Game Kelas BunSay#6: Hari 7

Ini adalah kejadian yang baru gue alami selama dua bulan ini. Jadi, sebagai guru PAUD alhamdulillah gue dapat uang transport. Yeah, bukan gajian sih. Istilahnya uang transport. Lumayanlah buat jajan buku tiap bulan. Nah, karena jumlah uangnya terbatas sementara buku yang gue mau ada banyak jadinya kudu harus pilih-pilih buku apa yang gue beli bulan ini supaya enggak terlalu menderita pingin baca buku baru padahal duit transport belom turun.

Emang mmalukan sih, tapi untungnya gue sadar sebelom terlambat sama sekali. Gue lagi naksir sama buku terbitan Haru. Guys, kalian harus baca kalau kalian udah bosen sama buku penerbit mayor yang menurut gue sih udah gak terlalu seru lagi bukunya. Tapi gitulah, buku terbitan Haru emang lumayan menguras kantong walau sebenernya gak bakal nyesel juga. Kualitas buku dan isinya emang T.O.P menurut gue sih.

Uang transport gue baru aja turun tanggal 1 Desember dan selama beberapa hari ini gue perang batin. Masalahnya adalah gue cuma punya uang R 175.000 dan buku yang gue mau adalah:

                      

  1. The Dead Returns (Akiyoshi Rikako)
  2. Suicide Day Schedule (Akiyoshi Rikako)
  3. Holy Mother (Akiyoshi Rikako)
  4. Love O20 (Gu Man)
  5. Hyouka
  6. Silence (Akiyoshi Rikako)

Rata-rata buku nomor 1-3 lalu 5 dan 6 harganya 50 ribuan. Itu belum masuk ongkir. Terutama nomor 4 harganya 70 ribuan belum masuk ongkir. Jatah duit cuma 150 ribu. Wajar dong kalau gue nangis-nangis minta pohon duit :”(

Setelah gelisah, gundah gulan dan galau beberapa hari…akhirnya bulan ini… gue memutuskan untuk beli The Dead Returns sama Love O20. Gue belanja di OL bookstore baru yang gue temuin dan harganya jauh lebih murah. Yah, walau gue bilang lebih murah tetep aja total belanjaan gue 120 ribuan udah termasuk ongkir. Cuma bisa beli dua buku :”(

Gak papa deh. Asalkan gue dapet uang transport bulan selanjutnya gue nanti beli lagi deh daftar whistlist buku diatasa.

Tuuh kan…buat booklovers jajan buku juga masuk matematika management keuangan :”(

 

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari7

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Advertisements

Game Kelas BunSay#6: Hari 6

Baru-baru ini jalan di depan kompleks perumahan gue lagi ditutup karena sedang diperbaiki. Jalannya emang udah rusak parah sih, bahkan udah lubang-lubang. Apalagi sekarang udah masuk musim hujan, kalau ketutup sama banjiran air emang bahaya banget karena enggak kelihatan.

Lagian juga ini udah akhir tahun, jadi mungkin sekalian ngabisin anggaran akhir tahun juga kali ya… 😛

Nah, karena jalannya sebenernmya sempit dan ditutup, otomatis mobil dan motor gak bisa lewat jalan ini. Terpaksa harus pakai jalan muter. Yang biasanya enggak kena macet tapi karena jalannya ditutup otomatis mobil dan motor makin numpuk dan menyebabkan terjadinya M.A.C.E.T.

Karena macet otomatis suami yang biasanya berangkat jam 7 pagi ke kantor jadi berangkat jam setengah 7 pagi. Hmm…setengah jam lebih awal dari biasanya. Soalnya ternyata bukan cuma jalan depan kompleks gue aja yang lagi diperbaikin. Tapi ternyata jalan raya Cibitung juga lagi deperbaikin sehingga macet dimana-mana.

Supaya enggak kena macet makanya suami berangkat setengah jam lebih cepat dari biasanya. Emang sih nyampai ke kantor juga lebih cepat dari biasanya, Tapi kan mendingan nunggu daripada telat dan buru-buru kan?

Untuk postingan kali ini contoh matematika yang bisa diambil adalah perkiraan jarak waktu yang diperlukan untuk sampai ke tempat tujuan setelah ditambah waktu bermacet-macet ria. Well untuk masalah ini emang enggak gampang kalau kita emang gak tahu sikon lingkungan tersebut. Karena gue tinggal di Cibitung makanya bisa bilang dari rumah gue ke tempat kerja suami berangkat 30 menit lebih awal itu udah cukup. Tapi seenggaknya situasi matematika ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kan?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari6

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Game Kelas BunSay#6: Hari 5

Kalau lihat buku yang seru pasti langsung kalap!

Itu gue… dan baru-baru ini gue baru aja memahami serunya buku-buku terbitan dari Oenerbit Haru beserta anak-anaknya. Bukannya mau promosi loh yaa~ tapi itulah yang gue rasakan. Pantesan aja grup buku gue ngomongin buku terbitan penerbit ini mulu. Bukunya emang T.O.P banget.

Jujur karena gue lagi menderita reading slump yang parah atau artinya males baca, satu-satunya cara ngebangkitin minat baca gue adalah harus baca buku yang seru. Sayangnya buku yang beredar di pasaran kali ini – menurut gue yang pecinta fiksi – gak ada yang seru semua. Walaupun penulisnya macem DTL – yang sekarang demi apa baper banget – atau IK – yang sama aja kayak DTL bapernya – gue gak tertarik untuk baca buku mereka.

Pas lagi parah-parahnya gue putusin untuk beli buku ini:

Iyee…ini sebenernya buku lama, tapi gue baru bisa beli sekarang-sekarang ini. Dan bukunya emang lumayan keren, bisa membangkitkan reading slumpgue yang parah dan memutuskan untuk beli buku lainkarangan penulis yang sama.

Here’s the math.

Gue per bulan dapet uang transport dari PAUD 175 ribu rupiah. Dan buku yang gue mau harga kisarannya 50 ribu rupiah. Buku yang gue mau saat ini ada lima buku. Kalau gue hitung-hitungan dengan jatah per bulan cuma 175 ribu seenggaknya bulan Desember ini gue bisa beli tiga buku dan bulan Januari dua buku sisanya – itu juga kalau penerbitnya lagi enggak nerbitin buku bagus lainnya 😛

Cuma…sebagai cewek banyaklah yang gue mau beli dengan uang terbatas, otomatis gue harus bijak dan mikir dengan bener kemana uang itu mau gue spend. Ditabungkah? Dibeliin buku? Atau dibeliin baju?

Yah… kalau hitung-hitungan matematika mah jelas aja uang gue gak bakalan cukup. Tapi yang namanya rejeki kan selalu datang dari tempat yang enggak disangka-sangka. Hmm… jadi mungkin kali ini bukan hal yang bijak untuk ngitung-ngitung rejeki pakai logika matematika.

Terus ini postingan apaan?

Bukan apa-apa. Cuma menunjukkan aja begitu cara gue ngitung-ngitung uang yang gue punya untuk memutuskan berapa banyak buku yang bisa gue beli. Biasanya setelah proses hitung uang ini sih yang bikin bingung adalah buku apa yang gue pilih untuk dibeli bulan ini? 😛

Hayoo…kamu juga pasti bingung kan kalau di posisi gue?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari5

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Game BunSay#6: Hari 4

Jajan itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau gak perlu pusing mikirin uang jajan dan berat badan yang nambah secara bertahap 😛 sungguh menyenangkan banget. Sayangnya berat badan harus diperhatiin. Dan uang juga gak metik dari pohon. Makanya kudu hemat-hemat dan gak bisa jajan sembarangan.

Selain itu makanan yang enak kadang haragnya suka mahal, jadi suka bikin mikir-mikir lagi. Dan salah satu hasil pikiran gue dan suami adalah daripada beli tapi mahal mending bikin sendiri. Toh jatuhnya keluarin uang untuk beli bahan gak jauh-jauh banget kalau misalnya beli jajanan itu dari toko.

Prinsip hemat: menghemat apapun yang bisa dihemat. Bahkan jajanan enak sekalipun 😛

Makanya mertua dengan senang hati ngasih kukusan kue dan oven portabel sebagai bahan kita buat bikin-bikin sendiri jananan yang dimau. Dengan modal tepung, telur dan bahan-bahan kue lain yang harganya murah meriah jadilah saya sama suami suka bikin kue atau jajanan dadakan. Kadang suka bikin goreng bakwan yang banyak banget yang kalau dihitng di tukang jualan bisalah makan harga 20 ribu rupiah. Terkadang juga suka bikin brownis cokelat atau macaroni kukus.

Tuh kan, lebih murah bikin dari pada beli. Yah, walau gak semua makanan bisa masuk prinsip ini sih. Lagipula dipastiin lebih sehat juga sih karena masakan buatan sendiri dan kita yang paling tahu standar kebersihan masakan kita kan?

Dan yang paling penting, kita hemat uang juga 😛

Hitung-hitungan soal duit juga masuk matematikan, kan? 😛

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari4

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Menstimulasi Anak Suka Matematika

Materi #6
Minggu ke-2

Matematika memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak permainan dan aktifitas yang menunjang pelajaran matematika dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka.

Apa saja kemampuan yang bisa ditingkatkan dengan aktifitas permainan matematika?

antara lain,

🍒 Kemampuan menggunakan dan meningkatkan kosakata

🍒 Kemampuan mengeksplorasi, mendiskusikan, dan memberikan pendapat dan menyampaikan ide-ide matematika

🍒 Kemampuan berfikir dan bekerja secara matematika

🍒 Membangun kepercayaan diri anak dalam pelajaran matematika

🍒 Meningkatkan konsentrasi

🍒 Meningkatkan perilaku positif terhadap matematika

🍒Mempelajari cara berdiskusi secara matematis dan bekerjasama untuk mencapai pemahaman.

🍒 Kemampuan mempelajari matematika dalam lingkungan yang mendukung daya pikir dan menyenangkan.

🍒Meningkatkan pemahaman

🍒Mengeksplorasi matematika dengan konsep yang bebas serta memperkuat dan meningkatkan kemampuan anak.

Sumber ; John Dabell. Aktifitas Permainan dan ide Praktis Belajar Matematika, Penerbit Erlangga : 2009.

WhatsApp Image 2017-11-29 at 09.32.18

Game BunSay#6: Hari 3

hyouka18_1

Gue setiap hari kalau ngajar PAUD naik sepeda.

Ah~ akhirnya setelah sekian lama ngidam sepeda yang ada boncengan sama keranjangnya, suami akhirnya beliin gue sepeda untuk keperluan transportasi mobile yang deket-deket aja sih. Karena belom mampu beli motor – dan gue juga menolak dibeliin motor yang bukan pakai gigi – akhirnya gue dibeliin sepeda.

Lumayanlah sekalian olahraga sewaktu gue berangkat ke PAUD. Jadi sekali kayuh dua tiga tujuan terpenuhilah.

Nah, masalahnya adalah gue kudu harus nyampe ke PAUD sekitara jam 7 pagi sementara suami baru berangkat ke kantor jam 7 pagi. Perjalanan gue untuk ngayuh sepeda sampai depan komplek aja makan waktu sepuluh menit. Walhasil gue dipastiin bakal telat banget kalau nungguin suami berangkat dulu.

Saat gue ngeluh sama suami dan dia pun memberikan solusi pintar…jeng jeng jeng

Gue disuruh berangkat duluan!

Hah? Maksudnya?

Iye…jadi ngayuh sepeda itu kan gak sama kayak motor yang tinggal ngegas doang. Otomatis kalau gue butuh waktu sepuluh menit buat ke depan komplek, kalau naik motor cuma butuh waktu lima menit nyampe depan komplek. Walhasil akan lebih baik kalau gue berangkat duluan dan ngebiarin suami yang ngunci rumah. Pas gue masih sibuk ngayuh atau mungkin setengah jalan ke depan kompleks, suami udah nyusul gue dan ngasih kunci rumah. Dengan begini gue gak perlu nunggu suami dan rumah juga terkunci dengan aman.

Sampai sekarang sih selalu mencoba menerapkan cara kayak gini, alhamdulillah gue nyampai ke PAUD tepat waktu dan suami juga gak buru-buru banget berangkat ke kantor. Sebenernya ini cuma management waktu juga sih..tapi hei, kan ini juga ngitung perbandingan kecepatan kayuh sepeda dan gas motor beserta waktu yang diperukan untuk menempuh jarak tertentu.

Ini masih matematika, kan? 😛

Maksa banget…

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari3

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs

Game Kelas BunSay#6: Hari 2

Sekarang udah mulai masuk musim hujan. Dan kalau udah mulai hujan apalagi mulai ramai petir dan gemuruh, gue suka ngitungin jarak antara kilat dan suaranya dalam detik (atau bahasa fisikanya second).

Kenapa kayak gitu?

Yah, pertama gue adalah anak meteorologi, jadi wajar kan gue suka kepo sama hal yang begituan. Alasan lain adalah iseng doang pingin tahu kira-kira sejauh apa sih jarak antara tempat gue berada dengan tempat petir itu menyambar. Kenapa begitu?

Menurut prinsip fisika, kecepatan cahaya itu jauh lebih cepat dibanding kecepatan suara. Gue lupa sih perbandingan kecepatan per secondnya. Lagian sekali lagi, ini blog doang kok, bukannya textbook. Kalau mau tahu mah cari aja sendiri pakai OK Google. Nah, dari prinsip kecepatan ini bisa dipastikan bahwa cahaya akan selalu terlihat lebih dahulu dibandingkan terdengarnya suara. Prinsip ini pasti kita tahu kalau kamu rajin mantengin petir. Kita pasti bakal lihat cahanyanya dulu dibandingkan denger suaranya.

Semakin jauh tempat kita berada dari tempat petir itu jatuh, maka suaranya akan semakin lama terdengar setelah cahaya petirnya itu terlihat. Semakin dekat jarak antara bunyi petir dan cahaya kilatnya, maka semakin dekat posisi kita dengan tempat petir itu jatuh. Nah, dengan prinsip inilah gue suka iseng-iseng ngitung dalam detik. Seberapa jauh sih jarak antara gue dengan tempat petir itu jatuh? Gak nanggung-nanggung, gue juga ngajarin suami prinsip ini sih. Jadinya kadang dia juga suka iseng ngitungin jarak antara cahaya dan suara petir.

Sekarang udah masuk musim hujan dan petir juga lumayan agak banyak muncul. Gue jadi menumbuhkan hobi iseng gue lagi. Seberapa jauhkah (dalam detik) tempat gue berada dengan tampat petir berada?

#Tantangan10Hari

#Level6

#Hari2

#KuliahBunSayIIP

#ILoveMath

#MathAroundUs