Sejarah Terulang

“Brusssh!”

Dan sejarah kembali terulang. Cairan berwarna karat-yang terkenal dengan nama Teh itu tersembur telak ke muka. Sang pelayan boleh bernapas lega, karena korban semburan teh itu bukan dirinya, melainkan Mr. Kirkland. Yang mengejutkan, pelaku semburan itu tak lain adalah Lady Primrose, putri Mr. Kirkland.

Sang Butler mengernyitkan alisnya. Berjanji pada diri sendiri untuk mengatur jadwal temu antara Dokter Gigi dengan keluarga Kirkland- yang entah kenapa akhir-akhir ini gemar sekali menyemburkan teh. Mungkin ada masalah pada engsel rahang mereka, Sang Butler sok berspekulasi dalam hati.

“Bisa ayah ulangi?”

-dan mungkin sekalian Dokter THT, sang Butler menambahkan dalam hati.

“Kukatakan tadi ada tiga bangsawan muda yang hendak bertemu denganmu, sayangku. Apa perlu kuulangi?” Mr. Kirkland mengelap wajah dan kemejanya dengan serbet. Menyayangkan basahan teh yang akan meninggalkan noda bercak di kemeja putihnya.

“Ti- tidak perlu. Tapi kenapa tiba-tiba sekali?” Primrose tergagap.

“Sayangku, kau tahu aku juga tak mau melepasmu selain kepada pria yang pantas. Tetapi tiga pemuda ini sangat memaksa, padahal aku sudah menakut-nakuti mereka. Tetapi mereka sangat mendesak.”

Primrose menyenderkan punggungnya, mendesahkan napas berat. Tangannya memijit pelipisnya, wajahnya terlihat stress berat. Tak dipedulikannya suara ocehan ayahnya yang bagaikan suara sumbang pianika dalam orkestra yang teratur.

“… dan Duke William sangat memaksa untuk bertemu-“

“Duke William?!” Primrose tersadar dari lamunannya. Mr. Kirkland tergagap melihat kekagetan putrinya.

“Tapi ayah, kau tahu kan? Duke William itu sangat…. Sangat…” Primrose berusaha menemukan kata yang pantas untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Mengerikan?” Pancing Mr. Kirkland.

“Mengerikan.” Primrose menyetujui pilihan kata ayahnya. “Tunggu! Ayah setuju kalau Duke William mengerikan tapi Ayah masih menerimanya?!”

“Sayangku, kau tahu dia sangat pemaksa.”

“Dan aku memaksa Ayah untuk membatalkan semua pertemuan itu!” Primrose menatap tajam Ayahnya, yang ditatap hanya bisa duduk gelisah.

Primrose menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, Kepala Pelayan mendengus tidak setuju tetapi Primrose tidak peduli. Duduk bersender pada punggung kursi merupakan hal yang tidak sopan bagi seorang Lady, tapi Primrose terlalu stress untuk memikirkan hal itu.

Ahh…aroma teh yang hangat mulai memenuhi indera penciuman Primrose, menciptakan suasana rileks dan tenang. Tak didengarkan ocehan Ayahnya yang tiada berakhir. Primrose mendekatkan cangkir teh miliknya, mencecap cairan hangat itu.

“… lagipula tidak terlalu mengerikan kukira. Mereka hanya akan mengajukan proposal pernikahan-“

“Brusssh!”

Detik berikutnya, Sang Butler berjanji dalam hati akan mendatangkan Dokter Gigi sore ini ke kediaman Kirkland.


A/N: Well, harusnya sih cerita ini settingannya sebelum cerita yang judulnya #Lagi?! tapi waktu itu belom kepikiran. Jadi, kenapa Primrose kabur dari rumah itu ya karena ini… karena mau dijodohin :v
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s