Supernova = Mati

Ini adalah kisah paling sedih yang pernah kudengar. Ataukah ini kisah paling romantis yang pernah kudengar? Entahlah, semuanya tergantung pada kalian.

Awalnya kukira semua itu hanyalah sebuah dongeng. Hanyalah sebuah legenda, legenda yang didasari oleh fakta. Dan apa yang akan kau dengar saat ini, mungkin itu hanyalah legenda dari fakta yang telah dilebihkan-lebihkan.

Akan tetapi tidak! Semua itu adalah nyata. Karena aku bisa katakan pada kalian, aku mengalami semua itu.

.

.

.

Kau tahu, aku adalah sebuah bintang. Kami adalah bintang. TuhanKu menciptakan kami para bintang dengan wujud yang indah menawan. Tentu mata manusia kalian tidak akan melihat kami dengan sosok seperti itu. Kalian akan melihat sosok kami hanyalah sebagai gumpalan gas raksasa yang terbakar, akan tetapi sesungguhnya kami memiliki sosok seperti kalian. Bedanya adalah, kami lebih rupawan dibandingkan kalian. Bukan bermaksud sombong, tetapi begitulah kenyataannya. Karena itulah jika kalian memandangi kami di malam hari kami terlihat begitu memesona dalam pandangan mata kalian, kan? Walau tentu saja harus kuakui, dibandingkan Bidadari dalam SurgaNYA, kami tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, sama seperti kalian.

Dan kami semua adalah apa yang kalian manusia sebut sebagai perempuan. Kami menari, tertawa, bersenda gurau di langit malam. Kibasan gaun kami adalah kerlip gemintang, helaian rambut kami adalah peredaran bintang, dan nyanyian kami adalah tasbih angkasa. Kami bersujud kepadaNYA.

Pada setiap kelahiran salah satu dari kami, TuhanKu berkata kepada kami, bahwa kami diciptakan dari keindahan, hidup untuk memancarkan keindahan dan mati dengan keindahan. Semua itu terjadi agar kami memancarkan keagunganNYA.

Lahir. Aku tahu arti kata itu. Setiap beberapa waktu lamanya, Tuhan akan menciptakan adik-adik baru diantara kami. Menjadikan angkasa raya yang sepi ini perlahan-lahan dipenuhi tingkah dan canda tawa saudara kami.

Hidup. Itulah kami saat ini. Kami tertawa, bertasbih dan bersujud kepadaNYA. Kami mengibaskan gaun kami saat Tuhan kami memerintahkan. Dan kami mengibaskan surai rambut kami saat dititahkan. Itulah hidup kami.

Akan tetapi Mati. Apa itu Mati? Kami sama sekali tidak paham apa yang dimaksud dengan kematian. Dan saat kami menanyakan itu kepada Tuhan Kami, DIA hanya menjawab bahwa kematian adalah suatu hal yang pasti akan datang kepada kami.

Kami pun kembali bertanya, bagaimana ciri-ciri kematian itu?

Dan Tuhan Kami menjawab, kematian kami akan datang disaat kami merasakan perasaan cinta.

Dan kami pun kembali bertanya, apakah perasaan cinta itu?

Tuhan Kami tiada bosan menjawab, kami akan tahu bahwa apa yang kami rasakan adalah cinta setelah kami terbenam dalam perasaan itu.

Kami semua terdiam, tidak lagi berani bertanya kepadaNYA. Akan tetapi aku dengan perasaan takut-takut kembali bertanya. Aku harus menanyakannya, demi adik-adikku yang masih terlihat bingung, “Apakah Engkau memerintahkan kami untuk mencari perasaan yang dinamakan Cinta itu untuk bisa mati dalam keindahan seperti janjiMU dan mengagungkan namaMU?”

Dan Tuhan mengiyakan pertanyaan tersebut.

Kami merasa gembira. Mati sesuai dengan janji Tuhan dan mengagungkan namaNYA? Tak ada hal yang lebih menggembirakan dari semua itu. Kami siap untuk mati jika Tuhan memang memerintahkannya.

Kami bergembira dan mulai menerka-nerka, dimanakah perasaan cinta tersebut.

Dan Tuhan menjawab, jikalau kami memang menginginkan perasaan cinta, maka kami harus mencarinya di kala malam tiba pada penduduk bumi. Kami hanya harus menampakkan diri kami pada penduduk bumi, dan jika kami menemukan seeorang yang tepat, maka pada saat itulah kami bisa merasakan cinta.

Dan begitulah, setiap malam tiba kami berduyun-duyun menari dan bernyanyi. Mengibaskan gaun dan helai rambut kami. Berharap menemukan penduduk bumi yang mampu mengajari kami, apakah perasaan cinta itu.

.

.

.

Bertahun-tahun kami berusaha mencari, akan tetapi kami belum menemukan seseorang yang akan mengajari kami apa itu cinta. Bukan berarti kami semua belum menemukan seseorang tersebut, beberapa saudari bahkan adik-adikku ada yang telah menemukan arti cinta. Akan tetapi disaat kami hendak menanyakan hal tersebut mereka telah menghilang dari angkasa ini. Lenyap. Seakan tidak pernah ada. Padahal kami benar-benar ingin tahu, seperti apakah perasaan cinta itu? Yang dengannya kami bisa mati untuk mengagungkan langit milikNYA.

.

.

.

Aku kembali menari di langit malam ini, bertasbih dan mengagungkan namaNYA. Langit malam ini begitu indah, aku mampu mendengarnya, nyanyian dan tarian para saudariku malam ini entah mengapa begitu indah. Kami sedang asyik menyanyi dan bertasbih saat angin malam yang ditiupkan oleh malaikat menghamburkan helai rambut kami-

“Kamu siapa?”

Aku menghentikan nyanyianku dan membuka mataku. Sesosok pemuda berdiri dihadapanku, menatapku dengan lekat. Aku memandangi sekelilingku, saat ini aku berada di Bumi. Sepertinya karena terlalu asyik menyanyi dan menari aku tak sadar bahwa aku telah turun ke bumi.

Kuperhatikan pemuda yang masih menatapku lekat. Ada rasa penasaran dalam tatapannya, tapi aku tak tergesa untuk menjawab pertanyaannya. Aku masih menilai pemuda itu, akan tetapi tiba-tiba saja seberkas suara menyusup dalam sanubariku, memaksaku untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

“Aku adalah bintang,”

Pemuda itu mengerutkan alisnya, merasa bingung.

“Apa maksudmu? Kau adalah bintang?”

Aku menatap angkasa dan menunjuk satu titik bintang di angkasa. Pemuda itu mengikuti arah jariku. “Bintang itu adalah salah satu bintang dari konstelasi Taurus. Aku adalah salah satu dari bintang bersaudara Pleiades. Namaku adalah Merope,” tuturku.

Pemuda itu mengernyit, “Baiklah Lady Merope, mengapa anda berada disini?”

Aku tersenyum, “Aku berusaha memenuhi perintah TuhanKu,”

“Dan perintah itu adalah?”

Aku berusaha mengatakannya, akan tetapi kembali seberkas suara menyusup dalam sanubariku. Seakan mencegahku untuk menjawab pertanyaan ini. Aku menatap pemuda itu yang masih menunggu jawabanku.

“Aku tak bisa mengatakannya padamu,” gumamku pelan. Pemuda itu hanya mengangguk paham.

.

.

.

Ada rasa penasaran. Ada rasa gugup dan bimbang setiap Merope menatap pemuda itu. Ada rasa dimana Merope ingin menyanyi dan menari sebaik-baiknya, menjadikan angkasa terlihat lebih indah dari biasanya.

Merope tidak paham, mengapa ia memiliki rasa ini?

Kepada TuhanNYA Merope akan menyanyi dan menari seperti biasanya. Karena Merope paham, tarian dan nyanyiannya pastilah usahanya yang terindah yang Merope persembahkan bagi TuhanNYA.

Akan tetapi bagi pemuda ini, ada rasa dimana Merope harus berusaha lebih kuat lagi. Menari dan menyanyi, mempersembahkan tariannya yang paling indah kepada pemuda itu.

“Perasaan apa ini? Mengapa seakan aku menduakan TuhanKU dan ingin memberikan yang terindah untuk pemuda itu?” batin Merope.

Dan kembali seberkas suara itu menyusup dalam sanubarinya. Itulah yang dinamakan cinta. Merope tersentak.

“Apakah itu berarti aku akan mati?” Merope seakan berdialog dengan sanubarinya.

“Nyatakanlah perasaan cintamu kepada pemuda itu,”

Dan tiba-tiba saja pemuda itu telah berdiri dihadapannya. Tidak, itu pasti bukanlah kebetulan. Tuhan memang menakdirkan pemuda itu untuk berada disini. Memenuhi janji yang mereka buat berdua, untuk bertemu setiap malam di tempat dan waktu yang sama.

Merope memandang pemuda itu dengan wajah sumringah, “Anda ingat saat kukatakan bahwa aku berada di bumi ini untuk memenuhi perintah TuhanKU?”

Pemuda itu menatapku terkejut sebelum akhirnya menggumakan ‘ya’.

“Saya berada di bumi ini atas perintah TuhanKU untuk mencari sesuatu.”

“Sesuatu… apakah itu?” gumam pemuda itu lambat.

Aku menatapnya lekat, “Perasaan cinta,”

Pemuda itu tampak terkejut, ia bergerak gelisah. Akan tetapi Merope menghiraukan hal tersebut.

“Perasaan cinta adalah hal yang harus kami temui dari seorang penduduk bumi ini. Dan akhirnya aku menemukannya,” Merope menatap pemuda itu dengan lembut.

“Kaulah perasaan cinta itu,” lanjut Merope.

Pemud itu bergerak gelisah, matanya tidak menatap Merope. Merope tersenyum, hati sanubarinya berkata agar ia diam dan membiarkan pemuda itu berbicara terlebih dahulu dan Merope mematuhinya. Perlahan pemuda itu menatap Merope, bibirnya terbuka dan terkatup, seakan ragu untuk menjawab.

“Maaf,” gumam pemuda itu. Merope mengeryitkan alisnya.

“Maaf, tapi aku tak mampu menerima perasaan cintamu,” ujar sang pemuda lambat-lambat.

Setitik air mata jatuh di pipi Merope. Gadis itu tidak paham, apa maksudnya pemuda itu tak mampu menerima cinta dari dirinya? Apakah bagi seorang manusia, cinta adalah perasaan yang mampu ditolak maupun diterima?

Merope menatap air matanya yang kini telah menitik di tangannya. Mengapa? Mengapa ada perasaan baru dalam dirinya? Rasa sesak yang menyiksa. Perasaan apa ini sebenarnya?

Pemuda itu masih melirihkan beribu kata maaf, akan tetapi Merope tidak memperhatikannya. Gadis itu masih berusaha memahami perasaan yang baru muncul dalam dirinya. Perasaan sesak yang menyiksa. Ini bukanlah perasaan yang menyenangkan.

Merope baru saja akan menanyakan mengapa pemuda itu terus meminta maaf, akan tetapi ia merasakan tubuhnya melambung. Melayang tinggi. Saat gadis itu sadari, ia tidak lagi berada di bumi. Akan tetapi di suatu tempat di angkasa raya.

Merope tidak mengenal sisi angkasa dimana ia berada saat ini. Begitu sepi dan gelap. Tak ada bintang satupun. Satu-satunya cahaya adalah dari dirinya yang berpendar dari dalam tubuhnya. Dua sosok malaikat berdiri di dekatnya, memandang dirinya dengan tatapan hampa.

“Perasaan apa yang kurasakan saat ini? Begitu sesak dan tidak menyenangkan,” Merope bergumam pelan, mengharapkan jawaban dari dua malaikat itu.

“Itu adalah perasaan yang bernama sakit,” seorang malaikat menjelaskan. Merope mengenal suara itu. Suara yang membimbingnya dari dalam sanubarinya.

“Perasaan sakit? Bukan cinta?”

“Perasaan sakit hanya bisa dirasakan saat kau menemukan perasaan cinta,” ujar malaikat kedua.

Merope menatap dengan pandangan hampa. “Mengapa TuhanKU memberiku rasa sakit dalam rasa cinta itu?”

“Itu semata-mata adalah rahasia Tuhan,”

Merope menutup matanya, sayup-sayup mampu mendengar nyayian angkasa para saudaranya.

“Apakah kau siap menerima kembali rasa sakit itu?”

Merope membuka matanya, menatap kedua malaikat itu. “Apa maksudnya?”

“Kami bertanya atas titah TuhanKu, apakah kau siap menerima kembali rasa sakit dalam cinta tersebut? Untuk memenuhi perintah dari TuhanKU?”

Aku tertegun, sejenak perasaan baru yang bernama sakit dan cinta ini membuatku terlupa akan perintah TuhanKU.

“Apakah dengan menerima kembali perasaan itu, aku mampu memenuhi perintah TuhanKU dan mendapatkan janji TuhanKU?”

Kedua malaikat itu mengangguk membenarkan.

Aku menghela napasku sebelum menjawab, “Aku bersedia,”

Salah seorang malaikat malaikat mengulurkan tangannya padaku, tapi aku terlalu bingung, karena pada saat yang sama kurasakan getaran lembut dalam tubuhku. Tubuhku memancarkan cahaya yang terang, lebih terang daripada selama ini. Seumur hidupku menjadi sebuah bintang aku tak pernah tahu ternyata tubuhku mampu mengeluarkan cahaya bintang seterang ini. Tubuhku tidak merasakan sakit, akan tetapi cahaya terang itu menyilaukan mataku. Cahaya yang tadinya benderang berwarna putih itu kemudian meletup letup, berubah menjadi warna biru, warna merah hingga aku tak mampu lagi mengingatnya, teralu banyak warna dan cahaya. Cahaya berpendar warna-warni itu telah keluar dari dalam tubuhku, melayang menuju uluran tangan sang malaikat. Malaikat itu menggenggam cahaya itu dan kemudian melemparnya ke angkasa. Langit yang tadinya hanya berwarna pekat malam kini dipenuhi dengan pendar cahaya berwarna-warni. Sungguh indah.

“Kini kau sudah mati,” ujar sang Malaikat. Aku menatap heran.

“Apa itu tadi? Cahaya berpendar warna-warni yang begitu indah,” tunjukku kepada langit yang masih berpendar indah.

“Cahaya warna-warni itu adalah kematianmu,”

“Kematianku?”

Kedua malaikat itu mengangguk, “Itulah kematian bagi sebuah bintang,”

Aku tergugu mendengarnya. Itukah kematianku? Cahaya warna-warni yang berpendar indah. Aku melemparkan tubuhku untuk bersujud. Sungguh indah kematianku. Dapat kudengar nyanyian angkasa para saudariku diantara pendar cahaya kematianku. Sungguh langit ini bertasbih mengagungkan TuhanKU. Jika rasa cinta yang sesak dan menyiksa itu mampu membuat kematianku mengagungkan langitNYA, aku bersedia mati berkali-kali untuk TuhanKU.

“Kini pergilah,” sang Malaikat menyadarkanku dari tasbihku.

Aku mengangkat kepalaku dan sang Malaikat telah membuka sebuah pintu untukku. Aku tak mampu melihat apa yang ada dibaliknya, tapi sinarnya begitu benderang dan membuat hatiku tenang.

“Apa yang ada dibalik pintu itu?”

“Sesuatu yang TuhanKU telah janjikan untukmu,”

Aku menatap pintu itu dan menetapkan hatiku. Aku tak tahu apa yang ada disana, tapi dapat kurasakan dadaku berdetak kencang. Bukan perasaan takut akan tetapi perasaan gembira.

Aku melangkahkan kakiku, dan aku melangkah masuk.


A/N: Dibuat untuk menyelesaikan dua tantangan sekaligus yang pertama dari Nana (OWOP) dengan tantangan kalimat pertama (Ini adalah kisah paling sedih yang pernah kudengar) Dan tantangan Kaichou Ryo (IOC Writing) dengan Challenge POV Supernova genre Romance.

Udah ya… udah selesai nih challenge kalian berdua. Huwaa…eyke pusing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s