Aku Bahagia Saat…

“Riha, Papa telat nih! Papa tinggal ya,”

“Iya Pa!”

Dan mataku memandang Papaku yang berlari menerobos hujan lebat, memasuki mobil dan berangkat kerja.

Aku tersenyum, kedua tanganku menahan kepalaku sementara mataku masih memandangi derai hujan yang lebat. Sudut mataku menangkap 30 menit sebelum pukul 7 pagi.

‘Lima menit lagi,’ pikirku. Mataku masih memandang hujan. Setelah lima menit berlalu barulah aku memakai jas hujanku, meraih ranselku dan menenteng payung.

“Aduh, Riha pakai acara terlambat segala sih, jadi ditinggal Papa deh. Sekarang hujan lebat,” seru Bunda.

Aku cuma tersenyum dan pamit pada Bunda sebelum akhirnya membuka payungku. Aku melangkah perlahan ke halte bus sekolah yang tepat berada di depan rumahku.

Tak lama kemudian bus sekolahku pun datang. Sudah kuduga, hujan lebat begini pasti bus sekolah sepi. Biasanya para siswa pasti lebih memilih diantar oleh orang tua mereka kalau hujan deras seperti ini. Biasanya sih.

Mataku menelusuri deretan kursi di bus sebelum akhirnya memilih duduk di bangku panjang paling belakang. Sudut mataku diam-diam memandang sesosok pemuda yang duduk lima baris di depanku.

Yah, dialah alasanku untuk repot-repot naik bus sekolah di hujan deras seperti ini.

Namanya? Entahlah, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu dia kelas berapa. Yang kutahu hanyalah kami bersekolah di tempat yang sama.

Mataku kembali mencuri pandang pada dirinya sebelum kembali memandang keluar. Aku tersenyum kecil. Melirik lagi dan tersenyum lagi.

Entahlah, aku tidak terlalu peduli siapa namanya dan siapa dirinya. Satu hal yang kusadari adalah, sepertinya aku telah “terjatuh” padanya.

Berbeda dengan mereka yang berpendapat bahwa hujan di pagi hari adalah hal yang merepotkan. Bagiku, hujan di pagi hari adalah sebuah rahmat dari Allah SWT. Termasuk bagiku sekarang.

Aku melirik lagi dan kembali membuang pandanganku. Senyum kecil menghiasi wajahku.

Bus sekolahpun akhirnya berhenti di halaman sekolah. Para siswa penumpang bus mulai memakai jas hujan atau membuka payung mereka sebelum akhirnya berlari keluar dari bus menuju sekolah.

Akupun sama seperti mereka, hendak turun dari bus secara cepat sebelum akhirnya berselisih dengan pemuda itu. Kami saling bertabrakan.

Kami berpandangan sesaat sebelum akhirnya ia mengalah dan mempersilahkan aku turun duluan. Ah sayang sekali hanya sesaat, tapi ini lebih dari cukup.

Aku tersenyum sekilas sebelum akhirnya turun dan berlari ke sekolah. Hujan kali ini adalah berkah bagiku.

Aku selalu bahagia saat hujan turun. Karena aku akan selalu dapat memandanginya di bus itu.

.
.
.

“Hei Taufik! Bengong aja, ayo turun bus!”

Pemuda itu tersentak sesaat sebelum akhirnya membuka payung dan mengikuti kawannya.

“Menyebalkan sekali ya hujan deras di pagi begini,”

“Masa iya?” Taufik tidak mendengarkan.

“Kamu gak ngerasa repot hujan deras di pagi begini?”

“Enggak tuh. Kalau hujan deras begini aku selalu bisa lihat pelangi yang cantik kok,” gumam Taufik pelan. Matanya tak lepas dari sosok gadis yang hampir saja ditabraknya saat keluar dari bus barusan.

“Hee, dasar ngaco!”

“Aku harap musim hujan segera tiba,”

“Yang benar saja?!”
.
.
.

#PayungPelangi
#261115

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s