Boleh, kan?

“MONSTER!”

Aku menatapnya dengan galak. Pria itu lari kencang sesaat setelah melihatku. Tanpa mengeluarkan usaha yang berat aku menjulurkan leherku, dan hap, pria itu sudah masuk kedalam mulutku.

Lumayan, daging pria ini lumayan enak juga.

Dan aku tersentak, harusnya aku tidak melakukan ini!

Aku merasakan daging liat dalam mulutku itu. Perasaan bersalah dan menyesal menyergapiku. Bukan tujuanku untuk memakan pria ini, walaupun hal ini lebih ke arah tidak sengaja dan aku memakan manusia ini karena faktor refleks tubuhku.

Ya sudahlah. Aku menggelengkan kepalaku. Fokus! Fokus!

Aku menatap ke aliran sungai yang mengalir dibawahku, memantulkan sosokku yang sebenarnya. Seekor monster sungai raksasa yang hidup dalam sungai yang dalam jauh di dasar jurang. Apalagi yang mampu kugunakan selain kata ‘mengerikan’? Bahkan akupun enggan melihat bayanganku sendiri.

Bola mata berjumlah sepuluh, tubuh bagaikan ular menjijikkan dan taring berbisa tajam yang mengerikan. Ah sudahlah, terlalu banyak hal yang mengerikan dari diriku. Bahkan akupun membenci diriku sendiri.

Matahari mulai naik sepenggalah, aku mulai mencari. Walau aku benci mengakuinya, tapi jumlah mataku yang banyak ini lumayan membantu juga untuk mencari hal yang kubutuhkan.

Aku menemukan rerimbunan bunga berwarna putih di tepi sungai tempat aku tinggal. Kurendahkan leherku, menatap bunga kecil itu. Aku tidak bisa menggambarkannya tetapi bunga itu memiliki penampilan yang sangat berbeda denganku. Bukan hal yang mengerikan, lebih tepatnya rasanya hatiku merasa senang melihatnya, mungkin ini cocok.

Aku mendekatkan leherku kearah bunga itu, membuka mulutku dan menariknya darimana bunga itu berasal. Leherku kembali kutegakkan di jalan diatas jurang, memeriksa setiap detil jalan setapak tersebut. Ada satu area kecil yang ditutupi bayangan, tidak terlalu gelap tetapi cukup terlindungi dari sengat matahari. Kuletakkan bunga-bunga dalam mulutku itu, meletakkannya secara acak.

Bunga-bunga itu berantakan sekali, tapi aku tak punya anggota tubuh yang mampu menolongku untuk merapikan susunan bunga itu. Dengan putus asa aku mencoba meniup tangkai bunga tersebut dan aku semakin frustasi karenanya. Susunan bunga itu tidak bertambah rapi sedikitpun, tetapi semakin berantakan.

Saat aku masih merasa frustasi, selintas suara terdengar oleh telinga tajamku. Dari suara nyanyian dan suara langkah itu, sepertinya “dia” akan datang.

Arrgghhh! Tak ada waktu untuk memperbaiki bunga itu!

Aku merundukkan leherku, kembali beresembunyi di dasar sungai. Meski tubuhku tersembunyi sempurna dapat kudengar suara langkah itu semakin mendekat dan pada suatu saat terhenti. Apakah gadis itu sudah menemukan bunga yang kuletakkan?

Suara langkah itu kembali terdengar, diiringi nyanyian yang terdengar lebih riang. Bolehkah kuanggap kalau ia menerima bunga-bunga itu?

Suara langkah itu makin terdengar sayup, dan nyanyian itu sudah tak terdengar lagi. Perlahan aku membangkitkan tubuhku, menjulurkan leherku, mataku meneliti setiap daerah itu, memastikan tak ada siapapun.

Tak ada manusia maupun hewan apapun. Aku menjulurkan leherku dan menatap tempat dimana aku meninggalkan bunga itu. Mereka sudah tidak ada. Aku tersenyum lega. Akan tetapi ada sesuatu disana. Aku menjulurkan leherku dan mengendusnya, baunya sedap. Sepertinya itu adalah daging ayam, tetapi daging ayam itu diikat dengan sehelai pita cantik berwarna merah beserta sekuntum bunga yang tadi kupetik untuknya. Apakah daging itu untukku?

Dengan ragu aku menatap daging ayam tersebut, akhirnya kuputuskan untuk memakannya. Rasanya sedap. Aku tidak tahu apakah sedap karena itu adalah daging ayam? Ataukah karena hadiah itu berasal darinya?

Sebenarnya ini tidak benar, tapi gadis itu tidak tahu mengenaiku. Karena itu, aku bolehkan untuk terus memberikan bunga baginya?

Asalkan aku tidak menunjukkan sosokku yang mengerikan ini, mungkin tidak apa-apa.

###

“Nona! Kau mau kemana?”

Seorang gadis mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap  menoleh, memandang seorang petani tua yang menegurnya.

“Aku hendak menemui nenekku.”

“Kau menuju arah yang salah.” Teriak pria itu, tangannya menunjuk papan arah jalan bertuliskan ‘Arah Yang Salah’.

“Ambillah arah yang benar!” Petani tua itu berjalan meninggalkan sang gadis, menunjuk arah jalan yang berlawanan yang akan diambil sang gadis.

Gadis itu menatap petani itu dalam diam, memastikan tak ada siapapun disana. Kakinya berlari tergesa memasuki hutan, menuju arah yang salah.

“Kalau tidak lewat jalan ini, aku tidak akan bertemu dengannya.” Seulas senyum terpasang di bibir sang gadis.


#Malam Narasi OWOP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s