Pintu Sejarah

Adrian Putra frustasi.

Awalnya sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan arkelogi, Ia akan dikirimkan untuk magang di situs sejarah Kerajaan Majapahit di Trowulan. Akan tetapi semalam sebelum keberangkatan, Dosennya menelepon untuk perubahan rencana. Alih-alih Trowulan, Jawa Timur, Ia malah dikirim ke daerah Pakis Kulon. Kedua daerah itu memang sama-sama terletak di Jawa Timur akan tetapi sangat besar perbedaannya.

Daerah Trowulan dalam situs sejarah Kerajaan Majapahit merupakan daerah yang kaya akan peninggalan sejarah. Karena daerah Trowulan diperkirakan sebagai Ibukota Majapahit, maka dipastikan peninggalan sejarah tersebar di daerah itu, menunggu untuk ditemukan.

Sebaliknya Pakis Kulon, tidak ada catatan sejarah maupun arkeologi terdapat situs sejarah disitu. Satu-satunya peninggalan Majapahit hanyalah sketsa perkiraan bentuk kanal yang dibuat pada masa Majapahit yang berakhir di daerah itu. Itu pun hanya perkiraan. Sekali lagi, hanya perkiraan. Karena itulah Adrian merasa frustasi. Terperangkap dan tersia-sia, pikir pemuda itu.

###

Adrian sudah melumuri tubuhnya dengan obat nyamuk banyak-banyak, tapi seakan tidak ampuh mengusir kawanan nyamuk. Maklum, saat ini Adrian dan dosen pembimbingnya beserta tim arkelogis lainnya sedang menjelajahi hutan. Dosen dan anggota tim lainnya terlihat gembira, padahal mereka mengangkut banyak barang. Adrian tidak paham, mengapa mereka semua terlihat begitu senang padahal tidak ada yang pasti dengan apa yang akan mereka temukan disana.

“Justru karena kami tidak tahu pasti akan menemukan apa, makanya kami begitu bersemangat!” Begitulah seru mereka kalau di waktu senggang Adrian iseng bertanya.

Dosen pembimbing pun tidak mau kalah. “Dinikmati saja semua perjalanan ini, hitung-hitung sebagai pengalaman. Hasilnya memang penting, tapi sejarahnya tidak kalah penting!”

Dan baru kali ini Adrian melihat binar semangat di wajah sang dosen. Sebelumnya Adrian tidak pernah melihat dosennya sesemangat ini. Memang apa menariknya mencari sesuatu yang hanya berdasar humor?

Ralat.

Bukan menarik lagi, tapi sangat menarik. Adrian bahkan tidak bisa menutup mulutnya saat melihat hal itu. Berada jauh didalam hutan yang dihuni nyamuk ganas, pepohonan tinggi yang berumur tua beserta akar pohon raksasa yang merambat.

Pecahan candi itu ditutupi sulur pepohonan dan akar raksasa, memaksa tim arkelog untuk menebang akar dan sulur tersebut. Setelah tiga hari berkutat dengan kapak dan golok akhirnya pecahan candi itu menunjukkan jalan masuknya.

Adrian dan tim arkeologi lainnya berdecak kagum. Arca dan patung beserta peninggalan sejarah lainnya masih ada di tempatnya, bukti para perampok belum mencapai tempat tersebut. Dan itu bagus!

Adrian mengarahkan lampu senternya ke dinding -dinding candi, menatap pahatan arca yang berada di dalamnya. Akan tetapi semua itu terlalu membingungkan. Atas saran dosennya, Adrian mengambil foto setiap sudut candi tersebut. Belum terlihat adanya catatan historis yang ditinggalkan oleh kerajaan Majapahit, tapi itu bukan masalah. Candi ini benar-benar baru saja ditemukan, butuh banyak waktu untuk menyingkap rahasianya.

“Peninggalan sejarah itu bagaikan sebuah pintu. Kau tidak pernah tahu kemana pintu itu akan tersambung.”

Adrian mengangguk menyetujui.


#Malam Narasi OWOP
#Semua informasi arkeologi ini ngambil dari majalah National Geographic Indonesia. Sisanya saya ngasal :v

A/N: Gagal beuuddd… semuanya serba nyontek dari National Geographic. Majalah kesukaan saya tuh. Tapi lebih sering ngikut versi webnya, soalnya kalo langganan beli kagak punya duit :”v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s