Asal Mula Nama Pulau Irian

Rewritten by: Latifun Kanurilkomari

Pada zaman dulu kala, ada seorang pria yang bernama Mananamakrdi. Doi adalah anak bungsu dari keluarga yang tinggal di Kampung Sopen, Biak Barat.

Sebelum kamu mikir Mananamakrdi – duh, susah juga nulisnya, mulai sekarang kita panggil Manana aja ya. Nah seperti yang dibilang tadi, jangan ngebayangin Manana ini sebagai cowok ganteng, kaya, gagah dan semua ala-ala gary sue tadi. Mungkin cowok kayak gitu ada, tapi bukan di cerita ini. Di cerita ini Manana adalah pemuda yang malang banget. Nasibnya buntung, kulitnya kudisan, baunya gak sedap lagi. Duh, kebalikan banget kan sama bayang-bayang gary sue di awal?

Nah, karena nasib si Manana ini sial banget, dan dia anak bungsu dari entah berapa saudara, walhasil Manana ini selalu dibully sama saudara-saudaranya. Orang tuanya juga gak bisa ngebelain, secara kalah jumlah bo! Dua orang ngelawan saudara-saudara Manana yang banyaknya enggak tahu berapa, mana sanggup. Iya kan?

Dan hasilnya bisa ditebak, Manana cuma bisa berdoa apa salahku, apa dosaku. Saudara-saudara yang kejam itu terus ngebully Manana sampai akhirnya Manana diusir dari rumah. Manana sih cuma bisa pasrah, akhirnya doi minggat dari rumah. Keluar dari tingkah kejam saudara kandungnya.

Manana lalu berjalan ke arah timur, lari ke hutan lalu belok ke pantai. Kemudian Manana teriak-teriak, lalu pecahkan gelas- wait ini kayaknya puisi dari film sebelah. Maksudnya, akhirnya Manana tiba di suatu pantai gitu loh, terus dia menatap lautan. Kebetulan di pantai itu ada perahu yang sedang menambat.

“Anak muda! Kenapa diam saja di sana! Kalau mau ikut ayo segera naik ke perahu!” ajak Bapak Tua pengayuh perahu.

“Kemana perahu ini akan mengarah, Pak?”

“Pulau Miokbudi, di Biak Timur.”

Manana langsung meloncat ke dalam perahu. Lagian dia juga sudah diusir dari rumah, jadi enggak masalah kalau sekalian pergi ke tempat yang jauh, kan? Setelah sampai di Pulau Miokbudi, Manana membangun gubuk kecil untuk dirinya sendiri dan menaman sagu dan tuak untuk bahan makanan sehari-hari. Setiap hari Manana masak sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri- ups, keterusan nyanyi nanti.

Akhirnya Manana pun hidup dengan bahagia, sejahtera dan sentosa di Pulau Miokbudi. Maunya sih begitu, tapi sayangnya enggak begitu. Semuanya berubah saat lagi-lagi kesialan mampir ke hidup Manana. Persediaan air nira yang disadap Manana buat bikin tuak tiba-tiba raib, hilang tak berbekas. Jelas Manana jengkel. Hidup sepi dan sendiri, ngapa-ngapain dilakukan sendiri eh air nira persediannya malah raib. Kan sebel.

“Pasti ada pencuri nih,” Manana cuma bisa gigit jari. Akhirnya dia memutuskan untuk begadang buat menangkap pencuri yang tidak sopan itu. Begadang asal ada tujuannya gak apa-apa toh?

Manana sembunyi tidak jauh dari tempat persediaan air nira miliknya. Inilah deritanya hidup sendiri, digigit nyamuk juga sendirian. Coba ada teman, kan bisa begadang sama-sama sambil nungguin pencurinya muncul – main gaplek misalnya. Sayang Manana gak punya teman, jadinya harus puas digigit nyamuk yang sadis tanpa kehangatan sendirian. Saat hari hampir Subuh tiba-tiba datanglah seekor makhluk yang meminum habis persediaan air nira. Tanpa babibu makhluk itu langsung ditangkap.

“Hei! Kamu ya yang seenaknya minum persediaan air nira punyaku?”

Yang ditangkap malah meronta-ronta, berusaha kabur. “Lepas! Lepaskan aku!”

“Enak aja minta lepas! Gak lihat persediaanku habis semua?”

Makhluk itu berhenti meronta dan memandang Manana yang masih kesal. “Aku adalah si Bintang Pagi. Biasanya orang memanggilku Sampan. Tolong lepaskan aku.”

Manana masih kesal, jadi ia tetap tidak mau melepas si Bintang Pagi.

“Baiklah, kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mamana mulai berpikir, enaknya minta apa ya?

“Sembuhkan sakit kudisku dan berikan aku istri yang cantik,”

Si Bintang Pagi sih mau banget teriak maruk amat sih lo. Tapi kalau kayak begitu nanti enggak sesuai sama dongengnya. Jadilah ia menjawab, “Pergilah ke pantai, nanti ada pohon Bitanggur. Panjatlah pohon itu dan kalau kamu melihat seorang gadis sedang mandi lemparlah gadis itu dengan sebiji Bitanggur. Nanti gadis itu jadi istrimu.” Fantastis, solusi untuk para jones adalah cukup melempar biji Bitanggur!

Awalanya Manana sangsi, masa sih ngelempar biji Bitanggur bisa dapet istri? Tapi ya sudahlah, dengan patuh ia mengikuti nasihat si Bintang Pagi. Sejak saat itu Manana punya hobi baru, manjat pohon Bitanggur sambil memandang pantai. Syukur-syukur ketemu cewek cantik yang bisa dijadiin istri.

Ternyata hobi baru itu tidak bertahan lama, cewek cantik yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kayaknya sih cantik, karena begitu Manana manjat pohon melihat ada cewek yang mandi langsung aja deh dilempar pakai biji bitanggur. Lagian ceweknya mandi jauh banget kok dari pohon Bitanggur, jadinya Manana enggak bisa lihat wajah si cewek. Tapi walau posisi si cewek jauh dari pohon, tetap aja si cewek kena lemparan biji Bitanggur dari Manana.

Kebetulan, cewek yang sedang mandi itu namanya Insoraki, putri kepala suku dari kampung Meokbundi. Awalnya sih dia enggak merasa terganggu dengan biji Bitanggur. Tapi lama-kelamaan kalau lagi asyik-asyiknya mandi diganggu jengkel juga, akhirnya Insoraki memutuskan untuk cuek aja. Setelah selesai mandi, Insoraki kembali ke kampungnya.

Nah, mulai dari sini tiba-tiba ada gosip beredar kalau Insoraki sedang hamil. Seluruh penduduk kampung Meokbundi pun geger, apalagi Insoraki. Jelaslah, pulang tamasya dari pantai tahu-tahu malah berbadan dua, cewek mana yang enggak kaget? Para penduduk pingin tahu banget, siapakah kiranya yang menghamili Insoraki. Tapi sayang, Insoraki tidak menjawab. Karena memang si doi juga enggak tahu.

Setelah sembilan bulan akhirnya Insoraki melahirkan seorang putra yang diberi nama Konori. Sesuai adat yang berlaku akhirnya digelar upacara peresmian nama, kebetulan Manana datang karena diundang. Saat Manana datang ke kampung, Konori berteriak sambil menunjuk Manana dengan sebutan Ayah. Nah, disinilah baru ketahuan siapa ayah Konori. Akhirnya penduduk kampung menikahkan Insoraki dengan Manana.

Tapi, seperti yang kamu semua tahu tapi mungkin lupa, Manana punya penyakit kudis yang bau banget. Saking bau dan jijiknya, semua penduduk sepakat buat pindah dari kampung. Walhasil di kampung yang luas itu cuma tersisa Manana dengan istri dan anaknya saja. Manana merasa sedih karena istri dan anaknya dihina dan ditinggalkan seluruh rakyat kampung gara-gara dia. Manana sedih banget, saking sedihnya sampai frustrasi hingga akhirnya ia mengumpulkan kayu bakar dan menyulut api. Tanpa prolog apalagi kata pembuka, Manana langsung melemparkan diri ke dalam kobaran api.

Insoraki jelas kaget. Anak masih kecil, apalagi mereka sendirian di kampung. Insoraki belum siap jadi janda. Tidaaakkk!

Tapi tenang, dongeng ini berakhir happy ending kok.

Dari balik jilatan api, tiba-tiba muncullah pemuda yang gagah dan tampan. Wajahnya juga mulus tanpa bopeng apalagi kudis. Itulah Manana atau yang nama aslinya Mananamakrdi. Manana senang banget, akhirnya penyakitnya hilang. Insoraki jelas lebih senang lagi. Suaminya jadi ala-ala karakter gary sue. Ditambah lagi dia enggak jadi janda. Alhamdulillah sesuatu banget. Saking senangnya Manana mengubah namanya menjadi Masren Koreri yang artinya pria yang suci.

Setelah mereka semua berbahagia sejahtera dan sentosa, Manana mengajak istri dan anaknya untuk hijrah dari kampung itu. Sekeluarga itu pun akhirnya pergi berjalan ke hutan lalu belok ke pantai. Kebetulan saat itu sedang berkabut. Ketika matahari semakin lama semakin meninggi akhirnya kabut itu pun lenyap. Tampak oleh mereka pemandangan bukit yang hijau dengan latar belakang langit yang biru.

“Irian… Irian (artinya panas),” teriak Konori sambil menunjuk-nunjuk pemandangan yang mereka saksikan.

“Apa maksudmu Nak? Itu tanah asal nenek moyangmu loh!” Manana heran mendengar ucapan anaknya.

Insoraki tersenyum lembut, “Maksud Konori, saat matahari mulai panas tiba-tiba muncul pemandangan yang indah di hadapan kita.” Insoraki berbaik hati menjadi penerjemah. Manana cuma mengangguk paham, terkesima dengan kemampuan translate Insoraki.

Sejak saat itu, wilayah itu dinamai Irian. Atau sekarang yang kita kenal juga dengan Provinsi Papua.

Sumber: dongengceritarakyat.com

Advertisements
Status

Game Kelas BunSay#4 : Hari 10

Sebagai guru PAUD penting banget buat gue untuk tahu gaya belajar mereka. Apalagi anak umur 3 sampai 5 tahun adalah anak-anak yang masih pingin main-main, otomatis gue sebagai guru PAUD harus pinter gimana caranya ngajarin mereka supaya mereka gak bosen.

Untuk kali ini gue bakal coba nganalisis murid-murid gue berdasarkan absen. Dan anak terakhir yang bakal gue analisis saat ini namanya adalah Nizam. Nizam ini sebenernya anak yang pinter banget, cuma sayangnya di rumah dia kurang perhatian aja. Bapak sama ibunya kerja, di rumah dia tinggal sama kakek dan neneknya. Makanya kalau di PAUD dia kerjaannya cuma mau main-main dan cari perhatian, terutama ke gue. Entah itu nangis, nakal atau apapun yang penting cari perhatian.

Untuk masalah ribut sih dia bukan tipe yang bakal kepengaruh kalau ada ribut-ribut. Tapi sebaliknya, si Nizam ini justrulah sumber keributannya 😛 ya itu tadi, dia nyari perhatian. Kalau lagi mood nulis, ngewarnain dan baca dia mah cepet nangkep, asalkan sebagai guru gue harus ekstra sabar. Dengan Nizam ini kita juga harus pandai-pandai ngatur nada suara. Kapan harus nada tegas, kapan harus nada lembut dan lain-lain.

Nizam ini juga selalu ngoceh, walaupun enggak sebanyak Rozin. Dan kerjaannya suka gigit-gigit jari, walau gue masih belum tahu kenapa dia numbuhin kebiasaan baru ini. Untuk masalah hapalan lagu, Quran dan tepuk Nizam lumayan cepet. Tapi untuk beberapa hal dia harus pakai sistem privat kalau misalnya jiwa pingin ributnya lagi muncul.

Hmm, untuk saat ini sih kepikiran kayaknya Nizam kearah Auditori dan kemungkinan ada Kinestetik nya juga. Cuma itu dia, kalau pingin tahu banget gurunya harus ekstra sabar sama Nizam.

#Tantangan10Hari

#Hari10

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP

Status

Game Kelas BunSay#4: Hari 9

Sebagai guru PAUD penting banget buat gue untuk tahu gaya belajar mereka. Apalagi anak umur 3 sampai 5 tahun adalah anak-anak yang masih pingin main-main, otomatis gue sebagai guru PAUD harus pinter gimana caranya ngajarin mereka supaya mereka gak bosen.

Untuk kali ini gue bakal coba nganalisis murid-murid gue berdasarkan absen. Dan anak ketujuh yang bakal gue analisis saat ini namanya adalah Azka. Azka ini adalah murid gue yang….err…gimana ya…. sangat aktif. Lincah banget, kerjaannya loncat ke sana ke mari, enggak bisa diem. Kalau misalnya disuruh nulis sama baca pasti gak mau dilakuin saat itu juga. Dia baru mau ngerjain kalau ngeliat temen-temennya udah keluar main baru deh dia buru-buru ngerjain supaya bisa ikutan main juga. Padahal dari awal mulai kelas juga dia udah main-main melulu.

Untungnya masalah adab berdoa sebelum dan sesudah dia mau ngikut. Kalau misalnya disuruh baca juga sama banget susahnya kalau disuruh nulis. Makanya biasanya Azka kusurh main-main dulu, nanti kalau udah agak capekan baru kusuruh nulis sama baca. Kadang juga diiming-imingin dapet bintang dulu baru Azka semangat belajar.

Untuk masalah kecepatan belajar Azka sebenernya agak lemah kalau disuruh langsung baca sama nulis. Gue harus pakai sistem privat barulah dia cepet banget belajarnya. Apalagi kalau pakai tepuk sama lagu In Shaa Allah lebih cepet belajar lagi.

Kalau dari gayanya sih Azka lebih ke arah auditori. Inget banget waktu itu dia main-mainin tempat sampah dan langsung aku tegur dengan suara yang lebih tegas dari biasanya. Sejak itu Azka gak pernah lagi mainin tempat sampah. Masih agak curiga kayaknya Azka juga punya sedikit gaya kinestetik. Mungkin masih mau dianalisis sedikit lagi deh.

#Tantangan10Hari

#Hari9

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP

Mendampingi Anak Untuk Mencapai Tujuan

Cemilan Rabu ke 3
Materi ke 4, 20 September 2017

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

Ibarat pertandingan lari antara kelinci dan kura-kura, ada anak yang termasuk si pelari cepat ( fast starter) dalam berprestasi. Anak ini sangat hebat di kelas, cepat menangkap pelajaran. Namun ada anak yang (slow starter) berprestasi. Anak ini biasa-biasa saja, tidak peduli atau iri terhadap prestasi anak lain.

Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu anak-anak ini belajar tanpa dihantui stres berkepanjangan supaya mampu mencapai “garis finish” kehidupannya dengan selamat dan sukses.

Ada orang yang dizaman sekolah biasa-biasa saja, tetapi ternyata sukses sebagai dokter, pengusaha. Sebaliknya ada lagi yang dianggap berprestasi di sekolah, ternyata “tenggelam” sebagai pecundang. Oleh karena itu coba rileks dan biarkan anak berkembang sesuai jadwal yang ditentukan Sang Pencipta.

Anak perlu bermain-main dan bersenang-senang
Otak anak belum dapat dibebani oleh hal-hal berat. Tak heran akibatnya jadi banyak anak mengalami stres. Berikan pembelajaran sesuai usia anak.

Waspadai gairah belajar anak
Waspadailah bila gairah belajar anak menurun, sulit berkonsentrasi, sering sakit, dan sebagainya, ada kemungkinan ia mengalami depresi belajar. Ini pertanda anda butuh pertolongan tenaga profesional.

Agar kita sebagai orangtua bisa mendampingi belajar mereka :

Kenali gaya belajar anak
Gaya belajar seseorang ada tiga macam, auditori, visual, kinestetik. Segera ketahui gaya belajar anak agar tidak salah dalam mengarahkannya

Asahlah rasa ingin tahu anak
Semua anak secara alamiah mempunyai rasa ingin tahu. Cara orang tua merespon pertanyaan-pertanyaan mereka akan menentukan, apakah rasa ingin tahu ini akan berkembang atau mati. Untuk mengembangkan rasa ingin tahu anak :
1. Beri banyak pengalaman kepada anak yang membuatnya mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi dunia.

2. Biarkan anak mencari atau mencoba sesuatu, “Apakah anak ingin tahu apa yang terjadi jika tepung dicampur air? Berikan tepung kepadanya untuk mencoba dan menemukan jawabannya“.

Tujuan sebenarnya sebagai orang tua adalah membantu membesarkan anak menjadi dewasa yang BAHAGIA dan PRODUKTIF. Memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan mereka sebenarnya berarti merusak tujuan sebagai orangtua.

Salam Ibu Profesional.

Tim Fasil Bunda Sayang Batch 2

Sumber :
1. Buku ” Mendampingi Anak Belajar” oleh Femi Olivia
2. Buku Membantu Anak punya Ingatan Super oleh Femi Olivia

 

Status

Game Kelas BunSay#4: Hari 8

Sebagai guru PAUD penting banget buat gue untuk tahu gaya belajar mereka. Apalagi anak umur 3 sampai 5 tahun adalah anak-anak yang masih pingin main-main, otomatis gue sebagai guru PAUD harus pinter gimana caranya ngajarin mereka supaya mereka gak bosen.

Untuk kali ini gue bakal coba nganalisis murid-murid gue berdasarkan absen. Dan anak keenam yang bakal gue analisis saat ini namanya adalah Aqilla. Aqilla ini anak yang cepet banget nangkep pelajaran. Dia gak mudah keganggu konsentrasinya walaupun anak lain ribut-ribut sampai teriak. Dia juga cepet dalam pelajaran mewarnai dan menulis.

Aqilla kalau bicara juga lumayan fasih, mungkin karena pengaruh dia punya tiga kakak perempuan. Selain itu dalam masalah mewarnai dia udah bisa konsep ganti-ganti warna. Beda dengan anak-anak kelasku yang lain yang paling banyak baru bisa empat warna dalam satu gambar. Aqilla pinter banget gonta-ganti warna krayon atau pensil warna. Malahan dia juga bisa kasih masukan untuk anak lain untuk menggunakan warna lain ketika mewarnai.

Dalam masalah membaca Aqilla lumayan standar sih, enggak cepat tapi juga enggak lambat banget. Cuma memang harus ekstra keras supaya dia lebih mudah paham.

Sekilas sih Aqilla kayaknya masuk tipe Auditori, tapi masih mau dianalisis ulang. Walaupun Aqilla ini anak yang cepet dalam pelajaran sayangnya keluarganya enggak terlalu mendukung semangat sekolah anak ini. Jadinya kadang dia masuk sekolah, kadang juga absen begitu aja. Sayang sih, makanya masih mau dianalisis ulang tipe belajar Aqilla yang tepatnya seperti apa.

#Tantangan10Hari

#Hari8

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP

Status

Game Kelas BunSay#4 : Hari 7

Sebagai guru PAUD penting banget buat gue untuk tahu gaya belajar mereka. Apalagi anak umur 3 sampai 5 tahun adalah anak-anak yang masih pingin main-main, otomatis gue sebagai guru PAUD harus pinter gimana caranya ngajarin mereka supaya mereka gak bosen.

Untuk kali ini gue bakal coba nganalisis murid-murid gue berdasarkan absen. Dan anak kelima yang bakal gue analisis saat ini namanya adalah Nada. Nada ini adalah anak yang unik. Karena kalau dengar cerita dari guru lain yang juga tetangganya Nada, ternyata anak ini sejak kecil memang sudah unik. Waktu baru lahir dia lemah banget – kata guru itu sih. Saking lemahnya semua orang yakin Nada gak bisa jalan. Tapi karena orang tuanya terus ikhtiar dan doa, dan usaha terapi kesana kemari, alhamdulillah Nada sehat dan baik-baik saja.

Cuma untuk anak umur 5 tahun memang dia agak mengalami keterlambatan banget. Bicaranya belum jelas dan untuk megang pensil dan nulis aja dia males banget. Waktu pelajaran mewarnai jelas banget Nada males banget sama masalah mewarnai. Amburadul banget.

Tapi mengenai masalah hapalan dan pelajaran lain yang menyangkut tepuk atau lagu, Nada cepet banget hapalnya. Dia juga gampang banget gak konsetrasi kalau udah ada suara ribut-ribut. Emang sih ngomongnya belum jelas,tapi dia merhatiin banget kalau misalnya aku lagi nerangin pelajaran.

Sebenernya dari awal udah jelas kalau Nada ini masuk tipe Auditori. Cuma karena memang ada sedikit kelemahan aku masih coba cari-cari gaya pelajaran yang pas untuk Nada. Sejauh ini sih Nada benar-benar harus privat. Apalagi anak ini masuk tipe cepat bosanan jadinya waktu dia untuk konsentrasi singkat banget. Moga-moga bisa segera ketemu tipe pengajaran yang tepat buat Nada.

#Tantangan10Hari

#Hari7

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP

Status

Game BunSay#4 : Hari 6

Sebagai guru PAUD penting banget buat gue untuk tahu gaya belajar mereka. Apalagi anak umur 3 sampai 5 tahun adalah anak-anak yang masih pingin main-main, otomatis gue sebagai guru PAUD harus pinter gimana caranya ngajarin mereka supaya mereka gak bosen.

Untuk kali ini gue bakal coba nganalisis murid-murid gue berdasarkan absen. Dan anak keempat yang bakal gue analisis saat ini namanya adalah Rozin. Rozin ini adalah anak laki-laki yang nempel banget sama emaknya. Jadi, ketika kami sedang belajar Emaknya Rozin pasti ada dalam kelas, ikutan belajar. Kalau misalnya emaknya coba keluar dikit aja si Rozin pasti teriak jejeritan sampai nangis. Dan kalau udah nangis kayak gitu pasti dia gak bakalan konsen belajar.

Rozin ini juga demen cerita. Kalau misalnya gue nanya sesuatu dia pasti bakal menceritakan sesuatu (entah pengalaman atau rencana dia) yang sebenernya gak ada hubungannya sama pertanyaan gue. Ciri khas Rozin kalau cerita adalah matanya selalu ngeliat ke arah atas. Dan sebagai guru gue biasanya ngebiarin Rozin cerita apapun yang dia mau, biar latihan ngomong di depan orang banyak. Rozin juga kalau setoran baca Al-Quran dan baca buku suaranya keras dan lantang. Dia juga cepet nangkep semua lagu, tepuk, hapalan dan pelajaran.

Untuk Rozin sih sekarang masih ketandanya mungkin dia gaya belajar visual. Karena di beberapa poin Rozin emang nunjukin gaya kayak gitu. Dia cepat belajar dan gak keganggu sama tingkah anak-anak lain yang bikin ribut.

Untuk sekarang sih Rozin bukan tipe anak yang harus diperlakukan dengan spesial. Tapi itu dia, masih bingung gimana cara misahin dia dari emaknya supaya berani masuk kelas sendiri. Hmm, gue masih bingung. Ntarlah dipikir gimana caranya.

#Tantangan10Hari

#Hari6

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunSayIIP