Akan Lebih Baik

Edward Phillip Arsene Louis.

Jujur saja, Primrose belum pernah mendengar nama itu. Akan tetapi nama itu adalah nama terakhir dari para pemuda yang memaksa ingin bertemu dengannya – mendadak perut Primrose terasa sakit. Setelah pertemuan pertama – yang Primrose tidak ingat lagi siapa nama pemuda itu- dan pertemuan kedua dengan Mr. Medusa, Primrose sekali lagi ingin membenturkan dahinya ke meja kayu.

Sayang, kali ini ayahnya sudah memerintahkan agar semua meja kayu di mansion dilapisi setidaknya lima lembar taplak meja yang tebal, sehingga percuma saja membenturkan kepalanya yang sudah cukup stress itu.

Meskipun perut gadis itu terasa sakit melilit karena pertemuan yang tiada berkesudahan, gadis itu cukup penasaran juga dengan pemuda yang terakhir ini. Pasalnya, nama pemuda ini belum pernah didengar sebelumnya.

Ayahnya, Mr. Kirkland memastikan bahwa pemuda itu berasal dari keluarga bangsawan yang cukup terkemuka, akan tetapi pemuda ini memiliki sedikit cacat. Ibu dari pemuda itu bukanlah istri yang sah, melainkan istri kedua yang berlatar belakang seorang pelayan. Kalau bukan karena latar keluarga bangsawan itu yang cukup terkenal, tentu Mr. Kirkland sudah menolak keras pemuda itu menemui putrinya.

Dan disinilah Primrose, kembali duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Primrose sedang melamunkan hal-hal yang tidak penting saat sesosok pemuda menghampirinya. Gadis itu berdiri dan mengangguk angun. Saat matanya menatap wajah pemuda itu mata Primrose membelalak dan ia hampir berteriak. Untunglah pemuda itu memberi isyarat diam hingga Primrose tidak berteriak karena terkejut.

“Selamat siang Milady Primrose. Maafkan kedatangan saya yang terlambat ini,” ujar pemuda itu ramah.

Ekspresi Primrose berubah-ubah: terkejut, bingung, penasaran, hingga akhirnya ia harus disadarkan dengan batuk kecil dari pelayannya. Primrose mengangguk hormat kepada pemuda itu, mengulurkan tangannya yang disambut dan dikecup di bagian punggung tangan.

Primrose kembali duduk yang diikuti oleh pemuda itu. Mata gadis itu menatap menyelidik. Pasalnya pemuda di hadapannya itu…

“Perkenalkan, nama saya adalah Edward Phillip Arsene Louis. Anda bisa memanggil saya Phillip saja.”

… adalah Gentleman Thief.

Primrose hanya mampu menatap pemuda itu dalam diam. Tiba-tiba saja ia tersentak dan mulai merapikan tatanan rambutnya yang mungkin berantakan, dahinya yang masih sedikit membengkak dan gaunnya yang sedikit kusut. Pelayan gadis itu kembali berdehem sementara Phillip tersenyum geli.

“Mereka bilang anda adalah gadis yang sangat cantik dan saya mengakui kecantikan anda memang luar biasa,” Phillip tersenyum geli, akan tetapi terlintas senyum sinis.

Primrose dapat melihat senyum sinis itu dan memasang wajah cembut. Sungguh Unlady-like!

Kalau memang Gentlemen Thief ini ingin bermain, Primrose akan melayani permainannya, pikir Primrose.

“Terima kasih atas pujian anda, meskipun saya yakin semua itu hanya berita yang dibesar-besarkan,” Primrose melempar senyum manisnya.

Phillip melihat gelagat bahwa gadis itu mulai mengikuti alur permainannya. Pemuda itu tersenyum sesaat.

“Kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan, Lady Primrose?”

“Tidak Lord Phillip, kita belum pernah bertemu sebelumnya.”

Primrose menuangkan secangkir teh dan mempersilahkan Phillip untuk mencicipi kue yang ada. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Primrose ingin sekali berbicara banyak dengan pemuda di depannya ini, akan tetapi merasa tidak bebas karena pelayannya.

Sir Phillip, apakah anda mau berkeliling taman? Saya bisa menunjukkan beberapa koleksi bunga mansion ini kepada anda,” Primrose sudah bangkit dari duduknya, pertanda tidak menerima penolakan.

Sang pelayan membelalakkan mata. Baru kali ini nonanya berinisiatif melakukan sesuatu. Phillip menatap selidik gadis itu sesaat dan melemparkan senyumnya. “Saya merasa senang,” ujar pemuda itu. Phillip bangkit dan mengulurkan lengannya, Primrose melingkarkan lengannya ke sekeliling lengan pemuda itu.

Sang pelayan meski penasaran tetap menghormati Ladynya itu. Karena itu sang pelayan berdiri agak menjauh, memberi ruang bagi Primrose untuk berbicara tanpa terdengar oleh sang pelayan.

Sir Gentleman Thief?”

Phillip tersenyum kecil. “Milady, rupanya kabar burung yang mengatakan anda akan dijodohkan itu memang benar?”

Primrose merengut.

“Tahukah anda, orang-orang di kota saling bertaruh satu sama lain mengenai siapa pemuda beruntung yang akan mendapatkan anda?”

“Aku bukan barang,” Primrose membalas ketus.

“Hmm, dengan ini saya memenangkan taruhan. Kurasa aku akan menagih uangku yang mengatakan anda terlalu keras kepala untuk menikah dengan salah satu diantara para pemuda ini,” Phillip atau Gentleman Thief melanjutkan tanpa jeda.

“Kau bertaruh mengenaiku?!” Primrose menghentikan langkahnya dan menatap Phillip dengan pandangan marah.

“Aku anggap itu sebagai jawaban yang tepat, bukan?” Phillip tersenyum kecil. Primrose masih menatap marah.

“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau memang Edward Phillip Arsene Louis?”

Phillip tersenyum kecil. “Edward Phillip adalah sahabat baikku, milady. Ia meyakinkanku bahwa ia tidak suka dipaksa menikah dengan anda. Mengejutkan sebenarnya, karena sahabatku itu begitu bodoh menolak gadis secantik anda. Dengan ramainya desas-desus perjodohan anda, tentu saya menawarkan diri untuk mengetahui di sisi mana dewi fortuna akan tersenyum. Dan yang seperti anda lihat, sepertinya saya memenangkan taruhan itu,”

Primrose menatap tak percaya pada pemuda di hadapannya itu. Phillip menangkap anak rambut Primrose yang tidak tertata rapi dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu. “Sekarang saya bisa melihat sisi lain dari di anda, milady. Dibalik pribadi anda yang anggun dan gemulai, anda hanyalah seorang gadis pemberontak yang mendambakan kebebasan,”

Primrose menampik tangan Phillip dengan kasar. “Bukankah anda sudah mengetahuinya sejak saya diculik pada saat lalu?”

“Dan karena hal itulah lady, saya sangat mengagumi topeng anda,”

Primrose tertegun. “Bukankah kita sama-sama menggunakan topeng, Sir Thief?”

Phillip mendecak tidak setuju. “Inilah pribadi saya yang sebenarnya milady. Tentu pribadi saya ini tak akan mampu ditolerir oleh gadis sekelas anda bukan?”

Primrose menangkap nada sindiran disana. “Apa maksud anda?” Nada bicara Primrose telah berubah berbahaya.

Phillip mendekatkan bibirnyake telinga Primrose. “Menurut anda, mengapa saya menolak untuk membawa anda pada saat itu?”

Dan Primrose bisa merasakan hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa terasa sakit, tiba-tiba saja air mata telah menetes ke pipinya. Akan tetapi Phillip malah tersenyum. Seolah bangga mampu membuat Primrose menangis dengan kata-katanya yang menusuk.

Primrose sadar diri. Ia telah ditolak sebelum sempat menyatakan perasaanya. Gadis itu mundur beberapa langkah menjauh dari Phillip, mengangguk hormat dan melangkah pergi. Langkah gadis itu terhenti sesaat dan menoleh sebentar.

“Akan lebih baik jika anda adalah Edward Phillip Arsene Louis,”

Primrose berjalan menjauh dan disambut oleh pelayannya. Phillip hanya mampu mendesah memandang kepergian Primrose.

“Yah, aku harap aku bisa menjadi Edward Phillip, milady.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s