Annihilation Of Civilization: Chapter 01

Suasana kelas perkuliahan yang ramai dan damai. Nuansa kehidupan yang dipenuhi dengan hal-hal biasa dan membosankan, ritual kehidupan yang terjadi secara biasanya. Ramai dengan kisruh para mahasiswa yang saling menanyakan mengenai tugas yang seharusnya mereka selesaikan tadi malam.

Kehidupan normal yang berjalan dengan biasa.

Seorang pemuda berambut gelap sedang duduk bersandar dengan santai, matanya tak lepas dari layar laptop yang ada di hadapannya. Matanya mengikuti gerak video yang berjalan dengan malas. Tadinya, hingga tiba-tiba saja layar laptopnya ditutup secara mendadak.

“Hei!” seru pemuda tersebut, matanya menatap tajam kepada seseorang yang secara tidak sopan telah mengganggu aktivitasnya. Akan tetapi setelah mengetahui siapa sosok yang mengganggu tersebut, tatapan matanya berubah menjadi terkejut.

“Seenaknya saja dirimu menonton video sementara aku harus begadang menyelesaikan peta ini!” lengking seorang gadis berjilbab lebar.

Sang pemuda hanya mendesah malas sebelum akhirnya kembali menegakkan layar laptopnya. “Kan sekarang giliranmu, jadi aku bebas melakukan apapun,” ucapnya yang hanya dibalas dengan dengusan sarkasme dari sang gadis.

“Jadi? Bagaimana kabar tugas kita?” sang pemuda kembali bertanya, tetapi matanya masih menatap layar laptopnya.

“Tentu saja sudah selesai,” ujar sang gadis dengan bangga sambil melebarkan kertas yang dibawanya, menunjukkan tugas peta yang telah dibuatnya.

“Hmm, baguslah kalau begitu.” Ujar si pemuda tanpa mengalihkan pandangannya, sedikit banyak hal ini membuat sang gadis agak kesal.

“Dan tentu saja aku sudah menulis persentase pembagian tugas disini.  Aku menulis jatah 80% sementara dirimu dan Mustafa hanya 10%. Silahkan menikmati nilai kalian yang akan jelek nantinya,”

“Hei… curang sekali, tidak bisa begitu-“

“Vera!”

Perdebatan antara sang pemuda dan sang gadis terhenti. Sang gadis menoleh, mencari sumber suara yang telah memanggil namanya. Keadaan itu dimanfaatkan sang pemuda untuk merebut tugas peta yang sedang dipegang oleh sang gadis

Gadis yang dipanggil dengan nama Vera itu kembali menoleh sebelum menjauh, “Bohong kok, aku belum menulis persentase pembagian kerja kita,” ujarnya dengan wajah yang iseng sambil melangkah menjauh, menghampiri sosok yang memanggilnya.

Sang pemuda mendengus sebal sebelum akhirnya matanya jatuh ke tugas yang mereka buat. Nama sang gadis – Scheherazade Vera Giti – dan nama dirinya – Faris Jahanshah – beserta satu orang lagi tertulis pada kanan atas bagian peta. Sepertinya Vera benar-benar sedang jengkel dengan anggota kelompoknya sehingga dengan iseng gadis itu membohonginya mengenai persentase pembagian tugas. Tangan Faris bergerak dengan cepat sebelum akhirnya berhenti dan kembali menggulung peta tersebut. Matanya kembali dialihkan ke tempat lain, kali ini ke angkasa.

Cuaca minggu ini sedang tidak bersahabat, awan gelap menggantung sejak seminggu yang lalu akan tetapi tidak ada tanda-tanda akan hujan. Benar-benar cuaca yang akan membuat semua orang menjadi muram. Sang pemuda melemparkan pandangannya kearah angkasa sebelum akhirnya menghela napas, merasa bosan. Pikirannya akan melayang kosong jika tidak secara tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang,

“Jangan bengong!”

Pemuda itu hampir terjatuh dari kursinya kalau bukan tangannya yang secara refleks memegang tepi meja, menghindarinya terjatuh dari kursi. Vera sudah kembali ada di hadapannya, duduk dengan kedua tangannya menopang dagu.

“Kau membuatku kaget, Sche! Sejak kapan ada disini?”

Ya, Faris memang memanggil Vera dengan nama depannya, Scheherazade. Walaupun gadis itu sudah meminta agar Faris memanggil nama tengahnya saja – untuk menghemat napas – akan tetapi Faris mendapati nama Scheherazade adalah nama yang cantik.

“Sudah dari tadi, tapi sepertinya kamu melamun terlalu serius sehingga tidak sadar kalau aku ada disini,” jawab Scheherazade tanpa rasa bersalah, Faris hanya bisa mendesah malas.

“Jadi, bagaimana petanya?” lanjut Vera.

“Masing-masing dari kita mendapat 80% untuk persentase tugas,” ujar Faris sambil kembali menyerahkan petanya. Tangan gadis itu sudah setengah menjulur untuk menerima peta sebelum akhirnya peta itu kembali berpindah tangan.

“Jadi ini tugasnya? Lumayan juga,”

“Hei apa maksudnya? Aku mengerjakan itu sampai kurang tidur!” Vera tidak terima hasil kerjanya disepelekan.

“Hmm, aku memuji kok,” ujar seorang pemuda.

“Tapi nada bicaramu sama sekali tidak enak Musthafa,”

“Lupakan saja, mungkin untuk anak ini seharusnya aku tulis persentase kerja 0%”

“Kau pikir ini cicilan kredit bank 0%?”

“Kau yang mulai bicara sembarangan duluan,”

“Dan aku tidak bicara padamu. Aku bicara kepada Schera,”

Dan entah bagaimana perdebatan berlanjut, yang tadinya mereka bertiga berdebat satu sama lain menjadi perdebatan antara Faris dan Musthafa. Vera hanya terdiam, bingung karena entah bagaimana Faris dan Musthafa memperdebatkan hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan tugas. Sementara teman sekelas mereka tidak ada yang mau repot-repot menenangkan perdebatan mereka.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Faris Jahanshah dan Musthafa Eman selalu berdebat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele maupun hal yang besar. Padahal menurut pendapat teman-teman masa sekolah mereka dahulu, mereka berdua tidak pernah bertemu karena berasal dari sekolah bahkan daerah yang berbeda yang memungkinkan pertemuan antar mereka berdua kecil sekali. Akan tetapi entah bagaimana ceritanya, sepertinya mereka berdua sudah menunjukkan rasa benci dan persaingan antara satu sama lain sejak mereka semua memulai dunia perkuliahan. Dan jika mereka berdua sudah bertengkar, tidak ada satupun yang berani melerai mereka.

Tidak ada yang berani kecuali,

“Cukup! Kalian bertengkar di pagi hari seperti ini membuat kepalaku pusing!”

Vera memukul kepala mereka berdua dengan buku tebal yang dijamin membuat kepala pusing mendadak. Dan seketika kedua pemuda labil itu langsung berhenti berdebat.

Yah, hanya Scheherazade Vera Giti yang mampu membuat dua pemuda labil itu berhenti berdebat. Entah cara apa yang digunakan gadis itu, tapi jika kedua pemuda itu berdebat maka Vera dengan mudah mampu menyuruh mereka berhenti bertengkar dan berbalik mendelik galak kepada dua pemuda itu.

Kemampuan yang… yah, bisa dikatakan berguna, mungkin?

“Kenapa sih kalian berdua bertengkar terus? Dan selalu aku yang harus jadi penengah kalian. Bikin sebal aja,” gumam Vera tidak jelas.

“Kau membuat kepalaku sakit,” tuduh Muthafa kepada Faris.

“Jangan mengeluh padaku! Yang memukul kepala kita Schehera!” Faris berkelit.

“Tapi aku tak mungkin marah kepada Schera!”

Dan sekali lagi, buku yang lebih tebal kembali  mendarat dengan keras di kepala mereka berdua.

-000-

“Jadi bila dibandingkan antara kasus pertama dengan kasus kedua…,”

Hanya sampai situ saja Faris mampu berkonsentrasi mengikuti ocehan dosen, layaknya dongeng pengantar tidur. Faris melemparkan pandangannya ke angkasa. Pemuda itu sengaja mengambil posisi tempat duduk dekat jendela yang menghadap kearah dosen, sehingga ia tidak perlu ditegur jika ketahuan tidak focus pada pelajaran.

Keadaan di luar masih sama, awan gelap menggantung tetapi tidak juga menunjukkan bahwa hujan akan segera turun. Terkadang angin semilir memainkan anak rambutnya, menciptakan kondisi mengantuk dalam kelas yang gerah. Mata Faris sudah mulai setengah tertutup ketika tiba-tiba saja tubuhnya merasakan sesuatu.

Bukan tubuhnya, tapi ia merasakan kursinya bergetar pelan. Merasa bingung, Faris mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tetapi bukan hanya dirinya saja yang merasakan getaran itu. Semua kawan-kawannya yang terduduk di bangku mereka juga merasakan kursi mereka bergetar pelan, bahkan dosen mereka sudah berhenti mengoceh. Wajah bingung mulai menghiasi dan bisik-bisik mulai terdengar.

Tak lama kemudian suasana kembali tenang, tidak ada lagi getaran-getaran yang mereka rasakan. Merasa situasi sudah kembali tenang, sang dosen pun kembali melanjutkan celotehannya yang sempat terpotong meskipun begitu para mahasiswa masih berbisik tegang mengenai pengalaman gempa kecil tersebut.

Saat sang dosen hendak menegur mahasiswa yang masih membuat keributan, saat itulah gempa yang lebih besar mengguncang. Gempa besar itu mampu membuat kursi yang disusun bertingkat mulai berjatuhan ketingkat paling bawah dan lampu gantung kelas bergoyang keras. Merasa panik, para mahasiswa sudah berlari keluar kelas untuk mencari tempat yang lebih aman, sementara sang dosen meninggalkan kelas setelah sebelumnya memastikan tak ada satupun mahasiswa yang tertinggal di kelas.

Faris berlari keluar dari kelas, mengikuti jejak kawan sekelasnya yang terlebih dahulu telah tiba di area terbuka. Gempa besar itu masih melanda, mengakibatkan bunyi gemerisik daun yang mengerikan akibat batang pohonnya ikut bergoyang keras. Tak lama kemudian, gemerisik daun itu semakin melemah disertai gempa bumi yang juga semakin melemah hingga getarannya tidak terasa sama sekali.

Faris mengedarkan pandangannya, ternyata bukan hanya teman sekelasnya saja yang berkumpul di area terbuka itu. Beberapa anak kelas dari jurusan lain juga berhamburan ke lapangan tersebut, menghindar dari apapun yang berpotensi jatuh karena gempa. Matanya menangkap sosok Vera yang sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya memberi kabar pada keluarganya. Matanya juga menangkap sosok Musthafa yang entah mengapa sedang menatap sinis ke arahnya.

Faris mengerutkan keningnya, Musthafa berjalan menghampirinya. Pandangan sinis masih terpasang.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Musthafa sambil memegang bahu Faris. Matanya mengawasi sekeliling, seakan takut pembicaraan mereka didengar orang lain.

“Apa maksudmu dengan apa yang kulakukan?” Faris menurunkan tangan Musthafa dengan kasar dari bahunya.

“Jangan berpura-pura. Aku tahu itu perbuatanmu,” Musthafa menyelidik dengan nada yang menuduh.

“Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kau bicarakan,”

“Baiklah, mungkin kali ini memang bukan kau tapi pohonmu itu yang melakukannya,” gumam Musthafa menjauh.

Faris menatap tajam punggung Musthafa.

“Asal tahu saja, apapun yang terjadi aku pasti bisa menggagalkan rencanamu itu,” Musthafa berlalu dengan percaya diri. Faris menatap punggung Musthafa, wajahnya tidak tampak marah maupun tersinggung.

“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa Musthafa mendelik seram begitu?”

Faris menolehkan kepalanya dan mendapati Vera masih menatap Musthafa dengan bingung.

“Tak perlu dipikirkan. Dari awal kami memang tidak cocok,”

Vera hanya mengangguk. “Gempanya mungkin sudah berhenti ya? Semoga tidak ada gempa susulan,”

Faris hanya mengangkat bahu. “Akhir-akhir ini selalu seperti itu, gempa besar secara tiba-tiba. Tapi tadi kau menelepon siapa? Keluargamu?”

“Sebenarnya mereka yang meneleponku, menanyakan apakah-“

Ucapan Vera terpotong, gempa besar kembali terjadi. Mahasiswa dan dosen yang awalnya hendak beranjak dari lapangan kembali berlari menuju tanah lapang, wajah panik dan ketakutan tergambar jelas di wajah mereka.

Vera terduduk ditanah, wajahnya ketakutan dan lututnya terasa lemas. Faris berlutut di tanah, memastikan bahwa Vera berlindung dibalik tubuhnya, matanya waspada mengawasi sekeliling. Gempa yang terjadi tidak terlalu besar tetapi terjadi dalam waktu yang cukup lama, dua menit.

“Kenapa gempa lagi?”

“Ya, kenapa gempa lagi? Apa telah terjadi sesuatu?” Faris merasa tidak tenang dengan pikirannya.

Terjadinya gempa memang bukan sesuatu yang aneh, tapi jika terjadi terus menerus seperti ini, mau tidak mau Faris merasa curiga.

“Sudah tenang,” Vera bergumam. Faris masih memasang postur tubuh siaga.

“Menurutmu, apa lebih baik kita semua pulang saja?” tutur Vera penasaran. Bisa dilihat bahwa para mahasiswa dan dosen yang berkumpul juga mendiskusikan hal yang sama.

“Entahlah. Tapi kupikir tak peduli kemana kita pergi, kita akan tetap merasakan gempa mengerikan seperti ini,” jelas Faris. Wajah Vera memucat.

_000_

Malam sudah tiba, dihiasi dengan bintang tanpa rembulan. Malam itu adalah malam baru, kondisi yang sangat baik untuk bepergian tanpa merasa khawatir akan diikuti oleh seseorang. Meskipun begitu, tak perlu pergi secara sembunyi karena lokasi itu ada di dalam hutan.

Hutan yang cukup lebat sebenarnya.

Akan tetapi sosok gelap itu tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya. Ia terus melangkah hingga akhirnya tiba di tengah hutan. Meskipun dikatakan di tengah hutan, area itu cukup jarang dikelilingi oleh pepohonan, sebaliknya malah terdapat pohon raksasa menjulang tinggi sendirian di area tersebut.

Pohon itu adalah pohon raksasa. Seperti pohon cemara akan tetapi batang pohonnya sangat besar, memerlukan kurang lebih 20 orang hanya untuk memeluk batang pohon tersebut. Akarnya menghujam tanah dengan dalam, terlihat betapa besar dan raksasanya akar pohon tersebut. Puncak pohonnya tak bisa dilihat dari bawah sehingga tak terlihat puncaknya. Cabang pohonnya menaungi daerah hutan sekitarnya, bahkan gemerisik daunnya bagaikan bunyi debur ombak di samudera yang menegakkan bulu roma.

Sosok gelap itu berlutut di tengah pohon tersebut, tangannya meraba tanah bagian akar pohon raksasa tersebut di suatu titik tertentu. Tak lama kemudian tangannya menemukan apa yang dicarinya, pecahan kecil sebuah rantai perak. Sosok itu kembali berdiri dan memandang pohon tersebut.

“Hoho, sudah kuduga kau akan kesini,”

Sosok tersebut tidak bereaksi apapun, hanya terdiam seolah tidak mendengar interupsi. Yang menyapa juga tidak mengharapkan jawaban, akan tetapi ia melangkah keluar dari perlindungan bayang pepohonan. Cahaya bintang menampilkan sosok pemuda yang tegap, Musthafa Eman.

“Apakah ini boleh disimpulkan bahwa pohon inilah yang menyebabkan gempa beruntut hari ini?” Musthafa kembali bertanya.

“Aku tidak bermaksud membuat pohon ini bangkit,” gumam sosok tersebut.

“Dan kau pikir aku akan percaya pada perkataanmu?” elak Musthafa, tetapi sosok itu hanya terdiam saja. Matanya lebih memilih memandang pecahan rantai yang dipegangnya dibandingkan adu cekcok dengan Musthafa.

Sosok itu menggumamkan sesuatu yang tak mampu didengar jelas oleh Musthafa, akan tetapi pecahan rantai yang berada di genggaman orang tersebut mendadak bersinar dan melayang sebelum akhirnya melesat masuk ke dalam batang pohon. Sosok itu masih merapalkan sesuatu sehingga akhirnya rangkaian rantai raksasa muncul dari dalam tanah, melilit pohon raksasa tersebut dengan rantai raksasa. Terdengar bunyi sesuatu seperti bunyi gembok terkunci sebelum akhirnya pohon raksasa beserta rantai tersebut bersinar lemah dan menghilang. Di tempat yang tadinya terdapat pohon raksasa, sekarang telah lenyap tanpa bekas seakan dari awal memang tidak ada apapun disana.

“Kau menyegelnya?”

“Sudah kukatakan kan? Aku tidak membuat gempa tersebut,”

Untuk pertama kalinya sosok itu menoleh kearah Musthafa, tatapan matanya jengah. Disana, di kegelapan malam, berdirilah sosok Faris Jahanshah.

“Tapi juga bukan suatu kesalahan kalau pohon milikmu yang telah membuat gempa itu,”

“Itu masalah lain,” Faris membuang muka.

“Ya, teruslah bersikap sok keren seperti itu,” Musthafa berbalik melangkah meninggalkan Faris.

“Aku akan terus mengawasimu, sang Putra Dunia, Faris Jahanshah,” Musthafa terus melangkah hingga kegelapan menutupi dirinya.

Faris hanya menatap tajam arah Musthafa menghilang, sebelum akhirnya kembali menatap pohon raksasa yang tak terlihat itu dan menatap langit berbintang.

_000_

to be continued

Advertisements

3 thoughts on “Annihilation Of Civilization: Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s