Image

Fajar, Bintang dan Celoteh Hujan

Disclaimer: Dari seorang author yang ababil, yaitu saya~ 😀

Warning: Plotless galau. Diikutsertakan untuk Malam Narasi OWOP pada tanggal 02 November 2015. Enjoy~

.

.

.

“Pagi ini akan hujan,”

Lancelot memandangi gadis yang berdiri tepat disebelahnya sebelum akhirnya ikut memandangi langit.

“Kau mengigau? Fajar baru saja terbit dan kau mau bilang pagi ini akan hujan?”

Sophia hanya tersenyum akan tetapi matanya tetap memandangi fajar yang baru terbit.

“Tidak salah lagi, pagi ini akan hujan,”

Lancelot memberengut. Matanya menyapu angkasa. Fajar baru saja terbit, bahkan gugusan gemintang masih terlihat benderang. Jika memang benar pagi ini akan hujan, langit seakan tidak memberi kesan tersebut.

“Hei, tahu darimana kalau pagi ini akan hujan?”

Sophia untuk pertama kalinya mengalihkan pandangannya dari angkasa menuju wajah Lancelot. Matanya menatap teduh pemuda itu. Yang ditatap hanya tersentak malu dan mengalihkan pandangannya ke semburat mentari yang mulai bersinar cerah.

“Hanya insting,” gelak Sophia. Lancelot memasang wajah tak percaya.

“Bintang yang indah kan?” Lanjut Sophia lagi, tapi Lancelot hanya menggumam tak jelas.

“Seseorang pernah bercerita padaku. Katanya, bintang-bintang itu adalah perwujudan manusia di zaman dahulu. Ketika seseorang itu meninggal, ia tidak benar-benar pergi darimu. Mereka menjadi bintang dan selalu melindungi kita dari atas sana,”gumam Sophia lambat.

Lancelot mengelus tengkuknya yang dingin karena angin malam, akan tetapi matanya ikut memandangi langit fajar berbintang tersebut.

“Menurutmu, apakah itu benar?” Sophia malah bertanya kepada Lancelot.

“Mana aku tahu! Kau yang bercerita hal itu kan?”

“Hee, Lancelot galak sekali!”

“Berisik!” Lancelot mulai melangkah pergi.

“Hee, Lancelot tunggu aku!” Sophia menyusul Lancelot yang menjauh. Wajahnya memerah dan napasnya tersengal saat akhirnya gadis itu mampu mengejar Lancelot.

“Kalau kau mau mempercayainya, ibumu mungkin memang ada di atas sana. Menjadi bintang dan selalu menjagamu,” Lancelot bergumam kecil.

Sophia terpaku.

“Er… Lancelot, kau tadi bicara apa? Aku tidak dengar?”

“Berisik! Aku tidak bilang apa-apa!” wajah Lancelot memerah.

“Tapi tadi kau mengatakan sesuatu,”

“Berisik!”

“Lancelot, wajahmu memerah. Kau demam?”

“Berisik!”

Dan pertikaian mereka terus berlangsung setiap kaki mereka berdua melangkah semakin menjauh.

.
.
.

Dan pagi itu, cuaca hujan seharian.

“Instingmu mengenai cuaca sangat mengerikan,”

“He he,”


A/N: Cerita ini berhubungan dengan cerita yang saya post Kenapa Aku Tidak Punya Ayah . Kalau sempet silahkan dibaca ya~ 😀

Advertisements

2 thoughts on “Fajar, Bintang dan Celoteh Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s