Kutu Buku

Seorang pria dilemparkan dengan kasar ke tanah. Ia hanya mampu tergagap, membetulkan topinya yang miring dan membiarkan hanbooknya ternoda tanah.

“Tuan, mengapa saya diseret kesini?”

Seorang petugas kepolisian kerajaan mengetukkan tongkatnya ke telapak tangannya. Seragamnya yang berwarna merah berkilau tertimpa sinar matahari.

“Apa kau mengenal pria yang kau bunuh itu?”

Lee Jeung Hong, pelajar miskin yang diseret paksa ke gedung pengadilan itu hanya tergagap.”Tuan, hamba tidak paham maksud anda.”

Tuan Chui, kepala polisi itu memberi isyarat pada bawahannya yang langsung dipahami. Petugas bawahan itu langsung menarik kain putih bernoda darah, menampilkan wajah korban.

Hong terkaget, kembali teringat bagaimana pria yang terbunuh itu mengusir dirinya dari perpustakaan kemarin.

“Banyak saksi mengatakan kalau korban sempat bertengkar denganmu. Mereka mengatakan beberapa buku menghilang dari perpustakaan setiap kau muncul disana!” Chui menuduh tanpa ampun, Hong terkejut.

“Tuan… jika yang anda maksud adalah saya dibanting keluar dari perpustakaan oleh pria itu maka memang benar. Dan saya tidak tahu mengenai buku yang menghilang.”

“Berarti kau tidak mengelak kalau kau memang bertengkar dengan pria ini?”

Hong semakin bingung, sepertinya sangat sulit meyakinkan bahwa dirinya tidak bersalah. Sarjana miskin itu memaksa otaknya berpikir keras, mengamati mayat pria itu dan tersadar sesuatu.

“Tuan lihatlah, bekas luka pria itu berupa sabetan panjang. Itu adalah bukti bahwa ia dilukai dengan pedang panjang. Sementara hamba-” Hong memperlihatkan tangannya yang kurus “-hanya ahli memegang kuas dan batu tinta.”

“Selain itu lukanya berada di daerah paru-paru. Dia meninggal setelah tersiksa begitu lama.”

Petugas Chui memandang tertarik.

“Mengapa kau tahu hal itu?”

“Hamba banyak membaca buku mengenai masalah kedokteran dan kriminal, makanya…”

“Ah ya, kaulah pasti apa yang mereka bilang Kutu Buku.” Petugas Chui merasakan dahinya pusing.

“Dan hamba yakin ini adalah perbuatan Serigala Buku.” Hong melanjutkan dengan semangat.

“Dan apakah itu?”

“Itu adalah istilah bagi mereka yang merampas buku dengan membunuh pemiliknya.”


#Malam Narasi OWOP tema Maling

#298/300 words

#Terinspirasi dari salah satu drama korea dari KBS World

Bocor… Bocor…

GUE PALING MALES NYAPU DAN NGEPEL!!!

Please jangan underestimate gue dulu sebagai istri pemalas yang rumahnya kotor gak ketulungan. Justru sebaliknya, gue adalah tipe istri yang perfect banget dan bersih seber-bersihnya, rapih serapih-rapihnya.

Tapi… gue punya kendala di rumah kontrakan gue ini.

OMG!!! RUMAH GUE BOCOR DAN BANJIRRR!!!

BOCOR!

Itu karena sambungan antara dinding dan atapnya kayaknya gak pas deh… terus gak pake aquaprof, jadilah air hujan merembes masuk, ngalir lewat dinding dan ngebanjirin dapur gue dengan indahnya!

Dan itu selalu kejadian tiap hujan! Gak peduli hujan deres atau hujan sedang pasti aja bocor dan bikin dapur gue banjir! Alhasil setiap hujan gue selalu was-was. bocornya bukan satu titik dua titik tapi sepanjang jalan kenangan atap pasti bocor!

Hayati lelah! :”

Yang kedua!

Bagian samping halaman rumah gue disemen habis sama pemilik kontrakan! Mungkin pemiliknya cuma mikirin supaya gue gak perlu susah nyabut rumput setiap saat. Tapi you know what? ternyata halaman samping gue itu posisinya lebih rendah dibanding posisi pembuangan air di depan rumah gue. Otomatis kalau hujan lebat air-air itu pada ngegenang di halam samping gue! Secara gak bisa juga masuk ketanah karena kehalang semen… dan hasilnya?!

BANJIR! DI DAPUR GUE!

20160401_125304

OMG! Itu adalah pengalaman gue yang paling-paling gak enak banget!

OK! Dan hubungan gue males nyapu ngepel apaan?

Mameeeennnn…. semua kejadian banjir dan bocor itu pasti kejadian kalau gue nyapu dan ngepel rumah! Itu selalu! Bukan kebetulan lagi!

Dan setiap kejadian banjir dan bocor ini gue pasti harus selalu ngepel rumah 3 kali! 3 kali! bayangin dah coba! 1 kali sehabis nyapu dan ngepel di pagi hari…sisa dua kali ngepel itu setelah banjir…. hayati lelah :”

20160401_125334

Untungnya Allah telah menciptakan manusia dengan kecerdasan pikiran! Dan manusia dengan akal itu menciptakan alat serokan air dan sapu nyerep air gitu…. jadiah gue gak perlu ngepel sana sini cuma buat nyerap air….

OMG! main air main air dah tuh…bedanya gue main air bocor banjir!

Dan yang bikin gue makin BT adalah….gak lama setelah hujan reda dan dapur gue udah kebanjiran…. matahari langsung terik seperti biasa bahkan pakai langit biru dan awan-awan putih meriah gitu! seakan hujan tadi itu cuma sekedar lewat aja…

dan gue cuma bisa pasang muka ‘A’

huhuhuhu….hayati sedih…. moga-moga gue bisa cepet-cepet beli rumah sendiri dah…. AMININ doongggg!!!

AMIN!

Para Artemis dan Orion Mereka

Ini adalah tantangan membuat Script Movie Blog Tour, nama saya Nadita. Untuk memahami jalan ceritanya silahkan membuka link dibawah ini

Episode 1 : Terkuncinya Para Pengunci

Episode 2 : Permainan (akan) Dimulai

Episode 3 : Detik Detik Kematian Radian


 

Cerita sebelumnya:

Dru, Ar, Jan dan Wid berpacu dengan waktu jika tidak ingin Rad mati. Dru berusaha menghubungi adiknya untuk memecahkan kode chipertext untuk menyelamatkan nyawa mereka semua.


 

INT. Ruangan Kamar Rei

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

Rei: YES! Rekor tertinggi! Yuuuuhuu! Ok, next game!

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

SFX. Bunyi game permainan mendominasi ruangan.

Dru: Dammit, Rei! Berhentilah memainkan game sialmu itu dan lihat facebookmu!

Rei tidak mendengar maupun tidak melihat Dru.

SFX. Ting. Tanda pesan masuk.

Dru: Dammit! Rei-

 

CUT BACK TO

INT. Ruang gelap penuh tabung

Dru terbangun dengan kaget. Tubuhnya tersengat listrik bertegangan tinggi. Dru berteriak kesakitan

Al: Sudah terbangun dari tidur cantikmu itu? (menyeringai)

Dru: Bangsat kau Al! Kenapa kau bangunkan aku? (terengah kesakitan)

Al: Karena kau sudah tidur lebih dari delapan jam, sayang.

Wid: Bangsat kau Al! Maksudmu kami juga tidak boleh tidur? Apa pedulimu kalau kami tidur lebih dari delapan jam dalam tabung sialan ini? Kau mengharapkan kami melakukan apa? (memukul tabung)

Al: Ck ck ck sayangku~ aku perhatikan bahasa kalian semakin kasar. Tolong gunakan bahasa yang baik~

Wid: Persetan dengan bahasa! Keluarkan kami sekarang!

Al: (tertawa sinis) Tentu aku akan mengeluarkanmu sayang~ segera setelah adik dan anak kalian memecahkan sandi itu (berjalan keluar ruangan)

Al: Dan kuingatkan pada kalian, kalian hanya bisa tidur selama delapan jam dalam satu hari. Lebih dari itu… (nada menggantung lalu tertawa sambil keluar ruangan).

Dru, Ar, Jan dan Wid saling berpandangan dari dalam tabung.

Dru: Berapa lama aku tertidur?

Ar: Kau bertanya pada kami? (nada sinis)

Wid: Lupakan itu. Bagaimana? Kau berhasil menghubungi adikmu?

Dru: Anak payah itu sama sekali tidak menanggapi pesan yang kutinggalkan!

Wid: Apa maksudmu?

Dru: (menghela napas) Aku gagal.

 

INT. Ruangan Kamar Rei

Rei: (meregangkan tubuh) Ya ampuun~ capek banget. Kurasa besok saja-(ucapan terpotong)

OS. Suara gedoran pintu keras

Rei keluar dari kamarnya, membuka pintu untuk tamu.

Tamu 1: Anda yang bernama Rei?

Rei: (mengernyit) Bisa dibantu?

Tamu 2: Apakah anda yang bernama Rei? Adik dari Nona Drupadi?

Rei: (bersender ke pintu sambil menyilangkan dada) Kalau dia masih menganggapku adik masih bisa dibilang begitu.

Tamu 1 dan Tamu 2 berpandangan sesaat.

Tamu 1: Kami perlu membawa anda ke tempat yang aman.

Rei: (memutar mata) kali ini apalagi yang sudah dilakukan oleh kakakku yang pintar itu?

Tamu 2: Nona Drupadi menghilang sejak satu bulan yang lalu dan kami tidak bisa menghubunginya. Anda adalah salah satu orang yang bisa menolong Nona Drupadi.

Rei: (tertawa keras) Kakakku yang hebat itu memangnya terlibat masalah apa? Terlalu sulit hingga akhirnya dia memohon bantuan dariku?

Tamu 1: Jika anda tidak ikut kami dengan sukarela- (ucapan terpotong).

Rei: Maaf ya, apapun urusan kakakku yang hebat itu aku tidak mau turut campur.

Tamu 1 dan Tamu2 berpandangan sesaat. Membekap Rei, menyeretnya ke dalam mobil berwarna gelap.

 

INT. Ruang bercahaya sedang dengan meja panjang dikelilingi banyak kursi. Di depannya terdapat layar monitor raksasa

Beberapa petugas dengan baju preman membawa tiga orang dengan kain hitam menutupi kepala memasuki ruangan. Mendudukan tiga orang ke kursi, melepas kain kepala.

Cynthia (Cyn): (terbatuk, menatap sekeliling ruangan dengan liar, wajah ketakutan)

Joe: Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan kami!

Rei: (duduk bersender di kursi, tangannya terlipat di dada, menatap sekeliling ruangan dengan tenang.

Wijaya (Wij): Diam! Kami membawa kalian kesini karena kami tak punya pilihan lain!

Rei: (mendengus, memutar mata bosan)

Cyn: (terisak)

Joe: Apa yang kalian inginkan?

Wij: (menekan tombol remote)

Monitor Raksasa menampilkan sebuah video. Pria setelan putih dan topeng tampil di video.

Pria Bertopeng: Selamat malam para Pengunci. Hmm, haruskah kusapa kalian dengan sebutan Hera, Ratu para Dewa Olympeus yang sangat angkuh? Dan aku yakin, kalian pasti akan mengumpulkan mereka semua yang mendapatkan kode untuk membebaskan teman kalian. Hmm, ini memalukan tapi aku tak tahu nama mereka semua, mungkin aku akan menyapa kalian dengan nama Artemis.

SFX. Gebrakan meja 

Joe: (berdiri dari kursi) Apa-apaan ini?

Wij: Diam dan tonton saja!

Joe: (duduk, wajah merengut)

Pria Topeng: Aku yakin kalian para Artemis dibawa ke suatu tempat secara paksa tanpa dijelaskan apapun (tertawa sinis). Perkenankan aku menjelaskannya pada kalian. Saya adalah salah seorang dari pihak Penggagas, sementara kalian para Artemis berada di area milik Sang Pengunci.

Joe, Rei dan Cyn saling memandang bingung.

Pria Topeng: Biar aku jelaskan kepada kalian para Artemis, bahwa kami telah menyekap para Kakak dan Orang tua kalian di tempat kami (video menampilkan Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad dalam tabung tanpa suara).

Rei: (mengernyit)

Joe: (mulutnya menganga)

Cyn: (memekik)

Pria Topeng: (mengangguk) Mungkin kalian penasaran, mengapa famili kalian yang notabene orang biasa harus dikunci seperti ini. Sayangnya, mereka semua bukanlah orang biasa, Artemisku tersayang.

Joe: A-( terpotong, menoleh ke Wij)

Wij: (menatap tajam video)

Pria Topeng: Begini sayangku, mereka (menunjuk Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad) adalah apa yang disebut Pengunci. Mereka adalah agen rahasia dunia yang dilatih dan ditugaskan untuk menyembunyikan kebenaran sejarah dunia yang tidak menguntungkan pihak pemerintah.

Rei, Joe, Cyn terpaku menatap video.

Pria Topeng: (mengangguk puas) Mengejutkan bukan? Masalahnya adalah, para pengunci ini sangat bodoh. Mereka bersedia menyembunyikan kebenaran sejarah daripada membukanya dan menyebarkannya pada dunia. Bayangkan jika kebenaran itu terungkap, dunia mungkin akan menjadi lebih baik. Akan ada kekacauan, tetapi pihak-pihak tertentu akan mengalami kejayaan, sebut saja negara tertentu atau mungkin… agama tertentu? (senyum licik)

Pria Topeng: Sayangnya, orang-orang ini (melihat Ar, Dru, Wid, Jan dan Rad) berusaha menghalangiku. Apa boleh buat, terpaksa aku menangkap mereka semua. Tapi… aku berpikir, jika kalian para Artemis ingin menolong mereka semua, aku sudah menyediakan petunjuk keberadaan mereka.

Pria Topeng menghilang dari video. Deretan huruf tampil.

XINF QZCO RUEZ

Joe, Rei, Cyn mengamati deretan huruf itu dengan serius.

Pria Topeng kembali muncul dalam Video.

Pria Topeng: Itulah Artemisku. Jika kalian berhasil memecahkan kode itu, maka kalian akan menemukan petunjuk keberadaan mereka semua, Para Orion (nada sinis). Aku akan memberi kalian waktu sepuluh jam dimulai dari jam 10 malam.

Joe, Rei, Cyn melihat arloji mereka.

Pria Topeng: Hanya sepuluh jam sayangku, tidak lebih. Aku punya 17 orang Pengunci disini dan akan membunuh mereka satu persatu setiap 10 menit keterlambatan kalian.

Wij: Keparat!

Pria Topeng: Satu nasihat terakhir untuk kalian semua para Artemis. Jika kalian kesulitan untuk menemukan para Orion kalian, tataplah langit, semoga itu akan membantu (tawa keji, video mati).

Joe, Rei, Cyn saling pandang dan melihat Wij.

Wij: Apa yang kalian lihat? Segera tolong mereka semua! Pecahkan kode itu!

Rei: Aku menolak menolong Drupadi!

Joe dan Cyn memandang Rei.

Wij: Apa katamu? Kau tidak lihat video tadi? Dia akan membunuh semua orang, kakakmu mungkin juga akan dibunuh!

Rei: Kalian menculik, menyekap lalu memaksaku untuk memecahkan kode ini. Apa kalian gila? Apa yang terjadi pada Drupadi itu adalah resikonya sendiri. Kalau dia memang harus mati biarkan saja!

Wij: (mencengkram kerah Rei) Bangsat! Kau tak tahu apa yang kau katakan!

Rei: Aku tahu! Drupadi begitu, Drupadi begini! Merasa sombong karena dia sangat berbakat dan terus-terusan merendahkanku. Tidak salah kalau kukatakan kali ini dia mendapat karmanya!

SFX. Suara tonjokan keras.

Wij: Bedebah!

Rei (darah mengalir dari sudut bibir, terkekeh) Kenapa kau semarah ini? Kau jatuh cinta pada Drupadi?

Wij: (menoleh pada Joe dan Cyn) Kalian berdua! Katakan sesuatu pada bedebah ini! Apa kalian tidak mau menyelamatkan ayah kalian?

Joe: (melipat tangan di dada) Kenapa harus? Ayahku yang memutuskan untuk bekerja seperti ini kan? Inilah resikonya.

Cyn: (diam, wajahnya tidak nyaman) Aku bahkan sudah lupa seperti apa wajah ayahku.

Wij: Kalian, astaga ada apa dengan anak-anak ini?

Joe: (mendekati Rei, mengulurkan tangan) Kami memang bilang tidak mau menyelamatkan mereka, tapi kami tidak bilang kalau kami tidak akan memecahkan kode itu kan?

Wij: (wajah kaget)

Rei: (menyeka darah) Kami akan memecahkan kode itu, sisanya pekerjaan kalian. Deal?

Joe: (membenarkan letak kacamatanya)

Wij: Kalau begitu tunggu apa lagi? Pecahkan kodenya! Sebentar, akan kuputar ulang-(terpotong)

Cyn: (mengeja) XINF QZCO RUEZ

Joe, Rei, Wij memandang Cyn heran.

Cyn: Itu kodenya. XINF QZCO RUEZ.

Wij: Bagaimana?

Cyn: Aku memiliki ingatan fotografis. Apapun yang kulihat dan kudengar walau hanya selintas pasti akan terus terekam dalam memoriku.

Joe, Rei, Wij tersenyum puas.

Wij: (gumam) Mungkin mereka bisa diharapkan.

Rei: Ayo kita pecahkan kode itu!

Joe dan Cyn tersenyum dan mengangguk setuju.

 

to be continued…


 

Cerita selanjutnya akan dibawakan oleh Nana