The Last Word, An Early Story – Episode 02

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya OWOP 4 dimana kata terakhir dari suatu cerita akan menjadi kata pertama bagi cerita yang selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Nadita Zairina. Silahkan dinikmati.


 

Berarti… berarti… ditilik dari kalimatnya berarti sama maknanya dengan berharga, kan?

“Tanpa dirimu, bagiku tak ada hal lain yang lebih berarti.”

“Begitupun aku padamu”

Pemuda itu tersenyum, matanya tak lepas dari bait-bait puisi yang tertoreh di kertas. Bibirnya menggumamkan bait-bait puisi tersebut berulang-ulang. Matanya tanpa lelah menelusuri baris-baris puisi.

Ia membolak balik kertas bertulis tersebut, kertas buram penuh terisi coretan hitungan. Dilihat dari segi esentrik kertas lipat tersebut, tiada lain dan tiada bukan, pastilah hasil jemari lentik milik Ara.

Pemuda itu membuka map kertas yang ia pegang, kertas berharga dan berkas bertuliskan nama Faris memenuhi map tersebut. Di salah satu sudut map miliknya, terkumpul kertas buram corat coret lainnya. Tapi semua kertas itu sama, bertuliskan puisi manis teruntuk Fauzan, dibentuk dengan bentuk kertas yang menawan.

Faris kembali tersenyum. Hanya ia dan Tuhan saja yang tahu, puisi itu adalah koleksi kertas yang sangat berharga bagi Faris. Entah kenapa kertas-kertas itu begitu berarti baginya. Bukan hanya puisi itu memiliki arti yang mendalam. Lipatan kertas yang dibentuk juga sangat tegas dan teratur, yang berarti Ara melipat kertas-kertas itu dengan sepenuh hati.

Dan tanpa terasa, sepertinya Faris mulai jatuh hati kepada Ara. Meskipun mereka tak pernah saling berbicara, bukan berarti ia tidak boleh memendam dari jauh, kan?

DOR!

Faris terkaget.

“Wajahmu konyol sekali sewaktu kaget!” seorang pemuda sebaya Faris tertawa puas.

“Kau umur berapa sih? Kekanakan sekali!”

“Maaf deh. Habis-“

“FAUZAN!”

Candaan mereka terhenti, seseorang memanggil.

“Ya!” anehnya, baik Faris dan Fauzan sama-sama menanggapi panggilan untuk Fauzan tersebut.

“Maaf, maksudku Fauzan Rahmat!” koreksi si pemanggil.

“Itu berarti aku,” Fauzan Rahmat berlari menyongsong si pemanggil.

Faris terdiam, memandang sahabatnya itu menghilang dari jarak pandang. Tak lama angin kencang menerpa, menerbangkan beberapa helai kertas milik Faris. Ahmad Fauzan Faris tertulis di kolom nama.

*tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s