Tulip Putih dan Hyacinth Ungu

“Heee, halaman rumah kalian luas sekali!”

Ariani hanya tersenyum sambil memandangi hamparan bunga yang ditanam di halaman yang luas.

“Almarhumah Bunda sangat menyukai bunga. Setelah menikah dengan Ayahku, untuk membuat Bunda senang, Ayah sengaja membangun taman bunga ini untuk Bunda,” jelas Ariani.

Aku sedikit kikuk mendengarnya. Hal yang wajar sepertinya, karena baru-baru ini Ayah Ariani menikah lagi dengan Ibuku.

“Mau berkeliling?” Ariani melirik kepadaku.

Aku mengangguk. Mungkin inilah salah satu cara Ariani untuk membuatku dan Ibuku merasa nyaman di rumah besar ini. Bukan, rumah sepertinya bukan kata yang tepat. Kastil atau Istana mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan betapa besar dan elegannya tempat ini.

Baru tiga hari yang lalu Ibuku dan Ayah Ariani menyelenggarakan pernikahan yang megah. Yah, sejujurnya aku merasa kaget. Ariani dalam kehidupan sehari-hari di kampus tidak pernah menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya. Ralat, anak orang ultra super kaya yang mungkin bisa mengarah kearah bangsawan dalam buku cerita. Walaupun mungkin perilakunya selalu santun dan ramah, tidak pernah ada ciri-ciri yang menyatakan bahwa ia orang kaya. Bahkan gadis ini kerap makan nasi bungkus di warteg pinggir jalan sebelum memulai kelas perkuliahan kami.

Jadi, wajar saja kan kalau aku merasa kikuk dan kaget dengan status sosialnya yang kelewat bangsawan?

Bukan.

Aku mengernyit.

Bukan karena Ariani adalah orang kaya makanya aku kaget. Tapi ini karena-

“Kakak?”

Aku tersentak, Ariani memandangku dengan heran.

“Tidak enak badan? Bagaimana kalau-”

“Gak, gak perlu. Cuma kaget aja, bunganya banyak banget ya,” aku tertawa garing.

Ariani memandangku heran sebelum akhirnya ikut tersenyum. Aku memalingkan wajahku, kuharap wajahku tidak memerah.

“Jadi, bunga apa aja yang ada disini?” aku berusaha mengganti topik.

“Lumayan banyak. Sebenarnya Bunda menyukai bunga yang biasa saja, tapi terkadang Ayah memang keterlaluan. Ayah sering sekali membeli jenis bunga yang mewah hingga akhirnya Bunda selalu marah kepada Ayah,” Ariani terkikik geli. Mungkin ia kembali membayangkan adegan lucu antara Ibu dan Ayahnya.

Aku tersenyum. Ah, wajahnya memang… eits, apa sih yang kupikirkan? Tidak boleh, tidak boleh! Ariani kan-

“Kakak?”

“Gak ada apa-apa kok,”

Adikku.

“Lalu, bunga apa kesukaanmu?”

Ariani memandang angkasa, tetapi wajahnya bingung. Mungkin pertanyaanku terlalu sulit?

“Saya menyukai semua jenis bunga. Jadi agak sulit untuk memilih bunga yang paling saya suka,”

Aku mengangguk paham.

“Kakak sendiri? Sebagai laki-laki, apakah ada bunga yang kakak suka?”

Aku mengedarkan pandanganku ke taman bunga yang luas sebelum sudut mataku menangkap suatu bangunan yang aneh.

“Apa itu?”

Ariani memandang arah yang kutunjuk.

“Ah, itu rumah kaca. Tempat untuk merawat aneka bunga mewah yang Ayah belikan untuk Bunda,”

Aku mengangguk pelan. Ariani menarik tanganku dan kami berdua berjalan menghampiri rumah kaca tersebut. Bangunan kaca itu lumayan luas dan aku bisa melihat setidaknya ada dua orang tukang kebun yang sedang merawat bunga dan tanaman di rumah kaca tersebut. Para tukang kebun tersebut menyadari kehadiran kami, mengucap salam hormat dan meneruskan kembali pekerjaan mereka. Aku hanya tersenyum kikuk sementara Ariani membalas salam mereka dengan santai.

Aku memandang kagum. Rumah kaca itu menyimpan bunga-bunga indah yang mewah dan langka. Aku melihat Tulip, Aster dan jenis bunga lain yang bahkan aku tak tahu namanya. Walaupun aku bukan ahli bunga yang tahu nama bunga, tapi setidaknya aku tahu bahwa harga bunga-bunga itu memang mahal.

Tampaknya Ayah Ariani memang sangat mencintai mendiang Istrinya.

Aku mendekati petak bunga Tulip berwarna-warni. Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Walaupun aku tahu bunga Tulip punya berbagai jenis warna, tapi baru kali ini aku benar-benar melihatnya. Aku berjongkok dan mengelus mahkota bunga Tulip dengan lembut. Ariani berdiri disampingku.

“Kakak suka bunga Tulip?” gumam Ariani.

Tanpa sadar aku mengulurkan tanganku ke arah petak bunga Tulip berwarna putih dan memetiknya sebatang. Aku berdiri sejajar dengannya, memandang wajahnya. Ariani menatap wajahku dengan bingung.

“Aku menyukai Tulip putih,” kuulurkan Tulip putih yang kupetik kearahnya. Dapat kulihat, mata Ariani membulat dan wajahnya menjadi kaku. Matanya memandang berganti-ganti ke wajahku dan kepada bunga yang kuulurkan kepadanya.

Ini seharusnya tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh!

Ariani hanya mampu memandangku. Bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak mampu. Aku mengabaikannya.

“Apakah kau…”

Sadarlah! Gadis ini adalah-

Wajah Ariani memucat.

“… suka Tulip putih?”

-adikmu

.

.

.

Ariani bukan gadis yang bodoh.

Ada maksud yang tersembunyi dibalik pertanyaan yang diajukan oleh Bowo tadi. Sungguh aneh jika tiba-tiba saja Bowo mengatakan bahwa ia menyukai Tulip putih. Terlalu spesik dan tidak sederhana, apalagi bunga Tulip putih bukanlah bunga yang umum ditemui di negara ini.

Untunglah tadi sore pelayannya menjemput dan mengiring mereka semua untuk kembali ke kediaman. Kalau tidak? Ariani tidak yakin harus memasang ekspresi wajah seperti apa kepada Bowo.

Ariani menghela napas, memandang setangkai Tulip putih yang dipetik oleh Bowo untuk dirinya.

Hal ini tidak boleh terjadi terlalu lama.

Ariani meraih bunga Tulip putih tersebut, mencoba mencium wanginya, tetapi sia-sia.

Karena kami adalah-

Ariani mencabik kelopak Tulip putih itu dengan giginya.

-kakak beradik.

Kelopak tulip itu jatuh ke lantai.

.

.

.

“Pagi-pagi begini sudah jalan-jalan ke taman bunga?”

Aku menegur Ariani yang sedang membungkuk dan memetik beberapa bunga. Wajahnya memandang kearahku dan tersenyum lembut, memberi isyarat agar aku berdiri di sisinya.

“Bunga-bunga akan terlihat segar jika dipetik di pagi hari seperti ini,”

Aku hanya mengangguk pelan. Kulihat Ariani membawa sekeranjang bunga segar yang baru dipetik.

“Banyak sekali, untuk apa?”

“Hanya untuk menghias kediaman saja. Beberapa akan kuserahkan kepada Ibu kita sebelum sarapan pagi,”

Aku kembali mengangguk. Ariani meraih keranjangnya dan mengambil seikat bunga yang sepertinya dirangkai sendiri oleh Ariani.

Bunga Hyacinthus.

Hatiku mencelos.

Hyacinthus berwarna ungu.

Ariani mengulurkan rangkaian bunga Hyacinthus ungu itu kepadaku. Wajahnya tersenyum lembut. “Bunga ini mempunyai wangi yang harum. Jika kering, kami biasa menggunakannya sebagai pewangi kain, laci dan juga almari,”

Aku menerima rangkaian bunga itu dengan perasaan yang tidak menentu.

Kami adalah kakak beradik. Memang inilah yang seharusnya terjadi.

“Ah, Bunga ini beracun jika dimakan. Karena itu, hati-hati ya, Kak.”

Hatiku bagaikan ditusuk benda tajam. Inikah jawabanmu?


A/N: Untung melunasi hutang malan narasi OWOP jaman dulu kala. Saya nge-post hutangan OWOP mulu ya? Yang ini untuk malam narasi yang gambarnya ada cewek dan cowok duduk di sofa tapi saling membelakangi begitu. Untuk cerita ini saya membuat bahwa cinta mereka forbidden gitu deh~ ah, saya paling suka tema yang kayak begini.

Untuk yang bingung, cerita ini berdasarkan bahasa bunga. Jadi tiap bunga itu punya maknanya masing-masing. Bunga Tulip itu berarti Perfect Lover (bingung kalau ke Bahasa Indonesia, jadi tetap English aja ya 😛 ) sementara Tulip Putih itu artinya Forgiveness. Jadi maksudnya si Bowo adalah “Maafkan saya, tapi saya mencintaimu” makanya pucetlah wajahnya Ariani. Wong mereka kakak adek walaupun gak punya hubungan darah sama sekali. Sementara Hyacinthus ungu artinya I am Sorry; Please Forgive me; Sorrow. Artinya, perasaan Bowo ditolak~

Huhuhu… Bowo yang sabar ya Nak :’)

Cerita ini berhubungan dengan Begitu Indah . Cerita yang pernah saya post di blog ini juga. Dilihat ya~

Cocktail

Setidaknya pasti udah pernah denger, kan yang namanya Cocktail?  Biasanya kita orang Indonesia panggil dengan sebutan Koktil. Atau kalau masih mau keren pakai istilah Inggris, masih disebut Cocktail.

Dan jujur, saya sendiri juga baru tahu istilah koktil ini waktu baca Detective Conan yang nama anggotanya pakai istilah Hard Liquor ataupun Cocktail or Wine Based Liquor 😛

Kalau dulu sih karena malas nyari di Google, tahunya koktil itu minuman beralkohol buat minum di pesta-pesta. Tapi dasar suka ngambil kesimpulan aja, ternyata enggak begitu juga walaupun gak salah-salah amat.

Kalau dari Google, berdasarkan rujukan paling cepat untuk semua materi 😛 (pasti tahukan maksudnya?) dulu koktil itu dipakai untuk minuman pesta ataupun acara makan malam resmi. Bahkan minuman itu juga dijadikan penarik tamu supaya tamu-tamu mau datang ke pesta yang diadakan si tuan rumah.

Masih dari website yang sama, ternyata Koktil itu memang minuman beralkohol yang dibuat dari campuran berbagai macam campuran minuman maupun bahan beraroma, dibuat dengan cara diguncang-guncang supaya tercampur sempurna. Hmm… mungkin kalau kita suka nonton film Eropa yang ada scene bar nya, kan suka ada tuh bartender goncang-goncang tempat minum atau apalah untuk dibuat minuman, mungkin aja dia lagi buat koktil atau sebangsanya. Biasanya minuman ini sih suka dicampur macam-macam kayak madu, soda, gula, rempah-rempah atau yang lainnya walaupun sekarang lebih banyak yang pakai hard liquor macamnya Gin atau Vodka.

Wah, bahan dasarnya aja udah alkohol tuh. Untuk kita yang muslim pasti haram kan?

Heeeiii, jangan ambil kesimpulan dulu. Ternyata ada kok jenis koktil yang halal dan bisa kita nikmatin.

Pernah dengar yang namanya koktil buah?

Nah, koktil buah itu adalah yang dibuat dari berbagai macam potongan buah yang diberi sirup dan disajikan dingin-dingin. Selain air sirup juga bisa dipakai air gula, santan ataupun minuman lain sesuai selera kamu.

Selain itu ada juga yang namanya koktil udang.

Kalau untuk koktil satu ini  cuma butuh udang, selada dan buah yang cocok dimakan bersama udang, biasanya si buah apel. Udangnya dikukus sampai matang lalu ditata cantik bersama selada dan buah apel di gelas yang sesuai. Dan ini halal, loh!

Ternyata enggak semua koktil itu mengandung alkohol loh. Buktinya koktil buah dan koktil udang itu fine  aja untuk dikonsumsi oleh kita. Asalkan pengolahannya sesuai dengan syariat agama aja.

Jadi, koktil yang elit dan mewah bukan berarti harus yang haram kan? 😛


A/N: Karangan ngasal yang dibuat untuk tugas OWOP dengan prompt Pesta, Udang dan Logika. Pesta saya analogikan sebagai koktil, udang secara harfiah di karangannya koktil udang dan Logika yang saya analogikan sebagai karangan non fiksi yang saya tulis disini.

Gak sesuai sama tema? Ya sutralah~ 😀

 

Janji

“Hei, janji ya. Suatu saat nanti, kita akan menikah”

“Tentu saja, kalau sudah besar nanti, aku hanya akan menikah denganmu”

“Janji ya, kalau melanggar nanti akan dihukum”

“Tentu saja,”

.

.

.

“Tidak ada gunanya bagi keluarga kita untuk bersatu dengan keluarga Lorraine,”

Aku mengerutkan keningku. Entah kenapa lantai kastil ini terasa lebih menarik dipandang dibanding harus menatap wajah ayahku, pemimpin kastil ini, Lord Reginar.

“Besok pagi-pagi sekali, gadis itu akan dipulangkan kembali kepada keluarganya. Putuskan semua hubunganmu dengannya,”

Itu adalah perintah. Suka tidak suka harus dipatuhi. Karena di kastil ini, semua perkataan ayahku adalah sebuah titah. Aku membungkuk hormat sebelum akhirnya undur diri dari hadapan ayahku. Kakiku melangkah pergi dengan pikiran yang menggelayut, apa yang harus kukatakan kepadanya?

Tanpa kusadari akhirnya aku tiba di kebun bunga mawar. Hanya beberapa kuntum bunga mawar yang merekah disana sini, sayang sekali. Padahal beberapa hari yang lalu, kebun mawar ini diwarnai dengan warna warni memikat dari semak mawar. Sepertinya hari ini semua mawar itu sudah melayu.

Aku duduk di kursi kayu bungalow tersebut, memandang malas semak berumpun tersebut. Disinilah aku pertama kali bertemu dengannya.

Srek srek srek

Kulihat salah satu semak bergerak liar. Aku memandang semak-semak tersebut, belum berniat bergerak waspada. Toh semak itu terletak sangat jauh dariku, selain itu sistem keamanan kastil ini sangat tinggi. Tidak ada alasan bagi orang luar untuk menyelinap masuk dalam kastil ini.

Srek srek srek

Aku berdiri dan menatap waspada pada semak tersebut.

Srek srek-

Seorang gadis keluar dari rerimbunan semak tersebut, tangannya mewadahi kuntum mawar warna warni sementara matanya menyusuri semak mawar disekelilingnya. Sesaat baru ia menyadari bahwa aku juga ada disana.

“Ah, Tuan muda Alankar rupanya,” ia membungkuk untuk memberi hormat, “Apakah saya mengagetkan anda?”

“Tidak sama sekali, Lady Finnea,” ujarku membalas bungkuk hormatnya.

“Apa yang sedang anda lakukan disini?”

Sang gadis membawa semak bunga tersebut ke arahku dan mendudukkan diri di kursi seberangku. Aku mengikuti gerak tubuhnya, ikut duduk santai dan memandang apapun yang yang gadis itu lakukan.

“Aku bermaksud membuat bunga kering dari mawar-mawar ini,” gumamnya.

Aku mengangkat alisku, “Sebanyak ini?”

Sang gadis hanya terdiam, masih sibuk memilah kuntum mawar yang dirasa cocok olehnya.

“Boleh saya bertanya, untuk apa?”

Tangan sang gadis berhenti sesaat sebelum akhirnya melanjutkan kembali, seakan tak ada jeda apapun. “Bukankah anda yang paling mengetahui alasannya, Tuan Alankar,” seulas senyum terpaksa terlihat diwajah sendu itu.

Ah ya, tentu saja. Sepertinya ia juga sudah tahu mengenai kepulangannya besok pagi-pagi sekali.

“Para pelayanku sedang membereskan semua barang-barangku, tak mudah sebenarnya mengingat aku telah tinggal di kastil ini sejak umur sepuluh tahun. Tapi mereka semua bersikeras aku harus menghabiskan waktuku di kebun mawar ini,” jelasnya masih dengan tersenyum.

“Tentu saja, kebun mawar ini adalah tempat favorit anda,” gumamku lambat.

“Yah, mengingat kastil keluargaku, Keluarga Lorraine, tidak memiliki kebun mawar seindah ini,”

Aku tersenyum, “Keluarga Reginar sangat terhormat dengan pujian anda,”

“Itu kenyataan,”

Dan suasana menjadi hening. Lady Finnea sibuk dengan bunga miliknya sementara aku hanya memandanginya. Entah kenapa lidahku terasa kelu di hadapannya. Padaha ini adalah saat terakhirku untuk berbicara dengannya, tapi entah kenapa semua kata-kata itu tak mau keluar dari lisanku.

“Maafkan aku,”

Lady Finnea mengangkat wajahnya dari semak mawar yang sedang ia tangani. Aku pun tak kalah terkejutnya. Diantara semua yang ingin kuucapkan, mengapa kata maaf yang justru keluar dari bibirku?

“Maafkan aku,” bisikku lagi. Lady Finnea hanya terdiam memandangku.

“Tak perlu meminta maaf, tuanku,” potong Lady Finnea saat aku hendak kembali meminta maaf. “Kita sama-sama mengerti, di dunia aristokrasi seperti ini pernikahan karena cinta adalah kemewahan yang tak akan pernah bisa kita dapatkan,” lanjutnya.

Aku hanya terdiam, tak mampu mengucapkan apapun.

“Karenanya anda tidak perlu merasa bersalah,” Lady Finnea tersenyum lembut padaku.

Aku kembali terdiam. Di hadapan gadis ini, entah kenapa tanah menjadi pemandangan yang lebih menarik dibanding menatap wajahnya.

“Ini tidak adil,”

Lady Finnea mendengarku, tapi ia memilih untuk diam mendengarkan.

“Bukankah ini sangat konyol! Menentukan pernikahan hanya karena semua itu membawa keuntungan atau tidak, hanya berdasarkan status sosial! Bukankah semua ini konyol?” aku terkekeh mengejek.

 “Ini semua memang konyol,” aku Lady Finnea. Aku menatap kearahnya, wajahnya memandang tenang kearahku sementara seulas senyum kembali terukir di bibirnya.

“Tapi dunia memang tidak pernah adil,” lanjutnya.

Aku menatap tidak puas. Kuulurkan tangaku kearahnya.

“Ikutlah denganku. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita tidak perlu mengikuti semua kekonyolan ini,”

Lady Finnea menatap terkejut kearahku akan tetapi ia tidak pernah menerima uluran tanganku. Wajahnya menggeleng sedih.

“Maafkan aku tuanku, kita tidak bisa melakukannya,”

“Kenapa? Kau dan aku, kita saling mencintai! Aku tahu itu!”

“Tuanku, anda tidak sedang berpikir jernih,”

“Aku tidak peduli-“

“Saya peduli pada anda, tuanku,” gumamnya. Tangannya menggenggam tanganku.

“Karena itu, saya tidak bisa melakukannya,” senyum itu kembali terukir.

.

.

.

Pagi telah tiba, aku berdiri di gerbang kastil bermaksud melepas Lady Finnea. Dapat kulihat gadis itu sedang membungkuk hormat kepada ayah dan ibuku yang dibalas dengan postur angkuh. Aku hanya bisa mendesah.

Lady Finnea berjalan menghampiriku dan akhirnya berdiri dihadapanku. Sang lady mengulurkan tangannya padaku dan aku mengecup punggung tangannya dengan lembut, sang lady hanya tersenyum. Aku menggenggam tangannya dan membantunya menaiki kereta kuda. Aku hendak memandanginya untuk yang terakhir kali-

“Tuanku, jika anda hendak memenuhi janji anda, saya akan terus menunggu anda,”

Aku membulatkan mataku.

“Apakah-“

“Jika anda siap untuk membuang semua yang anda miliki, silahkan datang dan jemput saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Kusir kereta telah memerintahkan para kuda untuk berjalan. Aku masih terpaku menatap wajah Lady Finnea yang masih terlihat dari jendela kereta.

Saya akan menunggu anda.

.

.

.

“Nona, apa maksudnya dengan ucapan anda tadi?” seorang pelayan wanita menegur Lady Finnea. Akan tetapi yang ditanya hanya tersenyum saja.

“Yang melanggar janji harus dihukum, kan?”

Pelayan wanita tersebut hanya bisa merengut, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh nonanya.


A/NAkhirnya selesai. Cerita ini dibuat untuk challenge 22/12 dari IOC Writing dan untuk Prompt Janji Kayu Logam dari One Week One Paper. Kayu untuk Lady Finnea yang namanya berarti Kayu dari Ford (nama perempuan dari Irlandia, tapi gak nemu Ford itu nama daerah atau nama pohon, nemunya malah perusahaan mobil Ford) dan Lord Alankar yang berarti emas atau perhiasan (dari bahasa sansekerta, lagian emas itu kan logam mulia). Kalau untuk challenge IOC itu ngambilnya hint dari Hari Sosial yang berarti kasta. Ceritanya ngegantung gak jelas? Yah, maafkan saja deh 😛

#IOC Writing Challenge 22/12 (Sosial)

#OWOP Prompt Janji Kayu Logam

Image

I Don’t Wanna Spin Again

Ah, spin again, spin again, I don’t wanna spin again

Ah, I can’t breath, I can’t breath here anymore

(Hatsune Miku, Karakuri Pierrot)

Aku menghela napas dan memandang jam tanganku dengan lemas. Dua jam lewat dari waktu yang dijanjikan.

Hufh

Jadi begini caranya menyingkirkanku.

Aku menghela napas dan memandang matahari yang terik. Tak disangka ternyata langit mulai dipenuhi awan gelap yang berarak. Tapi aku tak peduli dan ingatanku mulai melemparkanku kepada kenangan masa lalu.

Sejak kapan aku seperti ini?

Yah, sejak kapan?

Pertanyaan konyol. Sejak aku mulai menyukai dirinya tentu saja. Dan bukankah dari dulu aku juga telah sadar, bahwa dia tak pernah menganggapku sebagai orang yang penting baginya. Tentu saja, jika dulu aku bersedia mengejarnya, aku tak boleh mengeluh.

Lagi-lagi seperti ini. Terus seperti ini. Dia tidak pernah memandangku sedikitpun. Baginya, aku hanyalah boneka yang dapat dimainkan olehnya sesuka hati.

Ini terasa menyakitkan. Dan juga sangat menyedihkan. Tapi aku tak mau melepaskannya.

Tak mau. Tak mau. Tak mau.

Tak mau. Tak mau.

Tak mau.

Aku menghela napas. Kakiku melangkah pergi dari tempat itu. Sudah lewat dua jam dari waktu yang ditentukan, sebaiknya aku pulang.

Dan malam ini, dia pasti akan meneleponku, meminta maaf dengan sejuta alasan . Berjanji tak akan mengulanginya lagi. Setelah itu akan membuat janji lain untuk pergi bersamaku, tetapi ia tidak akan datang lagi-

Berulang seperti itu terus. 

.

.

.

Yes, I’m the clown in your dreams here just for you to toy with

You’re the commander I’ll follow, I’ll do just as you wish

(Hatsune Miku, Karakuri Pierrot)

#16122015

#OWOP Malam Narasi

Anak Santri Itu Hebat!

Anak Santri Itu Hebat!

Itu menurut saya loh. Jadi, apa yang saya tulis disini murni adalah kelebay-an saya sendiri. Jangan terlalu dimasukkan dalam hati dan jangan dijadikan rujukan apapun. Percayalah, ini penilaian subyektif yang sangat lebay dan tidak ada unsur ilmiah sama sekali.

Jadi, kembali ke topik. Anak santri itu hebat! versi saya. Kenapa?

  1. Mereka tahu apa itu Kitab Kuning

Sementara saya? Kitab kuning bagaimana bentuk dan rupanya aja kagak tahu. Apakah dia benar-benar sebuah kitab berwarna kuning? Ataukah hal yang lain?

Ini versi saya yang lebay ya. Sebelum saya kenal sama kakang Google, saya gak tahu bagaimana itu kitab kuning.

2. Mereka bisa baca huruf gundul

Lah, kalau saya? Bisa baca doa dengan huruf gundul dibelakang Quran aja itu udah sesuatu banget! Kalau mereka? Mungkin kayak baca koran atau buku aja kali ya, lancaaarrrrr

3. Bisa bahasa arab

Oh come on! Kalau mereka gak bisa bahasa arab gimana caranya mereka baca kitab kuning?

4. Ibadahnya rajin

Gak perlu dijelasin lagi kan?

5. Hapal Quran dan hadis

Saya iri sekali sama kehebatan mereka yang ini. Dah aku mah apa atuh? Juz 30 aja masih seret 😥

6. Kitab yang mereka pelajarin tebal dan banyak.

Ayahku punya kitab Ihya Ulumuddin dan itu bukan sekedar satu atau dua buku, tapi ada sepuluh lebih kitab yang tiap kitab tebel banget. Lupa juga ada berapa kitab, yang pasti banyak. Kalau sekarang mungkin kitab-kitab itu mahal kali ya?

7. Masalah suatu hukum mereka lumayan jago (kalau mereka paham hukumnya)

Di grup jejepangan yang saya ikutin, pendiri komunitasnya itu anak pesantren dan kalau kita tanya suatu hukum dia lancar banget ngejelasinnya. Ngomognya udah cas cis cus gitu deh dan kalau dia udah ngejelasin hukum, kita harus siap pena dan kertas. Lumayan euy, ilmu hukum dan fiqh diterima secara gratis 😛

8. Mereka selalu berlomba dalam kebaikan

Masih pendiri di komunitas jejepangan yang saya ikutin. Mereka selalu berlomba dalam kebaikan dan selalu mengingatkan kami semua. Mungkin kalau diistilahkan mereka macemnya preman di pesantren mereka, tapi masyaa allah, ilmunya itu TOP banget dan kami yang rada paham juga mengakui ini kok.

9. Ilmu mereka luas

Atau karena mereka memang mendalami banget ya ilmu agama ini makanya kelihatannya beda banget sama kita yang cuma ngedalamin masalah IPA dan IPS?

10. Dan masih banyak lagi… 😛

hahaha… gak tahu apalagi, tapi beberapa teman alumni pesantren yang saya punya itu memang OK banget. Gak bisa dideskripsikan dengan kata-kata karena kalian harus lihat langsung orangnya.

Saya ngiri banget sama mereka. Saya kan paling demen belajar Sejarah Islam, tapi sayangnya kan saya gak masuk pesantren. Pingin banget belajar Sejarah Islam tapi secara mendalam kayak anak santri begitu. Apalah daya, saya gak masuk pesantren. Untung ada kakang Google seenggaknya masih bisa cari ilmu, walau mungkin gak selengkap kayak anak santri.

Kalau masa depan nanti punya anak mungkin bisa ditawarin ke anakku, dia mau masuk pesantren atau enggak? 😛

#OneWeekOnePaper

#Challenge Cie Cie

Pilih Yang Mana?

Kejadian ini sebenarnya terjadi di tahun 2014. Jaman dimana Indonesia lagi panas-panasnya karena negara kita tercintah (sekali lagi saya tekankan tercintah, because you knowlah~ semorat maritnya negara kita tetap aja I luph u Indonesia).

Buat yang pernah ngalamin pemilu presiden tahun 2014 pasti tahu betapa serunya pemilu yang satu itu.

Sepanjang saya ikut pemilu selama 25 tahun hidup di dunia, baru kali ini calon yang dipilih cuma ada dua. sekali lagi, cuma ada dua. (Tak perlulah saya jelaskan siapa aja kedua calon itu. Hey, pemilunya udah lewat lama, lagian dia udah jadi presiden selama satu tahun lebih. Jadi gak penting kan disebut?)

Kalau dulu-dulu awal saya kenal pemilu paling dikit ada tiga calon. Walau dikit tapi lumayan, lumayan ramai dan aman. Dan di pemilu tahun 2014 calonnya cuma ada dua, terbayanglah Indonesia pecah jadi dua suara.

Setiap hari di tv dan sarana apapun isinya kalau enggak mendukung satu pihak  pasti ngejelekin satu pihak. Isinya pada berantem semua. Saya aja pusing nontonnya, apalagi ditambah saluran tv tertentu pasti mendukung satu calon. Saking seringnya dukung mendukung saya juga jadi ngerti siapa aja yang punya saluran tv beserta aliran partai yang diikutin.

Wuah, pokoknya mantap!

Tapi itu baru di tv. Di hp serangannya lebih dashyat lagi. Segala macam pesan pendukung dan serangan gak jelas menyerbu merajalela. Satu hari notif bisa lebih dari ratusan cuma untuk debat gak jelas mendukung satu calon dan serang menyerang calon yang lain. Beuh, kalau bukan inget saya emang butuh grup itu mungkin selama pemilu saya keluar deh dari grup tersebut.

Tapi untunglah itu cuma di hp dan tv. Seenggaknya hidup masih rada aman. Pikir saya begitu.

Ternyata saudara-saudara, perang mengerikan itu juga terjadi di rumah saya. Di rumah saya, tinggal empat orang keluarga. Ayah, Bunda, Saya dan adek kecil umur 9 tahun. Sebenarnya masih ada satu lagi adek perempuan. Tapi dia kuliah di Jepang, selamatlah dia dari perang dashyat yang terjadi di rumah. Begitu juga dengan adek saya yang umur sembilan tahun. Karena dia belum cukup umur untuk tahu masalah coblos mencoblos, akhirnya selamat jugalah dia dari perang itu.

Dan sial buat saya. Karena saya termasuk yang bakal ikut memilih siapa yang akan menjadi takdir buat negaraku tercintah, akhirnya semua yang udah disebut di tv dan grup hp saya disebut lagi oleh orang tua saya. Masih lumayan kalau orang tua ngedukung buat calon yang sama. Yang bikin teror, ternyata ayah saya pendukung si A dan Bunda saya pendukung si B (yang sekali lagi gak perlulah saya jelasin siapa itu si A dan si B).

Dan sebagai pihak ketiga, rupanya saya telah ditetapkan sebagai tolak ukur siapa yang akan menang pemilu. What the? Saya yang cuma satu orang seuprit di daerah Tangerang tiba-tiba ditetapkan secara sepihak oleh orang tua yang akan menentukan kemenangan bakal calon yang mereka dukung?

Pemilu kita emang gila banget.

Tapi untunglah~ saya diselamatkan oleh satu pasal pemilu. Kerahasiaan. Seenggaknya hidup saya agak enak. Terserahlah orang tua mau milih apa, yang pasti mah siapapun yang saya pilih the show must go on!

Hari yang mengerikan itupun tiba.

Berbekal KTP tanpa surat undangan pemilu, pergilah kami ke TPS terdekat. Yeah, tanpa surat undangan, pede banget kan? Kami mampir ke TPS terdekat. Seperti biasa, kalau udah sampai di TPS harus periksa nama biar tahu kita milih di bilik mana.

Matahari cerah plus terik banget, tapi kami sekeluarga gak patah semangat buat ikutan pemilu. Daftar nama udah dipajang rapi di papan TPS. Saya juga ikutan baca mulai dari papan satu, geser ke papan dua, geser lagi ke papan tiga… geser terus sampai papan sepuluh, dan yaaa….. nama kami sekeluarga gak ada.

Pegel dan perih liat kertas warna putih yang entah kenapa rasanya silau banget, akhirnya saya ngulang baca lagi. Bedanya sekarang saya geser dari papan sepuluh, ke papan sembilan, terus….. sampai papan satu. Hasilnya? Nama kami masih gak ada!

Bingung juga, masa iya nama kami sekeluarga gak? Tadinya saya pingin periksa lagi daftar namanya, biar genap jadi tiga kali geser sana sini, tapi untunglah bunda ngelarang karena memang nama kami gak ada di TPS itu.

Kecewa maks. Tapi kami bertahan. No name no cry.Masih banyak jalan menuju TPS lain.

Setelah kami gagal di TPS satu, akhirnya kami pergilah ke TPS dua yang ada di lain benua. Bedanya disini kebanyakan yang milih mahasiswa semua, maklumlah memang deket sama daerah kampus sih. Setelah sampai, kami mengulangi rutinitas di TPS satu tadi, langsung cek daftar nama TPS. Untungnya disini papan daftar namanya enggak sebanyak di TPS satu, alhasil saya bisa bolak-balik lima kali cuma untuk ngecek nama. Begitulah, lima kali bolak-balik dan nama kami sekeluarga belum ada juga!

Wakss! Don’t cry, mari kita pergi ke TPS tiga.

Dan akhirnya tibalah kami di TPS tiga yang kebetulan pas di depan kantor kelurahan. Mumpung di kantor kelurahan kami sekeluarga nimbrunglah disana, bertanya-tanya kok nama kami gak ada di TPS manapun. Dan ternyata korbannya bukan cuma kami, ada beberapa orang juga yang bernasib sama sialnya dengan kami sekeluarga.

Tapi ternyata petugas kelurahannya gak tahu menahu kenapa nama kami pada gak ada. Dan kami diarahkan sama petugas kelurahan untuk nanya langsung sama petugas TPS yang pas lagi ada di depan kantor kelurahan. Para massa yang tidak puas akan nasib mereka pun langsung ngobrol sama petugas TPS itu. Atau mungkin bukan ngobrol kali ya, tapi langsung nembak mas kami mau nyoblos disini ajalah, soalnya udah ke banyak TPS tapi nama kami gak ada!

Petugas TPSnya cowok, masih muda, ada kali seumuran saya atau tua sedikitlah. Dikepung banyak orang, bisa apa dia? Dengan diplomatis petugasnya menjawab “Bapak Ibu tunggu aja di TPS terdekat sampai jam satu siang. Kalau sampai jam satu siang kertas suaranya masih ada, silahkan nyoblos dengan kertas suara itu.”

Wow, fantastis! Diplomatis sekali!

Dan kerumunan massa malah jadi gemes dan greget. Iya keles kita disuruh nunggu sampai jam satu, dengan probabilitas terkecil dan kemungkinan terlemah bahwa kita masih bisa nyoblos. Gimana gak kesel?

Saat kita masih gemes-gemesnya tahu-tahu datanglah pasangan suami istri ke TPS itu. Dengan keras protes bahwa nama dia gak ada sementara nama tetangganya yang udah meninggal beberapa tahun malah terdaftar untuk nyoblos pemilu kali itu.

Serentak semua massa menatap tajam petugas TPS itu.

Sekali lagi, petugas TPSnya cowok, masih muda, ada kali seumuran saya atau tua sedikitlah. Dipelototin banyak orang, bisa apa dia? Cuma bisa kabur lagi masuk ke dalam TPS, kabur dari kerumunan massa yang udah sebel banget. Dan karena udah gak ada petugas TPS yang mau berhubungan dengan kami yang udah sebel banget, akhirnya kami dibiarin aja diluar. Sendiri tanpa ada yang menemani.

Sedih. Perih rasanya kokoro ini. Kami berusaha menjalankan hak kami sebagai warga negara tapi… tapi… yak-sudah cukup dengan lebaynya.

Berpacu dengan waktu.

Kami kembali ke area TPS satu. Bedanya kami ke TPS empat. Kebetulan TPS empat memang agak sepi karena letaknya deket banget sama TPS satu. Dekeeeeettttt beeeuuudddd. Istilah lebaynya, kepleset juga sampai.

Jantung berdegup kencang, keringat mengalir di dahi, kami disambut dengan tatapan tajam dari petugas TPS.

“Mau ngapain mbak?” kata bapak-bapak yang jaga TPS.

“Mau nyoblos pak. Tapi nama kami sekeluarga gak ada dimana-mana, padahal udah dicari sampai kelurahan,”

Si bapak yang jaga TPS ngangguk-ngangguk aja sambil ngeliat kesana kemari. Jadi bingung, ini si bapak ngangguk atau nggeleng sih?

“Oh ya udah, nyoblos sini aja. Kertas suaranya masih sisa tuh,”

That’s it! Mudah, ringan tanpa bunga apapun! Sama si Bapak TPS kami sekeluarga disuruh nyoblos di TPS empat dengan entengnya. Prosesnya mudah dan gak berbelit-belit, palingan cuma suruh ngeliatin KTP aja terus dicatat.

Cuma lima menit dan tinta pemilu udah menodai jari kelingking kami.

“Kalau ada yang belum pemilu suruh ke TPS ini aja ya, biar surat suaranya habis,” kata si Bapak TPS ngasih iklan.

Dan kami hanya tersenyum hambar. Yah, tahu begitu tadi tukeran nomor hape sama kerumunan massa, biar pada nyoblos disini. Tapi ya sudahlah, ini namanya rejeki jadi jangan ditangisin.

Alhamdulillah, akhirnya bisa nyoblos juga. Aku dan keluargaku jalan menuju tempat parkir mobil.

“Dita tadi nyoblos siapa?”

Aku diem aja, cuma cengegesan rahasia. Oh, come on! Rahasia gitu loh!

#IOC Writing

#Challenge Pemilu

Video

Rolling Girl

Istilah kerennya adalah Bullying. Tapi kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih adalah penindasan atau penganiayaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online Penganiayaan bisa diartikan sebagai:

penganiayaan/peng·a·ni·a·ya·an/ n perlakuan yang sewenang-wenang (penyiksaan, penindasan, dan sebagainya): kita tidak boleh membiarkan ~ itu terus berlangsung;~ berat Huk perbuatan kekerasan dengan sengaja terhadap seseorang sehingga mengakibatkan cacat badan atau kematian

Atau mungkin dengan makna kata penindasan, yaitu:

penindasan/pe·nin·das·an/ n proses, cara, perbuatan menindas: memperlakukan dengan sewenang-wenang (dengan lalim, dengan kekerasan); menggencet; memperkuda (memeras dan sebagainya)

Dengan makna kata apapun, dapat diambil kesimpulan bahwa Bullying adalah perilaku yang sewenang-wenang secara sengaja kepada orang lain yang mampu menimbulkan efek cacat badan ataupun kematian.

Ok, terus apa hubungannya dengan video diatas?

Well, sebenarnya waktu nonton video lagu diatas entah kenapa saya malah jadi kepikiran dengan satu kata tersebut. Bagi yang belum tahu, mari saya perkenalkan.

Video diatas dinyanyikan oleh Hatsune Miku, Diva Net paling beken sedunia, Vocaloid Synthesizer. Judul lagu diatas adalah Rolling Girl yang diproduseri oleh Wowaka.

Seperti biasa, lirik lagunya sendiri terbuka untuk terjemahan apapun. Para penontonnya bebas mengambil kesimpulan dari maksud lagu itu. Emang repot sih, tapi disitulah menariknya mendengarkan lagu nyanyian para Vocaloid. Nyanyian mereka lebih realistis dan kena dengan kehidupan sehari-hari kita, dibandingkan dengan nyanyian yang ababil dan lebay. Dan tenyata saat saya buka wikipedia vocaloid, mereka juga menyatakan bahwa lagu ini memang paling banyak diinterpretasikan sebagai tema bullying, dikucilkan dan kegagalan hidup.

For lonely girls, it’s always the same, dreaming dreams that don’t come true
And churning, churning through the clamor in their heads

A lonely girl mutters “I’m fine”, have words failed her?
A failure, a failure.
Obsessing over her mistakes makes everything spin again!

Disini kalau saya mengartikan seorang gadis yang kesepian karena dibully. Dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, tapi terus gagal karena dia dibully terus-terusan.

One more time, one more time
“I’ll roll along again today”
The girl said, the girl said
Breathing life into the words!

“How about now?”

“Not yet, we still can’t see what’s ahead. Hold your breath, now.”

Dan ini adalah kata-katanya untuk menyemangati diri bahwa semua akan baik-baik saja. Kata Rolling itu saya mengartikan sebagai ya udah, dia akan ikuti aja apa yang terjadi. Yang pasti dia akan terus bertahan.

Sementara untuk laki-laki itu siapa? Yah, kalau saya sih mengartikan laki-laki itu menggambarkan kekuatan mental si gadis yang kesepian. Dia bertanya, gimana? Masih kuat enggak dibully terus? Dan si cewek masih bertahan untuk terus menjalani kehidupannya.

This is how it ends for a Rolling Girl, unable to reach the colors on the other side
The overlapping voices, they blend together, blend together

She mutters, “I’m fine.”, but the words fail her
Not caring how it ends
An upward climb that invites mistakes

Dan si gadis kesepian ini masih terus bertahan, walaupun dia sendiri juga udah sadar semuanya udah sia-sia. Yah, saya mengartikan ini dari kata-katanya diatas unable to reach the colors on the other side yang mungkin berarti udah batas kemampuan si ceweknya untuk bertahan.

She mutters, “I’m fine.”, but the words fail her
Not caring how it ends
An upward climb that invites mistakes

One more time, one more time
Please, get me rolling
The girl said, the girl said
With her intense silence!

“How about now?”

“Just a little more, we should see something soon. Hold your breath, now.”

Dan si cewek masih mencoba bertahan, walaupun kelihatannya dia udah capek banget. Bahkan di videonya tubuh si cewek juga mulai banyak luka. Tapi dia masih bertahan.


One more time, one more time
“I’ll roll along again today”
The girl said, the girl said
Breathing laughter into the words!

Sekuat-kuatnya orang kalau ditekan terus stress lah jadinya. Akhirnya sang cowok atau kekuatan mental sang cewek akhirnya bilang juga…

“How about now? OK, you can look. You must be exhausted too, right?”

Kamu udah capek kan?

Dan apa kata si cewek akhirnya?

Stop breathing, now.

Tamatlah sudah.

Dan ini mungkin kalau kasus bullyingnya udah ekstrim banget, berakhir pada cacat badan dan kematian.

Guys, bullying itu bisa benar-benar mengerikan loh. Karena kalau kita anggap remeh bullying dalam bentuk apapun, berarti kamu sudah siap untuk ditanya sama Allah di akhirat sana mengenai bullying dan dibully ini. Dan kalau kayak begitu, siap-siap aja tanggung jawab di akhirat nanti.

Tapi herannya, kenapa sih sinetron Indonesia kita demen banget melakukan bullying ini? Lagi trend dan mode? Entahlah. Hanya para penulis skenario film itu aja yang mengerti.

Lalu tugas kita sebagai muslim muslimah apa?

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)

Bahkan Allah SWT juga menjelaskan dalam firmannya bahwa kita akan diuji dengan berbagai macam hal, baik hal yang menyenangkan maupun hal yang menyedikan.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)

Setiap manusia pasti akan mengalami musibah yang merupakan ketentuan dari Allah SWT. Akan tetapi jika manusia bersabar untuk menghadapinya, maka Allah SWT akan memberi petunjuk pada hambaNya dan akan mengganti hal yang hilang dengan hal yang lebih baik.

Karena itu, tak peduli kesulitan apapun yang kamu lalui, bahkan misalnya kamu adalah korban bullying sekalipun, bersabarlah. Karena kamu punya Allah SWT Yang Maha Besar. Kalau kamu sudah dilindungi oleh Allah, apalagi yang perlu kamu takutkan?

 #OneWeekOnePaper

#Challenge Cie Cie