Air

“Ayah, buku ini aneh deh,”

Aku menghentikan pekerjaanku dan menoleh kepda putriku. Ia sedang duduk di puing-puing dan aku bekernyit, “Sayang, jangan duduk disana!”

“Tapi ayah, buku ini beneran aneh!”

Aku menghela napas dan mengampiri putriku. Sebelumnya aku  memastikan putriku itu tidak menduduki paku, kawat besi atau yang lainnya. Kulihat selintas putraku sedang bermain dengan puing yang berbentuk aneh. Bibirnya menggumamkan bunyi brrr…brrr.. dan puing itu diterbangkan layaknya pesawat.

“Apa yang aneh, sayang?”

Putriku menunjuk satu baris kalimat dari satu buku cerita yang ditemukannya. Hmm… aku tidak ingat pernah membeli buku ini untuk putriku.

“Lihat deh Ayah, bukunya salah. Masa disini dibilang air sungai itu warnanya bening. Lucu ya?”

Aku mendesah, tentu saja putriku tidak tahu. Putri kecilku ini baru berumur lima tahun.

“Dulu air sungai memang warnanya bening, sayang,”

“Ayah bohong!”

“Memangnya ayah pernah bohong?”

Putriku merengut bingung, “Enggak pernah sih. Tapi aku selalu lihat air sungai sama air laut warnanya merah. Eh, kecuali air hujan deh, warnanya bening,”

Aku kembali mendesah. “Dulu air sungai, air laut dan air hujan semuanya berwarna bening, sayang,”

“Kok bisa berubah warna sih airnya, yah?” Putriku mulai menunjukkan binar semangat. Sekilas kulirik putraku yang masih bermain di sudut ruangan. Sepertinya ia menyerah bermain pesawat-pesawatan dan mulai mengutip beberapa puing berukuran kecil.

Hah, aku harus bilang apa kepada putri kecilku ini? Warna air di permukaan bumi berubah dari bening menjadi merah sejak tujuh tahun yang lalu. Peperangan yang terus terjadi berpuluh tahun, yang kuat menindas yang lemah, pemimpin yang zhalim, bahkan aku tidak mampu lagi mengucapkan kealphaan manusia yang sepertinya telah melupakan Tuhan. Tiba-tiba saja, tanpa peringatan semua air di muka bumi ini berubah menjadi warna merah sepekat darah.

Kami tak mampu lagi memanfaatkan air sebagaimana mestinya. Jika meminum air merah itu, bisa dipastikan pasti akan langsung jatuh sakit. Jika digunakan untuk mencuci bisa dipastikan akan merusak barang tersebut, tidak peduli barang tersebut terbuat dari logam maupun kayu.

Kami hanya bisa memanfaatkan air hujan, menampung mereka sebanyak mungkin untuk digunakan sebagai minum dan wudhu.  Hanya sebagai minum dan wudhu saja karena kami tidak bisa memboroskan air. Hujan hanya turun sebulan sekali – Allah menunjukkan kuasaNYA – dan kami tidak bisa memboroskan air untuk hal-hal yang tidak penting. Bahkan untuk mandi kami harus menunggu hujan turun terlebih dahulu. Membiarkan rintik hujan membersihkan diri kami sembari menampung air maupun melakukan hal lain untuk memanfaatkan hujan. Kami tidak bisa memanfaatkan air hujan yang telah terjatuh ke bumi, karena entah bagaimana air hujan yang menyentuh bumi langsung berubah menjadi merah.

Putriku menarik bajuku, menyadarkanku dari lamunanku. “Ayo ayah, kenapa air jadi berubah warnanya?” rengek putri kecilku itu.

Aku hanya tersenyum dan mulai menggendongnya, “Allah ingin kita terus mengingatNYA, makanya Allah merubah warna air dari bening menjadi merah,” kucium pipi putriku. Putriku terkikik.

“Allah baik ya ayah. Mungkin Allah ganti warna air supaya kita enggak bosan,” celetuk putriku. Aku hanya tersenyum sambil menghampiri putraku.

Tiba-tiba saja kilat menggelegar disusul bunyi guruh. Langit tampak mendung, sepertinya hujan akan turun.

“Ayo sayang kita pulang, sebentar lagi mau hujan,”

Putriku mengangguk semangat sementara putra kecilku masih menatap semangat puing-puing berbentuk aneh. Kugendong putraku itu dan kugandeng putriku, berhati-hati agar tidak tersandung puing-puing runtug bangunan.

“Aku mau mandi. Allah tahu aja kalau badanku udah gatel, ya Ayah!”

Aku hanya bisa tersenyum miris.


A/N: Ini apaaannnnnn???? dibuat dalam keadaan ngantuk, mana temanya sedih banget. Stress deh nulisnya, gaje beud :V Malam Narasi OWOP emang suka sesuatu banget kalo ngasih tema

Advertisements

Tiga Peraturan Penting

IMG-20160822-WA0000

A/N: Challenge bulan Agustus yang temanya ditentukan oleh Mbak Tara buat member IOC Writing. Ngidol bener~ untuk entry bulan ini dariku adalah pilihan gambar nomor 3 dengan pilihan genre mystery ya~ Tapi misterinya gak nyampe~ maafkan hamba. Happy Reading.


Ada tiga peraturan yang harus diikuti jika ingin bertahan hidup di dunia sepertiku. Peraturan pertama, kau tidak boleh membantah perintah atasan dan klienmu. Kedua, kau harus selalu tersembunyi. Dan yang ketiga untuk tidak pernah jatuh cinta.

.

.

Mataku mengintip melalui teropong jarak jauh. Seperti biasa, di waktu yang sama seperti biasanya, gadis itu sedang berjalan pulang. Seorang diri. Di wajahnya terpasang seulas senyum yang cantik. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat terurai oleh hembusan angin kecil. Gadis itu sedang berjalan di depan apartemennya.

Nah, kalau pengamatanku benar, setelah ini ia akan mengecek kotak pos apartemennya. Aku kembali mengintip lewat teropong. Ya, benar! Gadis itu sedang mengintip kotak posnya. Sepertinya ia tidak mendapatkan kiriman apapun karena sesaat gadis itu mengintip ia langsung menutup kembali kotak pos tersebut. Gadis itu kembali melangkah, melanjutkan berjalan lurus. Sampai disini aku tak mampu melihatnya lagi melalui teropongku, terhalang oleh bangunan.

Aku membetulkan posisiku saat ini, tubuhku terasa kaku. Perlahan aku menggerakkan tubuhku, mencoba menghilangkan rasa kaku di punggung. Setelah melakukan pemanasan selama beberapa menit singkat aku memasang teropongku ke arah kamar tertentu. Ya, kamar gadis itu. Kulihat gadis itu sedang menarik gorden apartemennya, membiarkan sinar matahari senja memasuki ruang apartemennya.

Ruang apartemen gadis itu berada di lantai tinggi sehingga bisa mencegah penjahat memanjat dari lantai bawah. Sementara gedung lain yang berada di sekelilingnya berjarak cukup jauh agar antar gedung tidak bisa mengintip gedung lain.

Aku kembali menggerakkan tubuhku yang kaku. Kalau jadwal gadis itu tidak berubah, harusnya saat ini ia sedang bersiap-siap melakukan aktivitas sorenya: mandi, memasak makan malam dan bersantai. Leherku benar-benar terasa kaku lalu meletakkan teropongku ke meja terdekat. Jam dinding menunjukkan angka enam, kurasa aku harus jalan-jalan sore untuk membeli makan malam.

.

.

Aku baru saja pulang dari berjalan-jalan sore, di tanganku terdapat dua kotak pizza berukuran sedang. Yah, kuputuskan untuk makan pizza malam ini. Aku sedang bersenandung pelan, melangkah menuju kamar apartemenku saat mataku melihat sebuah pot bunga mawar di depan kamarku. Bunga mawar berwarna hitam. Aku menatap bunga mawar itu dengan hampa, mendesah pelan.

Segera aku masuk ke kamar apartemen, meletakkan kotak pizza itu di meja dapur terdekat dan segera pergi lagi. Bunga mawar hitam itu adalah sebuah peringatan. Tanpa membuang waktu lagi aku segera pergi menuju satu arah, menuju stasiun kereta api terdekat.

Sore seperti ini dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang pulang dari kegiatannya, entah itu pulang kerja atau pulang sekolah. Aku memandangi semua kegiatan itu dengan datar, aku paling benci pergi ke stasiun kereta di sore hari. Sesampainya di stasiun aku melangkah menuju loker penitipan, mengeluarkan satu keping uang seratus dan memasukkannya di loker tertentu. Pintu loker itu terbuka, menampilkan sebuah map berwarna terang didalamnya. Tanpa ragu aku segera meraih map itu dan menutup pintu loker, kini loker itu kembali terkunci.

Tanpa menoleh aku segera berjalan keluar dari stasiun, sesekali membalik lembar kertas dalam map itu. Hanya terdiri dari beberapa lembar kertas disertai sebuah foto ukuran sedang.

.

.

Malam ini aku mengenakan jaket hitam setelah memakan beberapa potong pizza. Selintas aku kembali meneropong ke apartemen seberang, gadis itu tidak terlihat akan tetapi lampu dan televisi apartemennya menyala, mungkin sedang melakukan hal lain. Kembali kuperhatikan jam, hampir pukul sembilan malam, aku segera meraih tisu dan pergi keluar. Kulangkahkan kakiku menuju gedung bioskop, melihat-lihat poster film dan memutuskan film apa yang akan kutonton.

Saat ini aku sedang berada dalam studio bioskop, menonton film yang tidak terlalu seru. Kulihat penonton film ini juga sepi dari banyaknya tempat duduk yang kosong. Hanya beberapa penonton dalam studio ini dan aku berani bertaruh mereka tidak menonton film yang diputar, melainkan pacaran di sudut tempat duduk yang sepi.

Aku melihat jam tanganku, waktunya sudah tiba. Aku segera keluar dari studio film itu, berjalan perlahan dan masuk ke studio film lainnya. Studio kali ini tidak kalah sepinya dengan studio sebelumnya. Film yang diputar adalah film dokumenter. Aku melangkah ke deret kursi tertentu dan duduk. Didepanku seorang pria sedang duduk, entah sedang menonton ataukah sedang tertidur. Kukeluarkan pistol milikku yang dipasangi peredam, ujung peredam itu kubungkus dengan kain berwarna gelap. Tanpa ragu aku langsung menempelkan pistol di kepala pria didepanku dan-

-aku menembaknya.

Tak ada suara, tak ada kilatan cahaya api. Aku segera memasukkan pistol dan sapu tangan itu kembali ke dalam saku jaketku. Melangkah keluar dari studio dan berjalan pulang. Film dokumenter itu baru akan selesai pukul tengah malam nanti. Masih banyak waktu untuk menghapus jejak keberadaanku, membuatnya seolah aku tak pernah berada di tempat ini.

.

.

.

“Kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik,”

Atasanku menatap dengan bangga. Saat ini aku sedang berhadapan dengan atasanku, disudut ruangan terdapat seorang bodyguard, menjaga atasanku dari bahaya apapun. Ia sedang membaca buku, tapi aku tahu kalau ia selalu waspada. Benar-benar anjing penjaga yang setia.

“Ini bayaranmu,”

Atasanku itu melemparkan empat gepok uang, aku menangkapnya dan menghitungnya sekilas. Semuanya berjumlah dua puluh juta.

“Kau memang pembunuh bayaran andalanku. Tak ada satupun dari pekerjaanmu yang mengecewakanku,” ujarnya bangga. Aku hanya tersenyum ringan.

“Aku tak mau usil, tapi aku penasaran. Apa yang kau lakukan dengan uangmu?”

Aku terkekeh, “Aku membuka toko kue,”

“Toko kue?” Atasanku tergelak mendengar jawabanku. “Toko kue? Kau serius?”

“Silahkan datang ke tokoku. Akan kuberikan diskon harga,”

Atasanku kembali tertawa, bukan nada meremehkan tapi lebih ke arah tidak percaya. Aku mengangguk singkat dan keluar dari ruangan itu, sementara atasanku masih tertawa.

“Aku akan memanggilmu lagi dalam waktu dekat,”

Aku tidak menoleh kepadanya tapi aku mengangkat tangan, tanda bahwa aku mendengarnya. Kakiku terus melangkah.

.

.

.

“Selamat datang!”

Aku memasuki toko kue, suasana hangat menyapaku. Beberapa pelayan menyapaku riang sementara aku berjalan melintasi beberapa deret meja. Langsung saja aku berjalan ke bagian belakang toko yang hanya diperbolehkan untuk staff. Di bagian belakang toko adalah dapur tempat pembuatan kue sementara di bagian depan adalah counter kue beserta beberapa meja jika para pembeli ingin bersantai dan memakan kue mereka di tempat.

“Hai boss! Kau tepat waktu. Kue bagian tradisional sudah habis jadi kau harus membuatnya lagi,” seru salah seorang karyawanku yang khusus memasak kue.

Beberapa karyawan berceloteh ramai, mengompori bahwa karyawan itu tidak sopan dan harus dipecat. Sementara karyawan yang memintaku memasak kue hanya tertawa lebar. Aku hanya ikut tertawa dan mengambil celemek milikku, meneliti kue apa saja yang harus kubuat dan mulai menyiapkan bahan.

Yah, inilah pekerjaanku selain pekerjaan utamaku.

Aku adalah seorang pembunuh bayaran.

Tubuhku dipenuhi oleh wangi mesiu. Sementara tanganku berlumuran darah.

Untuk menutupi semua itu, aku membuka toko kue. Berharap wanginya kue yang baru matang dapat menghapus wangi mesiu, sementara lumuran gula  dan tepung dapat menutupi lumuran darah di tanganku.

Kling Kling

“Selamat datang,”

Seorang pembeli datang tapi tak kuindahkan, karyawanku yang berada di depan toko bisa menangani mereka. Akan tetapi suara percakapan yang tidak berkesudahan itu membuatku penasaran juga. Karyawan depan akhirnya menjulurkan kepalanya ke jendela yang menyambungkan antara bagian counter dan dapur.

“Bos, ada customer mau beli kue tradisional, tapi kue itu sudah habis. Harus bagaimana?”

Aku menatap kerjaanku, proses pembuatannya masih agak lama sehingga aku memutuskan untuk keluar dan menjelaskannya sendiri. Kuseka tanganku di celemek, “Aku kesana,” ujarku.

Karyawan itu mengangguk mengerti.

Saat aku keluar dari dapur kulihat gadis itu menunggu di counter kue, matanya meneliti kue-kue yang ada di rak pajangan.

“Bisa saya bantu, nona?” Jantungku berdetak kencang tapi aku berusaha bersikap biasa. Ini adalah kontakku pertama kalinya dengan gadis ini.

“Saya mau membeli kue tradisional dalam jumlah banyak. Apa tidak ada yang tersisa sedikitpun?” ujarnya sedih.

“Sedang dalam proses pemasakan, nona. Mungkin sekitar satu jam lagi kuenya baru siap. Apakah anda mau menunggu?”

Gadis itu diam, berpikir. Sepertinya menimbang-nimbang pilihannya. “Tidak usah, mungkin saya akan beli kue yang lain,” putusnya.

“Saya beli kue ini, ini dan itu masing-masing lima potong. Apakah bisa?”

“Tentu bisa,” ujarku sambil mengambil kotak kue untuk dibawa pulang. Karyawan yang selama ini diam mengambil kue yang dipesan sementara aku menyiapkan kotaknya. Tak lama kue itu pun siap, kubiarkan karyawanku mengurus masalah pembayaran sementara aku sesekali menatap gadis itu. Gadis itu memberikan uang yang diperlukan dan langsung mengambil kuenya, kakinya langsung melangkah pergi.

Aku menghela napas pelan, kembali memasuki dapur. Yah, walaupun hanya sebentar tapi lumayan juga, aku bisa menatap wajah gadis itu tanpa teropong atau apapun.

.

.

.Aku kembali menghela napas, hari baru saja gelap ketika aku tiba di depan apartemenku. Kembali sebuah pot berisi bunga mawar hitam terletak di depan pintuku. Aku menatap pot itu dengan pandangan hampa, kedua tanganku kuletakkan di saku celanaku. Dengan perasaan hampa kembali ku melangkah, menuju stasiun kereta api.

Setelah memasukkan koin dan membuka lokernya, aku langsung meraih map berwarna terang itu. Langkahku bergegas menuju apartemenku, sebelumnya aku mampir ke mesin penjual minuman dan memilih kopi kaleng panas. Malam ini benar-benar sangat dingin, aku ingin segera kembali ke apartemenku.

.

.

.

Di rumah aku menuang segelas air dan meraih beberapa potong kentang goreng. Meja makanku berserakan beberapa makanan. Tanganku meraih tisu, mengelap tanganku dan meraih map yang tadi kuambil. Saat kubuka map itu mataku membelalak, pasalnya targetku kali ini adalah gadis itu. Gadis yang tinggal di seberang apartmenku.

Pada foto yang dilampirkan di map tertulis nama gadis itu, Iki Yuna, seorang mahasiswa jurusan sastra. Sebuah kertas berwarna gelap menuliskan instruksi bahwa dalam waktu dua hari aku harus membunuh gadis itu. Beberapa halaman kertas lainnya tidak begitu penting, hanya menjelaskan kegiatan dan jadwal yang akan dilakukan Iki Yuna selama dua hari hingga hari kontak terjadi. Aku mendengus pelan, kertas jadwal kegiatan ini sungguh tidak berguna, menatap catatan yang kumiliki sebelumnya dengan terperinci dan teliti. Segera saja aku melemparkan kertas itu di perapian hadapanku, kini kertas itu telah berubah menjadi abu.

Kembali kuperhatikan lembaran kertas lainnya yang tercantum profil Iki Yuna. Aku sedikit mengernyit, profil gadis itu biasa-biasa saja, bahkan cenderung normal. Mengapa aku harus membunuh gadis ini? Perasaan ragu mulai menyelimutiku, peraturan pertama, tidak boleh membantah perintah atasan dan klienmu. Peraturan ketiga untuk tidak pernah jatuh cinta.

Apa yang harus kulakukan?

.

.

.

Aku menatap teropong tembakku, gadis itu sedang melangkah pulang. Tangannya penuh dengan belanjaan untuk makan malam dan dapat kulihat sebuah kotak kue di tangannya yang lain. Ah, rupanya tadi dia mampir ke tokoku. Hari ini adalah hari kedua, hari terakhir dimana seharusnya aku membunuhnya. Senapanku sudah siap, telunjukku siap menekan pelatuk. Selama dua hari ini banyak sekali kesempatan bagiku untuk membunuhnya, akan tetapi hatiku tak siap untuk melakukannya.

Inilah sebabnya mengapa pembunuh bayaran dilarang untuk jatuh cinta, dan terutama mencintai targetmu sendiri.

Persetan dengan kenyataan bahwa aku adalah pembunuh bayaran terbaik di agensiku. Cinta ternyata membuatku melemah. Tapi aku suka itu.

Iki Yuna berjalan perlahan, ia hampir memasuki apartemennya saat-

-gadis itu terkapar di tanah. Barang bawaanya terjatuh di sekelilingnya. Orang-orang awalnya memandang heran pada Yuna yang terkapar di tanah, akan tetapi saat darah mulai mengalir dari kepalanya mereka baru berteriak histeris.

Aku langsung waspada, teropongku fokus kepada wajah Iki Yuna yang tewas begitu saja. Tak ada suara senapan, darah tidak langsung keluar setelah tertembak dan melihat dari lukanya sepertinya luka tembak itu berada di bagian belakang kepalanya dan tidak menembus ke depan.

Ini adalah pekerjaan penembak jarak jauh.

Aku langsung mengarahkan teropong senapanku ke arah perkiraan datangnya peluru. Selintas sempat kutangkap sosok seseorang di gedung tingkat berjarak sekitar satu kilometer dari apartemen Iki Yuna, tetapi sosok itu langsung menghilang. Sial! Ada apa ini sebenarnya?

.

.

.

BRAKKK!

Bodyguard itu langsung meraih pistolnya, moncong pistol itu mengarah padaku seiring langkahku yang semakin mendekati atasanku. Atasanku hanya menatapku dengan hampa, tidak ada tanda-tanda terkejut sedikitpun dengan kedatanganku. Tanganku langsung menunjukkan foto Iki Yuna dan melemparkannya ke meja.

“Katakan siapa gadis itu!”

Atasanku itu tidak menjawab, ia malah menatapku sambil menopangkan dagu dengan tangannya. “Kau gagal membunuhnya,” ujarnya datar.

Aku menatap mata atasanku dengan ganas. Kalau saja tatapan bisa membunuh tentu saat ini atasanku itu sudah terkapar mati.

“Kau yang membunuhnya!” tuduhku.

Atasanku masih tidak berbicara apapun. Aku merasa marah dan tanpa berpikir langsung meraih pistol yang terselip di pinggangku. Bodyguard itu langsung mendekatkan moncong pistolnya ke pelipisku.

“Jawab aku! Kenapa kau membunuhnya!”

“Peraturan pertama, kau tidak boleh mempertanyakan perintah klien dan atasanmu. Peraturan ketiga, kau tidak boleh jatuh cinta,”

Aku memandang atasanku dengan marah, “Jadi kau membunuh Iki Yuna karena aku melanggar dua peraturan?” tantangku.

“Kalau aku katakan aku yang membunuhnya, apakah kau akan menembakku?”

Pistolku masih mengarah kepadanya untuk kemudian kembali kutarik, pistolku kembali kuselipkan di pinggangku.

“Tidak. Meskipun kau selalu melakukan pekerjaan kotor, kau tidak akan sekotor itu hanya untuk sekedar mengingatkanku yang telah melanggar peraturan,”

Dengan santai aku menjauhkan moncong pistol sang bodyguard yang masih menempel di pelipisku. Bodyguard itu memandang atasanku yang mengangguk pelan untuk kemudian mundur pelan dan kembali ke tempat duduknya.

“Jadi, siapa gadis itu?”

Atasanku itu memungut foto di atas mejanya dan menunjukkannya kepadaku. “Iki Yuna adalah puteri dari seorang penyelundup narkotika terbesar di negara ini,”

“Hmm, lalu mengapa kau menyembunyikan fakta itu dalam profil yang kau berikan padaku?”

“Katakan saja untuk melihat sampai sejauh mana usahamu untuk membunuh gadis itu. Peraturan yang telah kau langgar, ingat kan?”

Aku hanya mendengus jijik.

“Kenapa ada yang mau membunuh gadis itu?”

Atasanku hanya mengernyit, “Peraturan pertama-“

“Aku tahu bunyi peraturan pertama! Yang aku ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?” Dengan emosi aku memukul keras meja itu, dari ekor mataku kulihat bodyguard itu kembali waspada.

Atasanku hanya menghela napas lelah, “Aku tak bisa memberitahumu,”

Aku menggeretakkan gigi, merasa kesal.

“Tapi aku bisa memberimu petunjuk,”

“Katakan padaku!”

Atasanku kembali menunjukkan foto itu, “Gadis ini diburu oleh banyak pihak: saingan bisnis ayahnya, polisi bahkan ayahnya sendiri,”

Aku membelalakkan mata. Ayah mana yang tega menyakiti anak perempuannya sendiri.

“Dan klienmu kali ini adalah para saingan bisnis ayahnya,” lanjutnya.

“Ok, aku rasa para saingan bisnis itu bisa dicoret dari daftar pembunuh. Tapi kenapa polisi dan ayahnya juga mau menyingkirkan gadis itu?”

Atasanku hanya mengangkat bahu, “Itu bukan urusanku,”

“Tapi kau pasti punya suatu informasi,” kejarku.

Atasanku menatap dengan tatapan menilai, “Informasi yang mahal,” bibirnya menyeringai. Tatapan matanya jelas sekali licik. Aku hanya terdiam, tidak puas.

Kembali kutatap atasanku yang masih menunggu keputusanku. Membeli informasi dari dia tak akan berguna sama sekali karena Iki Yuna sudah terbunuh dan tak ada lagi yang bisa menolong gadis itu. Akan tetapi harga diriku sebagai pembunuh bayaran juga tidak membenarkanku untuk membiarkan seseorang ini berhasil membunuh targetku. Terlebih lagi, sialnya aku jatuh cinta pada targetku. Apa yang harus kulakukan?

“Bagaimana?” Atasanku bertanya memastikan, akan tetapi aku tak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan.

“Kau mulai bimbang,” ujar atasanku, akan tetapi tidak kuindahkan.

Aku terus berpikir. Banyak yang mengincar gadis ini, salah satunya adalah saingan bisnis narkotika ayahnya. Mereka bisa dicoret karena jika mereka bisa membunuh gadis itu dengan tangan mereka sendiri, mereka tidak perlu mengontrak jasaku kan?

“Peraturan pertama, jangan pernah mempertanyakan klien dan atasanmu,” Atasanku masih mencoba menjelaskan peraturan konyol itu.

Aku masih berpikir, bagaimana dengan pihak kedua yaitu polisi. Tapi apa gunanya membunuh gadis itu? Bukankah gadis itu justru akan lebih berguna bagi polisi dalam keadaan hidup?

“Peraturan kedua, untuk tetap terus tersembunyi,”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, pihak lainnya adalah ayahnya. Tapi untuk apa? Masalah keluarga? Aku bahkan tidak bisa melihat motif apa yang bisa membuat seorang ayah membunuh anaknya sendiri.

“Peraturan ketiga, jangan pernah jatuh cinta,”

Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Atasanku bangkit dari duduknya dan melangkah ke arahku, tangannya menepuk pundakku dengan lembut.

“Kau lelah, istirahatlah. Aku akan memanggilmu beberapa hari lagi,” ia memberi isyarat kepada bodyguardnya untuk membawaku keluar dari ruangan itu.

Bodyguard itu membimbingku keluar dari ruangan itu sementara kepalaku masih tertunduk lesu.

“Dan Takahiro,”

Dengan lemah aku memandang atasanku. Ia tidak akan pernah memanggil namaku kalau bukan untuk hal yang serius.

“Jangan pernah lagi untuk melanggar peraturan kalau kau tidak mau terkena akibatnya,”

Atasanku melempar seringai licik. Sinar matanya memiliki maksud tertentu.

Benakku kembali memutar percakapan yang terjadi tadi. Ada banyak pihak yang mengincar gadis itu.

Dan pintu ruangan itu menutup, menghalangi antara aku dan atasanku.


A/N: Kaaannn~ sudah saya bilang, gaje kan?

Ophelia

IMG-20160803-WA0000

Sebuah pohon willow tumbuh di tepi sungai. Dedaunannya teruntai berwarna kelabu dengan batang pohon menjulur ke atas permukaan air. Pemandangan yang sangat indah, bagaikan pohon itu sedang berkaca di permukaan air.

Seorang gadis melangkah pelan menuju pohon itu, membawa rangkaian bunga warna-warni di tangannya. Anehnya, meskipun bunga itu beraneka macam warnanya, mereka menyiratkan aura kesedihan.

Gadis itu memanjat batang pohon yang melengkung itu, guna mengagumi bayangan air di bawahnya. Malang, dahan itu patah dan sang gadis terjatuh ke dalam sungai, bersama bunga dalam genggamannya.

Gadis itu hanya terdiam, pakaiannya berurai di permukaan air. Sang gadis menatap langit sambil menembangkan lagu patah hati dan putus asa. Menyanyikan perasaan dalam dirinya.

Kian lama, kain yang terburai itu semakin memberat oleh air. Menarik sang gadis dalam pelukan air bersama tembang kesedihannya. Akhirnya, lumpur kematian menjadi kawannya yang terakhir.

Ah,Ophelia yang malang.


A/N: Challenge mingguan dari Enie tapi harus berupa VN. Karena gak bisa pajang VN disini saya pajang tulisannya aja 😛 entah kenapa begitu ngeliat gambar ini malah jadi keinget tokoh Ophelia dari Hamlet: Prince of Denmark. Sok banget ya~

Supernova = Mati

Ini adalah kisah paling sedih yang pernah kudengar. Ataukah ini kisah paling romantis yang pernah kudengar? Entahlah, semuanya tergantung pada kalian.

Awalnya kukira semua itu hanyalah sebuah dongeng. Hanyalah sebuah legenda, legenda yang didasari oleh fakta. Dan apa yang akan kau dengar saat ini, mungkin itu hanyalah legenda dari fakta yang telah dilebihkan-lebihkan.

Akan tetapi tidak! Semua itu adalah nyata. Karena aku bisa katakan pada kalian, aku mengalami semua itu.

.

.

.

Kau tahu, aku adalah sebuah bintang. Kami adalah bintang. TuhanKu menciptakan kami para bintang dengan wujud yang indah menawan. Tentu mata manusia kalian tidak akan melihat kami dengan sosok seperti itu. Kalian akan melihat sosok kami hanyalah sebagai gumpalan gas raksasa yang terbakar, akan tetapi sesungguhnya kami memiliki sosok seperti kalian. Bedanya adalah, kami lebih rupawan dibandingkan kalian. Bukan bermaksud sombong, tetapi begitulah kenyataannya. Karena itulah jika kalian memandangi kami di malam hari kami terlihat begitu memesona dalam pandangan mata kalian, kan? Walau tentu saja harus kuakui, dibandingkan Bidadari dalam SurgaNYA, kami tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, sama seperti kalian.

Dan kami semua adalah apa yang kalian manusia sebut sebagai perempuan. Kami menari, tertawa, bersenda gurau di langit malam. Kibasan gaun kami adalah kerlip gemintang, helaian rambut kami adalah peredaran bintang, dan nyanyian kami adalah tasbih angkasa. Kami bersujud kepadaNYA.

Pada setiap kelahiran salah satu dari kami, TuhanKu berkata kepada kami, bahwa kami diciptakan dari keindahan, hidup untuk memancarkan keindahan dan mati dengan keindahan. Semua itu terjadi agar kami memancarkan keagunganNYA.

Lahir. Aku tahu arti kata itu. Setiap beberapa waktu lamanya, Tuhan akan menciptakan adik-adik baru diantara kami. Menjadikan angkasa raya yang sepi ini perlahan-lahan dipenuhi tingkah dan canda tawa saudara kami.

Hidup. Itulah kami saat ini. Kami tertawa, bertasbih dan bersujud kepadaNYA. Kami mengibaskan gaun kami saat Tuhan kami memerintahkan. Dan kami mengibaskan surai rambut kami saat dititahkan. Itulah hidup kami.

Akan tetapi Mati. Apa itu Mati? Kami sama sekali tidak paham apa yang dimaksud dengan kematian. Dan saat kami menanyakan itu kepada Tuhan Kami, DIA hanya menjawab bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang kepada kami.

Kami pun kembali bertanya, bagaimana ciri-ciri kematian itu?

Dan Tuhan Kami menjawab, kematian kami akan datang disaat kami merasakan perasaan cinta.

Dan kami pun kembali bertanya, apakah perasaan cinta itu?

Tuhan Kami tiada bosan menjawab, kami akan tahu bahwa apa yang kami rasakan adalah cinta setelah kami terbenam dalam perasaan itu.

Kami semua terdiam, tidak lagi berani bertanya kepadaNYA. Akan tetapi aku dengan perasaan takut-takut kembali bertanya. Aku harus menanyakannya, demi adik-adikku yang masih terlihat bingung, “Apakah Engkau memerintahkan kami untuk mencari perasaan yang dinamakan Cinta itu untuk bisa mati dalam keindahan seperti janjiMU dan mengagungkan namaMU?”

Dan Tuhan mengiyakan pertanyaan tersebut.

Kami merasa gembira. Mati sesuai dengan janji Tuhan dan mengagungkan namaNYA? Tak ada hal yang lebih menggembirakan dari semua itu. Kami siap untuk mati jika Tuhan memang memerintahkannya.

Kami bergembira dan mulai menerka-nerka, dimanakah perasaan cinta tersebut.

Dan Tuhan menjawab, jikalau kami memang menginginkan perasaan cinta, maka kami harus mencarinya di kala malam tiba pada penduduk bumi. Kami hanya harus menampakkan diri kami pada penduduk bumi, dan jika kami menemukan seeorang yang tepat, maka pada saat itulah kami bisa merasakan cinta.

Dan begitulah, setiap malam tiba kami berduyun-duyun menari dan bernyanyi. Mengibaskan gaun dan helai rambut kami. Berharap menemukan penduduk bumi yang mampu mengajari kami, apakah perasaan cinta itu.

.

.

.

Bertahun-tahun kami berusaha mencari, akan tetapi kami belum menemukan seseorang yang akan mengajari kami apa itu cinta. Bukan berarti kami semua belum menemukan seseorang tersebut, beberapa saudari bahkan adik-adikku ada yang telah menemukan arti cinta. Akan tetapi disaat kami hendak menanyakan hal tersebut mereka telah menghilang dari angkasa ini. Lenyap. Seakan tidak pernah ada. Padahal kami benar-benar ingin tahu, seperti apakah perasaan cinta itu? Yang dengannya kami bisa mati untuk mengagungkan langit milikNYA.

.

.

.

Aku kembali menari di langit malam ini, bertasbih dan mengagungkan namaNYA. Langit malam ini begitu indah, aku mampu mendengarnya, nyanyian dan tarian para saudariku malam ini entah mengapa begitu indah. Kami sedang asyik menyanyi dan bertasbih saat angin malam yang ditiupkan oleh malaikat menghamburkan helai rambut kami-

“Kamu siapa?”

Aku menghentikan nyanyianku dan membuka mataku. Sesosok pemuda berdiri dihadapanku, menatapku dengan lekat. Aku memandangi sekelilingku, saat ini aku berada di Bumi. Sepertinya karena terlalu asyik menyanyi dan menari aku tak sadar bahwa aku telah turun ke bumi.

Kuperhatikan pemuda yang masih menatapku lekat. Ada rasa penasaran dalam tatapannya, tapi aku tak tergesa untuk menjawab pertanyaannya. Aku masih menilai pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba saja seberkas suara menyusup dalam sanubariku, memaksaku untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

“Aku adalah bintang,”

Pemuda itu mengerutkan alisnya, merasa bingung.

“Apa maksudmu? Kau adalah bintang?”

Aku menatap angkasa dan menunjuk satu titik bintang di angkasa. Pemuda itu mengikuti arah jariku. “Bintang itu adalah salah satu bintang dari konstelasi Taurus. Aku adalah salah satu dari bintang bersaudara Pleiades. Namaku adalah Merope,” tuturku.

Pemuda itu mengernyit, “Baiklah Lady Merope, mengapa anda berada disini?”

Aku tersenyum, “Aku berusaha memenuhi perintah TuhanKu,”

“Dan perintah itu adalah?”

Aku berusaha mengatakannya, akan tetapi kembali seberkas suara menyusup dalam sanubariku. Seakan mencegahku untuk menjawab pertanyaan ini. Aku menatap pemuda itu yang masih menunggu jawabanku.

“Aku tak bisa mengatakannya padamu,” gumamku pelan. Pemuda itu hanya mengangguk paham.

.

.

.

Ada rasa penasaran. Ada rasa gugup dan bimbang setiap Merope menatap pemuda itu. Ada rasa dimana Merope ingin menyanyi dan menari sebaik-baiknya, menjadikan angkasa terlihat lebih indah dari biasanya.

Merope tidak paham, mengapa ia memiliki rasa ini?

Kepada TuhanNYA Merope akan menyanyi dan menari seperti biasanya. Karena Merope paham, tarian dan nyanyiannya pastilah usahanya yang terindah yang Merope persembahkan bagi TuhanNYA.

Akan tetapi bagi pemuda ini, ada rasa dimana Merope harus berusaha lebih kuat lagi. Menari dan menyanyi, mempersembahkan tariannya yang paling indah kepada pemuda itu.

“Perasaan apa ini? Mengapa seakan aku menduakan TuhanKU dan ingin memberikan yang terindah untuk pemuda itu?” batin Merope.

Dan kembali seberkas suara itu menyusup dalam sanubarinya. Itulah yang dinamakan cinta. Merope tersentak.

“Apakah itu berarti aku akan mati?” Merope seakan berdialog dengan sanubarinya.

“Nyatakanlah perasaan cintamu kepada pemuda itu,”

Dan tiba-tiba saja pemuda itu telah berdiri dihadapannya. Tidak, itu pasti bukanlah kebetulan. Tuhan memang menakdirkan pemuda itu untuk berada disini. Memenuhi janji yang mereka buat berdua, untuk bertemu setiap malam di tempat dan waktu yang sama.

Merope memandang pemuda itu dengan wajah sumringah, “Anda ingat saat kukatakan bahwa aku berada di bumi ini untuk memenuhi perintah TuhanKU?”

Pemuda itu menatapku terkejut sebelum akhirnya menggumakan ‘ya’.

“Saya berada di bumi ini atas perintah TuhanKU untuk mencari sesuatu.”

“Sesuatu… apakah itu?” gumam pemuda itu lambat.

Aku menatapnya lekat, “Perasaan cinta,”

Pemuda itu tampak terkejut, ia bergerak gelisah. Akan tetapi Merope menghiraukan hal tersebut.

“Perasaan cinta adalah hal yang harus kami temui dari seorang penduduk bumi ini. Dan akhirnya aku menemukannya,” Merope menatap pemuda itu dengan lembut.

“Kaulah perasaan cinta itu,” lanjut Merope.

Pemud itu bergerak gelisah, matanya tidak menatap Merope. Merope tersenyum, hati sanubarinya berkata agar ia diam dan membiarkan pemuda itu berbicara terlebih dahulu dan Merope mematuhinya. Perlahan pemuda itu menatap Merope, bibirnya terbuka dan terkatup, seakan ragu untuk menjawab.

“Maaf,” gumam pemuda itu. Merope mengeryitkan alisnya.

“Maaf, tapi aku tak mampu menerima perasaan cintamu,” ujar sang pemuda lambat-lambat.

Setitik air mata jatuh di pipi Merope. Gadis itu tidak paham, apa maksudnya pemuda itu tak mampu menerima cinta dari dirinya? Apakah bagi seorang manusia, cinta adalah perasaan yang mampu ditolak maupun diterima?

Merope menatap air matanya yang kini telah menitik di tangannya. Mengapa? Mengapa ada perasaan baru dalam dirinya? Rasa sesak yang menyiksa. Perasaan apa ini sebenarnya?

Pemuda itu masih melirihkan beribu kata maaf, akan tetapi Merope tidak memperhatikannya. Gadis itu masih berusaha memahami perasaan yang baru muncul dalam dirinya. Perasaan sesak yang menyiksa. Ini bukanlah perasaan yang menyenangkan.

Merope baru saja akan menanyakan mengapa pemuda itu terus meminta maaf, akan tetapi ia merasakan tubuhnya melambung. Melayang tinggi. Saat gadis itu sadari, ia tidak lagi berada di bumi. Akan tetapi di suatu tempat di angkasa raya.

Merope tidak mengenal sisi angkasa dimana ia berada saat ini. Begitu sepi dan gelap. Tak ada bintang satupun. Satu-satunya cahaya adalah dari dirinya yang berpendar dari dalam tubuhnya. Dua sosok malaikat berdiri di dekatnya, memandang dirinya dengan tatapan hampa.

“Perasaan apa yang kurasakan saat ini? Begitu sesak dan tidak menyenangkan,” Merope bergumam pelan, mengharapkan jawaban dari dua malaikat itu.

“Itu adalah perasaan yang bernama sakit,” seorang malaikat menjelaskan. Merope mengenal suara itu. Suara yang membimbingnya dari dalam sanubarinya.

“Perasaan sakit? Bukan cinta?”

“Perasaan sakit hanya bisa dirasakan saat kau menemukan perasaan cinta,” ujar malaikat kedua.

Merope menatap dengan pandangan hampa. “Mengapa TuhanKU memberiku rasa sakit dalam rasa cinta itu?”

“Itu semata-mata adalah rahasia Tuhan,”

Merope menutup matanya, sayup-sayup mampu mendengar nyayian angkasa para saudaranya.

“Apakah kau siap menerima kembali rasa sakit itu?”

Merope membuka matanya, menatap kedua malaikat itu. “Apa maksudnya?”

“Kami bertanya atas titah TuhanKu, apakah kau siap menerima kembali rasa sakit dalam cinta tersebut? Untuk memenuhi perintah dari TuhanKU?”

Aku tertegun, sejenak perasaan baru yang bernama sakit dan cinta ini membuatku terlupa akan perintah TuhanKU.

“Apakah dengan menerima kembali perasaan itu, aku mampu memenuhi perintah TuhanKU dan mendapatkan janji TuhanKU?”

Kedua malaikat itu mengangguk membenarkan.

Aku menghela napasku sebelum menjawab, “Aku bersedia,”

Salah seorang malaikat malaikat mengulurkan tangannya padaku, tapi aku terlalu bingung, karena pada saat yang sama kurasakan getaran lembut dalam tubuhku. Tubuhku memancarkan cahaya yang terang, lebih terang daripada selama ini. Seumur hidupku menjadi sebuah bintang aku tak pernah tahu ternyata tubuhku mampu mengeluarkan cahaya bintang seterang ini. Tubuhku tidak merasakan sakit, akan tetapi cahaya terang itu menyilaukan mataku. Cahaya yang tadinya benderang berwarna putih itu kemudian meletup letup, berubah menjadi warna biru, warna merah hingga aku tak mampu lagi mengingatnya, teralu banyak warna dan cahaya. Cahaya berpendar warna-warni itu telah keluar dari dalam tubuhku, melayang menuju uluran tangan sang malaikat. Malaikat itu menggenggam cahaya itu dan kemudian melemparnya ke angkasa. Langit yang tadinya hanya berwarna pekat malam kini dipenuhi dengan pendar cahaya berwarna-warni. Sungguh indah.

“Kini kau sudah mati,” ujar sang Malaikat. Aku menatap heran.

“Apa itu tadi? Cahaya berpendar warna-warni yang begitu indah,” tunjukku kepada langit yang masih berpendar indah.

“Cahaya warna-warni itu adalah kematianmu,”

“Kematianku?”

Kedua malaikat itu mengangguk, “Itulah kematian bagi sebuah bintang,”

Aku tergugu mendengarnya. Itukah kematianku? Cahaya warna-warni yang berpendar indah. Aku melemparkan tubuhku untuk bersujud. Sungguh indah kematianku. Dapat kudengar nyanyian angkasa para saudariku diantara pendar cahaya kematianku. Sungguh langit ini bertasbih mengagungkan TuhanKU. Jika rasa cinta yang sesak dan menyiksa itu mampu membuat kematianku mengagungkan langitNYA, aku bersedia mati berkali-kali untuk TuhanKU.

“Kini pergilah,” sang Malaikat menyadarkanku dari tasbihku.

Aku mengangkat kepalaku dan sang Malaikat telah membuka sebuah pintu untukku. Aku tak mampu melihat apa yang ada dibaliknya, tapi sinarnya begitu benderang dan membuat hatiku tenang.

“Apa yang ada dibalik pintu itu?”

“Sesuatu yang TuhanKU telah janjikan untukmu,”

Aku menatap pintu itu dan menetapkan hatiku. Aku tak tahu apa yang ada disana, tapi dapat kurasakan dadaku berdetak kencang. Bukan perasaan takut akan tetapi perasaan gembira.

Aku melangkahkan kakiku, dan aku melangkah masuk.


A/N: Dibuat untuk menyelesaikan dua tantangan sekaligus yang pertama dari Nana (OWOP) dengan tantangan kalimat pertama (Ini adalah kisah paling sedih yang pernah kudengar) Dan tantangan Kaichou Ryo (IOC Writing) dengan Challenge POV Supernova genre Romance.

Udah ya… udah selesai nih challenge kalian berdua. Huwaa…eyke pusing…

Ngaco: Asal Mula Kacamata Superman

Superman itu ganteng! Pakai banget! Dan misterinya adalah kenapa para penduduk dunia yang selalu ditolong Superman gak pernah sadar akan fakta itu!

Come on! Superman itu ganteng, siapa sih yang mau bilang sebaliknya? Wajahnya ganteng, matanya tajam yang bisa melihat tembus karena punya kemampuan sinar x, belum lagi tubuh menjulang yang konon katanya tingginya 190an cm. Berapa banyak sih orang yang mampu punya kesamaan itu? Kalau dalam cerita sih cuma Clark Kent aja yang bisa menyamai kegantengan Superman. Dan kita semua sama-sama tahu kalau Superman itu adalah Clark Kent.

Jadi, apa yang bikin orang-orang gak sadar kalau Clark Kent  itu Superman? That’s right! Kacamatanya!

Demi Amoeba yang membelah diri! Apa sih kehebatan kacamata Clark Kent itu sampai orang sedunia kagak sadar kalau dialah Superman?

Jadi begini ceritanya. Tahu Man in Black? Iya yang itu, kumpulan para agent super kece’ yang tugasnya melindungi Bumi dari serangan Alien. Nah, jadi sejak awal Superman dikirim ke Bumi, para agen MIB yang kece’ itu tahu kok kalau Superman aslinya dari Planet Krypton. Awalnya sih kagak masalah, asalkan Superman jadi anak baik di bumi MIB terima aja dia tinggal di bumi.

Eh ternyata serangan alien makin merajalela. Penduduk bumi makin bandel karena ada-ada aja masalahnya. MIB mungkin agent kece’ yang ganteng, tapi tetap aja mereka bukan super agent apalagi super man. Maka akhirnya MIB minta tolong sama Superman, bantuin mereka untuk melindungi bumi dari serangan alien bandel dan penduduk bumi yang entah kenapa naudzubillah kelewat pinter keblinger hingga bikin alien sendiri dan mencoba merebut bumi. Yah hitung-hitung juga sebagai bayaran terima kasih kepada MIB. Superman harus berterima kasih karena MIB ngizinin Superman tinggal di bumi.

Clark Kent yang emang udah sadar kalau dirinya itu ganteng plus kuat pun nurut aja. Dia manggut-manggut untuk nolongin bumi dari serangan alien maupun manusia kelewat blinger. Lagian sekaligus mau pamer juga sama doi-nya Superman, si Louis Lane yang aduhai cantiknya itu.

Sayang seribu sayang, MIB kagak setuju sama niat Superman. Kata MIB harusnya Superman melindungi bumi dengan niat Lillahita’ala. Gak boleh pakai niat yang lain, apalagi cuma sekedar buat pamer ke cewek. Awalnya Superman ngambek, ngancem mogok ogah ngelindungin bumi. Macem-macem aja tingkahnya, kayak bocah aja. Tapi the show must go on. Lagian bukan MIB namanya kalau harus keok sama ancaman Superman. Intinya, dengan setengah hati Superman ngebatalin aksi mogoknya. MIB damnly scary!

Seperti kita semua tahu, Superman sukses melindungi bumi dari serangan luar maupun serangan dalam. Superman itu kuat, gak perlu dipertanyakan lagi. Sekali lagi terima kasih kepada Superman, kedamaian bumi kali ini telah dijaga oleh cowok ganteng itu. Terima kasih Superman, kami tidak akan melupakan jasa-jasamu.

Belum, ceritanya belum selesai karena masih ada masalah lagi. Superman akhirnya bisa melindungi bumi. Nah itu masalahnya, Superman jadi terkenal di seluruh dunia. Wajahnya dipampang dimana-mana: di televisi, koran, internet, bahkan di iklan permen lolipop. Sungguh warbyazah!

MIB mulai ketar-ketir. Superman jadi terkenal, ini tidak boleh terjadi! Tidak ada seorang pun boleh menandingi kepopuleran MIB. Eh salah, maksudnya gak ada yang boleh sadar kalau Superman itu adalah Clark Kent, gitu loh.

Akhirnya MIB memberikan sebuah kacamata ke Clark Kent. MIB ngakunya sih bilang itu kacamata spesial yang bisa bikin orang seantero dunia gak bakal sadar kalau Clark Kent itu Superman. Bahasa kerennya kacamata penyamar. Superman terima aja hadiah itu, apalagi MIB bikin pesan pengantar. Kalau Superman gak pakai kacamata itu, Superman bisa say good bye ke bumi.

Superman gak tahu aja, kalau itu sebenarnya kacamata jelek. Jadi setiap kacamata itu dipakai sama orang, kacamata itu bisa menurunkan derajat ganteng orang tersebut hingga 50 persen. Walhasil setiap Clark Kent pakai kacamata itu otomatis tingkat gantengnya menurun. Dan bisa dipastikan juga seantero penduduk dunia gak kenal sama Clark Kent. Superman yang super ganteng dan Clark Kent yang super biasa aja tampangnya. Kalau ada yang bilang mereka berdua mirip bisa dipastikan pasti bakal dibales ‘kamu ngigo ya?’.

Sewaktu Clark Kent sadar dengan kemampuan kacamata itu semua sudah terlambat. Penduduk dunia gak kenal sama Clark Kent gak masalah. Masalahnya adalah yayang Louis Lane juga jadi gak sadar betapa Clark Kent dan Superman itu sama-sama ganteng. Louis Lane naksir sangat ke Superman, dan dia hanya bilang just be friend aja ke Clark Kent. Clark Kent hanya mampu menangis perih dalam hati. Biarlah, kata pemuda itu, cinta memang tak harus memiliki. Lagian MIB juga udah bilang, kalau gak mau pakai kacamatanya silahkan siap-siap say goodbye to earth. Jadi daripada Clark Kent harus ninggalin bumi dan gak bisa ketemu yayangnya lebih baik ia bertampang jelek karena kacamata itu.

Dan dunia kali ini berhasil diselamatkan oleh Superman. Sekali lagi Superman, terima kasih atas jasamu. Tak lupa saya sampaikan terima kasih pula kepada Man In Black yang selalu setia melindungi bumi dari alien. Tanpamu mungkin Superman hanyalah butiran debu. Eh tunggu, jadi sebenarnya siapa yang nyelamatin siapa? Ah, entahlah.


A/N: Tantangan menulis komedi dari Juu di IOC Writing. Padahal komedi bukan saya banget, walhasil harus nyontek karyanya si Nana dulu deh tapi tetep aja gagal. Udah ah… say good bye.

Ada Satu Rasa

Screenshot_2016-08-04-15-34-28

“Begitu…,” Aladdin mendesah. Sesaat pemuda itu tersentak, tersadar akan sesuatu.

“Lalu kenapa kau menceritakan semua ini padaku?”

Aladdin menatap Sang Ratu Kerajaan Kou yang masih belia itu, akan tetapi Sang Ratu masih terus menatap ke depan, pandangan matanya tidak fokus. Gadis itu menghela napas sesaat.

“Entahlah, kupikir kau pasti akan mendengarkanku,” gumam Kougyoku tidak jelas, pandangannya masih mengarah ke depan. Keramaian yang berada di depannya masih bergembira, merayakan kabar gembira dan – terutama untuk Ka Koubun – mengeluh keras-keras betapa bahagianya Alibaba dan Morgiana.

“Yah, begitulah aku,” Kougyoku kembali bergumam tidak jelas, akan tetapi Aladdin mampu mendengarnya.

Sesaat degup jantung pemuda itu berdetak keras dan cepat. Aladdin terdiam, wajahnya berkerut. Ada apa dengan dirinya? Mengapa tiba-tiba saja jantungnya terasa aneh? Dan wajahnya, entah kenapa merasa agak panas hingga telinga. Cukup aneh juga padahal malam di kerajaan Kou ini cukup dingin, tetapi mengapa justru tubuhnya terasa panas?

Dan tanpa diduga, tanpa terpikirkan oleh rasional pikirannya, bibirnya telah berucap tanpa dipikir, “Apakah dibandingkan Alibaba, kau lebih menyukaiku?”

Sedetik kemudian pemuda itu tersadar dan menggigit bibirnya. Sungguh bodoh! Apa sih yang ia pikirkan hingga tiba-tiba saja berucap begitu? Oh tidak! Justru karena ia tidak memikirkan apapun makanya ia bertanya seperti itu! Perasaannya campur aduk dan detak jantungnya meningkat tajam. Keringat dingin mengalir di dahinya. Kenapa dirinya justru begitu gugup hanya untuk mendengarkan jawaban Kougyoku?

Kougyoku membulatkan matanya dan menatap Aladdin, wajahnya sesaat menyiratkan kebingungan. Akan tetapi Sang Ratu muda itu sepertinya terbiasa mengontrol emosi wajahnya. Karena sedetik kemudian Kougyoku malah memasang wajah tenang dan dewasa, tangannya memainkan rambutnya.

“Dasar anak kecil! Dengarkan saja dan jangan bersikap sombong!”

Normalnya Aladdin akan memasang wajah cemberut jika dipanggil anak kecil. Tapi tidak kali ini. Matanya terpaku pada gadis di sampingnya. Kougyoku saat mengatakan kalimat itu, entahlah, tapi gadis itu terlihat begitu cantik. Begitu bersinar. Aladdin mengabaikan kalimat apapun yang diucapkan oleh Kougyoku dan lebih fokus kepada apa yang dilihatnya.

“Sejak kapan Kougyoku terlihat begitu berbeda?” batin Aladdin. Pemuda itu sendiri juga tidak tahu, apa yang berbeda dari Kougyoku. Wajahnya masih sama sebelum ia pergi ke Dark Continent. Tatanan rambutnya juga masih sama.  Yang berbeda paling hanyalah pakaiannya karena sekarang Kougyoku adalah seorang Ratu dari Kerajaan Kou. Ah ya, dan ia tidak lagi memegang Djinn Vessel. Hanya itu.

Tapi mengapa? Mengapa Kougyoku terlihat begitu berbeda?

Kougyoku menjulurkan lidahnya, menggoda Aladdin. Akan tetapi pemuda itu tidak bereaksi apapun. Bahkan caranya mengejek Aladdin pun begitu memesona. Begitu manis. Padahal ia sedang memasang wajah jelek di depan Aladdin.

Kougyoku kembali mengalihkan pandangannya, menatap keramaian di depannya – yang sekarang beralih mengejek Ka Koubun karena masih jomblo sampai sekarang. Helaian rambut magenta miliknya melambai ringan di depan wajah Aladdin. Rasanya begitu lambat, Aladdin mengikuti arah gerak helaian rambut itu dengan bola matanya.

Rambut panjang magenta itu menyapu lantai, tepat di hadapannya.

Aladdin benar-benar tidak mengerti, mengapa helaian rambut gadis itu begitu menarik. Pada masa lalu mungkin Aladdin akan menarik rambut panjang itu, hingga Kougyoku memekik kesakitan dan mereka akan bertengkar seperti biasanya. Akan tetapi tidak kali ini. Ada rasa dimana Aladdin ingin menyentuh lembut rambut magenta itu, dan mungkin menghirupnya? Kira-kira bagaimana wangi rambut gadis itu? Sungguh, seorang Aladdin pun merasa penasaran.

Dan tiba-tiba saja tangannya telah bergerak sendiri, menggerakkan tongkat miliknya secara sembunyi-sembunyi untuk menyentuh rambut Kougyoku. Kougyoku masih menatap ke depan, terpukau dengan keramaian. Aladdin melirik Kougyoku, membiarkan tongkatnya mendekat sedikit demi sedikit, menuju helaian rambut Kougyoku yang menyapu lantai.

Sedikit. Sedikit lagi.

Aladdin rasanya tidak berani menyentuh rambut Kougyoku, aneh juga padahal dulu ia sering menarik rambut itu. Akan tetapi sekarang dirinya merasa begitu pengecut. Jikalau tangannya belum berani menyentuh rambut itu, setidaknya biarkanlah tongkat miliknya itu menyentuh rambut gadis itu.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.

Ada rasa penasaran dalam diri Aladdin. Rasa bingung, berharap, khawatir, gugup semua itu bercampur menjadi satu. Ada satu rasa dalam dirinya. Dan Aladdin masih belum paham, apakah satu rasa itu.

Sedikit lagi-

“ALADDIN!”

Dan pemuda itu terkesiap, tongkatnya kembali dipeluknya, gerakannya terlihat salah tingkah, bagaikan seorang anak kecil yang ketahuan mencuri kue. Aladdin dan Morgiana menghampiri dirinya, tersenyum sumringah. Aladdin meracaukan sesuatu mengenai dirinya yang ingin pergi ke kerajaan lain dan Morgiana yang mengangguk setuju. Entahlah, Aladdin tidak begitu memperhatikan, sudut matanya mencuri pandang ke arah Kougyoku – yang sedang berbicara serius dengan Ka Koubun.

Ada sedikit rasa kecewa dalam diri Aladdin. Entahlah, dirinya kecewa karena apa? Karena Kougyoku yang perlahan berjalan menjauhi dirinya? Ataukah karena Aladdin dan Morgiana yang akan menikah dan meninggalkan dirinya? Ataukah karena dirinya yang gagal mengetahui seberapa halusnya rambut Kougyoku?

Aladdin menggeleng kecil.

Ada satu rasa dalam dirinya, dan semua itu muncul begitu saja saat ia bersama Kougyoku. Satu rasa dimana ia mampu merasakan kecewa, gugup, khawatir, bingung- sebutkan perasaan apapun yang kalian mau, dan ia hanya merasakan ini pada saat dirinya bersama Kougyoku. Satu rasa yang mampu membekukan logikanya, bahkan Solomon Wisdom sekalipun.

Satu rasa ini, bernama apa?


A/N: Dalam rangka merayakan chapter 315. Kemarin waktu baca 314 rasanya sedih karena AliKou gak jadi canon. Tapi pas baca 315, Masya Allah, langsung jejerit seneng. Oh my, mereka so sweet beud. Ohtaka sensei, please biarkan AlaKou jadi pair canon.