Dia Adalah

Dia sebenarnya gadis yang cantik, seharusnya. Jika harus menggambarkannya dengan kata-kata, ia adalah gadis yang cantik, aneh dan misterius. Bukan kombinasi kata-kata yang serasi, aku tahu, tapi itulah yang paling sopan yang bisa kulakukan.

Dengan kata lain, gadis itu gila.

Kedua orangtuaku baru saja meninggal dunia, meninggalkanku yang hanya seorang anak tunggal beserta warisan miliyaran rupiah. Otomatis semua perhatian jatuh sepenuhnya kepadaku, keluarga terdekat yang walaupun sama kayanya tetapi hanyalah kumpulan penjilat, yang mengaku teman karena silau harta, maupun pejabat pemerintah yang mengharapkan uang pelicin.

Aku tidak membenci semua perhatian itu, malahan aku sangat menikmatinya. Aku juga tidak bersedih. Untuk apa? Sejak awal mereka yang kusebut sebagai ORANG TUA tidak pernah menjalankan kewajiban mereka sebagaimana orangtua. Jadi mereka tidak perlu protes kan kalau aku tidak melaksanakan kewajibanku sebagai seorang anak?

Setelah membereskan urusan warisan yang membuatku menjadi pemuda milyarder, menghamburkannya bersama mereka yang mengaku teman dan menutup mulut beberapa pejabat, aku mendatangi pemakaman mewah kedua orangtuaku-yang tentu saja aku lakukan hanya sekedar publisitas media. Seorang gadis berdiri di depan nisan makam kedua orangtuaku. Jilbabnya tertiup angin perlahan sementara matanya lekat memandangi tulisan di batu nisan.

“Siapa kau?”

Gadis itu tidak bergeming mendengar seruanku, mungkin tak terdengar karena gemerisik pepohon berbunyi keras.

“Siapa kau?” seruku lagi sambil memegang pundaknya. Perlahan kepalanya menoleh dan kedua matanya menatapku dengan datar. Sesaat aku merasa bulu kudukku merinding tetapi cepat kutepis perasaan itu.

“Siapa kau?!” Aku mulai membentak. Gadis itu menatapku sesaat.

“Hanya kebetulan lewat.” Gadis itu menjawab dengan nada yang dingin.

“Kau mengenal mereka?” daguku mengisyaratkan ke arah nisan. Mata gadis itu kembali melirik.

“Hanya yang laki-laki, tapi tidak yang perempuan.”

Aku mengerutkan alisku. Well, walaupun aku selalu bersikap kurang ajar kepada orang tuaku, tapi ternyata gadis ini lebih kurang ajar lagi.

“Hee, apa kau simpanan lain dari ayahku? Mau minta uang?”

Gadis itu hanya mendengus, menatapku dengan pandangan menghina.

“Kau mau uang? Memangnya ayahku berhutang berapa kepadamu?”

Gadis itu tidak menjawab, menatapku sekali lagi lalu berbalik pergi. Aku menatap gadis itu dengan heran. Gadis yang aneh.

###

Pertemuanku kedua kalinya dengan gadis itu masih di depan makam kedua orangtuaku. Ia kembali menatap lekat batu nisan tersebut. Heran, padahal tidak ada yang istimewa dari nisan tersebut tapi ia tetap berdiri disana bagai patung.

Aku meletakkan karangan bunga mahal di depan makam mereka, hendak diam sebentar dan hendak pergi lagi. Gadis itu tetap disana, tidak menghiraukan keberadaanku. Aku sudah akan pergi dari tempat itu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali. Aku berdiri di samping gadis itu, ia mengisyaratkan mengetahui keberadaanku tapi tidak mengatakan apapun.

“Siapa kau? Kenapa kau terus berada di makam ini?”

Gadis itu hanya menghela napas.

“Siapa namamu? Kenapa kau ada disini?”

Untuk pertama kalinya pada hari itu, gadis itu menatapku. Matanya yang berwarna hitam pekat memandangku dengan dingin.

“Sophia. Alasan pribadi.”

Aku mengerutkan keningku, mencerna perkataan gadis itu. Astaga, gadis ini sebenarnya malas ngomong atau irit kata sih?

“Sebulan yang lalu kau juga ada disini,” gumamku pelan. Sophia mengangguk.

“Kenapa?”

Lagi-lagi terdengar helaan napas. Sophia merasa jengkel, “Urusan pribadi,” gumamnya.

Aku terdiam. Setelah diam beberapa lama aku memutuskan pergi dari sana.

“Menurutmu…”

Aku menoleh balik, melihat Sophia telah berjongkok, pandangan mata gadis itu setinggi nisan.

“Menurutmu apakah mereka merasa senang akhirnya dihukum berat dan pedih di dunia sana?”

Gadis ini bicara apa sih?

“Kau mabuk ya? Apa sih-“

“Menurutmu, kalau kau mati suatu saat nanti. Tidakkah kau juga akan dihukum berat?”

Gadis itu bangkit dan melangkah pergi tetapi aku keburu menangkap pergelangan tangannya.

“Apa maksudmu?” tuntutku. Sophia menatapku seakan aku ini orang bodoh.

“Kau tahu kan? Kehidupan akhirat. Tidakkah menurutmu orangtuamu dihukum secara berat di dunia itu?”

“Kau gila!”

Sophia mengangkat bahu, “Mungkin.” jawabnya untuk mempertegas pernyataanku. Ia melangkahkan kaki dari area pemakaman tersebut akan tetapi aku lebih cepat. Kembali aku menarik pergelangan tangannya. Pasti terasa sakit sekali karena Sophia langsung menjerit kesakitan.

“Katakan! Siapa kau sebenarnya!”

Sophia hanya menatapku datar.

“Dengar-“

“Pasti enak menjadi anak tunggal, diwariskan miliyaran harta. Ataukah justru sebuah kutukan? Memiliki orang tua yang tidak pernah memberimu kasih sayang?”

Aku berusaha mencerna kata-kata gadis itu benakku lebih penasaran mengenai identitas gadis bernama Sophia ini.

“Apakah kau merasa senang saat mereka berdua pergi untuk selamanya? Karena aku tak pernah melihat rasa sedih di matamu.”

Sesaat aku bagai ditonjok dengan keras mendengar kata-kata gadis itu.

“Maksudmu kau merasa bersedih untuk mereka berdua? Bersedih layaknya anak yang berbakti?” Aku tersenyum meremehkan.

Anehnya, gadis itu justru tersenyum, “Tidak, aku justru merasa senang. Terutama-” Sophia menunjuk kearah nisan bertuliskan nama ayahku, “-ketika laki-laki itu mati.”

“Aku paham. Pastilah kau salah satu dari wanita simpanan ayahku yang terkutuk itu kan? Pastilah ayahku mencampakkanmu setelahnya.” Aku melepaskan cengkeramanku dari pergelangan tangannya dan memandang hina pada jilbab yang membalut erat kepalanya.

PLAKKK

Rasa panas menyebar di pipiku. Kutatap Sophia yang baru saja menamparku, akan tetapi tak ada emosi apapun di wajah itu.

“Rupanya kaupun sama rendahnya dengan ayahmu.”

Lidahku terasa kelu.

Sophia melangkah menjauhiku, ia berhenti sesaat.

“Untunglah hukum agama menyatakan bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun. Kakak.”

Aku tersirap dan menolehkan kepalaku mencari sosok Sophia. Tapi gadis itu telah menghilang dengan cepat.

###

Pertemuan ketiga kami kembali terjadi di pemakaman itu, meskipun telah lewat empat bulan sejak pertemuan terakhir kami.

Sophia kembali memasang wajah datar saat menatapku, sedatar saat ia menatap batu nisan itu.

“Apa maksudmu, kau adik perempuanku?” Aku bertanya dengan cukup hati-hati. Sophia juga sepertinya sudah menduga bahwa pertanyaan ini akan terlontar saat kami kembali bertemu.

“Mungkin.”

Aku mengerutkan kening, merasa bingung tetapi tak punya keberanian untuk bertanya.

Sophia menghela napas.

“Kau sendiri yang mengatakannya kan? Ayahmu memiliki banyak wanita simpanan.”

Sampai disini aku bahkan tak berani bernapas.

“Ibuku adalah salah satu wanita simpanan ayahmu. Membuat ibuku hamil dan akhirnya melahirkanku.”

“Lalu apa kau-“

“Simpan saja hartamu. Aku tidak tertarik pada uangmu.”

Hening kembali tercipta. Sophia kembali memandang langit berawan mendung. Sepertinya sore ini akan hujan.

“Saat umurku lima tahun sepertinya terjadi perselisihan antara ibuku dan ayahmu. Mereka bertengkar dan ayahmu…”

Sophia menggantungkan ceritanya tapi tidak pernah meneruskannya. “Ibuku mati setelah pertengkaran itu dan aku diasuh oleh panti asuhan.”

Aku tidak berani bersuara. Aku tahu ayahku itu memang bejat, tapi aku tak menyangka ternyata ayahku itu telah sebegitu “tenggelam”.

“Dan kau datang kesini?”

“Awalnya untuk memastikan, apakah ia benar-benar telah meninggal? Dan aku akan berdiri di depan makamnya, mencemoohnya, menertawakan keadaannya yang mungkin dihukum secara kasar dan pedih di dunia sana.”

Aku kembali terpaku. Memandang nisan itu dan mencerminkannya dalam hidupku.

“Menurutmu apakah dia dihukum berat didunia sana?”

Aku mengangguk pelan. “Ya, pastilah ia dihukum berat di dunia sana. Pasti.”

Sophia berjongkok dan tertawa pelan. “Syukurlah.”

Suasana kembali hening. Aroma hujan mulai tercium.

Sophia mengulurkan tangannya, menyapu nisan yang bertuliskan nama ayahku.

“Bagaimanapun juga ia adalah ayahku.”

Aku melirik Sophia yang telah menutup matanya, berdoa. Air mata mengalir pelan dari pipinya. Aku berpura-pura tidak menyadarinya.

###

Dia sebenarnya gadis yang cantik, seharusnya. Jika harus menggambarkannya dengan kata-kata, ia adalah gadis yang cantik, aneh dan misterius. Bukan kombinasi kata-kata yang serasi, aku tahu, tapi itulah yang paling sopan yang bisa kulakukan.

Dengan kata lain, gadis itu gila.

Dan gadis gila itu adalah adik perempuanku.


#Malam Narasi OWOP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s