Pannekoek Patah Hati

boekweitpannenkoeken_appelstroop

A/N: IOC Writing untuk Sarapan Yuk! Lagi-lagi judul yang apalah dan isi cerita yang apalah juga. Huhuhu~ saya bosan~ jadi daripada makan terus yang udah bikin BB nambah lebih baik nulis tentang makanan aja :”


Willem mendesah jengkel. Seorang wanita yang duduk di depannya menatap serius. Pannekoek hangat yang dipesannya sudah mendingin dari tadi, menyisakan kopi panas yang masih mengepul karena diantar terlambat oleh pelayan cafe barusan.

Mata Willem menatap keluar, yang kebetulan ia sedang duduk di dekat jendela. Delft City Hall saat ini sedang sepi, karena bukan musim turis yang ramai, tapi tetap ada orang berlalu lalang. Dari tempat duduknya ia bisa menatap Niuewe Kerk (New Church) yang terlihat suram. Atau suasana hatinya yang suram menyebabkan gereja itu juga terlihat demikian?

Wanita di depannya berdehem pelan, berusaha menarik perhatian Willem. “Jadi, bagaimana?” desak wanita itu.

Willem mendesah. “Aku pikir kita akan berbaikan, mengingat kau yang mengajakku sarapan di cafe ini,”

“Tidak, tidak, kau salah sangka. Aku yakin aku mengatakannya dengan jelas. Kita akan menyelesaikannya sambil sarapan di cafe ini,”

Willem memutar bola matanya.

“Jadi bagaimana?” desak wanita itu. Willem mulai memainkan Pannekoek di hadapannya. Wanita itu mendengus merendahkan kebiasaan Willem yang suka memainkan makanan saat sedang gelisah.

“Siapa pria itu?”

Wanita itu mengernyit. “Itu bukan masalah, kan? Jadi, apa jawabanmu?”

Willem mengangkat bahunya, “Yah, aku tak punya pilihan lain kan?”

Wanita itu mengangguk. “Mulai sekarang kita jadi teman baik saja.”

Wanita itu bangkit dari duduknya dan mengambil kertas tagihan yang sedari awal tergeletak di sisi lain meja. “Biar aku yang bayar tagihannya,” ujar wanita itu sambil melangkah pergi.

Bunyi lonceng yang dipasang di pintu berbunyi lemah. Wanita itu telah meninggalkan cafe setelah membayar tagihannya.

Willem menatap pannekoeknya dengan nestapa. Ia tidak berminat lagi memakan sarapannya. Bahkan manisnya appelstroop atau pahitnya kopi hitam tak mampu menyembuhkan rasa patah hatinya.

Willem mendesah. Mungkin setelah ini ia akan mampir ke gereja.

Advertisements

One thought on “Pannekoek Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s