Mr. Carrot and Alice in Wonderland

img-20160830-wa0001

Alice kecil merasa pusing. Ia baru saja meninggalkan pesta teh yang diselenggarakan oleh Mad Hatter. Alih-alih merasa kenyang dan tenang, gadis kecil itu justru merasa lebih pusing lagi dengan semua omong kosong kegilaan Mad Hatter dan para tamunya.

Alice kecil berjalan di jalan kecil satu arah. Saat keluar dari rumah Mad Hatter ia tidak memperhatikan arah jalan karena terlalu tergesa-gesa. Tapi toh gadis kecil itu tidak peduli, Alice masih merasa penasaran dengan dunia ini. Alice tiba di persimpangan jalan. Terdapat penunjuk jalan di antara persimpangan itu, jalan ke arah kiri menunjukkan arah “Ke sana” sementara jalan ke kanan menunjukkan arah “Ke sini”. Alice kecil merasa bingung.

“Jalan ke arah mana yang harus kuambil untuk bisa sampai ke rumah?” gumam Alice putus asa. Alice kecil merasa lelah. Setelah menghadapi kegilaan Mad Hatter, gadis kecil itu berharap agar tidak bertemu lagi dengan orang gila itu.

Alice terduduk di batu besar di pinggir jalan, memikirkan kiranya apa yang sedang dilakukan kucing kasayangannya saat ini. Saat ia baru saja mendudukkan dirinya sebuah suara mengaduh kecil terdengar. Alice melihat kanan dan kiri, tidak ada siapapun, pastilah suara itu hanya imajinasinya.

“Apa yang kau lakukan, anak nakal? Bangun dari dudukmu kalau kau tidak mau membuatku menjadi wortel gepeng!”

Alice melocat dari duduknya dan memandangi batu yang baru saja didudukinya. Ternyata di batu itu ada sebuah wortel yang bisa berjalan. Alice menggosok matanya, berharap dirinya salah lihat atau semua itu hanya imajinasinya.

“Jangan menggosok matamu terlau keras nak! Ini semua bukan mimpi kau tahu!” seru wortel itu.

“Maafkan aku Tuan Wortel, tapi aku tidak melihatmu disana,”

“Lucu sekali! Bagaimana mungkin kau bisa tidak melihatku ada disini?”

“Entahlah Tuan, aku baru saja minum teh bersama Tuan Mad Hatter dan-“

“Hah! Mad Hatter kau bilang! Tak heran kau kelihatan linglung!”

Alice kecil menatap penuh selidik pada wortel cerewet itu. Wortel itu tidak berbeda dengan wortel pada umumnya, akan tetapi Alice yakin tidak ada wortel yang bisa berbicara dan berjalan. Terutama, tak ada wortel yang menggunakan pakaian. Akan tetapi wortel dihadapannya melakukan semua itu, berbicara, berjalan dan berpakaian. Alice kecil merasa pusing dan berharap bisa pulang, kembali menemui kucingnya yang manis.

“Apa kau mendengarku anak bodoh!”

Alice kecil tersentak. Tuan Wortel itu kembali marah-marah. “Maaf Tuan Wotel, aku tak mendengarmu.”

“Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan Wortel! Namaku adalah Carrot! Panggil aku  Mr. Carrot!”

“Tapi tuan, bukankah itu sama saja?” Alice menatap bingung.

“Dasar tak sopan! Tak bisakah kau memanggilku dengan Mr. Carrot!”

Sungguh wortel yang sangat cerewet, keluh Alice dalam hati.

“Maafkan aku Mr. Carrot,”

“Itu lebih baik!” Mr. Carrot mengangguk puas. “Jadi seperti kataku tadi, siapa namamu anak kecil?”

“Aku bukan anak kecil. Dan namaku adalah Alice. Hanya Alice.”

“Baiklah, hanya Alice, aku tadi bertanya apa yang kau lakukan disini? Wajahmu benar-benar terlihat bodoh,”

“Tapi Tuan- maksudku Mr. Carrot,” Mr. Carrot menatap tajam saat Alice hendak mengucap Tuan Wortel yang untung saja keburu diganti olehnya, “Tidak sopan mengatai seorang lady dengan sebutan anak bodoh. Lagipula aku bukanlah anak kecil,” Alice mulai keras kepala.

“Aku bebas memanggilmu dengan nama apapun yang kusuka!” Alice cemberut.

“Dan aku akan memanggilmu anak bodoh!”

Sungguh wortel yang egois, keluh Alice kecil dalam hati.

“Jadi anak bodoh, apa yang kau lakukan disini? Wajahmu begitu bodoh hingga kau berani mendudukiku,”

Alice memasang wajah masam. “Aku hanya berpikir jalan mana yang sebaiknya kuambil untuk sampai ke rumahku,”

“Hah! Ada dua jalan disini. Kau tinggal memilih jalan kesini atau kesana?” Mr. Carrot menjelaskan dengan gamblang seakan semua orang mengetahui hal itu.

“Tidak tuan, aku tidak mau mengambil kedua jalan itu. Aku hanya ingin tahu kearah mana seharusnya aku ambil untuk sampai di rumah,”

“Dan dimanakah rumahmu itu?”

Alice terdiam sesaat, bingung, “Aku tidak tahu tuan,”

“Hah! Benar-benar bodoh! Kau bahkan tidak tahu arah rumahmu sendiri,”

Alice kecil mulai merasa kesal, “Aku tidak bodoh Mr. Carrot. Aku bisa membaca, menulis, matematika dan geografi. Aku tidak bodoh,”

Mr. Carrot tertawa geli. “Anak bodoh. Kau bisa membaca? Kalau begitu kau harusnya tahu jalan apa yang harus kau pilih untuk sampai ke rumahmu,”

“Tidak ada penunjuk arah yang mengatakan ke arah mana rumahku,”

“Itulah dia! Kau hanya harus memilih dua jalan yang ada, kesini atau kesana?”

“Tapi Mr. Carrot, aku tidak mau kesini atau kesana! Aku hanya mau pulang ke rumahku!”

“Sungguh anak bodoh! Kau bisa membaca kan? Hanya ada jalan kesini dan kesana. Kau hanya perlu bisa membaca di Wonderland ini nak. Tak ada gunanya berpikir, matematika, geografi dan segala omong kosong itu!” Mr. Carrot mulai berang.

Alice kecil mulai memasang wajah putus asa.

“ Kalau aku mengambil jalan kesana, kemana jalan itu akan membawaku?” Alice mulai bertanya lagi.

“Kearah manapun jalan kesana akan membawamu,” Mr. Carrot menjawab dengan bangga.

“Kalau aku mengambil jalan kesini, kemana jalan itu akan membawaku?”

“Kearah manapun jalan kesini akan membawamu,”

Alice mengeluh. “Semua ini gila,”

Mr. Carrot tertawa. “Tak pernah ada yang waras di Wonderland ini nak. Kupikir pesta teh Mad Hatter telah membuatmu mengerti!”

Alice menunduk sedih.

“Kalau kau bingung kenapa kau tidak kembali ke pesta teh Mad Hatter? Kau akan merasa senang di Wonderland ini,”

Alice menatap Mr. Carrot dengan tatapan ngeri. Kembali ke pesta dan bertemu dengan Mad Hatter dan Kelinci Paskah? Itu mengerikan.

“Kurasa sudah cukup bagiku untuk mengurus anak bodoh sepertimu,” Mr. Carrot meloncat dari batu dan mulai berjalan kearah pesta teh Mad Hatter. Alice memandangi kepergiannya sebelum akhirnya Mr. Carrot mendadak berhenti.

“Kemari nak, ada yang ingin kuberikan kepadamu!”

Alice menghampiri Mr. Carrot yang menyerahkan satu toples kecil berisi buah arbei. Tulisan di tutupnya berbunyi jangan makan aku. Alice memandang toples arbei itu dengan penasaran.

“Apa ini Mr. Carrot?”

“Kau lihat tutupnya kan Nak? Jangan makan benda itu!”

Alice menatap Mr. Carrot penasaran, “Apa yang akan terjadi jika aku memakan buah arbei ini?”

“Anak bodoh! Jangan makan benda itu, bukankah ditulis dengan jelas di tutupnya?”

Mr. Carrot langsung melangkah pergi, seakan jika lebih lama lagi bersama Alice kecil hanya akan membuatnya gila saja. Alice justru menatap tertarik isi stoples tersebut. Kenapa diberikan kepadanya jika tidak boleh dimakan?

Alice kembali mengingat saat ia datang ke Wonderland ini, mengingat saat ini mendapat kesulitan karena memakan kue dan meminum ramuan bodoh itu. Karena kue dan ramuan bodoh itu tubuhnya menyusut dan membesar. Tapi ini kan buah arbei, jadi seharusnya tidak akan ada masalah, bukan?

Alice kecil membuka tutup toples kaca tersebut, mengabaikan tulisan di tutup itu. Tangannya meraih sebuah arbei dari toples. Alice kecil mengamati arbei tersebut, mengendusnya, tidak ada yang aneh dengan arbei itu. Perlahan alice kecil memasukkan arbei itu dan menggigitnya. Rasanya asam!

Sepertinya Alice kecil paham mengapa tertulis jangan makan aku ditutup toplesnya.

Akan tetapi setelah Alice kecil menelan kunyahan arbei itu, tiba-tiba saja tubuh Alice menyusut. Alice kecil merasa panik.

“Wah, wah wah. Terlibat masalah lagi, Alice?”

Alice menengadah. “Chesire Cat! Kau membesar!” Alice kecil menatap heran kucing menyebalkan itu. Sama sekali tidak menyadari masalah yang baru saja terjadi pada dirinya.

“Nah, Aliceku sayang. Aku tidak membesar, tapi kaulah yang menyusut,” Chesire Cat memasang seringai menyebalkan miliknya itu.

“Oh, bagaimana ini? Mengapa tubuhku menyusut?”

“Ck ck ck, rasa penasaranmu terlalu besar Aliceku sayang. Bukankah mereka bilang rasa penasaran bisa membunuhmu?”

“Tapi itu hanya buah arbei. Ia tidak mungkin membunuhku!”

Well, mungkin memang tidak membunuhmu. Tapi tubuhmu menjadi kecil sekarang,” Chesire Cat menatap Alice dengan tajam, seringainya tidak terlupakan.

“Aku merasa sangat aneh sekarang. Tubuhku mengecil, lalu membesar, lalu kembali normal. Sekarang tubuhku mengecil lagi. Apa yang harus kulakukan agar tubuhku kembali normal?”

Chesire Cat bergelung-gelung diatas batu, meregangkan tubuhnya. Alice menghentakkan kakinya, tidak sabar. “Chesire Cat! Tolong bantu aku!”

“Nah, kurasa Aliceku sayang. Paling bijak bagimu untuk tidak membiarkan rasa penasaran mengendalikan dirimu. Wonderland bukanlah tempat yang aman untuk gadis kecil polos sepertimu,”

Alice menatap Chesire Cat dengan pandangan memohon, matanya sembab dan hampir menangis. “Kalau kau pergi kearah sana mungkin kau akan menemukan sesuatu,” ujar Chesire Cat.

“Dan apa yang akan kutemui jika aku mengambil jalan kesana?”

Akan tetapi Chesire Cat perlahan menghilang, hingga menyisakan seringainya dan kemudian semuanya hilang.

“Kau sangat tidak membantu seperti biasa, Chesire Cat! Aku benar-benar marah padamu,” Alice kecil menggerutu.

Alice bangkit dari duduknya, mengibaskan pakaiannya dan mulai melangkah menuju jalan kesana. Perjalanan yang cukup memakan waktu hanya untuk mencapai jalan kesana mengingat tubuhnya yang mengecil saat ini. Jika saja tubuhnya normal, pasti Alice kecil sudah sampai ke jalan yang dituju hanya beberapa langkah.

Kali ini Alice malangkah perlahan dalam hutan yang gelap. Alice kecil menggigil. Kalau saja tubuhnya tidak sekecil ini pastilah hutan ini tidak akan terlalu mengerikan. Akan tetapi karena tubuhnya saat ini mengecil, entah kenapa semuanya terlihat begitu mengerikan.

Tiba-tiba langkah Alice terhenti. Nun kegelapan di depan sana terdengar bunyi sesuatu. Alice kecil terpaku, tidak mampu melangkahkan kakinya lebih jauh. Gadis kecil itu menunggu terlebih dahulu, kira-kira apa yang menghasilkan suara itu.

“Mr. Carrot!” seru Alice.

Dari kegelapan di depannya muncul dengan berlari tergesa, sosok Mr. Carrot. Mr. Carrot terus berlari hingga berhenti mendadak tepat di depan Alice kecil.

“Oh, kau mengenalku?”

Alice manatap Mr. Carrot dengan aneh. Kali ini suara Mr. Carrot terdengar ramah, tidak kasar seperti tadi.

“Mr. Carrot, bukankah kau sedang menuju pesta teh Mad Hatter tadi?”

Mr. Carrot menatap Alice kecil dengan bingung dan tertawa riang. “Tidak, tidak gadis cilik. Kurasa kau salah, aku baru akan menuju pesta teh Mad Hatter,”

“Tapi tadi kau memberikanku toples berisi buah arbei ini bukan?” Alice mengeluarkan toplesnya dan menunjukkan kepada Mr. Carrot.

“Hoo, itu aneh. Seharusnya kakakku membawa stoples itu. Bagaimana benda ini bisa ada bersamamu?”

“Anda saudara Mr. Carrot?” Alice kecil malah balik bertanya.

“Ya, ya, ya. Dia kakakku. Sementara aku adalah adiknya. Namaku adala Mr. Carrot,” ujar Mr. Carrot dengan bangga. Alice kecil benar-benar merasa pusing sekarang.

“Tolonglah aku Mr. Carrot. Bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke tubuh asliku?”

“Apa yang terjadi?”

Dan Alice kecilpun mulai menceritakan kembali pertemuannya dengan kakak Mr. Carrot hingga akhirnya tubuhnya mengecil karena memakan buah arbei dalam stoples itu. Mr. Carrot tertawa mendengar cerita Alice kecil.

“Nah, nah, Nona kecil. Bukankah tutup stoples itu bertulis untuk jangan dimakan? Mengapa kau melanggarnnya?”

Alice kecil tampak malu, “Kupikir buah arbei itu tidak akan menimbulkan masalah apapun,”

“Nah, kalau begitu aku tidak bisa membantumu,” ujar Mr. Carrot secara gampang. Alice kecil terkejut.

“Tolonglah Mr. Carrot. Aku harus pulang ke rumahku dan aku tidak bisa pulang dengan tubuh yang kecil seperti ini,” Alice kecil memohon dengan bersungguh-sungguh. Mr. Carrot mau tak mau merasa iba.

“Kita lihat apa yang bisa menolongmu,” Mr. Carrot memeriksa semua saku pakaiannya sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah botol minuman bertuliskan jangan minum aku.

Mr. Carrot mengulurkan botol itu kepada Alice. Gadis itu hanya menatap botol itu.

“Apalagi yang kau tunggu? Minumlah,” desak Mr. Carrot.

“Tapi di botolnya tertulis jangan diminum,”

Mr. Carrot tertawa tergelak, “Dan apa yang membuatmu merasa hati-hati sekarang? Bukankah kau memakan buah arbei itu padahal sudah tertulis untuk jangan dimakan?”

Alice berpikir dan apa yang dikatakan Mr. Carrot memang benar.

“Apakah tubuhku akan kembali membesar kalau aku meminum ini?”

Mr. Carrot kembali tertawa. “Oh gadis kecil, aku tidak tahu. Tapi kau boleh mencoba meminumnya,”

Alice membuka tutup botol itu dan mengendus cairan didalamnya, tidak tercium apapun. Alice melirik Mr. Carrot sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk meminum ramuan itu. Rasanya pahit!

Kini Alice mengerti mengapa ramuan ini jangan diminum.

Alice kecil menunggu apa yang akan terjadi, akan tetapi belum terjadi apapaun. Alice kecil hendak bertanya kepada Mr. Carrot ketika tiba-tiba saja tubuhnya menyusut semakin mengecil.

“Mr. Carrot! Apa-“

Belum selesai protes Alice tiba-tiba saja tubuhnya kembali membesar dan tadaa! Alice kembali ke ukuran tubuhnya yang semula. Alice kecil tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

“Aku kembali! Aku kembali seperti semula! Terima kasih Mr. Carrot!”

Mr. Carrot memasukkan stoples buah arbei yang tadi sempat diberikan Alice kecil ke dalam sakunya. “Buah arbei ini akan kuambil lagi. Kuharap ini menjadi pelajaran bagimu Little Lady,”

Alice kecil mengangguk paham.

“Baiklah, aku sudah terlambat menuju pesta teh Mad Hatter. Kuharap ia tidak marah padaku,”

“Terima kasih atas bantuan anda, Mr. Carrot.” Alice berterima kasih sambil menekuk lututnya. Mr. Carrot hanya melambaikan tangan dan bergegas pergi lagi, menuju pesta teh Mad Hatter.

Well, padahal cukup mengasyikkan melihat tubuhmu menyusut kecil, Aliceku sayang,”

Alice menengadah dan menatap Chesire Cat yang sedang tidur di batang pohon. Seringainya benar-benar mengerikan.

“Chesire Cat! Kau sama sekali tidak membantuku!”

“Oh, tapi aku sangat membantumu sayangku. Kalau kau tidak mengambil jalan ini tentu kau tidak akan mendapatkan kembali tubuhmu,”

Alice kecil hanya cemberut.

“Kurasa sudah waktunya kau melanjutkan perjalananmu, Aliceku. Dan jangan lupa, rasa penasaran bisa membuatmu dalam kesulitan,” lama kelamaan Chesire Cat menghilang hingga menyisakan seringainya dan semua itu lenyap.

Alice kecil menatap jalannya di depan. Setelah semua kegilaan ini ia benar-benar lelah dan ingin cepat pulang, menemui kucingnya yang manis.

Dan Alice kecilpun mulai melangkah pergi.


#Challenge Bulanan September

A/N: Wkwkwk….syaratnya harus fantasi dan gambar Tuan Wortel. Yah gak gimana-gimana, taunya malah kepikiran Alice in Wonderland. Dalam cerita aslinya tentua aja si Alice gak pernah ketemu Mr. Carrot karena Mr. Carrot mah gak pernah ada. Cuma nyempilin doang kegilaan sedeng punya saya. Enjoy aja lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s