Aside

“Kenapa Aku Tidak Punya Ayah?”

Disclaimer: Dari otak saya pribadi 😛

Warning: Plotless, ambigu, gak jelas, dkk

.

.

.

“Kenapa aku tidak punya ayah?”

Itu adalah pertanyaan yang selalu kuulang dalam hatiku semenjak aku masih kecil.

Ya. Kenapa aku tidak punya ayah?

Dan ibuku dengan lembut akan mengusap kepalaku dan tersenyum, “Ayah ada di tempat yang sangat jauh. Kita tidak bisa bertemu dengannya lagi,” gumam Ibu dengan suara yang sedih.

Meskipun begitu, terkadang ibu akan menceritakan kepadaku bagaimana ibuku sangat mencintai ayahku. Betapa baik dan hebatnya ayahku. Meskipun aku tak pernah bertemu ayahku, tapi bisa kupahami betapa luar biasanya ayahku. Dan betapa ibuku sangat mencintainya.
.
.
.
Aku berada dalam hutan tak jauh dari rumahku berada. Bibi Latifa, adik ibuku memelukku dari belakang dan menutup mulutku. Mencegahku untuk berlari menyongsong ibuku maupun berteriak padanya.

Mataku menatap liar. Ibuku bilang aku harus patuh pada bibi Latifa. Ibuku bilang apapun yang terjadi aku tidak boleh keluar dari tempat aku bersembunyi. Aku anak baik, aku tahu itu. Ibu ingin aku terus bersembunyi dan patuh pada bibi Latifa. Tapi aku ingin sekali berlari menyongsong ibuku.

Di depan sana ibuku berdiri seorang diri dan dikelilingi para tentara yang mengacungkan senapan mereka kepada ibuku. Aku tak mengerti, apa salah ibuku? Ibuku adalah orang yang baik.

Lalu tetanggaku? Paman Alfred, Bibi Kathy, Kakek Albus? Kenapa mereka hanya diam saja? Kenapa mereka tidak menolong ibuku? Malahan… mereka malah meneriakkan sesuatu yang tak kupahami. Satu hal yang pasti, mereka berteriak marah pada ibuku. Apa salah ibuku pada mereka?

Ibuku pun diseret paksa ke sebuah tiang kayu yang ditancapkan begitu dalam ke tanah. Ibuku diikat sehingga tak bisa bergerak. Para tentara tetap saja mengacungkan senapan mereka sementara para penduduk desa mengumpulkan kayu bakar, meletakkannya disekeliling ibuku.

Aku masih meronta, berusaha melepaskan diri dan bibiku. Tapi bibiku menahan tubuhku semakin kuat. Aku bisa merasakan air mata mulai mengalir di pipiku. Kulihat seorang tentara berpakaian berbeda mendekati ibuku. Pakaiannya berwarna putih dan ada warna emas sementara tentara yang lain memakai seragam berwarna abu-abu dan hitam. Mungkinkah dia pemimpinnya?

Tapi pemimpin itu tidak menolong ibuku. Entah apa yang dia lakukan, tapi mendadak semua penduduk termasuk tentara melemparkan api menuju ibuku. Api itu menyebar, menjilati semua kayu yang disusun rapi mengelilingi ibuku.

Dan hal terakhir yang kuingat adalah, Bibi Latifah menutup mataku dan menggendongku pergi dari sana.

_000_

Aku memandang tajam pada pria berumur baya yang duduk dengan santai dihadapanku. Dua belas tahun telah berlalu dan aku bertualang untuk mencari tahu, kenapa ibuku dibunuh oleh para tentara itu. Pria dihadapanku mampu menjawab pertanyaan tersebut, karena ialah yang pada saat itu berdiri berhadapan dengan ibuku untuk terakhir kalinya.

“Kau beruntung muncul bersama putraku, dan aku juga telah menjamin keselamatanmu,” ucap pria tersebut.

Aku melirik sesaat pemuda yang lebih tua tiga tahun dariku, Lancelot. Kami bertemu secara kebetulan di suatu desa, aku sedang dalam perjalananku mencari kebenaran mengenai kematian ibuku dan ia sedang berkelana mencari pengetahuan mengenai suatu suku yang disebut “Pembaca Cuaca”. Kami berkelana bersama, mengalami berbagai macam hal bersama hingga akhirnya kami sampai di tempat ini.

“Katakan padaku, siapa namamu wahai gadis muda,” perintah pria tersebut.

“Sophia,” ujarku tegas. Pria itu mengangguk, “Nama yang indah, mirip dengan Ibumu. Bisa kulihat kau mewarisi kebijaksanaan ibumu,”

“Katakan kepadaku, mengapa kau membunuh ibuku?”

Pria itu tidak menjawab.

“Apa salah ibuku kepadamu?” suaraku mulai bergetar.

“Satu-satunya kesalahan ibumu adalah, ia terlahir sebagai anggota terakhir dari suku pembaca cuaca,” ujar pria tersebut, “dan kuasumsikan kau juga mewarisi bakat pembaca cuaca.”

Mataku melotot.

“Dan takdir setiap pembaca cuaca tidak ada yang lain, selain kematian,”

.

.

.

_000_

(Lancelot POV)

Sophia jatuh pingsan dan aku menangkapnya, mencegah tubuhnya jatuh di kerasnya lantai marmer. Tentu saja gadis ini pingsan. Memang benar kata pepatah, ada beberapa hal yang justru akan lebih baik untuk tidak dikatakan. Aku memandangi wajahnya yang pucat. Pucat tetapi cantik.

“Katakan satu hal padaku, ayah” aku membuka suaraku dan ayahku memandangi Sophia dengan tatapan – aku tak yakin – terluka(?).

“Tanyakan yang ingin kau ketahui,”

“Aku adalah anak jalanan yang kau pungut sebagai anakmu,” aku bergumam lambat, “apakah Sophia adalah anakmu yang sebenarnya?”

Ayahku hanya menutup matanya. Wajahnya yang tua semakin terlihat lelah dan terluka.

“Kenapa? Kenapa kau membunuh istrimu sendiri? Bahkan kau hendak melakukan hal yang sama pada anakmu?” tuntutku dengan geram.

Ayahku hanya menghela napas lelah.

“Ada beberapa hal yang justru akan lebih baik untuk tidak diucapkan,”

Aku menyipitkan mataku, tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh ayahku. Aku mendengus sebal dan mengangkat tubuh Sophia, membawanya ke kamar kosong untuk mengistirahatkan tubuhnya.

“Aku akan melindunginya,” ucapku tanpa melihat ayahku.

“Lakukanlah. Lakukanlah hal yang tak mampu kulakukan kepada istri dan anakku,” ujarnya sedih. Kulihat ayahku menatap langit mendung dengan sedih.

Aku keluar dari ruangan tersebut.

_000_

“Kenapa aku tidak punya ayah?”

“Ayahmu ada di tempat yang sangat jauh, kita tidak bisa lagi bertemu dengannya,”

.

.

.

Ya. Ayahmu terlampau jauh, hingga tak ada yang bisa kulakukan selain pergi dari sisinya.

 

_000_

A/N: Maaf ya aneh. Sebenarnya ini ide cerita kasar yang entah kenapa menuntut ditulis. Masih draft kasar jadi lebih baik diikutsertakan di challenge IOCWP. Temanya sih tentang ayah, tapi sesuai gak sih? Ya udahlah ya 😛

Cerita ini berhubungan dengan cerita yang saya post Fajar, Bintang dan Celoteh Hujan . Silahkan dibaca ya~

Advertisements

2 thoughts on ““Kenapa Aku Tidak Punya Ayah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s