Challenge Oktober IOC WP

A/N: Ini adalah bagian pertama Challenge cerita bersambung IOC Writing Project. Saya penulis pertama dari cerita ini. Cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh Dyah Yuukita.


Seharusnya ini akan menjadi awal mula hari yang menyenangkan, atau setidaknya rangkaian kejadian yang menyenangkan.

Tapi rupanya aku terlalu naif dan bodoh untuk berpikir seperti itu.

.

.

.

Hari yang indah, kalau saja tidak ditingkahi oleh suara cempreng yang bawel. Namaku Raditya Putra dan saat ini aku sedang menyedot es tehku dengan malas. Gadis dihadapanku adalah Nirmala Putri, tetanggaku dan temanku sejak kecil.

“-ya? Kau kan sudah janji? Ayolah~”

Aku masih membiarkan pikiranku melayang hingga-

PLUK

-kepalaku dipukul.

“Radit! Kau mendengarku, kan?!”

“Iya bu~” aku mengusap kepalaku. Dasar gadis tidak sopan! Untung dia temanku sejak kecil, kalau tidak sudah kubalas.

“Kau kan berjanji untuk sekolah hari ini!”

Aku memutar mataku. Duh, memang apa masalahnya sih kalau aku bolos sekolah lagi? Sekolah sangat membosankan, kau tahu!

“Aku tidak ingat pernah berjanji seperti itu. Lagipula- aw aw aw!”

Nirmala menyeretku bangkit sambil menjewer telingaku. Ia berjalan santai sambil menyeretku yang terjewer kearah sekolah. Sesekali mulut bawelnya itu mengeluarkan petuah mengenai pentingnya sekolah dan apalah itu. Sementara aku hanya bisa meronta sesekali berusaha melepaskan jarinya dari telingaku.

Gadis itu baru melepaskan jewerannya saat kami sudah memasuki pekarangan sekolah. Sial! Telingaku sekarang terasa panas.

“Hei! Kalau mau nyiksa yang agak manusiawi dikit-“

“Apa itu?”

Bagus! Dia tidak mendengarkanku dan malah bengong kearah lain.

“Hei! Dengarkan yang aku-“ Aku menyentuh bahunya tapi dia malah menunjuk kesuatu arah. Aku memandang arah yang ditunjuk, suatu sudut sekolah yang seingatku adalah mading. Para murid sepertinya mengerumuni sesuatu yang ada disana.

“Ayo kita lihat!”

Dan aku kembali cemberut. Nirmala langsung menyeretku tanpa mendengarkan jawabanku. Dasar cewek egois. Saat kami sampai di mading itu barulah kami paham apa yang mereka semua ributkan. Di papan mading itu terdapat tiga lembar foto dengan dua obyek foto, seorang pria dan seorang gadis muda, bergandengan tangan sambil keluar dari suatu bangunan.

“Itu siapa sih di dalam foto itu?” bisikku kepada Nirmala.

“Yang laki-laki itu guru kimia kita yang baru, namanya Pak Ilham sementara yang perempuan anak sekelas kita namanya Rianita,”

“Hoo. Sepertinya aku tahu kenapa jadi heboh begini,” Aku mengeluarkan seringai nakalku, mataku tidak lepas dari foto.

“Apa? Apa maksudnya?” Nirmala malah menempel-nempel padaku.

“Lihat foto itu, mereka berdua saling berpegangan tangan, tapi bukan cara yang biasa tapi dengan cara yang romantis seperti seorang pasangan,”

Nirmala menyipitkan matanya.

“Selain itu, dilihat dari ekspresi wajah mereka difoto, wajah mereka menunjukkan raut cemas dan waspada,”

Nirmala masih belum berkomentar apapun.

“Dan yang terakhir, papan nama bangunan di foto itu. Memang tidak jelas apa nama bangunannya, tapi tulisan hotel terlihat jelas sekali, kan?”

Nirmala masih menatap foto itu, tak lama kemudian wajahnya memerah.

“Ja-jadi… ma-maksudmu… mereka…,” Wajah Nirmala benar-benar memerah sekarang, pandangan matanya tidak fokus antara diriku dan foto itu.

“Entahlah~ itu semua cuma hipotesis,” siulku sambil menjauh dari papan mading itu.

“Eh tunggu, tunggu! Radit-“

Wajah Nirmala mencium punggungku. Wajar saja, aku berhenti mendadak.

“Hei! Kenapa-“

Aku mengedikkan kepalaku ke satu arah dan Nirmala mengikuti arah yang kumaksud. Seorang gadis berlari tergesa memasuki pekarangan sekolah, wajahnya menunduk. Meski ia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan helaian rambutnya yang panjang tetap saja seluruh penghuni sekolah bisa mengenalinya. Dialah Rianita, salah satu obyek yang menjadi sumber gosip panas di sekolah ini. Para murid menunjuk dan memandang jijik pada gadis itu saat Rianita berlari memasuki gedung sekolah.

“Riani-“

Aku langsung menahan Nirmala yang kelihatan sekali ingin mengejar gadis itu. Nirmala memandangku bingung sementara aku menggeleng pelan.

“Kenapa? Dia pasti sangat sedih sekarang-“

“Aku tahu dia pasti sedih. Anak perempuan jenis apa sih yang gak bakal sedih kalau jadi sumber gosip panas kayak begini? Masalahnya adalah ini bukan waktu yang tepat untuk menghibur dia,”

Nirmala menatapku dengan pandangan tak yakin.

“Kalau firasatku benar, pasti pagi sampai siang ini kita akan belajar sendiri tanpa guru. Nah, kalau kau mau menghiburnya pada saat itu saja,” aku kembali melanjutkan.

Nirmala membulatkan matanya, “Bagaimana kau tahu?”

Aku mengetuk pelipisku dengan jari telunjuk, “Berpikir,”

.

.

.

Nirmala bengong menatapku sementara aku membuka buku dan menaruhnya di wajahku. Pelajaran kali ini benar-benar ditiadakan, kami diharapkan belajar sendiri. Tapi murid waras mana sih yang akan belajar di saat seperti ini terutama saat ada gosip panas. Aku? Kalau aku sih lebih baik tidur saja.

“Kok tahu sih kita disuruh belajar sendiri?” Nirmala menoel-noel tubuhku, tapi aku malas mengangkat buku dari wajahku. Sebagai gantinya aku mengangkat tanganku dan mengetuk pelipisku dari buku yang menutupi wajahku.

Aku tak bisa melihat tapi bisa kupastikan Nirmala cemberut.

“Bukannya kamu mau menghibur si siapa itu namanya?”tanyaku dari balik buku.

“Ah! Benar juga!”

Terdengar suara deritan kursi dan suara kaki berlari menjauh. Hufh, gangguan sudah pergi dan kini aku bisa tidur siang.

.

.

.

Dan yap, aku bolos pelajaran hari ini. Tidak, tidak. Aku tidak bolos sekolah karena saat ini aku melanjutkan tidurku di atap sekolah yang sangat sepi. Jadi, karena aku masih di sekolah aku tidak bolos sekolah, Cuma bolos pelajaran saja kok.

Perlahan suara langkah kaki terdengar, perlahan aku membuka mataku dan menatap wajah Nirmala yang lesu. Gadis itu menatapku tapi tidak berbicara apapaun. Tumben dia tidak bawel seperti biasanya.

“Jadi, bagaimana?” Aku mendudukkan diriku. Nirmala duduk disebelahku.

“Sekolah memutuskan untuk menghentikan Nirmala dan mengembalikannya ke orangtuanya. Sementara Pak Ilham akan dipecat,”

Aku tidak heran, normalnya memang begitulah seharusnya hukuman yang diterima oleh mereka berdua. Kalau mereka berdua tidak mendapatkan hukuman apapun baru itu terasa aneh. Aku mengangguk saja, tanda memahami ceritanya.

“Lalu mana si- siapa itu namanya?”

“Rianita,” jawab Nirmala jengkel. “Saat ini dia ada di rumahnya. Mulai hari ini dia resmi diberhentikan dari sekolah,”

Nirmala memasang wajah lesu. Yah, sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan masalah Rianita ini sih, tapi kalau Nirmala sudah memasang wajah lesu seperti ini pasti-

“Radit! Kamu gak bisa ngelakuin sesuatu?” Nirmala memasang wajah memelas dan penuh harap. Ugh, aku benci kalau sudah seperti ini.

“Kamu pikir aku ini apa? Dewa? Dikata aku bisa ngelakuin apa aja?” Aku membuang muka, tak mau menatap wajah memelas itu.

“Tapi kan kamu pinter dalan hal mikir kayak gini. Seenggaknya bantu pikirin jalan keluar,”

Aku menghembus napas, daripada hanya mencari-cari alasan yang justru akan semakin membuang energi, lebih baik kujelaskan secara gamblang. “Dengar! Semua ini bermula dari si Riani apalah itu dan Pak guru siapalah itu. Kalau mereka berani melakukan hal kayak gitu seharusnya mereka juga cukup dewasa untuk menerima resikonya. Kita sebagai pihak luar lebih baik gak usah ikutan masalah ini,”

“Tapi-“

“Kita gak bisa apa-apa. Mereka yang berbuat mereka harus bertanggung jawab secara penuh. Kalau kita membantu mereka itu justru semakin menunjukkan bahwa mereka tidak bisa bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri!”

Nirmala menunduk, memikirkan perkataanku. Walaupun terkadang aku memang slebor dan seenaknya, tapi Nirmala mengakui ada saatnya aku bisa berpikir normal sesuai dengan prinsip-prinsi kebenaran yang ada.

Aku menghela napas, menatap wajah Nirmala.

“Saat seperti ini lebih baik kau sering-sering main ke rumah si cewek itu. Tidak usah menyinggung soal masalah ini. Cukup datang sebagai teman yang main ke rumahnya saja dia pasti senang,”

Nirmala mengangguk patuh.

.

.

.

Tidak disangka ternyata seminggu setelah Rianita resmi dikeluarkan dari sekolah dan dipulangkan ke orangtuanya, Rianita langsung kembali ke rumahnya di daerah Yogyakarta. Membuatku berpikir heran mengapa harus sekolah di Jakarta padaha di Yogya pasti ada banyak sekolah yang bagus.

Nirmala menyeretku untuk mengantar Rianita ke stasiun kereta. Saat ini kami berada di Stasiun Gambir yang lengan dan bersih. Wajah gadis itu tersenyum riang saat menatapku.

“Kau pasti lupa padaku! Tapi wajar sih, kau kan sering bolos!” Rianita tertawa memandangku sementara aku memasang wajah kecut. Nirmala malah tertawa terbahak.

“Yah beginilah, aku harus pulang ke rumah. Tapi bisa mengenal kalian semua disini memang sangat menyenangkan.”

“Mohon maaf, kami tidak bisa membantu banyak,” Nirmala berbicara dengan nada memohon maaf.

“Tak masalah, tak masalah. Ini bukan salah kalian kok. Memang kesalahan ini ada di pihakku,”

Aku menatap Rianita dengan seksama. Sungguh aneh, gadis ini terlihat lepas dan tidak terbebani dengan masalah yang baru saja menimpanya.

Suara peluit terdengar keras, sinyal kereta yang menandakan bahwa kereta siap berangkat. Rianita buru-buru meloncat ke dalam gerbong kereta tapi masih bertahan di pintu gerbong. Ia meraih lehernya dan mengulurkan seuntai kalung rantai emas berbandul batu berwarna merah.

“Untukmu Nirmala,”

Nirmala menerima kalung itu dan terkagum-kagum, “Ini pasti mahal sekali! Aku tidak-“

“Tidak, tidak. Kalung itu kuberikan padamu. Terima kasih telah menjadi temanku disaat yang sulit,” Rianita tersenyum. Nirmala salah tingkah.

Klakson kereta berbunyi dan pengumuman kereta akan berangkat diumumkan.

“Jaga dirimu baik-baik, Rianita.” Nirmala berusaha tersenyum sementara aku melambaikan tanganku.

Rianita menatap kami berdua dengan tatapan yang sendu.

“Aku tak akan pernah melupakan kalian. Tidak akan pernah,”

Air mata menetes dari matanya yang indah. Kami berdua kaget tapi tidak banyak melakukan apapun karena pada saat itu pintu kereta telah menutup. Kereta berjalan lambat dan Rianita masih menatap kami dari pintu kereta. Air matanya semakin membanjir sehingga gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berikutnya kami tak melihat apapun lagi karena kereta telah meninggalkan stasiun.

Nirmala terlihat sedih dan bingung. Akan tetapi aku merasakan perasaan yang tidak nyaman di hatiku. Perasaan apakah ini? Seakan semua ini belum selesai.

Kami terpaku di stasiun sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Akan tetapi saat kami membalikkan badan Pak Ilham berada tepat di belakang kami, matanya menatap kereta yang baru saja berangkat hingga tak terlihat lagi.

“Aku terlambat,” keluh Pak Ilham.

“Pak Ilham! Apakah tadinya anda mau menemui Rianita?” Nirmala bertanya takut-takut. Pemuda yang dipanggil Ilham itu menatap Nirmala dengan tatapn sedih.

Pantas saja Rianita naksir dengan Ilham itu. Memang pria itu masih muda, kutaksir umurnya mungkin sekitar 25 hingga 26 tahun. Yah, kurang lebih cinta yang hanya berjarak sepuluh tahun masih belum masuk kategori pedofil.

“Aku… aku sangat egois,: Ilham berbisik tapi aku dan Nirmala bisa menangkap perkataan itu.

“Aku pikir yang terbaik bagi kami adalah aku pergi dari kehidupannya. Aku mencobanya tetapi… aku tak bisa,”

Aku mengernyit, “Itu adalah pemikiran pengecut,”

Nirmala menatapku terkejut dan melempar tatapan memperingatkan. Aku tak peduli dan terus berbicara, “Riani dikeluarkan dari sekolah karena anda! Dan anda tidak mau memperjuangkannya sama sekali?”

“Radit, sudah cukup!” Nirmala berbisik gelisah.

“Jika kalian berdua saling mencintai mengapa tidak menculiknya dan pergi bersama?” Aku masih menatap tajam Ilham, mengabaikan kegelisahan Nirmala.

Ilham tidak menjawab akan tetapi bahunya bergetar hebat, tak lama kemudian air mata mengalir di pipinya. “Aku tahu itu. Tapi aku…”

Ilham tidak melanjutkan perkataannya. Nirmala menatap kasihan pada Ilham sementara aku menatap tajam pada pria itu.

Air mata pria itu…

Itu adalah…

Air mata palsu.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sial! Sepertinya aku mulai terseret masalah yang merepotkan dan tidak biasa!9

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s