Begitu Indah

Disclaimer: Dari saya~ Nadita 😀

Warning: Lagi-lagi plotless galau~


Pluk.

Aku memandang Ariani yang jatuh tertidur di pundakku. Napasnya teratur dan tidak terganggu sedikitpun. Sepertinya kelelahan. Hal yang wajar karena saat ini kegiatan belajar kampus kami sedang gila-gilaan. Apalagi saat ini kami berada di tingkat akhir tiga. Hal yang wajar kalau kami harus belajar sampai menangis darah.

“Adikmu tidur?”

Aku hanya mengisyaratkan kawanku agar diam, tidak menganggu tidurnya. Dengan susah payah aku menyelimuti adikku dengan jaketku yang untungnya sedang kulepas. Cukup sulit mengingat aku hanya bisa menggunakan satu tanganku dan berusaha tidak membangunkannya.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang tertidur pulas.

Ehem!

Baru kusadari dari tadi kawanku ini terus memperhatikanku. Melupakan fakta bahwa wajahku memerah dan terasa panas, aku berusaha berkonsentrasi mengerjakan kembali tugas kami. Kubiarkan Ariani, adikku itu tertidur. Biarlah nanti akan aku ajarkan atau dia boleh mencontek tugasku nanti.

“Bagaimana perasaanmu? Punya adik tiri yang hanya berbeda umur 6 bulan?”

“Biasa saja,” jawabku dengan nada datar, berusaha berkonsentrasi dengan tugasku.

“Ah~ kalau begitu biar kuubah pertanyaannya,”

Aku masih berusaha mengerjakan tugasku.

“Bagaimana perasaanmu, gadis sekelas yang kau sukai sejak tingkat dua tiba-tiba menjadi adik tirimu?”

Penaku langsung merobek kertas, Ariani merosot sedikit dari pundakku, buru-buru aku memperbaiki posisi kepalanya. Setelah memastikan adikku itu nyaman aku langsung menatap tajam kawanku itu.

“Bercandamu tidak lucu!”

“Hei, aku tidak sedang bercanda,”

Aku kembali meraih penaku dan kembali mengerjakan soal, tak kupedulikan tatapan penasaran kawanku. Sepertinya kawanku itu menyerah karena selanjutnya ia kembali menulis.

“Jangan lupa, kalian adalah kakak beradik. Meskipun kalian tidak sedarah,”

Aku menatap hampa buku tugasku. Mataku kualihkan ke wajah adikku yang sedang tertidur.

“Tak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu itu.”

.
.
.

Ariani mengerutkan keningnya sebelum akhirnya membuka matanya.

“Ayo pulang,” gumamku pelan sambil menunggu adikku ini benar-benar tersadar dan tersentak kaget.

“Tugas kelompok kita?” gumamnya bingung sambil menoleh kanan kiri. Kawanku sudah pulang duluan sehingga hanya tersisa kami berdua di lorong kampus ini.

“Sudah selesai,” ujarku sambil membereskan buku milik kami berdua. Wajahnya langsung cemberut.

“Nanti aku ajarin di rumah,” tambahku buru-buru. Wajahnya langsung lega dan tersenyum.

“Janji ya?” tuntutnya.

Aku mengusap kepalanya lembut. “Ayo pulang,”

Dan ia langsung membereskan buku-bukunya. Berlari menyusulku yang sudah berjalan beberapa langkah. Senyum manis menghiasi wajahnya.

.
.
.

Empat bulan lalu, aku tak pernah bermimpi untuk mendapatkan senyummu. Apalagi menyentuh dirimu.

Hanya satu hasrat, semoga aku dan kau ditakdirkan dalam satu ikatan yang sah. Hingga aku mampu menyentuh dan mendapatkan senyummu dengan cara yang sepantasnya.

Tapi sayangnya, bukan aku dan kau yang diikat. Akan tetapi orang tua kita.

Dirimu begitu indah.

Indah tetapi menyakitkan.

Begitu indah, begitu menyakitkan dan begitu menyedihkan.


A/N: Cerita ini berhubungan dengan post cerita saya yang lain Tulip Putih dan Hyacinth Ungu . Silahkan dibaca ya~ 😀

Advertisements

One thought on “Begitu Indah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s