Our Continued Story – Episode 07

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Dyaah Yukita. Silahkan dinikmati.


 

“Janjiku tak akan aku lewati,” tambah Thief.

“Janji? Apa maksudmu ?” Gadis berkebangsawanan itu mengernyitkan dahinya.

“Tenanglah. Turuti saja apa yang aku katakan. Mereka tidak akan menyakitimu,” sahut Thief dengan pelan.

Gadis itu terdiam dengan rasa takutnya. Namun rasa was-was itu mengendur, karena Thief menjaminkan keselamatannya. Dia tak terlalu melihat dengan jelas orang-orang seperti apa yang mempunyai janji dengan Thief karena cahaya terlihat remang-remang.

“Nona Primrose, kehormatan bagi kami. Saat Anda datang ke sini untuk singgah di gubuk kami,” salah seorang dari mereka berdiri menghampiri si gadis.

Gadis itu gemetar, namun dia salah sangka. Laki-laki itu membungkuk di depannya diikuti teman-teman yang berada di belakang sebagai tanda hormat. Si gadis itu pun menerima bungkukkan mereka dengan anggukan kepala.

“Baiklah. Ayo kita berpesta! Nyalakan musiknya !” seru laki-laki yang tadi berada di depan si gadis. Laki-laki itu berjalan ke arah teman-temannya dan membelakangi si gadis.

Sesaat ruangan remang-remang itu berubah terang dengan cahaya yang berasal dari lilin yang dinyalakan oleh mereka disetiap sudut ruangan. Alunan musik klasik menambah suasana menjadi damai dan tenang. Mereka para lelaki yang berumuran sama dengan Thief itu mulai menari-nari dengan tarian khas.

“Nona Primrose! Sebaiknya Anda ikut menari dengan kami! Ini pesta kedatangan Anda !” teriak seseorang dari mereka.

Tepat saat itu sebuah uluran tangan muncul di depan si gadis. Gadis itu tersentak dan menatap si pemilik uluran tangan itu.

“Anda dengar? Dansalah bersamaku, Nona Primrose,” seulas senyuman terekah di sudut bibir si pemilik uluran tangan, Gentleman Thief.

Pipi gadis itupun memerah, dia menerima tawaran Thief untuk berdansa.

“Anda pasti bingung dan bertanya-tanya siapa mereka ?” Thief berbicara pelan di tengah dansanya bersama Primrose.

Gadis itu hanya menatapnya seakan ingin tahu kelanjutan si pria itu.

“Mereka adalah petani. Hidup mereka dulu sangat makmur. Saat Ayah Anda memimpin  pnegeri ini. Mereka sekarang tidak makmur, semua hasil panen mereka harus diserahkan kepada kantor pemerintah. Baru setelahnya pihak kantor pemerintah menjual kembali hasil panen mereka.Sedang pihak kantor pemerintah hanya memberikan upah kurang dari hasil yang mereka dulu dapatkan. Pihak kantor pemerintah kini menikmati hasil untung mereka,” jelas Thief dengan muka yang serius.

Primrose tersentak, “Apa Ayahku sekejam itu? Aku pikir dia hanya berbuat kejam padaku saja,” gadis itu menghentikan dansanya dengan Thief dan memilih duduk di sudut ruangan.

“Berbuat kejam? Maksud Anda ?” tanya Thief bertubi.

“Jadi, kau mau menawanku ?” Primrose mengalihkan pembicaraannya.

“Bukannya Anda yang memaksa untuk ikut bersamaku ?”

“Ah itu benar. Lalu kenapa kau ajak aku kemari ?” Selidik Primrose.

“Itu karena mereka ingin berpesta bersama dengan Tuan Putri. Entah mereka kerasukan apa hingga ingin hal itu. Mereka berharap kau ikut merasakan apa yang kini mereka rasakan. Saat kau nanti naik tahta, kau tidak akan membuang mereka,” panjang Thief sembari melihat ke arah mereka yang sedang asyik dengan pestanya.

Primrose terdiam dan menatapi mereka penuh arti.

.
.
.

“Kau ingin pulang Nona Primrose ?” tanya Thief disaat mereka menikmati makanan pesta mereka.

Primrose tersentak, “Aku akan kembali jika Ayah yang menginginkannya.”

Thief terdiam menatap Primrose.

“Baiklah, aku akan keluar sebentar. Tidak apa kan kalau aku tinggalkan kau dengan mereka ?” Thief berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Primrose mengangguk dan tersenyum.

.
.
.

Jam masih menunjukkan 11:00 malam. Inspektuk telah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Di setiap sudut jalan juga di atas gedung dekat apartemen diberi CCTV kecil. Polisi gabungan ikut terjun untuk menangkap si Gentleman Thief.

Jam menunjukkan 11:55 malam. Artinya lima menit lagi Thief akan muncul. Semua kepolisian bergegas ke tempat persembunyian. Tinggallah Inspektur Yamagici seorang diri.

Lima menit kemudian …
Deruan angin malam begitu kencang. Suasana sudah sepi, memang sengaja pihak kepolisian menutup jalan dan mengevakuasi penduduk sekitar apartemen sementara, khusus untuk malam ini.

Inspektur Yamagici mulai gelisah, Thief belum muncul.

Tak lama datanglah Thief dengan topeng putih juga jubah hitamnya. Dia berdiri di atas balkon dengan menyeringai, “Sudah lama menunggu Inspektur ?”

“Mana permata dan Tuan Putri ?!” geram Inspektur.

“Ow ow ow, kau terlalu terburu-buru. Kau tidak bisa memiliki keduanya. Kau harus pilih salah satu. Sampaikan itu pada Tuan Kirkland.” sahut Thief dengan licik.

*masih bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s