Égoïste du Gentleman le Voleur

 

Yang terhormat Tuan Kirkland,

Malam ini saya akan datang ke kediaman anda. Rumor mengatakan bahwa putri anda yang menawan memiliki batu permata yang juga sangat menawan. Malam ini saya akan datang untuk memastikan kecantikan putri anda dan mengambil batu permata yang menawan itu.

Hormat saya,
Gentleman Thief


Seorang pria berumur baya meremas secarik kertas bertulis surat tersebut. Wajahnya geram.

“Apakah kau yakin bahwa pencuri itu tak akan bisa mencuri permataku?!”

“Kami akan mengusahakan yang terbaik. Tapi anda tahu sendiri Mr. Kirkland, Gentleman Thief itu pencuri cerdik yang selalu bisa lolos dari polisi,” Inspektur polisi menjelaskan dengan terbata.

“Tentu saja kalian tak bisa menangkap pencuri itu. Penampilan kalian saja tak meyakinkan,” ujar Mr.Kirkland meremehkan. Matanya menatap rendah sepasukan polisi pengawal.

“Terutama kamu!” Mr. Kirkland tiba-tiba saja menunjuk seorang polisi muda berkacamata.

“Disenggol sedikit aku yakin kamu langsung jatuh,” Mr. Kirkland masih mencela. Sang polisi muda cuma mampu tersenyum hambar.

“Sudah… sudah Mr. Kirkland. Sudah hampir tengah malam, lebih baik kita langsung mulai berjaga,” sang Inspektur menengahi.

Mr. Kirkland masih belum puas tetapi tidak membantah. Para polisi menyebar ke seluruh penjuru rumah, menempati pos mereka masing-masing. Tidak ada hal yang aneh.

.
.
.

Polisi muda berkacamata itu berjalan menyusuri lorong rumah yang sepi. Mungkin Dewi Fortuna memang sedang tersenyum padanya, dirinya ditugaskan untuk berjaga tepat di depan kamar putri Mr. Kirkland. Kepalanya menoleh ke kanan kiri sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar milik putri Mr. Kirkland.

Tok tok tok

“Silahkan masuk,”

Polisi muda tersebut masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar itu gelap, lampunya dimatikan. Akan tetapi pintu balkon kamar tersebut terbuka lebar, angin malam memasuki kamar tersebut. Seorang gadis berdiri dengan anggun dilatar belakangi oleh pintu balkon dan pemandangan langit malam.

“Nona, saya bertugas untuk melindungi anda dan batu permata milik anda,” ujar polisi muda itu sambil menyentuh tepi topi polisi miliknya.

Sang gadis hanya terdiam.

“Hampir tengah malam. Jika anda menyerahkan batu permata itu kepada saya, akan saya pastikan Gentleman Thief tidak akan pernah melukai anda,”

Sang gadis tersenyum. “Gentleman Thief tidak akan melukai saya,”

“Bagaimana anda bisa yakin?”

“Karena ia sudah datang dan menemuiku,”

Sang polisi muda terkejut. “Nona, sebaiknya anda serahkan batu permata itu dan-“

Ucapan polisi muda itu terpotong. Sang gadis berjalan mendekati sang polisi dan mendekatkan wajahnya ke wajah polisi tersebut.

“Mr. Gentleman Thief, saya yakin anda adalah orang tersebut. Jadi anda tidak perlu menyamar menjadi polisi lagi,”

Polisi muda tersebut awalnya terkejut tapi langsung menguasai diri dan tersenyum tenang.

“Bagaimana anda tahu bahwa saya adalah Gentleman Thief?”

“Saat anda pertama kali melihat saya, mata anda menunjukkan rasa tertarik dan memandang penuh selidik pada wajah saya dan permata ini,” jelas sang gadis sambil menyentuh permata yang disematkan di bagian depan gaunnya.

Sang polisi muda atau tepatnya sang Gentleman Thief hanya bersiul kagum.

“Saya akan menyerahkan batu permata ini kepada anda. Tanpa anda perlu merasa bersusah payah,” ujar sang gadis jelas.

Mr. Gentleman Thief menaikkan salah satu alisnya. Merasa tertarik.

“Dengan syarat, anda juga harus membawa saya pergi dari sini,” gumam sang Gadis.

Gentleman Thief sesaat terkejut, kedua matanya membulat sempurna, tetapi pemuda itu mampu menguasai dirinya. Bibirnya kembali menunjukkan seulas senyum percaya diri, matanya memancarkan binar licik.

“Sebutkan satu alasan mengapa saya harus membawa anda pergi dari kediaman ini, milady?” Thief menekankan suarnya pada kata Milady dengan nada suara mengejek. Sang Nona Bangsawan menyadari hal itu, tetapi ini bukan saatnya untuk mempermasalahkan nada suara yang kurang ajar itu.

Sang gadis menjauhkan wajahnya dari wajah Gentleman Thief dan mundur beberapa langkah. Gentleman Thief sedikit menyesali tindakan sang Nona bangsawan, hilang sudah kesempatannya untuk menikmati wajah menawan itu dari dekat. Tapi biarlah, toh tubuh gadis itu masih dalam jarak dekat dari dirinya, setidaknya Gentleman Thief masih bisa menikmati wajah rupawan itu walau tidak sedekat sebelumnya.

“Aku akan berikan tiga alasan bagus mengapa anda harus membawaku keluar dari sini.”

“Dan alasan apa sajakah itu? Lady-?”

“Primrose. Namaku adalah Primrose Kirkland.”

“Baiklah Lady Primrose, tergantung dari jawaban anda mungkin saya akan berkenan membawa anda pergi dari sini,” Thief  membungkuk sedikit dengan sikap meremehkan dan seringai merendahkan.

“Alasan pertama, jika kau membawaku, ayahku akan melakukan apapun untuk kembali mendapatkan diriku, dan kau bisa meminta uang yang banyak dari ayahku,”

Thief tidak merasa tertarik.

“Alasan kedua, kau adalah Gentleman Thief, pencuri yang khusus mencuri batu permata. Jika kau membawaku, aku bisa memberimu banyak informasi mengenai permata langka yang indah. Err… setidaknya untuk di daerah ini,” Primrose sebenarnya merasa tidak yakin, tapi ia berusaha bersikap meyakinkan. Sayangnya binar matanya tidak begitu meyakinkan dan Thief menyadari hal itu.

Akan tetapi Thief tidak peduli. Ia terkekeh kecil, menikmati wajah sang Lady yang sama sekali tidak polos dan lebih berkesan seperti anak kecil yang tertangkap basah mengambil kue.

“Dan alasan ketiga?” kali ini Thief memancing sang Lady.

Primrose menunjukkan wajah keengganan, ia terdiam sesaat dan menatap wajah Thief dengan ragu. Thief menunggu.

“Alasan ketiga…,”

Thief masih menunggu.

“… Saya tekurung di rumah ini sejak Ibu saya meninggal karena kecelakaan. Saya tahu Ayah hanya merasa khawatir pada saya, tapi…” Primrose tidak pernah menyelesaikan kalimat itu dan Thief tidak pula mendesaknya.

“Saya mohon Sir Gentleman Thief, tolong bawa saya keluar dari rumah ini!” Primrose menunjukkan wajahnya yang penuh harap.

“Dan, jika saya tidak memenuhi keinganan anda, apa yang akan anda lakukan? Milady?”

Primrose terkejut sesaat, tangannya langsung menutupi erat-erat permata yang tersemat di bagian depan gaunnya. Kakinya mundur beberapa langkah. “Jika memang begitu, saya tidak akan membiarkan anda membawa permata ini!”

Thief terkekeh.

Teng Teng Teng

Lonceng tengah malam berbunyi dari menara jam terdekat. Primrose terkesiap sesaat. Gentleman Thief berdiri tegap di depan sang gadis. Semuanya terjadi begitu cepat, bahkan Primrose tidak sadar apa yang terjadi. Tapi satu-satunya yang ia sadari adalah tiba-tiba saja Gentleman Thief telah mengecup bibirnya. Saat Primrose masih bingung, Gentleman Thief telah berdiri di sandaran balkon kamarnya, pakaiannya pun telah berubah – setelan tuksedo berjubah warna hitam, topi tinggi dari sutra hitam dengan sedikit aksen merah, dan sepatu kulit hitam mengilat. Tangan Thief yang menggunakan kaus tangan putih menggenggam permata besar berwarna merah gelap. Primrose langsung memeriksa bagian depan gaunnya dan mendapati bahwa permata miliknya telah menghilang. Saat Primrose kembali memandang Gentleman Thief, pemuda itu mengecup permata miliknya dengan sikap arogan yang terlihat jelas.

“Maafkan saya Lady Primrose, tapi saya tidak tertarik dengan semua alasan anda,”

Suara riuh mulai terdengar, para polisi yang berjaga di bawah balkon kamar Primrose tampaknya sudah menyadari keberadaan Gentleman Thief di kamarnya. Langkah kaki berlari dalam jumlah banyak terdengar mendekati kamarnya.

“Terima kasih untuk permata ini dan kecupan anda.”

Pintu kamar Primrose terbanting terbuka, inspektur polisi Lestrade muncul dengan wajah memerah marah.

“Kali ini kau akan kutangkap Thief!”

Gentleman Thief hanya tertawa angkuh dan meloncat ke atap kediaman Mr. Kirkland. Inspektur Lestrade hanya mampu mengejar Thief sampai ke balkon dan meneriakkan sumpah serapah. Ia segera memerintahkan para polisi untuk mengejar pencuri itu sebelum akhirnya ikut berlari keluar kamar Primrose.

Mr. Kirkland langsung memeluk Primrose, meracaukan apakah Primrose terluka ataukah Thief telah melakukan sesuatu kepadanya. Primrose hanya terdiam dan menggeleng pelan, menjawab semua racauan ayahnya yang telah hilang akal dan memastikan bahwa dirinya dalam keadaan yang baik.

Yah, sedikit baik. Karena pada kenyataannya, Gentleman Thief dengan sangat kurang ajar telah mencuri ciuman pertamanya. Wajah Primrose memerah. Ah, dan jangan lupakan fakta bahwa permata miliknya juga sudah dicuri oleh Thief. Tapi Primrose dan Mr. Kirkland dari awal tidak begitu peduli dengan hal itu. Primrose hanya merasa bahwa ini kesempatannya untuk keluar kediaman dengan memanfaatkan Gentleman Thief, walaupun usaha itu gagal. Sementara Mr. Kirkland dengan angkuh menyatakan bahwa ia masih memiliki banyak permata yang langka dan menawan sehingga kehilangan satu permata bukanlah hal yang penting. Jadi, dari awal Nothing to lose untuk Mr. Kirkland selama Primrosenya baik-baik saja.

Mr. Kirkland masih terus memeluk Primrose saat Inspektur Lestrade kembali ke kamar Primrose.

“Maafkan saya Mr. Kirkland, lagi-lagi Thief sialan itu berhasil lolos,” wajah Lestrade memerah malu.

“Sudah kukatakan, kalian memang tidak berguna dan tidak bisa diharapkan. Untunglah Primroseku baik-baik saja,”

“Apakah anda terluka, Lady Primrose?” Inspektur Lestrade dengan enggan menoleh kepada Primrose. Gadis itu hanya menggeleng pelan.

“Apakah-“

“Primroseku baik-baik saja dan ia lelah. Semua kekacauan ini membuatnya lelah. Kau dan aku akan kembali ke ruang kerjaku. Primrose, istirahatlah!” Mr. Kirkland memotong ucapan Lestrade yang kelihatan jelas sekali inspektur itu merasa berterima kasih. Ia tidak pernah bisa berurusan dengan perempuan, apalagi seorang Lady kelas atas.

Primrose mengangguk kecil sementara Mr. Kirkland mendorong Lestrade dan keluar dari kamar Primrose. Kegelapan kembali menyelimuti kamar itu, meskipun suara bising polisi dan derap lari mereka masih sayup terdengar. Primrose melangkah ke balkon, berdiam dan memandangi langit malam berbintang itu. Tidak ada bulan, situasi malam yang cocok untuk Gentleman Thief melarikan diri.

Primrose menggosok bibirnya dengan keras, wajahnya terlihat kesal meski tak dipungkiri juga merona merah.

“Gentleman Thief bodoh,” gumamnya.

Primrose masih berdiri di balkon itu, tenggelam dalam kesunyian angin malam. Ia memutuskan untuk terus berdiri disana, mengenang Gentleman Thief sebelum akhirnya-

Primrose hendak menjerit, mulut dan hidungnya ditutup oleh saputangan yang memiliki bau yang aneh. Semakin Primrose berusaha bernapas, semakin gadis itu merasa pusing.

-semua menjadi gelap.

 


 

Pagi yang tenang menurut Mr. Kirkland. Pria itu menghirup aroma teh Earl Grey kesukaannya yang selalu membuatnya tenang di pagi hari, terutama setelah melalui malam yang merepotkan.

Sungguh sialan Gentleman Thief dan Lestrade, rutuk Mr. Kirkland dalam hati. Malam yang seharusnya sempurna, dengan ia merencanakan dirinya dan Primrose menonton pertunjukan opera di gedung terdekat harus batal karena surat peringatan Thief dan Lestrade yang tidak becus.

Untunglah aku berhasil mengusir mereka semua kemarin malam, pikirnya lagi dengan bangga hati. Dalam hati memantapkan diri untuk menjalankan semua rencana kerjanya hari ini dan sesekali menghabiskan waktu dengan Primrose. Walaupun ia seorang Earl yang sibuk tapi ia tidak ingin Primrose merasa kesepian.

Tapi, dimana gadis itu? Biasanya pagi seperti ini ia sudah menemani sang Earl menyantap English Breakfast miliknya. Sang Earl sedang mencecap teh miliknya saat seorang pelayan berlari tergesa kearahnya. Napasnya tersengal dan keringat mengalir di dahinya, tetapi pelayan wanita itu tidak mempedulikannya.

“Tuanku, hal yang gawat!”

Sang Earl hanya menatap bingung, akan tetapi aroma teh miliknya begitu menggoda. Memang tidak sopan, tetapi sang Earl memutuskan untuk meminum tehnya sambil mendengarkan entah laporan apa itu.

“Lady Primrose diculik! Penculiknya meninggalkan surat!”

Detik berikutnya, kalimat sang pelayan sudah terpotong paksa oleh semburan teh yang telak di muka.


 

Primrose membuka matanya akan tetapi pandangannya terasa gelap, kepalanya juga merasa pusing. Primrose menuntup matanya sekali lagi dan membukanya, berusaha melihat apapun. Suasananya memang sudah tidak segelap yang pertama akan tetapi Primrose masih merasa pusing. Primrose berusaha memahami keadaannya, tangan dan kakinya bergerak bebas. Dirinya sedang duduk di lantai semen yang dingin, bersandar pada dinding batu yang juga dingin. Primrose berusaha meraba daerah sekelilingnya, sekitar lima meter di depannya terdapat jeruji besi yang menghalangi langkahnya untuk jauh ke depan. Sepertinya Primrose terjebak dalam penjara, pantas saja dirinya tidak diikat.

Primrose berusaha mengingat penculiknya, tetapi tidak ada apapun yang ia ingat. Hal terakhir yang gadis itu ingat hanyalah ia sedang berdiri di balkon kamarnya dan tiba-tiba saja semuanya langsung gelap.

Gadis itu baru saja berusaha duduk kembali di lantai semen yang dingin saat seberkas cahaya tiba-tiba saja menyeruak diikuti suara bantingan yang keras. Seorang pria berwajah jelek dan kasar memegang nampan berisi makanan dan air minum, meletakkannya di lantai dan mendorongnya ke sela jeruji besi bagian bawah penjara. Primrose baru sadar ternyata jeruji besi itu tidak sampai ke lantai tetapi ada jarak sehingga makanan bisa didorong masuk melalui jarak tersebut.

“Makan!” geram pria tersebut.

Primrose gemetar ketakutan dan memandang isi piring tersebut. Isinya hanyalah roti selai  dan air putih.

“Makan!” gertak pria itu lagi. Primrose tidak punya pilihan lain selain memakan roti tersebut.

“Hei jangan galak begitu!” seru pria yang lain.

Primrose menatap pria lain tersebut sambil mengunyah rotinya, rasanya sungguh tidak enak. Pria yang baru ini juga tidak lebih baik dari pria yang pertama, wajahnya tidak sejelek dan sekasar pria sebelumnya, akan tetapi raut wajah licik dan perhitungannya jelas tergambar.

“Maafkan saya yang hanya mampu menyuguhkan roti dan air putih untuk Lady,” ujarnya dengan nada yang dibuat-buat. Primrose hanya mengerutkan kening.

“Nah nah, mungkin anda bertanya mengapa anda di tempat yang kumuh seperti ini,”

Primrose hanya terdiam, meski merasa takut ia berusaha menunjukkan raut wajah tenang.

“Tenang saja Lady Primrose, kami tidak akan menyakiti anda. Setidaknya belum,”

“Apa yang kalian inginkan dariku?” Primrose mulai angkat suara.

“Nah, itulah yang dinamakan semangat,” sang penculik mengangguk puas. “Oh, maafkan aku Lady, tapi kami tidak mengiginkan apapun dari anda, atau mungkin lebih tepatnya kami mengiginkan sesuatu dari ayah anda,”

“Dan itu adalah…,”

Well, kami berpikir apakah uang sebanyak 100 juta pounds cukup murah bagi ayah anda untuk memastikan anda kembali ke rumah dengan selamat?”

Primrose membulatkan matanya. 100 juta pounds? Mereka pasti bercanda!

“Nah, selama ayah anda menyiapkan uang itu. Dengan sangat terpaksa anda harus menginap di kamar yang mewah ini milady,” sang penculik memandang sekeliling ruangan dengan tawa meremehkan.

“Kami undur diri dulu. Jika anda membutuhkan sesuatu, pelayan kami siap melayani anda,” ujarnya sambil tertawa mengejek. Kedua pria itu keluar ruangan dan pintu kembali ditutup, Primrose kembali ditinggalkan dalam suasana gelap yang mencekam. Saat ini Primrose merasa takut dan cemas.


 

Mr. Kirkland yang terhormat,

Putri anda sungguh rupawan. Untuk saat ini saya akan mengambil putri anda. Akan tetapi jika anda mengiginkan putri tersayang anda kembali dalam keadaan utuh, mungkin uang sebanyak 100 juta Pounds akan sangat tidak berarti dimata anda.

Saya akan menghubungi anda lagi. Untuk saat ini, tolong siapkan uang anda atau saya tidak menjamin keselamatan putri anda.

.

.

“Gentleman Thief keparat! Ia mengambil Primroseku!” Mr. Kirkland meninju meja kerjanya, mengakibatkan pena dan kertas-kertas kerjanya jatuh berhamburan di lantai.
Tenanglah Mr. Kirkland, ini sungguh tidak masuk akal. Maksud saya Gentleman Thief hanya mencuri batu permata, kasus ini tidak sepertia pencuri itu yang biasanya,” Inspektur Lestrade berusaha menenangkan Mr. Kirkland, tetapi sia-sia.

“Kau benar-benar idiot! Surat peringatan kemarin juga mengatakan bahwa pencuri itu juga tertarik pada putriku!” Mr. Kirkland meraung.

“Tapi surat pemberitahuan ini sangat aneh-“

“Apanya yang aneh? Dan aku heran kalian masih disini! Cepat cari putriku!” Mr. Kirkland mulai hilang akal. Sang Butler tua yang berdiri disamping Mr. Kirkland berusaha menenangkannya.

“100 juta pounds! 100 juta pounds! Aku tak peduli, siapkan uang sebanyak itu!” Mr. Kirkland memerintahkan Butler tua itu, akan tetapi Butler itu hanya memasang raut wajah cemas.

“Mr. Kirkland, sadarlah! Kau bersedia memenuhi tuntutan penculik yang tidak jelas ini?!” Lestrade tidak percaya.

Mr. Kirkland merengut kasar kerah baju Inspektur Lesrade, sorot matanya mengancam. “Aku akan melakukan apapun agar Primroseku kembali, walau aku harus menjual jiwaku pada iblis! Dan sebaiknya kau melaksanakan tugasmu dengan baik! Karena saat aku menjadi iblis, kaulah yang pertama akan kuseret ke neraka!”

Inspektur Lestrade bergidik ngeri.


 

Seorang pemuda berjalan dengan santai sambil membawa tas kertas belanjaan miliknya, sepotong roti Baguette menyembul dari kantong kertas tersebut. Selintas pemuda itu terlihat normal di lingkungannya apalagi ia mengenakan pakaian yang normal, kemeja putih dipadu dengan celana coklat muda bersuspender dan dilengkapi dengan jaket berwarna senada. Tak lupa flat cap berwana gelap. Sempurna.

Pemuda itu baru saja berbelanja di toko terdekat dan dalam perjalanan pulang sebelum ia mendapati pemandangan yang tidak biasa. Dua orang polisi menempel pengumuman kertas dan berlalu dari tempat itu dengan tergesa. Polisi muncul di daerah ini sangat tidak biasa, apalagi menempel pengumuman kertas? Itu sangat tidak biasa.

Kondisi tidak biasa itu menarik para warga untuk melihat apa yang ditempelkan oleh para polisi. Tak terkecuali pemuda itu – Phillip, ia juga mendekati papan pengumuman. Tapi apa yang dilihatnya sangat mengejutkan. Tiga helai poster kertas dengan sketsa kasar wajah Gentleman Thief terpampang jelas di pengumuman tersebut.

Dicari karena menculik Lady Primrose Kirkland

Pengumuman bercetak tebal itu tertulis besar-besar di poster tersebut. Tidak hanya satu, tapi juga tiga! Phillip menarik topinya lebih dalam ke kepalanya, ia segera berlalu dari tempat itu. Wajahnya geram dalam hati berjanji akan membalas perbuatan konyol sang lady manja itu!


 

Phillip atau lebih dikenal dengan panggilan Gentleman Thief melakukan parkour dari satu atap ke atap lainnya. Malam ini ia tidak menggunakan kostum Gentleman Thiefnya akan tetapi menggunakan jubah berwarna senada dengan gelapnya malam. Pemuda itu tidak terlihat ragu-ragu jika harus meloncat ke gedung lain yang berjarak cukup jauh. Tubuhnya telah dilatih sejak kecil, terima kasih atas kerasnya hidup di jalanan. Hanya sekejap pemuda itu akhirnya tiba di kediaman Mr. Kirkland. Ia terduduk di atap kediaman tersebut, matanya menjelajah, mencari tempat yang memungkinkan baginya untuk mencari informasi.

Matanya menangkap pemandangan jendela kamar yang masih terang, padahal hari telah malam. Dengan lincah dan perlahan Phillip mendekati jendela kamar itu, memposisikan dirinya agar tidak terlihat dari dalam. Dewi Fortuna memang sangat menyayanginya, kamar itu sepertinya ruang kerja Mr. Kirkland.

“-hal yang bodoh! 100 juta pounds Mr. Kirkland! Pikirkan lagi!”

Phillip menyeringai, itu suara Inspektur bodoh Lestrade.

“Dan membiarkan Primroseku yang manis dalam bahaya? Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu terlebih dahulu!” Mr. Kirkland meraung geram.

Phillip menghela napas lelah. Tentu saja, Mr. Kirkland terlalu menyayangi putrinya, menjadikan putrinya sebagai sasaran empuk untuk semua kejahatan penculikan dan pemerasan. Phillip secara asal memandang sekeliling dan matanya tidak sengaja memandang sesuatu. Sesosok tubuh keluar menyelinap kediaman Mr. Kirkland dengan tingkah yang mencurigakan.

Phillip menatap tajam sosok mencurigakan tersebut, mendengar percakapan tidak penting antara Mr. Kirkland dan Lestrade dan memutuskan untuk mengikuti sosok tersebut. Tak ada salahnya kan? Mungkin saja sosok mencurigakan tersebut ada hubungannya dengan hilangnya Lady Primrose.

Phillip kembali ber-parkour antar atap. Ia memastikan sosok misterius itu masih dalam jarak pandangnya. Sesekali sosok misterius itu melirik sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Akan tetapi sepertinya sosok itu tidak menyangka bahwa yang mengikuti dirinya tidak berada di tanah melainkan ada di atas atap. Perilaku sosok aneh itu yang waspada menjadi perhatian Phillip. Ia tidak akan melepaskan pandangannya dari sosok tersebut.

Phillip tiba di pinggiran kota, sosok misterius itu memasuki gedung dua lantai yang terlantar tersebut. Phillip meneliti bagian luar gedung, tidak ada yang aneh meski penampilannya sangat mengerikan. Phillip meloncat keatap gedung tersebut dan menggelantung di sisi atap, membiarkan tubuhnya mengantung jatuh dengan hanya mengandalkan kedua tangannya yang menggenggam erat sisi atap. Perlahan tubuhnya menggeser sedikit demi sedikit, berusaha menjelajahi jendela yang berjejer di gedung tersebut.

Jendela kesatu, jendela kedua, tidak nampak sesuatu yang aneh kecuali puing-puing terlantar. Jendela kelima Phillip bisa melihatnya, Lady Primrose duduk bersender dibalik jeruji penjara. Punggung sang Lady menghadap kearah Phillip sehingga Primrose tidak menyadari keberadaan Phillip. Phillip menggeser tubuhnya dan tiba di jendela keenam. Disana Phillip melihat tiga sosok yang sedang berbincang satu sama lain, wajah mereka tampak tenang dan tertawa puas.

Phillip kembali mengangkat tubuhnya dan memanjat atap gedung. Dewi Fortuna sungguh sangat berbaik hati padanya. Pemuda itu melirik arlojinya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Benaknya berpikir cepat.

“Nah, bagaimana caraku memanfaatkan kebaikan hati Dewi Fortuna kali ini?” gumamnya pelan. Akan tetapi seringai licik terukir di bibirnya.


 

“100 juta pounds, kira-kira apa yang akan kulakukan dengan uang sebanyak itu?” Penculik berwajah licik mulai berandai-andai.

“Tentu saja aku akan pergi keliling dunia, minum-minum ditemani wanita cantik. Itu pasti menyenangkan!”

“Aku akan makan semua makanan paling enak di dunia!”

Para penculik itu tertawa puas sambal membayangkan apa yang akan mereka lakukan dengan uang tebusan 100 juta pounds. Primrose menatap para penculiknya dengan jengah akan tetapi terlalu takut untuk berbicara sesuatu.

“Sudah hampir tengah malam. Lebih baik aku kembali ke kediaman Kirkland untuk mencari informasi terbaru,” ujar salah satu penculik itu. Ia membuka pintunya sebelum akhirnya-

“Selamat malam tuan-tuan. Mungkin aku bisa bergabung dalam kegembiraan anda sekalian?”

Para penculik saking terkejutnya berdiri dari duduknya sementara Primrose menoleh kearah Gentlemen Thief. Di depan pintu Gentleman Thief menggunakan kostumnya yang biasa digunakan untuk beraksi dan berdiri dengan penuh rasa percaya diri, tak lupa ia memasang seringai di bibirnya.

“Selamat malam gentlemen,” Thief menyentuh tepi topi tingginya sesaat. “Saya mendengar kabar bahwa Lady Primrose Kirkland-“ Thief melirik sesaat kepada Primrose yang berada di balik jeruji “-diculik olehku, Gentleman Thief ini.”

“Jika memang begitu, mungkin sudi kiranya gentlemen mengembalikan Lady kepadaku?”

“Hanya dalam mimpi!” Penculik berwajah licik menggertak, detik kemudian suara tembakan terdengar menggema di seluruh gedung.

Primrose menjerit kaget. Gentleman Thief jatuh ke lantai dan tidak bergerak, warna merah mengalir keluar dari dada kirinya dan menetes membasahi lantai. Primrose menempel di jeruji besi, meneriakkan panggilan Phantom Thief.

“Cepat bawa gadis itu keluar! Kita harus pergi dari gedung ini secepat mungkin!” Penculik ketiga memutar kunci penjara dan langsung meraup tubuh Primrose. Primrose berusaha melawan akan tetapi penculik pertama berwajah jelek dan kasar langsung menggendong gadis itu di tubuh kekarnya. Usaha Primrose untuk melawan menjadi tidak berarti dihadapan pria bertubuh kasar itu.

“Cepat! Kita tidak tahu jika Thief itu menghubungi polisi! Siapa tahu saja polisi dalam perjalanan kesini!”

Primrose terus menjeritkan Gentleman Thief tapi tubuhnya dibawa kabur dengan cepat. Tubuh Gentleman Thief yang malang itu hanya berbaring diam di lantai hingga hilang dari pandangan Primrose. Para penculik dan Primrose sudah keluar dari gedung tersebut, mereka sedang berdiskusi serius mengenai arah pelarian mereka saat mereka mendengar tawa lantang yang puas.

Well gentlemen, usaha yang bagus tapi tidak cukup bagus.”

Gentleman Thief menatap para penculik dari atap gedung satu lantai di seberang gedung sebelumnya. Bibirnya melempar seulas senyum tetapi sorot matanya sangat dingin.

“Kau?! Bagaimana bisa? Ah itu tidak penting!” Penculik ketiga mencari-cari senjata dibalik pakaiannya tetapi ia terlalu terlambat. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan ia pun jatuh ke tanah dengan suara yang cukup keras. Bukan hanya satu, tapi kedua penculik lain pun masing-masing jatuh ke tanah. Primrose yang digendong oleh salah satu penculik langsung ikut jatuh ke tanah.

Primrose menatap tubuh para penculik tersebut, mereka tidak mati maupun pingsan karena mata mereka masih terbuka. Apapun itu sepertinya para penculik itu tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Gentleman Thief meloncat turun dan melangkah dengan santai.

“Obat bius, gentlemen. Dengan ini akan saya pastikan kalian akan membayar mahal kelakuan kalian- memanfaatkan namaku- dan berakhir dengan sangat elegan di penjara,” Gentleman Thief menyentuh tepi topinya dan tersenyum mengejek.

“Kau… beraninya!”

“Ups, tidak perlu berbicara tuan. Itu paling baik untuk anda saat ini,” Thief membungkukan tubuhnya sedikit.

Bunyi raungan sirene polisi terdengar sahut menyahut. “Jemputan anda sudah tiba, para gentlemen. Saya mohon pamit,” Thief melemparkan sehelai kertas kearah para penculik. Primrose hendak meraih kertas itu akan tetapi Gentleman Thief tiba-tiba saja telah menggendong tubuhnya layaknya pengantin baru disumpah.

“Dan saya akan membawa Lady ini,” Thief tertawa puas.

Semuanya terjadi begitu cepat. Primrose yakin sedetik yang lalu ia masih digendong di tanah oleh Thief tapi sekarang Thief telah berdiri diatap gedung terlantar berlantai tiga. Sirene polisi meraung keras dan mobil-mobil polisi itu berhenti tepat dimana para penculik malang itu jatuh dan tidak mampu menggerakkan tubuh mereka. Thief berdiri sesaat, memastikan polisi menemukan para penculik tersebut dan akhirnya pergi dari tempat itu dengan melakukan parkour.

Primrose mengigil ketakutan. Tidak saja Thief melompat antar gedung, tetapi sesekali Thief melakukan hal-hal yang mengerikan. Tanpa sadar Primrose mengalungkan lengannya di leher Thief dan menutup matanya.

“Tenang saja milady, saya tidak akan membiarkan anda terluka meskipun hanya sehelai rambut anda.” Primrose menatap wajah Thief. Bibirnya mengulas senyum yang ramah dan sinar matanya menunjukkan binar mata yang lembut. Sangat berbeda dengan Thief yang pertama kali Primrose jumpai, arogan dan penuh dengan rasa percaya diri.

“Pandangilah langit diatas itu Lady,” Thief mengarahkan pandangannya ke angkasa, Primrose mengikuti. Sejuta bintang bertabur indah di langit, bagaikan permata yang berkelap kelip. Primrose terperangah, pemandangan itu adalah pemandangan terindah dalam hidupnya.

“Indah bukan?” Thief bagaikan mampu membaca pikiran Primrose. “Tapi semua itu belum berarti apapun, Nona. Masih banyak hal lain yang indah di dunia ini,” Thief melanjutkan.

“Hal seperti apakah itu?”

Thief berhenti dari aksi lompat melompatnya dan mengisyaratkan agar Primrose melihat kearah depan. Primrose mengikuti isyarat Thief dan matanya membulat. Dihadapan Thief dan Primrose saat ini terhampar pemandangan kerlap kerlip lampu daerah perkotaan. Pemandangan itu begitu indah, bagaikan pemandangan bintang yang berada di daratan.

“Indah sekali,” gumam Primrose. Thief hanya terdiam dan tersenyum.

“Anda tahu Sir Thief?” Thief memandang Primrose. “Ada sebuah ungkapan lama, saat seseorang melihat pemandangan yang indah ia akan mengatakan bahwa ia telah menumpahkan kotak perhiasan,” Primrose melemparkan senyumannya. Sesaat Thief terpana dengan senyuman itu, tapi ia berhasil menguasai dirinya dan kembali melompat antar gedung. “Hmm, menumpahkan kotak perhiasan. Masuk akal,”

Thief dan Primrose terdiam, menikmati suasana sepi ini. Primrose terlalu terpana dengan angkasa dan indahnya kerlip lampu perkotaan hingga ia tidak menyadari kemana Thief membawanya pergi.

“Err… Sir Thief, dimana  kita sekarang?” Primrose menoleh sekeliling, tidak yakin dimana sekarang ia berada. Thief hanya tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan Primrose. Tiba-tiba saja Thief berhenti di sebuah atap rumah.

Lady Primrose, saat ini di kota tersebar berita bahwa aku –Gentleman Thief telah menculik Lady Primrose Kirkland,” Primrose membulatkan matanya.

“Sekarang anda sadar bukan? Itu berarti anda adalah milikku, dan aku berhak membawa anda kemanapun yang aku inginkan,” Primrose hanya bisa terdiam, Tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat, wajah dan telinganya terasa panas. Primrose yakin saat ini wajahnya memerah dan tidak bisa menyembunyikannya dari Gentleman Thief.

“Karena itu milady Primrose…,” Thief berbisik pelan tepat di telinga Primrose. Primrose hanya bisa menutup matanya dan merasakan dirinya melambung. Gadis itu masih menutup mata saat Thief menurunkan tubuhnya dari gendongannya dan memosisikan gadis itu untuk berdiri. Primrose membuka matanya dan menatap sekeliling, merasa tidak yakin tapi sepertinya gadis itu berada di kamarnya.

“… saya kembalikan diri anda kepada Mr. Kirkland.” lanjut Thief.

Primrose menatap heran wajah Thief. “Kenapa…?”

“Karena saya bebas melakukannya,”

Primrose menatap sedih kepada Thief, mencoba memohon tetapi Thief tidak mengubah pikirannya. Primrose memandang lantai dengan sedih, saat ini  entah kenapa menatap lantai jauh lebih menarik dibanding harus menatap Gentleman Thief. Sebuah tepukan lembut terasa di kepala Primrose, memaksa sang gadis kembali menatap Thief. Gadis itu sadar, Thief melepaskan topi tinggi miliknya dan memakaikannya kepada Primrose.

“Jangan bersedih milady, ini bukan untuk selamanya. Topi itu akan saya titipkan kepada anda dan suatu saat nanti saya akan mengambilnya kembali,”

Primrose melepaskan topi tinggi itu dan memandangnya dengan lekat, matanya kembali memandang Thief. “Hingga saat itu tiba, saya akan menyimpan permata ini,” Thief mengeluarkan permata Primrose yang ia ambil sehari sebelumnya dan mengecupnya tepat dihadapan Primrose. Gerakan mengecup itu entah kenapa membuat wajah Primrose merona.

Suara riuh polisi kembali terdengar, beberapa terdengar dari polisi yang berjaga di bawah balkon kamar Primrose. Para polisi saling menunjuk dan memperingatkan bahwa Gentleman Thief berada disana, tidak lupa suara gertakan inspektur Lestrade.

“Saya mohon pamit, milady” Thief meloncat ke sandaran balkon tetapi Primrose menahan jubah Thief.

“Kapan kita bisa bertemu lagi?” Primrose bertanya penuh harap.

Thief terdiam dan akhirnya tersenyum menggoda, “Saat anda mampu mencuri hati milikku ini, saat itulah aku akan kembali mengambil anda dari sini,”

Primrose kembali merona merah dan Gentleman Thief kembali ber-parkour keatap kediaman Mr. Kirkland dan menghilang dari pandangan. Inspektur Lestrade dan sepasukan polisi berlari dengan semangat mengejar Gentleman Thief sementara tawa pencuri tersebut terdengar keras di kediaman malam.

Pintu kamar Primrose terbanting terbuka, menampilkan ayahnya- Mr. Kirkland yang tersengal ditemani beberapa orang polisi. Tanpa ragu, Mr. Kirkland langsung memeluk Primrose dan meracau panik yang tidak jelas sehingga harus ditenangkan oleh butlernya.

Primrose mengenggam erat tepi topi tinggi milik Gentleman Thief dan melirik langit malam. “Semoga ia tidak akan pernah tertangkap,”


 

Phillip berdiri tegap di sebuah atap gereja yang tinggi. Disini pemuda itu mampu memandang atap kediaman Mr. Kirkland tanpa perlu merasa khawatir polisi akan mengejarnya kesini. Lagipula siapa sih yang mau memeriksa atap gereja yang tinggi?

Phillip tersenyum puas, matanya bergantian memandang atap kediaman Mr. Kirkland dan permata milik Primrose yang ada di tangannya. “Well, sejak awal ia sudah mencuri hatiku,”

Phillip mengecup permata itu dengan lembut.

 ~ La Fin ~


A/N: Akhirnya beres juga. Yang pernah baca Our Continued Stoy pasti tahu kan cerita ini? Well, ini versi cerita dari sudut pandang saya sendiri sih. Dan…karena saya juga yang nulis chapter satunya jadi suka-suka saya mau dibawa kemana cerita ini 😛

Boleh meninggalkan komentar dibawah ini?

 

 

 

Advertisements

Our Continued Story – Episode 11

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Helmi. Silahkan dinikmati.


 

Aku mencoba menggunakan kekuatan sihir yang aku punya, mengelabui penglihatan inspektur Yamagici dan tim dengan jubah hitam yang aku kenakan.

Menutupi seluruh tubuh dengan jubah itu dan mencoba berlari dari atas balkon gedung itu. Kekuatan yang dimiliki Philip hanyalah tak tembus pandang dengan jubah hitam yang ditutupi keseluruh tubuh.

Terpingkal-pingkal ia coba berjalan menuju persembunyian Primrose, dengan darah yang tak henti-hentinya mengalir, jika saja mata inspektur dan tim sangat jeli tentu akan di dapatinya jejak Philip namun, bukan Gentleman Thief namanya jika ia tak bisa mencari jalan yang tidak bisa di lacak oleh tim inspektur.

***

Thief membuka pintu bawah tanah, ia dapati ruangan masih sama seperti saat ia meninggalkan Primrose.

Dilangkahkannya kaki masuk ke dalam ruangan agak lebih dalam. Ada seorang anak kecil dan Primrose. Keadaan masih sunyi. Primrose sedang tertidur dan permata yang di cari Kirkland masih di dalam genggamannya.

“apa yang terjadi, kenapa tuan putri tergeletak di lantai ini” ia bertanya pada anak kecil yang bersama Primrose, anak itu mengatakan bahwa Primrose terjatuh saat mendengar kabar bahwa Thief tertembak.

Philip mencoba memperhatikan wajah sang tuan putri. ‘sangat mempesona, apa yang bisa aku lakukan agar kau terbangun?, apakah kau sangat mengkhawatirkan aku sehingga pinsan begini?’.

Thief merasa bersalah atas pinsannya tuan putri, ‘siapa aku baginya hingga membuatnya pinsan mendengar kabar tentangku?’

Thief meraba tangan dan wajah sang tuan putri, “masih normal’. Tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan Thief, lukanya masih mengeluarkan darah. Primrose tidak juga sadar. Thief kebingungan apa yang harus ia lakukan.

Di guncang-guncangkannya tubuh Primrose, sang tuan putrid tidak juga terbangun.

***

Arloji Thief menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia akan tetap terjaga sampai Primrose sadarkan diri, itulah yang dipikirkan Philip. Ia tidak ingin tertidur walaupun sejenak saja. Meskipun dia tau Inspektur  Yamagici tidak akan menemukan tempat ini.

Anak kecil itu juga tetap disana memperhatikan raut wajah Thief dan tidak bergeming sama sekali.
Thief tepat duduk di samping Primrose yang memegang permata.

Thief menatap lama sekali pada tuan putrinya, ada rasa yang sudah lama ia pendam akan Primrose, namun dia sadar dia hanyalah seorang penjaga buat Primrose, meskipun mereka sudah bermain semenjak kecil.

Thief tidak akan pernah meninggalkan Primrose sampai kapanpun, meskipun nanti tuan putrinya akan menikah dengan pria pilihannya sendiri. Sangat kecil kemungkinan kalau pria itu adalah dirinya.

Tatapan mata Thief tak juga berkedip memperhatikan wajah yang sangat menenangkan itu. Tiba-tiba, Primrose terbangun.

“Ada apa?” Tanyanya, saat melihat wajah lelaki kecil yang tadi menyampaikan kabar tentang Philip padanya. Lelaki kecil itu menghembuskan nafas lega. “nona, tiba-tiba terjatuh saat mendengar kabar tentang Thief yang tertembak, aku khawatir terjadi sesuatu pada nona”

Thief

“Philip! Bagaimana keadaannya? Ayo kita harus menyelamatkannya!” Primrose segera berdiri. Philip, Philip tertembak dan itu semua salahnya. “Menyelamatkan siapa Pimrose? Aku?” suara yang tak asing di telinga Primrose, di edarkannya pandangan ke sebelah kiri, ia dapati Thief dan Primrose sangat terkejut.

“kok kamu bisa disini? Bukannya kamu tertembak?” pertanyaan itu keluar dari bibir Primrose dan entah kenapa wajahnya sangat khawatir akan Thief.
Thief melihat ekspresi tuan putrinya, dan ia merasa sedikit bahagia.

“tidak apa-apa, aku bisa menyelamatkan diri sendiri tuan putri” Primrose mencoba duduk dan meminta penjelasan. “kau tidak perlu mengkhawatirkan saya tuan putri, aku baik-baik saja, hanya terluka sedikit saja”

***

Malam itu, Philip sangat merasa bahagia, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Primrose melanjutkan istirahatnya. Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkan Primrose tentang Thief. Thief tidak berani lagi terlalu mengharapkan perasaannya pada tuan putrinya.

Namun ada yang berbeda, Primrose sangat nyenyak sekali melanjutkan tidurnya, sedangkan Thief tidak bisa memejamkan matanya, karena saat ini, Primrose sangat nyenyak tidur dan kepalanya ada paha bagian kanan Thief, entah sejak kapan.

Thief tidak ingin tidur karena ia ingin menikmati kebersamaan yang sebentar ini, esok belum tentu Primrose akan ada di pangkuannya.

*The End


Selesai? Gak salah? Nanggung banget endingnya?

Kami tahu…karena itulah ending ini jenis open ending, ending cerita diserahkan kepada imaginasi para pembaca.

Kami dari IOC Writing angkat topi untuk para pembaca yang setia membaca cerita kami. Nantikan lagi karya dari grup kami. ^^

Our Continued Story – Episode 10

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Icha. Silahkan dinikmati.


 

Arti dari sebuah kebohongan adalah sebuah kejujuran yang besar. Primrose tidak bisa berhenti berjalan hilir mudik. Dia terus menatap permata yang ada di tangannya, buku buku jarinya memutih sangking kuatnya ia menggenggam permata itu.
“Kumohon beritahu aku apa yang harus kulakukan.” ia berkata dalam hening yang ia ciptakan sendiri.

Brak

“Nona Primrose!” Pintu kayu yang sedari tadi tertutup terbuka seiring dengan teriakan yang berasal dari tubuh lelaki kecil yang membukanya.

“Ya Tuhan! Ada apa?” Primrose mendekat ke tubuh kecil yang sudah berbalut keringat, dengan nafas memburu.

“Thief! Thief!” Mata primrose terbelalak. Ada apa dengan Thief?

“Kenapa dengan Thief?” Tanpa sadar ia mengcengkram bahu lelaki kecil itu kuat, lelaki kecil yang ia tahu sebagai seorang anak dari petani.

“Thief tertembak” Primrose melangkah mundur.

“Tidak mungkin, tidak mungkin” ucapnya.

Primrose jatuh terduduk dengan permata yang menggelinding jatuh dari tangannya. Bagaimana mungkin pria yang membawanya pergi dari Ayahnya, juga pria yang mengaku sebagai pengawal setianya. Tertembak begitu saja?

Primrose merasa dunianya berputar. Berputar, berputar yang sebenarnya. Dia tidak bisa melihat apa apa. Semuanya berputar. Cahaya menyilaukan yang datang dari permata itu membuatnya silau.

Semua berputar cepat, dan saat berhenti. Dia melihat, dirinya?

“Itu bukan diriku.” wanita itu hanya mirip dengannya, tak mungkin dia bisa seanggun itu.

“Ibu!” Seorang gadis kecil berlari ke arah wanita itu.

Primrose sangat mengenal gadis kecil itu, setetes liquid bening lolos dari matanya. Semua nya menjadi jelas. Wanita itu, Ibunya. Sosok yang selama ini hilang dari hidupnya.

Primrose tidak mengerti, tapi semuanya terasa sangat ia kenal. Dia seperti kembali ke ingatan yang tak pernah ia sadari ada.

Semuanya berganti, dan berputar kembali begitu cepat, dia bisa melihat ia dan thief kecil yang baru pertama kali bertemu.

Primrose juga melihat saat Ibunya memberinya permata itu. Melihat permata itu tertanam indah di batu yang berada di atas air terjun yang menjadi sumber mata air.

Primrose, bahkan melihat ia yang kecil dan ibunya sedang memegang permata itu bersamaan. Dan air terjun, mengalir dengan derasnya mengisi sungai.

“Permata ini adalah kunci untuk mengendalikan air di air terjun ini Primrose, tidak ada yang bisa melakukannya selain kita, penerus sah dari keluarga Kirkland” Primrose kecil mengangguk mantap mendengar penjelasan Ibunya

Dan potongan potongan ingatan itu terus berjalan di depannya. Saat Ia dan Phillip sering bermain bersama, saat Phillip akan terus berjanji menemaninya. Juga, saat Ayahnya terus berteriak tentang permata ke Ibunya. Dan saat Ayahnya mencoba mencabut permata dari batu di atas air terjun.

“James, hentikan! Kau tak akan bisa mengendalikan permata itu!” Ibunya terus berteriak mengejar Ayahnya yang sudah siap mencabut permata itu.

“Aku juga seorang Kirkland sekarang, permata ini milikku”

“Itu milik Primrose! Kau tak berhak atas permata itu!”

“Aku ayahnya sekarang”

“Kau bukan! Dan tak akan pernah! Kau hanya pria tamak yang haus kekuasaan”

Ibunya, berlari mencoba mengambil permata yang ada di tangan Ayahnya. Ibunya melempar dirinya sendiri menghadang Ayahnya. Tubuh Ayahnya terlunjak, dan permata itu terlemlar jatuh, tapi terlambat sudah. Ibunya juga terlempar bersamaan dengan permata itu, jatuh terhamtam ke dasar sungai, jatuh dari atas air terjun yang tak bisa dibilang rendah.

**

“Nona!” Primrose mengingat semuanya, semua yang pernah ia lupakan. Mengingat Ibunya, dan siapa Mr. Kirkland sebenarnya.

“Ada apa?” Tanya nya, saat melihat wajah lelaki kecil yang tadi menyampaikan kabar tentang Phillip padanya. Lelaki kecil itu menghembuskan nafas lega.

“Nona, tiba tiba terjatuh saat mendengar kabar tentang Thief yang tertembak, aku khawatir terjadi sesuatu pada Nona”

Thief?

“Phillip! Bagaimana keaadaannya? Ayo kita harus menyelamatkannya!” Primrose segera berdiri. Phillip, Phillip tertembak dan itu semua salahnya.

“Menyelamatkan siapa Primrose? Aku?”

*masih berlanjut…

Our Continued Story – Episode 09

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Ratri. Silahkan dinikmati.


 

Keterkejutan yang dialami gadis itu, saat ini berdampak pada dirinya yang terduduk diam di ruangan yang disediakan untuknya. Bagaimana mungkin ia bisa bertindak dalam situasi yang ia tidak mengerti dengan baik. Tujuannya ikut pergi dengan thief adalah untuk melepaskan diri dari ayahnya yang kejam. Ia tidak berharap ayahnya akan memilihnya daripada permata itu. Tapi ternyata semua itu adalah rencana dari thief itu sendiri. Sekarang, ia dipercayakan suatu rahasia yang berat baginya. Logika dan perasaannya tidak dapat membantunya berpikir jernih.

***
“Tuan putri primrose. Apa kau mengerti arti dari permata ini?”
“Apa maksudmu Tuan Thief? Permata itu milik ayahku. Aku bahkan baru pertama kali memegang dan melihatnya saat malam itu. ”
“Ahh.  Tuan putri, sebenarnya ini adalah salah satu rencanaku. Untuk bisa mengarahkan Mr.Kirkland untuk menempatkan permata itu dalam penjagaan Tuan Putri malam lalu.”
Primrose hanya terdiam.
“Permata itu adalah milik Tuan Putri Primrose sejak awal. Bahkan Mr.Kirkland tidak memiliki hak atas permata Itu. Kekuatan yang tersembunyi dalam permata itu hanya Tuan Putri yang bisa  menghidupkannya. Untuk menyelamatkan para penduduk desa.” Tambah sang gentleman thief

“Aku tidak mengerti. Lebih tepatnya, aku tidak tahu, Tuan Thief.” Ragu-ragu primrose menjawab.

“Hmm.. terpisah terlalu lama dengan permata ini membuat ingatan akan dirimu yang sejati perlahan menghilang.”
Sejenak Thief terdiam dan seolah memikirkan rencananya selanjutnya..

Senyum dalam bibir thief terkembang. “Baiklah, Tuan Putri Primrose. Izinkanlah hamba memperkenalkan diri ini.”
Sambil melepaskan jubah dan topinya, sang gentleman thief kemudian berlutut di hadapan Primrose. “Hamba adalah ksatria pengawalmu yang setia. Phillip nightworth. Izinkan hamba menolong Ratu Primrose untuk kembali pada dirinya.”

***
Mr.Kirkland berjalan mondar-mandir di ruangan kerjanya. Cemas. Bagaimanapun juga ia harus melindungi permata itu. Suatu kesalahan baginya mempercayakan permata itu di tangan Primrose. Mengapa ia sampai sebodoh itu. Tanpa memikirkan bahwa Gentleman thief adalah seorang penipu ulung. Kalau sampai Primrose mendapatkan kembali ingatannya dan menggunakan kekuatan permata itu. Maka berakhirlah dunia damai dalam mata Mr.Kirkland.

***
Primrose merasakan perasaan aneh saat menyentuh permata yang diberikan Phillip. Sebelum ia pergi, Phillip menukar permata asli dengan permata palsu. Primrose harus mengerti bagaimana menggunakan kekuatan permata itu agar ingatannya kembali. Tapi ada perasaan cemas lain dalam dirinya. Apakah terjadi sesuatu dengan Sang gentleman?

Kepingan kenangan terbersit dalam pikiran Primrose. Saat ia menyenandungkan sebuah lagu. Ia tidak ingat lagu itu maupun liriknya. Ia teringat nada melodinya. Ia menggumamkan nada itu untuk menenangkan hatinya. Tanpa ia ketahui, permata itu bereaksi dengan nada itu. Cahaya memendar berkelap kelip, mengartikan bahwa nada melodi belum bisa mengaktifkan kembali kekuatan permata itu.

Phillip  si Gentleman Thief merangkak menuju tepian atap untuk bisa menyandarkan dirinya. Ia terlalu ceroboh. Dua peluru kini bersarang di lengan atas kirinya dan paha kanannya. Tapi ia adalah seorang ksatria. Segera ia membebatkan robekan jubahnya untuk menghentikan pendarahan.
“Nah, sekarang. Bagaimana langkah selanjutnya?”

Thief itu yakin bahwa Inspektur bodoh itu akan menuju tempat yang salah. Jadi, ia tidak perlu khawatir akan tertangkapnya Primrose.

“Kepingan puzzle ini akan segera selesai.” Phillip tersenyum penuh arti.

*masih berlanjut…

Our Continued Story – Episode 08

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Vern Anwar. Silahkan dinikmati.


 

Licik sekali dia, tak seperti sebutannya sebagai “Gentleman Thief”. Jika aku harus memilih sudah pasti ini merupakan pilihan sulit.

Mr. Kirkland sudah mengatakan bahwa dia lebih mengutamakan permata daripada putrinya. Namun kini yang ada dihadapan Gentleman Thief bukanlah Mr. Kirkland melainkan aku sang inspektur. Jika aku memilih permata toh nantinya permata itu hanya akan jadi hiasan saja di rumah Mr. Kirkland. Pilihan lainnya yaitu menyelamatkan Putri juga sepertinya harus dipertimbangkan.

Ada satu alasan mengapa posisi Putri begitu penting, tak banyak yang tahu tapi aku tak sengaja mengetahui rahasia itu.

Semua sudah diputuskan dari awal dan tentu saja aku akan memilih keduanya. Aku akan memilih permata dan tuan putri. Untuk sementara aku harus bisa mengembalikan sang putri itu dulu.

..

“Aku pilih tuan putri, ada dimana dia? “

“Sabar inspektur, sesuai janjiku aku akan memberikan salah satu. Walaupun sebenarnya di tanganku ini sudah kubawa permata ini namun ternyata kau memilih Primrose. Baiklah tangkap ini”.

“Apa ini?”, dengan sigap inspektur menerima lembaran yg dilemparkan oleh Gentleman Thief.

“Ikuti saja petunjuk yang aku tulis dan kau akan menemukan Pimrose”.

“Baiklah kali ini aku akan percaya terhadap ucapanmu”

“Urusanku sudah selesai, kau dapatkan Primrose dan biarkan aku pergi membawa permata ini”

Baru saja Gentleman Thief berbalik dan akan pergi namun….

Dor dor dor

Tiga kali tembakan dilepaskan oleh Inspektur dan ketiganya mengenai bagian vital dari Gentleman Thief. Tak perlu banyak waktu dan kini Gentleman Thief tergeletak jatuh.

“Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Sungguh bodoh kau Thief muncul dihadapanku, ini merupakan kesempatan langka aku dapat menangkapmu”

“Arggggh”

“Permata ini akhirnya kudapatkan dari tangan Thief dan kini aku tinggal mencari Primrose”

Thief hanya tergeletak kesakitan tak berdaya, sungguh malang nasibnya. Dia memang sedikit ceroboh kali ini, namun dia tetap tersenyum puas mengingat kembali kejadian sebelum bertemu dengan Inspektur.

Thief terdiam menatap Primrose.

“Baiklah, aku akan keluar sebentar. Tidak apa kan kalau aku tinggalkan kau dengan mereka ?” Thief berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Primrose mengangguk dan tersenyum.

“Sebelum aku pergi aku perlu menceritakan ini kepamu, mungkin kau perlu tahu tentang rahasia ini”

“Sebuah Rahasia? “

Putri Primrose masih sangat terkejut mendengar ini semua dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Gentleman Thief telah pergi menemui Inspektur dan Primrose belum juga bergeming dalam keterkejutannya.

*masih berlanjut…

The Last Word, An Early Story – Episode 08

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya OWOP 4 dimana kata terakhir dari suatu cerita akan menjadi kata pertama bagi cerita yang selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Salma. Silahkan dinikmati.


Malam ini, udara terasa lebih hangat–lebih tepatnya gerah. Langit pun nampak gelap tak berbintang, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Ara yang baru saja menyelesaikan laporan tugasnya memutuskan untuk pulang. Terlebih lagi mengingat perdebatan kecil dengan David yang baru saja terjadi, membuat Ara malam ini ingin segera meninggalkan kantor tempatnya bekerja dan menjauh dari makhluk terkepo sedunia itu. Ia tak suka jika permasalahan hatinya terusik khalayak umum.

Baru satu langkah gadis berambut sebahu itu menjejakkan kakinya menuju tempat parkir, sebutir air menetes tepat di punggung tangannya, “Hujan,” gumam Ara. Ia mempercepat langkah kakinya untuk segera memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari pintu kantor. Hujan memang terkadang tak mengerti aba-aba, sedetik ia merintik perlahan, bisa saja sedetik kemudian ia menghujam bumi dengan arogannya secara keroyokan, dan Ara tidak suka hal itu.

Gadis itu menghelakan napasnya lega, setelah ia berhasil sepenuhnya masuk ke dalam mobil dan melihat betapa cepatnya hujan tiba-tiba menderas malam itu. Sembari menanti mobil yang sedang dipanasi, Ara memutuskan untuk membuka tasnya dan mengambil selembar kertas lipat dan sebuah pena.

‘Matahariku memang hanya satu, dan selamanya akan tetap menjadi satu-satunya. Namun entah darimana asalnya, sebuah angin kecil membawaku terbang menemui rembulan. Cahayanya asing. Dan kini, matahari dan rembulan sedang beradu dalam pikiran.’

Tulisnya kemudian melipat kertas itu menjadi bentuk sebuah perahu setelah menuliskan dua huruf ‘F’ di bagian ujung barisnya.

Fauzan dan Faris. Mungkin itu maksudnya.

Ara kemudian membuka sedikit jendela mobil yang sebelumnya ia tutup rapat karena tak mau air hujan bertempias kedalam mobilnya.

“Berlayarlah, kepada siapapun yang akan merengkuhmu. Matahari atau rembulan yang cahayanya tak ku mengerti.” Ujarnya seraya melempar perahu kertasnya ke luar jendela, meski ia tahu tak akan mungkin genangan air akan membawa perahu itu bergerak mengalir. Ara kemudian mulai menekan pedal gasnya perlahan. Meninggalkan pelataran kantornya tanpa ia tahu sejak tadi ada yang memerhatikannya dari kejauhan.

Faris. Sejak tadi ia melihat gerak-gerik Ara. Tak sengaja sebenarnya. Faris yang juga berniat untuk segera pulang karena merasa hujan akan segera turun, keluar dari arah ruangan yang berbeda dengan Ara. Namun langkah lelaki itu terhenti di balik ujung tembok ketika ia melihat gadis itu berlari kecil menuju halaman parkir. Ia enggan bertemu dengan Ara sejak kejadian pagi tadi. Pikirannya masih berkecamuk bingung, antara menyerah karena gadis yang diidamkannya menyukai lelaki lain, atau terus berjuang seperti yang dikatakan Fauzan, sahabatnya.

Setelah mobil gadis itu menjauh dan tak terlihat dari pandangan Faris, lelaki itu pun melanjutkan niatnya untuk pulang. Meski harus kebasahan terguyur hujan ketika menuju tempat kendaraannya diparkirkan.

Ia mengabaikan perahu kertas yang Ara lemparkan dari jendela mobilnya tadi. “Biarin aja deh.” Lirihnya tak terdengar, kalah dengan deru rintikan air hujan. Untuk apa ia mengambil perahu kertas itu, toh surat itu bukan untuknya, pikir Faris. Ia pun melenggang pergi dengan mantel yang tak jadi ia kenakan untuk melindungi tubuhnya dari air hujan. Berbeda dengan Ara, Faris adalah pecinta hujan. Ia lebih suka berbasah-basahan dan membiarkan rintik air langit itu mencumbu tubuhnya. Dingin, ia tahu itu. Tapi Faris menikmatinya. Ia suka hujan, bertolak belakang dengan Ara. Seperti perasaan Faris kini, berbeda. Gadis itu tak jatuh cinta pada Faris, seperti Faris yang sudah terlanjur terjatuh hatinya pada gadis origami itu.

“Sial! Tambah deres lagi!” Rutuk seorang laki-laki lain yang baru saja berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu keluar. “Apaan tuh?” Gumamnya ketika melihat sebuah perahu kertas biru tergeletak di tengah halaman parkir. “Pasti punya Ara.” Ujar lelaki itu berbinar dan memutuskan untuk memungut kertas tersebut. Senyum jahilnya mengembang ketika ia telah berhasil membuka dan membaca pesan dalam perahu kertas itu.

Lelaki itu, David.

*to be continued…

Our Continued Story – Episode 07

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Dyaah Yukita. Silahkan dinikmati.


 

“Janjiku tak akan aku lewati,” tambah Thief.

“Janji? Apa maksudmu ?” Gadis berkebangsawanan itu mengernyitkan dahinya.

“Tenanglah. Turuti saja apa yang aku katakan. Mereka tidak akan menyakitimu,” sahut Thief dengan pelan.

Gadis itu terdiam dengan rasa takutnya. Namun rasa was-was itu mengendur, karena Thief menjaminkan keselamatannya. Dia tak terlalu melihat dengan jelas orang-orang seperti apa yang mempunyai janji dengan Thief karena cahaya terlihat remang-remang.

“Nona Primrose, kehormatan bagi kami. Saat Anda datang ke sini untuk singgah di gubuk kami,” salah seorang dari mereka berdiri menghampiri si gadis.

Gadis itu gemetar, namun dia salah sangka. Laki-laki itu membungkuk di depannya diikuti teman-teman yang berada di belakang sebagai tanda hormat. Si gadis itu pun menerima bungkukkan mereka dengan anggukan kepala.

“Baiklah. Ayo kita berpesta! Nyalakan musiknya !” seru laki-laki yang tadi berada di depan si gadis. Laki-laki itu berjalan ke arah teman-temannya dan membelakangi si gadis.

Sesaat ruangan remang-remang itu berubah terang dengan cahaya yang berasal dari lilin yang dinyalakan oleh mereka disetiap sudut ruangan. Alunan musik klasik menambah suasana menjadi damai dan tenang. Mereka para lelaki yang berumuran sama dengan Thief itu mulai menari-nari dengan tarian khas.

“Nona Primrose! Sebaiknya Anda ikut menari dengan kami! Ini pesta kedatangan Anda !” teriak seseorang dari mereka.

Tepat saat itu sebuah uluran tangan muncul di depan si gadis. Gadis itu tersentak dan menatap si pemilik uluran tangan itu.

“Anda dengar? Dansalah bersamaku, Nona Primrose,” seulas senyuman terekah di sudut bibir si pemilik uluran tangan, Gentleman Thief.

Pipi gadis itupun memerah, dia menerima tawaran Thief untuk berdansa.

“Anda pasti bingung dan bertanya-tanya siapa mereka ?” Thief berbicara pelan di tengah dansanya bersama Primrose.

Gadis itu hanya menatapnya seakan ingin tahu kelanjutan si pria itu.

“Mereka adalah petani. Hidup mereka dulu sangat makmur. Saat Ayah Anda memimpin  pnegeri ini. Mereka sekarang tidak makmur, semua hasil panen mereka harus diserahkan kepada kantor pemerintah. Baru setelahnya pihak kantor pemerintah menjual kembali hasil panen mereka.Sedang pihak kantor pemerintah hanya memberikan upah kurang dari hasil yang mereka dulu dapatkan. Pihak kantor pemerintah kini menikmati hasil untung mereka,” jelas Thief dengan muka yang serius.

Primrose tersentak, “Apa Ayahku sekejam itu? Aku pikir dia hanya berbuat kejam padaku saja,” gadis itu menghentikan dansanya dengan Thief dan memilih duduk di sudut ruangan.

“Berbuat kejam? Maksud Anda ?” tanya Thief bertubi.

“Jadi, kau mau menawanku ?” Primrose mengalihkan pembicaraannya.

“Bukannya Anda yang memaksa untuk ikut bersamaku ?”

“Ah itu benar. Lalu kenapa kau ajak aku kemari ?” Selidik Primrose.

“Itu karena mereka ingin berpesta bersama dengan Tuan Putri. Entah mereka kerasukan apa hingga ingin hal itu. Mereka berharap kau ikut merasakan apa yang kini mereka rasakan. Saat kau nanti naik tahta, kau tidak akan membuang mereka,” panjang Thief sembari melihat ke arah mereka yang sedang asyik dengan pestanya.

Primrose terdiam dan menatapi mereka penuh arti.

.
.
.

“Kau ingin pulang Nona Primrose ?” tanya Thief disaat mereka menikmati makanan pesta mereka.

Primrose tersentak, “Aku akan kembali jika Ayah yang menginginkannya.”

Thief terdiam menatap Primrose.

“Baiklah, aku akan keluar sebentar. Tidak apa kan kalau aku tinggalkan kau dengan mereka ?” Thief berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Primrose mengangguk dan tersenyum.

.
.
.

Jam masih menunjukkan 11:00 malam. Inspektuk telah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Di setiap sudut jalan juga di atas gedung dekat apartemen diberi CCTV kecil. Polisi gabungan ikut terjun untuk menangkap si Gentleman Thief.

Jam menunjukkan 11:55 malam. Artinya lima menit lagi Thief akan muncul. Semua kepolisian bergegas ke tempat persembunyian. Tinggallah Inspektur Yamagici seorang diri.

Lima menit kemudian …
Deruan angin malam begitu kencang. Suasana sudah sepi, memang sengaja pihak kepolisian menutup jalan dan mengevakuasi penduduk sekitar apartemen sementara, khusus untuk malam ini.

Inspektur Yamagici mulai gelisah, Thief belum muncul.

Tak lama datanglah Thief dengan topeng putih juga jubah hitamnya. Dia berdiri di atas balkon dengan menyeringai, “Sudah lama menunggu Inspektur ?”

“Mana permata dan Tuan Putri ?!” geram Inspektur.

“Ow ow ow, kau terlalu terburu-buru. Kau tidak bisa memiliki keduanya. Kau harus pilih salah satu. Sampaikan itu pada Tuan Kirkland.” sahut Thief dengan licik.

*masih bersambung…