Sayap

img-20161003-wa0009

“Aku mau jadi peneliti sejarah,”

Ayah melirikku sesaat dari balik korannya dan kembali meneruskan kegiatannya, membaca koran dengan tajuk headline topik ekonomi.

“Setelah lulus SMA ini, aku akan masuk jurusan sejarah.”

Ayah tidak memberikan reaksi apapun, sementara ibuku yang duduk dihadapan ayah hanya sibuk mencecap teh hangat dari cangkirnya. Situasi ini benar-benar tidak nyaman.

“Kau akan masuk jurusan teknik pertambangan. Ayah sudah siapkan semua berkasnya,”

Suara dentingan cangkir yang diletakkan terlalu keras ditatakannya terdengar. Ibuku mendelik pada ayahku.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau Raditya akan kita masukkan ke sekolah kedokteran?”

Ayah kembali melirik Ibu dari balik korannya tapi terlihat tidak peduli.

“Teknik pertambangan. Selesai pembicaraan kita,”

“Tidak. Tidak. Raditya akan masuk sekolah kedokteran. Lalu dia akan mengambil jurusan spesialis penyakit dalam,” Ibuku mulai berseru keras. Aku mengeluh dalam hati.

“Kau akan masuk kedokteran, nak. Kau pasti akan suka disana,” Ibuku melirik penuh senyum padaku. Namun senyum itu tidak membuat hatiku merasa lega, akan tetapi beban berat semakin bertambah di hatiku.

Ayah mulai meletakkan korannya, menatap serius Ibuku. “Raditya akan masuk teknik pertambangan. Dan ia nanti akan bekerja di perusahaan minyak rekananku. Mereka sudah mengkhususkan akan menyediakan tempat untuk Raditya kalau ia mengambil teknik pertambangan,”

“Kalau Raditya masuk teknik pertambangan. Tapi Raditya akan masuk kedokteran dan akan mengambil spesialis pada penyakit dalam,”

Aku mengeluh dalam hati. Selalu begini. Setiap momen kehidupanku pasti akan selalu ditentukan oleh orang tuaku. Mereka berdua akan terus bertengkar, tidak ada satupun yang mengalah.

“Begini saja. Raditya akan mengikuti ujian masuk teknik pertambangan dan kedokteran. Ia akan berusaha keras dalam dua ujian itu. Jurusan manapun yang diterima makan Raditya akan melanjutkan kuliahnya disana. Bagaimana?” Ayahku akhirnya memberikan tawaran. Ibuku mengernyit sebentar sebelum akhirnya mengangguk setuju.

“Kalau begitu, apakah aku bisa memasukkan jurusan sejarah dalam daftar kuliah yang kuambil?”

Ayah dan Ibu menatapku dengan menghina.

“Jurusan sejarah? Itu jurusan konyol. Kau tidak akan mengambil jurusan itu nak.” Ayah kembali membuka koran miliknya dan membaca.

Aku menatap Ibuku, mengharapkan bantuan. Akan tetapi Ibuku kembali mencecap teh hangat miliknya. “Kau akan masuk kedokteran atau teknik pertambangan. Selain itu, tidak.”

Aku menghela napas lesu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s