Apa Lihat-lihat?

Para tentara penyergap itu terdiam, menahan napas. Meskipun begitu, detak jantung mereka berdetak kencang hingga rasanya telinga mereka mampu mendengar detak jantung mereka sendiri. Suasana tegang, tak perlu dijelaskan lagi. Berbaring di lantai hutan, tertutup semak-semak, keringat dingin mengucur dan musuh ada di hadapan mereka. Berusaha tenang, para tentara penyergap bersiaga mengenggam senjata mereka dengan erat.

Tap – tap – tap

Suara sepatu tentara bersol tebal melintas begitu saja di depan mereka, untung saja. Walaupun mereka semua sudah siap siaga, waspada dan siap menyerang, tapi kalau kepergok oleh tentara musuh tetap saja bukan hal yang bagus. Dengan persenjataan ala kadarnya, tentara Indonesia deg-degan tiada terkira. Walau senjata minim, tapi mereka jauh lebih paham kondisi lingkungan dan penyamaran mereka sepertinya cukup bagus. Terbukti para tentara musuh melewati mereka begitu saja.

“Semuanya sudah siap, ayo kita mulai,”

Para tentara penyergap Indonesia saling berpandangan dan saling menatap penuh arti. Apa yang sudah siap? Sementara personil yang lain cuma menggeleng pelan dan bingung. Tapi mereka tidak perlu bingung lagi karena-

“Semuanya sudah ditusuk, tinggal dibakar saja,”

Ditusuk dan dibakar? Disini semua personil tentara sudah bingung sebelum akhirnya wangi yang menggugah selera tercium. Dan pahamlah para tentara Indonesia apa yang ditusuk dan dibakar. Kalau dari wanginya sih apalagi kalau bukan sate?

Para tentara Indonesia mengeluh dalam hati. Bisaan aja ya doski sengaja banget sembelih kerbau dan dijadiin sate. Ceritanya begitulah jerit hati mereka, tapi apalah daya. Mereka lagi nyergap, kan gak lucu kalau mereka ketahuan cuma karena masalah sate. Jadilah mereka semua masih berbaring di lantai hutan, menatap sedih pada tentara lawan dan merasa tersiksa dengan wangi sate. Uhhh kami juga mau makan sate.

Dan Sang Jenderal tentara Indonesia juga makin bingung. Lah bisaan aja musuhnya pada makan sate. Begitulah dalam hati sang Jenderal. Tapi dia mikir-mikir juga. Kalau dipikir kapan ya dia dan tentaranya terakhir kali makan? Gak usah makan sate juga gak papa, walau gak buruk-buruk amat makan sate.

Ting.

Sang Jenderal punya ilham. Kita berantas musuhnya, terus makan sate mereka kayaknya gak apa-apa kali ya? Pasukan kenyang, Jenderal senang, Negara menang.

Ting. Ide yang luar biasa deh.

Sang Jenderal bersiap. Tentara bersiaga.

1

2

3

“Angkat tangan semua!”

Semua tentara Indonesia meloncat keluar dari persembunyian, menyergap para tentara musuh yang gak siap dengan keadaan. Iyalah, mereka semua lagi siap mau makan sate. Kan gak lucu melawan tentara penyergap dengan tusuk sate, walau bukan berarti mustahil juga sih. Intinya, karena para musuh itu bersiap mau makan sate, makanya para tentara penyergap Indonesia mudah melucuti mereka semua. Pihak musuh dikumpulkan dan diikat. Senjata milik musuh juga diamankan.

Dan seperti ada kesepakatan, mulailah sate-sate yang wangi itu dikelilingi oleh tentara Indonesia. Tentara musuh cuma bisa memandang sebal, kesal karena sate mereka dimakan. Dan para tentara Indonesia melotot balik, apa lihat-lihat?

Dan Alhamdulillah, sesuatu banget. Tentara kenyang, Jenderal senang dan Negara menang deh.

.

A/N: Mau bikin humor tapi gagal banget ya. Karena gak selamanya cerita kepahlawanan itu mendung dan berdarah. Cerita sergap dan makan sate ini emang beneran ada loh. Kalau mau kunjungi aja web ini http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-dramatis-lucu-kopassus-sergap-musuh-di-belantara-jabar.html

Advertisements

Begitu Indah

Disclaimer: Dari saya~ Nadita 😀

Warning: Lagi-lagi plotless galau~


Pluk.

Aku memandang Ariani yang jatuh tertidur di pundakku. Napasnya teratur dan tidak terganggu sedikitpun. Sepertinya kelelahan. Hal yang wajar karena saat ini kegiatan belajar kampus kami sedang gila-gilaan. Apalagi saat ini kami berada di tingkat akhir tiga. Hal yang wajar kalau kami harus belajar sampai menangis darah.

“Adikmu tidur?”

Aku hanya mengisyaratkan kawanku agar diam, tidak menganggu tidurnya. Dengan susah payah aku menyelimuti adikku dengan jaketku yang untungnya sedang kulepas. Cukup sulit mengingat aku hanya bisa menggunakan satu tanganku dan berusaha tidak membangunkannya.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang tertidur pulas.

Ehem!

Baru kusadari dari tadi kawanku ini terus memperhatikanku. Melupakan fakta bahwa wajahku memerah dan terasa panas, aku berusaha berkonsentrasi mengerjakan kembali tugas kami. Kubiarkan Ariani, adikku itu tertidur. Biarlah nanti akan aku ajarkan atau dia boleh mencontek tugasku nanti.

“Bagaimana perasaanmu? Punya adik tiri yang hanya berbeda umur 6 bulan?”

“Biasa saja,” jawabku dengan nada datar, berusaha berkonsentrasi dengan tugasku.

“Ah~ kalau begitu biar kuubah pertanyaannya,”

Aku masih berusaha mengerjakan tugasku.

“Bagaimana perasaanmu, gadis sekelas yang kau sukai sejak tingkat dua tiba-tiba menjadi adik tirimu?”

Penaku langsung merobek kertas, Ariani merosot sedikit dari pundakku, buru-buru aku memperbaiki posisi kepalanya. Setelah memastikan adikku itu nyaman aku langsung menatap tajam kawanku itu.

“Bercandamu tidak lucu!”

“Hei, aku tidak sedang bercanda,”

Aku kembali meraih penaku dan kembali mengerjakan soal, tak kupedulikan tatapan penasaran kawanku. Sepertinya kawanku itu menyerah karena selanjutnya ia kembali menulis.

“Jangan lupa, kalian adalah kakak beradik. Meskipun kalian tidak sedarah,”

Aku menatap hampa buku tugasku. Mataku kualihkan ke wajah adikku yang sedang tertidur.

“Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu itu.”

.
.
.

Ariani mengerutkan keningnya sebelum akhirnya membuka matanya.

“Ayo pulang,” gumamku pelan sambil menunggu adikku ini benar-benar tersadar dan tersentak kaget.

“Tugas kelompok kita?” gumamnya bingung sambil menoleh kanan kiri. Kawanku sudah pulang duluan sehingga hanya tersisa kami berdua di lorong kampus ini.

“Sudah selesai,” ujarku sambil membereskan buku milik kami berdua. Wajahnya langsung cemberut.

“Nanti aku ajarin di rumah,” tambahku buru-buru. Wajahnya langsung lega dan tersenyum.

“Janji ya?” tuntutnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. “Ayo pulang,”

Dan ia langsung membereskan buku-bukunya. Berlari menyusulku yang sudah berjalan beberapa langkah. Senyum manis menghiasi wajahnya.

.
.
.

Empat bulan lalu, aku tak pernah bermimpi untuk mendapatkan senyummu. Apalagi menyentuh dirimu.

Hanya satu hasrat, semoga aku dan kau ditakdirkan dalam satu ikatan yang sah. Hingga aku mampu menyentuh dan mendapatkan senyummu dengan cara yang sepantasnya.

Tapi sayangnya, bukan aku dan kau yang diikat. Akan tetapi orang tua kita.

Dirimu begitu indah.

Indah tetapi menyakitkan.

Begitu indah, begitu menyakitkan dan begitu menyedihkan.


A/N: Cerita ini berhubungan dengan post cerita saya yang lain Tulip Putih dan Hyacinth Ungu . Silahkan dibaca ya~ 😀

Image

Maukah?

Disclaimer: milik author yang ababil dan sawan, yaitu saya~ Nadita

Warning: Plotless galau

.
.
.

Malam ke 237.981

Malam ini indah, bintang berkelip terang. Sesekali sinar rembulan muncul walaupun lebih banyak tersapu awan.

Aku memainkan kakiku, memandang kebawah. Bahkan di malam hari seperti ini, banyak para manusia lelaki yang tak putusnya berusaha memanjat pohon ini.

Namaku adalah Latifa, salah satu bidadari yang lahir dari pohon ini, pohon Femme Fatale. Sejak aku membuka mataku, pohon ini adalah orang tuaku. Ia mengajarkan berbagai macam pengetahuan padaku dan memperkenalkanku pada para saudariku yang lain. Meskipun kami bersaudara, kami dilahirkan di cabang dan ranting yang berbeda. Pohon kami bilang agar kami tidak saling bertengkar.

Kami adalah para bidadari, begitulah pohon kami memanggil kami. Dan karena kami adalah bidadari, banyak para manusia lelaki dari bumi yang ingin menjadikan kami sebagai istri mereka, atau begitulah yang diajarkan kepada kami. Aku penasaran, memangnya di bumi tidak ada manusia perempuan sehingga para manusia lelaki itu bersusah payah memanjat pohon hanya untuk mencari istri?

“Perempuan di bumi ada banyak. Tetapi kalian adalah para bidadari. Bagi manusia lelaki, lebih baik menjadikan bidadari sebagai istri daripada menjadikan seorang wanita biasa sebagai istri mereka,” jelas pohon kami.

Aku memberengut. Memangnya apa yang istimewa dariku dan para saudariku?

“Ketahuilah, untuk menjadikan kalian sebagai istri para manusia itu harus melewati 17 rintangan dimana satu rintangan tersebut ditempuh dalam waktu satu tahun perjalanan. Selain itu mereka juga harus mampu memanjat pohon ini dan memilih sendiri salah satu saudarimu yang ingin mereka jadikan istri. Dan memanjat pohon ini bukanlah hal yang mudah. Hanya mereka yang memang layak memanjat yang mampu melakukannya,” jelas sang pohon. Aku hanya mengangguk walaupun masih belum paham benar.

Aku kembali memandang para manusia lelaki yang berusaha memanjat pohon. Ada yang terjatuh, ada yang masih bertahan walau sudah hampir jatuh.

Aku benar-benar tak paham. Kenapa manusia lelaki itu bersusah payah seperti itu?

.
.
.

Aku membuka mataku, terdengar bunyi ribut-ribut. Dengan segera aku keluar dari perlindungan daunku dan mencari sumber keributan ini.

Seorang manusia pria berhasil memanjat pohon dan telah memilih salah satu saudariku. Wajah saudariku itu terlihat kaget, meskipun sorot bahagia lebih banyak terlihat. Ia menerima uluran tangan sang lelaki dan mereka berdua turun dari pohon ini, dibantu oleh cabang pohon kami. Aku menunduk memandangi mereka berdua yang sudah menjejakkan kaki di tanah. Wajah mereka terlihat bahagia dan mereka saling bergenggaman tangan. Kaki mereka melangkah menjauhi pohon.

Aku memandangi mereka hingga mereka tak terlihat lagi.

.
.
.
Siang dan sore ini banyak para manusia pria yang berhasil memanjat pohon dan memilih saudariku. Aku sungguh tak mengerti, padahal kami tak mengenal para manusia itu tetapi kenapa saudariku mau pergi bersama mereka?

“Jika sudah saatnya untukmu dipilih, kamu pasti akan ikut bersama mereka meskipun kamu tak mengenalnya,” jelas sang pohon dengan bijaksana.

Menurutku itu hal yang konyol. Pikiran bahwa hidupku akan ditentukan oleh pria yang tak kukenal membuatku takut. Aku berharap agar tak ada seorangpun pria manusia yang memilihku.

Sang pohon mendengar harapanku. Tapi ia hanya diam dan tak berkomentar apapun.
.
.
.

Malam ke 342.709

Semakin banyak manusia lelaki itu yang memanjat dan memilih para saudariku. Pohon ini semakin lama semakin sepi, hanya menyisakan aku dan beberapa saudariku yang memang sangat sulit untuk dicapai dengan memanjat.

Aku tak peduli.

Aku tak ingin berpisah dengan pohonku ini. Pikiranku untuk ikut dan menyerahkan hidupku kepada seorang manusia pria yang tak kukenal juga sangat menakutkan.

Pohonku itu tak pernah memarahiku yang berpikir seperti itu. Tetapi ia lebih banyak menasihatiku dan menceritakan berbagai hal yang menggembirakan yang dialami para saudariku setelah mereka berpisah dengan pohon kami ini.

Aku masih tak mau mendengar. Aku lebih suka tinggal disini, bersama pohonku.
.
.
.

Malam ke 351.112

Aku sedang memakan buah yang disediakan oleh pohonku saat kulihat seorang manusia sedang memanjat pohon kami. Ia terus memanjat dan memanjat, semakin tinggi hingga akhirnya manusia pria itu tiba di batang pohon tempat aku berada.

Aku takut, badanku gemetaran. Apakah ini adalah saatnya aku untuk dipilih?

Manusia pria itu memandangku sesaat sebelum akhirnya terus memanjat lebih tinggi. Aku terduduk lemas, merasa lega karena manusia itu tidak memilihku. Aku terus memperhatikan manusia itu. Ia terus memanjat hingga mataku tak mampu lagi melihatnya. Aku duduk di batang pohonku, menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.

Saat siang baru kulihat mereka menuruni pohon ini dibantu oleh cabang pohon kami. Pria itu memilih salah satu saudariku yang tinggal di cabang atas, puncak pohon. Aku terus memandangi mereka hingga kaki mereka menapak tanah. Wajah mereka berdua terlihat bahagia.
.
.
.

Malam ke 472.321

Para manusia pria itu semakin banyak berdatangan dan terus memilih para saudariku yang tinggak di cabang teratas. Masing-masing turun dari pohon ini dengan wajah puas dan bahagia.

Aku menatap heran kepada para manusia pria itu. Rasa penasaran menyelimutiku. Kenapa mereka memanjat jauh lebih tinggi? Apakah mereka tak melihatku?

.
.
.

Malam ke 723.775

Pohon ini sangat sepi, semua saudariku telah turun ke bumi. Hanya aku satu-satunya yang tersisa di pohon ini.

Setiap waktu sang pohon selalu menemani dan menjagaku. Sang pohon banyak bercerita mengenai keadaan saudariku yang telah turun ke bumi.

“Apakah kau kesepian?” Gumam sang pohon lembut. Aku mengangguk pelan.

“Saudarimu sangat bahagia tinggal dengan manusia bumi. Apakah kamu tidak mau ikut bersama mereka?” Lanjut sang pohon.

Aku hanya terdiam.

“Maukah kau tinggal di bumi jika ada manusia pria yang menjemputmu?”

Aku mengangguk ragu. “Tapi semua saudariku sudah tidak ada, hanya aku yang tersisa. Dan sejak saudariku yang terakhir dipilih oleh manusia, tak ada lagi yang memanjat pohon ini,” ujarku dengan cemas.

“Sayangku tenanglah. Jika sudah tiba saatnya pasti akan ada yang memilihmu. Semua sudah digariskan oleh takdir, tak perlu ragu,”

Aku hanya terdiam.
.
.
.

Malam ke 832.211

Aku masih setia bersama pohonku. Aku adalah bidadarinya yang terakhir. Dia sangat melindungi dan menjagaku. Ia bahkan sengaja menumbuhkan lebih banyak daun dan buah-buahan agar aku terlindungi dan tak merasa lapar.

Aku menyayangi pohonku. Tapi tak bisa kupungkiri aku sangat kesepian. Aku memandang kebawah tapi tak melihat satupun manusia pria yang berusaha memanjat pohon ini. Aku menunduk sedih, sepertinha aku harus menunggu sedikit lebih lama.
.
.
.

Malam ke 931.007

Aku kembali menunduk ke bawah, tapi tak ada seorang pun manusia yang berusaha memanjat pohon.
.
.
.

Malam ke 1.034 502

Tak ada seorang manusiapun.
.
.
.

Malam ke 1.123.344

Tak ada seorangpun manusia. Mungkin inilah hukumanku karena pernah berharap agar tak ada seorangpun manusia yang memilihku.
.
.
.

Malam ke 1.230.500

Aku mulai berhentu berharap.
.
.
.

Malam ke 1.330.234

Aku berhenti berharap.
.
.
.

Hari ke 1.330.235

Seorang manusia pria berjalan mendekatiku yang sedang memandang mengambil buah. Kedatangannya begitu tiba-tiba hingga membuatku terkejut dan terdiam. Langkahnya begitu mantap tanpa keraguan.

Ia mendekati diriku dan mengulurkan tangannya.

“Sudikah kiranya anda memberikan cinta dan hati anda untukku? Niscaya akan kujaga dari rasa sedih dan sepi yang melanda hatimu,”

Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya.

.

.

.

A/N: Ini apa? Ini apa? Ini apa coba? Galau~ gak jelas~ #banting keyboard

Image

Fajar, Bintang dan Celoteh Hujan

Disclaimer: Dari seorang author yang ababil, yaitu saya~ 😀

Warning: Plotless galau. Diikutsertakan untuk Malam Narasi OWOP pada tanggal 02 November 2015. Enjoy~

.

.

.

“Pagi ini akan hujan,”

Lancelot memandangi gadis yang berdiri tepat disebelahnya sebelum akhirnya ikut memandangi langit.

“Kau mengigau? Fajar baru saja terbit dan kau mau bilang pagi ini akan hujan?”

Sophia hanya tersenyum akan tetapi matanya tetap memandangi fajar yang baru terbit.

“Tidak salah lagi, pagi ini akan hujan,”

Lancelot memberengut. Matanya menyapu angkasa. Fajar baru saja terbit, bahkan gugusan gemintang masih terlihat benderang. Jika memang benar pagi ini akan hujan, langit seakan tidak memberi kesan tersebut.

“Hei, tahu darimana kalau pagi ini akan hujan?”

Sophia untuk pertama kalinya mengalihkan pandangannya dari angkasa menuju wajah Lancelot. Matanya menatap teduh pemuda itu. Yang ditatap hanya tersentak malu dan mengalihkan pandangannya ke semburat mentari yang mulai bersinar cerah.

“Hanya insting,” gelak Sophia. Lancelot memasang wajah tak percaya.

“Bintang yang indah kan?” Lanjut Sophia lagi, tapi Lancelot hanya menggumam tak jelas.

“Seseorang pernah bercerita padaku. Katanya, bintang-bintang itu adalah perwujudan manusia di zaman dahulu. Ketika seseorang itu meninggal, ia tidak benar-benar pergi darimu. Mereka menjadi bintang dan selalu melindungi kita dari atas sana,”gumam Sophia lambat.

Lancelot mengelus tengkuknya yang dingin karena angin malam, akan tetapi matanya ikut memandangi langit fajar berbintang tersebut.

“Menurutmu, apakah itu benar?” Sophia malah bertanya kepada Lancelot.

“Mana aku tahu! Kau yang bercerita hal itu kan?”

“Hee, Lancelot galak sekali!”

“Berisik!” Lancelot mulai melangkah pergi.

“Hee, Lancelot tunggu aku!” Sophia menyusul Lancelot yang menjauh. Wajahnya memerah dan napasnya tersengal saat akhirnya gadis itu mampu mengejar Lancelot.

“Kalau kau mau mempercayainya, ibumu mungkin memang ada di atas sana. Menjadi bintang dan selalu menjagamu,” Lancelot bergumam kecil.

Sophia terpaku.

“Er… Lancelot, kau tadi bicara apa? Aku tidak dengar?”

“Berisik! Aku tidak bilang apa-apa!” wajah Lancelot memerah.

“Tapi tadi kau mengatakan sesuatu,”

“Berisik!”

“Lancelot, wajahmu memerah. Kau demam?”

“Berisik!”

Dan pertikaian mereka terus berlangsung setiap kaki mereka berdua melangkah semakin menjauh.

.
.
.

Dan pagi itu, cuaca hujan seharian.

“Instingmu mengenai cuaca sangat mengerikan,”

“He he,”


A/N: Cerita ini berhubungan dengan cerita yang saya post Kenapa Aku Tidak Punya Ayah . Kalau sempet silahkan dibaca ya~ 😀