Annihilation of Civilization: Prologue

“Ada yang bisa menghubungi Vera?”

“Keterlaluan sekali, bukankah kita semua harusnya berkumpul jam 5 pagi?! Dia sendiri yang menetapkan waktunya,”

“Handphone milik Vera tidak aktif. Entah kenapa,”

“Jadi bagaimana? Sudah setengah 6 pagi, lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan,”

“Apa boleh buat, acara akan tetap dijalankan meskipun dia belum datang. Pihak logistik yang memiliki motor coba jemput  di kostan. Siapa tahu anak itu ketiduran-“

KYAAAA!

Teriakan seorang wanita mengganggu suasana tenang di pagi hari. Tak lama kemudian seorang wanita berwajah pucat dengan napas tersengal berlari dengan panik sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai yang dingin.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Kena-“

Wanita itu langsung mencengkram lengan baju kawan yang menghampirinya. Matanya menyorotkan perasaan yang ngeri, bibirnya terbuka-tertutup, seakan hendak berbicara tetapi tidak mampu. Wanita itu hanya bisa menunjuk arah darimana ia datang dengan jarinya yang gemetar.

Beberapa pemuda dengan inisiatif pemberani serentak menuju arah yang ditunjuk. Kawan-kawan yang tersisa masih menemani sang gadis. Mereka hendak bertanya sebelum akhirnya mendengar kembali jeritan para pemuda yang berlari ke arah yang ditunjuk.

Merasa penasaran, mereka semua akhirnya berlari menuju sumber suara. Hendak bertanya, ada apa gerangan yang membuat mereka menjerit. Akan tetapi hal itu tidak diperlukan lagi, karena mereka telah mengetahui asal muasalnya.

Di depan pandangan mereka semua telah tersaji suatu pemandangan yang buruk.

Tidak. Mungkin ini adalah mimpi buruk.

Ya, pastilah mimpi buruk. Begitulah harap mereka.

Sesosok gadis tergantung dengan tangan yang terentang di kedua sisinya dengan rantai besi yang mengikat masing-masing kedua pergelangan tangannya. Dua tangga melingkar yang berada di sisi kiri dan kanannya menjadi latar belakang yang begitu elegan. Gelang besi yang dikenakan di kedua tangan gadis tersebut tersambung dengan rantai besi yang panjang, berakhir terikat pada masing-masing sisi pembatas dari lantai dua. Ironisnya, sang gadis hanya tergantung 30 cm dari lantai dasar.

Sang gadis mengenakan jilbab lebar berwarna putih cemerlang. Disertai blus putih dan manset berwarna senada. Rok panjang yang dikenakannya berwarna hitam, sewarna dengan kaus kaki dan sepatu yang digunakannya.

Akan tetapi, pada pakaian putih itu terdapat noda bagaikan mawar merah yang terus merekah. Semakin lama semakin melebar hingga mengalir turun, menuju roknya, kaus kaki, sepatu, hingga akhirnya menetes pada lantai yang putih.

Tak hanya itu.

Bagaikan sebuah pusat, pada lantai putih itu terukir sebuah diagram yang rumit dan tak dikenal membentuk lingkaran yang mengelilingi sosok sang gadis dengan diameter selebar 5 meter. Diagram tersebut terbentuk dengan ukiran yang rumit dan aneh dengan tinta berwarna merah.

Tunggu dulu, warna merah ukiran diagram itu senada dengan warna mawar merah yang merekah pada tubuh sang gadis.

Meskipun ditemukan dalam kondisi yang mengerikan, akan tetapi wajah sang gadis begitu tenang. Seakan sang gadis hanya jatuh dalam sebuah tidur yang damai. Semua orang yang menyaksikan hanya bisa terpaku, terlalu terkejut.

“Tapi- tapi bagaimana…?”

“Mustahil, 30 menit yang lalu kami lewat sini dan tidak ada apapun, bagaimana…?”

“Kenapa? Kenapa harus seperti ini?”

“Kenapa Vera harus mati seperti ini?”

 

~000~

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s