Image

Maukah?

Disclaimer: milik author yang ababil dan sawan, yaitu saya~ Nadita

Warning: Plotless galau

.
.
.

Malam ke 237.981

Malam ini indah, bintang berkelip terang. Sesekali sinar rembulan muncul walaupun lebih banyak tersapu awan.

Aku memainkan kakiku, memandang kebawah. Bahkan di malam hari seperti ini, banyak para manusia lelaki yang tak putusnya berusaha memanjat pohon ini.

Namaku adalah Latifa, salah satu bidadari yang lahir dari pohon ini, pohon Femme Fatale. Sejak aku membuka mataku, pohon ini adalah orang tuaku. Ia mengajarkan berbagai macam pengetahuan padaku dan memperkenalkanku pada para saudariku yang lain. Meskipun kami bersaudara, kami dilahirkan di cabang dan ranting yang berbeda. Pohon kami bilang agar kami tidak saling bertengkar.

Kami adalah para bidadari, begitulah pohon kami memanggil kami. Dan karena kami adalah bidadari, banyak para manusia lelaki dari bumi yang ingin menjadikan kami sebagai istri mereka, atau begitulah yang diajarkan kepada kami. Aku penasaran, memangnya di bumi tidak ada manusia perempuan sehingga para manusia lelaki itu bersusah payah memanjat pohon hanya untuk mencari istri?

“Perempuan di bumi ada banyak. Tetapi kalian adalah para bidadari. Bagi manusia lelaki, lebih baik menjadikan bidadari sebagai istri daripada menjadikan seorang wanita biasa sebagai istri mereka,” jelas pohon kami.

Aku memberengut. Memangnya apa yang istimewa dariku dan para saudariku?

“Ketahuilah, untuk menjadikan kalian sebagai istri para manusia itu harus melewati 17 rintangan dimana satu rintangan tersebut ditempuh dalam waktu satu tahun perjalanan. Selain itu mereka juga harus mampu memanjat pohon ini dan memilih sendiri salah satu saudarimu yang ingin mereka jadikan istri. Dan memanjat pohon ini bukanlah hal yang mudah. Hanya mereka yang memang layak memanjat yang mampu melakukannya,” jelas sang pohon. Aku hanya mengangguk walaupun masih belum paham benar.

Aku kembali memandang para manusia lelaki yang berusaha memanjat pohon. Ada yang terjatuh, ada yang masih bertahan walau sudah hampir jatuh.

Aku benar-benar tak paham. Kenapa manusia lelaki itu bersusah payah seperti itu?

.
.
.

Aku membuka mataku, terdengar bunyi ribut-ribut. Dengan segera aku keluar dari perlindungan daunku dan mencari sumber keributan ini.

Seorang manusia pria berhasil memanjat pohon dan telah memilih salah satu saudariku. Wajah saudariku itu terlihat kaget, meskipun sorot bahagia lebih banyak terlihat. Ia menerima uluran tangan sang lelaki dan mereka berdua turun dari pohon ini, dibantu oleh cabang pohon kami. Aku menunduk memandangi mereka berdua yang sudah menjejakkan kaki di tanah. Wajah mereka terlihat bahagia dan mereka saling bergenggaman tangan. Kaki mereka melangkah menjauhi pohon.

Aku memandangi mereka hingga mereka tak terlihat lagi.

.
.
.
Siang dan sore ini banyak para manusia pria yang berhasil memanjat pohon dan memilih saudariku. Aku sungguh tak mengerti, padahal kami tak mengenal para manusia itu tetapi kenapa saudariku mau pergi bersama mereka?

“Jika sudah saatnya untukmu dipilih, kamu pasti akan ikut bersama mereka meskipun kamu tak mengenalnya,” jelas sang pohon dengan bijaksana.

Menurutku itu hal yang konyol. Pikiran bahwa hidupku akan ditentukan oleh pria yang tak kukenal membuatku takut. Aku berharap agar tak ada seorangpun pria manusia yang memilihku.

Sang pohon mendengar harapanku. Tapi ia hanya diam dan tak berkomentar apapun.
.
.
.

Malam ke 342.709

Semakin banyak manusia lelaki itu yang memanjat dan memilih para saudariku. Pohon ini semakin lama semakin sepi, hanya menyisakan aku dan beberapa saudariku yang memang sangat sulit untuk dicapai dengan memanjat.

Aku tak peduli.

Aku tak ingin berpisah dengan pohonku ini. Pikiranku untuk ikut dan menyerahkan hidupku kepada seorang manusia pria yang tak kukenal juga sangat menakutkan.

Pohonku itu tak pernah memarahiku yang berpikir seperti itu. Tetapi ia lebih banyak menasihatiku dan menceritakan berbagai hal yang menggembirakan yang dialami para saudariku setelah mereka berpisah dengan pohon kami ini.

Aku masih tak mau mendengar. Aku lebih suka tinggal disini, bersama pohonku.
.
.
.

Malam ke 351.112

Aku sedang memakan buah yang disediakan oleh pohonku saat kulihat seorang manusia sedang memanjat pohon kami. Ia terus memanjat dan memanjat, semakin tinggi hingga akhirnya manusia pria itu tiba di batang pohon tempat aku berada.

Aku takut, badanku gemetaran. Apakah ini adalah saatnya aku untuk dipilih?

Manusia pria itu memandangku sesaat sebelum akhirnya terus memanjat lebih tinggi. Aku terduduk lemas, merasa lega karena manusia itu tidak memilihku. Aku terus memperhatikan manusia itu. Ia terus memanjat hingga mataku tak mampu lagi melihatnya. Aku duduk di batang pohonku, menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.

Saat siang baru kulihat mereka menuruni pohon ini dibantu oleh cabang pohon kami. Pria itu memilih salah satu saudariku yang tinggal di cabang atas, puncak pohon. Aku terus memandangi mereka hingga kaki mereka menapak tanah. Wajah mereka berdua terlihat bahagia.
.
.
.

Malam ke 472.321

Para manusia pria itu semakin banyak berdatangan dan terus memilih para saudariku yang tinggak di cabang teratas. Masing-masing turun dari pohon ini dengan wajah puas dan bahagia.

Aku menatap heran kepada para manusia pria itu. Rasa penasaran menyelimutiku. Kenapa mereka memanjat jauh lebih tinggi? Apakah mereka tak melihatku?

.
.
.

Malam ke 723.775

Pohon ini sangat sepi, semua saudariku telah turun ke bumi. Hanya aku satu-satunya yang tersisa di pohon ini.

Setiap waktu sang pohon selalu menemani dan menjagaku. Sang pohon banyak bercerita mengenai keadaan saudariku yang telah turun ke bumi.

“Apakah kau kesepian?” Gumam sang pohon lembut. Aku mengangguk pelan.

“Saudarimu sangat bahagia tinggal dengan manusia bumi. Apakah kamu tidak mau ikut bersama mereka?” Lanjut sang pohon.

Aku hanya terdiam.

“Maukah kau tinggal di bumi jika ada manusia pria yang menjemputmu?”

Aku mengangguk ragu. “Tapi semua saudariku sudah tidak ada, hanya aku yang tersisa. Dan sejak saudariku yang terakhir dipilih oleh manusia, tak ada lagi yang memanjat pohon ini,” ujarku dengan cemas.

“Sayangku tenanglah. Jika sudah tiba saatnya pasti akan ada yang memilihmu. Semua sudah digariskan oleh takdir, tak perlu ragu,”

Aku hanya terdiam.
.
.
.

Malam ke 832.211

Aku masih setia bersama pohonku. Aku adalah bidadarinya yang terakhir. Dia sangat melindungi dan menjagaku. Ia bahkan sengaja menumbuhkan lebih banyak daun dan buah-buahan agar aku terlindungi dan tak merasa lapar.

Aku menyayangi pohonku. Tapi tak bisa kupungkiri aku sangat kesepian. Aku memandang kebawah tapi tak melihat satupun manusia pria yang berusaha memanjat pohon ini. Aku menunduk sedih, sepertinha aku harus menunggu sedikit lebih lama.
.
.
.

Malam ke 931.007

Aku kembali menunduk ke bawah, tapi tak ada seorang pun manusia yang berusaha memanjat pohon.
.
.
.

Malam ke 1.034 502

Tak ada seorang manusiapun.
.
.
.

Malam ke 1.123.344

Tak ada seorangpun manusia. Mungkin inilah hukumanku karena pernah berharap agar tak ada seorangpun manusia yang memilihku.
.
.
.

Malam ke 1.230.500

Aku mulai berhentu berharap.
.
.
.

Malam ke 1.330.234

Aku berhenti berharap.
.
.
.

Hari ke 1.330.235

Seorang manusia pria berjalan mendekatiku yang sedang memandang mengambil buah. Kedatangannya begitu tiba-tiba hingga membuatku terkejut dan terdiam. Langkahnya begitu mantap tanpa keraguan.

Ia mendekati diriku dan mengulurkan tangannya.

“Sudikah kiranya anda memberikan cinta dan hati anda untukku? Niscaya akan kujaga dari rasa sedih dan sepi yang melanda hatimu,”

Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya.

.

.

.

A/N: Ini apa? Ini apa? Ini apa coba? Galau~ gak jelas~ #banting keyboard

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s