Our Continued Story – Episode 02

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Ratu Fauziah. Silahkan dinikmati.


Gadis itu menatap Gentleman Thief penuh harap usai berujar demikian. Sebaliknya, Gentleman Thief menatapnya tak percaya. Bukan karena ia ditatap gadis paling rupawan di negeri ini. Tapi lebih karena permintaan gadis itu yang dirasanya ganjil.
Bukankah selama ini gadis itu hidup nyaman dalam kemewahannya? Ia bahkan sekali dua berpapasan dengan gadis itu di kota, berpakaian seperti orang-orang pada umumnya. Menanggalkan gaun kebesarannya sejenak hanya untuk bersenda gurau dengan yang lain. Lantas, apalagi yang dicarinya? Apa maunya?

“Kemana pun saya pergi?” Ujar Gentleman Thief setelah terdiam cukup lama. Gadis di hadapannya mengangguk.

“Suatu kehormatan bagi saya bila Nona meminta sesuatu dari saya, seorang yang derajatnya tak lebih tinggi juga tak sepantaran dengan anda.” Ia menurunkan topi polisinya ke dadanya, lantas membungkuk hormat. “Tapi maafkan saya, Nona. Saya tak ingin anda terluka. Apa yang saya lakukan selalu beresiko.” Lanjutnya disertai senyum menawan yang memikat hati siapapun yang melihatnya.

“Saya tak peduli.” Ujar gadis itu tegas.

“Saya akan menanggung semua resiko, sepanjang anda membawa saya pergi dari sini.” Ujarnya lagi.

Gentleman Thief mengembangkan senyumnya lagi. Lantas menatap tajam mata gadis itu.
“Tapi saya peduli, Nona.”

“Saya ingin anda tetap disini, Nona Primrose putri Kirkland. Apa kata ayah anda kalau tahu anak kesayangannya menghilang? Apa yang akan dilakukannya jika itu terjadi? Tidakkah menurut anda hal itu terlalu menakutkan untuk dibayangkan?” Ia masih menatap tajam mata gadis itu.

Primrose menutup matanya sembari menghela nafas panjang. Kakinya melangkah mundur dengan teratur. Menjauhi Gentleman Thief.

“Tidak, Gentleman Thief. Anda harus membawa saya pergi, atau anda tidak akan mendapatkan batu permata ini.” Ia  menggenggam batu permata yang tersemat di bagian depan gaunnya.

Cahaya bulan yang menelusup masuk, memperlihatkan ekspresi wajahnya. Ekspresi yang tidak sepantasnya terukir di wajah seorang putri Bangsawan. Gentleman Thief berpikir sejenak.

“Baiklah.” Ia berujar setelah menciptakan keheningan untuk kedua kalinya. Membuat kamar tidur luas itu terasa semakin lenggang. “Tapi ingat baik-baik apa yang akan saya sampaikan. Karena saya tak akan mengulanginya.” Lanjut Gentleman Thief.
.
.
.

Pagi itu, suara nyaring dari salah satu ruangan memecah ketenangan di kediaman Kirkland. Lantas, bagai semut mengerubungi gula, polisi-polisi yang ada di kediaman Kirkland sudah berkumpul di sumber suara, yang tak lain adalah kamar Primrose.

“Aku tak mau tahu. Rebut permata itu dari Gentleman Thief secepatnya, atau kalian akan mati.” Ujar Mr. Kirkland geram.

“Lalu putri anda?” Polisi muda berkacamata mencicit.

“Aku lebih membutuhkan permata itu dari Primrose!” Seru Mr. Kirkland yang membuatnya bangkit dari tempat duduknya.

Ia kemudian menurunkan nada suaranya sebelum yang lain mulai menanyakan keributan di ruangannya.
“Bagaimana pun caranya, rebut kembali permata itu. Atau…”

 

  • masih berlanjut…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s