Satu Cuplik Kehidupan

Hosh. Hosh. Hosh.

Seorang pemuda berlari. Keringat bercucuran dari dahi dan lehernya, akan tetapi ia tak menghiraukan semua itu. Matanya terfokus pada satu tujuan.

Tubuhnya berkelit dengan lincah. Celana abu-abunya agak kotor sedikit, terpercik genangan air berwarna cokelat. Akan tetapi sekali lagi ia masih tidak menghiraukan semua itu.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.

Napas pemuda itu sudah berat. Akan tetapi ia yakin bahwa ia bisa mencapai tujuannya tanpa gagal. Saat kakinya telah mencapai titik tertentu ia melompat. Melempar tubuhnya ke depan.

GREEEETTTT

Chandra, nama pemuda itu memposisikan tubuhnya berlutut. Ia aman.

“Dasar Bocah! Kamu lagi beruntung saya gak tutup pintu pagarnya! Kamu harusnya telat tahu!”

Pak Sukirman, satpam sekolah geleng-geleng kepala. Pria itu meletakkan tangannya di pinggang, menatap Chandra dengan jengkel. Pagar sekolah yang ada di belakangnya dalam posisi tertutup.

Chandra melempar senyum sinis. Ia menepukkan celananya, berusaha menyingkirkan debu. “Tentu saja saya tidak akan telat. Semua latihan lari di pagi hari akan terasa sia-sia,” ujar Chandra sok keren. Pak Sukirman hanya bisa bengong.

“Sampai jumpa lagi, Pak Sukirman,” Chandra mengibaskan jaketnya dan berjalan dengan tenang. Pak Sukirman kembali hanya bisa bengong.

Chandra melangkahkan kakinya sepanjang koridor sekolah. Langkahnya santai akan tetapi tatapan matanya waspada. Telinganya berusaha menangkap suara sekecil apapun, meski sekedar suara hembusan angin. Akan tetapi nihil, tak ada suara sekecil apapun.

Ini tidak bagus sama sekali. Chandra mempercepat langkahnya dan berhenti di depan pintu bertuliskan XII IPA 2.

“Disinilah medan perang akan dimulai,” pikir Chandra waspada.

Tubuhnya merapat ke arah pintu, telinganya ditempelkan ke daun pintu. Aneh, sama sekali tidak terdengar suara apapun. Ia berusaha mengintip ke jendela kelas akan tetapi suasana kelas nampak tenang.

Degup jantung pemuda itu berdetak cepat, keringat dingin mengalir. Perlahan Chandra membuka pintu dan mengintip, tidak ada guru di dalamnya. Dengan perasaan lega chandra menampakkan diri, membuka pintunya dan…

“CHANDRA!”

Sebilah penggaris kayu menebas dari arah atas, secara refleks Chandra menahan serangan itu dengan lembaran file tebal yang memang dibawanya dari awal.

“Abdul! Apa-apaan-”

“Diam! Beraninya kau terlambat!” Pemuda bernama Abdul itu melontarkan serangan lain, kali ini penggaris kayu itu menebas dari samping. Chandra berkelit, meloncat beberapa langkah kebelakang dan berlutut.

“Kau tidak tahu apa yang-”

“Diam! Kami tak menerima alasanmu!”

Abdul berlari, penggaris kayu itu menyabet ke segala arah. Chandra mulai kewalahan. Ia tidak bersenjata dan hanya punya kertas file tebal sebagai pelindung. Bukan hal yang bagus untuk melawan senjata penggaris kayu.

“Abdul sudah cukup!”

Sebuah suara mencoba menghentikan pertarungan mereka. Seorang gadis dengan jilbab yang lebar menatap mereka berdua dengan cemas.

“Jangan hentikan aku Latifah. Anak ini memang harus diberi pelajaran!”

“Tapi ini tidak benar. Bukankah yang penting Chandra bisa kembali mengambil tugas kita dengan selamat?!” Latifah terisak dengan emosi yang terlalu berlebihan.

“Aku akui aku memang salah. Tapi kau tak perlu menyerangku seperti ini!” seru Chandra.

“Diam Latifah! Tak akan kubiarkan Chandra menyakitimu dan membuatmu sedih!”

“Jangan kau bicara seperti itu pada Latifah!”

Latifah terdiam, matanya menatap bingung dan cemas. Pasalnya awal mula permasalahan ini adalah mengenai tugas presentasi yang tertinggal. Kenapa sekarang jadi berubah menjadi kasus cinta segitiga?

“Diam!” seru Abdul.

Abdul menyerang, memanfaatkan kelengahan Chandra. Penggaris kayunya mampu menyabet lengan, perut dan paha Chandra. Chandra yang tidak siap diserang berlutut jatuh, kesakitan dan kehabisan napas.

Latifah segera mengulurkan botol air minum yang langsung diteguk oleh Chandra, yang mana membuat Abdul berdecak sebal. Mata Chandra meneliti ke suatu arah. Ia berdiri dan berlari, Abdul berusaha memotong jalur pemuda itu. Akan tetapi Chandra lebih cerdik, ia melompati serangan penggaris kayu itu, mengambil sebilah penggaris kayu yang lain dan menahan sabetan ke kepala dari Abdul.

“Sekarang kita seri,” ujar Chandra.

“Pertarungan belum berakhir!”

Chandra dan Abdul meloncat mundur beberapa langkah. Senjata siap di tangan sementara mata mereka waspada. Kedua pemuda itu saling menatap satu sama lain, mereka tidak bergerak. Kedua pihak saling menyadari, saat diri mereka bergerak itu akan menjadi serangan terakhir mereka.

Latifah menatap was-was kedua temannya. Masing-masing tangannya telah siap dengan air mineral di botol.

Suasana hening, sunyi. Hanya detik jam yang memecah keheningan. Peluh mengalir dan jantung berdetak kencang.

Tiba-tiba saja angin kencang menerpa pandangan Latifah, tak mampu melihat apapun. Saat Latifah membuka matanya kedua senjata sudah menebas satu sama lain. Chandra dan Abdul berusaha menahan ayunan pedang lawan dan menyarangkan serangan.

Mereka masih mengukur kekuatan satu sama lain saat…

PLOK!

…kepala mereka berdua dipukul pelan dengan buku absensi.

“Penggaris sekolah bisa patah!”

Chandra melompat mundur, mengacungkan penggaris kayu mereka kepada musuh baru…

“Guru!” “Pak Guru!”

…yang ternyata adalah guru mereka.

Syat! Syat! Syat!

Chandra dan Abdul terkapar di lantai. Guru mereka telah mengeluarkan jurus “sabetan cahaya buku absensi”. Tak pernah ada satu orangpun korban dari jurus itu yang mampu melihat gerakan cahaya sabetan itu.

Pak Guru menatap ke arah Latifah.

“Beri mereka minum!”

Tanpa basa-basi Latifah langsung berlari menghampiri kedua pemuda itu.

“Dan kalian berdua, sepulang sekolah temui saya untuk menerima hukuman,” Pak Guru menatap tajam. Chandra dan Abdul hanya bisa menatap Pak Guru dengan ringis kesakitan.

Pak Guru membalikkan badan, mereka bertiga hanya bisa memandang punggung pak guru. Angin berhembus dan Pak Guru melangkah pergi.

“Darah muda seperti kalian, memang terlalu berapi-api.”

Pak Guru memang keren!

#End#

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s