Strategi

A/N: Setoran saya untuk challenge IOC Writing Men Sana In Corpore Sano. Dalam rangka memeriahkan Pekan Olahraga Nasional 2016. Emang sih udah telat, tapi boleh dong memeriahkan doang. Olahraga yang diambil adalah Catur. Writing Project untuk PON 2016: MSCS.

Disclaimer: Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger adalah milik J K Rowling. Saya cuma nyomot-nyomot doang.


Pukulan pertama mereka terjadi ketika perwira hitam satunya ditawan. Si ratu putih membantingnya ke lantai dan menyeretnya keluar papan. Si perwira menggeletak tak bergerak, tengkurap.

“Apa boleh buat,” kata Ron, yang tampak terguncang. “Kau jadi bebas menawan si menteri itu, Hermione, ayo.”

Setiap kali salah satu anggota mereka kalah, bidak-bidak putih itu tak menunjukkan belas kasihan. Segera saja sekumpulan bidak hitam lemas terpuruk di sepanjang dinding. Dua kali, Ron menyadari tepat waktu bahwa Harry dan Hermione dalam bahaya [1].

Ron memikirkan berbagai macam langkah catur yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan kedua kawannya. Beruntung Ron telah diajari catur sihir oleh kakeknya, tapi tetap saja permainan catur kali ini sangat berbeda. Bukan saja ia menggerakkan bidak catur itu, akan tetapi ia bermain sebagai bidak catur itu sendiri.

Ron memandang sekeliling papan catur, tidak banyak bidak yang tersisa dari bagiannya. Tapi hal yang sama juga terjadi di bidak putih. Meski begitu Ron merasa tidak nyaman. Dari atas kudanya – Ron bermain sebagai perwira – berusaha memastikan bahaya apapun yang mendekati kedua kawannya. Sekali ini Ron melihat Harry dalam posisi yang berbahaya.

“Harry, maju ke D-4!”

Harry berjalan dengan patuh, sedikit gentar karena ratu putih menatapnya dengan dingin. Harry sebenarnya ingin membantah, mengapa Ron menyuruhnya maju ke petak yang jelas-jelas dipenuhi oleh bidak putih. Akan tetapi untuk menghentikan Snape secepat mungkin lebih baik ia percaya saja kepada Ron. Toh kawannya itu lebih jago catur sihir dibanding dirinya.

Harry menunggu dengan gugup. Kali ini giliran bidak putih menjalankan bidaknya. Diluar dugaan, bidak putih itu justru menjauh dari petak Harry. Harry menoleh kearah Ron yang mengangguk kecil. Strategi pertahanan belanda cukup sukses.

Tapi Ron tidak segera mengambil napas lega. Kali ini Hermione berada dalam bahaya. Ron melihat sekeliling papan catur, berusaha tenang. Meskipun posisi Hermione dalam bahaya, tapi Hermione juga dalam posisi yang menguntungkan. Dan kalau beruntung, mereka bisa menskak posisi raja tanpa terlihat.

Ron berpikir sesaat. Strategi mulai terbentuk di kepalanya. Kalau Ron beruntung, hanya dalam beberapa langkah mereka bisa menskak raja dan menang. Ron sedang mengingat-ingat berbagai strategi yang akan ia lakukan. Mungkin saat ini ia akan menyuruh Hermione melakukan pertahanan pirc dan selanjutnya Ron bisa melancarkan serangan marshall.

“Hermione, kau ke G-6! Dengan begitu kau bisa menawan perwira putih!”

Hermione mengikuti dengan patuh. Berjalan perlahan dan berusaha menyembunyikan rasa gentarnya. Bidak perwira putih itu langsung keluar dari papan catur saat Hermione menempati petaknya.

Bidak ratu putih berjalan ke petak sebelah Harry, tangan batunya memukul bidak tentara yang akan memasuki wilayah putih, menyeretnya keluar papan. Harry mengeluh, kesempatan untuk menukar bidak sudah hilang. Ron tidak tampak terpukul, sepertinya sudah mengetahui ratu putih akan melumpuhkan bidak tentaranya. Ron berusaha tidak memikirkan lebih jauh, fokus pada strateginya kali ini.

“Kuda ke D-5!”

Bidak kuda yang dipanjat oleh Ron bergeser perlahan ke petak yang dituju, menendang bidak putih yang ada di petak itu. Si ratu putih menatap dingin tapi kembali bergerak ke petak disamping Ron. Tangan batu itu menghancurkan benteng hitam dan menyeret bidak itu keluar dari papan.

“Kita hampir sampai,” Ron kembali memandang papan catur yang kini semakin sepi. Berusaha memikirkan kemungkinan menang yang hampir datang.

Bidak ratu putih kini menoleh kearah Ron. Tatapannnya datar dan dingin, seolah si ratu ingin tahu apa yang Ron pikirkan. Ron menghela napas, tidak ada cara lain. Tapi dengan ini mereka bisa menang.

“Ini satu-satunya cara… aku harus ditawan.”

Harry dan Hermione memekik tidak setuju bersamaan.

“Begitulah catur! Harus ada yang dikorbankan!” Ron menukas tajam.  Harry dan Hermione hanya bisa menatap pasrah saat Ron memajukan bidaknya. Kini wajah Ron pucat, kentara sekali kalau ia juga ketakutan.

Ratu putih langsung menerkam Ron. Hermione terpekik dan Ron sudah ambruk ke lantai, pingsan.

Harry segera melangkah mendekati bidak raja yang langsung melepas mahkotanya dan melemparnya ke kaki Harry. Akhirnya, mereka menang!


[1] : Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

Kan…apaan kan? Hancur banget fanfic ini :”(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s