The Last Word, An Early Story – Episode 08

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya OWOP 4 dimana kata terakhir dari suatu cerita akan menjadi kata pertama bagi cerita yang selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Salma. Silahkan dinikmati.


Malam ini, udara terasa lebih hangat–lebih tepatnya gerah. Langit pun nampak gelap tak berbintang, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Ara yang baru saja menyelesaikan laporan tugasnya memutuskan untuk pulang. Terlebih lagi mengingat perdebatan kecil dengan David yang baru saja terjadi, membuat Ara malam ini ingin segera meninggalkan kantor tempatnya bekerja dan menjauh dari makhluk terkepo sedunia itu. Ia tak suka jika permasalahan hatinya terusik khalayak umum.

Baru satu langkah gadis berambut sebahu itu menjejakkan kakinya menuju tempat parkir, sebutir air menetes tepat di punggung tangannya, “Hujan,” gumam Ara. Ia mempercepat langkah kakinya untuk segera memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari pintu kantor. Hujan memang terkadang tak mengerti aba-aba, sedetik ia merintik perlahan, bisa saja sedetik kemudian ia menghujam bumi dengan arogannya secara keroyokan, dan Ara tidak suka hal itu.

Gadis itu menghelakan napasnya lega, setelah ia berhasil sepenuhnya masuk ke dalam mobil dan melihat betapa cepatnya hujan tiba-tiba menderas malam itu. Sembari menanti mobil yang sedang dipanasi, Ara memutuskan untuk membuka tasnya dan mengambil selembar kertas lipat dan sebuah pena.

‘Matahariku memang hanya satu, dan selamanya akan tetap menjadi satu-satunya. Namun entah darimana asalnya, sebuah angin kecil membawaku terbang menemui rembulan. Cahayanya asing. Dan kini, matahari dan rembulan sedang beradu dalam pikiran.’

Tulisnya kemudian melipat kertas itu menjadi bentuk sebuah perahu setelah menuliskan dua huruf ‘F’ di bagian ujung barisnya.

Fauzan dan Faris. Mungkin itu maksudnya.

Ara kemudian membuka sedikit jendela mobil yang sebelumnya ia tutup rapat karena tak mau air hujan bertempias kedalam mobilnya.

“Berlayarlah, kepada siapapun yang akan merengkuhmu. Matahari atau rembulan yang cahayanya tak ku mengerti.” Ujarnya seraya melempar perahu kertasnya ke luar jendela, meski ia tahu tak akan mungkin genangan air akan membawa perahu itu bergerak mengalir. Ara kemudian mulai menekan pedal gasnya perlahan. Meninggalkan pelataran kantornya tanpa ia tahu sejak tadi ada yang memerhatikannya dari kejauhan.

Faris. Sejak tadi ia melihat gerak-gerik Ara. Tak sengaja sebenarnya. Faris yang juga berniat untuk segera pulang karena merasa hujan akan segera turun, keluar dari arah ruangan yang berbeda dengan Ara. Namun langkah lelaki itu terhenti di balik ujung tembok ketika ia melihat gadis itu berlari kecil menuju halaman parkir. Ia enggan bertemu dengan Ara sejak kejadian pagi tadi. Pikirannya masih berkecamuk bingung, antara menyerah karena gadis yang diidamkannya menyukai lelaki lain, atau terus berjuang seperti yang dikatakan Fauzan, sahabatnya.

Setelah mobil gadis itu menjauh dan tak terlihat dari pandangan Faris, lelaki itu pun melanjutkan niatnya untuk pulang. Meski harus kebasahan terguyur hujan ketika menuju tempat kendaraannya diparkirkan.

Ia mengabaikan perahu kertas yang Ara lemparkan dari jendela mobilnya tadi. “Biarin aja deh.” Lirihnya tak terdengar, kalah dengan deru rintikan air hujan. Untuk apa ia mengambil perahu kertas itu, toh surat itu bukan untuknya, pikir Faris. Ia pun melenggang pergi dengan mantel yang tak jadi ia kenakan untuk melindungi tubuhnya dari air hujan. Berbeda dengan Ara, Faris adalah pecinta hujan. Ia lebih suka berbasah-basahan dan membiarkan rintik air langit itu mencumbu tubuhnya. Dingin, ia tahu itu. Tapi Faris menikmatinya. Ia suka hujan, bertolak belakang dengan Ara. Seperti perasaan Faris kini, berbeda. Gadis itu tak jatuh cinta pada Faris, seperti Faris yang sudah terlanjur terjatuh hatinya pada gadis origami itu.

“Sial! Tambah deres lagi!” Rutuk seorang laki-laki lain yang baru saja berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu keluar. “Apaan tuh?” Gumamnya ketika melihat sebuah perahu kertas biru tergeletak di tengah halaman parkir. “Pasti punya Ara.” Ujar lelaki itu berbinar dan memutuskan untuk memungut kertas tersebut. Senyum jahilnya mengembang ketika ia telah berhasil membuka dan membaca pesan dalam perahu kertas itu.

Lelaki itu, David.

*to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s