Pilih Yang Mana?

Kejadian ini sebenarnya terjadi di tahun 2014. Jaman dimana Indonesia lagi panas-panasnya karena negara kita tercintah (sekali lagi saya tekankan tercintah, because you knowlah~ semorat maritnya negara kita tetap aja I luph u Indonesia).

Buat yang pernah ngalamin pemilu presiden tahun 2014 pasti tahu betapa serunya pemilu yang satu itu.

Sepanjang saya ikut pemilu selama 25 tahun hidup di dunia, baru kali ini calon yang dipilih cuma ada dua. sekali lagi, cuma ada dua. (Tak perlulah saya jelaskan siapa aja kedua calon itu. Hey, pemilunya udah lewat lama, lagian dia udah jadi presiden selama satu tahun lebih. Jadi gak penting kan disebut?)

Kalau dulu-dulu awal saya kenal pemilu paling dikit ada tiga calon. Walau dikit tapi lumayan, lumayan ramai dan aman. Dan di pemilu tahun 2014 calonnya cuma ada dua, terbayanglah Indonesia pecah jadi dua suara.

Setiap hari di tv dan sarana apapun isinya kalau enggak mendukung satu pihak  pasti ngejelekin satu pihak. Isinya pada berantem semua. Saya aja pusing nontonnya, apalagi ditambah saluran tv tertentu pasti mendukung satu calon. Saking seringnya dukung mendukung saya juga jadi ngerti siapa aja yang punya saluran tv beserta aliran partai yang diikutin.

Wuah, pokoknya mantap!

Tapi itu baru di tv. Di hp serangannya lebih dashyat lagi. Segala macam pesan pendukung dan serangan gak jelas menyerbu merajalela. Satu hari notif bisa lebih dari ratusan cuma untuk debat gak jelas mendukung satu calon dan serang menyerang calon yang lain. Beuh, kalau bukan inget saya emang butuh grup itu mungkin selama pemilu saya keluar deh dari grup tersebut.

Tapi untunglah itu cuma di hp dan tv. Seenggaknya hidup masih rada aman. Pikir saya begitu.

Ternyata saudara-saudara, perang mengerikan itu juga terjadi di rumah saya. Di rumah saya, tinggal empat orang keluarga. Ayah, Bunda, Saya dan adek kecil umur 9 tahun. Sebenarnya masih ada satu lagi adek perempuan. Tapi dia kuliah di Jepang, selamatlah dia dari perang dashyat yang terjadi di rumah. Begitu juga dengan adek saya yang umur sembilan tahun. Karena dia belum cukup umur untuk tahu masalah coblos mencoblos, akhirnya selamat jugalah dia dari perang itu.

Dan sial buat saya. Karena saya termasuk yang bakal ikut memilih siapa yang akan menjadi takdir buat negaraku tercintah, akhirnya semua yang udah disebut di tv dan grup hp saya disebut lagi oleh orang tua saya. Masih lumayan kalau orang tua ngedukung buat calon yang sama. Yang bikin teror, ternyata ayah saya pendukung si A dan Bunda saya pendukung si B (yang sekali lagi gak perlulah saya jelasin siapa itu si A dan si B).

Dan sebagai pihak ketiga, rupanya saya telah ditetapkan sebagai tolak ukur siapa yang akan menang pemilu. What the? Saya yang cuma satu orang seuprit di daerah Tangerang tiba-tiba ditetapkan secara sepihak oleh orang tua yang akan menentukan kemenangan bakal calon yang mereka dukung?

Pemilu kita emang gila banget.

Tapi untunglah~ saya diselamatkan oleh satu pasal pemilu. Kerahasiaan. Seenggaknya hidup saya agak enak. Terserahlah orang tua mau milih apa, yang pasti mah siapapun yang saya pilih the show must go on!

Hari yang mengerikan itupun tiba.

Berbekal KTP tanpa surat undangan pemilu, pergilah kami ke TPS terdekat. Yeah, tanpa surat undangan, pede banget kan? Kami mampir ke TPS terdekat. Seperti biasa, kalau udah sampai di TPS harus periksa nama biar tahu kita milih di bilik mana.

Matahari cerah plus terik banget, tapi kami sekeluarga gak patah semangat buat ikutan pemilu. Daftar nama udah dipajang rapi di papan TPS. Saya juga ikutan baca mulai dari papan satu, geser ke papan dua, geser lagi ke papan tiga… geser terus sampai papan sepuluh, dan yaaa….. nama kami sekeluarga gak ada.

Pegel dan perih liat kertas warna putih yang entah kenapa rasanya silau banget, akhirnya saya ngulang baca lagi. Bedanya sekarang saya geser dari papan sepuluh, ke papan sembilan, terus….. sampai papan satu. Hasilnya? Nama kami masih gak ada!

Bingung juga, masa iya nama kami sekeluarga gak? Tadinya saya pingin periksa lagi daftar namanya, biar genap jadi tiga kali geser sana sini, tapi untunglah bunda ngelarang karena memang nama kami gak ada di TPS itu.

Kecewa maks. Tapi kami bertahan. No name no cry.Masih banyak jalan menuju TPS lain.

Setelah kami gagal di TPS satu, akhirnya kami pergilah ke TPS dua yang ada di lain benua. Bedanya disini kebanyakan yang milih mahasiswa semua, maklumlah memang deket sama daerah kampus sih. Setelah sampai, kami mengulangi rutinitas di TPS satu tadi, langsung cek daftar nama TPS. Untungnya disini papan daftar namanya enggak sebanyak di TPS satu, alhasil saya bisa bolak-balik lima kali cuma untuk ngecek nama. Begitulah, lima kali bolak-balik dan nama kami sekeluarga belum ada juga!

Wakss! Don’t cry, mari kita pergi ke TPS tiga.

Dan akhirnya tibalah kami di TPS tiga yang kebetulan pas di depan kantor kelurahan. Mumpung di kantor kelurahan kami sekeluarga nimbrunglah disana, bertanya-tanya kok nama kami gak ada di TPS manapun. Dan ternyata korbannya bukan cuma kami, ada beberapa orang juga yang bernasib sama sialnya dengan kami sekeluarga.

Tapi ternyata petugas kelurahannya gak tahu menahu kenapa nama kami pada gak ada. Dan kami diarahkan sama petugas kelurahan untuk nanya langsung sama petugas TPS yang pas lagi ada di depan kantor kelurahan. Para massa yang tidak puas akan nasib mereka pun langsung ngobrol sama petugas TPS itu. Atau mungkin bukan ngobrol kali ya, tapi langsung nembak mas kami mau nyoblos disini ajalah, soalnya udah ke banyak TPS tapi nama kami gak ada!

Petugas TPSnya cowok, masih muda, ada kali seumuran saya atau tua sedikitlah. Dikepung banyak orang, bisa apa dia? Dengan diplomatis petugasnya menjawab “Bapak Ibu tunggu aja di TPS terdekat sampai jam satu siang. Kalau sampai jam satu siang kertas suaranya masih ada, silahkan nyoblos dengan kertas suara itu.”

Wow, fantastis! Diplomatis sekali!

Dan kerumunan massa malah jadi gemes dan greget. Iya keles kita disuruh nunggu sampai jam satu, dengan probabilitas terkecil dan kemungkinan terlemah bahwa kita masih bisa nyoblos. Gimana gak kesel?

Saat kita masih gemes-gemesnya tahu-tahu datanglah pasangan suami istri ke TPS itu. Dengan keras protes bahwa nama dia gak ada sementara nama tetangganya yang udah meninggal beberapa tahun malah terdaftar untuk nyoblos pemilu kali itu.

Serentak semua massa menatap tajam petugas TPS itu.

Sekali lagi, petugas TPSnya cowok, masih muda, ada kali seumuran saya atau tua sedikitlah. Dipelototin banyak orang, bisa apa dia? Cuma bisa kabur lagi masuk ke dalam TPS, kabur dari kerumunan massa yang udah sebel banget. Dan karena udah gak ada petugas TPS yang mau berhubungan dengan kami yang udah sebel banget, akhirnya kami dibiarin aja diluar. Sendiri tanpa ada yang menemani.

Sedih. Perih rasanya kokoro ini. Kami berusaha menjalankan hak kami sebagai warga negara tapi… tapi… yak-sudah cukup dengan lebaynya.

Berpacu dengan waktu.

Kami kembali ke area TPS satu. Bedanya kami ke TPS empat. Kebetulan TPS empat memang agak sepi karena letaknya deket banget sama TPS satu. Dekeeeeettttt beeeuuudddd. Istilah lebaynya, kepleset juga sampai.

Jantung berdegup kencang, keringat mengalir di dahi, kami disambut dengan tatapan tajam dari petugas TPS.

“Mau ngapain mbak?” kata bapak-bapak yang jaga TPS.

“Mau nyoblos pak. Tapi nama kami sekeluarga gak ada dimana-mana, padahal udah dicari sampai kelurahan,”

Si bapak yang jaga TPS ngangguk-ngangguk aja sambil ngeliat kesana kemari. Jadi bingung, ini si bapak ngangguk atau nggeleng sih?

“Oh ya udah, nyoblos sini aja. Kertas suaranya masih sisa tuh,”

That’s it! Mudah, ringan tanpa bunga apapun! Sama si Bapak TPS kami sekeluarga disuruh nyoblos di TPS empat dengan entengnya. Prosesnya mudah dan gak berbelit-belit, palingan cuma suruh ngeliatin KTP aja terus dicatat.

Cuma lima menit dan tinta pemilu udah menodai jari kelingking kami.

“Kalau ada yang belum pemilu suruh ke TPS ini aja ya, biar surat suaranya habis,” kata si Bapak TPS ngasih iklan.

Dan kami hanya tersenyum hambar. Yah, tahu begitu tadi tukeran nomor hape sama kerumunan massa, biar pada nyoblos disini. Tapi ya sudahlah, ini namanya rejeki jadi jangan ditangisin.

Alhamdulillah, akhirnya bisa nyoblos juga. Aku dan keluargaku jalan menuju tempat parkir mobil.

“Dita tadi nyoblos siapa?”

Aku diem aja, cuma cengegesan rahasia. Oh, come on! Rahasia gitu loh!

#IOC Writing

#Challenge Pemilu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s