Tiga Peraturan Penting

IMG-20160822-WA0000

A/N: Challenge bulan Agustus yang temanya ditentukan oleh Mbak Tara buat member IOC Writing. Ngidol bener~ untuk entry bulan ini dariku adalah pilihan gambar nomor 3 dengan pilihan genre mystery ya~ Tapi misterinya gak nyampe~ maafkan hamba. Happy Reading.


Ada tiga peraturan yang harus diikuti jika ingin bertahan hidup di dunia sepertiku. Peraturan pertama, kau tidak boleh membantah perintah atasan dan klienmu. Kedua, kau harus selalu tersembunyi. Dan yang ketiga untuk tidak pernah jatuh cinta.

.

.

Mataku mengintip melalui teropong jarak jauh. Seperti biasa, di waktu yang sama seperti biasanya, gadis itu sedang berjalan pulang. Seorang diri. Di wajahnya terpasang seulas senyum yang cantik. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat terurai oleh hembusan angin kecil. Gadis itu sedang berjalan di depan apartemennya.

Nah, kalau pengamatanku benar, setelah ini ia akan mengecek kotak pos apartemennya. Aku kembali mengintip lewat teropong. Ya, benar! Gadis itu sedang mengintip kotak posnya. Sepertinya ia tidak mendapatkan kiriman apapun karena sesaat gadis itu mengintip ia langsung menutup kembali kotak pos tersebut. Gadis itu kembali melangkah, melanjutkan berjalan lurus. Sampai disini aku tak mampu melihatnya lagi melalui teropongku, terhalang oleh bangunan.

Aku membetulkan posisiku saat ini, tubuhku terasa kaku. Perlahan aku menggerakkan tubuhku, mencoba menghilangkan rasa kaku di punggung. Setelah melakukan pemanasan selama beberapa menit singkat aku memasang teropongku ke arah kamar tertentu. Ya, kamar gadis itu. Kulihat gadis itu sedang menarik gorden apartemennya, membiarkan sinar matahari senja memasuki ruang apartemennya.

Ruang apartemen gadis itu berada di lantai tinggi sehingga bisa mencegah penjahat memanjat dari lantai bawah. Sementara gedung lain yang berada di sekelilingnya berjarak cukup jauh agar antar gedung tidak bisa mengintip gedung lain.

Aku kembali menggerakkan tubuhku yang kaku. Kalau jadwal gadis itu tidak berubah, harusnya saat ini ia sedang bersiap-siap melakukan aktivitas sorenya: mandi, memasak makan malam dan bersantai. Leherku benar-benar terasa kaku lalu meletakkan teropongku ke meja terdekat. Jam dinding menunjukkan angka enam, kurasa aku harus jalan-jalan sore untuk membeli makan malam.

.

.

Aku baru saja pulang dari berjalan-jalan sore, di tanganku terdapat dua kotak pizza berukuran sedang. Yah, kuputuskan untuk makan pizza malam ini. Aku sedang bersenandung pelan, melangkah menuju kamar apartemenku saat mataku melihat sebuah pot bunga mawar di depan kamarku. Bunga mawar berwarna hitam. Aku menatap bunga mawar itu dengan hampa, mendesah pelan.

Segera aku masuk ke kamar apartemen, meletakkan kotak pizza itu di meja dapur terdekat dan segera pergi lagi. Bunga mawar hitam itu adalah sebuah peringatan. Tanpa membuang waktu lagi aku segera pergi menuju satu arah, menuju stasiun kereta api terdekat.

Sore seperti ini dipenuhi dengan orang yang berlalu lalang pulang dari kegiatannya, entah itu pulang kerja atau pulang sekolah. Aku memandangi semua kegiatan itu dengan datar, aku paling benci pergi ke stasiun kereta di sore hari. Sesampainya di stasiun aku melangkah menuju loker penitipan, mengeluarkan satu keping uang seratus dan memasukkannya di loker tertentu. Pintu loker itu terbuka, menampilkan sebuah map berwarna terang didalamnya. Tanpa ragu aku segera meraih map itu dan menutup pintu loker, kini loker itu kembali terkunci.

Tanpa menoleh aku segera berjalan keluar dari stasiun, sesekali membalik lembar kertas dalam map itu. Hanya terdiri dari beberapa lembar kertas disertai sebuah foto ukuran sedang.

.

.

Malam ini aku mengenakan jaket hitam setelah memakan beberapa potong pizza. Selintas aku kembali meneropong ke apartemen seberang, gadis itu tidak terlihat akan tetapi lampu dan televisi apartemennya menyala, mungkin sedang melakukan hal lain. Kembali kuperhatikan jam, hampir pukul sembilan malam, aku segera meraih tisu dan pergi keluar. Kulangkahkan kakiku menuju gedung bioskop, melihat-lihat poster film dan memutuskan film apa yang akan kutonton.

Saat ini aku sedang berada dalam studio bioskop, menonton film yang tidak terlalu seru. Kulihat penonton film ini juga sepi dari banyaknya tempat duduk yang kosong. Hanya beberapa penonton dalam studio ini dan aku berani bertaruh mereka tidak menonton film yang diputar, melainkan pacaran di sudut tempat duduk yang sepi.

Aku melihat jam tanganku, waktunya sudah tiba. Aku segera keluar dari studio film itu, berjalan perlahan dan masuk ke studio film lainnya. Studio kali ini tidak kalah sepinya dengan studio sebelumnya. Film yang diputar adalah film dokumenter. Aku melangkah ke deret kursi tertentu dan duduk. Didepanku seorang pria sedang duduk, entah sedang menonton ataukah sedang tertidur. Kukeluarkan pistol milikku yang dipasangi peredam, ujung peredam itu kubungkus dengan kain berwarna gelap. Tanpa ragu aku langsung menempelkan pistol di kepala pria didepanku dan-

-aku menembaknya.

Tak ada suara, tak ada kilatan cahaya api. Aku segera memasukkan pistol dan sapu tangan itu kembali ke dalam saku jaketku. Melangkah keluar dari studio dan berjalan pulang. Film dokumenter itu baru akan selesai pukul tengah malam nanti. Masih banyak waktu untuk menghapus jejak keberadaanku, membuatnya seolah aku tak pernah berada di tempat ini.

.

.

.

“Kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik,”

Atasanku menatap dengan bangga. Saat ini aku sedang berhadapan dengan atasanku, disudut ruangan terdapat seorang bodyguard, menjaga atasanku dari bahaya apapun. Ia sedang membaca buku, tapi aku tahu kalau ia selalu waspada. Benar-benar anjing penjaga yang setia.

“Ini bayaranmu,”

Atasanku itu melemparkan empat gepok uang, aku menangkapnya dan menghitungnya sekilas. Semuanya berjumlah dua puluh juta.

“Kau memang pembunuh bayaran andalanku. Tak ada satupun dari pekerjaanmu yang mengecewakanku,” ujarnya bangga. Aku hanya tersenyum ringan.

“Aku tak mau usil, tapi aku penasaran. Apa yang kau lakukan dengan uangmu?”

Aku terkekeh, “Aku membuka toko kue,”

“Toko kue?” Atasanku tergelak mendengar jawabanku. “Toko kue? Kau serius?”

“Silahkan datang ke tokoku. Akan kuberikan diskon harga,”

Atasanku kembali tertawa, bukan nada meremehkan tapi lebih ke arah tidak percaya. Aku mengangguk singkat dan keluar dari ruangan itu, sementara atasanku masih tertawa.

“Aku akan memanggilmu lagi dalam waktu dekat,”

Aku tidak menoleh kepadanya tapi aku mengangkat tangan, tanda bahwa aku mendengarnya. Kakiku terus melangkah.

.

.

.

“Selamat datang!”

Aku memasuki toko kue, suasana hangat menyapaku. Beberapa pelayan menyapaku riang sementara aku berjalan melintasi beberapa deret meja. Langsung saja aku berjalan ke bagian belakang toko yang hanya diperbolehkan untuk staff. Di bagian belakang toko adalah dapur tempat pembuatan kue sementara di bagian depan adalah counter kue beserta beberapa meja jika para pembeli ingin bersantai dan memakan kue mereka di tempat.

“Hai boss! Kau tepat waktu. Kue bagian tradisional sudah habis jadi kau harus membuatnya lagi,” seru salah seorang karyawanku yang khusus memasak kue.

Beberapa karyawan berceloteh ramai, mengompori bahwa karyawan itu tidak sopan dan harus dipecat. Sementara karyawan yang memintaku memasak kue hanya tertawa lebar. Aku hanya ikut tertawa dan mengambil celemek milikku, meneliti kue apa saja yang harus kubuat dan mulai menyiapkan bahan.

Yah, inilah pekerjaanku selain pekerjaan utamaku.

Aku adalah seorang pembunuh bayaran.

Tubuhku dipenuhi oleh wangi mesiu. Sementara tanganku berlumuran darah.

Untuk menutupi semua itu, aku membuka toko kue. Berharap wanginya kue yang baru matang dapat menghapus wangi mesiu, sementara lumuran gula  dan tepung dapat menutupi lumuran darah di tanganku.

Kling Kling

“Selamat datang,”

Seorang pembeli datang tapi tak kuindahkan, karyawanku yang berada di depan toko bisa menangani mereka. Akan tetapi suara percakapan yang tidak berkesudahan itu membuatku penasaran juga. Karyawan depan akhirnya menjulurkan kepalanya ke jendela yang menyambungkan antara bagian counter dan dapur.

“Bos, ada customer mau beli kue tradisional, tapi kue itu sudah habis. Harus bagaimana?”

Aku menatap kerjaanku, proses pembuatannya masih agak lama sehingga aku memutuskan untuk keluar dan menjelaskannya sendiri. Kuseka tanganku di celemek, “Aku kesana,” ujarku.

Karyawan itu mengangguk mengerti.

Saat aku keluar dari dapur kulihat gadis itu menunggu di counter kue, matanya meneliti kue-kue yang ada di rak pajangan.

“Bisa saya bantu, nona?” Jantungku berdetak kencang tapi aku berusaha bersikap biasa. Ini adalah kontakku pertama kalinya dengan gadis ini.

“Saya mau membeli kue tradisional dalam jumlah banyak. Apa tidak ada yang tersisa sedikitpun?” ujarnya sedih.

“Sedang dalam proses pemasakan, nona. Mungkin sekitar satu jam lagi kuenya baru siap. Apakah anda mau menunggu?”

Gadis itu diam, berpikir. Sepertinya menimbang-nimbang pilihannya. “Tidak usah, mungkin saya akan beli kue yang lain,” putusnya.

“Saya beli kue ini, ini dan itu masing-masing lima potong. Apakah bisa?”

“Tentu bisa,” ujarku sambil mengambil kotak kue untuk dibawa pulang. Karyawan yang selama ini diam mengambil kue yang dipesan sementara aku menyiapkan kotaknya. Tak lama kue itu pun siap, kubiarkan karyawanku mengurus masalah pembayaran sementara aku sesekali menatap gadis itu. Gadis itu memberikan uang yang diperlukan dan langsung mengambil kuenya, kakinya langsung melangkah pergi.

Aku menghela napas pelan, kembali memasuki dapur. Yah, walaupun hanya sebentar tapi lumayan juga, aku bisa menatap wajah gadis itu tanpa teropong atau apapun.

.

.

.Aku kembali menghela napas, hari baru saja gelap ketika aku tiba di depan apartemenku. Kembali sebuah pot berisi bunga mawar hitam terletak di depan pintuku. Aku menatap pot itu dengan pandangan hampa, kedua tanganku kuletakkan di saku celanaku. Dengan perasaan hampa kembali ku melangkah, menuju stasiun kereta api.

Setelah memasukkan koin dan membuka lokernya, aku langsung meraih map berwarna terang itu. Langkahku bergegas menuju apartemenku, sebelumnya aku mampir ke mesin penjual minuman dan memilih kopi kaleng panas. Malam ini benar-benar sangat dingin, aku ingin segera kembali ke apartemenku.

.

.

.

Di rumah aku menuang segelas air dan meraih beberapa potong kentang goreng. Meja makanku berserakan beberapa makanan. Tanganku meraih tisu, mengelap tanganku dan meraih map yang tadi kuambil. Saat kubuka map itu mataku membelalak, pasalnya targetku kali ini adalah gadis itu. Gadis yang tinggal di seberang apartmenku.

Pada foto yang dilampirkan di map tertulis nama gadis itu, Iki Yuna, seorang mahasiswa jurusan sastra. Sebuah kertas berwarna gelap menuliskan instruksi bahwa dalam waktu dua hari aku harus membunuh gadis itu. Beberapa halaman kertas lainnya tidak begitu penting, hanya menjelaskan kegiatan dan jadwal yang akan dilakukan Iki Yuna selama dua hari hingga hari kontak terjadi. Aku mendengus pelan, kertas jadwal kegiatan ini sungguh tidak berguna, menatap catatan yang kumiliki sebelumnya dengan terperinci dan teliti. Segera saja aku melemparkan kertas itu di perapian hadapanku, kini kertas itu telah berubah menjadi abu.

Kembali kuperhatikan lembaran kertas lainnya yang tercantum profil Iki Yuna. Aku sedikit mengernyit, profil gadis itu biasa-biasa saja, bahkan cenderung normal. Mengapa aku harus membunuh gadis ini? Perasaan ragu mulai menyelimutiku, peraturan pertama, tidak boleh membantah perintah atasan dan klienmu. Peraturan ketiga untuk tidak pernah jatuh cinta.

Apa yang harus kulakukan?

.

.

.

Aku menatap teropong tembakku, gadis itu sedang melangkah pulang. Tangannya penuh dengan belanjaan untuk makan malam dan dapat kulihat sebuah kotak kue di tangannya yang lain. Ah, rupanya tadi dia mampir ke tokoku. Hari ini adalah hari kedua, hari terakhir dimana seharusnya aku membunuhnya. Senapanku sudah siap, telunjukku siap menekan pelatuk. Selama dua hari ini banyak sekali kesempatan bagiku untuk membunuhnya, akan tetapi hatiku tak siap untuk melakukannya.

Inilah sebabnya mengapa pembunuh bayaran dilarang untuk jatuh cinta, dan terutama mencintai targetmu sendiri.

Persetan dengan kenyataan bahwa aku adalah pembunuh bayaran terbaik di agensiku. Cinta ternyata membuatku melemah. Tapi aku suka itu.

Iki Yuna berjalan perlahan, ia hampir memasuki apartemennya saat-

-gadis itu terkapar di tanah. Barang bawaanya terjatuh di sekelilingnya. Orang-orang awalnya memandang heran pada Yuna yang terkapar di tanah, akan tetapi saat darah mulai mengalir dari kepalanya mereka baru berteriak histeris.

Aku langsung waspada, teropongku fokus kepada wajah Iki Yuna yang tewas begitu saja. Tak ada suara senapan, darah tidak langsung keluar setelah tertembak dan melihat dari lukanya sepertinya luka tembak itu berada di bagian belakang kepalanya dan tidak menembus ke depan.

Ini adalah pekerjaan penembak jarak jauh.

Aku langsung mengarahkan teropong senapanku ke arah perkiraan datangnya peluru. Selintas sempat kutangkap sosok seseorang di gedung tingkat berjarak sekitar satu kilometer dari apartemen Iki Yuna, tetapi sosok itu langsung menghilang. Sial! Ada apa ini sebenarnya?

.

.

.

BRAKKK!

Bodyguard itu langsung meraih pistolnya, moncong pistol itu mengarah padaku seiring langkahku yang semakin mendekati atasanku. Atasanku hanya menatapku dengan hampa, tidak ada tanda-tanda terkejut sedikitpun dengan kedatanganku. Tanganku langsung menunjukkan foto Iki Yuna dan melemparkannya ke meja.

“Katakan siapa gadis itu!”

Atasanku itu tidak menjawab, ia malah menatapku sambil menopangkan dagu dengan tangannya. “Kau gagal membunuhnya,” ujarnya datar.

Aku menatap mata atasanku dengan ganas. Kalau saja tatapan bisa membunuh tentu saat ini atasanku itu sudah terkapar mati.

“Kau yang membunuhnya!” tuduhku.

Atasanku masih tidak berbicara apapun. Aku merasa marah dan tanpa berpikir langsung meraih pistol yang terselip di pinggangku. Bodyguard itu langsung mendekatkan moncong pistolnya ke pelipisku.

“Jawab aku! Kenapa kau membunuhnya!”

“Peraturan pertama, kau tidak boleh mempertanyakan perintah klien dan atasanmu. Peraturan ketiga, kau tidak boleh jatuh cinta,”

Aku memandang atasanku dengan marah, “Jadi kau membunuh Iki Yuna karena aku melanggar dua peraturan?” tantangku.

“Kalau aku katakan aku yang membunuhnya, apakah kau akan menembakku?”

Pistolku masih mengarah kepadanya untuk kemudian kembali kutarik, pistolku kembali kuselipkan di pinggangku.

“Tidak. Meskipun kau selalu melakukan pekerjaan kotor, kau tidak akan sekotor itu hanya untuk sekedar mengingatkanku yang telah melanggar peraturan,”

Dengan santai aku menjauhkan moncong pistol sang bodyguard yang masih menempel di pelipisku. Bodyguard itu memandang atasanku yang mengangguk pelan untuk kemudian mundur pelan dan kembali ke tempat duduknya.

“Jadi, siapa gadis itu?”

Atasanku itu memungut foto di atas mejanya dan menunjukkannya kepadaku. “Iki Yuna adalah puteri dari seorang penyelundup narkotika terbesar di negara ini,”

“Hmm, lalu mengapa kau menyembunyikan fakta itu dalam profil yang kau berikan padaku?”

“Katakan saja untuk melihat sampai sejauh mana usahamu untuk membunuh gadis itu. Peraturan yang telah kau langgar, ingat kan?”

Aku hanya mendengus jijik.

“Kenapa ada yang mau membunuh gadis itu?”

Atasanku hanya mengernyit, “Peraturan pertama-“

“Aku tahu bunyi peraturan pertama! Yang aku ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?” Dengan emosi aku memukul keras meja itu, dari ekor mataku kulihat bodyguard itu kembali waspada.

Atasanku hanya menghela napas lelah, “Aku tak bisa memberitahumu,”

Aku menggeretakkan gigi, merasa kesal.

“Tapi aku bisa memberimu petunjuk,”

“Katakan padaku!”

Atasanku kembali menunjukkan foto itu, “Gadis ini diburu oleh banyak pihak: saingan bisnis ayahnya, polisi bahkan ayahnya sendiri,”

Aku membelalakkan mata. Ayah mana yang tega menyakiti anak perempuannya sendiri.

“Dan klienmu kali ini adalah para saingan bisnis ayahnya,” lanjutnya.

“Ok, aku rasa para saingan bisnis itu bisa dicoret dari daftar pembunuh. Tapi kenapa polisi dan ayahnya juga mau menyingkirkan gadis itu?”

Atasanku hanya mengangkat bahu, “Itu bukan urusanku,”

“Tapi kau pasti punya suatu informasi,” kejarku.

Atasanku menatap dengan tatapan menilai, “Informasi yang mahal,” bibirnya menyeringai. Tatapan matanya jelas sekali licik. Aku hanya terdiam, tidak puas.

Kembali kutatap atasanku yang masih menunggu keputusanku. Membeli informasi dari dia tak akan berguna sama sekali karena Iki Yuna sudah terbunuh dan tak ada lagi yang bisa menolong gadis itu. Akan tetapi harga diriku sebagai pembunuh bayaran juga tidak membenarkanku untuk membiarkan seseorang ini berhasil membunuh targetku. Terlebih lagi, sialnya aku jatuh cinta pada targetku. Apa yang harus kulakukan?

“Bagaimana?” Atasanku bertanya memastikan, akan tetapi aku tak bisa memutuskan apa yang harus kulakukan.

“Kau mulai bimbang,” ujar atasanku, akan tetapi tidak kuindahkan.

Aku terus berpikir. Banyak yang mengincar gadis ini, salah satunya adalah saingan bisnis narkotika ayahnya. Mereka bisa dicoret karena jika mereka bisa membunuh gadis itu dengan tangan mereka sendiri, mereka tidak perlu mengontrak jasaku kan?

“Peraturan pertama, jangan pernah mempertanyakan klien dan atasanmu,” Atasanku masih mencoba menjelaskan peraturan konyol itu.

Aku masih berpikir, bagaimana dengan pihak kedua yaitu polisi. Tapi apa gunanya membunuh gadis itu? Bukankah gadis itu justru akan lebih berguna bagi polisi dalam keadaan hidup?

“Peraturan kedua, untuk tetap terus tersembunyi,”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, pihak lainnya adalah ayahnya. Tapi untuk apa? Masalah keluarga? Aku bahkan tidak bisa melihat motif apa yang bisa membuat seorang ayah membunuh anaknya sendiri.

“Peraturan ketiga, jangan pernah jatuh cinta,”

Aku menundukkan kepalaku, tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Atasanku bangkit dari duduknya dan melangkah ke arahku, tangannya menepuk pundakku dengan lembut.

“Kau lelah, istirahatlah. Aku akan memanggilmu beberapa hari lagi,” ia memberi isyarat kepada bodyguardnya untuk membawaku keluar dari ruangan itu.

Bodyguard itu membimbingku keluar dari ruangan itu sementara kepalaku masih tertunduk lesu.

“Dan Takahiro,”

Dengan lemah aku memandang atasanku. Ia tidak akan pernah memanggil namaku kalau bukan untuk hal yang serius.

“Jangan pernah lagi untuk melanggar peraturan kalau kau tidak mau terkena akibatnya,”

Atasanku melempar seringai licik. Sinar matanya memiliki maksud tertentu.

Benakku kembali memutar percakapan yang terjadi tadi. Ada banyak pihak yang mengincar gadis itu.

Dan pintu ruangan itu menutup, menghalangi antara aku dan atasanku.


A/N: Kaaannn~ sudah saya bilang, gaje kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s