Summer Sky

Gadis itu memang selalu seperti itu. Saat ia memandangmu, bola matanya memandang jauh, seakan ia melihat menembus dirimu. Ia akan memandang seakan menelanjangimu, detil dan terperinci. Dan setelahnya ia akan memberikan reaksi yang berbeda, menghela napas lega atau mendesahkan napas dan memandangimu dengan tatapan sedih.

Untuk hal ini aku tidak bisa menebaknya, karena gadis itu bereaksi tanpa memliki pola tertentu.

Hari ini gadis itu menunggu di pantai. Menunggu apa aku tidak tahu akan tetapi ia seakan sudah siap. Rambut panjangnya yang dipadu summer dress berwarna putih tertiup oleh angin laut yang agak kencang. Sesekali topi putihnya bagaikan akan ikut terbawa angin, akan tetapi lengan putihnya yang telah dipoles sun cream dengan setia menahan posisi topinya, seakan menegaskan bahwa hanya disana topi itu seharusnya berada.

Sesekali buih ombak menyerbu kakinya yang jenjang, tetapi gadis itu tetap tidak peduli. Matanya sibuk menatap langit biru yang didominasi awan putih.

“Kau mencari apa?” Aku menyapanya, mendekati gadis itu.

“Sesuatu.” Gumamnya, terdengar sayup dikalahkan angin.

“Sesuatu apa?”

“Sesuatu yang berakhir hari ini. Aku harus menyaksikannya.”

Mata gadis itu tidak lepas dari langit, secara refleks akupun mengikuti perilakunya.

“Apakah itu sangat penting?” Aku tak dapat menyembunyikan rasa penasaranku. Gadis itu tidak menjawab tapi dari sudut mataku kulihat ia mengangguk.

“Apakah-”

“Itu dia!”

Sebuah pesawat terbang melintas pelan di langit yang biru. Jejak asapnya yang berwarna putih membentuk awan garis lurus dengan pesawat.

“Pesawat?”

Gadis itu mengangguk. Aku mengamati pesawat itu, rasanya tidak ada yang aneh.

“Pesawat itu sepertinya normal.”

Untuk pertama kalinya gadis itu mengalihkan pandangannya dari langit, menatapku secara dalam. Kurasakan bulu kudukku merinding.

“Percayakah kau kalau kukatakan dalam waktu lima belas detik pesawat itu akan meledak?”

Aku terpaku sesaat dan tertawa kecil. “Omong kosong. Itu mustahil-”

DUARRR!

Suara ledakan keras. Aku langsung memandang langit dimana pesawat itu seharusnya berada. Akan tetapi tidak ada pesawat apapun, hanya asap yang diikuti jejak awan pesawat.

“Dan percayakah kau kalau kukatakan lima detik lagi kau akan meninggal?”

Aku memandang gadis itu, mengernyit. Suara desing angin menyahut keras, bagaikan sesuatu yang melaju cepat. Saat aku hendak mencari apapun yang menimbulkan suara itu, saat itulah-

BUUGGH!

-semua gelap.


#Malam Narasi IOC Writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s