Bolehkah Aku Cinta Padamu?

Bahkan disaat rambutnya terurai berantakan, air matanya yang terus mengalir di pipi dan wajahnya yang pucat, ia masihlah seorang wanita yang menawan. Begitu indah.

“Bagaimana keadaanmu?” bisikku pelan, berusaha membuatnya nyaman. Akan tetapi wanita itu masih terus menunduk.

“Apa kau baik-baik saja?”

Perlahan ia mulai menaikkan pandangannya. Mula-mula ia enggan untuk menatapku, akan tetapi berikutnya ia menatapku dengan tajam. Air mata masih membasahi pipinya.

Ah, sungguh indah sekali. Dan aku hanya bisa menggigit jari. Memang benar kata orang, kau baru bisa menyadari hal yang berharga saat ia telah lepas dari genggamanmu. Dan untukku, ialah yang berharga bagiku.

“Apa kau-”

“Menurutmu apa saat ini aku terlihat baik-baik saja?”

Dan dia menatapku dengan tajam. Ah, tatapan itu sudah lama aku tak menerimanya. Terakhir ditatap tajam seperti itu olehnya mungkin saat kami masih kecil dulu, saat aku masih iseng menarik rambut panjang tebalnya. Rambut tebal, bergelombang yang panjang dan indah.

Andai kubisa menyentuhnya lagi.

“Kau akan baik-baik saja” ujarku dengan penuh keyakinan.

“Bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja?”

Aku mendesahkan napas berat. Sampai kapan akan seperti ini? Walau kuakui semua ini memang salahku. Karena aku tak sempat mengucapkannya. Tuhan telah berbaik hati memberikan kesempatan ini kepadaku dan tak akan kubiarkan kesempatan ini pergi begitu saja.

“Kau tahu sejak kecil aku mencintaimu.”

Ia tak bergerak, masih menunduk. Tapi aku tahu kalau ia mendengarkan.

“Aku tak tahan mendengarnya. Mendengarnya selalu membentakmu. Mendengar kalian selalu berteriak.”

Rasa emosi mulai muncul dari dalam diriku. Aku mencintainya, sejak kecil sangat mencintainya. Jika saja waktu itu aku tidak merasa ragu, tentu akulah yang berdiri di sisinya, sebagai suaminya.

“Itu bukan urusanmu,” isaknya. Ah, hatiku sakit mendengarnya. Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku.

“Itu urusanku”

“Dia suamiku!” Ia terus berkeras.

“Ia tidak akan memukulmu kalau benar mencintaimu,” suaraku pun tak kalah meninggi. Tapi ia malah menggeleng kuat.

“Suamiku tak pernah memukulku,”

“Maksudmu aku pernah memukulmu?!” Aku tersinggung luar biasa. Ia menggeleng.

“Kau tak pernah memukulku…tapi…” Matanya gelisah, menunduk.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Aku tak tahan melihatnya, terus membentakmu. Ia tak mencintaimu-”

“Kau salah. Ia mencintaiku,” tatapan matanya begitu tajam. Aku hanya mampu mengernyit tidak paham.

“Ia terus membentakmu”

Ia menangisi pria itu, suaminya. Yang saat ini terbaring tak bergerak di lantai. Noda merah pekat membasahi keramik yang putih.

“Memang begitulah caranya mencintaiku”

Aku tak paham.

“Terkadang, cintak tak selalu dibalut oleh gula-gula. Cinta juga mampu menjelma rasa pahit dan amarah.”

Suasana hening.


#Give Away Kiki

#Tengkar Rumah Seberang

A/N: Flashfic yang dibuat untuk Give Away Mbak Mumud. Harusnya maksimal 700 kata sih… tapi kurang dari itu boleh kan? :v lagian kayaknya kalau lebih diperpanjang kayaknya ceritanya bakal maksa. Jadi ya beginilah hasilnya….maksa beud :”

Pintu Sejarah

Adrian Putra frustasi.

Awalnya sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan arkelogi, Ia akan dikirimkan untuk magang di situs sejarah Kerajaan Majapahit di Trowulan. Akan tetapi semalam sebelum keberangkatan, Dosennya menelepon untuk perubahan rencana. Alih-alih Trowulan, Jawa Timur, Ia malah dikirim ke daerah Pakis Kulon. Kedua daerah itu memang sama-sama terletak di Jawa Timur akan tetapi sangat besar perbedaannya.

Daerah Trowulan dalam situs sejarah Kerajaan Majapahit merupakan daerah yang kaya akan peninggalan sejarah. Karena daerah Trowulan diperkirakan sebagai Ibukota Majapahit, maka dipastikan peninggalan sejarah tersebar di daerah itu, menunggu untuk ditemukan.

Sebaliknya Pakis Kulon, tidak ada catatan sejarah maupun arkeologi terdapat situs sejarah disitu. Satu-satunya peninggalan Majapahit hanyalah sketsa perkiraan bentuk kanal yang dibuat pada masa Majapahit yang berakhir di daerah itu. Itu pun hanya perkiraan. Sekali lagi, hanya perkiraan. Karena itulah Adrian merasa frustasi. Terperangkap dan tersia-sia, pikir pemuda itu.

###

Adrian sudah melumuri tubuhnya dengan obat nyamuk banyak-banyak, tapi seakan tidak ampuh mengusir kawanan nyamuk. Maklum, saat ini Adrian dan dosen pembimbingnya beserta tim arkelogis lainnya sedang menjelajahi hutan. Dosen dan anggota tim lainnya terlihat gembira, padahal mereka mengangkut banyak barang. Adrian tidak paham, mengapa mereka semua terlihat begitu senang padahal tidak ada yang pasti dengan apa yang akan mereka temukan disana.

“Justru karena kami tidak tahu pasti akan menemukan apa, makanya kami begitu bersemangat!” Begitulah seru mereka kalau di waktu senggang Adrian iseng bertanya.

Dosen pembimbing pun tidak mau kalah. “Dinikmati saja semua perjalanan ini, hitung-hitung sebagai pengalaman. Hasilnya memang penting, tapi sejarahnya tidak kalah penting!”

Dan baru kali ini Adrian melihat binar semangat di wajah sang dosen. Sebelumnya Adrian tidak pernah melihat dosennya sesemangat ini. Memang apa menariknya mencari sesuatu yang hanya berdasar humor?

Ralat.

Bukan menarik lagi, tapi sangat menarik. Adrian bahkan tidak bisa menutup mulutnya saat melihat hal itu. Berada jauh didalam hutan yang dihuni nyamuk ganas, pepohonan tinggi yang berumur tua beserta akar pohon raksasa yang merambat.

Pecahan candi itu ditutupi sulur pepohonan dan akar raksasa, memaksa tim arkelog untuk menebang akar dan sulur tersebut. Setelah tiga hari berkutat dengan kapak dan golok akhirnya pecahan candi itu menunjukkan jalan masuknya.

Adrian dan tim arkeologi lainnya berdecak kagum. Arca dan patung beserta peninggalan sejarah lainnya masih ada di tempatnya, bukti para perampok belum mencapai tempat tersebut. Dan itu bagus!

Adrian mengarahkan lampu senternya ke dinding -dinding candi, menatap pahatan arca yang berada di dalamnya. Akan tetapi semua itu terlalu membingungkan. Atas saran dosennya, Adrian mengambil foto setiap sudut candi tersebut. Belum terlihat adanya catatan historis yang ditinggalkan oleh kerajaan Majapahit, tapi itu bukan masalah. Candi ini benar-benar baru saja ditemukan, butuh banyak waktu untuk menyingkap rahasianya.

“Peninggalan sejarah itu bagaikan sebuah pintu. Kau tidak pernah tahu kemana pintu itu akan tersambung.”

Adrian mengangguk menyetujui.


#Malam Narasi OWOP
#Semua informasi arkeologi ini ngambil dari majalah National Geographic Indonesia. Sisanya saya ngasal :v

A/N: Gagal beuuddd… semuanya serba nyontek dari National Geographic. Majalah kesukaan saya tuh. Tapi lebih sering ngikut versi webnya, soalnya kalo langganan beli kagak punya duit :”v

Kandidat Pertama

Rules Gentleman No 3

You have two ears and one mouth for a reason


“Mengerikan… sungguh mengerikan.”

Primrose berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya dan mengernyitkan alis. Bahkan gadis itu berusaha sangat keras untuk tidak menghembuskan napas bosan.

“Nah Lady Primrose, saya mendapat kehormatan besar diperbolehkan untuk bertemu dengan anda. Sudah sejak lama saya ingin bertemu dengan Anda. Tapi mengingat, ah, kasus mengerikan itu saya rasa saya tidak boleh egois bukan?”

Primrose MASIH berusaha tidak memutar bola matanya. Duh Tuan Muda, memangnya anda tidak merasa pertemuan ini berkat keegoisan anda? Kurang lebih begitulah jerit hati Primrose.

Duke Arthur William Percival Harford. Salah satu dari tiga bangsawan muda yang memaksa untuk bertemu dengan Primrose.

Secara fisik sebenarnya Duke William bisa dikatakan lumayan tampan. Apalagi dari segi harta dan jabatan, tentu tidak perlu ditanyakan lagi. Hanya saja Primrose punya alasan kuat untuk tidak menyukai Duke muda satu itu. Dan alasannya adalah-

“Mengerikan… sungguh mengerikan bukan?”

Ingin sekali Primrose lari ke dinding terdekat dan menjedutkan kepalanya berulang kali. Kalau kau hanya tertarik pada penampilan luar yang menarik, mungkin Duke William bisa masuk dalam pertimbangan. Tapi untuk menjadi teman berbincang? Well, sebaiknya anda pikir-pikir terlebih dahulu.

Batuk kecil terdengar, menyadarkan imaginasi Primrose- yang berimaginasi menjedutkan kepalanya di dinding. Sang Kepala Pelayan memberi isyarat agar Primrose mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang diceritakan oleh Sang Duke muda.

Primrose mengeluh dalam hati. Ayolah, saat ini gadis itu benar-benar merasa bosan. Ia butuh teman bicara yang menyenangkan, bukan seorang Duke yang membosankan!

“Mengerikan… sungguh mengerikan. Kasus penculikan itu sangat mengerikan. Untunglah anda tidak terluka Milady.”

Primrose hanya bisa mengangguk pasrah. Yah, memangnya apalagi yang bisa dia lakukan?

“Mungkin anda bisa menceritakan pengalaman anda saat diculik oleh pencuri itu Lady?”

Primrose baru saja membuka mulut, hendak membantah bahwa Gentlemen Thief yang menculiknya.

“-ah tidak…. tidak. Itu mengerikan, sangat mengerikan. Walau tentu saja saya sangat penasaran dengan cerita anda.”

Primrose benar-benar merasa malas sekarang. Ia ingin pertemuan ini berakhir secepatnya.

“Tapi tentu saja. Bagaimana kalau kita bertemu lagi lain waktu? Dan anda bisa menceritakan pengalaman anda.”

Primrose membelalakkan matanya, bertemu lagi dengan Duke William? Pasti akan sangat mengerikan. Memikirkannya saja Primrose sudah bergidik ketakutan.

“Baiklah, saya rasa saya akan pamit sekarang. Tidak baik bagi saya untuk mengambil waktu anda terlalu banyak bukan? Sampai jumpa lagi Milady Primrose.”

Duke William mengecup punggung tangan Primrose dan kemudian menghilang dari pandangan. Primrose memastikan Duke William sudah tidak terlihat lagi dan akhirnya mengelap tangannya yang dikecup Duke William ke bagian belakang gaunnya.

“Jadi bagaimana kesan anda terhadap Duke William, Lady Primrose?” Pertanyaan konyol sebenarnya, tetapi Kepala Pelayan merasa harus menanyakannya.

Primrose menggeleng-geleng, “Mengerikan… sungguh mengerikan.”

#I Must Write Something

A/N: Yahh…… mengerikan… sungguh mengerikan XD

Sejarah Terulang

“Brusssh!”

Dan sejarah kembali terulang. Cairan berwarna karat-yang terkenal dengan nama Teh itu tersembur telak ke muka. Sang pelayan boleh bernapas lega, karena korban semburan teh itu bukan dirinya, melainkan Mr. Kirkland. Yang mengejutkan, pelaku semburan itu tak lain adalah Lady Primrose, putri Mr. Kirkland.

Sang Butler mengernyitkan alisnya. Berjanji pada diri sendiri untuk mengatur jadwal temu antara Dokter Gigi dengan keluarga Kirkland- yang entah kenapa akhir-akhir ini gemar sekali menyemburkan teh. Mungkin ada masalah pada engsel rahang mereka, Sang Butler sok berspekulasi dalam hati.

“Bisa ayah ulangi?”

-dan mungkin sekalian Dokter THT, sang Butler menambahkan dalam hati.

“Kukatakan tadi ada tiga bangsawan muda yang hendak bertemu denganmu, sayangku. Apa perlu kuulangi?” Mr. Kirkland mengelap wajah dan kemejanya dengan serbet. Menyayangkan basahan teh yang akan meninggalkan noda bercak di kemeja putihnya.

“Ti- tidak perlu. Tapi kenapa tiba-tiba sekali?” Primrose tergagap.

“Sayangku, kau tahu aku juga tak mau melepasmu selain kepada pria yang pantas. Tetapi tiga pemuda ini sangat memaksa, padahal aku sudah menakut-nakuti mereka. Tetapi mereka sangat mendesak.”

Primrose menyenderkan punggungnya, mendesahkan napas berat. Tangannya memijit pelipisnya, wajahnya terlihat stress berat. Tak dipedulikannya suara ocehan ayahnya yang bagaikan suara sumbang pianika dalam orkestra yang teratur.

“… dan Duke William sangat memaksa untuk bertemu-“

“Duke William?!” Primrose tersadar dari lamunannya. Mr. Kirkland tergagap melihat kekagetan putrinya.

“Tapi ayah, kau tahu kan? Duke William itu sangat…. Sangat…” Primrose berusaha menemukan kata yang pantas untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Mengerikan?” Pancing Mr. Kirkland.

“Mengerikan.” Primrose menyetujui pilihan kata ayahnya. “Tunggu! Ayah setuju kalau Duke William mengerikan tapi Ayah masih menerimanya?!”

“Sayangku, kau tahu dia sangat pemaksa.”

“Dan aku memaksa Ayah untuk membatalkan semua pertemuan itu!” Primrose menatap tajam Ayahnya, yang ditatap hanya bisa duduk gelisah.

Primrose menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, Kepala Pelayan mendengus tidak setuju tetapi Primrose tidak peduli. Duduk bersender pada punggung kursi merupakan hal yang tidak sopan bagi seorang Lady, tapi Primrose terlalu stress untuk memikirkan hal itu.

Ahh…aroma teh yang hangat mulai memenuhi indera penciuman Primrose, menciptakan suasana rileks dan tenang. Tak didengarkan ocehan Ayahnya yang tiada berakhir. Primrose mendekatkan cangkir teh miliknya, mencecap cairan hangat itu.

“… lagipula tidak terlalu mengerikan kukira. Mereka hanya akan mengajukan proposal pernikahan-“

“Brusssh!”

Detik berikutnya, Sang Butler berjanji dalam hati akan mendatangkan Dokter Gigi sore ini ke kediaman Kirkland.


A/N: Well, harusnya sih cerita ini settingannya sebelum cerita yang judulnya #Lagi?! tapi waktu itu belom kepikiran. Jadi, kenapa Primrose kabur dari rumah itu ya karena ini… karena mau dijodohin :v

#Lagi?!

“Lady Primrose hilang!”

Dan sejarah kembali terulang. Mr. Kirkland yang hendak menyeruput tehnya terpaksa menyemburkan cairan itu secara telak ke wajah pelayan.

Meraih serbet, berlari sambil menyeka mulutnya secara tergesa, ayah malang itu tiba di kamar putrinya. Pintu kamar putrinya dipadati para pelayan yang langsung memberi jalan. Seorang pelayan muda berwajah panik ditemani seorang pelayan wanita setengah baya – Kepala pelayan yang berusaha menenangkan. Saat Mr. Kirkland memasuki kamar suasana langsung terasa tegang, khusus untuk pelayan muda tampak ketakutan.

Sang pelayan muda tergagap. “Mr. Kirkland… saya tidak paham…saya-“

Kepala Pelayan langsung mengangsurkan sehelai kertas yang diterima secara bingung oleh Mr. Kirkland. Hanya tertulis sebaris pesan.

‘Salahkan Phantom Thief.’

“Lagi?!”

###

Lady Primrose Kirkland berdiri menggigil, uap putih keluar dari mulutnya. Sesekali gadis itu menggosokkan kedua tangan dan meniupnya, berusaha mendapatkan kehangatan.

Langit sangat jernih malam ini, menyisakan dingin yang menggigit, serpihan salju turun perlahan. Primrose memandang langit, bintang bersinar indah malam ini. Sayang tidak ada rembulan, akan tetapi tidak mengurangi indahnya malam.

Perlahan Primrose mulai menyesali keputusannya untuk datang kesini. Sendiri. Gadis itu merapatkan mantelnya, mulai berpikir apa yang harus ia lakukan.

Milady, bukankah sudah cukup semua permainan ini?”

Suara lembut yang lama ditunggu. Primrose memutar tubuhnya dan mendapati sesosok pria yang telah lama ia tunggu. Gentleman Thief dengan setelan tuksedo hitamnya, menyentuh tepi topi tinggi miliknya, membungkuk hormat kepada Primrose.

Primrose tersenyum, akhirnya yang ditunggu tiba juga.

“Kita akan pulang, Milady.” Gentleman Thief mengulurkan tangannya yang tanpa ragu disambut oleh Primrose. Kedua muda mudi itu saling berpandangan.

“Mr. Gentleman Thief, saya tidak mau pulang.”

Primrose menatap Gentleman Thief secara serius. Lebih serius dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu.

“Bawalah aku pergi.”

Gentleman Thief mendesahkan napas dengan elegan.

“Lagi?!”

###

#IOC Writing Challenge

A/N: Setelah sekian lama akhirnya nulis lagi mengenai Gentleman Thief. Kangen juga sama karakter ini. XD

[Fanfic] Sahur Pertama di Hogwarts

Harry Potter mengerjapkan matanya sementara Ron Weasley menguap, mereka masih mengenakan piyama. Hari ini adalah hari pertama puasa di Hogwarts. Semalam sebelumnya mereka semua telah melakukan Shalat Tarawih yang dipimpin Profesor Dumbledore, yang mengumumkan bahwa makan sahur akan dilaksanakan di aula besar dari pukul tiga pagi hingga satu menit sebelum azan Subuh.

Aula besar sudah cukup ramai, para profesor duduk di kursi tinggi, menyantap sahur masing-masing. Para murid tidak berisik seperti biasa yang mereka lakukan di jam makan. Mereka memilih berbisik-bisik -masih mengantuk, yang sesekali ditingkahi denting garpu atau pisau.

“Hermione, kapan kau di- di-” ucapan Ron terpotong kuap kantuk. Hermione mengernyit sedikit.

“Hermione! Jangan katakan kau tidak tidur semalaman!” Harry memperhatikan bawah mata Hermione yang menghitam.

“Jangan konyol Harry! Tentu saja aku tidak terjaga sepanjang malam!” Hermione menarik gelas berisi es teh miliknya dan meneguk cepat.

“Hermione! Kupikir kau tahu bahwa tidak baik untuk minum minuman dingin di sahur begini!” Ron menatap Hermione tak percaya, roti bakarnya tergeletak terlupakan. Harry juga menatapnya, tangannya terjulur meraih bubur hangat dan berusaha meneguk teh manis hangat miliknya sendiri.

“Oh Ron! Apa urusanmu sih kalau aku minum es di saat sahur begini?”

“Apa yang kau makan? Bubur?” Harry menatap piring Hermione yang telah kosong, berusaha melerai agar tidak terjadi perdebatan.

“Es teh dan roti bakar.” Harry mengernyit sementara Ron ternganga tidak percaya.

“Ya, Harry?”

“Hermione, kau Ok?”

“Omong kosong, tentu aku baik-baik saja.”

“Er…Hermione, apa kau sedang berpuasa sekaligus diet?” Kentara sekali Ron bertanya takut-takut. Akhir-akhir ini Hermione cenderung selalu meledak jika berkaitan dengan masalah berat badan dan diet. Akan tetapi Hermione sudah melempar tatapan tajam.

“Well Hermione, kalau kau tidak mau makan banyak bisa kusarankan kau minum dan makan sahur ditambah sedikit buah kurma.”

Hermione dan Ron menatap Harry dengan serius.

“Itulah yang dilakukan keluarga Dursley padaku. Lagipula buah kurma itu lumayan kok. Memang kecil tapi kau seakan punya tenaga ekstra untuk menjalani hari puasamu.” Harry mendorong mangkuk buburnya yang sudah kosong dan meraih beberapa butir kurma.

Ia memakan semua kurma itu, mengeluarkan biji kurma dan meneguk air untuk membersihkan mulutnya. Harry menatap mereka berdua dan hanya mengangkat bahu.

Hermione meraih kurma dan mencicipinya, terasa manis. “Rasanya manis. Tentu saja, rasa manis akan memberi tenaga bagi tubuh.”

“Dan masih banyak lagi manfaat buah kurma, hanya saja aku-“

“Kurasa lebih baik aku mencarinya di perpustakaan.” Hermione langsung bangkit dan berlari tergesa.

“Oi! Ya ampun! Ciri khas Hermione, langsung ke perpustakaan.” Ron berusaha meraih buah kurma akan tetapi tiba-tiba saja semua makanan menghilang dari meja.

“Waktu sahur telah selesai. Silahkan kalian kembali ke asrama untuk bersiap-siap melaksanakan Shalat Subuh.”

Ron memasang wajah ngeri. “Aku belum sahur!”

Harry hanya bisa memasang wajah kasihan.


A/N: Dari dulu pingin banget bisa nulis Harry Potter versi puasa, untung momennya pas. Selamat menunaikan Ibadah Puasa~

Robert Galbraith: Dekut Burung Kukuk

“Apakah lebih mudah pada kali kedua?” – Cormoran Strike pada Pelaku.


Judul Asli: The Cuckoo’s Calling

Judul Buku Terjemahan: Dekut Burung Kukuk

Pengarang: Robert Galbraith

Alih Bahasa: Siska Yuanita dan M. Aan Manyur

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit Beserta Cetakannya: Cetakan Ketiga, Febuari 2014

Dimensi Buku: 520 halaman; 23 cm

Harga Buku: Rp 99.500 (11 Mei 2016)


Novel Dekut Burung Kukuk menceritakan karakter bernama Cormoran Strike, seorang pensiunan militer yang dipulangkan dari medan perang karena menderita fisik. Untuk menghidupi dirinya, ia membuka kantor detektif partikelir, berbekal pengalamannya selama militer sebagai Divisi Cabang Khusus, divisi militer yang bertugas melaksanakan investigasi bila terjadi kasus kejahatan dalam tubuh militer.

Tidak hanya mengalami luka fisik, Strike juga mengalami luka psikis yang berasal dari latar belakang keluarganya dan juga kehidupan romantismenya. Dalam keadaan yang benar-benar buruk dan bangkrut, Strike menerima investigasi sebuah kasus mahal dimana seorang Supermodel ditemukan meninggal dalam keadaan tidak wajar. Dimulailah kisah investigasi Cormoran Strike, ditemani asistennya yang memang bercita-cita ingin menjadi seorang detektif Robin Ellacott, untuk mengungkap rahasia kematian sang Supermodel yang tidak wajar.

Robert Galbraith adalah nama pena untuk J.K. Rowling, penulis terkenal dalam seri Harry Potter. Akan tetapi jangan mengharapkan novel ini akan sama menariknya dengan Harry Potter, karena itu akan membuat kecewa bagi pembaca yang hanya sekedar mengejar kesuksesan J.K. Rowling. Cuckoo’s Calling ini bercerita mengenai kisah yang lain. Alur dan gaya bahasa yang digunakan juga sangat berbeda dengan seri Harry Potter. Dalam novel ini, gaya bahasa dan alur yang digunakan memiliki rating yang dewasa dikarenakan banyaknya kata-kata makian, penggambaran yang sensual mengenai seks bebas serta deskripsi sadis pembunuhan yang banyak bertebaran dalam cerita ini.

Bagi para penggemar kisah Detektif, menurut saya novel ini layak diikuti karena novel ini menggambarkan sistem metodis bagaimana tokoh detektif melakukan investigasinya. Selain itu digambarkan juga dengan jelas bagaimana sulitnya melakukan investigasi dan wawancara dan betapa setiap keadaan tidak selalu berpihak kepada sang detektif.

Buku ini layak dibaca oleh pembaca dewasa yang memang menggemari kisah detektif, meskipun bagi mereka yang mengejar J.K. Rowling pun layak mengonsumsi buku ini. Hanya perlu ditekankan bahwa buku ini ditulis Roberth Galbraith, bukan J.K. Rowling.