang kulihat dalam mimpiku. Seorang pemuda yang terlihat canggung, tapi penuh dengan tekad. Ia akan terus berjuang meski dihadapkan dengan tantangan yang berat demi mencapai tujuannya. Sesaat hatiku sedikit sakit tapi buru-buru kutepis rasa itu.

Tak lama kemudian ia kembali menatapku lagi tapi terburu-buru membuang muka. Aku tersenyum dan mendatanginya. Ia tampak salah tingkah.

“Berdansalah denganku!” ajakku tiba-tiba.

Ia tampak terkejut tapi tidak berkata apa-apa. Aku tertawa kecil. “Biar kutebak. Kamu tidak mau berdansa denganku karena aku tidak cukup cantik?”

Dia tertawa. “Aku tidak bisa dansa.”

Aku memandang pakaiannya, seragam militer kerajaan Pacifista. “Tentara sepertimu tidak diajari berdansa? Lalu untuk apa kau datang ke pesta ini?”

Ia kembali tertawa kecil. “Aku hanya menjalankan tugas.”

“Humph. Sayang sekali, pemuda tampan sepertimu malah tidak bisa berdansa.”

“Ajak saja orang lain.” Ia berusaha memberi solusi.

“Tidak mau. Kau lebih tampan dari mereka semua.” Dan lagi alasanku yang utama adalah ingin ngobrol dengan pemuda yang muncul dalam mimpiku itu. Yang ditakdirkan untukku.

“Bagaimana kalau kita mengobrol saja?” ia memberi tawaran.

Aku pura-pura berpikir, “Tidak buruk juga mengobrol dengan orang tampan.” Ia menunjukkan senyumnya.

“Ngomong-ngomong, namaku Alex.” Ia memperkenalkan diri.

“Aku adalah Moirai.” Bukan nama yang asli sih tapi mungkin tidak apa-apa.

“Nama yang aneh.” komentarnya. Aku tertawa. Mau bagaimana lagi, itu kan bukan namaku yang sebenarnya?

“Jadi, untuk apa kau di sini?” Aku mulai berbasa-basi.

“Menjalankan tugas.” sahutnya singkat. “Kau sendiri?”

“Mencari pria tampan untuk diajak berdansa.” selorohku. Ia tertawa kecil. Yah, sebenarnya aku ingin mengobrol dengan pemuda ini sih. Tapi kalau aku bilang begitu semua alasanku dari awal harus diceritakan. Itu merepotkan.

“Jadi, bagaimana menurutmu acara tanda tangan ini?” Aku kembali ke topik.

Alex mengangkat alisnya, “Aku tidak menyangka gadis seumuranmu tertarik dengan politik? Kutebak umurmu , hmmm, 17 tahun?”

Aku tertawa, “Sebenarnya 18 tahun. Tapi kuanggap itu pujian.”

“Hanya salah satu tahun.” gumam Alex.

“Giliranku,” Aku memandang Alex yang balik menatapku. Bisa kulihat ia meiliki warna mata cokelat gelap. “Hmm, umurmu sekitar 25 tahun?”

Giliran Alex yang tertawa, “Sebenarnya umurku 23 tahun.”

“Hee, kau muda sekali untuk ukuran orang yang diundang ke acara penting seperti ini.”

“Kurasa kau yang lebih muda untuk bisa bergabung dalam acara formal ini. Apa kau seorang bangsawan atau tokoh penting lainnya?”

Aku menggigit lidahku, sepertinya aku sudah salah bicara. Seorang pelayan melintas dan menawari kue, aku mengambil satu.

“Lupakan saja. Aku tidak tertarik mendengarnya.” Alex menambahkan. Aku menghembuskan napas lega, tidak sadar kalau dari tadi aku terus menahannya.

“Kita mengobrol yang lain saja.” Alex setuju dengan ajakanku.

“Jadi menurutmu bagaimana acara tanda tangan ini?” Aku mengulang pertanyaanku.

“Kupikir kita mau mengobrol hal lain selain politik?” Alex tersenyum padaku.

“Sudahlah, jawab saja.”

Alex terdiam, tampak memikirkan sesuatu. Sebenarnya aku paham dengan maksudnya yang terdiam itu. Hanya saja aku ingin menanyakannya pendapatnya.

“Biar kutebak. Kau merasa tidak yakin dengan perjanjian kerja sama ini.”

Alex membulatkan matanya tapi ia berusaha tenang. Aku tersenyum misterius. Dari pandangan matanya aku tahu Alex bertanya-tanya mengapa aku seakan bisa membaca pikirannya.

“Tidak perlu berpikir terlalu keras untuk mengambil kesimpulan ini.” Mataku menatap para duta utusan yang saat ini sedang berbincang. “Dan yang pasti, banyak negara lain yang tidak setuju dengan keputusan ini.”

Sebuah kembang air meledak di atas gedung, memercikkan warna-warni yang cantik. Yah, kemajuan teknologi lainnya. Sebuah kembang air yang memiliki fungsi yang sama seperti kembang api di daratan atas.

Segerombolan ikan kecil berenang dengan cepat, menghasilkan arus yang lumayan kencang bagaikan angin bertiup. Aku melemparkan remahan kue milikku, beberapa diantara mereka berhenti untuk memakannya.

“Karena itu, selagi masih bisa dinikmati, lebih baik menikmati perdamaian yang ada saat ini.” gumamku.

Alex memandangku dengan heran. “Apa maksudmu?”

Aku tersenyum, “Bukan apa-apa, kok.” Aku menepukkan tanganku. “Kurasa sudah waktunya aku pulang.”

Alex tidak membantahku, aku menatapnya sekali lagi. “Kau bisa mulai bersiap-siap.”

“Bersiap untuk apa?”

Sebuah ledakan keras terdengar, hawa panas menyembur dan gedung dansa bergetar sebelum akhirnya mulai runtuh. Bom Karbon. Sebuah bom yang efektif di dasar air. Efeknya seperti bom biasa di dataran atas, hanya saja minus api.

Alex sempat menyembunyikan diriku di belakangnya, berusaha melindungiku dari efek ledakan. Ia terbatuk sesaat dan belum sempat bereaksi apapun. Aku berjinjit, mendekatkan bibirku ke telinganya, “Aku adalah Moirai.”

Ia menoleh ke arahku.

“Ingatlah, suatu saat kau akan memerlukan nama itu.”

Aku langsung berlari dalam buih air yang tebal, hasil dari ledakan sebelumnya.

.

.

.

Aku memandang hiruk pikuk gedung itu, para petugas sudah mulai melakukan evakuasi. Inilah awal mula dari segalanya.

Datanglah padaku, wahai yang ditakdirkan untuk membunuhku.

Buih air terus naik ke permukaan. Dan dari jauh dapat ku dengar suara nyanyian paus. Mungkin sebenarnya nyanyian paus bukanlah pembawa keberuntungan.

#End


A/N: Tamat dengan gaje…apalah ini enggak banget jelasnya. Terus mana keindahan dasar lautnya? Ah, kepala saya error gegera minum obat. Jadinya pikiran ng fly mulu.

 

Advertisements
Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 10

Mungkin kali ini mau menulis mengenai konsep sedekah kali ya. Hmm, sebenarnya saya paling malas nulis mengenai hal ini. Karena… yah, ini masalah privacy sih.

Tapi satu konsep yang selalu saya pegang untuk bersedakah adalah, selalu gunakan uang dengan pecahan paling besar yang ada di dompetmu.

Jadi begini, kalau misalnya saya punya uang pecahan 5 ribu, 10 ribu dan 20 ribu dalam dompet saya, maka saya usahakan untuk mensedekahkan uang 20 ribu saya. Ini dengan asumsi kamu punya ongkos buat pulang atau gak ada keperluan untuk beli apapun loh ya. Hahahaha…

Tapi, gimana dong kalau di dompet ada uang 20 ribu, 50 ribu dan 100 ribu? Hmm, saya enggak munafik sih saya bakal kasih 20 ribu. Saya kasih 50 ribu tergantung situasi sih. Kalau misalnya ada yang membutuhkan dan dia memang layak untuk dikasih 50 ribu kenapa enggak. Tapi untuk 100 ribunya tetap di dompet. Hahaha…saya gak munafik.

Berat? Pasti.

Tapi percaya deh, In Shaa Allah pasti akan diberikan penggantinya oleh Allah SWT.

Misalnya?

Hmm, jualan buku saya jadi laku tuh pas kayaknya lagi butuh duit 😛

Intinya kalau sedekah jangan hitung-hitungan. Semakin besar pengorbananmu makan penggantinya juga akan lebih besar. Amin. In shaa Allah.

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 9

Padahal baru aja kemarin dibahas. Ternyata oh ternyata hari ini paket internet habis.

Jadi, kemarin saya meninggalkan ruter internet menyala. Soalnya suami masih main internet dan berhubung sudah waktunya tidur saya pergi tidurlah.

Keesokan harinya pas saya mau nyalain internet untuk mengerjakan tugas hari ini, eh ternyata tanpa angin dan hujan suami langsung minta maaf. Saya yang enggak ada pikiran apa-apa cuma bisa bengong. Hah? Minta maaf buat apa?

Eh, gak tahunya paket kuota internet habis. Sama suami 😛 Jadi dia minta maaf duluan. Maklum soalnya belum lama saya ngisi paketan bulan ini. Mungkin baru ada ngisi satu setengah minggu yang lalu. Makanya saya kaget cepet banget habisnya.

Tapi berhubung dia udah minta maaf duluan dan sekalian masak sayur sop buat saya yang lagi batuk saya cuma bisa huhu…so sweet. Jadinya gak bisa marah deh.

Eh, mengenai setoran kali ini?

Kebetulan kemarin ada yang beli buku dari akun toko online saya. Dan pembeliannya lumayan banyak jadi dengan terpaksa ditarik deh buat beli paketan internet. Hahaha…jadi beli dua kali deh dalam satu bulan. Ditarik dari amplop tabungan kecil 😛

Bulan ini lagi rada boros untuk pemakaian internet deh…

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 8

Belanja sayur untuk kebutuhan mingguan sebenarnya sudah dijatah per bulan. Rata-rata per minggu kami bisa menghabiskan 100ribu – 150ribu. Supaya bisa tetap terkontrol, kami harus list daftar menu yang akan dimasak minggu itu. Dari daftar menu kami bisa menentukan bahan-bahan apa saja yang harus dibeli, dikurangi maupun ditambah.

Ah, saat saya bilang kami itu maksudnya saya sama suami.

Karena suami suka banget masak di hari Sabtu dan Minggu, otomatis dialah yang menentukan bahan apa yang mau dipakai untuk dua hari itu. Terkadang juga dia suka masak sesuatu yang enggak ada dalam daftar, otomatis terkadang saya harus beli bahan tambahan di tukang sayur keliling. Dan terkadang itu juga harus ngambil dari amplop tabungan.

OK

Atau mungkin kami bisa belanja bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan. Pas. Tidak lebih tapi ada sisa uang. Jadi saya bisa taruh sisa uang di amplop tabungan.

OK

Jadi intinya gali tutup lubang 😛

Tidak masalah. Asalkan bukan pakai uang tabungan besar saya mah gak apa-apa. :’)

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 7

Kali ini saya mengambil tema paket internet. Saya dan suami di rumah pakai paket router internet. Mereknya apa saya gak bakal kasih tahu. Karena ini bukan konten berbayar dan saya gak bakal dikasih uang terima kasih karena sudah memajang nama merek 😛

Satu hal yang pasti, paket internet di rumah kami dibatasi Rp 100.000/bulan. Bebas mau dipakai apa aja,yang pasti satu bulan jatahnya cuma 100 ribu. Dengan jatah segitu untuk kirim pesan dan keperluan laptop alhamdulillah cukup.

Tapi kalau untuk nonton Youtube? Tunggu dulu! Tunggu dulu kalau kami pergi ke tempat gratis wifi maksudnya.

Terkadang suka bocor juga sih, saat saya lagi butuh internet tau-tau paketnya habis. Padahal baru ngisi. Saat saya tanya baru deh suami ngaku suka dipakai nonton Youtube. Huwaa, kalau kayak gini mau gak mau harus nambah dari uang tabungan saya sendiri.

Makanya saya punya amplop dengan nama tabungan. Untuk mengantisipasi masalah seperti ini tabungan kecil memang diperlukan. Makanya sedikit demi sedikit nabung juga gak apa-apa. Lumayan, bisa dipakai buat beli paket internet.

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 6

Sehat itu mahal

Sebenarnya saya sudah tahu mengenai hal itu sih. Apalagi saya adalah tipe orang yang sakit-sakitan. Dikit-dikit sakit. Dikit-dikit sakit. Jadi saya paham kenapa sehat itu mahal. Sehat is the best feeling.

Tapi setelah menikah, saya jadi lebih paham lagi kenapa sehat itu mahal. Karena biaya berobat itu mahal! Belum biaya obatnya, belum biaya konsultasi dengan dokter, dan lain-lain dan lain-lain.

Apalagi kalau menilik dari beberapa amplop yang saya punya untuk membagi uang jatah bulanan suami, tidak ada yang namanya amplop berobat. Otomatis harus ambil uang dari tabungan besar. Dan parahnya, beberapa bulan terakhir ini setiap satu bulan sekali saya pasti pergi ke dokter. Padahal sakitnya sama, batuk dan radang tenggorokan. Tapi etah kenapa kalau dibeliin obat dari apotik biasa enggak pernah manjur. Hanya saat pergi ke dokterlah penyakit batuk saya itu mereda.

Duh, saya curiga pasti ini trik psikologis saya aja. Tapi ya seperti saya bilang tadi, sehat itu mahal karena biaya berobat mahal. Walhasil bulan Febuari ini tabungan saya kembali terkuras karena harus pergi berobat.

Kalau saya bikin amplop khusus bertitel berobat ke dokter itu kayak ngedoain sakit, gak ya?

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Status

Game Kelas BunSay#8: Hari 5

Sudah cukup dengan cerita mengenai menghemat uang untuk jajan buku. Sekarang saya akan menceritakan bagaimana pengelolaan keuangan rumah tangga kami. Kenapa kami? Karena selain saya, suami saya juga ikut membagi keuangan rumah tangga. Memang sih uang bulanan yang suami kasih ke saya bebas untuk dipakai apa saja. Tapi setidaknya suami juga ikut membantu perencanaannya.

Soalnya saya bukan orang yang tipe telaten mendetil dengan mencatat keuangan di sana sini. Tipe golongan darah B. Baik.

Karena saya tipe yang kalau ada uang, hemat-hematlah apa yang bisa dihemat. Kecuali uang sedekah! Big No No!

Setiap bulan saya punya beberapa kantong amplop keuangan:

  1. Uang belanja yang termasuk kebutuhan bulanan (sampo, sabun,semacam itulah) dan kebutuhan mingguan (bahan sayur untuk dipakai masak sehari-hari)
  2. Uang beli air (ini buat beli air Aqua dan beras)
  3. Uang bayar komplek bulanan
  4. Uang bayar PAM, token listrik, modem
  5. Uang pelunasan haji
  6. Tabungan

Ketahuan lah ya uang keperluan apa ada di kantong mana. Semua amplop ini diperlukan supaya semua uang itu enggak menyatu di satu amplop. Terkadang kalau uang cuma ada di satu amplop dan lagi butuh duit buat jajan suka enggak kekontrol pemakaiannya. Makanya sengaja saya bagi jadi beberapa kantong sehingga kalau mau jajan mikir-mikir dulu apakah bisa nutup sampai akhir bulan atau enggak.

So far rencana ini sih alhamdulillah berjalan lancar sih. Walau enggak selalu bisa dapat nambah tabungan tapi setidaknya aman sampai akhir bulan.

#KuliahBunsayIIP

#Tantangan10Hari

#Level8

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial