Pasangan Kedua

Sang pelayan tidak melepaskan pandangan matanya sedikitpun dari Lady Primrose. Matanya menatap waspada akan setiap gerakan terkecil dari Ladynya itu. Yang ditatap hanya duduk dengan pandangan kosong, meski saat ini jelas Primrose ingin sekali membenturkan kepalanya ke meja di hadapannya.

Sang pelayan masih menatap waspada, merasa khawatir dengan keadaan dahi Lady Primrose. Sebelum pertemuan ini sang Lady telah membenturkan kepalanya berkali-kali ke meja kayu saking stress dan frustasinya. Ayahnya, Sang Lord Arthur Kirkland tentu saja langsung panik, dan sebenarnya memang itu tujuan Primrose. Membuat ayahnya panik agar pertemuannya dengan pria yang lain bisa dibatalkan. Pertemuan dengan pria pertama saja sungguh sangat mengerikan, Primrose tidak berani membayangkan mengenai pertemuan kedua.

Sialnya, meski dahi Primrose kelihatan memar dan ia yakin mempengaruhi kecantikannya- meski ayahnya bersikukuh ia tetap cantik, pertemuan itu tidak dibatalkan. Hell! Memang ayahnya disuap apa hingga beliau benar-benar keras kepala untuk mempertahankan pertemuan kali ini?

Jadi disinilah Primrose berada. Terjebak di pertemuan yang membosankan, diawasi oleh pelayannya dengan dahinya yang berdenyut memar. Primrose mendesah bosan. Sepuluh menit telah berlalu sejak dimulainya pertemuan dengan Duke William akan tetapi pemuda itu tidak mengucapkan sepatah katapun. Sisi positifnya, pemuda dihadapannya tidak banyak bicara, tidak seperti pemuda sebelumnya yang Primrose bahkan sudah lupa siapa namanya.

Sisi negatifnya, Duke William terus menatap dirinya dengan tatapan yang tajam, nyaris setajam pisau. Primrose bergidik, pasalnya kali ini Duke William menatapnya tajam dari balik cangkir teh yang sedang dihirupnya.

“Terima kasih atas pertemuan kali ini, Lady Primrose,” Duke William meletakkan cangkirnya ke tatakan dengan sangat elegan. Membuat Primrose bertanya bagaimana pemuda ini bisa terlihat lebih elegan dibanding dirinya yang seorang wanita.

Deheman sang pelayan menyadarkan Primrose dari pikirannya yang asal, gadis itu melemparkan seulas senyum manis, berharap senyum itu cukup sebagai balasan.

“Kita memang belum pernah bertemu sebelumnya. Akan tetapi nama anda sangat terkenal di kota ini milady,” Duke William menopangkan dahunya ke tangannya.

“Sesuai kabar burung yang beredar, anda memang sangat cantik. Tak heran Gentleman Thief menjadikan anda sebagai targetnya,” lanjut Duke William.

Primrose tidak yakin apa yang ia harus lakukan, gadis itu memilih kembali tersenyum.

Duke William mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Ya saat ini mereka berdua sedang minum teh di taman mansion Kirkland. Pemandangan bunga warna-warni cukup membuat mata terpukau kagum, memberikan kesempatan bagi Primrose untuk terbebas dari tatapan tajam pemuda di hadapannya.

Milady Primrose. Tentu anda tahu mengenai tujuan kedatangan saya ini bukan?”

Primrose ragu sejenak, akan tetapi ia memilih pura-pura tak tahu. “Saya tidak mengerti maksud anda, Duke William.”

Duke William kembali menatap Primrose dengan tajam, kini Primrose benar-benar merasa kaku. Mungkin ditatap oleh Medusa akan jauh lebih baik dibanding tatapan Duke William, pikir Primrose asal.

Duke William menatap matanya dan tersenyum, ia bersender di punggung kursinya. “Saya mengajukan tawaran pernikahan kepada anda.”

Jantung Primrose mencelos, sesaat menyesal tidak sedang menghirup tehnya. Ada kemungkinan saat Primrose meminum tehnya dan Duke William menyatakan tujuannya, gadis itu bisa berpura-pura menyembur tehnya ke wajah tuan muda itu dengan alasan terkejut. Sayang, semua itu hanya dalam bayangannya saja.

“Tentu pernikahan kita tidak akan terjadi sekarang. Tetapi saya ingin anda memikirkannya,”

Primrose hanya mampu terdiam, tangannya memegang cangkir di hadapannya sementara tatapan matanya terarah ke meja di hadapannya. Primrose berusaha menyembunyikan perasaan hatinya, akan tetapi kegelisahan gadis itu dapat ditangkap baik oleh William.

William bangkit dari duduknya dan menggunakan topi tingginya yang selama ini diletakkan di meja. “Anda tidak perlu terburu-buru. Akan tetapi saya harap anda mempertimbangkan tawaran saya,”

Duke William mengangguk sopan sebelum akhirnya undur diri dari sana. Primrose hanya duduk terdiam, tidak menatap kepergian William apalagi memberi salam perpisahan. Gadis itu malah menghembuskan napas secara berat, menyenderkan punggungnya ke kursi dan menatap langit yang berwarna biru.

Milady! Kelakuan anda sungguh tak pantas!”

Primrose menghiraukan serentetan teguran dari pelayannya. Kepalanya benar-benar pusing kali ini. Siapapun, tolong bantu ia kabur dari sini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s