Janji

“Hei, janji ya. Suatu saat nanti, kita akan menikah”

“Tentu saja, kalau sudah besar nanti, aku hanya akan menikah denganmu”

“Janji ya, kalau melanggar nanti akan dihukum”

“Tentu saja,”

.

.

.

“Tidak ada gunanya bagi keluarga kita untuk bersatu dengan keluarga Lorraine,”

Aku mengerutkan keningku. Entah kenapa lantai kastil ini terasa lebih menarik dipandang dibanding harus menatap wajah ayahku, pemimpin kastil ini, Lord Reginar.

“Besok pagi-pagi sekali, gadis itu akan dipulangkan kembali kepada keluarganya. Putuskan semua hubunganmu dengannya,”

Itu adalah perintah. Suka tidak suka harus dipatuhi. Karena di kastil ini, semua perkataan ayahku adalah sebuah titah. Aku membungkuk hormat sebelum akhirnya undur diri dari hadapan ayahku. Kakiku melangkah pergi dengan pikiran yang menggelayut, apa yang harus kukatakan kepadanya?

Tanpa kusadari akhirnya aku tiba di kebun bunga mawar. Hanya beberapa kuntum bunga mawar yang merekah disana sini, sayang sekali. Padahal beberapa hari yang lalu, kebun mawar ini diwarnai dengan warna warni memikat dari semak mawar. Sepertinya hari ini semua mawar itu sudah melayu.

Aku duduk di kursi kayu bungalow tersebut, memandang malas semak berumpun tersebut. Disinilah aku pertama kali bertemu dengannya.

Srek srek srek

Kulihat salah satu semak bergerak liar. Aku memandang semak-semak tersebut, belum berniat bergerak waspada. Toh semak itu terletak sangat jauh dariku, selain itu sistem keamanan kastil ini sangat tinggi. Tidak ada alasan bagi orang luar untuk menyelinap masuk dalam kastil ini.

Srek srek srek

Aku berdiri dan menatap waspada pada semak tersebut.

Srek srek-

Seorang gadis keluar dari rerimbunan semak tersebut, tangannya mewadahi kuntum mawar warna warni sementara matanya menyusuri semak mawar disekelilingnya. Sesaat baru ia menyadari bahwa aku juga ada disana.

“Ah, Tuan muda Alankar rupanya,” ia membungkuk untuk memberi hormat, “Apakah saya mengagetkan anda?”

“Tidak sama sekali, Lady Finnea,” ujarku membalas bungkuk hormatnya.

“Apa yang sedang anda lakukan disini?”

Sang gadis membawa semak bunga tersebut ke arahku dan mendudukkan diri di kursi seberangku. Aku mengikuti gerak tubuhnya, ikut duduk santai dan memandang apapun yang yang gadis itu lakukan.

“Aku bermaksud membuat bunga kering dari mawar-mawar ini,” gumamnya.

Aku mengangkat alisku, “Sebanyak ini?”

Sang gadis hanya terdiam, masih sibuk memilah kuntum mawar yang dirasa cocok olehnya.

“Boleh saya bertanya, untuk apa?”

Tangan sang gadis berhenti sesaat sebelum akhirnya melanjutkan kembali, seakan tak ada jeda apapun. “Bukankah anda yang paling mengetahui alasannya, Tuan Alankar,” seulas senyum terpaksa terlihat diwajah sendu itu.

Ah ya, tentu saja. Sepertinya ia juga sudah tahu mengenai kepulangannya besok pagi-pagi sekali.

“Para pelayanku sedang membereskan semua barang-barangku, tak mudah sebenarnya mengingat aku telah tinggal di kastil ini sejak umur sepuluh tahun. Tapi mereka semua bersikeras aku harus menghabiskan waktuku di kebun mawar ini,” jelasnya masih dengan tersenyum.

“Tentu saja, kebun mawar ini adalah tempat favorit anda,” gumamku lambat.

“Yah, mengingat kastil keluargaku, Keluarga Lorraine, tidak memiliki kebun mawar seindah ini,”

Aku tersenyum, “Keluarga Reginar sangat terhormat dengan pujian anda,”

“Itu kenyataan,”

Dan suasana menjadi hening. Lady Finnea sibuk dengan bunga miliknya sementara aku hanya memandanginya. Entah kenapa lidahku terasa kelu di hadapannya. Padaha ini adalah saat terakhirku untuk berbicara dengannya, tapi entah kenapa semua kata-kata itu tak mau keluar dari lisanku.

“Maafkan aku,”

Lady Finnea mengangkat wajahnya dari semak mawar yang sedang ia tangani. Aku pun tak kalah terkejutnya. Diantara semua yang ingin kuucapkan, mengapa kata maaf yang justru keluar dari bibirku?

“Maafkan aku,” bisikku lagi. Lady Finnea hanya terdiam memandangku.

“Tak perlu meminta maaf, tuanku,” potong Lady Finnea saat aku hendak kembali meminta maaf. “Kita sama-sama mengerti, di dunia aristokrasi seperti ini pernikahan karena cinta adalah kemewahan yang tak akan pernah bisa kita dapatkan,” lanjutnya.

Aku hanya terdiam, tak mampu mengucapkan apapun.

“Karenanya anda tidak perlu merasa bersalah,” Lady Finnea tersenyum lembut padaku.

Aku kembali terdiam. Di hadapan gadis ini, entah kenapa tanah menjadi pemandangan yang lebih menarik dibanding menatap wajahnya.

“Ini tidak adil,”

Lady Finnea mendengarku, tapi ia memilih untuk diam mendengarkan.

“Bukankah ini sangat konyol! Menentukan pernikahan hanya karena semua itu membawa keuntungan atau tidak, hanya berdasarkan status sosial! Bukankah semua ini konyol?” aku terkekeh mengejek.

 “Ini semua memang konyol,” aku Lady Finnea. Aku menatap kearahnya, wajahnya memandang tenang kearahku sementara seulas senyum kembali terukir di bibirnya.

“Tapi dunia memang tidak pernah adil,” lanjutnya.

Aku menatap tidak puas. Kuulurkan tangaku kearahnya.

“Ikutlah denganku. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita tidak perlu mengikuti semua kekonyolan ini,”

Lady Finnea menatap terkejut kearahku akan tetapi ia tidak pernah menerima uluran tanganku. Wajahnya menggeleng sedih.

“Maafkan aku tuanku, kita tidak bisa melakukannya,”

“Kenapa? Kau dan aku, kita saling mencintai! Aku tahu itu!”

“Tuanku, anda tidak sedang berpikir jernih,”

“Aku tidak peduli-“

“Saya peduli pada anda, tuanku,” gumamnya. Tangannya menggenggam tanganku.

“Karena itu, saya tidak bisa melakukannya,” senyum itu kembali terukir.

.

.

.

Pagi telah tiba, aku berdiri di gerbang kastil bermaksud melepas Lady Finnea. Dapat kulihat gadis itu sedang membungkuk hormat kepada ayah dan ibuku yang dibalas dengan postur angkuh. Aku hanya bisa mendesah.

Lady Finnea berjalan menghampiriku dan akhirnya berdiri dihadapanku. Sang lady mengulurkan tangannya padaku dan aku mengecup punggung tangannya dengan lembut, sang lady hanya tersenyum. Aku menggenggam tangannya dan membantunya menaiki kereta kuda. Aku hendak memandanginya untuk yang terakhir kali-

“Tuanku, jika anda hendak memenuhi janji anda, saya akan terus menunggu anda,”

Aku membulatkan mataku.

“Apakah-“

“Jika anda siap untuk membuang semua yang anda miliki, silahkan datang dan jemput saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Kusir kereta telah memerintahkan para kuda untuk berjalan. Aku masih terpaku menatap wajah Lady Finnea yang masih terlihat dari jendela kereta.

Saya akan menunggu anda.

.

.

.

“Nona, apa maksudnya dengan ucapan anda tadi?” seorang pelayan wanita menegur Lady Finnea. Akan tetapi yang ditanya hanya tersenyum saja.

“Yang melanggar janji harus dihukum, kan?”

Pelayan wanita tersebut hanya bisa merengut, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh nonanya.


A/NAkhirnya selesai. Cerita ini dibuat untuk challenge 22/12 dari IOC Writing dan untuk Prompt Janji Kayu Logam dari One Week One Paper. Kayu untuk Lady Finnea yang namanya berarti Kayu dari Ford (nama perempuan dari Irlandia, tapi gak nemu Ford itu nama daerah atau nama pohon, nemunya malah perusahaan mobil Ford) dan Lord Alankar yang berarti emas atau perhiasan (dari bahasa sansekerta, lagian emas itu kan logam mulia). Kalau untuk challenge IOC itu ngambilnya hint dari Hari Sosial yang berarti kasta. Ceritanya ngegantung gak jelas? Yah, maafkan saja deh 😛

#IOC Writing Challenge 22/12 (Sosial)

#OWOP Prompt Janji Kayu Logam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s