Akhir

Tik Tak Tik Tak

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Aku mengarahkan kepalaku searah dengan kereta yang baru saja melaju di depanku. Kereta itu berjalan cepat, anginnya masih tersisa, menerbangkan apa saja. Sampah plastik, kertas bahkan helaian rambutku. Mataku lekat memandangi kereta yang bergerak cepat itu hingga ia menghilang dari pandangan.

Ting Tong Ting Tong

Kereta dengan nomor CA205 jurusan Kota saat ini berada di stasiun Depok Baru. Para penumpang yang hendak ke arah Kota silahkan menunggu di peron dua.

Aku memandang angkasa, tidak peduli dengan pengumuman barusan. Yah, buat apa  aku mendengar pengumuman itu, toh aku tak mempunyai tujuan apapun.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Cuaca hari ini cukup cerah. Bisa kulihat langit berwarna biru cerah. Tak ada awan gelap, tapi angin kencang bertiup. Ataukah karena sekarang aku berada di stasiun kereta? Mungkin itu bukan angin melainkan laju kereta yang bergerak cepat?

Hmm… ternyata ada satu awan kelabu. Apakah itu pertanda akan hujan? Aneh, padahal cuaca begitu cerah. Ataukah awan itu hanya sekedar melintas? Aku menghela napas, apa peduliku dengan cuaca nanti. Toh aku yakin cuaca tidak berpengaruh penting untukku. Atau mungkin tidak? Mungkin air hujan akan membantu menghapus jejak yang kutinggalkan nanti?

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Ting Tong Ting Tong

Leherku pegal karena terus memandang langit. Kali ini kuarahkan pandanganku ke jalur kereta. Hmm… seperti biasa, jalur kereta pasti akan diganjal dengan batu-batu kerikil. Mereka bilang itu untuk meredam guncangan gerbong kereta. Entahlah, aku tidak mempelajari teknik kereta api, aku tidak terlalu peduli. Yang kupikirkan hanyalah jika seseorang jatuh ke jalur kereta tersebut, akankah orang tersebut terluka? Hmm… mungkin tidak? Ketinggian antara peron dan jalur kereta tidak terlalu tinggi. Luka lecet dan memar? Mungkin, tapi tidak luka parah maupun patah tulang.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling, seperti biasa semua manusia ini hanya peduli pada kegiatan mereka masing-masing. Memainkan handphone, membaca buku, berbincang dengan rekannya, atau mungkin hanya sekedar melamun? Entahlah. Banyak yang duduk menunggu kereta, tapi juga tidak sedikit berdiri menunggu. Aku memperhatikan mereka yang berdiri menunggu, lagi-lagi mereka semua berdiri terlalu dekat tepi peron tepat diatas garis kuning. Aku kembali menghela napas, apa mereka semua tidak sayang nyawa?

Lagi-lagi aku berusaha tidak peduli. Apa peduliku? Apapun situasi yang terjadi hari ini, tetap tidak akan mengubah keputusanku. Setiap kondisi dan situasinya sempurna. Ketinggian peron yang sempurna, cuaca yang mendukung, bahkan dari posisi dudukku sekarang aku bisa mengawasi dengan cermat kapan kereta akan datang maupun pergi.

Hanya satu yang kupikirkan. Akankah terasa sakit? Kuharap tidak. Semoga semua ini terjadi secara cepat tanpa menyakitkan.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

“Wah, coba lihat siapa orang menyedihkan ini?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah sumber suara. Mantan pacarku dan gadis baru yang beberapa hari ini ia gandeng.

“Nestapa sekali, gadis jelek sepertimu memang menyedihkan.” cerca mantan pacarku, sementara gadis yang dirangkul olehnya tertawa mengejek, menyetujui komentar mantan pacarku.

Ah~ kasihan sekali kau perempuan. Suatu saat nanti kaupun akan dibuang, sama seperti lelaki itu yang membuang diriku.

“Kalau kau tahu diri harusnya kau mati saja,” lelaki itu berdiri di tepi peron, tertawa terbahak masih sambil merangkul kekasih barunya.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Yah, memang itu rencanaku. Kematian memang akan menghampiriku.

Kereta akan memasuki stasiun, semua calon penumpang harap berdiri dibelakang garis kuning.

Akan tetapi, ia tidak akan menjemput diriku.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Bruuuggh

Melainkan dirimu.

Wuuusssh Jreg Jreg Wuuusssh Jreg Jreg

Priiit Priiit

Ting Tong Ting Tong

Kyaaaa!

Darah memercik ke segala arah. Kereta berhenti mendadak. Calon penumpang yang panik. Petugas yang kewalahan. Dan kekasih baru yang merana.

Hei, apakah itu cukup cepat? Apakah kau merasa sakit?

Tik Tik Tik 

Gluduk gluduk

Ah, turun hujan rupanya.


#Untuk malam narasi OWOP yang gambar kereta.

Maaf ya kalau penggambaran psikologi pikiran si aku gak ngena. Saya juga gak tahu nulis apaan ini. Ah sudahlah~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s