Matamu

Hijau.

Jika ada yang menanyakan kepada Sailor Venus mengenai warna kesukaannya, tanpa ragu tentu ia akan menjawab warna kuning keemasan. Warna yang melambangkan keagungan dan kejayaan planet kediamannya, Planet Venus. Akan tetapi dalam lubuk hatinya, ia akan menambahkan bahwa warna hijau juga menjadi warna favoritnya, walau hanya dalam hati.

Semua ini berkat Princess Serenity. Penerus Silver Millenium itu selalu mengendap-endap turun ke Bumi untuk menemui Prince Endymion. Karena Venus adalah pemimpin Millenium Guardian dan karena Princess Serenity berada dalam tanggung jawabnya, maka mau tak mau Venus selalu kebagian giliran untuk menarik paksa Serenity untuk kembali ke Istana Bulan.

Sebenarnya Bumi biasa saja bila dibandingkan dengan Bulan dalam segi teknologi. Tetapi Venus akui, bumi jauh lebih hijau dibandingkan semua planet manapun di tata surya ini, termasuk di planetnya sendiri, Planet Venus. Warna pepohonan hijau di Bumi memang sangat menyegarkan mata, rasanya Venus jadi paham mengapa Serenity selalu sembunyi-sembunyi turun ke bumi. Meskipun ada lagi satu alasan lain, mengapa ia sangat menyukai warna hijau.

Tidak sulit menemukan Serenity. Putri Bulan itu sedang bersama Prince Endymion.

Penduduk Planet Venus, termasuk Sailor Venus, adalah makhluk yang menganggap sakral perasaan cinta. Tidak sulit bagi Venus untuk melihat cinta yang bersemi diantara Serenity dan Endymion. Venus hanya bisa mengalah dan memilih menunggu Serenity tidak jauh dari sana, memastikan Serenity aman dalam jangkauan pengawasannya.

“Sunggu sulit mengawasi tuan putri yang sangat aktif.”

Tanpa perlu menoleh Venus mengenal suara itu. Atau lebih tepatnya, Venus tidak berani menoleh. Komandan tertinggi dari pasukan militer kerajaan bumi, Kunzite telah berdiri santai tidak jauh darinya. Venus hanya tersenyum sedikit.

“Tak masalah, lagipula aku bisa melindungi tuan putriku sekaligus menikmati angin bumi yang segar.”

“Kupikir kalian penduduk bulan jauh lebih menikmati segala kenyamanan kalian di bulan daripada di bumi ini,” itu adalah pertanyaan yang dibalut dengan pernyataan. Tipe khas Kunzite yang tidak mengungkapkan emosinya secara terang-terangan.

“Setiap orang berbeda,” Venus menjawab diplomatis.

“Hmm, dan bolehkah hamba mengetahui apakah yang disenangi oleh Princess Venus dari bumi ini?”

Venus menoleh, memandang Kunzite sementara pemuda itu hanya mengulum senyum menunggu jawaban.Venus terpaku, tak pernah sebelumnya gadis itu melihat sepasang kelembutan di mata pemuda itu. Venus kembali memandang Serenity dan Endymion di kejauhan sana, tak berani menatap sepasang mata hijau tersebut lebih lama.

“Hmm? Apakah hamba telah menanyakan pertanyaan yang salah?” Kunzite kali ini tidak menyembunyikan perasaan penasarannya.

“Aku menyukai warna hijau.”

“Maaf?”

Venus melangkah menjauhi Kunzite sementara komandan itu hanya berdiri mematung. Gadis itu kembali memandangi mata hijau Kunzite, melihat sepasang kehangatan di mata itu. “Jika lain kali aku datang lagi, bersediakah anda menunjukkan padaku tempat yang indah untuk menikmati pepohonan dan angin?”

Kunzite mematung, “Apakah itu ajakan kencan?”

“Karena aku ingin menikmati warna hijau itu lebih lama lagi,”

Venus bergegas  berlari menghampiri Serenity, meninggalkan Kunzite yang masih kebingungan dengan kalimat terakhir dari Venus.


 

# Untuk memenuhi IOC Writing Challenge: Cinta Musik Indonesia

#Ditulis dengan penuh perasaan error. Aduuhh… aku nulis apaan sih ini?

# Sailor Moon bukan punya saya tapi punya eneng Naoko Takeuchi. Dah aku mah apa atuh? Waktu komik ini lagi terkenal masih kecil banget.

# Lagu yang dipakai disini adalah Lagu Titi DJ – Matamu. Yang garis miring itu berarti lirik lagu yang dipake

Advertisements

Akhir

Tik Tak Tik Tak

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Aku mengarahkan kepalaku searah dengan kereta yang baru saja melaju di depanku. Kereta itu berjalan cepat, anginnya masih tersisa, menerbangkan apa saja. Sampah plastik, kertas bahkan helaian rambutku. Mataku lekat memandangi kereta yang bergerak cepat itu hingga ia menghilang dari pandangan.

Ting Tong Ting Tong

Kereta dengan nomor CA205 jurusan Kota saat ini berada di stasiun Depok Baru. Para penumpang yang hendak ke arah Kota silahkan menunggu di peron dua.

Aku memandang angkasa, tidak peduli dengan pengumuman barusan. Yah, buat apa  aku mendengar pengumuman itu, toh aku tak mempunyai tujuan apapun.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Cuaca hari ini cukup cerah. Bisa kulihat langit berwarna biru cerah. Tak ada awan gelap, tapi angin kencang bertiup. Ataukah karena sekarang aku berada di stasiun kereta? Mungkin itu bukan angin melainkan laju kereta yang bergerak cepat?

Hmm… ternyata ada satu awan kelabu. Apakah itu pertanda akan hujan? Aneh, padahal cuaca begitu cerah. Ataukah awan itu hanya sekedar melintas? Aku menghela napas, apa peduliku dengan cuaca nanti. Toh aku yakin cuaca tidak berpengaruh penting untukku. Atau mungkin tidak? Mungkin air hujan akan membantu menghapus jejak yang kutinggalkan nanti?

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Ting Tong Ting Tong

Leherku pegal karena terus memandang langit. Kali ini kuarahkan pandanganku ke jalur kereta. Hmm… seperti biasa, jalur kereta pasti akan diganjal dengan batu-batu kerikil. Mereka bilang itu untuk meredam guncangan gerbong kereta. Entahlah, aku tidak mempelajari teknik kereta api, aku tidak terlalu peduli. Yang kupikirkan hanyalah jika seseorang jatuh ke jalur kereta tersebut, akankah orang tersebut terluka? Hmm… mungkin tidak? Ketinggian antara peron dan jalur kereta tidak terlalu tinggi. Luka lecet dan memar? Mungkin, tapi tidak luka parah maupun patah tulang.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, seperti biasa semua manusia ini hanya peduli pada kegiatan mereka masing-masing. Memainkan handphone, membaca buku, berbincang dengan rekannya, atau mungkin hanya sekedar melamun? Entahlah. Banyak yang duduk menunggu kereta, tapi juga tidak sedikit berdiri menunggu. Aku memperhatikan mereka yang berdiri menunggu, lagi-lagi mereka semua berdiri terlalu dekat tepi peron tepat diatas garis kuning. Aku kembali menghela napas, apa mereka semua tidak sayang nyawa?

Lagi-lagi aku berusaha tidak peduli. Apa peduliku? Apapun situasi yang terjadi hari ini, tetap tidak akan mengubah keputusanku. Setiap kondisi dan situasinya sempurna. Ketinggian peron yang sempurna, cuaca yang mendukung, bahkan dari posisi dudukku sekarang aku bisa mengawasi dengan cermat kapan kereta akan datang maupun pergi.

Hanya satu yang kupikirkan. Akankah terasa sakit? Kuharap tidak. Semoga semua ini terjadi secara cepat tanpa menyakitkan.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

“Wah, coba lihat siapa orang menyedihkan ini?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara. Mantan pacarku dan gadis baru yang beberapa hari ini ia gandeng.

“Nestapa sekali, gadis jelek sepertimu memang menyedihkan.” cerca mantan pacarku, sementara gadis yang dirangkul olehnya tertawa mengejek, menyetujui komentar mantan pacarku.

Ah~ kasihan sekali kau perempuan. Suatu saat nanti kaupun akan dibuang, sama seperti lelaki itu yang membuang diriku.

“Kalau kau tahu diri harusnya kau mati saja,” lelaki itu berdiri di tepi peron, tertawa terbahak masih sambil merangkul kekasih barunya.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Yah, memang itu rencanaku. Kematian memang akan menghampiriku.

Kereta akan memasuki stasiun, semua calon penumpang harap berdiri dibelakang garis kuning.

Akan tetapi, ia tidak akan menjemput diriku.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Bruuuggh

Melainkan dirimu.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Kyaaaa!

Darah memercik ke segala arah. Kereta berhenti mendadak. Calon penumpang yang panik. Petugas yang kewalahan. Dan kekasih baru yang merana.

Hei, apakah itu cukup cepat? Apakah kau merasa sakit?

Tik Tik Tik 

Gluduk gluduk

Ah, turun hujan rupanya.


#Untuk malam narasi OWOP yang gambar kereta.

Maaf ya kalau penggambaran psikologi pikiran si aku gak ngena. Saya juga gak tahu nulis apaan ini. Ah sudahlah~

Annihilation Of Civilization: Chapter 01

Suasana kelas perkuliahan yang ramai dan damai. Nuansa kehidupan yang dipenuhi dengan hal-hal biasa dan membosankan, ritual kehidupan yang terjadi secara biasanya. Ramai dengan kisruh para mahasiswa yang saling menanyakan mengenai tugas yang seharusnya mereka selesaikan tadi malam.

Kehidupan normal yang berjalan dengan biasa.

Seorang pemuda berambut gelap sedang duduk bersandar dengan santai, matanya tak lepas dari layar laptop yang ada di hadapannya. Matanya mengikuti gerak video yang berjalan dengan malas. Tadinya, hingga tiba-tiba saja layar laptopnya ditutup secara mendadak.

“Hei!” seru pemuda tersebut, matanya menatap tajam kepada seseorang yang secara tidak sopan telah mengganggu aktivitasnya. Akan tetapi setelah mengetahui siapa sosok yang mengganggu tersebut, tatapan matanya berubah menjadi terkejut.

“Seenaknya saja dirimu menonton video sementara aku harus begadang menyelesaikan peta ini!” lengking seorang gadis berjilbab lebar.

Sang pemuda hanya mendesah malas sebelum akhirnya kembali menegakkan layar laptopnya. “Kan sekarang giliranmu, jadi aku bebas melakukan apapun,” ucapnya yang hanya dibalas dengan dengusan sarkasme dari sang gadis.

“Jadi? Bagaimana kabar tugas kita?” sang pemuda kembali bertanya, tetapi matanya masih menatap layar laptopnya.

“Tentu saja sudah selesai,” ujar sang gadis dengan bangga sambil melebarkan kertas yang dibawanya, menunjukkan tugas peta yang telah dibuatnya.

“Hmm, baguslah kalau begitu.” Ujar si pemuda tanpa mengalihkan pandangannya, sedikit banyak hal ini membuat sang gadis agak kesal.

“Dan tentu saja aku sudah menulis persentase pembagian tugas disini.  Aku menulis jatah 80% sementara dirimu dan Mustafa hanya 10%. Silahkan menikmati nilai kalian yang akan jelek nantinya,”

“Hei… curang sekali, tidak bisa begitu-“

“Vera!”

Perdebatan antara sang pemuda dan sang gadis terhenti. Sang gadis menoleh, mencari sumber suara yang telah memanggil namanya. Keadaan itu dimanfaatkan sang pemuda untuk merebut tugas peta yang sedang dipegang oleh sang gadis

Gadis yang dipanggil dengan nama Vera itu kembali menoleh sebelum menjauh, “Bohong kok, aku belum menulis persentase pembagian kerja kita,” ujarnya dengan wajah yang iseng sambil melangkah menjauh, menghampiri sosok yang memanggilnya.

Sang pemuda mendengus sebal sebelum akhirnya matanya jatuh ke tugas yang mereka buat. Nama sang gadis – Scheherazade Vera Giti – dan nama dirinya – Faris Jahanshah – beserta satu orang lagi tertulis pada kanan atas bagian peta. Sepertinya Vera benar-benar sedang jengkel dengan anggota kelompoknya sehingga dengan iseng gadis itu membohonginya mengenai persentase pembagian tugas. Tangan Faris bergerak dengan cepat sebelum akhirnya berhenti dan kembali menggulung peta tersebut. Matanya kembali dialihkan ke tempat lain, kali ini ke angkasa.

Cuaca minggu ini sedang tidak bersahabat, awan gelap menggantung sejak seminggu yang lalu akan tetapi tidak ada tanda-tanda akan hujan. Benar-benar cuaca yang akan membuat semua orang menjadi muram. Sang pemuda melemparkan pandangannya kearah angkasa sebelum akhirnya menghela napas, merasa bosan. Pikirannya akan melayang kosong jika tidak secara tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang,

“Jangan bengong!”

Pemuda itu hampir terjatuh dari kursinya kalau bukan tangannya yang secara refleks memegang tepi meja, menghindarinya terjatuh dari kursi. Vera sudah kembali ada di hadapannya, duduk dengan kedua tangannya menopang dagu.

“Kau membuatku kaget, Sche! Sejak kapan ada disini?”

Ya, Faris memang memanggil Vera dengan nama depannya, Scheherazade. Walaupun gadis itu sudah meminta agar Faris memanggil nama tengahnya saja – untuk menghemat napas – akan tetapi Faris mendapati nama Scheherazade adalah nama yang cantik.

“Sudah dari tadi, tapi sepertinya kamu melamun terlalu serius sehingga tidak sadar kalau aku ada disini,” jawab Scheherazade tanpa rasa bersalah, Faris hanya bisa mendesah malas.

“Jadi, bagaimana petanya?” lanjut Vera.

“Masing-masing dari kita mendapat 80% untuk persentase tugas,” ujar Faris sambil kembali menyerahkan petanya. Tangan gadis itu sudah setengah menjulur untuk menerima peta sebelum akhirnya peta itu kembali berpindah tangan.

“Jadi ini tugasnya? Lumayan juga,”

“Hei apa maksudnya? Aku mengerjakan itu sampai kurang tidur!” Vera tidak terima hasil kerjanya disepelekan.

“Hmm, aku memuji kok,” ujar seorang pemuda.

“Tapi nada bicaramu sama sekali tidak enak Musthafa,”

“Lupakan saja, mungkin untuk anak ini seharusnya aku tulis persentase kerja 0%”

“Kau pikir ini cicilan kredit bank 0%?”

“Kau yang mulai bicara sembarangan duluan,”

“Dan aku tidak bicara padamu. Aku bicara kepada Schera,”

Dan entah bagaimana perdebatan berlanjut, yang tadinya mereka bertiga berdebat satu sama lain menjadi perdebatan antara Faris dan Musthafa. Vera hanya terdiam, bingung karena entah bagaimana Faris dan Musthafa memperdebatkan hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan tugas. Sementara teman sekelas mereka tidak ada yang mau repot-repot menenangkan perdebatan mereka.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Faris Jahanshah dan Musthafa Eman selalu berdebat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele maupun hal yang besar. Padahal menurut pendapat teman-teman masa sekolah mereka dahulu, mereka berdua tidak pernah bertemu karena berasal dari sekolah bahkan daerah yang berbeda yang memungkinkan pertemuan antar mereka berdua kecil sekali. Akan tetapi entah bagaimana ceritanya, sepertinya mereka berdua sudah menunjukkan rasa benci dan persaingan antara satu sama lain sejak mereka semua memulai dunia perkuliahan. Dan jika mereka berdua sudah bertengkar, tidak ada satupun yang berani melerai mereka.

Tidak ada yang berani kecuali,

“Cukup! Kalian bertengkar di pagi hari seperti ini membuat kepalaku pusing!”

Vera memukul kepala mereka berdua dengan buku tebal yang dijamin membuat kepala pusing mendadak. Dan seketika kedua pemuda labil itu langsung berhenti berdebat.

Yah, hanya Scheherazade Vera Giti yang mampu membuat dua pemuda labil itu berhenti berdebat. Entah cara apa yang digunakan gadis itu, tapi jika kedua pemuda itu berdebat maka Vera dengan mudah mampu menyuruh mereka berhenti bertengkar dan berbalik mendelik galak kepada dua pemuda itu.

Kemampuan yang… yah, bisa dikatakan berguna, mungkin?

“Kenapa sih kalian berdua bertengkar terus? Dan selalu aku yang harus jadi penengah kalian. Bikin sebal aja,” gumam Vera tidak jelas.

“Kau membuat kepalaku sakit,” tuduh Muthafa kepada Faris.

“Jangan mengeluh padaku! Yang memukul kepala kita Schehera!” Faris berkelit.

“Tapi aku tak mungkin marah kepada Schera!”

Dan sekali lagi, buku yang lebih tebal kembali  mendarat dengan keras di kepala mereka berdua.

-000-

“Jadi bila dibandingkan antara kasus pertama dengan kasus kedua…,”

Hanya sampai situ saja Faris mampu berkonsentrasi mengikuti ocehan dosen, layaknya dongeng pengantar tidur. Faris melemparkan pandangannya ke angkasa. Pemuda itu sengaja mengambil posisi tempat duduk dekat jendela yang menghadap kearah dosen, sehingga ia tidak perlu ditegur jika ketahuan tidak focus pada pelajaran.

Keadaan di luar masih sama, awan gelap menggantung tetapi tidak juga menunjukkan bahwa hujan akan segera turun. Terkadang angin semilir memainkan anak rambutnya, menciptakan kondisi mengantuk dalam kelas yang gerah. Mata Faris sudah mulai setengah tertutup ketika tiba-tiba saja tubuhnya merasakan sesuatu.

Bukan tubuhnya, tapi ia merasakan kursinya bergetar pelan. Merasa bingung, Faris mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tetapi bukan hanya dirinya saja yang merasakan getaran itu. Semua kawan-kawannya yang terduduk di bangku mereka juga merasakan kursi mereka bergetar pelan, bahkan dosen mereka sudah berhenti mengoceh. Wajah bingung mulai menghiasi dan bisik-bisik mulai terdengar.

Tak lama kemudian suasana kembali tenang, tidak ada lagi getaran-getaran yang mereka rasakan. Merasa situasi sudah kembali tenang, sang dosen pun kembali melanjutkan celotehannya yang sempat terpotong meskipun begitu para mahasiswa masih berbisik tegang mengenai pengalaman gempa kecil tersebut.

Saat sang dosen hendak menegur mahasiswa yang masih membuat keributan, saat itulah gempa yang lebih besar mengguncang. Gempa besar itu mampu membuat kursi yang disusun bertingkat mulai berjatuhan ketingkat paling bawah dan lampu gantung kelas bergoyang keras. Merasa panik, para mahasiswa sudah berlari keluar kelas untuk mencari tempat yang lebih aman, sementara sang dosen meninggalkan kelas setelah sebelumnya memastikan tak ada satupun mahasiswa yang tertinggal di kelas.

Faris berlari keluar dari kelas, mengikuti jejak kawan sekelasnya yang terlebih dahulu telah tiba di area terbuka. Gempa besar itu masih melanda, mengakibatkan bunyi gemerisik daun yang mengerikan akibat batang pohonnya ikut bergoyang keras. Tak lama kemudian, gemerisik daun itu semakin melemah disertai gempa bumi yang juga semakin melemah hingga getarannya tidak terasa sama sekali.

Faris mengedarkan pandangannya, ternyata bukan hanya teman sekelasnya saja yang berkumpul di area terbuka itu. Beberapa anak kelas dari jurusan lain juga berhamburan ke lapangan tersebut, menghindar dari apapun yang berpotensi jatuh karena gempa. Matanya menangkap sosok Vera yang sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya memberi kabar pada keluarganya. Matanya juga menangkap sosok Musthafa yang entah mengapa sedang menatap sinis ke arahnya.

Faris mengerutkan keningnya, Musthafa berjalan menghampirinya. Pandangan sinis masih terpasang.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Musthafa sambil memegang bahu Faris. Matanya mengawasi sekeliling, seakan takut pembicaraan mereka didengar orang lain.

“Apa maksudmu dengan apa yang kulakukan?” Faris menurunkan tangan Musthafa dengan kasar dari bahunya.

“Jangan berpura-pura. Aku tahu itu perbuatanmu,” Musthafa menyelidik dengan nada yang menuduh.

“Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kau bicarakan,”

“Baiklah, mungkin kali ini memang bukan kau tapi pohonmu itu yang melakukannya,” gumam Musthafa menjauh.

Faris menatap tajam punggung Musthafa.

“Asal tahu saja, apapun yang terjadi aku pasti bisa menggagalkan rencanamu itu,” Musthafa berlalu dengan percaya diri. Faris menatap punggung Musthafa, wajahnya tidak tampak marah maupun tersinggung.

“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa Musthafa mendelik seram begitu?”

Faris menolehkan kepalanya dan mendapati Vera masih menatap Musthafa dengan bingung.

“Tak perlu dipikirkan. Dari awal kami memang tidak cocok,”

Vera hanya mengangguk. “Gempanya mungkin sudah berhenti ya? Semoga tidak ada gempa susulan,”

Faris hanya mengangkat bahu. “Akhir-akhir ini selalu seperti itu, gempa besar secara tiba-tiba. Tapi tadi kau menelepon siapa? Keluargamu?”

“Sebenarnya mereka yang meneleponku, menanyakan apakah-“

Ucapan Vera terpotong, gempa besar kembali terjadi. Mahasiswa dan dosen yang awalnya hendak beranjak dari lapangan kembali berlari menuju tanah lapang, wajah panik dan ketakutan tergambar jelas di wajah mereka.

Vera terduduk ditanah, wajahnya ketakutan dan lututnya terasa lemas. Faris berlutut di tanah, memastikan bahwa Vera berlindung dibalik tubuhnya, matanya waspada mengawasi sekeliling. Gempa yang terjadi tidak terlalu besar tetapi terjadi dalam waktu yang cukup lama, dua menit.

“Kenapa gempa lagi?”

“Ya, kenapa gempa lagi? Apa telah terjadi sesuatu?” Faris merasa tidak tenang dengan pikirannya.

Terjadinya gempa memang bukan sesuatu yang aneh, tapi jika terjadi terus menerus seperti ini, mau tidak mau Faris merasa curiga.

“Sudah tenang,” Vera bergumam. Faris masih memasang postur tubuh siaga.

“Menurutmu, apa lebih baik kita semua pulang saja?” tutur Vera penasaran. Bisa dilihat bahwa para mahasiswa dan dosen yang berkumpul juga mendiskusikan hal yang sama.

“Entahlah. Tapi kupikir tak peduli kemana kita pergi, kita akan tetap merasakan gempa mengerikan seperti ini,” jelas Faris. Wajah Vera memucat.

_000_

Malam sudah tiba, dihiasi dengan bintang tanpa rembulan. Malam itu adalah malam baru, kondisi yang sangat baik untuk bepergian tanpa merasa khawatir akan diikuti oleh seseorang. Meskipun begitu, tak perlu pergi secara sembunyi karena lokasi itu ada di dalam hutan.

Hutan yang cukup lebat sebenarnya.

Akan tetapi sosok gelap itu tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya. Ia terus melangkah hingga akhirnya tiba di tengah hutan. Meskipun dikatakan di tengah hutan, area itu cukup jarang dikelilingi oleh pepohonan, sebaliknya malah terdapat pohon raksasa menjulang tinggi sendirian di area tersebut.

Pohon itu adalah pohon raksasa. Seperti pohon cemara akan tetapi batang pohonnya sangat besar, memerlukan kurang lebih 20 orang hanya untuk memeluk batang pohon tersebut. Akarnya menghujam tanah dengan dalam, terlihat betapa besar dan raksasanya akar pohon tersebut. Puncak pohonnya tak bisa dilihat dari bawah sehingga tak terlihat puncaknya. Cabang pohonnya menaungi daerah hutan sekitarnya, bahkan gemerisik daunnya bagaikan bunyi debur ombak di samudera yang menegakkan bulu roma.

Sosok gelap itu berlutut di tengah pohon tersebut, tangannya meraba tanah bagian akar pohon raksasa tersebut di suatu titik tertentu. Tak lama kemudian tangannya menemukan apa yang dicarinya, pecahan kecil sebuah rantai perak. Sosok itu kembali berdiri dan memandang pohon tersebut.

“Hoho, sudah kuduga kau akan kesini,”

Sosok tersebut tidak bereaksi apapun, hanya terdiam seolah tidak mendengar interupsi. Yang menyapa juga tidak mengharapkan jawaban, akan tetapi ia melangkah keluar dari perlindungan bayang pepohonan. Cahaya bintang menampilkan sosok pemuda yang tegap, Musthafa Eman.

“Apakah ini boleh disimpulkan bahwa pohon inilah yang menyebabkan gempa beruntut hari ini?” Musthafa kembali bertanya.

“Aku tidak bermaksud membuat pohon ini bangkit,” gumam sosok tersebut.

“Dan kau pikir aku akan percaya pada perkataanmu?” elak Musthafa, tetapi sosok itu hanya terdiam saja. Matanya lebih memilih memandang pecahan rantai yang dipegangnya dibandingkan adu cekcok dengan Musthafa.

Sosok itu menggumamkan sesuatu yang tak mampu didengar jelas oleh Musthafa, akan tetapi pecahan rantai yang berada di genggaman orang tersebut mendadak bersinar dan melayang sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam batang pohon. Sosok itu masih merapalkan sesuatu sehingga akhirnya rangkaian rantai raksasa muncul dari dalam tanah, melilit pohon raksasa tersebut dengan rantai raksasa. Terdengar bunyi sesuatu seperti bunyi gembok terkunci sebelum akhirnya pohon raksasa beserta rantai tersebut bersinar lemah dan menghilang. Di tempat yang tadinya terdapat pohon raksasa, sekarang telah lenyap tanpa bekas seakan dari awal memang tidak ada apapun disana.

“Kau menyegelnya?”

“Sudah kukatakan kan? Aku tidak membuat gempa tersebut,”

Untuk pertama kalinya sosok itu menoleh kearah Musthafa, tatapan matanya jengah. Disana, di kegelapan malam, berdirilah sosok Faris Jahanshah.

“Tapi juga bukan suatu kesalahan kalau pohon milikmu yang telah membuat gempa itu,”

“Itu masalah lain,” Faris membuang muka.

“Ya, teruslah bersikap sok keren seperti itu,” Musthafa berbalik melangkah meninggalkan Faris.

“Aku akan terus mengawasimu, sang Putra Dunia, Faris Jahanshah,” Musthafa terus melangkah hingga kegelapan menutupi dirinya.

Faris hanya menatap tajam arah Musthafa menghilang, sebelum akhirnya kembali menatap pohon raksasa yang tak terlihat itu dan menatap langit berbintang.

_000_

to be continued

Annihilation of Civilization: Prologue

“Ada yang bisa menghubungi Vera?”

“Keterlaluan sekali, bukankah kita semua harusnya berkumpul jam 5 pagi?! Dia sendiri yang menetapkan waktunya,”

“Handphone milik Vera tidak aktif. Entah kenapa,”

“Jadi bagaimana? Sudah setengah 6 pagi, lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan,”

“Apa boleh buat, acara akan tetap dijalankan meskipun dia belum datang. Pihak logistik yang memiliki motor coba jemput  di kostan. Siapa tahu anak itu ketiduran-“

KYAAAA!

Teriakan seorang wanita mengganggu suasana tenang di pagi hari. Tak lama kemudian seorang wanita berwajah pucat dengan napas tersengal berlari dengan panik sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai yang dingin.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Kena-“

Wanita itu langsung mencengkram lengan baju kawan yang menghampirinya. Matanya menyorotkan perasaan yang ngeri, bibirnya terbuka-tertutup, seakan hendak berbicara tetapi tidak mampu. Wanita itu hanya bisa menunjuk arah darimana ia datang dengan jarinya yang gemetar.

Beberapa pemuda dengan inisiatif pemberani serentak menuju arah yang ditunjuk. Kawan-kawan yang tersisa masih menemani sang gadis. Mereka hendak bertanya sebelum akhirnya mendengar kembali jeritan para pemuda yang berlari ke arah yang ditunjuk.

Merasa penasaran, mereka semua akhirnya berlari menuju sumber suara. Hendak bertanya, ada apa gerangan yang membuat mereka menjerit. Akan tetapi hal itu tidak diperlukan lagi, karena mereka telah mengetahui asal muasalnya.

Di depan pandangan mereka semua telah tersaji suatu pemandangan yang buruk.

Tidak. Mungkin ini adalah mimpi buruk.

Ya, pastilah mimpi buruk. Begitulah harap mereka.

Sesosok gadis tergantung dengan tangan yang terentang di kedua sisinya dengan rantai besi yang mengikat masing-masing kedua pergelangan tangannya. Dua tangga melingkar yang berada di sisi kiri dan kanannya menjadi latar belakang yang begitu elegan. Gelang besi yang dikenakan di kedua tangan gadis tersebut tersambung dengan rantai besi yang panjang, berakhir terikat pada masing-masing sisi pembatas dari lantai dua. Ironisnya, sang gadis hanya tergantung 30 cm dari lantai dasar.

Sang gadis mengenakan jilbab lebar berwarna putih cemerlang. Disertai blus putih dan manset berwarna senada. Rok panjang yang dikenakannya berwarna hitam, sewarna dengan kaus kaki dan sepatu yang digunakannya.

Akan tetapi, pada pakaian putih itu terdapat noda bagaikan mawar merah yang terus merekah. Semakin lama semakin melebar hingga mengalir turun, menuju roknya, kaus kaki, sepatu, hingga akhirnya menetes pada lantai yang putih.

Tak hanya itu.

Bagaikan sebuah pusat, pada lantai putih itu terukir sebuah diagram yang rumit dan tak dikenal membentuk lingkaran yang mengelilingi sosok sang gadis dengan diameter selebar 5 meter. Diagram tersebut terbentuk dengan ukiran yang rumit dan aneh dengan tinta berwarna merah.

Tunggu dulu, warna merah ukiran diagram itu senada dengan warna mawar merah yang merekah pada tubuh sang gadis.

Meskipun ditemukan dalam kondisi yang mengerikan, akan tetapi wajah sang gadis begitu tenang. Seakan sang gadis hanya jatuh dalam sebuah tidur yang damai. Semua orang yang menyaksikan hanya bisa terpaku, terlalu terkejut.

“Tapi- tapi bagaimana…?”

“Mustahil, 30 menit yang lalu kami lewat sini dan tidak ada apapun, bagaimana…?”

“Kenapa? Kenapa harus seperti ini?”

“Kenapa Vera harus mati seperti ini?”

 

~000~

To Be Continued

Si Penghuni Mars

“Sekarang tidak ada suara apa-apa sama sekali. Baru kali ini aku sadar betapa sunyinya Mars. Mars dataran tidak bertuan tanpa atmosfer apapun yang bisa menghantarkan bunyi. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.” -Mark Watney pada Sol 449


Judul buku Asli   : The Martian
Judul buku terjemahan : Si Penghuni Mars

Pengarang  : Andy Weir

Alih bahasa : Rosemary Kesauly

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit beserta cetakannya : Cetakan Pertama, tahun 2015

Dimensi buku : 528 halaman, 20 cm

Harga buku : Rp 99.500 (06 Febuari 2016)


 

The Martian menceritakan kisah seorang Astronaut bernama Mark Watney bersama tim astronautnya dalam misi penjelajahan planet Mars. Baru beberapa hari tim penjelajah tersebut menjejak Planet Mars, tidak disangka badai pasir menyerang sehingga mereka harus membatalkan misi penjelajahan mereka dan meninggalkan planet tersebut. Nahasnya, Mark Watney dinyatakan tewas oleh tim kelompoknya karena serangan badai. Tidak ada status dan kabar, tim penjelajah meninggalkan Planet Mars dengan mental shock dan terguncang karena kehilangan rekan mereka.

Mark tertinggal sendirian di Mars, tidak ada sarana komunikasi ke Bumi, bahkan persediaan makanannya semakin menipis dan pasti akan habis sebelum tim penyelamat bisa menolongnya. Untunglah Mark memiliki mental yang kuat. Berbekal keterampilan teknis dan ilmu yang dikuasai olehnya – serta rasa humor untuk menjaga kewarasan dirinya – Mark memulai misi illegal bertahan hidup di Mars, menanam kentang untuk dimakan serta membuat rencana gila untuk menghubungi NASA di Bumi.

Andy Weir menulis buku ini dengan sangat pintar. Situasi yang terjadi di buku ini dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, menjadikan buku ini sebagai Best Seller yang telah diangkat ke layar lebar. Buku ini berisi berbagai macam teori yang selanjutnya dipraktikkan oleh tokoh Mark Watney untuk bertahan hidup di Mars. Selain itu penokohan para karakter juga berjalan dengan normal, tidak ada penokohan yang dipaksakan maupun dibuat-buat, bahkan dalam cerita ini tokoh Mark Watney yang selalu berpikir positif untuk bertahan hidup juga sempat digambarkan frustrasi dan putus asa dengan keadaan dirinya.

Bagi para penggemar Science Fiction, buku ini sangat direkomendasikan karena konten isinya sangat ilmiah. Akan tetapi buku ini tidak direkomendasikan untuk pembaca yang mengejar alur cerita untuk mengisi waktu luang. Meskipun teori ilmiahnya dapat dipertanggung jawabkan, akan tetapi alur ceritanya sangat sedikit bahkan hampir tidak terlihat dikarenakan buku ini lebih kearah penjelasan science bagaimana tokoh Mark Watney dapat bertahan hidup.

Meskipun begitu, buku ini layak dikonsumsi apabila pembaca ingin menikmati fiksi science fiction yang tidak terlalu berat. Saya pribadi menempatkan buku ini dalam salah satu koleksi favorit saya.

Jadi Sebenarnya

Seriously, tidakkah kau pikir ini keterlaluan? Ini sudah ke-378 kalinya dan mereka terus melakukan kesalahan yang sama! Ada apa sih dengan negara ini?”

“Pertama, Ya aku juga berpikir ini keterlaluan. Kedua, tidak ada yang salah dengan negara ini. Ketiga, kau terlalu berisik.”

Dua orang berpakaian serba hitam dari atas ke bawah melangkah dengan cepat. Pria pertama berwajah cukup tua, terlihat tenang. Sementara pria kedua berkulit hitam mengoceh dengan cepat bernada gusar.

“Kau tahu Kei, mungkin kita harus mulai memikirkan membuat les bahasa atau apa untuk mereka.” pria berkulit hitam membetulkan letak kacamata hitam miliknya. Matahari negara ini memang sangat terik dan dirinya mulai tidak nyaman dengan balutan setelan hitam tersebut. Pria tua yang disapa Kei hanya memutar bola matanya, tampak bosan.
“Kau tahu Jei, mereka tidak akan terlalu peduli dengan les bahasamu itu.”

“Mungkin kita bisa buat itu semacam hal yang wajib atau apalah.”

Kei mulai memandang rekannya, menatap tajam. “Kita akan bicarakan itu nanti setelah kita sampai di markas. Sekarang, mumpung kita ada di Indonesia mungkin kita bisa bertugas dan bersantai sedikit.”

Kedua pria itu melangkah memasuki warung kecil yang terletak tidak jauh dari pinggir jalan. Tulisan “Pisang Goyeng dan Bubul Cumcum” tertulis jelas di papan kayu yang dibuat seadanya, dipaku tepat dekat dengan pintu masuk warung.

“Monggo Pak, silahkeun-”

“Hai, Rie. Kau lumayan cepat beradaptasi di negara ini rupanya.” sapa Jei.

“Sampeyan elo kesini ngapain?”

“Wow, sabar kawan. Aku dan Kei hanya ingin lihat bagaimana keadaanmu dan… bahasamu sangat kacau dude.”

“Gue orang belajar dari rakyat sini.” si tukang warung membandel.  Kei hanya menggeleng sementara Jei hanya bisa terbengong.

“Yah, aku dan Kei pikir mungkin lebih baik mengajari kalian para alien berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kami akan mengutus seseorang kesini dan kalian akan didaftarkan untuk mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dari markas cabang di negara ini. Deal?

Tukang warung itu hanya bisa merengut tapi tak mengucapkan apapun. Kei mengambil beberapa pisang goreng dan melahapnya sementara Jei mulai kehilangan kesabaran.

Ok dude. Kau akan mulai belajar bahasa Indonesia minggu depan. Perbaiki tulisan depan warungmu itu karena yang benar adalah Pisang Goreng dan Bubur Sumsum. Serta sembunyikan ekor alienmu itu.” Jei melangkah keluar diikuti oleh Kei yang telah meletakkan beberapa lembar uang Rupiah kepada si tukang warung.

“Ingat! Minggu depan! Belajar Bahasa Indonesia!” Jei berteriak sambil melangkah keluar warung.

“Ambil saja kembaliannya!” Kei ikut menaggapi.

***

Seriously, kenapa semua alien itu sengaja pergi ke Indonesia dan berjualan disana? Bahkan mereka menjual hal yang sama, Pisang Goreng dan Bubur Sumsum! Tidakkah kau pikir ini aneh Kei?” Jei mencak-mencak di mobil. Kei berkonsentrasi menyetir.

“Alien bangsa Sweetarian memang dikenal menyukai hal yang manis.”

“Tapi tidakkah kau pikir ini keterlaluan? Bubur Sumsum dan Pisang Goreng? Astaga! Bahkan mereka semua salah menulis dengan Pisang Goyeng dan Bubul Cumcum. Itu menggelikan!”

Jei tidak menjawab.

“Yah. Kupikir aku ingin beristirahat sekarang dan-” ucapan Jei terputus karena bunyi alarm pesan pada ponsel miliknya.

“Astaga! Tidak lagi!”

Kei melirik penasaran.

“Kenapa bangsa Sweetarian ini senang sekali dengan tulisan Picang Goyeng dan Bubul cumcum sih?” Jei mengacak rambutnya frustrasi.

“Kau tidak akan pernah tahu.” Kei menanggapi dengan kalem.


#Dibuat untuk malam narasi OWOP “Picang Goyeng dan Bubul Cumcum”
#saya tahu… ini comedy gagal kok :”(
#Jadi…kalau disekeliling kalian ada yang jualan “Picang Goyeng dan Bubul Cumcum, waspadalah! Siapa tahu mereka alien dan anggota Men In Black sedang mengawasi kalian XD

Aside

Curhat Berbalut NBD

Displaying 20160307_102252.jpgKarena saya mantan manager McD yang sudah lama resign, saya gak bakal inget kalau tanggal 7 Maret itu ada event gede NBD.

Apaan tuh NBD?

Jadi NBD itu singkatan dari National Breakfast Day. Hari dimana kalian bisa dapet menu breakfast gratis di tanggal segitu. Daannn… sudah cukup saya menjelaskan NBD karena saya enggak digaji oleh McD untuk koar-koar masalah NBD.

Teman sesama mantan manager Mcd, sebut saja Rina ngajak ketemuan di mantan store McD kami. Mumpung memang gak punya kegiatan apa-apa, saya ngikut aja.

Singkat cerita datanglah ke tempat janjian jam 8 pagi, enggak pas banget sih… ada lah lebih-lebihnya. Pasrah juga kalau gak kedapetan gratisan. Eh pas datang kesana…

 

mameeennn….. sepi amiirrr

 

What the? beneran sepi. Gue sama Rina jadi mengkeret juga. Sepi amat. Tapi ya sutralah, karena udah datang seenggaknya harus dapet gratisannya. Dan pas kami masuk ke store, suasana store langsung jadi rame.

Iyalah, jadi rame. Dua mantan manager cewek Rina (manager artis korea) dan saya (manager toa bawel) tiba-tiba datang berkunjung ke store, gimana gak rame?

Pertemuan begini sih awalnya mah masih baik-baik aja.Cipika cipiki, salam haha hihi sebelum akhirnya ngambil barang gratisan terus duduk dan makan.

nah, yang seru psa lagi duduk ini. Satu per satu anak-anak crew mulai datang tanya kabar sebelum akhirnya jadi curhat. Curhat? Iya Curhat!

Curhat apaan aja? Biasa, masalah management store sepeninggal angkatan management kami semua. Dan saya gak bakal tulis curhatan mereka disini. Kasian!

20160307_102252

Duh…kawan-kawan crew. Gak bisa ngelakuin apa-apa lagi buat kalian semua, kecuali cuma bisa doa dan bilang semangat aja. Sabar ya :”(