Boleh, kan?

“MONSTER!”

Aku menatapnya dengan galak. Pria itu lari kencang sesaat setelah melihatku. Tanpa mengeluarkan usaha yang berat aku menjulurkan leherku, dan hap, pria itu sudah masuk kedalam mulutku.

Lumayan, daging pria ini lumayan enak juga.

Dan aku tersentak, harusnya aku tidak melakukan ini!

Aku merasakan daging liat dalam mulutku itu. Perasaan bersalah dan menyesal menyergapiku. Bukan tujuanku untuk memakan pria ini, walaupun hal ini lebih ke arah tidak sengaja dan aku memakan manusia ini karena faktor refleks tubuhku.

Ya sudahlah. Aku menggelengkan kepalaku. Fokus! Fokus!

Aku menatap ke aliran sungai yang mengalir dibawahku, memantulkan sosokku yang sebenarnya. Seekor monster sungai raksasa yang hidup dalam sungai yang dalam jauh di dasar jurang. Apalagi yang mampu kugunakan selain kata ‘mengerikan’? Bahkan akupun enggan melihat bayanganku sendiri.

Bola mata berjumlah sepuluh, tubuh bagaikan ular menjijikkan dan taring berbisa tajam yang mengerikan. Ah sudahlah, terlalu banyak hal yang mengerikan dari diriku. Bahkan akupun membenci diriku sendiri.

Matahari mulai naik sepenggalah, aku mulai mencari. Walau aku benci mengakuinya, tapi jumlah mataku yang banyak ini lumayan membantu juga untuk mencari hal yang kubutuhkan.

Aku menemukan rerimbunan bunga berwarna putih di tepi sungai tempat aku tinggal. Kurendahkan leherku, menatap bunga kecil itu. Aku tidak bisa menggambarkannya tetapi bunga itu memiliki penampilan yang sangat berbeda denganku. Bukan hal yang mengerikan, lebih tepatnya rasanya hatiku merasa senang melihatnya, mungkin ini cocok.

Aku mendekatkan leherku kearah bunga itu, membuka mulutku dan menariknya darimana bunga itu berasal. Leherku kembali kutegakkan di jalan diatas jurang, memeriksa setiap detil jalan setapak tersebut. Ada satu area kecil yang ditutupi bayangan, tidak terlalu gelap tetapi cukup terlindungi dari sengat matahari. Kuletakkan bunga-bunga dalam mulutku itu, meletakkannya secara acak.

Bunga-bunga itu berantakan sekali, tapi aku tak punya anggota tubuh yang mampu menolongku untuk merapikan susunan bunga itu. Dengan putus asa aku mencoba meniup tangkai bunga tersebut dan aku semakin frustasi karenanya. Susunan bunga itu tidak bertambah rapi sedikitpun, tetapi semakin berantakan.

Saat aku masih merasa frustasi, selintas suara terdengar oleh telinga tajamku. Dari suara nyanyian dan suara langkah itu, sepertinya “dia” akan datang.

Arrgghhh! Tak ada waktu untuk memperbaiki bunga itu!

Aku merundukkan leherku, kembali beresembunyi di dasar sungai. Meski tubuhku tersembunyi sempurna dapat kudengar suara langkah itu semakin mendekat dan pada suatu saat terhenti. Apakah gadis itu sudah menemukan bunga yang kuletakkan?

Suara langkah itu kembali terdengar, diiringi nyanyian yang terdengar lebih riang. Bolehkah kuanggap kalau ia menerima bunga-bunga itu?

Suara langkah itu makin terdengar sayup, dan nyanyian itu sudah tak terdengar lagi. Perlahan aku membangkitkan tubuhku, menjulurkan leherku, mataku meneliti setiap daerah itu, memastikan tak ada siapapun.

Tak ada manusia maupun hewan apapun. Aku menjulurkan leherku dan menatap tempat dimana aku meninggalkan bunga itu. Mereka sudah tidak ada. Aku tersenyum lega. Akan tetapi ada sesuatu disana. Aku menjulurkan leherku dan mengendusnya, baunya sedap. Sepertinya itu adalah daging ayam, tetapi daging ayam itu diikat dengan sehelai pita cantik berwarna merah beserta sekuntum bunga yang tadi kupetik untuknya. Apakah daging itu untukku?

Dengan ragu aku menatap daging ayam tersebut, akhirnya kuputuskan untuk memakannya. Rasanya sedap. Aku tidak tahu apakah sedap karena itu adalah daging ayam? Ataukah karena hadiah itu berasal darinya?

Sebenarnya ini tidak benar, tapi gadis itu tidak tahu mengenaiku. Karena itu, aku bolehkan untuk terus memberikan bunga baginya?

Asalkan aku tidak menunjukkan sosokku yang mengerikan ini, mungkin tidak apa-apa.

###

“Nona! Kau mau kemana?”

Seorang gadis mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap  menoleh, memandang seorang petani tua yang menegurnya.

“Aku hendak menemui nenekku.”

“Kau menuju arah yang salah.” Teriak pria itu, tangannya menunjuk papan arah jalan bertuliskan ‘Arah Yang Salah’.

“Ambillah arah yang benar!” Petani tua itu berjalan meninggalkan sang gadis, menunjuk arah jalan yang berlawanan yang akan diambil sang gadis.

Gadis itu menatap petani itu dalam diam, memastikan tak ada siapapun disana. Kakinya berlari tergesa memasuki hutan, menuju arah yang salah.

“Kalau tidak lewat jalan ini, aku tidak akan bertemu dengannya.” Seulas senyum terpasang di bibir sang gadis.


#Malam Narasi OWOP

Advertisements

Dia Adalah

Dia sebenarnya gadis yang cantik, seharusnya. Jika harus menggambarkannya dengan kata-kata, ia adalah gadis yang cantik, aneh dan misterius. Bukan kombinasi kata-kata yang serasi, aku tahu, tapi itulah yang paling sopan yang bisa kulakukan.

Dengan kata lain, gadis itu gila.

Kedua orangtuaku baru saja meninggal dunia, meninggalkanku yang hanya seorang anak tunggal beserta warisan miliyaran rupiah. Otomatis semua perhatian jatuh sepenuhnya kepadaku, keluarga terdekat yang walaupun sama kayanya tetapi hanyalah kumpulan penjilat, yang mengaku teman karena silau harta, maupun pejabat pemerintah yang mengharapkan uang pelicin.

Aku tidak membenci semua perhatian itu, malahan aku sangat menikmatinya. Aku juga tidak bersedih. Untuk apa? Sejak awal mereka yang kusebut sebagai ORANG TUA tidak pernah menjalankan kewajiban mereka sebagaimana orangtua. Jadi mereka tidak perlu protes kan kalau aku tidak melaksanakan kewajibanku sebagai seorang anak?

Setelah membereskan urusan warisan yang membuatku menjadi pemuda milyarder, menghamburkannya bersama mereka yang mengaku teman dan menutup mulut beberapa pejabat, aku mendatangi pemakaman mewah kedua orangtuaku-yang tentu saja aku lakukan hanya sekedar publisitas media. Seorang gadis berdiri di depan nisan makam kedua orangtuaku. Jilbabnya tertiup angin perlahan sementara matanya lekat memandangi tulisan di batu nisan.

“Siapa kau?”

Gadis itu tidak bergeming mendengar seruanku, mungkin tak terdengar karena gemerisik pepohon berbunyi keras.

“Siapa kau?” seruku lagi sambil memegang pundaknya. Perlahan kepalanya menoleh dan kedua matanya menatapku dengan datar. Sesaat aku merasa bulu kudukku merinding tetapi cepat kutepis perasaan itu.

“Siapa kau?!” Aku mulai membentak. Gadis itu menatapku sesaat.

“Hanya kebetulan lewat.” Gadis itu menjawab dengan nada yang dingin.

“Kau mengenal mereka?” daguku mengisyaratkan ke arah nisan. Mata gadis itu kembali melirik.

“Hanya yang laki-laki, tapi tidak yang perempuan.”

Aku mengerutkan alisku. Well, walaupun aku selalu bersikap kurang ajar kepada orang tuaku, tapi ternyata gadis ini lebih kurang ajar lagi.

“Hee, apa kau simpanan lain dari ayahku? Mau minta uang?”

Gadis itu hanya mendengus, menatapku dengan pandangan menghina.

“Kau mau uang? Memangnya ayahku berhutang berapa kepadamu?”

Gadis itu tidak menjawab, menatapku sekali lagi lalu berbalik pergi. Aku menatap gadis itu dengan heran. Gadis yang aneh.

###

Pertemuanku kedua kalinya dengan gadis itu masih di depan makam kedua orangtuaku. Ia kembali menatap lekat batu nisan tersebut. Heran, padahal tidak ada yang istimewa dari nisan tersebut tapi ia tetap berdiri disana bagai patung.

Aku meletakkan karangan bunga mahal di depan makam mereka, hendak diam sebentar dan hendak pergi lagi. Gadis itu tetap disana, tidak menghiraukan keberadaanku. Aku sudah akan pergi dari tempat itu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali. Aku berdiri di samping gadis itu, ia mengisyaratkan mengetahui keberadaanku tapi tidak mengatakan apapun.

“Siapa kau? Kenapa kau terus berada di makam ini?”

Gadis itu hanya menghela napas.

“Siapa namamu? Kenapa kau ada disini?”

Untuk pertama kalinya pada hari itu, gadis itu menatapku. Matanya yang berwarna hitam pekat memandangku dengan dingin.

“Sophia. Alasan pribadi.”

Aku mengerutkan keningku, mencerna perkataan gadis itu. Astaga, gadis ini sebenarnya malas ngomong atau irit kata sih?

“Sebulan yang lalu kau juga ada disini,” gumamku pelan. Sophia mengangguk.

“Kenapa?”

Lagi-lagi terdengar helaan napas. Sophia merasa jengkel, “Urusan pribadi,” gumamnya.

Aku terdiam. Setelah diam beberapa lama aku memutuskan pergi dari sana.

“Menurutmu…”

Aku menoleh balik, melihat Sophia telah berjongkok, pandangan mata gadis itu setinggi nisan.

“Menurutmu apakah mereka merasa senang akhirnya dihukum berat dan pedih di dunia sana?”

Gadis ini bicara apa sih?

“Kau mabuk ya? Apa sih-“

“Menurutmu, kalau kau mati suatu saat nanti. Tidakkah kau juga akan dihukum berat?”

Gadis itu bangkit dan melangkah pergi tetapi aku keburu menangkap pergelangan tangannya.

“Apa maksudmu?” tuntutku. Sophia menatapku seakan aku ini orang bodoh.

“Kau tahu kan? Kehidupan akhirat. Tidakkah menurutmu orangtuamu dihukum secara berat di dunia itu?”

“Kau gila!”

Sophia mengangkat bahu, “Mungkin.” jawabnya untuk mempertegas pernyataanku. Ia melangkahkan kaki dari area pemakaman tersebut akan tetapi aku lebih cepat. Kembali aku menarik pergelangan tangannya. Pasti terasa sakit sekali karena Sophia langsung menjerit kesakitan.

“Katakan! Siapa kau sebenarnya!”

Sophia hanya menatapku datar.

“Dengar-“

“Pasti enak menjadi anak tunggal, diwariskan miliyaran harta. Ataukah justru sebuah kutukan? Memiliki orang tua yang tidak pernah memberimu kasih sayang?”

Aku berusaha mencerna kata-kata gadis itu benakku lebih penasaran mengenai identitas gadis bernama Sophia ini.

“Apakah kau merasa senang saat mereka berdua pergi untuk selamanya? Karena aku tak pernah melihat rasa sedih di matamu.”

Sesaat aku bagai ditonjok dengan keras mendengar kata-kata gadis itu.

“Maksudmu kau merasa bersedih untuk mereka berdua? Bersedih layaknya anak yang berbakti?” Aku tersenyum meremehkan.

Anehnya, gadis itu justru tersenyum, “Tidak, aku justru merasa senang. Terutama-” Sophia menunjuk kearah nisan bertuliskan nama ayahku, “-ketika laki-laki itu mati.”

“Aku paham. Pastilah kau salah satu dari wanita simpanan ayahku yang terkutuk itu kan? Pastilah ayahku mencampakkanmu setelahnya.” Aku melepaskan cengkeramanku dari pergelangan tangannya dan memandang hina pada jilbab yang membalut erat kepalanya.

PLAKKK

Rasa panas menyebar di pipiku. Kutatap Sophia yang baru saja menamparku, akan tetapi tak ada emosi apapun di wajah itu.

“Rupanya kaupun sama rendahnya dengan ayahmu.”

Lidahku terasa kelu.

Sophia melangkah menjauhiku, ia berhenti sesaat.

“Untunglah hukum agama menyatakan bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun. Kakak.”

Aku tersirap dan menolehkan kepalaku mencari sosok Sophia. Tapi gadis itu telah menghilang dengan cepat.

###

Pertemuan ketiga kami kembali terjadi di pemakaman itu, meskipun telah lewat empat bulan sejak pertemuan terakhir kami.

Sophia kembali memasang wajah datar saat menatapku, sedatar saat ia menatap batu nisan itu.

“Apa maksudmu, kau adik perempuanku?” Aku bertanya dengan cukup hati-hati. Sophia juga sepertinya sudah menduga bahwa pertanyaan ini akan terlontar saat kami kembali bertemu.

“Mungkin.”

Aku mengerutkan kening, merasa bingung tetapi tak punya keberanian untuk bertanya.

Sophia menghela napas.

“Kau sendiri yang mengatakannya kan? Ayahmu memiliki banyak wanita simpanan.”

Sampai disini aku bahkan tak berani bernapas.

“Ibuku adalah salah satu wanita simpanan ayahmu. Membuat ibuku hamil dan akhirnya melahirkanku.”

“Lalu apa kau-“

“Simpan saja hartamu. Aku tidak tertarik pada uangmu.”

Hening kembali tercipta. Sophia kembali memandang langit berawan mendung. Sepertinya sore ini akan hujan.

“Saat umurku lima tahun sepertinya terjadi perselisihan antara ibuku dan ayahmu. Mereka bertengkar dan ayahmu…”

Sophia menggantungkan ceritanya tapi tidak pernah meneruskannya. “Ibuku mati setelah pertengkaran itu dan aku diasuh oleh panti asuhan.”

Aku tidak berani bersuara. Aku tahu ayahku itu memang bejat, tapi aku tak menyangka ternyata ayahku itu telah sebegitu “tenggelam”.

“Dan kau datang kesini?”

“Awalnya untuk memastikan, apakah ia benar-benar telah meninggal? Dan aku akan berdiri di depan makamnya, mencemoohnya, menertawakan keadaannya yang mungkin dihukum secara kasar dan pedih di dunia sana.”

Aku kembali terpaku. Memandang nisan itu dan mencerminkannya dalam hidupku.

“Menurutmu apakah dia dihukum berat didunia sana?”

Aku mengangguk pelan. “Ya, pastilah ia dihukum berat di dunia sana. Pasti.”

Sophia berjongkok dan tertawa pelan. “Syukurlah.”

Suasana kembali hening. Aroma hujan mulai tercium.

Sophia mengulurkan tangannya, menyapu nisan yang bertuliskan nama ayahku.

“Bagaimanapun juga ia adalah ayahku.”

Aku melirik Sophia yang telah menutup matanya, berdoa. Air mata mengalir pelan dari pipinya. Aku berpura-pura tidak menyadarinya.

###

Dia sebenarnya gadis yang cantik, seharusnya. Jika harus menggambarkannya dengan kata-kata, ia adalah gadis yang cantik, aneh dan misterius. Bukan kombinasi kata-kata yang serasi, aku tahu, tapi itulah yang paling sopan yang bisa kulakukan.

Dengan kata lain, gadis itu gila.

Dan gadis gila itu adalah adik perempuanku.


#Malam Narasi OWOP

Sejarah Sabun

“Kebersihan adalah Sebagian dari Iman”

Sebagai muslim tentu kita tidak asing lagi dengan pepatah tersebut. Kebersihan memang bukanlah hal yang aneh bagi umat Islam. Rasulullah bahkan mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga kebersihan diri. Bahkan sebelum melaksanakan Sholat, kita dituntut untuk bersih dari hadas kecil dan besar.

Bicara tentang kebersihan badan, biasanya sih identik dengan mandi dan mandi tidak akan lengkap tanpa sabun dan sikat gigi. Mau sabun apapun juga boleh, sabun mandi batangan maupun cair, asalkan bukan sabun colek aja 😛

Dalam ilmu Kimia, Sabun itu mengandung garam atau asam lemak yang biasanya digunakan untuk mandi, mencuci dan bersih-bersih.Sabun itu bersifat basa yang enggak terlalu kuat sehingga enggak berbahaya walaupun kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Nah, disini saya gak bakal cerita panjang lebar mengenai formula si Sabun. Itu urusan anak Kimia sementara saya anak jurusan Meteorologi, jadi gak bakalan nyambung. Tapi ayo coba kita lihat sejarah Sabun ini.

Pada awal mulanya orang-orang masa pra-sejarah menjaga kebersihan badan mereka hanya dengan menggunakan air. Walaupun mereka enggak mandi cebar-cebur kayak kita di zaman sekarang, seenggaknya mereka tahu gimana caranya memanfaatkan air untuk membasuh lumpur di bagian badan mereka.

Pada sekitar tahun 2800 sebelum Masehi, bangsa Babylonia menggunakan campuran lemak dan abu untuk dipakai bersama-sama kalau mereka mandi. Tapi karena konsep sabun belum ditemukan di masa ini, dan mungkin jug pencampurannya tidak sesuai untuk mandi, alhasil campuran ini digunakan sebagai ramuan untuk membuat gaya rambut.

Orang Mesir Kuno juga menciptakan campuran minyak hewani atau nabati yang dicampur dengan garam dan digunakan untuk mandi. Pada zaman itu campuran ini berguna untuk membuat badan mereka bersih dan sebagai ramuan untuk menyembuhkan penyakit kulit. Mereka juga mampu menciptakan gel rambut yang pada masa itu dibuat dari campuran minyak dan abu.

Di Yunani Kuno, usaha kebersihan mereka lain lagi. Mereka menggunakan balok lilin, pasir, batu apung dan abu. Mereka juga menggunakan minyak untuk membersihkan tubuh mereka. Sementara orang Romawi Kuno menggunakan Hujan dan Air Sungai beserta lemak dan abu untuk bersih-bersih. Saat peradaban mereka semakin maju, mereka menemukan fasilitas pemandian beserta saluran air untuk menjaga kebersihan.

Beda daerah beda juga cara mereka menjaga kebersihan tubuh. Akan tetapi untuk daerah Eropa pada umumnya, justru lain lagi. Kalau kalian senang nonton film zaman kerajaan eropa abad pertengahan, dimana mereka masih tinggal di kastil batu, kita bisa lihat bukan hanya keluarga kerajaannya saja yang pakaiannya terlihat kumal dan kotor. Bahkan rakyat biasa dan warga miskin lebih kotor dan dekil. Hal ini dikarenakan justru orang Eropa tidak mengenal budaya mandi, apalagi menjaga kebersihan badan. Bukan hanya sistem kebersihan tubuh, mereka bahkan tidak mengenal sistem kebersihan lingkungan maupun sanitasi. Alhasil daratan Eopa diserang Wabah Maut Hitam atau “Black Death”. Salah satu penyebabnya adalah masalah kebersihan dan infeksi virus.

Kalau dimasa abad 13 Eropa mengalami wabah yang disebabkan masalah kebersihan, pada abad ke-12 umat Islam telah mencatat secara rinci proses pembuatan sabun yang dibuat dengan berbagai macam campuran bahan serta alkali, diambil dari kata Al-Qaly yang berarti abu. Pada abad ke-13 bahkan umat Islam telah menciptakan Pabrik Pembuatan Sabun yang terpusat di daerah Nablus, Fes, Damascus dan Aleppo.

Pada zaman dulu, sabun terbuat dari minyak, seperti minyak tumbuhan, minyak zaitun maupun minyak aroma, dan semua itu dibuat oleh para ilmuwan muslim yang hidup di zaman kekhalifahan. Ilmuwan muslim yang paling terkenal karena menciptakan formula sabun ialah Ar-Razi, seorang ahli kimia terkenal dari Persia. Pada masa itu, sabun yang digunakan oleh umat Muslim sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Bahkan bentuknya sudah berupa batangan maupun cairan karena pada masa itu telah ditemukan sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut.

Pada masa itu sabun sudah dijual bebas dan dijual seharga tiga dirham. Bahkan resep pembuatan sabun juga dicatat secara rinci oleh seorang dokter terkemuka dari Andalusia (Spanyol) Abu Al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcassis (936-1013 M). Dokter sekaligus Ahli kecantikan ini mencatatkan resep pembuatan sabun secara terperinci dalam kitabnya yang berjudul Al-Tasreef.

 

Resep pembuatan sabun yang lengkap juga tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 masehi. Manuskrip itu mencatat secara jelas dan detail cara pembuatan sabun. Sejarah pembuatan sabun di dunia Islam dicatat secara baik oleh Raja Al- Muzaffar Yusuf ibn `Umar ibn `Ali ibn Rasul. Dia adalah seorang Raja Yaman yang berasal dari Dinasti Bani Rasul yang kedua. Raja Al-Muzaffar merupakan seorang penguasa yang senang mempelajari karya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran, farmakologi, pertanian, dan tekonologi.

Raja Al-Muzaffar juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa kekuasaannya di abad ke-13 M, ia mendukung dan melindungi para ilmuwan dan seniman untuk berkreasi dan berinovasi. Dalam risalahnya, sang raja mengisahkan bahwa Suriah sangat dikenal sebagai penghasil sabun keras yang biasa digunakan untuk keperluan toilet.

N Elisseeff dalam artikelnya berjudul, Qasr al-Hayr al-Sharqi, yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam volume IV menyatakan, para arkeolog menemukan bukti pembuatan sabun dari abad ke-8 M. Saat itu, kekhalifahan  Islam sedang menjadi salah satu penguasa dunia.

Geografer Muslim kelahiran Yerusalem, Al-Maqdisi, dalam risalahnya berjudul, Ahsan al-Taqasim fi ma`rifat al-aqalim, juga telah mengungkapkan kemajuan industri sabun di dunia Islam. Menurut Al-Maqdisi, pada abad ke-10, Kota Nablus (Palestina) sangat termasyhur sebagai sentra industri sabun. Sabun buatan Nablus telah diekspor ke berbagai kota Islam.

Menurut Al-Maqdisi, sabun juga telah dibuat di kota-kota lain di kawasan Mediterania, termasuk di Spanyol Islam. Andalusia dikenal sebagai penghasil sabun berbahan minyak zaitun. M Shatzmiller dalam tulisannya bertajuk, al-Muwahhidun, yang tertulis dalam Ensiklopedia Islam terbitan Brill Leiden, juga mengungkapkan betapa pesatnya industri sabun berkembang di dunia Islam. Pada 1200 M, di Kota Fez (Maroko) terdapat 27 pabrik sabun. Pada abad ke-13, sabun batangan buatan kota-kota Islam di kawasan Mediterania telah diekspor ke Eropa. Pengiriman sabun dari dunia Islam ke Eropa melewati Alps ke Eropa utara lewat Italia.

Sejak saat itulah sabun mulai menyebar ke seluruh Eropa. Pada awalnya pembuatan sabun merupakan hal yang sangat dirahasiakan pada abad ke-17, hal ini berkaitan dengan rahasia dagang. Bahkan Inggris memonopoli pembuatan sabun hingga pada abad ke-19 sabun memiliki pajak yang tinggi dan menjadi barang mewah di berbagai negara Eropa. Ketika pajak sabun dihapuskan maka sabun mulai diproduksi secara besar-besaran sehingga rakyat biasapun dengan mudah memperoleh sabun dan meningkatkan standar kebersihan masyarakat.


Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Soap

https://id.wikipedia.org/wiki/Sabun

http://www.republika.co.id/berita/shortlink/38238

 

Summer Sky

Gadis itu memang selalu seperti itu. Saat ia memandangmu, bola matanya memandang jauh, seakan ia melihat menembus dirimu. Ia akan memandang seakan menelanjangimu, detil dan terperinci. Dan setelahnya ia akan memberikan reaksi yang berbeda, menghela napas lega atau mendesahkan napas dan memandangimu dengan tatapan sedih.

Untuk hal ini aku tidak bisa menebaknya, karena gadis itu bereaksi tanpa memliki pola tertentu.

Hari ini gadis itu menunggu di pantai. Menunggu apa aku tidak tahu akan tetapi ia seakan sudah siap. Rambut panjangnya yang dipadu summer dress berwarna putih tertiup oleh angin laut yang agak kencang. Sesekali topi putihnya bagaikan akan ikut terbawa angin, akan tetapi lengan putihnya yang telah dipoles sun cream dengan setia menahan posisi topinya, seakan menegaskan bahwa hanya disana topi itu seharusnya berada.

Sesekali buih ombak menyerbu kakinya yang jenjang, tetapi gadis itu tetap tidak peduli. Matanya sibuk menatap langit biru yang didominasi awan putih.

“Kau mencari apa?” Aku menyapanya, mendekati gadis itu.

“Sesuatu.” Gumamnya, terdengar sayup dikalahkan angin.

“Sesuatu apa?”

“Sesuatu yang berakhir hari ini. Aku harus menyaksikannya.”

Mata gadis itu tidak lepas dari langit, secara refleks akupun mengikuti perilakunya.

“Apakah itu sangat penting?” Aku tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku. Gadis itu tidak menjawab tapi dari sudut mataku kulihat ia mengangguk.

“Apakah-”

“Itu dia!”

Sebuah pesawat terbang melintas pelan di langit yang biru. Jejak asapnya yang berwarna putih membentuk awan garis lurus dengan pesawat.

“Pesawat?”

Gadis itu mengangguk. Aku mengamati pesawat itu, rasanya tidak ada yang aneh.

“Pesawat itu sepertinya normal.”

Untuk pertama kalinya gadis itu mengalihkan pandangannya dari langit, menatapku secara dalam. Kurasakan bulu kudukku merinding.

“Percayakah kau kalau kukatakan dalam waktu lima belas detik pesawat itu akan meledak?”

Aku terpaku sesaat dan tertawa kecil. “Omong kosong. Itu mustahil-”

DUARRR!

Suara ledakan keras. Aku langsung memandang langit dimana pesawat itu seharusnya berada. Akan tetapi tidak ada pesawat apapun, hanya asap yang diikuti jejak awan pesawat.

“Dan percayakah kau kalau kukatakan lima detik lagi kau akan meninggal?”

Aku memandang gadis itu, mengernyit. Suara desing angin menyahut keras, bagaikan sesuatu yang melaju cepat. Saat aku hendak mencari apapun yang menimbulkan suara itu, saat itulah-

BUUGGH!

-semua gelap.


#Malam Narasi IOC Writing

Jalan-Jalan

Gue ke Taman Bunga Nusantara.

Yee~ perusahaan suami gue mau ngadain perpisahan buat salah satu manager di perusahaan itu. Jadi para bawahannya sepakat buat bikin perpisahan sambil nginep satu malam di daerah Cipanas, yaitu Taman Bunga Nasional. Emang sih harus bayar, tapi heei~ di dunia ini mana ada sih yang gratisan padahal kalau mau ke kamar mandi aja kita harus bayar. Akhirnya jadilah kamii kut acara family gathering perusahaan suami gue, tujuan Taman Bunga Nasional dan nginep satu malem.

Sebenarnya perjalanannya biasa-biasa aja sih. Tenang. Palingan mampir di beberapa tempat peristirahatan tol yang gue dan suami gue manfaatin buat ke kamar mandi dan belanja cemilan macem-macem. Sisanya selama perjalanan tidur aja, Acnya kenceng banget jadi mau gak mau buat tidur pasti enak.

Sampai ke tempat penginapan di Cipanas sekitar jam 11 siang. Agak cepet juga dan diluar dugaan, padahal kami berangkatnya kesiangan karena harus nungguin salah seorang peserta yang datangnya luar biasa telatnya. Tapi…ternyata perjalanan baik-baik saja bahkan termasuk cepet. Sampai ke penginapan palingan cuma rempong pembagian kamar tidur, tapi itu juga bukan hal besar sih. Karena acaranya bener-bener bebas, kecuali acara makan dan acara sore sampai malam untuk keakraban para pegawai perusahaan, gue bebas leha-leha sana sini. Bener-bener acara yang tenang,santai dan bebas.

Sorenya ada acara belajar main angklung. Lumayanlah~ gue yang belom pernah main angklung jadi bisa – bisa sedikit main alat musik tradisional satu itu. Dan malamnya adalah acara keakraban untuk pegawai perusahaan dan gue diperkenalkan sebagai istri dari suami gue yang kerja di perusahaan itu. Iyalah emang mau dikenalkan sebagai apalagi?

Dan sekitar jam sembilan malam gue langsung diusir sama suami gue untuk balik ke kamar karena dia udah firasat para atasan pasti akan mulai acara karaokean. Dan emang bener…setelah gue balik ke kamar dan selesai ritual mau tidur suara nyanyian karaokean itu kedengaran ke kamar gue yang posisinya agak terpisah sama kamar-kamar yang lain. Dan lagunya….? Mameeen…gaul habis… lagunya Poco-Poco. Lagu senam jaman gue masih SMP.

Tapi karena berhubung gue udah ngantuk banget gue tidur aja. Lampu kamar dimatiin dan tv dibiarin hidup, biar agak rame aja suasana kamar. Bangun-bangun sekitar jam empat pagi. Memang sengaja nyalain alarm jam segitu biar gue bisa tahajudan dan gak kesiangan subuh. Terus ngemil-ngemil sebentar di ruang makan, makanin cemilan yang udah sengaja dibawain sama para panitianya, Roti dan Popmi sambil minum teh tawar hangat. Berikutnya saat semua orang pada senam pagi gue mandi aja, pasalnya kamar gue penghuninya banyak sementara kjamar mandi Cuma satu. Mana waktu untuk beres-beres juga mepet. Alhasil daripada berebut mandi gue bolos aja senam pagi dan langsung mandi pagi, beres-beres dan berikutnya sarapan. Pas semua orang lagi rempong mandi dan sarapan gueudah beres semuanya, palingan duduk di depan tv barengan anak-anak kecil lain dan nonton doraemon, itu minggu pagi.

Semuanya beres deh, kami check out dan berikutnya jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara yang tinggal nyeberang aja dari penginapan. Memang penginapan yang dipakai itu masih satu kawasan sama taman bunga jadinya gak terlalu rempong. Dodolnya gue adalah jelas-jelas itu taman bunga tapi gue gak ngeh dan masih berpikir itu adalah Taman Buah Mekarsari dan baru sadar itu adalah taman yang berbeda beberapa menit setelah gue masuk kawasan taman bunga itu. Sungguh dodol terlalu.

IMG-20160424-WA0001

But gue sih eneng-seneng aja, palingan yang bikin BT adalah acara foto-fotoan yang gak selesai-selesai dan kelamaan banget. Gue bukannya anti foto-foto tapi gue juga bukan tipe orang suka selfie dan foto-foto yang lama gak kejuntrungan, alhasil selama sesi foto gue Cuma pasang senyum hambar aja. Untung aja acara foto-foto itu selesai dan kita boleh jalan-jalan sendiri, tapi sebelumnya kami diingetin kalau jam sebelas kurang seperampat kami harus kumpul di pintu masuk karena mau keliling taman bunga naik kereta. Daaannn itu udah jam sepuluh…wakks banget. Akhirnya Gue dan suami gue kabur jalan-jalan sendiri dan muter-muter taman bunga, bodo, amat kalau sampai ketinggalan kereta.

Daann… taman bunga itu lumayan sih, maksudnya lumayanlah indah dengan banyak bunga. Lagian kawasan itu juga peninggalan Pak Soeharto atas permintaan Bu Tien, jadinya layak dikasih jempol sebanyak-banyaknya. Kami muter-muter taman bunga itu jalan kaki. Capek sih, tapi puas, lagian begitu capek kami mampir beli minum tau enggak duduk-duduk sebentar di kursi kayu sambil makan es krim.

20160424_095720

Ada hal yang bikin kami BT yaitu pengunjung lain yang buang sampah sembarangan! Kami lagi duduk ngaso sambil makan es krim, gak jauh dari kursi kami ada pasangan pacaran yang heboh habis selfie sana-sini dengan gaya baju beken banget. Sampah botol, plastik dan macem-macem lain berserakan di kursi mereka padahal tempat sampah Cuma dua langkah dari tempat mereka! Bayangin! Cuma dua langkah! Akhirnya setelah selesai selfie sana-sini mereka ngabisin minman botol mereka dan udah ditaruh gitu aja dan langsung ngacir entah kemana! Gue sama suami Cuma bisa geleng-geleng kepala aja, ngabisin es krim kami lalu ngebuangin sampah kami dan mereka ke tempat sampah terdekat. Ya ampuuunnn…. sifat mereka kalau banget dibanding gaya baju mereka. Disini gue belajar banyak, baju boleh OK tapi kalau gak buang sampah pada tempatnya sama aja bohong! Padahal kalau mereka buang sampah di tempatnya itu gak bakal mengurangi kekerenan baju yang mereka pakai kok.

Setelah selesai ngaso kami jalan-jalan lagi muter-muterin yang belom dilihat, taman Jepang dan Rumah Kaca. Dan tetntu aja selama muter-muterin taman bunga itu kami gak lupa foto-foto. Yah, sebenarnya yang difotoin itu gue karena suami gue gak mau sama sekali untuk difoto. Seenggaknya butuh waktu satu jam lebih sampai kami selesai muterin taman bunga itu dan balik lagi ka pintu depan. Daaannn~ ternyata, yang nungguin kereta buat muter ternyata belom berangkat. Padahal udah lewat lebih dari 45 menit sampai waktu yang ditentukan untuk nunggu kereta, tapi mereka semua terjebak stuck di tempat nunggu kereta dan gak muter sama sekali. Terang aja gue dan suami gue bangga dooonggg. Taman udah selesai diputerin dan kita bakal muter lagi sama kereta, jelas kami menang banyak. Daan tebak, baru pukul 12 siang kami baru dapet kereta untuk muterin taman bunga, makin senenglah gue karena menang banyak.

Karena udah siang dan waktunya makan siang, kami makan di kolam angsa yang punya patung gede Dewi yang menurut cerita itu ibunya Pandawa Lima. Kami makan di gazebo kolamnya sambil mandangin ikan yang gede-gede, angsa putih yang dikejar-kejar sama pelikan dan angsa hitam yang ngumpet entah dimana. Selesai makan kami sholat Zuhur dijamak Ashar, muter-muter dikit dan pulang deh. Sebelumnya gue sempet naik bianglala yang pemandangannya lumayan asyik juga. Disana juga ada arena ikan yang ikannya bisa makan kulit-kulit mati kita, lupa deh namanya apaan tapi intinya begitu. Sayang durasi waktunya 30 menit sementara waktu yang kesisa untuk jalan-jalan enggak selama itu akhirnya kami mutusin untuk balik lagi ke pintu depan dan langsung naik bus. Sempet liat-liat bunga yang dijual di pasar bunga sih tapi kami gak beli. Agak mahal dan juga rempong bawa pulangnya, jadinya gak beli deh.

Berikutmya kami duduk manis di dalem bus terus tidur deh. Bus sempet berhenti sih di tempat oleh-oleh tapi kami gak niat sedikitpun untuk beli oleh-oleh. Palingan Cuma mampir ke kamar mandi dan beli teh hangat sama popmi karena gue pilek. Mungkin karena kecapekan kali ya…karena kalau gue kecapekan emang pasti udahannya selalu pilek. Mampi dulu lewat UKI buat ngedrop mereka yang memang mau turun di daerah situ. Lalu ke Bekasi Barat kemudian baru sampai ke Cibitung sekitar jam setengah sembilan malam. Setelahnya gue pilek total dan baru sembuh besoknya. Beneran pilek karena capek jalan-jalan~.

20160424_103737

Pindah Kontrakan

Pindahan rumah itu rempong. Apalagi untuk emak-emak rempong golongan darah B macam gue,itu udah bukan rempong lagi! Tapi super duper rempong!

Tapi apa daya…gue udah gak tahan lagi sama banjir dan bocor yang selalu dengan ramahnya menyapa gue. Akhirnya gue pindahlah dari daerah gue tumbuh berkembang besar Tangerang menuju daerah Cibitung yang alhamdulillah masih masuk GPS. Suatu daerah kalau masih masuk GPS berarti daerah itu enggak di pinggir-pinggir banget (Quote by: Me). Jadi don’t worry don’t cry. Setidaknya masih ada peradaban modern yang masuk ke daerah itu, walau gue akuin daerahnya gersang panas terik. Mungkin karena daerah ini daerah Industri kali ya? Tetanggan sama daerah M2000 apalah gitu.

Tapi kenapa harus Cibitung? Karena suami gue kerja di daerah itu. Dan karena gue gak kerja lagi otomatis gue diboyong ke daerah itu. Mengenai les jahit gue terpaksa gue pindah juga ke Harmoni, tempat les jahit yang masih ada dan gak lekang dimakan jaman.

Persiapannya rempong. Segala-segala kardus gue beli dari bapak tukang sampah yang ramah dan selalu siap sedia kalau gue butuh potong rumput halaman depan rumah gue. Bapak itu siapin 15 kardus karton buat gue dan memusnahkan rumput gajah yang tinggi-tinggi sebelom gue ngungsi dari rumah itu. Iyalah, seenggaknya gue gak malu-malu banget ninggalin rumah itu. Rumahnya gue tinggalin dalam keadaan rapih, masa iya pemiliknya mau marah-marah ke gue? Ada juga gue yang harus marah-marah karena telah mengenalkan gue dengan yang namanya banjir dan bocor.

20160416_085213

Segala korden sama relnya gue lepas dan dicuci biar bersih dan wangi. Gue sengaja beli box container plastik untuk memuat entahlah apa yang pasti bakal perlu dimuat buat pindahan. Rangka besi kasur dilepas dan akhirnya tidur di kasur spring bed yang dilapisin karpet biasa, yang penting bisa tidur. Baju udah dikemas dan buku udah dibox-in. Pokoknya udah siap deh.

Paginya kita bangun subuh. Sholat, ngemil roti, mandi dan segala ritual pagi dilakuin deh. Setelah beres kamar mandi disikat dikit biar agak bersihan dan lampu bohlam dilepas. Bahkan tali tambang buat jemuran dilepas. Bener-bener gak kesisa apapun dirumah itu. Beres deh. Sisanya tinggal nunggu mobil pindahan yang bakal ngangkut semua perabotan itu.

Sebelumnya untuk melepas kangen kami mampir dulu makan di warung depan, makan nasi kuning dan nasi uduk. Setelah beres sarapan balik lagi ke rumah buat nunggu mobil dan sekalian salam pamit sama RT dan semua tetangga. Pamit sama tetangga sebenarnya basa-basi aja sih karena selama setahun gue sama sekali gak pernah ada event barengan kumpul sama mereka, walaupun itu arisan ibu-ibu. Bukannya gue gak mau ikut, tapi guenya gak pernah diikutin, makanya waktu pamitan cuma basa-basi aja. Nothing to lose. Palingan yang beneran pamit Cuma sama bapak tukang sampah,tukang sayur langganan sama mbok jamu langganan. Satu lagi, sama ibu-ibu tetangga depan yang udah tua banget. Gue cuma sering ngobrol aja sama ibu itu karena sering curhat sama gue, maklum namanya udah tua. Dan karena mobil pindahan udah dateng akhirnya gue pamitan terakhir sama ibu itu sekalian beli cabe sama tukang sayur langganan,  stock cabe gue udah habis.

Akhirnya…. yeee, waktu yang dinanti tiba. Gue pindahan. Kami pakai jasa pindahan Gobox dari Gojek karena….ya karena kita gak tau lagi mau pindahan pakai apa. Selain itu budgetnya pas-pasan sama biaya Gobox dan perusahan itu juga rekomendasi dari temen suami, akhirnya yaudah pakai itu aja. Kami sengaja pesen 1 supir ditambah dua loader nya biar mereka gak capek pasang bongkar barang-barang kami. Diingatkan lagi, barang bawaan pindahan kami banyak banget. Padahal udah banyak yang dibuang tapi ternyata tetep banyak juga sampai penuh deh itu mobil truknya, walau akhirnya masuk semua.

20160416_103207

Sebelum gue pindahan, guru ngaji gue mampir dulu ke rumah, perpisahan terakhir dan sekalian bawain semangka gede. Karena semangkanya lumayan gede akhirnya gue titip aja ke mobil truk pindahan, gue masukin kedalam plastik barengan sama botol minyak goreng yang masih full 2 liter.

Daaan… perjalanan sungguh melelahkan. Bukan karena panjangnya perjalanan, tapi macetnya gak ketulungan dan itu bener-bener bikin capek. Kami mulai jalan dari Tangerang sekitar jam setengah sebelas siang dan baru sampai di Cibitung sekitar jam setengah dua siang. Mameeennn itu melelahkan. Dan ternyata di rumah baru kami yang punya rumah dan mertua udah pada nungguin sambil bawa makanan. Gue dan suami berangkat ke Cibitung barengan sama Ortu dan adik jadinya lumayan rame dah itu rumah, sekalian silaturhim balik kedua keluarga besanan.

Karena takut kesorean akhirnya proses loading barangnya  langsung dimulai aja. Sebelumnya drivernya minta maaf duluan sama gue karena semangka sama minyak gorengnya diambil sama polhub. Wajahnya agak ngeri-ngeri banget cerita ke kami walau setelah diceritain kami semua ketawa ngakak aja, bukan karena semangkanya diambil, tapi lebih ke arah wajah drivernya yang lucu banget pas cerita kejadiannya.

Jadi ceritanya, kayaknya polhub itu emang udah ngincer mobil truk kami dari tol mana sampai akhirnya cegat berhenti di tol keluar Cibitung. Driver Goboxnya sendiri juga bilang, polhub suka usil ngambil-ngambil begitu juga sebenarnya udah biasa. Maksudnya mungkin kayak gak sopan aja kalau mobil truk plat Tangerang ke daerah Cibitung sana main masuk aja tanpa ngasih apapun. Cuma ya itu…sayangnya surat-surat yang dibawa driver gue lengkap semua dan polhubnya gak bisa ngasih alasan apapun untuk ngehukum driver gue. Dan mungkin karena mereka udah capek ngeliat semangka gede akhirnya diambil sama mereka. Mungkin mereka pikir botol gede itu juga minuman kali ya makanya diambil sekalian sama mereka. Ludeslah semangka dan minyak goreng dua liter gue, walau enggak terlalu gue sesalin juga karena kebetulan beberapa hari sebelumnya gue udah beli minyak goreng juga karena lagi diskonan. Wkwkwk…aduh, maaf ya mbak semangkanya belom sempet dimakan 😛

Yah, selanjutnya adalah tinggal unpacking semua kardus dan box-box. Rangka tempat tidur, lemari dan lemari plastik semuanya udah dipasang. Kita juga udah makan dan disisain makan sampai buat besoknya karena pastinya gue gak bakal masak dulu dan lebih rempong beres-beres rumah. Beda banget sama waktu mau pindahan, setelah pindahan ini lebih gampang aja ngebongkar barangnya dibanding waktu mau packing barang.

Enggak lupa, pastinya laporan dulu dong sama Pak RT kalau kami penghuni baru. Heeiiii~ akhirnya pindahan rumah deh.