Aside

“Kenapa Aku Tidak Punya Ayah?”

Disclaimer: Dari otak saya pribadi 😛

Warning: Plotless, ambigu, gak jelas, dkk

.

.

.

“Kenapa aku tidak punya ayah?”

Itu adalah pertanyaan yang selalu kuulang dalam hatiku semenjak aku masih kecil.

Ya. Kenapa aku tidak punya ayah?

Dan ibuku dengan lembut akan mengusap kepalaku dan tersenyum, “Ayah ada di tempat yang sangat jauh. Kita tidak bisa bertemu dengannya lagi,” gumam Ibu dengan suara yang sedih.

Meskipun begitu, terkadang ibu akan menceritakan kepadaku bagaimana ibuku sangat mencintai ayahku. Betapa baik dan hebatnya ayahku. Meskipun aku tak pernah bertemu ayahku, tapi bisa kupahami betapa luar biasanya ayahku. Dan betapa ibuku sangat mencintainya.
.
.
.
Aku berada dalam hutan tak jauh dari rumahku berada. Bibi Latifa, adik ibuku memelukku dari belakang dan menutup mulutku. Mencegahku untuk berlari menyongsong ibuku maupun berteriak padanya.

Mataku menatap liar. Ibuku bilang aku harus patuh pada bibi Latifa. Ibuku bilang apapun yang terjadi aku tidak boleh keluar dari tempat aku bersembunyi. Aku anak baik, aku tahu itu. Ibu ingin aku terus bersembunyi dan patuh pada bibi Latifa. Tapi aku ingin sekali berlari menyongsong ibuku.

Di depan sana ibuku berdiri seorang diri dan dikelilingi para tentara yang mengacungkan senapan mereka kepada ibuku. Aku tak mengerti, apa salah ibuku? Ibuku adalah orang yang baik.

Lalu tetanggaku? Paman Alfred, Bibi Kathy, Kakek Albus? Kenapa mereka hanya diam saja? Kenapa mereka tidak menolong ibuku? Malahan
 mereka malah meneriakkan sesuatu yang tak kupahami. Satu hal yang pasti, mereka berteriak marah pada ibuku. Apa salah ibuku pada mereka?

Ibuku pun diseret paksa ke sebuah tiang kayu yang ditancapkan begitu dalam ke tanah. Ibuku diikat sehingga tak bisa bergerak. Para tentara tetap saja mengacungkan senapan mereka sementara para penduduk desa mengumpulkan kayu bakar, meletakkannya disekeliling ibuku.

Aku masih meronta, berusaha melepaskan diri dan bibiku. Tapi bibiku menahan tubuhku semakin kuat. Aku bisa merasakan air mata mulai mengalir di pipiku. Kulihat seorang tentara berpakaian berbeda mendekati ibuku. Pakaiannya berwarna putih dan ada warna emas sementara tentara yang lain memakai seragam berwarna abu-abu dan hitam. Mungkinkah dia pemimpinnya?

Tapi pemimpin itu tidak menolong ibuku. Entah apa yang dia lakukan, tapi mendadak semua penduduk termasuk tentara melemparkan api menuju ibuku. Api itu menyebar, menjilati semua kayu yang disusun rapi mengelilingi ibuku.

Dan hal terakhir yang kuingat adalah, Bibi Latifah menutup mataku dan menggendongku pergi dari sana.

_000_

Aku memandang tajam pada pria berumur baya yang duduk dengan santai dihadapanku. Dua belas tahun telah berlalu dan aku bertualang untuk mencari tahu, kenapa ibuku dibunuh oleh para tentara itu. Pria dihadapanku mampu menjawab pertanyaan tersebut, karena ialah yang pada saat itu berdiri berhadapan dengan ibuku untuk terakhir kalinya.

“Kau beruntung muncul bersama putraku, dan aku juga telah menjamin keselamatanmu,” ucap pria tersebut.

Aku melirik sesaat pemuda yang lebih tua tiga tahun dariku, Lancelot. Kami bertemu secara kebetulan di suatu desa, aku sedang dalam perjalananku mencari kebenaran mengenai kematian ibuku dan ia sedang berkelana mencari pengetahuan mengenai suatu suku yang disebut “Pembaca Cuaca”. Kami berkelana bersama, mengalami berbagai macam hal bersama hingga akhirnya kami sampai di tempat ini.

“Katakan padaku, siapa namamu wahai gadis muda,” perintah pria tersebut.

“Sophia,” ujarku tegas. Pria itu mengangguk, “Nama yang indah, mirip dengan Ibumu. Bisa kulihat kau mewarisi kebijaksanaan ibumu,”

“Katakan kepadaku, mengapa kau membunuh ibuku?”

Pria itu tidak menjawab.

“Apa salah ibuku kepadamu?” suaraku mulai bergetar.

“Satu-satunya kesalahan ibumu adalah, ia terlahir sebagai anggota terakhir dari suku pembaca cuaca,” ujar pria tersebut, “dan kuasumsikan kau juga mewarisi bakat pembaca cuaca.”

Mataku melotot.

“Dan takdir setiap pembaca cuaca tidak ada yang lain, selain kematian,”

.

.

.

_000_

(Lancelot POV)

Sophia jatuh pingsan dan aku menangkapnya, mencegah tubuhnya jatuh di kerasnya lantai marmer. Tentu saja gadis ini pingsan. Memang benar kata pepatah, ada beberapa hal yang justru akan lebih baik untuk tidak dikatakan. Aku memandangi wajahnya yang pucat. Pucat tetapi cantik.

“Katakan satu hal padaku, ayah” aku membuka suaraku dan ayahku memandangi Sophia dengan tatapan – aku tak yakin – terluka(?).

“Tanyakan yang ingin kau ketahui,”

“Aku adalah anak jalanan yang kau pungut sebagai anakmu,” aku bergumam lambat, “apakah Sophia adalah anakmu yang sebenarnya?”

Ayahku hanya menutup matanya. Wajahnya yang tua semakin terlihat lelah dan terluka.

“Kenapa? Kenapa kau membunuh istrimu sendiri? Bahkan kau hendak melakukan hal yang sama pada anakmu?” tuntutku dengan geram.

Ayahku hanya menghela napas lelah.

“Ada beberapa hal yang justru akan lebih baik untuk tidak diucapkan,”

Aku menyipitkan mataku, tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh ayahku. Aku mendengus sebal dan mengangkat tubuh Sophia, membawanya ke kamar kosong untuk mengistirahatkan tubuhnya.

“Aku akan melindunginya,” ucapku tanpa melihat ayahku.

“Lakukanlah. Lakukanlah hal yang tak mampu kulakukan kepada istri dan anakku,” ujarnya sedih. Kulihat ayahku menatap langit mendung dengan sedih.

Aku keluar dari ruangan tersebut.

_000_

“Kenapa aku tidak punya ayah?”

“Ayahmu ada di tempat yang sangat jauh, kita tidak bisa lagi bertemu dengannya,”

.

.

.

Ya. Ayahmu terlampau jauh, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain pergi dari sisinya.

 

_000_

A/N: Maaf ya aneh. Sebenarnya ini ide cerita kasar yang entah kenapa menuntut ditulis. Masih draft kasar jadi lebih baik diikutsertakan di challenge IOCWP. Temanya sih tentang ayah, tapi sesuai gak sih? Ya udahlah ya 😛

Cerita ini berhubungan dengan cerita yang saya post Fajar, Bintang dan Celoteh Hujan . Silahkan dibaca ya~

Advertisements
Aside

Tambahan Script SAO – English Version

Narrative

Gun Gale Online, a game based on VRMMO (Virtual Reality Massively Multiplayer Online) developed by ZASKAR company, a gaming company from America. This game is a virtual reality game where the situation is made as real as possible, and the players are able to fight each other by using a system of firearms taken from the real world.

In April 2025, the world technologies growing sophisticated including gaming technology. By using a tool called AmuSphere, players can freely enter the game world and control their body as real as the real world.

All of this initially happened when I and my friends stuck in an online game called Sword Art Online. We managed to stop the creator of the game, Kayaba Akihiko, and managed to get out of that horrible game.

Originally I thought I would live a quiet life as before, but …

PETUGAS : (bertopang dagu) is it possible if we shoot someone inside the game, they would also die in the real world?

KIRITO:  (wajah tegas dan serius) It’s impossible!

PETUGAS: Some players died in the real world while they are playing Gun Gale Online.

KIRITO: (wajah kaget, bingung dan hanya diam)

PETUGAS: I want you to investigate this case!

Japanese government can not do anything. The developer ZASKAR in America declined to give GGO gamer personal data based on players confidentiality. And this is where I belong. Together with SINON, a fellow players in GGO. I tried to investigate homicides that occur in online games and also in the real world.

Situasi gelap dengan latar belakang hitam, DEATHGUN mengangkat pistolnya dan mengacungkan senjata pistolnya ke kamera.

DEATHGUN: It’s Show Time (Suara tembakan pistol)

Kondisi layar berubah jadi garis-garis seperti TV kehilangan sambungan saluran kemudian gelap.

.

.

.

.

  1. INT. DALAM CAFÉ – SIANG

KIRITO:  (kedua tangan bertopang menutup mulut, menutup mata kemudian membuka matanya) That’s all!

ASUNA: (terkejut sesaat langsung berdiri menggebrak meja) No! What do you mean?!

Pengunjung cafe langsung melirik kearah mereka.

LISBETH: Hey hey, Asuna! You are too loud! (sambil melirik sekeliling)

ASUNA: (langsung duduk dan menunduk malu) So-sorry.  (matanya melirik kanan dan kiri tapi kepalanya tidak ditolehkan) KIRITO-kun! What do you mean by investigating it?

LISBETH: (menghela napas) I agree KIRITO-kun. We just escape from that horrible SAO. Why would you want to involve in a dangerous thing again? >> pas kata again ditekankan

KIRITO: (menghela napas dan meminum tehnya, meletakkan cangkir baru menjawab) I have a guess.

LISBETH dan ASUNA menunggu tapi KIRITO tidak melanjutkan.

ASUNA: And that is?

KIRITO: (terdiam, matanya menatap cangkir tehnya) I cannot tell you. Not yet.

LISBETH: (menghela napas tapi masih menatap KIRITO dan tidak mengatakan apapun).

ASUNA: (menghela napas, wajah menengadah keatas sambil menutup mata sesaat sebelum akhirnya menatap kembali KIRITO) Are you really sure?

KIRITO: (menatap ASUNA dan mengangguk pelan)

ASUNA: (terdiam ekspresi wajah tidak yakin sebelum akhirnya tersenyum lemah) One thing KIRITO-kun. Promise me that you must live and return to the real world.

LISBETH: Hey-hey ASUNA! How could you?

ASUNA: It’s useless, no matter what we say if KIRITO-kun has decided we can not change his mind. (Menoleh ke KIRITO dan tersenyum) Right?

KIRITO: (tersenyum dan mengangguk).

LISBETH: Hah! I cannot believe you two!

KIRITO dan ASUNA tersenyum menadangi LISBETH.

.

.

.

  1. INT. KAMAR TIDUR/RUMAH SAKIT – MALAM

KIRITO menatap AmuSpherenya sesaat. Tidur di tempat tidur dan mengaktifkan AmuSphere.

KIRITO: Link Starto!

.

.

.

KIRITO membuka matanya dan ia sudah ada di dalam dunia GGO. SINON ada disampingnya.

KIRITO: I am expecting you, SINON! (sambil tersenyum).

SINON: (menatap tajam KIRITO) Don’t you dare to die! (melangkah pergi membelakangi KIRITO)

KIRITO: (tersenyum memandangi punggung SINON)

.

  1. INT. CAFÉ – MALAM

ASUNA sedang duduk di café, terdiam. Tangannya mengenggam gelas minumannya dan matanya memandang gelasnya. Ekspresi wajahnya sedih.

LISBETH: I knew it! I thought you’d be here.

ASUNA: (menatap LISBETH yang sudah duduk dihadapannya) How do you know I was here, LIZ?

LISBETH: (duduk menyender) Well, even if you look understand KIRITO the most, but you are still worried about him right?

ASUNA: (hanya tersenyum terdiam)

LISBETH: Don’t worry. He is KIRITO, the strongest swordsman. He will be alright, so we have to trust him! (senyum menyemangati).

ASUNA: (memandang LISBETH sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk) Hmm.

Terdengar suara heboh, LISBETH dan ASUNA memandang ke kumpulan orang yang sedang menonton televisi Café. LISBETH dan ASUNA mendekati kumpulan tersebut.

TAMU 1: Great! I think that move can only be done in the movies!

TAMU 2:  Bullets versus swords! Incredible!

ASUNA dan LISBETH memandangi televisi yang sedang menyiarkan siaran turnamen Bullet of Bullets 3.

ASUNA: (wajah terkejut khawatir) KIRITO-kun!

Aside

Tambahan Script SAO – SAO Project

NARASI

Gun Gale Online, merupakan sebuah game berbasis VRMMO (Virtual Reality Massively Multiplayer Online) yang dikembangkan oleh perusahaan ZASKAR, sebuah perusahaan game yang berasal dari  Amerika. Game ini adalah sebuah game reality virtual dimana keadaannya dibuat senyata mungkin dan para pemainnya mampu saling bertarung satu sama lain dengan menggunakan sistem senjata api yang diambil dari dunia nyata.

Pada April tahun 2025,  teknologi dunia semakin canggih termasuk teknologi game. Dengan menggunakan alat bernama AmuSphere, para pemain dapat bebas memasuki dunia game dan mengendalikan tubuh mereka seperti di dunia nyata.

Semua ini awalnya terjadi saat aku (KIRITO) dan teman-temanku terjebak dalam sebuah game online berjudul Sword Art Online. Kami berhasil menghentikan pencipta game tersebut, Kayaba Akihiko, dan berhasil keluar dari game mengerikan tersebut.

Awalnya aku berpikir aku akan menjalani hidupku yang tenang seperti semula, akan tetapi


PETUGAS : (bertopang dagu) Menurutmu jika kita menembak seseorang di dalam game, apakah mereka bisa mati di dunia nyata?

KIRITO:  (wajah tegas dan serius) Itu mustahil!

PETUGAS: Beberapa pemain meninggal saat mereka bermain Gun Gale Online.

KIRITO: (wajah kaget dan hanya diam)

PETUGAS: Aku ingin kau menyelidiki semua ini.

Pemerintah Jepang tidak bisa melakukan apapun. Pihak pengembang ZASKAR Amerika menolak memberikan informasi para pemain game Gun Gale Online dengan alasan kerahasiaan data pribadi. Dan disinilah aku berada. Bersama Sinon, sesama pemain GGO. Aku berusaha menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi di dalam game online dan dunia nyata.

Situasi gelap dengan latar belakang hitam, DEATHGUN mengangkat pistolnya dan mengacungkan senjata pistolnya ke kamera.

DEATHGUN: It’s Show Time (Suara tembakan pistol)

Kondisi layar berubah jadi garis-garis seperti TV kehilangan sambungan saluran kemudian gelap.

.

.

.

  1. INT. DALAM CAFÉ – SIANG

KIRITO: (kedua tangan bertopang menutup mulut, menutup mata kemudian membuka matanya) Begitulah ceritanya.

ASUNA: (terkejut sesaat langsung berdiri menggebrak meja) Tidak boleh! Apa maksudnya itu!

Pengunjung cafe langsung melirik kearah mereka.

LISBETH: Hei hei, ASUNA! Suaramu terlalu keras (sambil melirik sekeliling).

ASUNA: (langsung duduk dan menunduk malu) Ma-maaf. (matanya melirik kanan dan kiri tapi kepalanya tidak ditolehkan) KIRITO! Apa maksudmu dengan menyelidiki hal itu?

LISBETH: (menghela napas) Aku setuju KIRITO-kun. Kita baru saja terbebas dari peristiwa mengerikan di SAO. Kenapa justru kau ingin terlibat hal yang berbahaya lagi?

KIRITO: (menghela napas dan meminum tehnya, meletakkan cangkir baru menjawab) Aku punya dugaan.

LISBETH dan ASUNA menunggu tapi KIRITO tidak melanjutkan.

ASUNA: Dugaan apa?

KIRITO: (terdiam, matanya menatap cangkir tehnya) Aku masih belum bisa memberitahu kalian.

LISBETH: (menghela napas tapi masih menatap KIRITO dan tidak mengatakan apapun).

ASUNA: (menghela napas, wajah menengadah keatas sambil menutup mata sesaat sebelum akhirnya menatap kembali KIRITO) Apa kau sudah yakin?

KIRITO: (menatap ASUNA dan mengangguk pelan)

ASUNA: (terdiam ekspresi wajah tidak yakin sebelum akhirnya tersenyum lemah) Satu hal KIRITO-kun. Berjanjilah kau harus terus hidup dan kembali ke dunia nyata.

LISBETH: Hei-hei ASUNA! Apa-apaan itu?

ASUNA: Percuma saja, tak peduli apa yang kita katakan jika KIRITO-kun sudah yakin kita tidak bisa merubah pendiriannya. (Menoleh ke KIRITO dan tersenyum) Iya kan?

KIRITO: (tersenyum dan mengangguk).

LISBETH: Hah! Aku benar-benar tidak mengerti kalian!

KIRITO dan ASUNA tersenyum menadangi LISBETH.

.

.

.

  1. INT. KAMAR TIDUR/RUMAH SAKIT – MALAM

KIRITO menatap AmuSpherenya sesaat. Tidur di tempat tidur dan mengaktifkan AmuSphere.

KIRITO: Link Starto!

.

.

.

KIRITO membuka matanya dan ia sudah ada di dalam dunia GGO. SINON ada disampingnya.

KIRITO: Mohon bantuannya, SINON! (sambil tersenyum).

SINON: (menatap tajam KIRITO) Jangan sampai mati! (melangkah pergi membelakangi KIRITO)

KIRITO: (tersenyum memandangi punggung SINON)

  1. INT. CAFÉ – MALAM

ASUNA sedang duduk di café, terdiam. Tangannya mengenggam gelas minumannya dan matanya memandang gelasnya. Ekspresi wajahnya sedih.

LISBETH: Sudah kuduga kau pasti disini.

ASUNA: (menatap LISBETH yang sudah duduk dihadapannya) Kenapa kau tahu aku ada disini, LIZ?

LISBETH: (duduk menyender) Yah, walaupun kau terlihat paling mengerti KIRITO, tapi kau memang sangat mengkhawatirkannya kan?

ASUNA: (hanya tersenyum terdiam)

LISBETH: Jangan khawatir. Dia adalah KIRITO sang pendekar berpedang yang sok kuat. Karena itu, kita harus percaya padanya (senyum menyemangati).

ASUNA: (memandang LISBETH sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk) Hmm.

Terdengar suara heboh, LISBETH dan ASUNA memandang ke kumpulan orang yang sedang menonton televisi Café. LISBETH dan ASUNA mendekati kumpulan tersebut.

TAMU 1: Hebat! Kupikir yang seperti itu cuma bisa dilakukan di film-film!

TAMU 2: Peluru dilawan dengan pedang! Hebat sekali!

ASUNA dan LISBETH memandangi televisi yang sedang menyiarkan siaran turnamen Bullet of Bullets 3.

ASUNA: (wajah terkejut khawatir) KIRITO-kun!

Aside

Script IOC – Project SAO

  1. EXT. JALAN ANTAR GEDUNG – SIANG

DEATHGUN berlari menyusuri jalanan sementara KIRITO mengejar dibelakangnya. DEATHGUN berlari membelok dan KIRITO masih mengikuti. KIRITO membelok tetapi ia tak melihat DEATHGUN dimanapun. KIRITO berhenti berlari dan menoleh kesana kemari untuk mencari DEATHGUN.

Terdengar bunyi tembakan dan bahu KIRITO tertembak dari belakang. KIRITO kaget dan membalikkan badan tapi tak ada siapapun. KIRITO menoleh kesana kemari tapi tertembak lagi di bagian kakinya dari belakang. KIRITO membalikkan badannya dan laser berwarna merah mulai muncul di kepala tapi KIRITO mengindari Laser bermunculan di daerah jantung tapi KIRITO menghindar lagi. Laser merah muncul di daerah lengan kiri tapi tidak kena.

DEATHGUN muncul dari kekuatan sembunyinya.

DEATHGUN: Kukuku, kau memang hebat. Mampu menghindar dari tembakanku.

KIRITO memasang wajah waspada.

DEATHGUN: Tapi kita lihat, apakah kau mampu menghindari ini semua?

Laser dalam jumlah banyak mulai bermunculan di seluruh tubuh KIRITO tetapi KIRITO mampu menghindari semuanya dengan menggunakan Sabernya. KIRITO masih meloncat kearah belakang saat ia ingin menaruh kaki kirinya ke tanah, laser merah ada di kaki kiri KIRITO. DEATHGUN belum sempat menembak kaki kiri KIRITO karena senapan DEATHGUN sudah ditembak oleh SINON.

  1. INT. DALAM GEDUNG TERLANTAR – SIANG – KEADAAN GELAP

SINON berlari dalam gedung terlantar, tangannya memegang senapan. SINON mendadak berhenti lari dan sampai di jendela gedung. Senapannya langsung diarahkan kearah KIRITO yang sedang menghindari tembakan DEATHGUN.

 SINON: Bismillah, disini! (Ucapan dalam hati)

SINON mengarahkan senapannya kearah DEATHGUN. SINON menembak DEATHGUN. Tembakan SINON mengenai DEATHGUN. Akan tetapi DEATHGUN langsung bereaksi saat laser SINON mengenai DEATHGUN.

SINON dan DEATHGUN saling bertatapan melalui teroping senapan. SINON dan DEATHGUN menembak senapan musuh mereka masing-masing sehingga hancur.

 SINON mengaktifkan mata snipernya kearah DEATHGUN. DEATHGUN meraih senapan baru. SINON memandang kearah KIRITO yang sedang berlari menuju DEATHGUN sambil mengibaskan pedang sabernya. DEATHGUN terus menerus menembaki KIRITO.

Salah satu peluru yang ditebas terpecah menjadi dua oleh saber KIRITO terbang kearah kanan dan kirinya. Peluru yang mental ke kanan mengenai tiang besi raksasa yang terjatuhsehingga debu beterbangan. Peluru yang mental ke kiri mengenai lampu sehingga pecahan kaca lampunya jatuh berhamburan. KIRITO terus berlari diantara debu dan kaca berjatuhan sambil terus menebas peluru.

SINON: Kirito! (teriak kaget). Dasar bodoh, berlari tanpa perlindungan seperti itu. Cih!

SINON membalikkan badan dan berlari.

  1. EXT. LAPANGAN – SIANG

DEATHGUN terus menerus menembaki KIRITO. KIRITO terus mengayunkan pedang sabernya menebas peluru sambil tetap berlari. Adegan terus seperti itu hingga KIRITO berjarak 5 meter dari DEATHGUN. Terdengar bunyi tembakan senapan sebanyak dua kali. KIRITO masih berlari sambil menebas peluru.

KIRITO: (Dalam hati) Bunyi tembakan dua kali? Dimana peluru keduanya


KIRITO: (Ucapan dalam hati dan dalam keadaan freeze) Begitu rupanya, peluru kedua ditembakkan tepat setelah peluru pertama, sehingga keberadaanya tersembunyi.

KIRITO berusaha menggerakkan tubuhnya. DEATHGUN berjalan menghampiri KIRITO yang terjatuh.

DEATHGUN: Kukukuku,mungkin kau memang ahli berpedang. Tapi disini akulah yang ahli menembak.

DEATHGUN menenteng pistolnya, mengokangnya dan mengarahkan ke KIRITO.

DEATHGUN: It’s Show Time


Bunyi tembakan disusul DEATHGUN jatuh telentang.

SINON: Bukan cuma kau yang ahli menembak!

SINON menembakkan pistolnya sambil berlari menghampiri KIRITO dan DEATHGUN.

SINON: KIRITO!

KIRITO: (masih berusaha bergerak dari keadaan freeze) Cepatlah! Tubuhku
! Tolonglah
 tubuhku
!

DEATHGUN bangkit dari posisi telentang dan duduk. Wajahnya menengadah ke atas dan tangannya menempel di daerah dahi. DEATHGUN menatap KIRITO, topeng besinya retak di bagian dahi.

DEATHGUN: Kukuku, aku lengah! Tapi kali ini bersiaplah! (sambil mengacungkan pistol ke KIRITO)

KIRITO masih dalam keadaan freeze menatap tajam DEATHGUN. SINON sambil berlari membidik DEATHGUN dan menembak. DEATHGUN menghindar akan tetapi tembakan dari SINON terus berlanjut, DEATHGUN terus menghindar. Salah satu peluru SINON mengenai tiang lampu jalan yang kemudian jatuh, menghasilkan efek debu beterbangan.

Tangan KIRITO bisa bergerak sedikit dan meraih pedang saber. DEATHGUN masih sibuk menghindari tembakan SINON. DEATHGUN menembak SINON dan terdengar dua bunyi tembakan.

SINON melompat ke belakang tapi langsung jatuh tengkurap. Wajah SINON kaget dan melotot.

SINON: (dalan hati) Bagaimana bisa?

DEATHGUN: Kukukuku, lalat kecil berhenti mengganggu.

DEATHGUN menoleh kearah KIRITO dan berjalan menghampiri. Tepat di depan wajah KIRITO berhenti dan menodongkan pistol.

DEATHGUN: Now, It’s really show time!.

Bunyi tembakan tapi KIRITO berhasil bangkit dan menebas peluru disertai pistol. DEATHGUN mundur ke belakang. KIRITO memasang kuda-kuda, wajah KIRITO serius. KIRITO berlari menerjang DEATHGUN. DEATHGUN mengeluarkan pedang lipatnya dari balik punggungnya dan menahan lengan pedang KIRITO dengan lengannya. Tangan kanan DEATHGUN cepat  meraih pistol dan mengarahkan ke wajah KIRITO.

KIRITO menghindar ke belakang tapi DEATHGUN menembak lagi. KIRITO menebas peluru dengan pedangnya. DEATHGUN menyerang KIRITO dengan pisau dan pistolnya. KIRITO menebas peluru sambil berusaha menebas tubuh lawan. DEATHGUN berhasil menghindar dan menangkap dan menahan masing-masing tangan KIRITO.

KIRITO dan DEATHGUN berusaha menggerakkan lengan mereka yang tertahan kearah lawan masing-masing. KIRITO menggeretakkan gigi dan keringat mengalir.

DEATHGUN: Ini akan jadi yang terakhir.

Bunyi tembakan, SINON menembak dengan pistolnya, giginya menggeretak. DEATHGUN terkena tembakan di perut kanannya. Lengannya melemah dari posisi.

KIRITO: Inilah akhirnya! (teriak sambil menebas pedang)

DEATHGUN tertebas dari atas ke bawah. Tubuhnya terbelah kanan kiri dan terjatuh. Status death muncul di tubuh DEATHGUN.

SINON: (terengah dan bergumam) KIRITO!

KIRITO jatuh terlentang. SINON jatuh terduduk.

KIRITO: Alhamdulillah, selesai juga SINON!

SINON memasang wajah bengong sebelum akhirnya tersenyum.

SINON: hmmm (senyum sambil mengangguk)

KIRITO: Kerja bagus, SINON. Terima kasih. (sambil berpose tos lengan sambil tiduran)

SINON: Hmm. (pose tos lengan sambil duduk)