2 + 2

Hiruk pikuk para siswa di aula sekolah. Wajah bingung dan penasaran jelas terlihat. Detik berikutnya para guru memasuki aula, berbaris dalam satu barisan sebelum akhirnya berdiri tepat di depan barisan para siswa. Wajah para guru tersebut tegang dan waspada. Mau tak mau para siswa hanya bisa terdiam.

Kepala sekolah muncul di mimbar atas. Wajahnya ramah, meski begitu tatapan matanya tajam. Para siswa kembali berkasak kusuk lemah. Akan tetapi lambaian tangan kepala sekolah mampu membuat mereka semua terdiam.

“Murid-muridku, aku tahu kalian bingung karena mendadak berkumpul disini. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa sekolah kita akan mengadakan perubahan dan aku akan menjelaskan perubahan itu saat ini juga,” kepala sekolah berbicara tegas, matanya menyapu ruangan.

Seorang staff sekolah mendorong sebuah papan tulis putih beroda dan memposisikannya disebelah kepala sekolah. Kepala sekolah mengangkat spidolnya dan mulai menulis…

2+2=5

Kepala sekolah kembali memandang para muridnya dan mengucapkan apa yang telah ditulisnya.

“Ikuti aku!”

Kepala sekolah mendikte, para guru dan siswa mengulangi.

Banyak para siswa mengerutkan kening, wajah mereka menyiratkan kebingungan. Mereka terus mengulangi persamaan tersebut hingga…

“Tapi pak! Saya pikir dua ditambah  dua sama dengan empat. Mengapa-“

“Siapa yang mengijinkanmu menyela?” tegur Kepala Sekolah.

“Maaf Pak. Saya hanya-“

“Kau tidak perlu berpikir! Kau hanya perlu mengikuti kami!” tegas Kepala sekolah.

Dan siswa itu pun tertunduk diam, sementara siswa yang lain menoleh takut-takut. Para guru hanya memasang ekspresi dingin.

“Jadi ulangi, dua ditambah dua sama dengan lima,”

“Tapi dua ditambah dua sama dengan empat!”

Seorang murid berteriak kencang, menyebabkan seluruh pandangan tertuju kepada satu anak tersebut. Ditatap oleh semua orang anak tersebut berdiri gelisah.

“Nak, itu adalah hal yang konyol. Aku tak pernah mendengar hal itu. Semua orang juga tahu kalau dua ditambah dua ada lima,” Kepala sekolah menjelaskan dengan nada bicara yang berbahaya.

“Tapi… tapi..,” anak tersebut gelisah.

“Tanyakan kepada guru kalian di depan. Nah, rekan kerjaku, berapa hasil dari dua ditambah dua?”

“Hasilnya adalah lima,” jawab semua guru serentak, ekspresi mereka masih dingin.

Kepala sekolah menatap murid tersebut dengan pandangan bahwa semua sudah beres. Akan tetapi murid tersebut memasang wajah keraguan.

“Nak, majulah kemarin,” Kepala sekolah melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar murid tersebut naik ke mimbarnya.

Murid tersebut  naik ke mimbar dengam gugup dan berdiri di samping Kepala Sekolah. Murid lainnya kasak kusuk lemah. Kepala Sekolah menghapus hasil dari persamaan di papan tulis dan menyerahkan sebuah spidol pada anak tersebut.

“Tulislah jawabannya,” dengan nada suara dan tatapan mata yang tidak ramah sama sekali.

Sang murid meraih spidol dengan ragu-ragu. Detik yang sama para guru menghadap ke mimbar dan memperagakan gerakan mengokang senapan. Para guru tersebut telah berubah menjadi sepasukan regu tembak. Sang murid yang melihat itu hanya terdiam, penuh ketakutan dan keraguan.

“Jawablah dengan bijaksana,” bisik Kepala Sekolah berbahaya.

Sang murid ragu-ragu dan mulai mengangkat spidolnya. Menulis hasil persamaan dengan lambat-lambat sebelum akhirnya tertera angka lima.

Kepala sekolah mengangguk puas dan detik berikutnya para guru menurukan gaya mengokang senapan mereka.

“Kembali ke barisanmu,”

Sang murid kembali ke barisannya dengan wajah tertunduk. Kepala Sekolah sekali lagi menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

“Tak perlu bertanya, kalian cukup mematuhi kami-“

Seorang murid lain mengangkat tangan. “Maaf Pak, boleh saya mencoba menyelesaikan persamaan di depan?”

Sang Kepala Sekolah mengangkat alisnya dan terdiam sebelum akhirnya mempersilahkan murid itu naik ke mimbar. Dan seperti kejadian sebelumnya, Kepala Sekolah memberinya spidol dan para guru memasang gaya mengokang senapan.

“Jawab dengan bijaksana,”

Tanpa keraguan sang murid menyelesaikan  persamaan tersebut.

Dor! Dor! Dor!

Murid tersebut telah jatuh rebah dilantai. Darahnya mewarnai seragam putih yang diapakainya. Kepala Sekolah hanya melirik sekilas kepada tubuh mayat tersebut sebelum akhirnya memandang murid-muridnya.

“Tidak perlu bertanya! Cukup ikuti apa yang kami lakukan!”

Kepala Sekolah mengisyaratkan staff sekolah untuk menyingkirkan mayat tersebut dan mengangkat penghapus papan tulis. Menghapus hasil persamaan yang ditulis oleh siswa yang terbunuh, yaitu angka empat yang kemudian diganti menjadi angka lima.

“Ulangi aku, dua ditambah dua sama dengan lima,”

“Dua ditambah dua sama dengan lima,”

“Lebih kencang! Ulangi! Dua ditambah dua sama dengan lima,”

“Dua ditambah dua sama dengan lima,”
.
.
.
#HariGuru
#271115
*Terinspirasi dari Short Movie dengan judul “Dua dan Dua”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s