Sejarah Sabun

“Kebersihan adalah Sebagian dari Iman”

Sebagai muslim tentu kita tidak asing lagi dengan pepatah tersebut. Kebersihan memang bukanlah hal yang aneh bagi umat Islam. Rasulullah bahkan mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga kebersihan diri. Bahkan sebelum melaksanakan Sholat, kita dituntut untuk bersih dari hadas kecil dan besar.

Bicara tentang kebersihan badan, biasanya sih identik dengan mandi dan mandi tidak akan lengkap tanpa sabun dan sikat gigi. Mau sabun apapun juga boleh, sabun mandi batangan maupun cair, asalkan bukan sabun colek aja šŸ˜›

Dalam ilmu Kimia, Sabun itu mengandung garam atau asam lemak yang biasanya digunakan untuk mandi, mencuci dan bersih-bersih.Sabun itu bersifat basa yang enggak terlalu kuat sehingga enggak berbahaya walaupun kita pakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Nah, disini saya gak bakal cerita panjang lebar mengenai formula si Sabun. Itu urusan anak Kimia sementara saya anak jurusan Meteorologi, jadi gak bakalan nyambung. Tapi ayo coba kita lihat sejarah Sabun ini.

Pada awal mulanya orang-orang masa pra-sejarah menjaga kebersihan badan mereka hanya dengan menggunakan air. Walaupun mereka enggak mandi cebar-cebur kayak kita di zaman sekarang, seenggaknya mereka tahu gimana caranya memanfaatkan air untuk membasuh lumpur di bagian badan mereka.

Pada sekitar tahun 2800 sebelum Masehi, bangsa Babylonia menggunakan campuran lemak dan abu untuk dipakai bersama-sama kalau mereka mandi. Tapi karena konsep sabun belum ditemukan di masa ini, dan mungkin jug pencampurannya tidak sesuai untuk mandi, alhasil campuran ini digunakan sebagai ramuan untuk membuat gaya rambut.

Orang Mesir Kuno juga menciptakan campuran minyak hewani atau nabati yang dicampur dengan garam dan digunakan untuk mandi. Pada zaman itu campuran ini berguna untuk membuat badan mereka bersih dan sebagai ramuan untuk menyembuhkan penyakit kulit. Mereka juga mampu menciptakan gel rambut yang pada masa itu dibuat dari campuran minyak dan abu.

Di Yunani Kuno, usaha kebersihan mereka lain lagi. Mereka menggunakan balok lilin, pasir, batu apung dan abu. Mereka juga menggunakan minyak untuk membersihkan tubuh mereka. Sementara orang Romawi Kuno menggunakan Hujan dan Air Sungai beserta lemak dan abu untuk bersih-bersih. Saat peradaban mereka semakin maju, mereka menemukan fasilitas pemandian beserta saluran air untuk menjaga kebersihan.

Beda daerah beda juga cara mereka menjaga kebersihan tubuh. Akan tetapi untuk daerah Eropa pada umumnya, justru lain lagi. Kalau kalian senang nonton film zaman kerajaan eropa abad pertengahan, dimana mereka masih tinggal di kastil batu, kita bisa lihat bukan hanya keluarga kerajaannya saja yang pakaiannya terlihat kumal dan kotor. Bahkan rakyat biasa dan warga miskin lebih kotor dan dekil. Hal ini dikarenakan justru orang Eropa tidak mengenal budaya mandi, apalagi menjaga kebersihan badan. Bukan hanya sistem kebersihan tubuh, mereka bahkan tidak mengenal sistem kebersihan lingkungan maupun sanitasi. Alhasil daratan Eopa diserang Wabah Maut Hitam atau “Black Death”. Salah satu penyebabnya adalah masalah kebersihan dan infeksi virus.

Kalau dimasa abad 13 Eropa mengalami wabah yang disebabkan masalah kebersihan, pada abad ke-12 umat Islam telah mencatat secara rinci proses pembuatan sabun yang dibuat dengan berbagai macam campuran bahan serta alkali, diambil dari kata Al-Qaly yang berarti abu. Pada abad ke-13 bahkan umat Islam telah menciptakan Pabrik Pembuatan Sabun yang terpusat di daerah Nablus, Fes, Damascus dan Aleppo.

Pada zaman dulu, sabun terbuat dari minyak, seperti minyak tumbuhan, minyak zaitun maupun minyak aroma, dan semua itu dibuat oleh para ilmuwan muslim yang hidup di zaman kekhalifahan. Ilmuwan muslim yang paling terkenal karena menciptakan formula sabun ialah Ar-Razi, seorang ahli kimia terkenal dari Persia. Pada masa itu, sabun yang digunakan oleh umat Muslim sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Bahkan bentuknya sudah berupa batangan maupun cairan karena pada masa itu telah ditemukan sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut.

Pada masa itu sabun sudah dijual bebas dan dijual seharga tiga dirham. Bahkan resep pembuatan sabun juga dicatat secara rinci oleh seorang dokter terkemuka dari Andalusia (Spanyol)Ā Abu Al-Qasim Al-Zahrawi alias Abulcassis (936-1013 M). Dokter sekaligus Ahli kecantikan ini mencatatkan resep pembuatan sabun secara terperinci dalam kitabnya yang berjudul Al-Tasreef.

 

Resep pembuatan sabun yang lengkap juga tercatat dalam sebuah risalah bertarikh abad 13 masehi. Manuskrip itu mencatat secara jelas dan detail cara pembuatan sabun.Ā Sejarah pembuatan sabun di dunia Islam dicatat secara baik oleh Raja Al- Muzaffar Yusuf ibn `Umar ibn `Ali ibn Rasul. Dia adalah seorang Raja Yaman yang berasal dari Dinasti Bani Rasul yang kedua. Raja Al-Muzaffar merupakan seorang penguasa yang senang mempelajari karya-karya ilmuwan Muslim dalam bidang kedokteran, farmakologi, pertanian, dan tekonologi.

Raja Al-Muzaffar juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Pada masa kekuasaannya di abad ke-13 M, ia mendukung dan melindungi para ilmuwan dan seniman untuk berkreasi dan berinovasi. Dalam risalahnya, sang raja mengisahkan bahwa Suriah sangat dikenal sebagai penghasil sabun keras yang biasa digunakan untuk keperluan toilet.

N Elisseeff dalam artikelnya berjudul, Qasr al-Hayr al-Sharqi, yang dimuat dalam Ensiklopedia Islam volume IV menyatakan, para arkeolog menemukan bukti pembuatan sabun dari abad ke-8 M. Saat itu, kekhalifahanĀ  Islam sedang menjadi salah satu penguasa dunia.

Geografer Muslim kelahiran Yerusalem, Al-Maqdisi, dalam risalahnya berjudul, Ahsan al-Taqasim fi ma`rifat al-aqalim, juga telah mengungkapkan kemajuan industri sabun di dunia Islam. Menurut Al-Maqdisi, pada abad ke-10, Kota Nablus (Palestina) sangat termasyhur sebagai sentra industri sabun. Sabun buatan Nablus telah diekspor ke berbagai kota Islam.

Menurut Al-Maqdisi, sabun juga telah dibuat di kota-kota lain di kawasan Mediterania, termasuk di Spanyol Islam. Andalusia dikenal sebagai penghasil sabun berbahan minyak zaitun. M Shatzmiller dalam tulisannya bertajuk, al-Muwahhidun, yang tertulis dalam Ensiklopedia Islam terbitan Brill Leiden, juga mengungkapkan betapa pesatnya industri sabun berkembang di dunia Islam. Pada 1200 M, di Kota Fez (Maroko) terdapat 27 pabrik sabun. Pada abad ke-13, sabun batangan buatan kota-kota Islam di kawasan Mediterania telah diekspor ke Eropa. Pengiriman sabun dari dunia Islam ke Eropa melewati Alps ke Eropa utara lewat Italia.

Sejak saat itulah sabun mulai menyebar ke seluruh Eropa. Pada awalnya pembuatan sabun merupakan hal yang sangat dirahasiakan pada abad ke-17, hal ini berkaitan dengan rahasia dagang. Bahkan Inggris memonopoli pembuatan sabun hingga pada abad ke-19 sabun memiliki pajak yang tinggi dan menjadi barang mewah di berbagai negara Eropa. Ketika pajak sabun dihapuskan maka sabun mulai diproduksi secara besar-besaran sehingga rakyat biasapun dengan mudah memperoleh sabun dan meningkatkan standar kebersihan masyarakat.


Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/Soap

https://id.wikipedia.org/wiki/Sabun

http://www.republika.co.id/berita/shortlink/38238

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s