Our Continued Story – Episode 10

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Icha. Silahkan dinikmati.


 

Arti dari sebuah kebohongan adalah sebuah kejujuran yang besar. Primrose tidak bisa berhenti berjalan hilir mudik. Dia terus menatap permata yang ada di tangannya, buku buku jarinya memutih sangking kuatnya ia menggenggam permata itu.
“Kumohon beritahu aku apa yang harus kulakukan.” ia berkata dalam hening yang ia ciptakan sendiri.

Brak

“Nona Primrose!” Pintu kayu yang sedari tadi tertutup terbuka seiring dengan teriakan yang berasal dari tubuh lelaki kecil yang membukanya.

“Ya Tuhan! Ada apa?” Primrose mendekat ke tubuh kecil yang sudah berbalut keringat, dengan nafas memburu.

“Thief! Thief!” Mata primrose terbelalak. Ada apa dengan Thief?

“Kenapa dengan Thief?” Tanpa sadar ia mengcengkram bahu lelaki kecil itu kuat, lelaki kecil yang ia tahu sebagai seorang anak dari petani.

“Thief tertembak” Primrose melangkah mundur.

“Tidak mungkin, tidak mungkin” ucapnya.

Primrose jatuh terduduk dengan permata yang menggelinding jatuh dari tangannya. Bagaimana mungkin pria yang membawanya pergi dari Ayahnya, juga pria yang mengaku sebagai pengawal setianya. Tertembak begitu saja?

Primrose merasa dunianya berputar. Berputar, berputar yang sebenarnya. Dia tidak bisa melihat apa apa. Semuanya berputar. Cahaya menyilaukan yang datang dari permata itu membuatnya silau.

Semua berputar cepat, dan saat berhenti. Dia melihat, dirinya?

“Itu bukan diriku.” wanita itu hanya mirip dengannya, tak mungkin dia bisa seanggun itu.

“Ibu!” Seorang gadis kecil berlari ke arah wanita itu.

Primrose sangat mengenal gadis kecil itu, setetes liquid bening lolos dari matanya. Semua nya menjadi jelas. Wanita itu, Ibunya. Sosok yang selama ini hilang dari hidupnya.

Primrose tidak mengerti, tapi semuanya terasa sangat ia kenal. Dia seperti kembali ke ingatan yang tak pernah ia sadari ada.

Semuanya berganti, dan berputar kembali begitu cepat, dia bisa melihat ia dan thief kecil yang baru pertama kali bertemu.

Primrose juga melihat saat Ibunya memberinya permata itu. Melihat permata itu tertanam indah di batu yang berada di atas air terjun yang menjadi sumber mata air.

Primrose, bahkan melihat ia yang kecil dan ibunya sedang memegang permata itu bersamaan. Dan air terjun, mengalir dengan derasnya mengisi sungai.

“Permata ini adalah kunci untuk mengendalikan air di air terjun ini Primrose, tidak ada yang bisa melakukannya selain kita, penerus sah dari keluarga Kirkland” Primrose kecil mengangguk mantap mendengar penjelasan Ibunya

Dan potongan potongan ingatan itu terus berjalan di depannya. Saat Ia dan Phillip sering bermain bersama, saat Phillip akan terus berjanji menemaninya. Juga, saat Ayahnya terus berteriak tentang permata ke Ibunya. Dan saat Ayahnya mencoba mencabut permata dari batu di atas air terjun.

“James, hentikan! Kau tak akan bisa mengendalikan permata itu!” Ibunya terus berteriak mengejar Ayahnya yang sudah siap mencabut permata itu.

“Aku juga seorang Kirkland sekarang, permata ini milikku”

“Itu milik Primrose! Kau tak berhak atas permata itu!”

“Aku ayahnya sekarang”

“Kau bukan! Dan tak akan pernah! Kau hanya pria tamak yang haus kekuasaan”

Ibunya, berlari mencoba mengambil permata yang ada di tangan Ayahnya. Ibunya melempar dirinya sendiri menghadang Ayahnya. Tubuh Ayahnya terlunjak, dan permata itu terlemlar jatuh, tapi terlambat sudah. Ibunya juga terlempar bersamaan dengan permata itu, jatuh terhamtam ke dasar sungai, jatuh dari atas air terjun yang tak bisa dibilang rendah.

**

“Nona!” Primrose mengingat semuanya, semua yang pernah ia lupakan. Mengingat Ibunya, dan siapa Mr. Kirkland sebenarnya.

“Ada apa?” Tanya nya, saat melihat wajah lelaki kecil yang tadi menyampaikan kabar tentang Phillip padanya. Lelaki kecil itu menghembuskan nafas lega.

“Nona, tiba tiba terjatuh saat mendengar kabar tentang Thief yang tertembak, aku khawatir terjadi sesuatu pada Nona”

Thief?

“Phillip! Bagaimana keaadaannya? Ayo kita harus menyelamatkannya!” Primrose segera berdiri. Phillip, Phillip tertembak dan itu semua salahnya.

“Menyelamatkan siapa Primrose? Aku?”

*masih berlanjut…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s