Tidak Seindah Bayangan

Siang itu sang gadis setengah melamun menatap rak yang penuh berisi buku. Setelah sebelumnya memilih dengan tak minat kumpulan kartu pos bergambar membosankan, sang gadis mengalihkan minatnya kearah rak buku. Rina- sebut saja nama gadis itu.

Niat awal Rina sebenarnya untuk membeli kartu pos. Maklumlah, gadis itu baru diperkenalkan sebuah hobi baru – postcrossing. Karena masih baru dan belum punya waktu luang untuk ke kantor pos khusus filateli, akhirnya Rina memutuskan untuk membeli kartu pos di toko buku terkenal dekat rumahnya. Ternyata tak sesuai harapannya, walaupun Rina tidak terlalu kecewa juga, toko buku itu hanya menyediakan kartu pos bergambar standar condong kearah yang membosankan.

Tidak mau pulang dengan tangan hampa, Rina memilih beberapa kartu pos yang bergambar lumayan diantara kartu pos bergambar yang sangat membosankan. Setelah memilih dengan cukup cepat Rina mengalihkan pandangannya kearah rak buku yang penuh dengan buku untuk dijual. Disini pikiran rina mulai tidak fokus. Pasalnya, rak buku yang sedang ia pandangi penuh dengan buku-buku komik berjudul romantis untuk para gadis muda yang baru saja kenal dengan kosa kata “cinta”.

Rina menghembuskan napas, bukan berarti ia tidak suka dengan jenis komik semacam itu, hanya saja entah kenapa mendadak pikirannya galau.

“Kebanyakan baca komik romance melulu nih lah, jodoh gue kapan datang?” benak Rina mulai tidak fokus. Matanya menelusuri judul-judul komik genre romance secara cepat sementara tangannya memainkan kartu pos yang baru saja dipilihnya.

Rina membalikkan badan, hendak pergi dari rak berisi komik romance itu tapi nahas ia malah tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di belakangnya. Kartu pos milik Rina jatuh bertebaran di lantai sementara beberapa buku menimbulkan bunyi debam yang keras.

“Maaf,” Rina meminta maaf tanpa menengok orang yang ia tabrak. Gadis itu langsung berjongkok memungut kartu posnya yang bertebaran.

“Maaf, maaf,” suara lelaki di saat yang sama juga terdengar, ikut memungut kartu pos yang jatuh. Rina tidak berani menengok laki-laki itu, dia hanya mampu memungut kartu posnya dalam diam.

Ett daah, ini mah kayak adegan komik shoujo gitu!” Rina merasa kegeeran.

Kartu pos sudah selesai dikumpulkan, Rina menatap si laki-laki yang menolongnya itu. Dan yang Rina lihat adalah…

.

.

.

…seorang bapak tua yang rambutnya sudah memutih semua.

Kecewa maks :v

Padahal Rina udah kegeeran aja. Kalau bisa pasang emot di dunia nyata, pastilah wajah Rina akan seperti emot nangis kejer.

Tidak hanya sampai situ.

“Ayah! Ayo liat kesana!” seorang anak laki-laki yang sepertinya masih duduk di sekolah dasar muncul secara ajaib dari belakang bapak itu.

Waakkksss. Bagaikan batu besar berapa ton menimpa keras kepala Rina.

Si Bapak meminta maaf sekali lagi, menyerahkan kartu pos yang tersisa dan pergi dari sana. Meninggalkan Rina yang kadar geernya mulai turun dan emoticon nangis kejer.

.

.

Yah, ternyata tidak seindah di shoujo manga. Makanya jangan kegeeran duluan :v

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s