Status

Seriously, apa yang sudah kulakukan sih di bulan Oktober ini? Kalau ngeliat blog rasanya sepi amat…adem ayem…

Bulan November besok harus banyak nulis! Harus!

Amin! Harus!

 

Advertisements

Pannekoek Patah Hati

boekweitpannenkoeken_appelstroop

A/N: IOC Writing untuk Sarapan Yuk! Lagi-lagi judul yang apalah dan isi cerita yang apalah juga. Huhuhu~ saya bosan~ jadi daripada makan terus yang udah bikin BB nambah lebih baik nulis tentang makanan aja :”


Willem mendesah jengkel. Seorang wanita yang duduk di depannya menatap serius. Pannekoek hangat yang dipesannya sudah mendingin dari tadi, menyisakan kopi panas yang masih mengepul karena diantar terlambat oleh pelayan cafe barusan.

Mata Willem menatap keluar, yang kebetulan ia sedang duduk di dekat jendela. Delft City Hall saat ini sedang sepi, karena bukan musim turis yang ramai, tapi tetap ada orang berlalu lalang. Dari tempat duduknya ia bisa menatap Niuewe Kerk (New Church) yang terlihat suram. Atau suasana hatinya yang suram menyebabkan gereja itu juga terlihat demikian?

Wanita di depannya berdehem pelan, berusaha menarik perhatian Willem. “Jadi, bagaimana?” desak wanita itu.

Willem mendesah. “Aku pikir kita akan berbaikan, mengingat kau yang mengajakku sarapan di cafe ini,”

“Tidak, tidak, kau salah sangka. Aku yakin aku mengatakannya dengan jelas. Kita akan menyelesaikannya sambil sarapan di cafe ini,”

Willem memutar bola matanya.

“Jadi bagaimana?” desak wanita itu. Willem mulai memainkan Pannekoek di hadapannya. Wanita itu mendengus merendahkan kebiasaan Willem yang suka memainkan makanan saat sedang gelisah.

“Siapa pria itu?”

Wanita itu mengernyit. “Itu bukan masalah, kan? Jadi, apa jawabanmu?”

Willem mengangkat bahunya, “Yah, aku tak punya pilihan lain kan?”

Wanita itu mengangguk. “Mulai sekarang kita jadi teman baik saja.”

Wanita itu bangkit dari duduknya dan mengambil kertas tagihan yang sedari awal tergeletak di sisi lain meja. “Biar aku yang bayar tagihannya,” ujar wanita itu sambil melangkah pergi.

Bunyi lonceng yang dipasang di pintu berbunyi lemah. Wanita itu telah meninggalkan cafe setelah membayar tagihannya.

Willem menatap pannekoeknya dengan nestapa. Ia tidak berminat lagi memakan sarapannya. Bahkan manisnya appelstroop atau pahitnya kopi hitam tak mampu menyembuhkan rasa patah hatinya.

Willem mendesah. Mungkin setelah ini ia akan mampir ke gereja.

Bubur Cinta Untuk Kamu

congee-recipe

A/N: Dibuat untuk IOC Writing: Sarapan Yuk! Judulnya apa banget tapi ya sudahlah… saya lagi gak punya ide judul, cuma lagi ngebet nulis ide cerita. Duh… jadi pingin makan bubur ayam depan komplek rumah. Apalagi sama sambelnya~ duh udah ngiler.


Syu Lan sedang repot di dapur sekarang. Suaminya, En Lai sedang sakit dan terkapar di dipan, tak bisa bergerak. Mengerang kepalanya pusing dan tidak punya nafsu makan. Kemarin malam Tabib sudah memeriksa suaminya dan menyatakan suaminya terlalu kelelahan bekerja. Hal yang normal mengingat provinsi Guizhou saat ini mengalami masa sulit, semua orang merasa kelaparan. Bahkan untuk menghilangkan rasa lapar, terpaksa penduduk menelan rumput maupun dedaunan dari pohon.

Beruntung Syu Lan menyimpan beberapa genggam beras. Beras itu adalah beras yang diterimanya sebagai berkat saat pernikahan mereka tiga bulan yang lalu. Sebenarnya Syu Lan ingin menyimpan beras itu untuk tahun baru yang sebenarnya masih lama, enam bulan lagi. Tapi melihat suaminya terkapar tak berdaya seperti itu mau tak mau Syu Lan mengeraskan hati dan memasak bubur nasi untuk suaminya.

Semalaman nasi yang ia masak di kuali telah berubah menjadi bubur. Syu Lan juga meminjam segenggam garam dari tetangganya yang baik hati. Syu Lan berjanji akan membalas kebaikan mereka suatu saat nanti.Istri muda itu mencicipi buburnya, rasanya sudah lumayan enak.

Wanita muda itu buru-buru mengambil potongan bambu muda yang sudah ia rebus lunak. Tadi pagi Syu Lan diam-diam pergi ke hutan dan memotong bambu muda. Syu Lan merasa agak bersalah. Suaminya sudah melarangnya untuk masuk ke hutan sendirian, tapi Syu Lan ingin suaminya cepat sembuh. Hanya memakan bubur beras saja tidak mungkin bisa membuat suaminya cepat sembuh, karena itu Syu Lan diam-diam pergi ke hutan. Lagipula ia tidak masuk terlalu jauh kok. Syu Lan memetik banyak tumbuhan, jamur dan memotong beberapa bambu muda. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan ia tidak perlu masuk lagi ke hutan.

Syu Lan menuangkan bubur ke dalam mangkuk kayu. Menaburkan potongan bambu muda beserta daun bawang. Sebenarnya akan lebih baik jika ada potongan daging atau telur seribu tahun diatas bubur itu. Syu Lan menggeleng keras, lebih baik ia bersyukur dengan apa yang ia miliki dibandingkan berandai-andai.

Ia mengangkat nampan mangkuk bubur beserta cawan berisi air panas. Diletakkannya perlahan di meja bundar, Syu Lan membangunkan suaminya yang sedang mengerang kesakitan. Ia tidak tega tapi En Lai harus makan supaya bisa memakan obat dari tabib. Perlahan Syu Lan menyuapkan bubur kepada En Lai.

En Lai menatap lirih istrinya, bahkan dengan tatapan meminta maaf. Syu Lan hanya tersenyum tipis. En Lai tahu kalau istrinya sudah bersusah payah memasak beras yang ingin sekali disimpan Syu Lan hingga tahun baru nanti. En Lai tahu istrinya bersusah payah berjalan selama dua jam untuk meminjam segenggam garam kepada tetangganya. Syu Lan juga tahu istrinya diam-diam mengendap ke hutan padahal ia sudah melarangnya kesana. Tapi En Lai hanya terdiam, berterima kasih kepada langit karena menganugerahinya istri yang begitu mencintainya. Karena itu En Lai memakan bubur itu dengan penuh rasa terima kasih.

Saat Syu Lan menyuapkan obat, En Lai menerimanya tanpa banyak protes. Padahal obat itu pahit luar biasa.

“Kau sudah makan bubur ini?”

Syu Lan menatap En Lai ragu dan mengangguk. “Aku sudah makan bubur ini,” gumam Syu Lan pelan.

En Lai tersenyum. Ia tahu Syu Lan berbohong, tapi biarlah.

Sekarang ia harus beristirahat. Agar cepat sembuh dan membalas pengorbanan istrinya.

Di Luar Dugaan

Ini adalah kelanjutan Story Blog Tour OWOP II Romance-Angst. Tapi kayaknya genrenya amburadul hancur deh :v

Buat yang mau baca dari awal silahkan baca disini

Chapter 1 : Luka Elisa (Nifa)

Chapter 2 : Self Harm (Asti)

Chapter 3 : Friendzone (Ara)

Chapter 4 : Dua Sisis Koin (Nana)

Chapter 5 : Teman Baru (Zu)

Chapter 6 : Permulaan (Ruru)

Untuk chapter kali ini silahkan membaca~…


Alya memandang bagian dalam rumah Tezar dengan perasaan tertarik. Setelah sekian lama tidak berkunjung masuk ke dalam rumah Tezar, tak disangka kesempatan itu akhirnya tiba juga. Meskipun dengan alasan Alya sudah berteman dengan Elisa, tapi tak masalah. All fair in love and war. Kalau ia harus memanfaatkan Elisa agar bisa lebih dekat dengan pemuda itu, Alya rela akan memanfaatkan apapun.

“Sini aja Ya. Duduk disini,” Tezar mempersilahkan Alya duduk di meja pantry yang menghadap ke arah dapur.

Alya memperhatikan dengan kagum bagian rumah itu. Meskipun Tezar hidup sendiri tapi pemuda itu merawat baik-baik rumahnya.

Alya mendudukkan diri di kursi tinggi pantry, mencoba menyamankan diri sambil memandang Tezar yang sedang membuka kulkas. Alya menghela napas dengan bangga. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa kembali masuk ke rumah Tezar.

.

.

.

Elisa mendesah napas, menutup layar halaman Young Blood. Awalnya gadis itu cuma ingin berbagi pengalaman dengan mereka yang juga satu penderitaan dengan dirinya. Tapi lama kelamaan website itu agak menyeramkan, Elisa buru-buru menutup halaman itu.

Elisa membuka nomor kontak di handphonenya dan menatap nomor telepon yang terpampang dilayar, nomor Alya. Perasaan gadis itu campur aduk, antara gugup dan bingung. Mereka saling bertukar nomor telepon kemarin di toilet, sejak saat itu Alya masih bingung apa yang harus dilakukan dengan nomor telepon itu.

Tentu saja jawabannya jelas, Elisa ingin menelepon Alya. Mereka berteman kan? Kemarin Alya sendiri yang bilang kalau ia ingin berteman dengan Elisa. Elisa sendiri sejak lama juga ingin berteman dengan Alya. Alya juga teman sejak kecil Tezar. Jadi mereka boleh berteman kan?

Tapi lagi-lagi perasaan minder menyergap dirinya. Alya yang begitu bersinar, ramah dan cantik. Apa Elisa bisa berteman dengan dirinya? Walaupun Alya sendiri yang ingin berteman dengan Elisa, tapi Elisa benar-benar merasa tidak layak berteman dengan orang sehebat Alya.

Prang Bruk Prang

Elisa kembali mendengar suara ribut-ribut. Kali ini entah apalagi yang dibanting dan dipecahkan. Tapi Elisa yakin pasti orang tuanya bertengkar lagi.

“Mana? Mana anak sial itu?”

Suara pintu dibanting terbuka keras, Elisa langsung menatap pintu kamarnya yang dibanting. Papa menatap Elisa dengan tatapan yang ganas sementara Mama menyusul di belakang Papa. Elisa gemetar ketakutan dibawah tatapan ganas Papanya.

“Kau! Kalau saja kau tidak ada!”

Papa langsung menampar Elisa, Mama menjerit dan langsung menangkap Elisa. Elisa masih kaget dan menatap Papa dengan tatapan sedih dan terluka. Elisa sudah sering mendengar Papa dan Mamanya saling berteriak, tapi baru kali ini Elisa melihat Papa membentaknya bahkan menampar pipinya.

“Semua ini salahmu! Kau cuma kesalahan saja tapi berani mengganggu hidupku seperti ini!”

Elisa masih belum paham maksud Papa, akan tetapi Mama menjerit balik pada Papa.

“Harusnya kau tidak usah lahir! Keberadaanmu menyusahkan aku saja!”

Dan saat itu Elisa merasakan dunianya gelap.

Mama meregkuh Elisa dan kembali meneriakkan entah kalimat apa. Elisa sudah tidak mendengar apapun. Selama ini Elisa pikir Papa dan Mama bertengkar karena masalah diantara mereka. Tapi saat Papa mengatakan kata-kata yang kejam itu Elisa menjadi semakin terpuruk. Apakah selama ini Papa dan Mama bertengkar gara-gara Elisa.

“Dengar kau anak sial! Kalau saja kau tidak lahir semua masalah ini tidak akan terjadi!”

Elisa langsung menangis keras. Frustasi. Mama berusaha menenangkan Elisa tapi tidak berhasil. Papa langsung keluar kamar Elisa, tidak peduli sedikitpun. Mama berusaha membisikkan kata-kata yang menenagkan tapi Elisa sudah tak peduli.

“Keluar!” Elisa menggumam parau. Mama menatap cemas Elisa.

“Keluar! Keluar! Keluar!” Elisa berteriak frustasi dan mendorong Mama keluar dari kamar. Dengan segera Elisa mengunci pintu kamarnya, menolak siapapun masuk ke kamarnya. Mama menggedor pintu kamar Elisa tapi gadis itu tak peduli.

“Aku capek! Kenapa aku lahir di dunia ini?!” Elisa berteriak frustasi. Air mata bercucuran deras di pipinya.

.

.

.

Ponsel Tezar berbunyi nyaring, menghentikan Tezar dan Alya yang sedang menyuapkan puding ke mulut mereka. Tezar berusaha meraih handphonenya yang tergeletak agak jauh, akan tetapi deringan itu malah terhenti. Tezar menatap heran handphone yang berhasil diraihnya itu.

Alya melemparkan tatapan bertanya kepada Tezar. “Nomornya Alya tapi kenapa-“

Tezar belum selesai berbicara saat kali ini handpbhone Alya yang bergetar. Alya buru-buru meraih handphonenya dan melihat kontak yang terpampang di layar handphonenya, Elisa memanggil. Alya mengerutkan kening dan memandang Tezar. Tezar memberi isyarat untuk mengangkat telepon itu.

“Halo Elisa! Numben nelepon?” Alya mengeluarkan nada yang ramah. Akan tetapi tak ada jawaban dari sebelah sana. Hanya ada suara bising samar-samar.

“Halo Elisa? Elisa?”

Alya menatap heran kepada Tezar yang langsung merebut handphone Alya. Tezar berteriak di handphone Alya, berusaha mendapat jawaban dari Elisa. Akan tetapi tak ada jawaban apapun. Wajah Tezar terlihat panik dan semakin panik saat mendengar suara ribut-ribut dari sambungan disana.

“Gue ke tempat Elisa dulu ya! Gue ngerasa gak enak!”

Alya tidak suka! Elisa mengganggu suasana saja! Tapi Alya berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk tampil baik di depan Tezar.

“Gue juga ikut! Gue juga khawatir kalau elo sampe panik gitu!”

Tezar menggeleng, “Gak perlu! Biar gue aja yang kesana.”

“Tapi Elisa nelepon gue! Dan gue temannya! Dia gak bakal nelepon gue kalau dia gak anggap gue temennya!”

Tezar tidak mau Alya ikut karena tidak ingin Alya mengetahui kondisi Elisa yang rapuh. Tapi tak ada waktu lagi untuk berdebat. Dengan berat hati Tezar mengangguk dan mengambil motor, berdua mereka menuju rumah Elisa.

.

.

.

Tezar dan Alya sampai di rumah Elisa. Jarak antara rumah Tezar dan Elisa sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja Rumah Elisa terletak di pusat kota. Jika biasanya hanya memakan waktu 20 menit, kini butuh waktu 45 menit untuk sampai di rumah Elisa. Alya akan menatap kagum rumah besar itu kalau saja tidak terdengar suara ribut-ribut dan barang pecah belah dibanting disana sini.

“Mereka bertengkar lagi,” gumam Tezar.

Tezar dan Alya membuka pintu pagar dan memencet bel rumah. Agak lama mereka harus menunggu sampai akhirnya ada seseorang yang membuka pintu untuk mereka. Akan tetapi yang membuka pintu adalah seorang pria berwajah kasar dengan tatapan yang ganas, Papanya Elisa.

“Mau apa kalian kemari?” sembur Papa Elisa.

“Mohon maaf Pak. Kami ingin bertemu dengan Elisa,” Alya berusaha bersikap sopan. Tezar menatap Papa Elisa dengan tidak suka secara terang-terangan.

“Tidak ada yang namanya kalian cari!”

Papanya Elisa hendak membanting pitnu akan tetapi ditahan oleh Tezar.

“Mohon maaf Pak. Kami hanya ingin bertemu dengan Elisa. Kami teman sekolahnya.” Tezar ngotot.

“Sudah kubilang! Tak ada-“

“ELISA SAYANG! BUKA PINTUNYA! MAMA MOHON!”

Suara teriakan wanita menggelegar di seisi rumah. Tezar dengan sigap langsung berlari menuju kamar Elisa, takut terjadi sesuatu. Alya menatap Papanya Elisa sesaat dan mengikuti Tezar. Dalam hati Alya merasa heran kenapa Tezar seperti tahu isi rumah ini dan dalam hati bertekad untuk mencari tahu.

Alya dan Tezar sampai di bagian belakang rumah berlantai satu, di sebuah pintu kamar yang besar. Tezar dan Alya melihat Mama Elisa dan Bibi bertampang pucat dan cemas, mencoba menggedor pintu kamar tersebut.

“ELISA BUKA PINTUNYA SAYANG! JANGAN BIKIN MAMA TAKUT!”

Mama masih berteriak ketakutan, Tezar segera mengambil alih dan berusaha mendobrak pintu kamar tersebut. Mama Elisa dan Bibi hanya menatap pasrah, tidak melarang Tezar untuk mendobrak pintu kamar. Alya masih menatap Tezar, Mama Elisa dan Bibi, mencoba memahami situasi.

Pintu kamar berhasil didobrak, Mama dan Bibi langsung berlari masuk ke dalam. Tezar juga masuk diikuti Alya. Tezar dan Alya memandang sekeliling kamar, tidak ada tanda-tanda keberadaan Elisa.

Suara jeritan terdengar disusul suara seorang wanita memanggil-manggil Elisa. Tanpa ragu Tezar dan Alya menuju sumber suara. Tezar dan Alya sudah diambang pintu kamar mandi saat mata mereka menangkap pemandangan yang mengerikan.

Elisa berendam dalam bak mandi berisi air berwarna merah darah. Seorang Mama Elisa berteriak-teriak berusaha menyadarkan Elisa sementara Bibi tampak pingsan dan bersender di pintu kamar mandi.

Tezar segera menghampiri Elisa, mengguncang-guncang tubuh Elisa, memaksa gadis itu untuk bangun. Akan tetapi Elisa tidak terbangun sama sekali.

“Panggil ambulans!”

Alya masih terlalu kaget untuk mendengar apapun.

“Alya! Panggil ambulans!” Alya tersentak dan langsung merogoh handphonenya. Nomornya langsung menghubungi kontak darurat, meminta sebuah mobil ambulans dikirim ke alamat rumah itu.

Mama Elisa terengah lemas menatap putrinya sementara Tezar berusaha membalut pergelangan tangan Elisa yang berdarah. Alya menatap semua itu dengan cemas. Ini semua diluar rencananya!

to be continued…


Cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh Depi, silahka dicek disini Stay tune terus yaa~

Dansa

A/N: Writing Project untuk PON 2016: MSCS emang sih PON udah selesai. Tapi bolehlah ikut memeriahkan suasana dengan bikin fanfic Pride and Prejudice. Ngambil temanya olahraga dansa. Olahraga dansa dan dansa yang dipakai disini beda sih. Tapi yang penting namanya dansa. Jadi bodo amatlah :v

Disclaimer: Pride and Prejudice punyanya Jane Austen. Kalau bukan beliau yang bikin mungkin Mr Darcy gak bakalan sekeren itu. Berusaha sedekat mungkin menggunakan gaya bahasa yang sama. Tapi mungkin failed :v


“Miss Elizabeth, sudikah kiranya kau berdansa denganku?”

Saat itu adalah pesta dansa yang sudah ditunggu-tunggu di Netherfield. Elizabeth yang berpakaian rapi dan mengira akan merasakan semangat yang meluap terpaksa menahan rasa kecewa. Gadis itu berusaha memandang sekeliling dan meyakinkan diri bahwa Tuan Wickham tidak muncul di pesta dansa. Kecurigaannya beralih kepada keberadaan Tuan Darcy yang saat ini menawarinya untuk berdansa – keengganan Tuan Wickham untuk datang ke pesta kemungkinan dikarenakan keberadaan Tuan Darcy.

Tawaran Tuan Darcy tidak menyebabkan perasaan Elizabeth membaik. Sebaliknya, gadis itu merasakan perasaan tidak suka dan berlalu dari tempat itu dengan rasa gusar. Meninggalkan tawaran dansa dari Tuan Darcy dan perasaan terkejut Charlotte Lucas atas perilaku tak sopan sahabatnya itu. Sesaat Elizabeth bisa melihat raut datar Tuan Darcy dan Charlotte Lucas yang berusaha menutupi ketidaksopanannya.

Namun malam pesta dansa Netherfield itu tak mampu membuat Elizabeth terus merasakan perasaan gusar dan kecewa. Charlotte Lucas – yang menegurnya untuk perbuatannya yang mengesalkan – meyakinkan Elizabeth bahwa ia harus menikmati pesta itu untuk mengalihkan pikiran dari Tuan Wickham. Elizabeth yang setuju dengan nasihat sahabatnya itu mulai menampilkan raut wajah menyenangkan. Tak lama kemudian satu – dua tawaran dansa berdatangan, meski tidak berasal dari pihak yang diharapkan.

Tuan Collins dengan canggung meminta Elizabeth untuk berdansa dengannya. Gadis itu hendak menolak tapi Charlotte Lucas menatap Elizabeth dengan pandangan menegur. Hal yang tidak sopan bahkan memalukan jika seorang wanita menolak tawaran berdansa. Dengan enggan Elizabeth menerima tawaran Tuan Collins.

Dansa itu berjalan dengan memalukan. Tuan Collins bukanlah pasangan yang diharapkan untuk berdansa. Pembawaannya yang kaku dan serius menyebabkan dansa itu tidak begitu menyenangkan dan berjalan membosankan. Elizabeth sungguh merasa malu dan merasa senang saat terbebas dari pria itu.

Pasangan dansa kedua Elizabeth adalah seorang perwira. Dansa kali ini cukup menyenangkan karena perwira itu menceritakan berbagai hal yang menarik, termasuk Wickham yang disukai oleh semua orang. Elizabeth berbincang dengan semangat dengan perwira itu. Akan tetapi saat dansa berakhir dan perwira itu bermaksud meminta berdansa kembali dengan Elizabeth, gadis itu menolak dan duduk disebelah Charlotte.

“Apa kau mulai menikmati malam ini?”

“Dansa pertamaku mungkin tidak semenyenangkan yang aku kira. Tapi aku yakin aku bisa menikmati pesta ini pada dansa keduaku.”

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak banyak. Tapi aku yakin perwira itu sama menariknya dengan Tuan Wickham.”

Musik dansa kembali dimainkan. Elizabeth dan Charlotte akan memulai pembicaraan yang seru pada saat Tuan Darcy kembali mendekati Elizabeth. Gadis itu terkejut saat Tuan Darcy kembali memintanya berdansa. Elizabeth berpikir Tuan Darcy pasti memiliki suatu maksud tertentu untuk memintanya berdansa. Gadis itu yakin karakter Tuan Darcy bukanlah karakter yang memaafkan terutama atas perilaku tidak sopan yang telah ia lakukan. Charlotte berbisik kepada Elizabeth untuk menjaga sikapnya dan tidak membiarkan perasaan Elizabeth kepada Wickham menjadi penyebab sifat tidak menyenangkannya pada Tuan Darcy.

Elizabeth menerima tawaran Tuan Darcy dan mereka menempati ruang di lantai dansa. Gadis itu tidak menyembunyikan perasaan herannya atas perilaku Tuan Darcy akan tetapi memutuskan untuk tidak bertanya. Perasaan heran tidak hanya tampak dari Elizabeth tapi juga tampak pada seluruh tamu pesta dansa, mengingat selama ini Tuan Darcy tidak tertarik untuk meminta seorang gadis berdansa dengannya.

Mereka berdansa dalam diam. Elizabeth yang merasa yakin bahwa dansa ini akan mengalami kebisuan memilih memanjakan pikirannya dengan mengulang langkah dansa.

Lambat – lambat – berputar – berpegangan tangan – lambat  – lambat.

Pikiran itu tidak bertahan lama karena Elizabeth merasa bingung dengan tatapan Tuan Darcy. Gadis itu memberanikan diri untuk membicarakan hal-hal yang ringan. Akan tetapi Tuan Darcy hanya menjawab dengan seperlunya dan dansa itu kembali menjadi bisu.

Lambat – lambat

Elizabeth berputar mengulurkan tangannya yang disambut oleh Tuan Darcy. Pria itu tidak berusaha membuat dansa itu menjadi menyenangkan. Elizabeth terpaksa menahan rasa kecewanya dan mengingat kembali langkah dansanya. Akan tetapi kebisuan itu tak tertahankan sehingga Elizabeth berkeras agar Tuan Darcy membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan dansa.

Berputar – berpegangan tangan – lambat

Dengan susah payah akhirnya Tuan Darcy membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan dansa. Elizabeth menukas tajam segala pendapat pria itu dan menekankan keadaannya dengan Wickham. Tuan Darcy yang kelihatan jelas sekali tidak ingin membicarakan topik itu kembali berdiam diri. Meninggalkan Elizabeth dengan perasaan sedikit puas karena memojokkan pria itu.

Musik dansa hampir berakhir. Elizabeth meneruskan dansa yang sempat diganggu oleh Tuan William. Perhatian Tuan Darcy kini terpecah kepada Jane dan Tuan Bingley. Elizabeth yang merasakan perhatian terpecah itu melanjutkan dansa dengan tidak bersemangat.

Lambat – lambat – berputar – berpegangan tangan – lambat  – lambat

Elizabeth bernapas lega. Musik dansa telah berakhir dan ia memberi hormat kepada Tuan Darcy. Pria itu juga melakukan hal yang sama dan akhirnya berpisah dalam diam, masing-masing merasa tidak puas.

Malam dansa yang seharusnya menyenangkan di Netherfield akhirnya rusak oleh keberadaan Tuan Darcy. Elizabeth meyakinkan dirinya untuk tidak berurusan sama sekali dengan pria itu. Saat gadis itu membalikkan diri Nona Bingley mendekati Elizabeth dengan nada suara yang meremehkan.

Elizabeth benar-benar merasa malam ini adalah malam yang kacau.


A/N: Selesai…. huhu nona Jane Austen, maafkan diriku yang telah merusak karya hebatmu :”v

Strategi

A/N: Setoran saya untuk challenge IOC Writing Men Sana In Corpore Sano. Dalam rangka memeriahkan Pekan Olahraga Nasional 2016. Emang sih udah telat, tapi boleh dong memeriahkan doang. Olahraga yang diambil adalah Catur. Writing Project untuk PON 2016: MSCS.

Disclaimer: Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger adalah milik J K Rowling. Saya cuma nyomot-nyomot doang.


Pukulan pertama mereka terjadi ketika perwira hitam satunya ditawan. Si ratu putih membantingnya ke lantai dan menyeretnya keluar papan. Si perwira menggeletak tak bergerak, tengkurap.

“Apa boleh buat,” kata Ron, yang tampak terguncang. “Kau jadi bebas menawan si menteri itu, Hermione, ayo.”

Setiap kali salah satu anggota mereka kalah, bidak-bidak putih itu tak menunjukkan belas kasihan. Segera saja sekumpulan bidak hitam lemas terpuruk di sepanjang dinding. Dua kali, Ron menyadari tepat waktu bahwa Harry dan Hermione dalam bahaya [1].

Ron memikirkan berbagai macam langkah catur yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan kedua kawannya. Beruntung Ron telah diajari catur sihir oleh kakeknya, tapi tetap saja permainan catur kali ini sangat berbeda. Bukan saja ia menggerakkan bidak catur itu, akan tetapi ia bermain sebagai bidak catur itu sendiri.

Ron memandang sekeliling papan catur, tidak banyak bidak yang tersisa dari bagiannya. Tapi hal yang sama juga terjadi di bidak putih. Meski begitu Ron merasa tidak nyaman. Dari atas kudanya – Ron bermain sebagai perwira – berusaha memastikan bahaya apapun yang mendekati kedua kawannya. Sekali ini Ron melihat Harry dalam posisi yang berbahaya.

“Harry, maju ke D-4!”

Harry berjalan dengan patuh, sedikit gentar karena ratu putih menatapnya dengan dingin. Harry sebenarnya ingin membantah, mengapa Ron menyuruhnya maju ke petak yang jelas-jelas dipenuhi oleh bidak putih. Akan tetapi untuk menghentikan Snape secepat mungkin lebih baik ia percaya saja kepada Ron. Toh kawannya itu lebih jago catur sihir dibanding dirinya.

Harry menunggu dengan gugup. Kali ini giliran bidak putih menjalankan bidaknya. Diluar dugaan, bidak putih itu justru menjauh dari petak Harry. Harry menoleh kearah Ron yang mengangguk kecil. Strategi pertahanan belanda cukup sukses.

Tapi Ron tidak segera mengambil napas lega. Kali ini Hermione berada dalam bahaya. Ron melihat sekeliling papan catur, berusaha tenang. Meskipun posisi Hermione dalam bahaya, tapi Hermione juga dalam posisi yang menguntungkan. Dan kalau beruntung, mereka bisa menskak posisi raja tanpa terlihat.

Ron berpikir sesaat. Strategi mulai terbentuk di kepalanya. Kalau Ron beruntung, hanya dalam beberapa langkah mereka bisa menskak raja dan menang. Ron sedang mengingat-ingat berbagai strategi yang akan ia lakukan. Mungkin saat ini ia akan menyuruh Hermione melakukan pertahanan pirc dan selanjutnya Ron bisa melancarkan serangan marshall.

“Hermione, kau ke G-6! Dengan begitu kau bisa menawan perwira putih!”

Hermione mengikuti dengan patuh. Berjalan perlahan dan berusaha menyembunyikan rasa gentarnya. Bidak perwira putih itu langsung keluar dari papan catur saat Hermione menempati petaknya.

Bidak ratu putih berjalan ke petak sebelah Harry, tangan batunya memukul bidak tentara yang akan memasuki wilayah putih, menyeretnya keluar papan. Harry mengeluh, kesempatan untuk menukar bidak sudah hilang. Ron tidak tampak terpukul, sepertinya sudah mengetahui ratu putih akan melumpuhkan bidak tentaranya. Ron berusaha tidak memikirkan lebih jauh, fokus pada strateginya kali ini.

“Kuda ke D-5!”

Bidak kuda yang dipanjat oleh Ron bergeser perlahan ke petak yang dituju, menendang bidak putih yang ada di petak itu. Si ratu putih menatap dingin tapi kembali bergerak ke petak disamping Ron. Tangan batu itu menghancurkan benteng hitam dan menyeret bidak itu keluar dari papan.

“Kita hampir sampai,” Ron kembali memandang papan catur yang kini semakin sepi. Berusaha memikirkan kemungkinan menang yang hampir datang.

Bidak ratu putih kini menoleh kearah Ron. Tatapannnya datar dan dingin, seolah si ratu ingin tahu apa yang Ron pikirkan. Ron menghela napas, tidak ada cara lain. Tapi dengan ini mereka bisa menang.

“Ini satu-satunya cara… aku harus ditawan.”

Harry dan Hermione memekik tidak setuju bersamaan.

“Begitulah catur! Harus ada yang dikorbankan!” Ron menukas tajam.  Harry dan Hermione hanya bisa menatap pasrah saat Ron memajukan bidaknya. Kini wajah Ron pucat, kentara sekali kalau ia juga ketakutan.

Ratu putih langsung menerkam Ron. Hermione terpekik dan Ron sudah ambruk ke lantai, pingsan.

Harry segera melangkah mendekati bidak raja yang langsung melepas mahkotanya dan melemparnya ke kaki Harry. Akhirnya, mereka menang!


[1] : Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

Kan…apaan kan? Hancur banget fanfic ini :”(

Challenge Oktober IOC WP

A/N: Ini adalah bagian pertama Challenge cerita bersambung IOC Writing Project. Saya penulis pertama dari cerita ini. Cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh Dyah Yuukita.


Seharusnya ini akan menjadi awal mula hari yang menyenangkan, atau setidaknya rangkaian kejadian yang menyenangkan.

Tapi rupanya aku terlalu naif dan bodoh untuk berpikir seperti itu.

.

.

.

Hari yang indah, kalau saja tidak ditingkahi oleh suara cempreng yang bawel. Namaku Raditya Putra dan saat ini aku sedang menyedot es tehku dengan malas. Gadis dihadapanku adalah Nirmala Putri, tetanggaku dan temanku sejak kecil.

“-ya? Kau kan sudah janji? Ayolah~”

Aku masih membiarkan pikiranku melayang hingga-

PLUK

-kepalaku dipukul.

“Radit! Kau mendengarku, kan?!”

“Iya bu~” aku mengusap kepalaku. Dasar gadis tidak sopan! Untung dia temanku sejak kecil, kalau tidak sudah kubalas.

“Kau kan berjanji untuk sekolah hari ini!”

Aku memutar mataku. Duh, memang apa masalahnya sih kalau aku bolos sekolah lagi? Sekolah sangat membosankan, kau tahu!

“Aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu. Lagipula- aw aw aw!”

Nirmala menyeretku bangkit sambil menjewer telingaku. Ia berjalan santai sambil menyeretku yang terjewer kearah sekolah. Sesekali mulut bawelnya itu mengeluarkan petuah mengenai pentingnya sekolah dan apalah itu. Sementara aku hanya bisa meronta sesekali berusaha melepaskan jarinya dari telingaku.

Gadis itu baru melepaskan jewerannya saat kami sudah memasuki pekarangan sekolah. Sial! Telingaku sekarang terasa panas.

“Hei! Kalau mau nyiksa yang agak manusiawi dikit-“

“Apa itu?”

Bagus! Dia tidak mendengarkanku dan malah bengong kearah lain.

“Hei! Dengarkan yang aku-“ Aku menyentuh bahunya tapi dia malah menunjuk kesuatu arah. Aku memandang arah yang ditunjuk, suatu sudut sekolah yang seingatku adalah mading. Para murid sepertinya mengerumuni sesuatu yang ada disana.

“Ayo kita lihat!”

Dan aku kembali cemberut. Nirmala langsung menyeretku tanpa mendengarkan jawabanku. Dasar cewek egois. Saat kami sampai di mading itu barulah kami paham apa yang mereka semua ributkan. Di papan mading itu terdapat tiga lembar foto dengan dua obyek foto, seorang pria dan seorang gadis muda, bergandengan tangan sambil keluar dari suatu bangunan.

“Itu siapa sih di dalam foto itu?” bisikku kepada Nirmala.

“Yang laki-laki itu guru kimia kita yang baru, namanya Pak Ilham sementara yang perempuan anak sekelas kita namanya Rianita,”

“Hoo. Sepertinya aku tahu kenapa jadi heboh begini,” Aku mengeluarkan seringai nakalku, mataku tidak lepas dari foto.

“Apa? Apa maksudnya?” Nirmala malah menempel-nempel padaku.

“Lihat foto itu, mereka berdua saling berpegangan tangan, tapi bukan cara yang biasa tapi dengan cara yang romantis seperti seorang pasangan,”

Nirmala menyipitkan matanya.

“Selain itu, dilihat dari ekspresi wajah mereka difoto, wajah mereka menunjukkan raut cemas dan waspada,”

Nirmala masih belum berkomentar apapun.

“Dan yang terakhir, papan nama bangunan di foto itu. Memang tidak jelas apa nama bangunannya, tapi tulisan hotel terlihat jelas sekali, kan?”

Nirmala masih menatap foto itu, tak lama kemudian wajahnya memerah.

“Ja-jadi… ma-maksudmu… mereka…,” Wajah Nirmala benar-benar memerah sekarang, pandangan matanya tidak fokus antara diriku dan foto itu.

“Entahlah~ itu semua cuma hipotesis,” siulku sambil menjauh dari papan mading itu.

“Eh tunggu, tunggu! Radit-“

Wajah Nirmala mencium punggungku. Wajar saja, aku berhenti mendadak.

“Hei! Kenapa-“

Aku mengedikkan kepalaku ke satu arah dan Nirmala mengikuti arah yang kumaksud. Seorang gadis berlari tergesa memasuki pekarangan sekolah, wajahnya menunduk. Meski ia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan helaian rambutnya yang panjang tetap saja seluruh penghuni sekolah bisa mengenalinya. Dialah Rianita, salah satu obyek yang menjadi sumber gosip panas di sekolah ini. Para murid menunjuk dan memandang jijik pada gadis itu saat Rianita berlari memasuki gedung sekolah.

“Riani-“

Aku langsung menahan Nirmala yang kelihatan sekali ingin mengejar gadis itu. Nirmala memandangku bingung sementara aku menggeleng pelan.

“Kenapa? Dia pasti sangat sedih sekarang-“

“Aku tahu dia pasti sedih. Anak perempuan jenis apa sih yang gak bakal sedih kalau jadi sumber gosip panas kayak begini? Masalahnya adalah ini bukan waktu yang tepat untuk menghibur dia,”

Nirmala menatapku dengan pandangan tak yakin.

“Kalau firasatku benar, pasti pagi sampai siang ini kita akan belajar sendiri tanpa guru. Nah, kalau kau mau menghiburnya pada saat itu saja,” aku kembali melanjutkan.

Nirmala membulatkan matanya, “Bagaimana kau tahu?”

Aku mengetuk pelipisku dengan jari telunjuk, “Berpikir,”

.

.

.

Nirmala bengong menatapku sementara aku membuka buku dan menaruhnya di wajahku. Pelajaran kali ini benar-benar ditiadakan, kami diharapkan belajar sendiri. Tapi murid waras mana sih yang akan belajar di saat seperti ini terutama saat ada gosip panas. Aku? Kalau aku sih lebih baik tidur saja.

“Kok tahu sih kita disuruh belajar sendiri?” Nirmala menoel-noel tubuhku, tapi aku malas mengangkat buku dari wajahku. Sebagai gantinya aku mengangkat tanganku dan mengetuk pelipisku dari buku yang menutupi wajahku.

Aku tak bisa melihat tapi bisa kupastikan Nirmala cemberut.

“Bukannya kamu mau menghibur si siapa itu namanya?”tanyaku dari balik buku.

“Ah! Benar juga!”

Terdengar suara deritan kursi dan suara kaki berlari menjauh. Hufh, gangguan sudah pergi dan kini aku bisa tidur siang.

.

.

.

Dan yap, aku bolos pelajaran hari ini. Tidak, tidak. Aku tidak bolos sekolah karena saat ini aku melanjutkan tidurku di atap sekolah yang sangat sepi. Jadi, karena aku masih di sekolah aku tidak bolos sekolah, Cuma bolos pelajaran saja kok.

Perlahan suara langkah kaki terdengar, perlahan aku membuka mataku dan menatap wajah Nirmala yang lesu. Gadis itu menatapku tapi tidak berbicara apapaun. Tumben dia tidak bawel seperti biasanya.

“Jadi, bagaimana?” Aku mendudukkan diriku. Nirmala duduk disebelahku.

“Sekolah memutuskan untuk menghentikan Nirmala dan mengembalikannya ke orangtuanya. Sementara Pak Ilham akan dipecat,”

Aku tidak heran, normalnya memang begitulah seharusnya hukuman yang diterima oleh mereka berdua. Kalau mereka berdua tidak mendapatkan hukuman apapun baru itu terasa aneh. Aku mengangguk saja, tanda memahami ceritanya.

“Lalu mana si- siapa itu namanya?”

“Rianita,” jawab Nirmala jengkel. “Saat ini dia ada di rumahnya. Mulai hari ini dia resmi diberhentikan dari sekolah,”

Nirmala memasang wajah lesu. Yah, sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan masalah Rianita ini sih, tapi kalau Nirmala sudah memasang wajah lesu seperti ini pasti-

“Radit! Kamu gak bisa ngelakuin sesuatu?” Nirmala memasang wajah memelas dan penuh harap. Ugh, aku benci kalau sudah seperti ini.

“Kamu pikir aku ini apa? Dewa? Dikata aku bisa ngelakuin apa aja?” Aku membuang muka, tak mau menatap wajah memelas itu.

“Tapi kan kamu pinter dalan hal mikir kayak gini. Seenggaknya bantu pikirin jalan keluar,”

Aku menghembus napas, daripada hanya mencari-cari alasan yang justru akan semakin membuang energi, lebih baik kujelaskan secara gamblang. “Dengar! Semua ini bermula dari si Riani apalah itu dan Pak guru siapalah itu. Kalau mereka berani melakukan hal kayak gitu seharusnya mereka juga cukup dewasa untuk menerima resikonya. Kita sebagai pihak luar lebih baik gak usah ikutan masalah ini,”

“Tapi-“

“Kita gak bisa apa-apa. Mereka yang berbuat mereka harus bertanggung jawab secara penuh. Kalau kita membantu mereka itu justru semakin menunjukkan bahwa mereka tidak bisa bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri!”

Nirmala menunduk, memikirkan perkataanku. Walaupun terkadang aku memang slebor dan seenaknya, tapi Nirmala mengakui ada saatnya aku bisa berpikir normal sesuai dengan prinsip-prinsi kebenaran yang ada.

Aku menghela napas, menatap wajah Nirmala.

“Saat seperti ini lebih baik kau sering-sering main ke rumah si cewek itu. Tidak usah menyinggung soal masalah ini. Cukup datang sebagai teman yang main ke rumahnya saja dia pasti senang,”

Nirmala mengangguk patuh.

.

.

.

Tidak disangka ternyata seminggu setelah Rianita resmi dikeluarkan dari sekolah dan dipulangkan ke orangtuanya, Rianita langsung kembali ke rumahnya di daerah Yogyakarta. Membuatku berpikir heran mengapa harus sekolah di Jakarta padaha di Yogya pasti ada banyak sekolah yang bagus.

Nirmala menyeretku untuk mengantar Rianita ke stasiun kereta. Saat ini kami berada di Stasiun Gambir yang lengan dan bersih. Wajah gadis itu tersenyum riang saat menatapku.

“Kau pasti lupa padaku! Tapi wajar sih, kau kan sering bolos!” Rianita tertawa memandangku sementara aku memasang wajah kecut. Nirmala malah tertawa terbahak.

“Yah beginilah, aku harus pulang ke rumah. Tapi bisa mengenal kalian semua disini memang sangat menyenangkan.”

“Mohon maaf, kami tidak bisa membantu banyak,” Nirmala berbicara dengan nada memohon maaf.

“Tak masalah, tak masalah. Ini bukan salah kalian kok. Memang kesalahan ini ada di pihakku,”

Aku menatap Rianita dengan seksama. Sungguh aneh, gadis ini terlihat lepas dan tidak terbebani dengan masalah yang baru saja menimpanya.

Suara peluit terdengar keras, sinyal kereta yang menandakan bahwa kereta siap berangkat. Rianita buru-buru meloncat ke dalam gerbong kereta tapi masih bertahan di pintu gerbong. Ia meraih lehernya dan mengulurkan seuntai kalung rantai emas berbandul batu berwarna merah.

“Untukmu Nirmala,”

Nirmala menerima kalung itu dan terkagum-kagum, “Ini pasti mahal sekali! Aku tidak-“

“Tidak, tidak. Kalung itu kuberikan padamu. Terima kasih telah menjadi temanku disaat yang sulit,” Rianita tersenyum. Nirmala salah tingkah.

Klakson kereta berbunyi dan pengumuman kereta akan berangkat diumumkan.

“Jaga dirimu baik-baik, Rianita.” Nirmala berusaha tersenyum sementara aku melambaikan tanganku.

Rianita menatap kami berdua dengan tatapan yang sendu.

“Aku tak akan pernah melupakan kalian. Tidak akan pernah,”

Air mata menetes dari matanya yang indah. Kami berdua kaget tapi tidak banyak melakukan apapun karena pada saat itu pintu kereta telah menutup. Kereta berjalan lambat dan Rianita masih menatap kami dari pintu kereta. Air matanya semakin membanjir sehingga gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berikutnya kami tak melihat apapun lagi karena kereta telah meninggalkan stasiun.

Nirmala terlihat sedih dan bingung. Akan tetapi aku merasakan perasaan yang tidak nyaman di hatiku. Perasaan apakah ini? Seakan semua ini belum selesai.

Kami terpaku di stasiun sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Akan tetapi saat kami membalikkan badan Pak Ilham berada tepat di belakang kami, matanya menatap kereta yang baru saja berangkat hingga tak terlihat lagi.

“Aku terlambat,” keluh Pak Ilham.

“Pak Ilham! Apakah tadinya anda mau menemui Rianita?” Nirmala bertanya takut-takut. Pemuda yang dipanggil Ilham itu menatap Nirmala dengan tatapn sedih.

Pantas saja Rianita naksir dengan Ilham itu. Memang pria itu masih muda, kutaksir umurnya mungkin sekitar 25 hingga 26 tahun. Yah, kurang lebih cinta yang hanya berjarak sepuluh tahun masih belum masuk kategori pedofil.

“Aku… aku sangat egois,: Ilham berbisik tapi aku dan Nirmala bisa menangkap perkataan itu.

“Aku pikir yang terbaik bagi kami adalah aku pergi dari kehidupannya. Aku mencobanya tetapi… aku tak bisa,”

Aku mengernyit, “Itu adalah pemikiran pengecut,”

Nirmala menatapku terkejut dan melempar tatapan memperingatkan. Aku tak peduli dan terus berbicara, “Riani dikeluarkan dari sekolah karena anda! Dan anda tidak mau memperjuangkannya sama sekali?”

“Radit, sudah cukup!” Nirmala berbisik gelisah.

“Jika kalian berdua saling mencintai mengapa tidak menculiknya dan pergi bersama?” Aku masih menatap tajam Ilham, mengabaikan kegelisahan Nirmala.

Ilham tidak menjawab akan tetapi bahunya bergetar hebat, tak lama kemudian air mata mengalir di pipinya. “Aku tahu itu. Tapi aku…”

Ilham tidak melanjutkan perkataannya. Nirmala menatap kasihan pada Ilham sementara aku menatap tajam pada pria itu.

Air mata pria itu…

Itu adalah…

Air mata palsu.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sial! Sepertinya aku mulai terseret masalah yang merepotkan dan tidak biasa!9