Yang Ditakdirkan : Chapter 1

“Dan akhirnya akan tiba. Dia yang mengharapkan dunia akan menutup Tirani. Perang akan kembali terlaksana. Dan Dia akan terus berjalan di dunia ini untuk kembali menutup kekacauan. Selamanya. Hingga Yang Terpilih tak mengiginkan apapun.”

 

Seorang pemuda menatap seorang nenek tua yang dipaksa berlutut oleh banyak pria dihadapannya. Tatapan matanya dingin, meski begitu tak memungkiri sirat matanya menunjukkan keterkejutan.

“Beraninya kau mengucapkan kata-kata kosongmu disini nenek tua,” hardik pemuda itu dengan tenang.

“Nenek tua itu hanya terkekeh. “Maafkan hamba Yang Mulia,” ucapnya sambil menekankan kata Yang Mulia seakan mengejek. “Darah peramal mengalir dalam denyut nadi tubuh renta ini. Tak ada yang dapat hamba lakukan jika kebutuhan untuk mengucapkannya telah mendesak,”

“Dan itu akan menjadi kata-kata terakhirmu,”

Seakan menjadi pertanda, salah satu pria yang menahan paksa tubuh renta tersebut mengayunkan pedangnya, memisahkan kepala dari tubuhnya. Darah terpecik ke segala arah, termasuk ke wajah pemuda tersebut. Tubuh tanpa kepala tersebut jatuh ke tanah dengan bunyi debam pelan.

“Urus mayatnya. Kuburkan kepalanya terpisah dari tubuhnya,” perintahnya dingin.

“Baik,”

“Dan satu hal lagi…,” semua orang langsung terpaku, bersiap mendengar titah pemuda itu untuk selanjutnya.

“Tutup gerbang dunia ini dan habisi semua penjaganya,”

_000_

Membosankan.

Benar-benar membosankan.

Seorang gadis berjilbab menyusuri jalanan pagi yang mulai ramai. Tak dihiraukannya hiruk pikuk kesibukan pagi maupun suara ramai kendaraan di jalan raya. Tangannya memegang halaman buku yang terbuka sementara matanya lincah menyusuri tiap baris kalimat dalam buku tersebut. Kakinya seakan sudah terlatih untuk melangkah ke arah tertentu dan menghindari berbagai macam hambatan yang mengganggu arahnya berjalan. Sesekali tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan pejalan kaki lainnya, akan tetapi gadis tersebut tak menghiraukannya dan hanya dihadiahi tatapan aneh dari pihak lain yang menubruk tubuhnya.

“DOR!”

Suara dan tepukan keras menghantam tubuhnya, akan tetapi gadis tersebut tetap tak bergeming dan terus melanjutkan acara membacanya.

“Ah, membosankan sekali. Masa enggak kaget, sih?”

Sang gadis menghela napas. “Aku kaget kok,” jawabnya datar.

“Hei, hei. Mana ada orang yang kaget masih tetap baca buku dengan tenang dan menjawabku dengan datar,”

Sang gadis menatap temannya sesaat sebelum akhirnya kembali membaca bukunya dan kembali melangkah, “Aku kaget kok,”

“Hei Qisma, jangan baca buku sambil jalan,” susul temannya sambil berlari.

_000_

Namaku adalah Qisma Keisha Sofia. Aku adalah murid kelas 1 dari SMA Negeri terkemuka di kota Bogor. Sebagai murid sekolah biasa, aku mengalami kehidupan yang biasa saja. Pergi ke sekolah yang dikatakan sebagai salah satu sekolah unggulan negeri, mengikuti ekstrakurikuler yang kuikuti sebagai kewajiban, mengikuti bimbingan belajar yang padat untuk kemudian pulang ke keluarga yang hangat dan saling menyayangi. Untuk lima hari, kehidupanku berjalan dengan begitu biasa.

Eh, sisanya? Maksudmu hari Sabtu dan Minggu?

Aku menghabiskan waktu dengan membantu membereskan rumah untuk kemudian mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca. Sesuatu yang sangat biasa saja.

Jika ada satu hal yang menarik dalam kehidupanku, itu hanyalah satu. Rumahku berada di kota Depok dan sekolahku berada di Bogor. Setiap hari aku berangkat dan pulang sekolah menggunakan kereta api.Itu juga berarti aku berangkat ke sekolah lebih pagi dari siapapun dan pulang sekolah lebih sore dibanding siapapun. Dan jika terjadi sesuatu yang mendadak di sekolah, jangan harap aku mau repot-repot datang. Baiklah, walaupun mungkin aku dipaksa untuk datang jangan berharap aku akan datang secepat mungkin mengingat jarak dan metode yang harus kutempuh untuk pulang dan pergi sekolah.

Dan hari-hari pun kulalui dengan biasa-biasa saja. Tidak, bukan berarti aku tidak mensyukuri hidup yang kujalani. Aku sangat mensyukuri kehidupanku, akan tetapi aku hanya beranggapan bahwa kehidupan yang kujalani terlalu monoton. Sekolah dan rumah adalah kehidupanku sehari-hari. Sungguh monoton. Membosanan.

.

.

“Qisma ini memang punya masalah ya,” seorang murid perempuan sebaya dengan Qisma tertawa dihadapan Qisma, akan tetapi yang ditertawakan hanya memasang wajah datar cemberut. Nama murid tersebut adalah Sanika Ardiningrum.

“Punya masalah?”

“Habis di kehidupan yang berwarna begini, kamu malah bilang ini membosankan itu membosankan. Padahal kalau kulihat kehidupanmu itu cukup menarik loh,”

Qisma menaikkan alisnya, “Contohnya?” tantang Qisma.

“Hmm, misalnya kamu pulang pergi sekolah naik kereta. Itu lumayan menarik. Lalu kamu sekolah di SMA Negeri favorit dan kamu ikut ekskul disini. Lalu, keluargamu pengertian dan penyayang, aku pikir itu semua sudah masuk kategori kalau hidupmu itu menarik,”

“Yah, terima kasih atas pujiannya,” Qisma bertopang dagu sementara matanya melirik pemandangan jalan raya di jendela sebelahnya. Sungguh pemandangan yang membosankan.

“Kalau kamu ngomong begini kamu kayak punya masalah…, apa yang mereka bilang. Oh iya, kamu ini M!”

Masochist.

Qisma hanya menghela napas bosan,” Yah, terima kasih atas perhatianmu,”

Sanika hanya tertawa lepas. “Maaf… maaf, cuma bercanda kok,”

“Aku tidak marah,” Qisma masih terus menatap pemandangan diluar jendelanya.

“Sudah sore, ayo kita pulang,” Sanika bangkit dari kursinya dan mulai menggendong tas ranselnya. Qisma terdiam sesaat sebelum akhirnya ikut bersiap-siap pulang. Mereka melangkah keluar kelas dan keluar area sekolah.

“Hei ini mungkin out of topic, tapi rumahmu pas di dekat stasiun kereta Depok?” Sanika memecah keheningan.

“Memang out of topic sih,”

Sanika tertawa lagi. “Jangan terlalu datar. Jadi bagaimana?”

Qisma terdiam sesaat. “Tidak pas di depan. Tapi setidaknya cukup dekat untuk mendengar suara kereta datang dan aku bisa melihat kereta datang,”

“Rumahmu tingkat?”

“Kamarku ada di tingkat dua,”

Sanika mengangguk paham sementara Qisma menatap tertarik. “Ada apa?”

Sanika menatap Qisma kemudian binary semangat muncul di mata Sanika. “Aku punya cerita menarik tentang itu,”

“Tentang Stasiun Depok?”

“Bukan, tentang kereta,”

“Dan cerita menarik itu…,?”

Sanika menoleh kanan kiri, seakan memastikan bahwa tak akan ada yang mendengar cerita mereka. Tak lama kemudian, gadis itu mulai bercerita dengan dramatis.

“Akhir-akhir ini ada gosip menarik di internet. Katanya setiap hari rabu tepat pukul satu malam mereka yang tinggal dekat rel kereta api mengatakan bahwa selalu ada kereta api yang melaju di rel tersebut dan berhenti sesaat di stasiun untuk kemudian jalan kembali,”

“Kereta api tepat pukul satu malam?”

“Menarik kan? Ada salah satu saksi mata yang mengatakan bahwa ia sempat mengintip dalam stasiun dan ia melihat kereta tersebut. Keretanya terang benderang, tidak ada penumpang dan sedang berhenti di salah satu stasiun. Saat ia ingin menghampiri kereta tersebut mendadak saja pintu kereta tersebut menutup dan berjalan kembali.

“Hoo,”

“Mengerikan, kan? Bayangkan, tidak ada satu orang pun yang terlihat menjalankan kereta tersebut, tapi kereta itu bisa berjalan sendiri. Selain itu tengah malam begitu siapa yang mau menjalankan kereta tersebut?”

“Yah, memang mengerikan sih,”

“Nah itu dia! Mengerikan kan? Misteri kan? Karena itu…,” Sanika menepuk pelan pundak Qisma, “Nanti malam tolong dipastikan mengenai kereta horror itu,”

“Hah? Jadi itu maksudnya kenapa kamu bertanya rumahku dimana?”

“Tentu saja,” Sanika tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Lagipula siapa tahu saja cerita horror ini jadi salah satu hal yang akan membuat hidupmu menjadi tidak membosankan,”

“Yang benar saja, itu merepotkan…,”

“Pokoknya nanti malam harus lihat ya! Nanti aku kabarin lagi lewat handphonemu!” Sanika berlari menjauhi Qisma sambil tertawa sebelum akhirnya menghilang dari pandangan.

“Hei…dasar,” gumam Qisma lemah. Gadis itu menggeleng lemah sebelum akhirnya menyebrangi jalan raya yang padat dan memasuki area stasiun yang ramai.

_000_

Qisma duduk bersender di salah satu gerbong kereta khusus perempuan menuju arah Depok. Tangannya menggenggam smartphone miliknya sementara matanya menelusuri mengenai gosip kereta yang baru didengarnya dari Sanika. Sepertinya gosip itu memang sangat terkenal dan sudah tersebar luas akan tetapi sama sekali tidak mempengaruhi para pengguna kereta. Buktinya banyak orang yang berdiri berdempetan di gerbong campuran dan masih banyak orang yang menunggu kereta di stasiun Bogor tadi.

Qisma menutup layar smartphonenya dan memilih untuk mendengarkan lagu melalui headphone yang terpasang ke ponselnya. Setidaknya lagu-lagu yang mengalun melalui playlistnya bisa mengurangi kebosanan. Pikirannya tak lagi tertuju pada gosip yang baru didengar dan dibacanya. Semuanya hanya omong kosong. Cerita horror itu hanyalah akal-akalan saja, buktinya Qisma masih tetap merasa bosan seperti biasanya.

Pengumuman kereta berbunyi, menandakan posisi stasiun yang akan mereka singgahi. Qisma bersiap-siap dan menunggu di depan pintu kereta. Kereta perlahan melambat dan kemudian berhenti sama sekali. Pintu kereta membuka, Qisma melompat turun kereta bersama beberapa penumpang lainnya. Meskipun yang turun dari kereta cukup banyak akan tetapi yang naik tidak kalah banyaknya.

Qisma melangkahkan kakinya hingga keluar dari peron kereta, menyiapkan tiketnya untuk keluar dari palang stasiun sambil mendengarkan playlist lagu miliknya. Tangannya secara otomatis mengulurkan tiket kereta langganannya akan tetapi sudut matanya menangkap sesuatu yang lain. Petugas stasiunnya adalah seorang pria tua dengan wajah yang ramah. Sepertinya pria itu menangkap sudut pandangan Qisma karena setelahnya pria itu tersenyum sambil menyentuh tepi topi miliknya. Qisma tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan dan kembali berjalan.

Entah kenapa Qisma menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pria tua itu. Tak ada hal yang istimewa. Pria itu masih sibuk mengawasi para penumpang menempelkan tiket kereta mereka di palang stasiun. Qisma kembali melangkahkan kakinya. Mungkin pria itu adalah hanyalah seorang petugas stasiun yang baru dilihat Qisma hari ini.

_000_

Qisma terbangun dari tidurnya. Kepala dan lengannya sakit sekali. Rupanya gadis itu tertidur di meja belajarnya saat ia sedang menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Qisma memandangi bukunya sebelum akhirnya menatap jam wekernya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam dan Qisma belum menyelesaikan PR Geografi dari lembar buku LKSnya. Selain itu perut gadis itu sangat lapar. Menyerah, Qisma bangkit dari posisinya dan keluar kamarnya untuk turun ke ruang makan.

Suasana rumah sangat sepi dan gelap. Hal yang wajar mengingat waktu menunjukkan hampir tengah malam. Untunglah keluarganya masih menyisakan makan malam untuk Qisma, kalau-kalau gadis itu terbangun dari tidurnya dan mau makan. Qisma menghabiskan jatah makan malamnya dengan cepat dan langsung kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan PRnya. Ia tidak mau tidur terlalu larut karena besok gadis itu harus bangun pagi untuk berangkat sekolah.

Waktu terasa sangat cepat sekali dan akhirnya Qisma menyelesaikan PR Geografinya. Gadis itu melirik kembali jam wekernya dan mendapati hari hamper pukul satu malam. Tepatnya sekitar 20 menit lagi menuju pukul satu dini hari. Qisma meraih ponselnya dan mendapati Sanika mengirimi banyak pesan ke ponselnya. Intinya hanya satu, mengingatkannya untuk menyaksikan kebenaran gossip kereta itu. Qisma mendengus pelan sebelum akhirnya bangkit dan mulai membereskan tasnya, mempersiapkan keperluan sekolah esok hari.

Gadis itu telah selesai membereskan tasnya dan bersiap-siap akan tidur, tak lupa menyetel wekernya agar ia bisa terbangun sesuai jadwalnya yang biasa sebelum suara yang aneh tertangkap indera pendengarannya. Gadis itu menatap weker digenggamannya, jarum jam menunjukkan tepat pukul satu. Qisma terburu-buru menghampiri jendela kamarnya, akan tetapi tidak ada hal yang aneh. Jalanan sangat lenggang bahkan tidak ada satupun orang ada di jalan. Ia bahkan bisa melihat stasiun kereta sepi dan gelap. Akan tetapi suara itu bukannya semakin melemah tetapi semakin keras.

Dan saat itu Qisma melihatnya. Kereta yang terdiri dari beberapa gerbong mulai memasuki Stasiun Depok. Gerbong kereta itu sangat terang benderang akan tetapi tidak ada satupun penumpang yang terlihat dari jendela gerbong tersebut. Kereta tersebut berhenti total dan sepertinya membuka pintu gerbongnya, akan tetapi tidak ada penumpang yang masuk maupun keluar dari gerbong tersebut.

Kaki Qisma bergetar, dengan segera ia meraih ponselnya dan mencoba mengaktifkan kamera ponselnya. Tepat saat kameranya menangkap obyek kereta yang dimaksud, kereta tersebut mulai melaju perlahan kemudian cepat hingga akhirnya tak terlihat lagi meskipun Qisma telah menjulurkan kepalanya keluar jendela. Suasana kembali tenang, akan tetapi tidak ada satu orangpun yang terbangun atau memeriksa keadaan padahal suara kereta tersebut sangat keras di tengah malam ini.

Qisma menatap layar ponselnya untuk kembali meneliti gambar yang ia ambil. Gambar ponsel tersebut hanya menggambarkan suasana stasiun yang sepi dan gelap tanpa ada gerbong kereta yang terang benderang. Sekali lagi, tidak ada gerbong kereta yang terang benderang. Hanya stasiun yang sepi dan gelap, dengan lajur kereta yang kosong tanpa ada kereta apapun.

Qisma jatuh terduduk, kakinya terasa lemas. “Ini mimpi?” gumamnya tak pasti.

_000_

A/N: Awal mula dari cerita yang harusnya sih dijanjiin selesai tengah Mei 2015. Tapi…baru ditulis sekarang. Astaga… kagak tepat waktu banget ya. Untuk grup PK (Pecinta Kata) ini adalah awal mula cerita yang dulu banget sempet kita janjiin ya. Mohon dinikmati… mungkin?