Yang Benar Saja?!

Aku terbangun dengan perasaan suntuk. Tadi malam tidurku kurang nyenyak, bisa kurasakan sekarang bahu dan pinggangku terasa pegal.

Suamiku mengintip ke dalam kamar, pakaiannya rapi menggunakan baju koko. Rupanya ia ingin membangunkanku untuk shalat subuh tapi tidak jadi karena aku telah terbangun. Aku memandang jendela di samping, sudah terang – sepertinya sudah pukul 6 pagi.

Aku kesiangan!

Langsung aku melompat dari tempat tidur dan berwudhu di kamar mandi. Dari ekor mata kulihat suamiku sedang shalat subuh, rupanya suamiku juga kesiangan. Tanpa banyak bicara aku langsung melaksanakan shalat subuh. Suamiku sudah selesai shalat dan sekarang ia sedang membaca buku panduan shalat.

Selesai menunaikan subuh yang kesiangan kuhampiri suamiku yang sedang serius membaca. Buku panduan shalat itu membuka di halaman tata cara shalat gerhana. Sekilas aku mengangguk paham dan bangkit berdiri. Bersiap-siap mengerjakan tugas rumah tangga.

Aku dan suamiku tidak bertengkar. Memang sudah kebiasaan kami bersama untuk tidak berbicara di waktu-waktu sepagi ini. Dua alasannya: masih terlalu malas untuk berbicara diwaktu sepagi ini dan terlalu lapar untuk berbicara.

Aku memanaskan sisa sayur tadi malam, mengecilkan api kompor dan mulai menaruh tumpukan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Kompor masih dalam jangkauanku sehingga tidak masalah kutinggalkan sebentar dan mulai mengoperasikan mesin cuci. Saat mesin cuci mulai bekerja kuhampiri sayur yang sedang kuhangatkan – sudah mendidih rupanya, kompor langsung kumatikan.

Suara televisi mulai meramaikan suasana – selain suara mesin cuci tentu saja. Sepertinya siaran berita televisi sudah heboh dengan siaran langsung berita gerhana. Aku membereskan tempat tidur sambil mendengarkan suara televisi yang agak keras. Suamiku sudah mulai makan yang kegiatan itu langsung kuikuti. Kami makan sambil menonton berita gerhana, terkadang kami juga melemparkan beberapa pendapat dan argumen mengenai siaran gerhana. Banyak perbedaan pendapat tapi satu kesimpulan yang kami sepakati, kami sama-sama miris dengan kegiatan dangdutan, konser musik maupun nyanyian tolak bala yang diselenggarakan untuk meramaikan gerhana.

Tak lama suasana rumah kami agak gelap, kami mencari siaran berita yang menarik. Pantas saja suasana agak gelap, rupanya di daerah Jakarta gerhana matahari sudah dimulai. Memang tidak total tapi mampu membuat suasana agak suram. Suamiku mengambil air wudhu dan langsung bangkit untuk sholat gerhana di kamar lain. Sementara aku membereskan piring makan kami, mencucinya dan menonton saat gerhana matahari total terjadi melalui televisi.

Suamiku telah selesai shalat gerhana maka akupun bangkit mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat sunah tersebut. Berniat dan melakukan shalat gerhana, bedanya hanyalah niat dan tata cara melaksanakan shalat tersebut.

Setelah bangkit dari sujud kedua dari rakaat kedua, aku pun melakukan salam, kegiatan terakhir untuk mengakhiri shalat gerhana.  Memandang ke pundak kananku dan mengucapkan salam, diikuti memandang pundak kiriku dan mengucap salam. Saat itu…

Aku sadar.

Tadinya tak ada siapapun di depanku, demi Allah! Sedetik setelah aku mengucapkan salam ke sebelah kiriku tiba-tiba saja sekumpulan orang berdiri takzim di depanku yang masih duduk tahiyat akhir.

Sepi.

Sepi.

“Kyaaa!”

Suamiku tergopoh menghampiriku, hendak bertanya kenapa aku berteriak. Sebelum sempat melakukan itu suamiku sudah terdiam bingung, tiba-tiba saja segerombolan orang tidak dikenal sudah berada di dalam rumahnya tanpa sepengetahuan yang punya rumah. Penampilan mereka semua aneh, tapi mereka tampak percaya diri. Terdapat enam orang lelaki dan empat orang perempuan. Pakaian mereka mewah dan gemerlap, tapi mereka semua berdiri dengam takzim dan penuh hormat kepadaku.

Kepadaku!

Seorang pria separuh baya membungkuk hormat kepadaku, tampaknya ia pemimpin gerombolan aneh itu.

“Maafkan kami yang telah membuat anda terkejut Lady Nadita Zairina Suchesdian-

Dan aku pun bingung, darimana mereka tahu namaku yang rumit dibagian belakang itu. Bahkan mengucapkannya dengan benar!

“Kami disini untuk menjemput anda. Mari kita pulang,”

Aku diam.

“Hah?”

Dari sekian banyak kata tanya dalam bahasa Indonesia, kenapa satu kata bodoh itu yang kuucapkan? Aku pasti nampak terlihat bodoh.

Pria tua itu mengangguk paham. Sepertinya menganggap kebingungan dan sikap bodohku ini sebagai reaksi yang wajar.

“Kami datang dari gugus galaksi Sagitarius Alpha Zero, penduduk asli planet Lette. Kami datang kesini untuk menjemput tuan putri kami.” Pria tua itu menjelaskan sambil menatapku dalam.

Aku bingung. Suamiku pun terdiam bingung.

“Nah Tuan Putri, ayo kembali ke planet kita yang sebenarnya.” Pria itu mengulurkan tangannya kepadaku.

“Eeehhh?!”

-End (mungkin?)

#malam narasi OWOP
#Challenge Gerhana IOCWP
# nama galaksi sagitarius alpha zero dan planet lette itu bohongan buatan saya aja. Jadi jangan diambil pusing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s