SIGH

Aku mendesah.

Kuangkat kepalaku dan menatap matahari yang agak condong. Musim gugur yang agak dingin di Venezia. Meskipun begitu masih ada perasaan hangat. Matahari masih bersinar, akan tetapi angin yang bertiup, terutama di Venezia ini cukup membuat musim gugur agak terlalu dingin.

Kuarahkan pandanganku kepada matahari, menantang. Konyol memang. Matahari memiliki sinar yang begitu kuat, mengapa dengan konyolnya aku berusaha menatapnya? Ah, lagi-lagi aku jadi teringat dirinya. Aku berusaha menggeleng, menepis pikiran konyolku.

Kuarahkan pandangan ke sekelilingku. Jembatan Ponte della Paglia sore ini agak sepi. Tidak banyak wisatawan- mungkin karena saat ini bukanlah musim wisatawan padat, masih bisa kumaklumi. Hanya terdapat beberapa orang yang bersantai di jembatan ini, menikmati pemandangan kanal dibawah, matahari senja musim gugur, atau entahlah mereka sibuk masing-masing.

Dengan malas aku menatap kanal dibawah, hanya beberapa gondola yang sedang dikayuh oleh para gondolier. Beberapa itik mengapung di sudut kanal, bergerombol entah sedang apa.

Entah berapa lama aku termenung, memandangi itik tersebut hingga tersadarkan oleh bunyi dentang jam menara. Aku mengenali bunyi dentang itu. Dentang jam Piazza San Marco berbunyi sebanyak lima kali. Kembali aku mencoba menatap langit, matahari sudah condong bahkan hampir tenggelam.

Air mataku menggenang di sudut mata. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Selalu begini. Pada akhirnya akulah yang harus menunggu, sementara dirimu entah sedang dimana saat ini. Berpura-pura melupakan janji temu antara kita berdua. Dan esok harinya kau akan menemuiku, tersenyum bodoh dan meminta maaf, lalu mengatur janji bertemu yang pasti akan kau lupakan lagi.

Aku mendesah, mataku menatap lurus.

Sungguh ironis. Aku mendesah di depan Jembatan Desah (Ponte dei Sospiri).

Sungguh lucu kan? Mereka bilang para pelaku kejahatan saat dibawa melintas jembatan itu akan mendesah sambil menatap indahnya Venezia. Dan aku ada disini. Menatap Jembatan Desah sambil mengenang semua yang telah kita lalui.

Sebuah gondola melintas dibawah Jembatan Desah. Penumpang yang dipandu oleh gondolier itu berciuman tanpa malu-malu, dihadapan sang gondolier.

Aku mendengus sinis. Kami juga pernah melakukan hal itu. Legenda mengatakan pasangan yang berciuman tepat di bawah Jembatan Desah pada senja hari pasti akan memiliki hubungan yang kekal selamanya.

Aku menggeleng keras. Itu semua cuma legenda. Buktinya aku dan dia tidak baik-baik saja.

Kuraih loket kalung yang kugunakan, foto kami berdua. Aku masih menatap foto itu saat handphoneku bergetar.

Maafkan aku. Aku tak bisa menemuimu sore ini.

Perasaan campur aduk memenuhi rongga dadaku. Jadi ini jawabanmu setelah kau membuatku menunggu selama enam jam?

Aku menarik loket kalungku dengan kasar, rantai tipis itu terlepas. Dengan kasar aku membuang loket itu ke kanal di bawah. Biarlah loket itu menghilang. Biarlah perasaan cinta ini menghilang. Biarkan semua keluh kesah dan desahku ini terbawa oleh angin Adriatik, mengalir menyeluruh ke Venezia, menyampaikan perasaanku kepada lautan. Hanya kepada lautan ini saja aku bisa mencurahkan perasaanku.

Air mataku telah menetes membasahi pipi, bahuku bergetar, akan tetapi aku tidak peduli. Aku telah menumpahkan segala perasaanku kepada kanal. Apa tidak sebaiknya sekalian aku melakukan ritual Marriage of The Sea?

Aku menepis pikiran konyolku sesaat.

Perdere, Stai Bene (Miss, are you alright)?”

Seorang polisi bersepeda menatapku dengan was-was. Pastilah aku terlihat sangat berantakan saat ini.

Sto Bene (I am fine),” gumamku sambil melempar senyum kecil.

Polisi itu bingung sesaat sebelum akhirnya menyentuh tepi topi miliknya dan mengayuh sepedanya. Aku menghapus air mata di pipiku, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, terus melakukan hal itu hingga aku kembali mendesah.

Aku mendesah di depan Jembatan Desah. Lagi. Sungguh ironis.

I wed thee, sea, as a sign of true and everlasting domination,” gumamku sambil menatap kanal dibawah.

Aku menatap langit. Senja ini Venezia kembali menikah dengan Laut Adriatik. Sebagai pelarian karena tak mampu menggenggam cinta yang nyata.

Aku mendesah. Lagi. Melangkah pergi dari Ponte della Paglia.


#Malam Tantangan OWOP

A/N: Apaan ini??? udah setorannya telat, risetnya kurang, bahasanya pakai google translate! Terlalu! Sediiih hayati. mOga-moga bisa jalan-jalan ke Itali deh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s