Bolehkah Aku Cinta Padamu?

Bahkan disaat rambutnya terurai berantakan, air matanya yang terus mengalir di pipi dan wajahnya yang pucat, ia masihlah seorang wanita yang menawan. Begitu indah.

“Bagaimana keadaanmu?” bisikku pelan, berusaha membuatnya nyaman. Akan tetapi wanita itu masih terus menunduk.

“Apa kau baik-baik saja?”

Perlahan ia mulai menaikkan pandangannya. Mula-mula ia enggan untuk menatapku, akan tetapi berikutnya ia menatapku dengan tajam. Air mata masih membasahi pipinya.

Ah, sungguh indah sekali. Dan aku hanya bisa menggigit jari. Memang benar kata orang, kau baru bisa menyadari hal yang berharga saat ia telah lepas dari genggamanmu. Dan untukku, ialah yang berharga bagiku.

“Apa kau-”

“Menurutmu apa saat ini aku terlihat baik-baik saja?”

Dan dia menatapku dengan tajam. Ah, tatapan itu sudah lama aku tak menerimanya. Terakhir ditatap tajam seperti itu olehnya mungkin saat kami masih kecil dulu, saat aku masih iseng menarik rambut panjang tebalnya. Rambut tebal, bergelombang yang panjang dan indah.

Andai kubisa menyentuhnya lagi.

“Kau akan baik-baik saja” ujarku dengan penuh keyakinan.

“Bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja?”

Aku mendesahkan napas berat. Sampai kapan akan seperti ini? Walau kuakui semua ini memang salahku. Karena aku tak sempat mengucapkannya. Tuhan telah berbaik hati memberikan kesempatan ini kepadaku dan tak akan kubiarkan kesempatan ini pergi begitu saja.

“Kau tahu sejak kecil aku mencintaimu.”

Ia tak bergerak, masih menunduk. Tapi aku tahu kalau ia mendengarkan.

“Aku tak tahan mendengarnya. Mendengarnya selalu membentakmu. Mendengar kalian selalu berteriak.”

Rasa emosi mulai muncul dari dalam diriku. Aku mencintainya, sejak kecil sangat mencintainya. Jika saja waktu itu aku tidak merasa ragu, tentu akulah yang berdiri di sisinya, sebagai suaminya.

“Itu bukan urusanmu,” isaknya. Ah, hatiku sakit mendengarnya. Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku.

“Itu urusanku”

“Dia suamiku!” Ia terus berkeras.

“Ia tidak akan memukulmu kalau benar mencintaimu,” suaraku pun tak kalah meninggi. Tapi ia malah menggeleng kuat.

“Suamiku tak pernah memukulku,”

“Maksudmu aku pernah memukulmu?!” Aku tersinggung luar biasa. Ia menggeleng.

“Kau tak pernah memukulku…tapi…” Matanya gelisah, menunduk.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Aku tak tahan melihatnya, terus membentakmu. Ia tak mencintaimu-”

“Kau salah. Ia mencintaiku,” tatapan matanya begitu tajam. Aku hanya mampu mengernyit tidak paham.

“Ia terus membentakmu”

Ia menangisi pria itu, suaminya. Yang saat ini terbaring tak bergerak di lantai. Noda merah pekat membasahi keramik yang putih.

“Memang begitulah caranya mencintaiku”

Aku tak paham.

“Terkadang, cintak tak selalu dibalut oleh gula-gula. Cinta juga mampu menjelma rasa pahit dan amarah.”

Suasana hening.


#Give Away Kiki

#Tengkar Rumah Seberang

A/N: Flashfic yang dibuat untuk Give Away Mbak Mumud. Harusnya maksimal 700 kata sih… tapi kurang dari itu boleh kan? :v lagian kayaknya kalau lebih diperpanjang kayaknya ceritanya bakal maksa. Jadi ya beginilah hasilnya….maksa beud :”

Advertisements

One thought on “Bolehkah Aku Cinta Padamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s