Jajan

Di sebuah Ilfilmart pada siang hari.

Sang istri, Dian, langsung memasuki Ilfilmart dengan semangat sementara sang suami, Awan, menyusul di belakang.

“Selamat siang. Selamat datang di Ilfilmart,”

Dian tidak mendengarkan sambutan selamat datang dari petugas swalayan itu. Dengan cepat Dian langsung meraih keranjang belanja dan berjalan berkeliling rak, mengambil apa saja yang dibutuhkan. Terkadang berhenti agak lama untuk memilih jenis wangi deterjen yang diinginkan atau memilih pengharum ruangan merek lain. Tapi Dian melakukan semua belanja itu dengan cepat dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Segera setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi, Dian mulai berkeliling untuk mencari suaminya, Awan. Toko swalayan itu tidak terlalu besar jadi tidak sulit untuk mencari Awan. Dan benar saja, Dian menemukan suaminya itu di bagian cemilan. Suaminya sedang berlutut, memilih dua jenis cemilan yang hendak dibeli.

Dian melongok dari balik bahu suaminya. Sepertinya Awan sedang bingung menentukan pilihannya, apakah biskuit rasa cokelat ataukah biskuit rasa selai buah.

“Rasa cokelat aja,” Dian memberikan opini.

“Kenapa?”

Diang mengedikkan kepala, “Lagi mau rasa cokelat aja,”

Awan masih menimbang-nimbang. “Tapi kemarin kan kita habis makan cemilan cokelat juga,” Awan mengingatkan. Dian mengingat-ingat.

“Ah benar juga. Tapi gak papa deh. Biskuit cokelat aja,”

“Terlalu banyak manis gak bagus, sayang. Mungkin rasa lain aja,” ujar Awan.

“Kalau begitu biskuit yang ini aja,” Dian mengambil salah satu biskuit yang memang terkenal gurih. Akan tetapi Awan menggeleng.

“Aku sih maunya yang ini,” Awan masih bingung memutuskan dan menunjukkan dua jenis biskuit yang daritadi masih bingung untuk dipilih. Dian memutar bola matanya.

“Yaudah beli aja dua-duanya,”

Awan masih menimbang-nimbang. “Enggaklah, masa beli dua-duanya. Cuma kita kan udah makan cokelat kemarin dan rasa selai buah ini agak asam. Sementara rasa biskuit yang itu agak asin,” Awan mulai mengeluarkan opininya. Dian cuma bisa memutar matanya.

“Yaudah kita beli tiga-tiganya aja. Manis, asin, asam lengkap semua kan?”

“Kan tadi aku udah bilang, kita beli satu aja. Tapi pilihan rasanya yang bikin bingung,”

“Makanya tadi Dian bilang kan! Kita beli aja tiga-tiganya.”

Tapi Awan tidak mendengarkan dan malah sibuk melihat kedua jenis biskuit yang akan dipilihnya. Dian cemberut.

“Kakak!”

Awan masih tak bergeming.

“Kakak!”

“Yaudah deh. Kita beli tiga-tiganya aja,” Awan memasukkan ketiga biskuit itu ke dalan keranjang belanjaan yang Dian bawa.

“Kan tadi Dian udah bilang. Enggak dengerin Dian sih,” Dian masih kesal.

“Yaudah yuk, kita pulang aja,”

“Eh, tunggu sayang. Kan belum beli jajan minuman,”

Dian benar-benar kesal sekarang.


A/N: Maunya sih bikin cerita mengenai golongan darah. Dian golongan darah B sementara Awan golongan darah O. Si Dian tipe yang gak suka dicuekin dan emosinya keliatan banget sementara Awan tipe keras kepala dan agak-agak bingug? Enthlah. Maaf kalau gagal :”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s