Our Continued Story – Episode 11

Ini adalah sebuah cerita kolaborasi hasil karya IOC Writing Kreatif dimana kata terakhir dari cerita sebelumnya akan menjadi kata pertama bagi cerita selanjutnya. Cerita ini ditulis oleh Helmi. Silahkan dinikmati.


 

Aku mencoba menggunakan kekuatan sihir yang aku punya, mengelabui penglihatan inspektur Yamagici dan tim dengan jubah hitam yang aku kenakan.

Menutupi seluruh tubuh dengan jubah itu dan mencoba berlari dari atas balkon gedung itu. Kekuatan yang dimiliki Philip hanyalah tak tembus pandang dengan jubah hitam yang ditutupi keseluruh tubuh.

Terpingkal-pingkal ia coba berjalan menuju persembunyian Primrose, dengan darah yang tak henti-hentinya mengalir, jika saja mata inspektur dan tim sangat jeli tentu akan di dapatinya jejak Philip namun, bukan Gentleman Thief namanya jika ia tak bisa mencari jalan yang tidak bisa di lacak oleh tim inspektur.

***

Thief membuka pintu bawah tanah, ia dapati ruangan masih sama seperti saat ia meninggalkan Primrose.

Dilangkahkannya kaki masuk ke dalam ruangan agak lebih dalam. Ada seorang anak kecil dan Primrose. Keadaan masih sunyi. Primrose sedang tertidur dan permata yang di cari Kirkland masih di dalam genggamannya.

“apa yang terjadi, kenapa tuan putri tergeletak di lantai ini” ia bertanya pada anak kecil yang bersama Primrose, anak itu mengatakan bahwa Primrose terjatuh saat mendengar kabar bahwa Thief tertembak.

Philip mencoba memperhatikan wajah sang tuan putri. ‘sangat mempesona, apa yang bisa aku lakukan agar kau terbangun?, apakah kau sangat mengkhawatirkan aku sehingga pinsan begini?’.

Thief merasa bersalah atas pinsannya tuan putri, ‘siapa aku baginya hingga membuatnya pinsan mendengar kabar tentangku?’

Thief meraba tangan dan wajah sang tuan putri, “masih normal’. Tidak ada yang bisa menjawab semua pertanyaan Thief, lukanya masih mengeluarkan darah. Primrose tidak juga sadar. Thief kebingungan apa yang harus ia lakukan.

Di guncang-guncangkannya tubuh Primrose, sang tuan putrid tidak juga terbangun.

***

Arloji Thief menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Ia akan tetap terjaga sampai Primrose sadarkan diri, itulah yang dipikirkan Philip. Ia tidak ingin tertidur walaupun sejenak saja. Meskipun dia tau Inspektur  Yamagici tidak akan menemukan tempat ini.

Anak kecil itu juga tetap disana memperhatikan raut wajah Thief dan tidak bergeming sama sekali.
Thief tepat duduk di samping Primrose yang memegang permata.

Thief menatap lama sekali pada tuan putrinya, ada rasa yang sudah lama ia pendam akan Primrose, namun dia sadar dia hanyalah seorang penjaga buat Primrose, meskipun mereka sudah bermain semenjak kecil.

Thief tidak akan pernah meninggalkan Primrose sampai kapanpun, meskipun nanti tuan putrinya akan menikah dengan pria pilihannya sendiri. Sangat kecil kemungkinan kalau pria itu adalah dirinya.

Tatapan mata Thief tak juga berkedip memperhatikan wajah yang sangat menenangkan itu. Tiba-tiba, Primrose terbangun.

“Ada apa?” Tanyanya, saat melihat wajah lelaki kecil yang tadi menyampaikan kabar tentang Philip padanya. Lelaki kecil itu menghembuskan nafas lega. “nona, tiba-tiba terjatuh saat mendengar kabar tentang Thief yang tertembak, aku khawatir terjadi sesuatu pada nona”

Thief

“Philip! Bagaimana keadaannya? Ayo kita harus menyelamatkannya!” Primrose segera berdiri. Philip, Philip tertembak dan itu semua salahnya. “Menyelamatkan siapa Pimrose? Aku?” suara yang tak asing di telinga Primrose, di edarkannya pandangan ke sebelah kiri, ia dapati Thief dan Primrose sangat terkejut.

“kok kamu bisa disini? Bukannya kamu tertembak?” pertanyaan itu keluar dari bibir Primrose dan entah kenapa wajahnya sangat khawatir akan Thief.
Thief melihat ekspresi tuan putrinya, dan ia merasa sedikit bahagia.

“tidak apa-apa, aku bisa menyelamatkan diri sendiri tuan putri” Primrose mencoba duduk dan meminta penjelasan. “kau tidak perlu mengkhawatirkan saya tuan putri, aku baik-baik saja, hanya terluka sedikit saja”

***

Malam itu, Philip sangat merasa bahagia, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Primrose melanjutkan istirahatnya. Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkan Primrose tentang Thief. Thief tidak berani lagi terlalu mengharapkan perasaannya pada tuan putrinya.

Namun ada yang berbeda, Primrose sangat nyenyak sekali melanjutkan tidurnya, sedangkan Thief tidak bisa memejamkan matanya, karena saat ini, Primrose sangat nyenyak tidur dan kepalanya ada paha bagian kanan Thief, entah sejak kapan.

Thief tidak ingin tidur karena ia ingin menikmati kebersamaan yang sebentar ini, esok belum tentu Primrose akan ada di pangkuannya.

*The End


Selesai? Gak salah? Nanggung banget endingnya?

Kami tahu…karena itulah ending ini jenis open ending, ending cerita diserahkan kepada imaginasi para pembaca.

Kami dari IOC Writing angkat topi untuk para pembaca yang setia membaca cerita kami. Nantikan lagi karya dari grup kami. ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s